[EXOFFI FREELANCE] RYHTHM (Chapter 2)

rhythm-poster

“RHYTHM” – A Story by Saebyeog

CHAPTER 2 -“Movement no.1”

Author    : Saebyeog

Length    : Chapter

Genre    : Drama, Friendship, Romance, Sad

Rating    : PG-15

Cast    :

  • CHEN – EXO, as Kim Jongdae/Himself
  • Kang Sera (OC)

Author’s note: The plot and idea are all mine. Plagiarism is prohibited. Hope you’ll enjoy this story ☺

Warm regards, Early Ang.

***

Gadis itu benar-benar jatuh pada permainan si murid cemerlang. Ini pertama kalinya murid itu mengeluarkan auranya. Tidak, maksud Kang Sera adalah, ini pertama kalinya murid cemerlang itu benar-benar menunjukkan kecemerlangannya.

Ya, murid cemerlang.

Kini Kang Sera tahu kenapa Kim Jongdae bisa mendapat julukan semacam itu.

***

Kim Jongdae sedikit tersentak ketika menyadari sosok gadis yang kini berdiri di hadapannya, menatapnya lekat-lekat dengan tatapannya yang kosong. Ia berdeham sebelum membuka suara.

Eotthae?

Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Kang Sera. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya lalu seketika mengubah raut mukanya dengan ekspresi dingin dan angkuh, seperti biasanya. “Biasa saja.”

Kim Jongdae sontak menaikkan alisnya.

“Lagian apa-apaan sih? Kenapa memainkan lagu itu dalam versimu? Kau menggubahnya tanpa izin!” ujar Kang Sera gelagapan. Astaga… yang keluar dari mulutnya benar-benar kebalikan. Kang Sera ingin sekali mengatakan ‘Itu gubahan yang sangat bagus’ atau ‘Dari mana kau mendapatkan inspirasi seperti itu?’, tapi kau tahu, hal itu sulit sekali untuk Kang Sera lakukan.

Wae? Aku tidak perlu izin dari siapapun jika hanya untuk tujuan bersenang-senang.” Seloroh Kim Jongdae seraya menghadapkan tubuhnya kembali ke depan tuts piano, bermaksud untuk memainkannya lagi.

Merasa tidak dipedulikkan, Kang Sera mendesis kesal. “Issh.. benar-benar merusak mood-ku.”

“Kau yang pertama kali bermain piano di sini. Aku akan pindah saja ke ruang piano.” Ujar Kim Jongdae untuk menahan Kang Sera yang hendak beranjak keluar dari hall basket.

Kali ini giliran Kang Sera yang menaikkan alisnya.

Kim Jongdae membalikkan tubuhnya. “Kau yang pertama kali menemukan tempat ini, jadi aku akan mengalah.”

Kang Sera tampak menimbang-nimbang, lalu “Lupakan. Kau lebih memerlukannya. Kau kan si murid andalan para guru untuk kejuaran piano Januari nanti.”

“Bagaimana kalau bermain bersama?” Kim Jongdae kembali menahan Kang Sera. Kali ini Kang Sera tidak hanya menoleh, tetapi juga membalikkan tubuhnya dan menyilangkan tangannya. Tatapannya menyiratkan bahwa dirinya menginginkan penjelasan.

Bersama? Kata-kata itu lebih terdengar seperti ejekan bagiku.”

“W-wae? Yah, Kang Sera. Bisa tidak, sih, kau menunjukkan sedikit saja sikap manismu? Setidaknya kau tidak perlu pedulikan aku dan terus saja jalan ke luar. Kenapa malah berbicara seperti itu?” protes Kim Jongdae panjang lebar. Kang Sera bahkan mendengar Kim Jongdae menambahkan kata-kata seperti ‘gila ya?’ dan ‘dasar pemarah’ di akhir kalimat.

Kang Sera masih belum mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Jadi ia melangkah mendekati Kim Jongdae dan menekan telapak tangan di atas tuts piano.

Gerakan tiba-tiba itu mengejutkan Kim Jongdae. Baru saja ia ingin membuka suara, namun Kang Sera mendahuluinya. “Kau ingin aku bermain piano? Bersama? Wae? Kenapa kau ingin melihat permainanku? Kau ingin mengejek seperti yang lainnya?”

Kim Jongdae terlihat menelan ludahnya sebelum menjawab rentetan pertanyaan itu. “Kau, kan, memang murid jurusan musik. Apa salahnya memintamu bermain? La-lagipula kita, kan, teman sekelas, murid-murid lain juga sering melakukan duet.”

Matanya sedikit terbelalak melihat perubahan emosi Kang Sera. Apa yang salah, sih, dengan gadis ini, batin Jongdae.

