[EXOFFI FREELANCE] – Andromeda (Chapter 3)

picsart_01-28-07-53-22

ANDROMEDA

Cast :

  • Song Hana
  • Oh Sehun
  • Kim Jongin

Author : AL

Genre : Horror, Supernatural, Romance

Lenght : Chapter

Rating : PG-17

Disclaimer : Semua alur dalam cerita ini adalah fiksi belaka. Ini murni hasil imajinasi penulis. Dilarang mengutip atau pun menyalin tulisan ini. Hargai karya penulis. Tulisan ini juga dimuat dalam wattpad pribadi penulis dengan judul yang sama.

**

Chapter 3

Gadis itu berulang kali menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya ia lipat didada. Sesekali pandangannya ia alihkah sambil mengibas-ngibaskan sebuah map biru ditangannya. Ia menghembuskan nafas panjang.

“Sampai kapan aku harus menunggu seperti ini,” ucapnya lebih kepada dirinya sendiri. “Bagaimana bisa laki-laki membuat wanita menunggu selama ini. Benar-benar keterlaluan.”

Suara langkah kaki kini menghentikan gerutu gadis itu. Ia saat ini menegakkan kepalanya dan mencoba tersenyum namun itu terlihat sangat dibuat-buat. Terdengar kekehan kecil ketika senyuman gadis itu ditunjukkan.

“Kau tidak perlu canggung seperti itu Hana-sshi,” ucap seorang pria bersetelan jas lengkap yang kini sudah duduk di hadapan Hana persis. Tangannya ia kepalkan diatas meja. “Ah, iya,  maaf karena aku terlambat. Rapatnya ternyata memakan waktu yang lebih lama dari dugaanku.”

Hana lagi-lagi memaksakan sebuah senyuman. “Tidak masalah,” ucapnya sambil menatap lawan bicaranya itu dalam-dalam. “Jadi, apa kau sudah memikirkan kesepakatan kita? Kau sudah memikirkan tawaran itu?”

Deheman pelan kini terdengar. “Kau masih saja tidak suka berbasa basi ya,” ucap pria di hadapan Hana itu dengan senyuman kecilnya.

Hana menghembuskan nafas panjang. “Aku memang orang yang seperti ini,” ucapnya sambil mengangkat sebelah alisnya. “Jadi cepat ke permasalahan saja, Oh Sehun-sshi. Bagaimana keputusanmu?”

Sehun kini membuang nafasnya asal. “Baiklah kalau itu maumu, kita langsung ke permasalahannya saja,” ucapnya pelan sambil membenarkan posisi duduknya. “Aku sudah membulatkan keputusanku.”

**

1 hari sebelumnya

“Jadi, apa maksud ucapanmu itu sebenarnya Bella?”

Suara tawa kecil kini terdengar membalas pertanyaan yang diucapkan seorang pria paruh baya dari meja kerjanya, yang bertanya kini menghembuskan nafas panjang. Seolah dirinya merasa dipermainkan dengan kata-kata yang menjebak pemikirannya saat ini.

“Bella, berhentilah tertawa, ini sama sekali tidak lucu,” ucap pria itu sekali lagi sambil mengibaskan tangannya. “Sudah berapa kali kau tertawa diruang kerjaku ini, ha?”

Bella kini bangun dari posisinya. Ia berdeham pelan. “Aku pertama kali mendengar tawaran aneh seperti ini, Sehun. Ini lucu sekali,” ucapnya yang kini telah meredakan tawanya. “Kenapa dia ingin membuatmu menjadi asistennya?”

Sehun mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu. “Itu juga yang tidak aku mengerti,” ucapnya yang kemudian memiringkan kepalanya. “Seperti tidak ada orang lain saja.”

“Ah,” angguk Bella. “Bukan karena tidak ada orang lain, tapi karena orang lain itu tidak bisa. Aku pikir, mungkin karena itu dia memintamu untuk menjadi asistennya.”

