[EXOFFI FREELANCE] THE ROYAL SCANDAL (CHAPTER 5)

chaptered-the-royal-scandal

THE ROYAL SCANDAL

She has the laugh of Devil and the smile of the an Angel.

She’s a wicked, wild, and wreckless thing.

-oOo-

SUMMARY

Oh Sehun adalah seorang secret agent dari National Intelligent Services yang diberikan sebuah misi pribadi oleh Presiden Korea Selatan untuk menemukan dan memusnahkan foto-foto skandal seks anaknya, Kim Jong In, dengan seorang model majalah pria dewasa terkenal, Ashley Kim. Berhasilkah Sehun mengalahkan sang wanita dominan itu dan menuntaskan misinya dengan mudah?

-oOo-

“THE ROYAL SCANDAL” by MINERVA RENATA

Starring by OH SEHUN (EXO), ASHLEY KIM (OC)

ROMANCE, ACTION, (LITTLE BIT) COMEDY | PG-17 | CHAPTERED

Insipired by : Sherlock – A Scandal in Belgravia

PREVIOUS CHAPTER :

[1] [2] [3] [4]

-oOo-

Park Chanyeol memasukan sesendok penuh bubur abalone ke dalam mulutnya dengan raut wajah kian bahagia. Bagaimana tidak? Hari ini adalah Hari Senin yang cerah, Juliette mendapatkan shift kerja pagi, dan terlebih lagi wanita itu kini tengah duduk di samping ranjang Chanyeol untuk menemaninya menghabiskan sarapan.

Di dalam hati, pria itu tengah mendendangkan lagu Best Day Ever yang dinyanyikan oleh Spongebob Squarepants di salah satu episode sebagai representasi suasana hatinya saat ini. Percayalah! Di usia Chanyeol yang telah menginjak dua puluh empat tahun, dimana pria-pria seusianya lebih memilih menonton siaran berita pagi di CNN atau BBC News sebelum berangkat bekerja untuk mengetahui update berita terbaru atau sekedar mengecek kenaikan nilai saham yang mereka tanamkan, pria bertelinga tidak wajar itu malah meletakan serial kartun Spongebob Squarepants sebagai tontonan prioritasnya.

Juliette tampak sibuk membaca setumpuk laporan pemeriksaan kesehatan ketika Chanyeol dengan wajah konyolnya melirik kearah wanita itu beberapa kali sembari mengamati secara seksama keseluruhan hal yang tersuguh dihadapannya. Gurat-gurat halus yang tercetak di dahi Juliette ketika tengah mengerenyit heran, sorot mata tajam dengan pupil berwarna hazel yang bergerak mengikuti baris demi baris kata, dan bibir cherry yang tengah merapalkan tanpa suara semua kata yang di bacanya, entah mengapa semua tampak begitu sempurna di mata Chanyeol. Dan pria itu tak pernah merasakan dadanya bergemuruh dan jantungnya berdegup aneh seperti ini sebelumnya.

“Pemulihan kondisi kaki Anda tampaknya jauh lebih pesat dari perkiraan awal, Chanyeol-ssi. Menurutku, jika perkembangannya terus seperti ini, dua hari lagi Anda sudah bisa pulang dan melakukan rawat jalan.” Juliette mengangkat pandangannya beberapa derajat dari laporan yang sedari tadi di bacanya, kemudian menatap kearah Chanyeol sembari melemparkan senyuman ramah.

“Huh?! Apa?!” Chanyeol, dengan mata yang membulat sempurna itu pun refleks berteriak, membuatnya berakhir dengan terbatuk-batuk akibat tersedak. Mungkin ini terdengar sangat berlebihan dan menjijikan, tetapi kehilangan tiga hari dari perkiraan awal yang mengatakan bahwa ia akan menjalani perawatan di rumah sakit selama seminggu itu terasa seperti akhir dunia bagi Chanyeol.

Pria itu belum siap, bahkan mungkin tak akan pernah siap untuk menemukan kata akhir dan perpisahan dalam pertemuannya dengan Juliette.

Juliette kini hanya mampu memberi tatapan tak mengerti atas reaksi dan raut wajah Chanyeol yang tampak tak begitu senang dengan paparan fakta bahwa kakinya akan segera pulih total. “Apa ada masalah, Chanyeol-ssi?” tanyanya khawatir sembari menyodorkan segelas air mineral.

Chanyeol dengan cepat menenggak habis air mineral tersebut dan jalur kerongkongannya pun terasa lancar kembali. “Tidak. Tidak ada, Juliette-ssi,” lanjutnya dengan memasang senyum lebar yang terkesan dipaksakan pada kedua sisi bibirnya.

“Oh! Syukurlah.”

Chanyeol kembali menyuapkan sesendok bubur yang masih tersisa ke dalam mulutnya, namun kali ini raut wajah pria itu tampak tak begitu semangat seperti beberapa menit lalu, senyuman lebar itu pun juga telah luntur dari bibirnya. Pandangan Chanyeol lurus ke depan, menatap malas seorang wanita cantik di balik layar televisi yang kini tengah membacakan sebuah berita tentang kasus korupsi yang melibatkan petinggi-petinggi negara, menyebabkan Korea Selatan menderita kerugian bermilyar-milyar won.