“Aku bukan temanmu. Aku juga tidak butuh teman, jadi jangan repot-repot untuk mengakrabkan diri padaku.” Jelas Kang Sera seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Jongdae, tatapan mata intens dan perlakuan Kang Sera itu tentu saja membuat Kim Jongdae menjauhkan tubuhnya. Tanpa sadar, kini duduknya telah bergeser dan menyisakan ruang di sebelahnya.

Keundae!” seru Kang Sera. Ia mendudukan dirinya di sebelah Kim Jongdae yang masih tertegun. “Kau tidak sepenuhnya salah. Aku yang pertama kali menemukan harta karun ini, jadi aku yang berhak menentukan kapan ingin bermain dan kapan tidak.”

Jongdae yang tidak tahu harus berbuat apa, pada akhirnya hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. “Ge.. geurae. Kalau begitu, haruskah aku pergi?”

“Tunjukkan kualitasmu sebagai si murid cemerlang.”

Ucapan Kang Sera barusan menahan gerakan Jongdae yang hendak bangkit dari duduknya.

“Main piano bersamaku. Kau tadi mengajak duet, kan?” jelas Kang Sera sekali lagi.

“A-ah! Itu… Ya, baiklah.” Jawab Jongdae pada akhirnya. Ia sebenarnya tak tahan pada situasi penuh kecanggungan seperti ini. Namun akan lebih tidak sopan jika menolak bermain bersama, padahal dirinya yang terlebih dahulu mengajak Kang Sera untuk berduet dengannya.

“Mainkan lacrimosa saja.” Gagas Kang Sera. Tanpa meminta persetujuan Jongdae, jari-jemari gadis itu kini sudah menari di atas tuts piano, memainkan karya misterius sang legenda.

“Aku tidak ingin mengakhiri hidup.” ujar Jongdae singkat. Ia menahan dirinya untuk tidak ikut dalam permainan lagu itu.

Sementara Kang Sera yang mendegar jawaban tak terduga dari Jongdae, hanya bisa menghela napas tak percaya. Ia menghentikan permainannya, lalu menatap Jongdae lekat-lekat. “Kau pikir aku sedang dalam keadaan putus asa? Lacrimosa bukan hanya untuk mereka yang kehilangan arah dan memilih untuk mati, kau tahu?”

Ditatap lekat-lekat seperti itu membuat Jongdae sedikit gelagapan ketika menjawab. “Yang kutahu, itu pesan kematian dari Mozart, bukan?”

Kang Sera menaikkan pundaknya. “Entahlah. Itu persepsi orang-orang. Mozart tidak pernah menyebutkan bahwa lagu itu adalah pesan kematian. Dia belum memberikan judul pada lagu itu. Lagipula lacrimosa bukan sesuatu yang menyeramkan sehingga harus disebut sebagai pesan kematian.”

“Apa perasaan yang kauberikan ketika memainkan lacrimosa?” tanya Jongdae kemudian.

Kang Sera tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab. “Hmm.. apa ya? Dibanding harus melibatkan satu perasaan saja, aku lebih suka membuatnya seperti gelombang.”

Jongdae mengerutkan dahinya tidak mengerti. Melihatnya, Kang Sera tahu ia perlu memberikan penjelasan lebih lanjut. “Dalam memainkan satu lagu, aku biasanya memberikan rasa senang, sedih, marah, kesal, dan perasaan lainnya. Sebuah lagu akan terdengar jauh lebih baik jika seperti gelombang, ada banyak perasaan yang terlibat di sana. Yah, tidak semua lagu akan bagus jika dimainkan seperti itu, sih. Namun untuk kasus aransemen lagu yang memiliki durasi panjang, akan lebih baik jika ada banyak rasa di dalamnya. Dengan begitu, pendengar tidak akan merasakan bosan. Yah.. seperti itulah.”

Jongdae tertegun mendengar penjelasan Kang Sera. Ini pertama kalinya ia bicara panjang lebar dengan gadis satu itu, bahkan ini pertama kalinya ia berkesempatan melihat sorot mata Kang Sera yang seolah tersenyum.

Kang Sera tersenyum simpul, lalu menambahkan lagi. “Aku memang bukan pakar musik klasik. Namun, kupikir lacrimosa bukanlah pesan kematian yang menyeramkan, yang harus dimainkan dengan perasaan kalut dan putus asa.”