Lagi-lagi kening Sehun berkerut. “Kau malah membuatku tambah bingung, Bel,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Aku bahkan baru sekali bertemu dengannya, kenapa dia langsung memilihku. Bukankah itu tampak aneh? Aku yakin pasti ada alasan tersembunyi dibalik ini semua.”

Bella melipat tangannya didada. “Kau terlalu banyak berpikir, Oh Sehun,” ucapnya sambil menghembuskan nafas panjang. “Terkadang ada hal penting yang justru tersembunyi dibalik pemikiran panjangmu itu. Karena kau terlalu banyak berpikir kau jadi melupakan sesuatu. Bukankah hasil yang terpenting dari negosiasi ini adalah bangunan itu.”

“Jadi maksudmu kau menyuruhku untuk menuruti keinginan gadis itu, begitu?” tanya Sehun penuh penekanan.

“Bukan begitu,” kekeh Bella. “Kau yang berhak memutuskan itu. Ini kan hidupmu, tapi aku memiliki sebuah saran untukmu.”

Alis Sehun bertaut.

“Selama kau terus berpikir di meja kerjamu ini, selama itu pula Minseok juga terus melancarkan aksinya. Kau tahu,  kemarin dia bahkan berhasil membuat perjanjian dengan investor cina,” ucap Bella sambil memainkan nada suaranya berusaha mempengaruhi lawan bicaranya itu. “Selama kau hanya duduk diam disini. Selama itu pula posisimu terancam. Mendapat bangunan untuk perluasan Ilhoon saja kau masih banyak berpikir, bagaimana nanti jika kau akan memimpin perusahaan. Tidak akan ada yang berubah sama sekali.”

Sehun terdiam selama beberapa detik. Ia kini malah menatap lawan bicaranya dalam-dalam.

Merasa ditatap dengan tatapan mematikan, Bella hanya tersenyum kecil sambil mengangkat bahunya pelan. “Kau hanya harus sedikit lebih berusaha untuk mencapai ambisimu itu, Sehun,” ucapnya menutup pembicaraan itu karena kemudian ia langsung melangkah pergi dari ruangan kerja seorang direktur. Tapi, tiba-tiba langkahnya kini terhenti, ia teringat satu hal. “Kau bahkan tidak ragu sedikit pun ketika kau ikut bersamaku tentang rencanaku itu. Jadi kenapa kau sekarang terlalu banyak berpikir?”

**

Hana mengedipkan matanya perlahan mencoba mengeluarkan debu yang tersangkut dimatanya itu. Kini matanya berair, pandangannya buram.

“Hari yang sangat menyebalkan,” ucapnya begitu debu dimatanya berhasil ia keluarkan. Detik berikutnya ia mengelap cairan yang juga ikut keluar dari hidungnya. Ia lalu menghembuskan nafas panjang. “Kenapa aku harus terjebak di tempat seperti ini sih.”

Aku sudah menemukannya.”

Mata Hana kini membulat karena terkejut. Buru-buru kembali ia mengatur jaraknya. “Kau selalu mengagetkanku,” bisiknya pelan karena tidak mau dianggap gila sebab berbicara sendiri di mata orang lain di sekitarnya itu. Detik berikutnya ia membenarkan posisi duduknya. “Jadi, buruanku ada di ruang kerjanya?”

“Ia, dia ada di sana. Tapi kau yakin bisa masuk ke sana?”

Kening Hana berkerut tanda ia sedang berpikir. “Apa aku tidak bisa masuk?” kini ia malah balik bertanya.

Yang di ajak bicara oleh Hana hanya menggelengkan kepalanya. “Kalau kau hantu pengintai seperti Ku itu bukanlah suatu masalah. Memangnya kau bisa masuk tanpa kartu karyawan seperti yang sedang mereka pakai itu.”

Hantu pengintai itu kini menunjuk kerumunan orang yang sedang berbaris ingin memasuki tempat kerja mereka itu.

Hana menghembuskan nafas panjang. “Apa kau tidak bisa mencuri kartu milik salah satu dari mereka?” tanya Hana kembali. Ia kini memamerkan deretan giginya.

