[EXOFFI FREELANCE] To Love You More (Chapter 6)

to-love-you-more

Tittle/judul fanfic: To Love You More

Author: Leehaera17

Length: Chapter

Genre: Romance, Psychology, sad, Self Hurt, Family

Rating: PG-19

Main Cast & Additional Cast:

Main Cast :

Park Chanyeol(EXO), Kim Hana (OC), Xi Luhan (Singer), Jung Junmyeon (SUHO EXO)

Supporting Cast :

EXO member, Jessica Jung (SNSD)

Disclaimer :

FF ini hasil kerja sendiri yang sudah pernah di publish di Wattpat author, bisa baca di sana, ID : Leehaera17 ( www.wattpad.com/leehaera17 ), semua tokoh hanya sebagai aktor protagonist dan antagonist, tidak ada maksut untuk melecehkan fandom manapun, jangan lupa Comment dan Vote di wattpad Author

add BBM author untuk perkenalan, pertanyaan, dan password (jika di perlukan) : 5C482AF1, ID line : authornim94, twitter : @rawraw_c_raw, pengumuman akan di BM di BBM dan di twitter.

Enjoy!

Hari ke hari berlalu, sejuta kata tak terucap dari bibir Hana membuat Hana kian hari kian takut akan kenyataan, sedikit demi sedikit Hana mengerti apa yang harus ia lakukan, bagaimana caranya berpura – pura menjadi kekasih dari laki – laki dingin nan keras yang kini berada di depannya.

Mata laki – laki itu begitu cantik saat matahari menerpa wajahnya dan senyumnya begitu manis saat deretan gigi putihnya terlihat jelas,

“Mengapa kau menatapku seperti itu?” suara laki – laki itu membuat Hana terkejut,

“Tidak, aku memperhatikan gambarmu,” Hana mengelak dan terus melihat Chanyeol yang mewarnai gambarnya.

Seperti yang kalian kira, kebiasaan Chanyeol untuk menggambar di pagi hari tidak bisa hilang, ia masih terus menggambar dan menwarnai di setiap paginya juga menempelkan hasil karyanya di dinding putih yang kini sepertinya sudah mulai penuh.

“Sampai kapan kau ingin bersandiwara didepan Suho-sshi?” Hana memulai pembicaraan.

“Aku tidak bersandiwara,” Chanyeol menjawab.

“Cih, apanya yang tidak? Kau sama sekali tidak sakit,” Hana tertawa renyah.

“aku masih sakit, kau hanya tidak tau itu,” Chanyeol menjawab pelan dan meraih tangan kanan Hana,

“Di sini,” Chanyeol meletakan tangan Hana di dadanya, “Rasanya begitu sakit sampai aku sendiri tidak bisa merasakannya berdetak lagi.”

Hana terdiam, lagi dan lagi, Hana hanya bisa terdiam dan terhanyut kedalam gelapnya kedua bola mata Chanyeol yang selalu berhasil membuatnya tenggelam di dalam indahnya dunia cinta.

Hana menarik tangannya cepat, tidak… ia tidak bisa jatuh cinta pada laki – laki yang ia tau akan meninggalkannya sebentar lagi, 3 bulan? Itu hanya seperti kedipan matannya saja.

“Aku tidak tau apa aku bisa menjadi Chanyeol yang dulu,” Chanyeol membuka suara.

“Apa maksutmu?” Hana bertanya bingung.

“Chanyeol yang dulu punya rasa percaya diri yang tinggi, ia tidak pernah takut untuk menatap mata orang lain dan selalu bisa mengendalikan amarnya, tapi aku-,” Chanyeol menghentikan kata – katanya.

“Tidak ada yang memintamu menjadi Chanyeol yang baru ataupun lama, semua orang hanya ingin kau menjadi Chanyeol yang kau inginkan,” Hana memberikan senyumnya.

“Kau benar – benar hebat, setiap kata – katamu, membuatku nyaman,” Chanyeol kembali memberikan senyumnya.