Sungguh! Sejujurnya Chanyeol tak pernah tertarik dengan siaran berita pagi, karena baginya hal itu sangat sangat sangat membosankan. Meskipun para penyiar yang disuguhkan rata-rata memiliki paras cantik, tubuh proposional, dan tampak berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya, hal tersebut tetap tak mampu mengubah prespektif seorang Park Chanyeol tentang kebenciannya pada siaran berita pagi. Apa untungnya mendengarkan berbagai macam permasalahan negara di pagi hari? Hal itu malah akan membuat mood hancur bahkan di saat matahari belum merangkak naik.

Namun kali ini, karena Juliette tengah bersamanya dan ia tak ingin kehilangan muka juga wibawa dihadapan wanita incarannya itu, akhirnya Chanyeol pun merelakan satu episode Spongebob Squarepants di channel Nickelodeon dan memilih untuk bertahan di channel CNN untuk satu jam ke depan.

“Chanyeol-ssi.” Suara Juliette yang mengalun lembut membuat Chanyeol refleks menoleh, meninggalkan seorang wanita pembawa berita bernama Park Yoora yang masih mengoceh tak jelas dari balik televisi.

“Ya?”

“Sepertinya aku harus pergi sekarang. Jadwal pemeriksaan Dokter Kim akan dimulai lima belas menit lagi,” ujar Juliette sembari bangkit dari duduk dan mendekap setumpuk map yang dibawanya.

“Oh! Baiklah, Juliette-ssi. Terimakasih telah menemaniku sarapan pagi.” Chanyeol mengulas sebuah senyuman tulus sebelum pada akhirnya Juliette pun bergegas melangkah menjauh dan menghilang di balik pintu.

Seiring dengan tertutupnya pintu dan langkah Juliette di koridor yang terlihat semakin jauh, Chanyeol pun dengan cepat menyambar remote televisi di atas nakas dan segera menekan tombol nomor lima. Jantungnya berdegup kencang di sepersekian detik sebelum pada akhirnya channel televisi pun berganti.

“Oh! Shit. Aku melewatkan episode Spongebob favoritku!” umpat Chanyeol frustasi ketika kini ia hanya dapat mendengar bagian akhir dari lagu Sweet Victory yang di bawakan oleh marching band milik Squidward Tentacle, Nuffsaid.

“Ingat berapa umurmu, Park Chanyeol!” Sebuah suara yang terdengar familiar secara tiba-tiba menginterupsi kekesalan Chanyeol. “Di usiamu saat ini, lebih pantas jika kau menonton siaran runway Victoria Secret daripada si kuning bercelana kotak dan teman-teman bodohnya itu.”

Lee Hyukjae. Entah sejak kapan pria bermata sipit itu telah berada di dalam ruang perawatan Chanyeol, menyandarkan tubuh di samping pintu, melipat kedua tangannya di depan dada, dan memasang senyum timpang di bibirnya. Seketika Chanyeol merasakan perutnya bergejolak dan bubur yang baru saja lolos melewati ke kerongkongannya seperti tengah memaksa untuk kembali keluar ketika melihat pose Hyukjae saat ini. Menjijikan.

“Orang bodoh mana yang akan menyiarkan runway Victoria Secret di pagi hari, Lee Hyukjae?! Itu dapat merusak moral anak-anak di bawah umur,” tukas Chanyeol. Tak dapat dipercaya, ternyata mood seorang Park Chanyeol bisa dengan mudah dipengaruhi oleh sebuah serial kartun. “Apa yang membawamu kemari?” lanjutnya masih dengan mempertahankan nada ketus di setiap kata yang keluar dari mulutnya.

“Aku membawa sebuah kabar buruk untukmu, Park Chanyeol,” ujar Hyukjae sembari melangkah mendekat ke arah ranjang Chanyeol.

Chanyeol menghela nafas berat. “Katakan.”

“Meskipun kini kau terbaring di rumah sakit, jadwal presentasi untuk proyek Spy Navigator tetap akan berlangsung hari ini,” jelas Hyukjae yang langsung mendapatkan respon heboh dari seorang Park Chanyeol.

“Apa?!” Untuk kedua kalinya di pagi hari yang cerah ini, Chanyeol berteriak tak percaya.

“Ya. Surat perjanjian dengan para petinggi instansi keamanan negara telah ditandatangani jauh-jauh hari dan tak bisa diubah dalam waktu sehari. Selama masih kakimu saja yang terluka, bukan otakmu, maka presentasi proyek Spy Navigation tetap akan diselenggarakan hari ini,” jelas Hyukjae.

“Sialan!”

Oke. Sebenarnya ada apa dengan hari ini? Mengapa banyak sekali hal yang membuat mood seorang Park Chanyeol kini berada di titik terendah?

Ralat.