Aku hantu pengintai bukan hantu pencuri. Sepertinya kau salah memanggil hantu. Aku akan pergi.”

“Ah, tunggu dulu,” tanpa sadar Hana menaikkan suaranya beberapa oktaf. Karena suaranya itu pula ia saat ini menjadi bahan perhatian orang-orang. Kini ia memiringkan kepalanya perlahan. Diambilnya ponsel miliknya dengan cepat dari kantung saku jaketnya itu. “Hey, aku hanya bercanda. Kenapa kau mudah emosi seperti ini. Menyebalkan.”

Hana bersikap seolah ia sedang berbicara dengan seseorang ditelepon. Matanya menatap tajam hantu yang ada di dekatnya itu. Mulutnya berbisik sumpah serapah tanpa henti. Detik berikutnya ia menghembuskan nafas panjang seolah tidak terjadi apa-apa begitu orang-orang tidak lagi memperhatikannya.

Hantu di dekat Hana itu kini tertawa dengan tawa khas hantu miliknya. Terdengar cukup menakutkan hingga membuat orang yang melewati hantu itu mengelus tengkuknya merasa tak nyaman. Hana bahkan berpura-pura tidak mendengarnya dan bersikap sebiasa mungkin. Meski sebenarnya ia juga terkejut akan tawa itu.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Hana terdiam selama beberapa detik. “Aku tidak tahu,” ucapnya lemah. “Tapi aku tidak ingin menyerah.”

“Kenapa aku mau mengikat kontrak dengan manusia bodoh seperti ini ya.”

Hana jelas mendengar ucapan hantu itu, tetapi ia memilih untuk mengabaikannya. Setidaknya meskipun ia bodoh tapi ia masih tetap manusia bukan. Lagi pula ia merasa hantu itu lebih bodoh karena mau mengikat kontrak dengan manusia yang dia pikir bodoh seperti ini.

“Ya, dengarkan aku. Daripada kau duduk disini dan tidak melakukan apa pun, sebaiknya kau hubungi saja buruanmu itu. Ah, yang ada di saku jaketmu itu kartu namanya kan. Lihat, itu hampir terjatuh.”

Hana buru-buru memegang saku jaket yang dimaksud hantu itu. Sebuah senyuman langsung terlukis begitu ia menemukan lembaran kecil berwarna putih di sakunya itu. “Kenapa aku melupakan ini ya,” ucapnya sambil memperhatikan kartu nama itu dengan teliti.

“Kau memang bodoh.”

Hana memandang malas hantu itu dan lagi-lagi mencoba untuk tidak memedulikan ucapannya. Ia lebih memilih mengetik sesuatu di ponsel miliknya dengan nomor yang tertera di kartu nama itu. Detik berikutnya, begitu sambungannya terhubung ia mulai mendekatkan ponselnya ke telinganya.

“Halo?” ucap Hana.

“Ya, Halo. Siapa ini?” ucap seseorang di ujung sana.

“Ah, aku Hana. Pemilik bangunan yang ingin kau beli itu. Hem, maaf karena mengatakan ini secara mendadak, tapi aku benar-benar sedang membutuhkan asisten secepatnya. Jadi apa kau sudah membuat keputusanmu?”

Terdengar deheman pelan disana. “Kebetulan sekali kau meneleponku. Aku juga ingin membahas itu denganmu. Jadi, bisa kita bertemu besok siang di Cafe depan Ilhoon?”

Hana kini menyebarkan pandangannya dan menemukan sebuah Cafe yang mungkin di maksud oleh lawan bicaranya itu. Anggukan kepala kini tercipta. “Ah, baiklah. Kita akan bicara di sana besok.”

**

Today

“Jadi apa keputusanmu, Sehun-sshi?” ucap Hana seakan tidak sabar atas jawaban yang akan dilontarkan lawan bicaranya saat ini. Ia menatap lawan bicaranya itu dalam-dalam seakan tidak ingin ada yang ia lewatkan dari obrolan mereka.

Sehun kini menghembuskan nafas panjang. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ya, sebenarnya ini keputusan yang sulit untuk ku buat,” ucapnya.