Sejurus kemudian, mereka larut dalam alunan lacrimosa yang dimainkan. Terkadang jemari Jongdae menginterupsi dan mendominasi tuts piano, Kang Sera tersenyum dan membiarkan, lalu sedetik kemudian ia kembali menyingkirkan jemari Jongdae dengan melebarkan tangannya dan melebarkan area permainannya di atas tuts piano. Tanpa menyadari satu sama lain, mereka asyik berbagi tawa saat satu dan yang lainnya saling berkompetisi untuk mendominasi permainan. Namun keduanya sama-sama mengakui jika suasana saat itu terasa hangat, meski tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Tidak ada cengkrama, hanya ada sedikit tawa. Tetapi seakan-akan melalui cara inilah mereka bisa berkomunikasi. Rasanya hangat, Kang Sera dan Jongdae tidak bisa meragukan hal yang satu itu.

Semenjak saat itu, Jongdae dan Kang Sera seringkali menghabiskan waktu bersama. Entah siapa yang memulai, namun Kang Sera tidak keberatan berbagi piano dengan Jongdae, begitu juga dengan Jongdae yang tidak keberatan dengan permintaan Kang Sera dalam memilih lagu yang akan dimainkan. Pertemuan-pertemuan selanjutnya masih sama seperti sebelumnya, tidak ada obrolan panjang yang lahir dari mulut mereka. Permainan singkat di sela-sela jam istirahat itu pun tidak pula menghasilkan jalinan pertemanan. Ketika bel tanda jam istirahat berakhir, mereka mengakhiri permainan dan kembali ke kelas. Kang Sera tidak menyapa atau membuka mulutnya ketika berpapasan dengan Jongdae, terkadang bahkan gadis itu memalingkan wajahnya. Begitupun dengan Jongdae. Merasa tidak perlu melakukan hal-hal seperti menyapa atau tersenyum, Jongdae melakukan hal yang sama dengan yang Kang Sera lakukan. Awalnya Jongdae merasa aneh, namun pada akhirnya ia paham, Kang Sera bukanlah batas yang harus ia lewati. Menyapa dan tersenyum kepada Kang Sera tidak akan mengubah apapun. Jadi, Jongdae lebih memilih situasi yang seperti ini, menjadi teman duet tiga puluh menit-nya Kang Sera. Berkomunikasi lewat musik tanpa perlu bercengkrama, hal ini mengasyikan, pikir Jongdae.

Ia tak tahu sejak kapan, namun bermain piano dengan si gadis dingin itu kini menjadi hal yang paling Jongdae tunggu dalam sehari.

***

Pertemuan yang tak diketahui siapapun itu masih terus berlanjut beberapa minggu kemudian. Namun ada satu perubahan berarti, Jongdae dan Kang Sera tidak lagi menutup mulut. Secara mengejutkan, Kang Sera yang memulainya lebih dulu.

“Aku tidak pernah menyangka seorang Jongdae juga punya waktu untuk mendengarkan K-Pop.”

Jongdae hanya tersenyum mendengarnya. Masih dengan jemari yang memainkan tuts piano, Jongdae menatap Kang Sera sekilas. “Aku kira kau tipikal gadis yang hanya akan mendengarkan musik-musik Barat.”

Kang sera mengerutkan dahinya, tidak mengerti. “Kau sama sekali tidak kelihatan seperti gadis yang tinggal di Korea.” Jongdae menambahkan sekali lagi.

Pernyataan itu lantas membuat Kang Sera terkekeh pelan. “Harus mendengarkan semua jenis musik, kan? Itu bagus untuk seseorang yang bermimpi menjadi pemain musik professional.”

Jongdae menganggukkan kepalanya, “Kau benar. Itu juga jawabanku atas pertanyaanmu.”

Obrolan-obrolan selanjutnya hanya berkisar mengenai musik yang mereka mainkan saat itu. Tak jarang mereka juga berdebat mengenai bagaimana seharusnya memainkan lagu pop agar terdengar semegah musik klasik, atau juga membicarakan bagaimana mereka begitu menyukai permainan dari grup pianis yang terkenal dengan nama The Piano Guy, terkadang mereka juga memainkan musik klasik yang diselingi dengan musik pop, sama halnya dengan yang dilakukan oleh The Piano Guy.

Ini mungkin terdengar janggal, namun kini waktu tiga puluh menit terasa tidak cukup bagi mereka. Waktu tiga puluh menit terasa begitu singkat bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain melalui musik. Kang Sera dan Jongdae bahkan selalu mempercepat langkah mereka untuk segera sampai ke hall basket. Kau bahkan bisa melihat senyum Jongdae dan Kang Sera yang mengembang ketika mendengar suara bel berbunyi, tanda jam istirahat sudah dimulai. Dan ketika bel itu berbunyi lagi untuk mengakhiri jam istirahat, kedua sama-sama menyembunyikan wajah kecewa.