Lagi dan lagi, kerap kali getaran gila itu terus membuat Hana berharap semua ini cepat berakhir, Hana yakin sekali, tidak lama lagi hatinya pasti akan membuka pintu untuk laki – laki yang ada di depannya, tapi tentu saja itu semua seperti mimpi di siang bolong untuk wanita seperti Hana yang mempunyai status sebagai pekerja biasa.

“Ah, rasanya aku ingin makan ddeokbokki,” Chanyeol berkatapa pelan,

“Apa kau ingin aku membelikannya?” Hana menawarkan,

“Apa kau mau membelikannya untukku?” Chanyeol kembali bertanya,

“Mengapa tidak, setiaknya aku bisa keluar dari rumah besi ini,” Hana menjawab.

Chanyeol tertawa pelan, ia tau bahwa Hana sebenarnya merasa begitu bosan di dalam rumah ini, tapi apa daya dirinya yang masih belum bisa menapakan kakinya di luar rumah,

“Hitung saja aku memberimu beberapa jam liburan,” Chanyeol kembali berkata.

Hana menatap Chanyeol dengan senang, ia berdiri dari tempatnya dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi membeli sebungkus kue beras merah yang menjadi incarang Chanyeol.

“Aku pergi dulu,” Hana melambaikan tangannya pada Chanyeol yang sedari tadi berdiri di balik jedela besar rumah itu memperhatikan Hana yang pergi dengan berjalan kaki.

Hana benar – benar senang hari ini, setidaknya ia bisa keluar menikmati udara di luar jeruji besi rumah besar Chanyeol, walaupun hanya untuk beberapa saat, tapi sepertinya itu semua sudah cukup bagi Hana untuk menenangkan pikirannya.

Hana melihat sebuah stand makanan tepi jalan yang sepertinya menjual ddokbokki, ia berhenti di tempat itu dan mulai mencicipin makanan yang ini ia makan,

“ahjumma, 1 ddokbokki untuk di bungkus,” Hana memberi senyum manisnnya sambil mengunyah kue ikan yang ada di tangannya.

“nde~” Ahjumma menjawab pelan.

Asiknya Hana memakan makannya ia benar – benar lupa akan dirinya sendiri,

“Hana-ya…”

~To Love You More~

Siang ini Luhan benar – benar di buat pusing dengan urusannya di kantor, terkadang ia ingin sekali mengambil hari libur, hanya sehari dan untuk dirinya saja,

“hoam~” ia menguap untuk kesekian kalinya, di tengoknya gelas kopi ketiganya hari ini sudah kosong tak tersisa,

“Nara-sshi!, Coffee ku habis!” Luhan memberikan perintah pada seorang perempuan yang selalu berada di depan ruangannya,

“Baik tuan,” Nara menjawab pelan.

“Nara-sshi, apa aku punya jadwal? aku ingin sekali makan sesuatu yang pedas,” Luhan berkata pelan.

“Ddokbokki akan terasa enak sepertinya,” Nara memberi ide pada atasannya tersebut.

“Benar, aku keluar dulu,” Luhan bersemangat untuk keluar kantor hari ini,

Luhan berharap bisa menemukan stan makanan yang ia inginkan di tengah musim dingin seperti ini.

Matanya menyisir pinggiran jalan yang ia lewati saat ini, hatinya merasa bahwa hari ini, ia akan beruntung, entah mengapa semenjak tadi pagi, ia begitu bersemangat dalam hal makan siang.

Luhan akhirnya menemukan tempat yang ia cari, terlihat sebuah stand makanan yang ada di pinggir jalan dengan nenek tua dan seorang wanita yang sepertinya asik memakan makanannya, ia memandang siluet belakang wanita yang sepertinya sangat menikmati makanannya terlihat kedua pundaknya yang naik turun saat ia memasukan makanan kedalam mulutnya,

Sebentar..

Wanita itu..

Tidak..

Mana mungkin aku seberuntung ini..