Hari ini rupanya bukan lagi Best Day Ever bagi Chanyeol, melainkan Worst Day Ever.

-oOo-

Park Chanyeol bergerak menuju ruang pertemuan di salah satu bagian gedung NIS menggunakan sebuah kursi roda yang tengah di dorong oleh Lee Hyukjae. Senyum lebar mengembang di kedua sudut bibirnya karena kini Chanyeol tengah merasa bahwa dirinya sangatlah keren. Menggunakan otak yang bekerja layaknya pemikiran anak usia lima tahun, pria itu mendapatkan kembali mood-nya yang sempat hilang beberapa jam lalu dengan berfantasi bahwa kini ia adalah Professor X dari komik The X-Men, seorang professor berkursi roda yang memiliki kecerdasan dan kemampuan telepati luar biasa.

Namun sebenarnya satu hal yang dapat disimpulkan dari seorang Park Chanyeol adalah dia-tidak-lebih-dari-seorang-pria-idiot.

“Lee Hyukjae, kau ku rekrut menjadi mutanku,” ujar Chanyeol saat mereka berbelok menyusuri sebuah lorong panjang yang menjadi akses menuju ruang pertemuan.

“Mutan? Apa maksudmu, Chanyeol?” tanya Hyukjae tak mengerti sembari menghentikan langkah kakinya yang otomatis juga menghentikan laju kursi roda Chanyeol.

“Aku adalah Professor X yang sedang mencari mutan untuk kujadikan murid di sekolah X-Men,” jelas Chanyeol sungguh-sungguh yang seketika membuat Hyukjae tak kuasa untuk tidak menyemburkan tawa lantangnya.

“Kau… kau sedang berkhayal menjadi Professor X?” tanya Hyukjae di sela-sela tawanya yang masih membahana.

“Apa kau tak lihat bahwa kini aku sungguh mirip dengannya? Berkursi roda, pintar, dan tampak bijaksana,” ucap Chanyeol dengan kadar percaya diri pada level tertinggi.

Hyukjae tertawa semakin keras, bahkan kini setitik air mata telah telah muncul di sudut matanya. “Tetapi, Professor X tidak melukai kakinya sendiri demi seorang gadis, Park Chanyeol. Dasar bodoh!” lanjut Hyukjae yang kembali mendorong kursi roda Chanyeol melewati lorong.

“Hei! Asal kau tahu saja, aku juga memiliki kemampuan telepati yang luar biasa dan dapat dengan mudah membaca isi pikiranmu itu, Lee Hyukjae! Aku tahu kau pasti sedang memikirkan sekretaris barumu yang seksi itu, bukan? Dan kau juga memikirkan cara untuk membawanya malam nanti ke atas ran—” Cerocosan Chanyeol terhenti oleh telapak tangan Hyukjae yang dengan cepat membekap mulutnya dari belakang.

“Ssst! Lebih baik sekarang kau diam sebelum para petinggi instansi keamanan negara mendengar celotehan tak bergunamu itu dan menyangka bahwa proyek besar mereka ternyata ditangani oleh seseorang yang tidak waras,” bisik Hyukjae yang tengah berusaha menelan semua gelak tawanya karena kini mereka telah berada tepat di depan pintu ruang pertemuan.

Chanyeol pun hanya dapat mendengus sebal dan memilih untuk bungkam, menahan seluruh celotehan-celotehan imajinasinya yang belum tuntas.

Hyukjae menempelkan ID Card miliknya pada barcode detector sebagai akses untuk masuk ke dalam ruang pertemuan. Perlahan, pintu yang terbuat dari lapisan kaca anti-peluru itu pun terbuka, dan sedetik kemudian Chanyeol merasa bulu kuduknya meremang ketika ia mendapati bahwa tak kurang dari dua puluh pria dengan balutan jas merk ternama kini tengah menunggu kedatangannya. Seumur hidup, Chanyeol tak pernah merasa menjadi orang sepenting ini, seseorang yang kedatangannya amat ditunggu oleh puluhan petinggi instansi keamanan negara.

Jarum jam berjalan amat lambat bagi Chanyeol. Untuk pertama kalinya melakukan presentasi di depan puluhan orang yang saling memancarkan aura penuh kuasa dan kewibawaan tinggi ternyata membuat Chanyeol merasa sedikit tertekan. Pria itu bahkan harus menghela nafas panjang beberapa kali guna menetralkan detak jantungnya yang tak berhenti berdegup kencang sebelum akhirnya mereka pun tiba pada sesi terakhir dari persentasi hari ini, yaitu simulasi alat.

“Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Spy Navigation adalah teknologi mutakhir yang dapat melacak keberadaan object sampai radius terkecil sekalipun. Alat ini juga dilengkapi oleh micro-camera dan voice recorder yang—” Chanyeol tiba-tiba terdiam, menghentikan penjelasannya, dan raut wajah pria itu berubah kian tegang dan pucat pasi.