Seperti saat ini, Jongdae mendesah pelan, lalu memberanikan diri untuk membuka suara lebih dulu. “Haruskah kita lanjutkan setelah pulang sekolah?”

Kang Sera menaikkan alisnya, terlihat untuk sesaat sebelum menjawab ajakan Jongdae, “Yah, bagaimanapun kurasa waktu tiga puluh menit tidak pernah cukup untuk siapapun. Ya, kan?”

Jongdae tersenyum dan mengangguk setuju. “Kau benar.”

Mereka berdua kemudian bangkit dari duduknya lalu berjalan berdampingan menuju kelas. Saat berjalan bersisian, Jongdae beberapa kali menatap sekeliling, berharap tidak ada yang melihat dirinya berjalan berdua dengan Kang Sera.

Kang Sera yang menyadari hal tersebut, hanya bisa tersenyum sinis. “Satu-satunya yang bisa melihat kita saat ini mungkin hanya CCTV.”

“Eoh?” Jongdae menolehkan kepalanya dan menatap Kang Sera.

“Kau bisa berlari menuju ke kelas jika tak nyaman berjalan bersamaku.”

Merasa tertangkap basah, Jongdae hanya bisa diam. Ia menundukkan kepala dan berdeham pelan. “Aku hanya—“

“Tidak perlu sungkan. Jangan pernah ragu untuk berjalan lebih dulu, karena aku bukan temanmu.” ujar Kang Sera seraya menatap Jongdae. Di akhir kalimat, gadis itu memajang senyum simpul di bibirnya.

“Kang Sera…”

Geurae, kalau begitu aku yang berjalan lebih dulu.” Kang Sera yang enggan mendengarkan penjelasan Jongdae, memilih mengambil langkah seribu menuju kelasnya.

Jongdae melihat Kang Sera yang perlahan menghilang dari hadapannya. Ia berdeham sekali lagi, kali ini akibat hatinya yang mencelos karena ulah Kang Sera yang kembali menjadi gadis es. Tunggu, ia akan mengoreksi perasaannya, ini bukan karena Kang Sera. Bagaimanapun Jongdae sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa Kang Sera bukanlah garis yang harus ia lewati. Kang Sera benar, tidak ada ikatan teman, tidak ada yang memutuskan bahwa mereka akan menjadi teman. Jongdae menghela napas, berusaha mengusir perasaan janggal yang masih tertinggal di hatinya.

***

Harusnya Kang Sera tahu bahwa Jongdae bukanlah seseorang yang akan bisa menjadi temannya. Entahlah, hal itu mungkin hanya ada di pikiran Kang Sera, tapi menurutnya murid secemerlang Kim Jongdae tidak akan mau menjadi temannya. Setidaknya begitu yang bisa Kang Sera simpulkan, karena sejak bel sekolah berdering tiga puluh menit yang lalu, Jongdae tidak kunjung datang.

Penolakan lagi, batin Kang Sera. Setelah ayah dan kakaknya yang selalu saja berseberangan dengannya, kini si murid cemerlang juga menolaknya. Gadis itu tersenyum sinis, berusaha untuk tidak mengasihi dirinya sendiri.

“Memangnya siapa Kim Jongdae? Sampai-sampai aku harus merasa terbuang seperti ini.” ucapnya dalam hati.

Kang Sera masih belum beranjak dari hall basket. Sudah dua jam dirinya menenggelamkan diri dalam alunan musik klasik yang mengalir lembut melalui jari-jemarinya yang lincah menari di atas tuts piano. Barusan ia memainkan Serenade No. 13 milik Mozart, namun suara yang dihasilkan sama sekali datar, tanpa emosi. Gadis itu memainkan sambal termenung, tidak fokus pada permainannya sendiri. Jika kau mengira bahwa permainan Kang Sera yang tidak fokus dikarenakan Kim Jongdae, kau benar. Selama bermain tadi, Kang Sera menyelipkan harapan bahwa Jongdae akan datang. Tetapi kau tahu, kan? Seorang Kang Sera sudah pasti menolak untuk mengakui perasaan itu.

Masih dengan jari-jemari yang bermain dengan asal di atas tuts piano, Kang Sera melirik jam tangannya. Ia akan pulang tiga puluh menit lagi. Pulang terlalu larut pasti akan membuat ayahnya memboyong pengawal pribadinya ke seluruh penjuru sekolah untuk mencari putri kesayangannya. Cih, Kang Sera benci dianggap anak kecil. Ayahnya selalu saja berpikiran bahwa gadisnya masih berumur lima belas tahun, seperti layaknya remaja ingusan yang harus diampu karena dianggap belum cakap dalam bertindak.