Luhan keluar dari mobilnya dan berjalan pelan kearah perempuan yang ada di seberang jalan tersebut,

Suaranya bergetar, ia tau benar siapa wanita yang kini tepat berada di depannya,

“Hana-yaa,” Luhan memanggil dengan tenang, matanya sendu, ia ingin sekali melihat wanita itu sekali saja dalam umurnya sebagai kekasihnya lagi.

Hana yang sedang makan hampir saja mengeluarkan isi mulutnya sendiri saat mendengar suara Luhan, ia tidak bisa memutar tubuhnya, ia tidak bisa bergerak 1 inci pun dari tempatnya berpijak saat ini.

“Hana-yaa,” Luhan kembali mengucap namanya pelan,

Luhan menyentuh kedua pundak Hana dan memutar tubuh Hana pelan,

Hana memandang ujung sepatunya, ia tau saat ia memandang mata laki – laki itu ia akan menangis sekuat kuatnya dan berharap untuk kembali kedalam pelukan laki – laki itu, tidak… tidak… kau sudah di buang olehnya Hana dan lagi pula kau kini sudah menjadi milik Park Chanyeol, apa gunanya memikirkan laki – laki yang kini membencimu.

“Hana-yaa,” Luhan kembali berkata dan mendekap tubuh Hana dalam pelukannya,

Hana hanya bisa berdiri tegap tanpa membalas apapun, matanya siap untuk menangis, hatinya siap untuk jatuh lagi, karena benar adanya, Hana merindukan setiap sentuhan laki – laki itu di hidupnya,

“Dilemma macam apa ini? Apa aku sebenarnya belum bisa melupakan laki – laki ini? atau mungkin ini semua hanyalah cerita lama,” hati Hana terus bertanya,

“Lepaskan,” Hana mengucap pelan.

“Hana-yaa, maafkan aku, aku hanya ingin melindungimu,” Luhan berbicara seakan ia akan menangis sebentar lagi,

“Hana-yaa, ku mohon, jauhi laki – laki itu, karena aku… aku tidak mungkin bisa…”

“Membunuhnya?” Hana tiba – tiba memotong kata – kata Luhan,

“Kau tidak bisa membunuhnya jika aku ada di sebelahnya bukan?” Hana bertanya,

“Aku tidak pernah menyangka bahwa aku pernah mencintai pembunuh sepertimu dan jangan pernah berfikir untuk mengganggu aku dan Chanyeol lagi.” Hana pergi dari tempat itu tanpa mendengar apa yang akan Luhan katakan.

Hana hanya terus berjalan dan berjalan, ia tidak peduli bagaimana perasaan Luhan saat ini, apa dia marah? Apa dia sedih? Hana benar – benar tidak perduli lagi, laki – laki itu menyakitinya, itu yang Hana tau dan Hana percaya, untuk semua harta yang ia miliki sekarang, ia menginggalkan perempuan yang selama ini melayaninya layaknya seorang istri.

“sial!!” Hana menendang batu yang ada di depannya, ia benar – benar sedih dan tidak habis fikir bagaimana mungkin dirinya bisa bertemu dengan laki – laki itu lagi.

Hana terus berjalan dan berakhir di taman belakang rumah Chanyeol, saat ini ia tidak ingin bertemu dengan siapapun dan dalam rangaka apapun, ia hanya ingin menenangkan pikirannya untuk sesaat di taman Bunga, bersamaan dengan cerahnya hari itu, tiba – tiba seseorang duduk di kursi panjang yang menjadi pilihannya kali ini,

“Apa ddokbokkinya sudah kau habiskan?” Hana terlonjak mendengar perkataan yang di ajukan oleh laki – laki yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya itu.

“Ah, maafkan aku, aku… tidak bisa menemukannya,” Hana berkata pelan,

“Apa ada yang mengganggumu tadi?” Chanyeol bertanya pelan sembari memejamkan matanya menikmati udara dingin yang menerpa wajahnya.