Chanyeol menatap layar proyektor yang tengah menampilkan hasil simulasi Spy Navigation tanpa berkedip barang sedetik pun. Ditemukannya sebuah titik merah berkedip-kedip di salah satu bagian peta wilayah dan diiringi oleh suara sesosok pria yang penuh dengan nada ancaman.

“Mario, at the count of three, shoot the head of Oh Sehun!”

Rekaman suara itu menggema di seluruh sudut ruang pertemuan, membuat suasana sontak menjadi riuh akibat bisikan demi bisikan penuh tanda tanya yang dilontarkan satu sama lain.

Buruk.

Ini pertanda buruk.

“Cepat kerahkan seluruh agen yang ada untuk menuju ke sebuah gudang tua di 53 kilometer barat daya Kota Seoul. Agen Oh Sehun sedang dalam bahaya!”

-oOo-

Kebisingan tercipta diantara damainya suasana pinggiran kota. Kicau burung yang biasa terdengar saling bersautan, kini telah tergantikan oleh suara deru mesin dari beberapa mobil yang tengah memacu kecepatan di luar ambang batas normal. Mungkin, situasi ini tidak akan terjadi bila Ashley Kim tak mencoba melancarkan aksi melarikan diri dari kawanan agen CIA yang mengawalnya kian ketat sejak keluar dari gudang tua tempatnya disekap bersama Sehun tiga puluh menit lalu.

Ashley, dengan sebuah Porsche hitam yang direbutnya dari tangan salah seorang agen CIA yang pergerakannya berhasil ia lumpuhkan dalam sekali banting itu, melaju kencang membelah jalanan lengang dan meninggalkan mobil lain yang tengah mengejar dirinya beberapa meter di belakang.

Tukikan demi tukikan tajam yang berbahaya dilakukan oleh Ashley demi melepaskan diri dari kejaran Michael dan agen-agen CIA lainnya di belakang sana. Sembari mencoba untuk tetap fokus mengemudikan mobil keluaran Jerman tersebut, wanita itu kini juga tengah berusaha menggapai dashboard mobil dan setengah berharap didalamnya terdapat beberapa senjata yang bisa digunakan.

“Shit!” Ashley mengumpat ketika satu butir peluru berhasil menembus kaca belakang mobilnya dan juga ketika ia tak menemukan apapun di dalam dashboard mobil yang dapat digunakannya sebagai tameng diri.

Hujan peluru pun terjadi pada detik-detik selanjutnya. Sekumpulan lubang kecil yang tercipta akibat terjangan peluru itu telah merapuhkan dan hampir memecahkan seluruh kaca bagian belakang mobil. Kini, semua hanya bergantung pada seberapa sigap dan lihainya usaha Ashley untuk meloloskan diri.

Ashley mulai menggila. Wanita itu bertaruh atas nyawanya sendiri ketika ia mengambil keputusan untuk menginjak pedal gas lebih dalam dari sebelumnya, hingga jarum merah pada spidometer menyentuh angka 180 kilometer per jam.

Ashley tak tahu telah sejauh apa ia melaju, karena satu-satunya hal yang ia sadari adalah jalanan aspal kini telah berubah menjadi jalanan berbatu dan langit yang cerah juga mulai berubah menjadi langit yang berembun tebal.

Namun, tiba-tiba Porsche itu berguncang hebat, kehilangan sebagian besar keseimbangannya akibat sebutir peluru yang lagi-lagi sukses merobek lapisan ban. Ashley berusaha sekuat tenaga untuk kembali mengendalikan laju mobil yang kini tengah berputar-putar tak tentu arah. Tetapi apa daya, kecepatan penuh yang ia pertaruhkan itu membuat segalanya menjadi semakin sulit.

Semua semakin berada di luar kendali ketika bebatuan besar mulai menyentuh ban bagian depan yang masih berputar dengan sangat cepat, saling bergesekan hingga percikan api muncul diantara keduanya. Hanya butuh hitungan sekon saja sampai mobil tipe sport itu melayang di udara dan berakhir mendarat di tanah bebatuan dengan kondisi terbalik.

Debu-debu tanah, embun, dan asap yang membumbung tinggi keluar dari dalam mobil Porsche itu menyatu di udara, membuat suasana menjadi kian kelam. Keheningan kembali tercipta sesaat setelah beberapa mobil milik agen CIA itu berhenti.

Michael Joan Harris, sang petinggi CIA itu pun melenggang santai keluar dari mobilnya dan melangkah mendekat ke arah Porsche yang kini berada di tepian tebing bebatuan. Pria latin tersebut tersenyum timpang melihat bagaimana Ashley dengan darah segar yang mengucur deras di seluruh tubuhnya perlahan-lahan keluar dari dalam mobil.

“Seharusnya kau sudah tahu akibatnya jika melanggar janjimu sendiri. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika aku boleh membunumu dengan cara apapun jika kau berbohong ataupun mencoba untuk kabur?” ujar Michael ditengah-tengah tawa bengisnya yang menggelegar. “Tetapi tenang saja, aku tidak akan membunuhmu sekarang. Kau memiliki microchips keparat itu dan aku yakin kau telah memberi proteksi khusus sehingga hanya dirimulah yang bisa mengakses data di dalamnya. CIA tidak akan membunuhmu sebelum mendapatkan seluruh data rahasia itu.”