Kang Sera mencuri pandang jam tangannya lagi. Ia menghela napas pendek. Sudah cukup, ia tidak akan menunggu lagi. Lagipula, permainannya sedari tadi hanya membuat mood-nya jadi bertambah buruk.

Setelah menutup daun pintu dan melangkah keluar dari hall basket, kini tujuan Kang Sera halaman parkir sekolah. Supirnya pasti sudah menunggu sejak dua jam yang lalu. Namun, belum jauh setelah meninggalkan hall basket, Kang Sera menghentikan langkahnya setelah mendengar percakapan antara Jongdae dan Yeonghan Sonsaengnim.

“Ini sempurna. Kau akan jadi yang terbaik yang akan mewakili Sejong.” ujar Yeonghan kepada Jongdae.

Tadinya Kang Sera ingin menginterupsi. Namun ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk memundurkan langkahnya dan menyembunyikan dirinya di belokan lorong, yang tidak jauh dari tempat Jongdae dan Yeonghan Saem berdiri. Diam-diam Kang Sera merasa lega. Rupanya Jongdae tidak menemuinya di hall basket karena ada keperluan dengan guru. Jadi, Kang Sera pikir, ia akan memafkaannya.

“Terima kasih, Yeonghan Songsaengnim. Berkat Anda, aku akhirnya bisa mewujudkan mimpiku.”

Mimpi? Kang Sera menajamkan pendengarannya. Kini ia akui bahwa dirinya penasaran.

“Aku selalu tahu bahwa dirimu selalu pantas mendapatkannya.”

Apa? Mendapatkan apa? Sial, rasa penasarannya tidak terjawab.

Tidak ada obrolan lagi setelahnya. Jongdae dan Yeonghan Songsaengnim berjalan melewati lorong, tanpa mengetahui keberadaan Kang Sera yang masih bersembunyi di lorong yang berbelok. Namun, gerakan tangan yang tidak sempurna saat Yeonghan Songsaengnim menyelipkan kertas-kertas ke dalam mapnya, mengakibatkan selembar kertas meluncur jatuh tidak jauh dari tempat Kang Sera berdiri.

Baik Jongdae dan Yeonghan Songsaengnim tidak ada yang menyadarinya, jadi Kang Sera membungkukkan badannya dan mengambil lembar kertas tersebut. Ketika hendak memanggil nama Jongdae dan gurunya, mata Kang Sera tak sengaja menangkap Kop Surat yang terlihat begitu mencolok di permukaan kertas.

PROGRAM BEASISWA PENUH SEJONG ART SCHOOL

Kang Sera menolehkan kepalanya ke arah Jongdae dan Yeonghan Songsaengnim yang masih berjalan, lalu sedetik kemudian kembali menatap isi surat di permukaan kertas itu. Tergoda untuk membacanya, Kang Sera kemudian membaca kalimat selanjutnya.

“… mengundang seluruh murid Sejong Art School untuk mengikuti audisi pemilihan penerima beasiswa di universitas seni ternama di seluruh dunia. Pemenang yang terpilih, akan mewakili menerima beasiswa untuk melanjutkan kuliah di seluruh sekolah seni di seluruh dunia.”

Mata Kang Sera berbinar setelah membaca deretan kalimat tersebut. Beasiswa penuh? Kang Sera belum pernah mendengarhal itu sebelumnya. Setidaknya, selama ia bersekolah di Sejong atau selama sepengetahuannya, ini pertama kalinya Sejong Art School menyelenggarakan program seperti ini.

Ini kesempatan emas, kan? Tanya Kang Sera dalam hati. Ia mendapati dadanya berdegup kencang. Ia akan memberitau Jongdae mengenai hal ini. Kang Sera pikir, ini akan jadi kesempatan bagus untuk Jongdae dan dirinya.

Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, Kang Sera memasukkan lembar kertas tersebut ke dalam tasnya. Ia akan mengembalikannya pada Yeonghan Songsaengnim besok.

To be continued…

***

Hey ho! This is Early. Annyeong! This is my very first debut in the fanfiction world, and it’s been a while since I came back to write fiction stories (after months and months struggling with my thesis, kekekeke). This story will come to you once a week-well, hopefully, I’ll give you my best tho. Please look forward to the storyline of Jongdae and his cold-hearted-girl, Kang Sera!

You could also check my Instagram @saebyeog_25. I’ll add some facts, background song and music I used in each chapter, and daily short-version story of these two cast.

Please give your support, critics and opinion on the comment section below.

Cheers! 😀

Early Ang.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s