“Tidak ada apa – apa,” Hana menjawab singkat, tentu Hana tau Chanyeol pasti begitu tertarik dengan ceritanya mengenai Luhan yang sepertinya hampir menangis meminta maaf pada dirinya tadi, tapi… tidak… ia tidak akan mengatakan apapun.

“Benarkah? Jangan berbohong,” Chanyeol kembali berkata untuk meyakinkan Hana bahwa ia tau sesuatu terjadi pada Hana.

“Aku benar – benar tidak papa, Chanyeol-aa, apa ada yang kau inginkan?” Hana bertanya pada Chanyeol pelan dan tenang,

“Aku? Aku hanya ingin melihat senyumu,” Chanyeol memulai aksi gombalnya lagi,

“Kau benar – benar hebat dalam hal ini Chanyeol-sshi,” Hana memuji Chanyeol dengan kelihaiannya dalam berkata manis.

“Aku benar – benar ingin melihat senyummu,” Chanyeol kembali berkata,

“Dengar Chanyeol-sshi, saat ini aku benar – benar tidak ingin bercada, jangan pernah berkata manis pada wanita yang akan kau tinggalkan demi uang, karena kau akan sama saja dengan Luhan,” Hana berdiri dari tempatnya dan siap untuk pergi dari tempat itu sebelum Chanyeol menarik tangannya,

“Hey, ayolah, ada apa ini?” Chanyeol bertanya bingung,

Hana menundukan kepalanya, ia benar – benar tidak kuat dengan semua yang ada di dunia ini hari ini.

“Sial,” Hana menutup wajahnya dengan satu tangannya untuk menutupi air matanya yang mengalir.

“Hey, mengapa kau menangis?” Chanyeol bertanya bingung, ia hanya berdiri di depan wajah Hana,

“Apa aku melakukan kesalahan, mengapa kau menangis,” Chanyeol bingung dan mulai panik dengan keadaan, ia bingung harus melakukan apa dan harus bagaimana.

Tiba – tiba Hana memeluk tubuh Chanyeol, begitu erat sampai Chanyeol dapat merasakan setiap tetes air mata yang membasahi dadanya pelan,

“Ha-Hana-ya, apa yang sebenarnya terjadi?” Chanyeol bertanya pelan dan kembali memeluk tubuh Hana lembut,

~ To Love You More ~

BRUG!

Suara pintu tertutup keras membuat semua pelayan yang ada di dalam rumah benar itu menoleh kearah pintu masuk,

“Sepertinya tuan muda terkena masalah lagi,” Seorang nenek tua melihat tuan mudanya yang menyenderkan tubuhnya di belakang pintu masuk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Apa lagi yang akan dia lakukan,” Seoran wanita lain bertanya.

“Aku tidak tau, tapi kita harus berhati – hati,” Seorang wanita lain menjawab.

Segukan tangis terdengar dari penjuru ruangan besar dan sepi itu, setiap tarikan nafasnya membuat semua orang merasakan kesedihan yang ia rasakan.

Kali ini ia benar – benar lelah untuk menuruti keinginan nenek sihir yang selalu mengaturnya seperti apa yang ia inginkan.

Kaki laki – laki itu berjalan menaiki tangga dengan cepat dan berdiri di depan pintu ruangan yang menjulang tinggi,

“EOMMA!” Luhan berteriak di depan ruangan itu dan membuka pintunya lebar – lebar.

“APA INI YANG KAU INGINKAN?” Luhan mulai berteriak,

“APA INI YANG KAU INGINKAN ? JAWAB AKU!”

“Apa yang terjadi anakku? Mengapa kau berteriak seperti itu,” wanita anggun yang duduk di kursi kerjanya kini menatap Luhan dengan wajah bingung.