Kini, giliran tawa Ashley yang menggelegar. Wanita yang duduk bersimpuh di atas tanah bebatuan itu tertawa kian lantang, mengabaikan rasa sakit yang kian menderanya di seluruh tubuh.

“Bodoh! Ternyata kau sangat bodoh, Michael,” ujar Ashley yang kini tengah berusaha keras untuk bangkit berdiri. Kedua tungkai kakinya gemetar ketika seluruh beban tubuh wanita itu bertumpu disana. “Kau terlalu menganggapku lemah,” lanjutnya sembari menghunus tajam manik mata Michael dengan tatapan dinginnya.

Ashley bergerak merentangkan kedua tangannya, membuat langkah-langkah kecil ke belakang, dan berhenti tepat diujung tebing. “Aku bukanlah wanita yang akan mempertaruhkan segalanya untuk bertahan hidup, tetapi aku adalah wanita yang akan mempertaruhkan hidupku untuk mempertahankan segalanya. Kau tahu, bertahan hidup bukanlah konsen utamaku. Biarkan rahasia tetap menjadi sebuah rahasia dan membuat kalian hidup dalam kecemasan untuk selamanya, karena aku, tidak akan pernah memberikan microchips ini.” Semua mata pun tiba-tiba terbelalak ketika Ashley memfinalkan ucapannya dengan tangan yang bergerak menyentuh lengan kirinya.

“Kau meletakkan microchips itu di dalam tubuhmu? Di lengan kirimu?”

Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Ashley untuk pertanyaan yang dilontarkan oleh Michael, karena wanita itu memilih untuk tetap mempertahankan senyuman misterius di bibirnya ketika ia menghela nafas panjang sebelum sepersekian detik kemudian selongsong peluru melesat dengan cepat dan menciptakan percikan darah yang keluar dari dada kiri Ashley.

Michael dan seluruh agen CIA yang menyaksikan bagaimana tubuh Ashley tumbang dan akhirnya jatuh bebas dari atas tebing menuju lautan lepas di bawah sana, sama sekali tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.

Peluru itu bukan milik mereka. Tetapi, seseorang misteriuslah yang telah menembak Ashley dari jarak yang sangat jauh.

Dan inilah sentuhan akhir dari seorang wanita yang memilih mempertaruhkan hidupnya untuk mempertahankan segalanya, Ashley Kim.

-oOo-

Aroma cairan desinfektan yang menyengat dan bunyi alat elektrokardiograf yang terdengar nyaring berkumpul menjadi satu di dalam kepala Sehun yang terasa amat pening. Pria itu membuka kedua matanya perlahan, mengerjap beberapa kali sebelum pada akhirnya titik-titik buram dan kabur di depan matanya mulai memudar, tergantikan oleh sebuah langit-langit ruangan yang tampak begitu tinggi di atasnya.

“Kau sudah sadar, Oh Sehun?” Sebuah suara setengah berteriak yang terdengar cukup familiar itu pun sukses membuat Sehun mengalihkan pandangannya, bergeser sembilan puluh derajat dan berakhir dengan menemukan sesosok pria bermata bulat besar yang tengah duduk di samping ranjangnya.

Dari balik mata sayunya, Sehun melihat bagaimana pria disampingnya dengan terburu-buru dan tangan gemetaran menekan sebuah tombol yang digunakan untuk memanggil petugas medis. “Akhirnya kau sadar juga. Sudah tiga hari kau kehilangan kesadaran, bodoh!” ujar pria itu sembari menatap Sehun dengan raut wajah cemas yang tak bisa ia sembunyikan.

“Kau tahu? Hari itu rasanya aku seperti akan mati saja di depan seluruh petinggi instansi keamanan negara ketika mendengar suara pria yang menyuruh seseorang untuk menembak kepalamu. Entah bagaimana bisa ada satu Spy Navigation di dalam saku jasmu sehingga aku dapat melacak keberadaanmu sehingga pada akhirnya kau terselamatkan. Kau berhutang budi kepadaku, Oh Sehun! Jadi mulai saat ini, kau harus memperlakukanku dengan baik!”

Sehun hanya tersenyum tipis dari balik masker oksigen yang tengah dikenakannya ketika mendengar seluruh ocehan yang dilontarkan kepadanya. Park Chanyeol memang tidak pernah berubah. Pria jangkung itu selalu saja menjadi seorang yang sangat ekspresif dan sama sekali tak bisa menyembunyikan suasana hatinya. Sangat berbeda seratus delapan puluh derajat jika dibandingkan dengan Sehun.

“Lagipula apa sih yang kau lakukan seorang diri di gudang tua itu? Mengapa bisa sampai berurusan dengan CIA? Mengapa kau tak bersama agen-agen NIS lainnya?” Park Chanyeol terus saja membombardir Sehun dengan seluruh pertanyaan yang telah dipendam selama tiga hari di dalam otaknya.