Hana menganggukkan kepalanya.

“Aku bahkan tidak tahu keputusanku ini tepat atau tidak.”

Lagi-lagi Hana menganggukkan kepalanya.

“Tapi, ku rasa aku harus membuat keputusan ini demi kelangsungan bisnisku juga.”

Malas untuk menganggukkan kepala, Hana kini menghela nafas. “Jadi, bagaimana keputusanmu, Oh Sehun?” ucapnya malas. “Bukankah kita sudah sepakat untuk langsung ke inti permasalahan.”

Kini giliran Sehun yang menghela nafas. “Baiklah, sesuai dengan tawaran yang kau berikan, aku menyetujuinya,” ucapnya yang terdengar sedikit berat hati. “Kita akan melakukan itu, aku akan menjadi asistenmu dan kau jual bangunan itu padaku. Oke, kita akan melakukan itu.”

Hana melebarkan senyumannya. Sekarang ia bisa kembali melakukan pekerjaannya. “Kalau begitu tanda tangani ini,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah map biru yang dari tadi dipegangnya. “Aku membuat surat perjanjian untuk ini.”

Sehun menyipitkan sebelah matanya memandang dengan jeli map yang diarahkan kepadanya itu. “Kau benar-benar telah mempersiapkannya ya,” ucapnya sambil membaca apa yang tertera dalam lembaran di map tersebut. “Poin pertama sebagai seorang asisten, tunggu maksudmu aku harus meluangkan banyak waktu ketika kau mendapat panggilan pekerjaan, lalu bagaimana jika aku sedang mengerjakan pekerjaan utamaku, kau tidak akan terus memanggilku setiap hari kan?”

Hana terkekeh pelan. “Tentu saja tidak, tapi terlepas dari itu, aku benar-benar memerlukan bantuanmu saat ini. Jadi, ayo kita mulai bekerja.”

**

Sehun pikir ketika dirinya diminta untuk menjadi seorang asisten ia hanya akan mengerjakan beberapa pekerjaan kantor yang kecil seperti membuat laporan, dan menangani pembukuan, atau membantu pekerjaan lapangan lainnya. Tapi kenyataannya sama sekali berbeda dengan apa yang ia pikirkan.

Ia saat ini sedang berada di halaman sebuah rumah yang tampak gelap bagi dirinya, padahal matahari masih bersinar cukup terang meski tertutupi awan musim gugur saat ini. Ia merasakan sebuah perasaan yang sangat tidak nyaman semenjak ia datang ke tempat ini.

“Sebenarnya apa yang akan kita lakukan?” ucap Sehun sambil memandang ke sekelilingnya. “Apa ini tempat kerjamu?”

Lawan bicara Sehun saat ini terdiam sejenak. Ia sibuk mempersiapkan sesuatu yang sama sekali tidak bisa Sehun mengerti. Ia menyalakan sebuah lilin di depan pintu teras dan memasang kertas-kertas dan membuatnya menjadi lingkaran dan itu mengelilingi mereka berdua.

Sebuah embusan nafas kini terdengar. “Pakailah ini,” ucap Hana sambil memberikan sebuah gelang manik yang sama dengan yang dipakainya itu pada Sehun. “Gelang ini akan menjadi penghubung tentang apa yang akan kita lakukan saat ini. Dengan begitu kau benar-benar bisa menjadi perantaraku, ah tidak maksudku asistenku.”

Sehun mengerutkan keningnya. “Sebenarnya apa yang akan kita lakukan? Jawab pertanyaanku,” tanyanya sambil memakai gelang itu perlahan. Ia kini menggaruk keningnya. “Kau tidak melakukan suatu hal yang aneh padaku bukan?”

Hana terkekeh pelan. “Bagiku ini bukanlah suatu hal yang aneh,” ucapnya sambil mengangkat bahu. “Kalau kau sudah selesai bicara bisa kau benarkan posisimu. Duduklah, kita akan memulainya, dan kau akan mengerti apa yang sedang kita lakukan sebenarnya.”