Sehun yang enggan menjawab seluruh rentetan pertanyaan Chanyeol pun lebih memilih untuk kembali menutup kedua matanya rapat-rapat, berharap dapat melupakan semua yang telah terjadi.

“Apa semua karena benda ini?” Chanyeol kembali buka suara, kali ini pria itu mengacungkan sebuah tabung kaca kecil berisi microchips didalamnya. “Tetapi, bukankah ini adalah microchips milik Ashley Kim?”

Sehun tersentak, hanya butuh sepersekian detik setelah Chanyeol menyelesaikan kalimatnya untuk Sehun kembali membuka mata. “Bagaimana… bagaimana microchips itu ada padamu, Chanyeol?” tanya Sehun lirih dengan suaranya yang serak.

Microchips ini berada di dalam mulutmu. Dokter menemukannya ketika sedang melakukan pememeriksaan.”

Sehun menghela nafas berat dan matanya menerawang jauh seiring memorinya yang kini tengah berputar mundur, menampilkan kilasan-kilasan akan kejadian beberapa hari lalu.

Ia masih mengingatnya.

Semua.

Mulai dari operasi darurat yang dilakukan Ashley untuk menyelamatkan nyawanya hingga penyiksaan menyakitkan yang ia alami di sebuah gedung tua pinggiran Kota Seoul itu. Tak dilupakannya juga saat bagaimana bibir Ashley berada di atas bibirnya dan bergerak lembut disana kala itu, menimbulkan sedikit miskonsepsi meskipun pada akhirnya Sehun tahu arti ciuman itu tak lebih dari sebuah strategi untuk melindungi microchips milik Ashley dari jangkauan pihak CIA.

-oOo-

Han Cheonsa diam, terduduk kaku di salah satu kursi laboraturium dengan kedua mata yang tampak berkali-kali mengerjap tak percaya. Kini tepat dihadapannya, seorang pria berambut coklat gelap yang terlihat kontras dengan kulit putih bersihnya itu tengah menikmati secangkir kopi espresso. Gadis itu mengamati dengan seksama setiap pergerakan yang tersuguh dihadapannya, termasuk fakta bahwa pria bersorot mata ceria itu terus saja menatap Cheonsa dengan intens seiring bibir tipisnya yang melengkung membentuk senyuman lebar.

Cheonsa merasa saat ini dirinya tengah dilanda fenomena déjà vu. Bagaimana tidak? Wajah yang telah begitu lama tak dilihatnya, tiba-tiba muncul secara mengejutkan, memutar kembali kepingan-kepingan memori masa lalu di dalam otak, dan sukses membuatnya kehilangan sebagian besar kosa-kata. Ya, sejak kedatangan pria itu setengah jam lalu, kata yang dapat keluar dari bibir Cheonsa hanya satu, yaitu “Kau?!” dan kemudian menit-menit selanjutnya dihabiskan dengan terdiam seperti saat ini.

Sungguh! Cheonsa tak pernah menyangka bahwa hari ini ia akan bertemu kembali dengan Byun Baekhyun—pria yang dikenalnya lima tahun lalu di National Intelligent Academy—setelah bertahun-tahun lamanya.

Pagi ini Baekhyun datang ke markas NIS dan sukses menggemparkan seisi gedung ketika dengan sikap masa bodohnya yang tidak berubah sedikit pun, pria itu tiba-tiba memeluk Cheonsa tanpa peduli berpasang-pasang mata yang tengah menatap mereka kala itu. Terlebih lagi ketika Cheonsa akhirnya menyadari bahwa pada detik itu juga namanya akan berada di urutan pertama sebagai bahan gosip untuk dua minggu ke depan oleh sederetan gadis-gadis yang tengah menatapnya kesal. Cheonsa masih ingat betul bagaimana para gadis memandang Baekhyun seperti sesosok dewa mitologi Yunani kuno dengan mata yang berbinar-binar. Sungguh! hal itu semakin membuatnya bergidik ngeri.

“Bisa kau jelaskan mengapa saat menatapmu, espresso terpahit pun terasa seperti kembang gula?” Baekhyun masih tersenyum, menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.

Cheonsa hanya bisa menahan nafas ketika pria itu terang-terang sedang merayunya. Jika saja suasana canggung ini telah mencair atau kembali seperti lima tahun lalu, gadis itu pasti sudah menendang keras-keras tulang kering Baekhyun sampai pria itu mengaduh kesakitan. Tetapi kini ia hanya bisa diam, tanpa tahu harus bagaimana.

-oOo-

“Kudengar mereka telah menemukannya.” Suara rendah khas seorang Oh Sehun tiba-tiba terdengar seiring dengan terbukanya pintu laboraturium. Hal itu sontak membuat Han Cheonsa terlonjak dari kursi dan dengan refleks berusaha memperbaiki penampilannya; menyisipkan anak rambutnya ke belakang telinga dan juga merapikan tatanan jas laboraturiumnya yang sedikit kusut.

“Ya. Seoul National Hospital telah mengutus Dokter Byun Baekhyun untuk membawa mayat yang deskripsinya paling cocok dengan yang kau minta tiga hari lalu, Sehun-ssi,” jelas Cheonsa dengan kedua matanya yang tampak berbinar-binar.

Jika saja hubungannya dengan Oh Sehun sedikit lebih dekat, mungkin kini Cheonsa sudah berakhir dengan memeluk erat tubuh pria itu. Sungguh! Saat pertama kali mendengar kabar bahwa Sehun telah kembali sadar, gadis itu tak dapat menahan air mata bahagia yang meluncur bebas dari kedua pelupuk matanya.

“Aku Byun Baekhyun dari Seoul National Hospital.” Baekhyun bangkit dari duduknya dan dengan memasang raut wajah masam pria itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut Sehun tanpa mau bersusah payah untuk mengucap kata barang sepatah.

Baekhyun melangkah kearah sebuah meja di sudut ruangan dimana telah terbaring seseorang tak bernyawa di atasnya, dan Sehun pun mengikuti langkah Baekhyun dengan sedikit lambat. Ya, pria itu memang belum terbiasa untuk bertumpu dan berjalan dengan bantuan sepasang kruk.

“Wajahnya telah hancur, jadi mungkin akan sedikit sulit untuk kau mengenali jasadnya,” ujar Baekhyun sebelum tangannya bergerak menyingkap selimut yang menutupi tubuh mayat itu sampai sebatas leher.

“Tunjukkan seluruh tubuhnya,” perintah Sehun setelah ia meneliti wajah jasad dihadapannya selama beberapa detik.

Baekhyun mengerjap tak percaya, begitu pula Cheonsa yang kini rahangnya telah terjatuh beberapa senti di belakang sana. “Pardon me?” tanya Baekhyun yang berusaha memastikan bahwa ia memang tak salah dengar.

Sehun mendengus sebal dan memutar kedua bola matanya dengan malas. “Kubilang tunjukkan saja seluruh tubuhnya.”

“Ba—baiklah.” Baekhyun pun dengan ragu kembali menyingkap selimut tersebut sampai benar-benar tak ada sehelai benang pun yang menutupi jasad dihadapannya.

Oh Sehun, dengan kedua matanya yang menyorot tajam kini tengah berusaha memindai setiap jengkal tubuh mayat tersebut tanpa terkecuali. Detik berganti menit, namun keheningan di laboraturium itu masih belum terpecahkan, sampai pada akhirnya Sehun pun mengangkat pandangannya beberapa derajat, menatap Baekhyun selama beberapa detik, dan berkata dengan suara bergetar, “Memang benar dia orang yang kucari. Aku telah memastikannya. Sekarang kau boleh membawanya kembali ke rumah sakit.”

Tanpa sepatah kata ataupun memberi sedikit kesempatan bagi Baekhyun dan Cheonsa untuk sekedar bertanya tentang identitas mayat misterius tersebut, Oh Sehun telah beranjak pergi dari laboraturium dalam langkahnya yang masih tertatih-tatih. Meninggalkan dua orang yang masih bergelut dengan tanda tanya besar di dalam otak mereka masing-masing.

“Who is she? How did Sehun recognise her from not her face?” tanya Baekhyun kepada Cheonsa. Rupanya, pria itu tak dapat mengontrol rasa penasaran yang kini serasa tengah menggerogoti otaknya.

“I don’t know. Her face is a bit sort of bashed-up,” jawab Cheonsa sekenanya sembari mengendikan bahunya.

Dan di lain sisi, Sehun kini memilih untuk menghentikan langkahnya yang melelahkan di depan sebuah jendela besar di salah satu sisi lorong. Pikirannya melayang seiring dengan sorot matanya yang menerawang jauh ke depan, menembus kaca jendela, dan menatap dengan pandangan kosong kearah gedung-gedung pencakar langit di seberang sana.

Ashley telah tewas.

Dan Sehun telah membuat prediksi akan hal itu sebelumnya, tepat dimana ia menemukan microchips milik wanita itu kini telah berada digenggamannya lagi. Ucapan Ashley yang menyatakan bahwa microchips itu adalah hidupnya dan mungkin ia akan mati jika seseorang mengambil benda itu dari genggamannya juga terus berdengung di dalam kepala Sehun kala itu.

Seharusnya, malam ini ia dapat bernafas lega atau bahkan mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan kematian musuh terbesarnya.

Ya.

Seharusnya.

Jika saja Sehun tidak membenci fakta yang ada, seperti yang tengah pria itu lakukan saat ini.

Diam-diam, Sehun ternyata membenci fakta bahwa Ashley telah tewas.

Pertama kali di dalam hidupnya, seorang Oh Sehun menginginkan bahwa prediksi yang ia buat tidak terbukti kebenarannya. Entah mengapa jauh di dalam bagian terkecil dari hatinya serasa amat menginginkan hal itu terjadi.

Apa mungkin, sisi manusiawi seorang Oh Sehun kini mulai menampakan diri?

-oOo-

Hi, fellas!