Sehun menuruti perkataan Hana tanpa banyak bicara lagi. Ia membuat posisi senyaman mungkin dan duduk bersila di hadapan gadis itu. Ia kini menghembuskan nafas panjang.

Sebuah sentuhan kini terasa di bahu kekar milik Sehun, Hana menyentuh bahunya dengan sebuah tongkat sepancang tiga puluh senti. Tongkat itu berwarna kecokelatan dengan ujung yang diberikan sebuah tempelan kertas bertuliskan sebuah kata-kata kanji.

Hana sekarang mengucapkan beberapa kata yang sama sekali tidak dimengerti Sehun. Sambil Hana terus mengucapkan kalimatnya itu, sebuah cahaya tiba-tiba mengeliling mereka berdua.

Sehun kini mengedipkan matanya berulang kali. Ia merasa pandangannya salah, bagaimana mungkin ada kilauan cahaya di siang hari seperti ini.

Apa aku sedang bermimpi? Kalah iya, tolong jangan bangunkan aku. Ini terlalu indah.

Hana kini membisikkan sesuatu padanya. Meskipun samar, tapi Sehun jelas mengerti apa yang diucapkan gadis itu. Saat ia kembali mengedipkan matanya, pandangannya kini kembali seperti semula.

Sehun melihat senyuman gadis di hadapannya saat ini.

Untuk saat ini, sebuah belati kini digenggam Hana. Belati dengan gagang emas yang kilauannya bahkan membuat Sehun menyipitkan sebelah matanya.

Kini ujung belati itu menyentuh bibir Hana lembut. Cairan merah langsung menghiasi bibir tipis gadis itu.

Banyak pertanyaan yang timbul dalam benak Sehun, tapi ia memilih untuk diam.

Kini Hana mendekatkan jaraknya, ia masih mengucapkan sebuah kata-kata klasik dengan bahasa cina. Sambil memegang belatinya itu oa mulai menatap pria di hadapannya itu dalam-dalam.

“Untuk mengakhiri ritual ini, bisakah kau pejamkan matamu?” Sebuah suara bergetar tercipta dari bibir Hana yang kini lebih merah dari sebelumnya.

Lagi-lagi seakan ada yang mendorongnya, Sehun menuruti  semua yang diperintahkan Hana padanya tanpa banyak berpikir. Ia kini memejamkan matanya tanpa bertanya dan berucap sepatah kata pun.

Tangannya ia kepalkan, begitu ia merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Bibirnya kini hangat, hangat karena cairan yang sangat tidak asing dengan ia hanya mencium aromanya. Ia tahu betul apa yang dialaminya saat ini.

Daripada menolak, Sehun lebih memilih untuk diam, dan disaat itu pula, ribuan cahaya tiba-tiba memenuhi tubuhnya. Seakan cahaya itu memakan dirinya sendiri. Dirinya seolah ingin meledak kalau saja tidak ada tangan yang menggenggam lembut lengannya saat ini. Kali ini, ia terselamatkan.

*TBC*

Haii Al kembali..

Untuk chapter ini kayaknya Horrornya kurang berasa yaa dan maaf juga kalau chapter ini agak sedikit pendek. Pikiran Al lagi mentok saat ini. Hehee..

Semoga ajah minggu depan bisa lebih panjang dari pada ini yaa.

Oke, jangan lupa komentarnya yaa..

Iklan

5 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] – Andromeda (Chapter 3)

  1. diciumkah sehun??? woaahhhhhh…
    iya kurang berasa horor… tawa hantuya juga karna gk tau tawa hantu menyeramkan kek gimana jadi gk bisa bayangin,..hehehehehe
    terlalu singkat… belum dapet feelnya…
    nextttt

  2. Ritual seperti apa yang dilakukan mereka ? Apa ritual ini akan membahayakan nyawa mereka ? Semoga aja nggak tapi aku suka dichapter ini karena momen antara hana dan sehun dibanyakin walaupun memang ini pendek tapi aku tetap suka.
    Next nya jangan lama-lama ya thor

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s