Akhirnya series ini berlanjut lagi setelah enam bulan lebih pending karena alasan yang tidak bisa saya jelaskan. Disini, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak untuk readers-readers yang masih setia untuk menunggu dan memberikan apresiasi terhadap kelanjutan series ini.

Semoga untuk kedepannya tidak terdapat lagi masalah-masalah yang mengakibatkan series ini harus terpending kembali.

Regards,

Minerva Renata

 

Iklan

31 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] THE ROYAL SCANDAL (CHAPTER 5)

  1. Masih lama kah next chapternya ??
    Ceritanya ntaps dah 👍👍👍 jadi aku Sering” nge-cek kesini nih buat update chapter terbaru dr judul ff yg ini
    Pkoknya di tunggu kelanjutan critanya, buat authornya aku bneran masih menunggu loh

  2. ya ampun kak….
    kgt aku…. kirain udh berhenti…
    kan ceritanya seru…
    jgn berhenti y kak.

    aduh ashley kenapa itu ??
    masa sih, kak??
    trus sehun gmna klo ashley gk ada ???.

  3. ya ampun kak….
    kgt aku…. kirain udh berhenti…
    kan ceritanya seru…
    jgn berhenti y kak.

    aduh ashley kenapa itu ??
    masa sih, kak??
    trus sehun gmna klo ashley gk ada ???

  4. Kayaknya sih ashley gak meninggal . Tapi klo di fikir fikir …caranya ia selamat gimana ya susah juga sih…kan waktu itu di tembak di dada kiri. Tp ini kan ff, apapun bisa terjdi, dan dibuat. Semoga chapter berikutnya gak nunggu sampai berbulan-bulan. Hwaiting

  5. Huaaaahhhh kirain ff the royal scandal udah gak lanjut lg ,, aku suka bgt baca ff nya , jarang” ada ff action . Semoga chapter selanjut nya cepet update yaaaaa …

  6. Aku belum sempat baca sih tp aku mau memberi apresiasi trhadap vidionya…uwah ..aku gak henti hentinya ngucapin omg omg berulang kali. Vidio nya bener bener keren. Membuat ku tertarik buat baca ff ini 😁😁😁ok fix. Aku akan mulai dr chapter 1. Are you ready…yes im very redy….yaaaaa

  7. wah, pas aku liat kaka bilang hiatus 6 bulan. Aku jadi takut kalo kaka update next chapternya 6 bulan lagi nichh. mudah mudahan next chapternya cepet update ya kakk cemungut kak ditunggu nih nextnyaa . Penasaran ashley itu sebenernya tewas apa enggak >_<

  8. ohh kk setelah baca komenan” pembaca yg lain, kk sempet kaya hiatus 6bln yaa kk..??? knpa kk..?? kk habis tau klo kk sempet hiatus tuu akunya lngsung deg”an huaa takut ntarr lama ga lanjut lagii, pliisss kk.. jangan yaa kk, aku suka bgt sm ff kk ini walopun baru hari ini aku bacanya, tapi aku uda ngebett bgt lanjutin tiap chapternya tanpa hentii..ehh giliran di chapter inii rasanya uda takutt baca, takuttt ntar keburu kelarrr & tbc..kan ga bisa lngsung baca chap 6, krn ini aja baru dipublish kemaren kan kk..?? bawaannya parnoo bener dehh, & pada akhirnya beneran tbc hikshiks dg ending chap 5 yg bikin patah hatiii, ashley ga meninggal beneran kan kk..?? itu sehun yg sotoy kan..?? sok”an tau tiap jengkal tubuh ashley..jgn matii dong kk ashleyy, kasian sehunnn..
    ehh kasian akunya, ga bisa ngrasain manis”ny moment merekaaaaa..
    yaa kk tlng dilanjut terus yaa kk ff kk, aku mohonnnn..
    oh iyaa jaga kesehatan yaaa..
    aku tunggu next chapternyaa

  9. Aq sempet deg deg an aq kira udah tamat,,
    Tapi ternyata belum. Hehe
    Jangan lama” ya update chapter 6nya,,
    Penasaran bangetytt
    Daebakkk thorr
    Next

  10. Aku udah baca di wordpress pribadinya smalem….critanya bener2 kerennnn…..!!👍👍👍
    Jgn lama2 update chap 6 yya unnie…dan jgn biarkan Ashley mati gitu aja…kalo Ashley mati, Sehun sama siapa coba hehe^^

  11. ya ampunnn kak… akhirnya the royal scandal dilanjutin lagi… kirain gak bakal dilanjutin
    kak itu ashley beneran tewas? gak mungkin kan? yakan? kasian sehun nya😢
    aku tunggu next chapternya kak… fighting!!!

  12. Welcome back…
    Akhirnya setelah sekian lama update juga. Agak g percaya sih kalo ashley tewas. Karna kan mayat itu wajahnya g bisa dikenali. Walaupun mungkin sehun tau gimana bentuk tubuhnya masi tetep berharap kalo ashley sedang dirawat disuatu tempat…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s