“DENGARKAN AKU, AKU AKAN MEMBUAT PERJANJIAN DENGANMU, AKU AKAN MENDAPATKAN APA YANG KAU INGINKAN, AKU AKAN MEMBERIKAN SEMUA YANG KAU INGINKAN, TAPI AKU AKAN MENIKAH DENGAN WANITA YANG MENJADI PILIHANKU DAN KAU! KAU TIDAK BISA MELARANGKU LAGI, JIKA SAJA AKU MELIHAT KAU MENYENTUH WANITA ITU LAGI, AKU YANG AKAN MENGHABISIMU!”

Dengan sekuat tenaganya Luhan membanting pintu ruangan itu dan turun ke ruangannya, hatinya hancur, hidupnya pun hancur, Luhan sudah cukup melihat wanita yang ia cintai bersama dengan laki – laki yang ia benci di hidupnya,

Tidak…. Jangan dengan laki – laki yang kini menjadi target utamanya, karena Luhan tidak akan sanggup melukai seseorang yang berada tepat di sebelah wanita yang menjadi nafas dari hidupnya, semuanya mungkin terlihat bahwa Luhan adalah orang yang palin kejam di dunia ini,

Tapi…

Mari kita terka dari posisi seorang Luhan yang hanya menjadi boneka hidup dari ibunya sendiri, ibu dari Luhan adalah seorang wanita yang kuat, ia tidak pernah mengeluh dan tidak pernah berkata tidak untuk Luhan, saat itu Luhan masih menjadi seorang pegawai biasa yang mempunyai gaji seadannya dan tinggal seadanya tanpa ada rasa sedih sedikitpun sampai akhirnya kedatangan seseorang mengubah segalanya, sebuah surat yang mebuat ibu dari Luhan mengis tersedu – sedu, laki – laki yang pernah menjadi cinta pertamanya dan memberikan anugerah seorang anak laki – laki bernama Xiao Luhan kini kembali lagi di kehidupannya setelah sekian lama menghilang tanpa berita, dengan berita itu, Ibu Luhan memutuskan untuk pergi ke Korea untuk mencoba keberuntungannya, apa mungkin ia bisa kembali bertemu dengan laki – laki yang sebenarnya harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi di hidupnya sekarang.

4 tahun lalu, bertepatan dengan ulang tahunnya, Luhan pergi ke Korea demi menemui ibunya di acara ulang tahun yang katanya di khususkan untuknya, dengan hati gembira Luhan yang hanya bisa mebiayakan dirinya sendiri saat itu begitu bahagia melihat ibunya yang berpakaian rapih dan terlihat mahal, matanya kian terperajat saat menyaradi seorang laki – laki yang menggandeng tangan ibunya dengan saat erat, kala itu, ia hanya memikirkan perasaan ibunya, bagaimanapun ibunya tidak pernah terlihat sebahagia ini sebelumnya, senyum manis yang terukir di bibir ibunya membuat Luhan percaya bahwa laki – laki tua yang ada di sampingnya bisa merawat ibunya dengan sangat baik selama ia di Korea.

Saat itu adalah kali pertama Luhan bertemu pandang dengan sang ayah, ternyata hidung, mata juga bibirnya membuat Luhan terlihat seperti kakek tua yang kini berada di depannya.

Semuanya berjalan dengan baik, tapi Luhan tau diri dengan keadaan, ia mencoba mencari pekerjaan sediri dan tinggal di tempat yang seadannya berbeda dengan ibunya yang kini tinggal di sebuah istana megah bersama dengan kakek tua yang kini ia panggil ayah.

2 tahun lalu, ibunya berubah menjadi seorang yang haus akan harta, ia menginkan semuanya, pertengkaran hebat antara dirinya dan ibunya terjadi begitu besar, saat itu, Luhan hampir tidak pernah bertemu dengan ibunya dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya ibunya datang menemuinya,

“Ibu?” Luhan bertanya saat ia baru saja menginjakaan kakinya di depan rumahnya sendiri,

“ada apa ini?” Luhan kembali bertanya,

“Duduk,” wanita paruh baya itu mempersilahkan si tuan rumah untuk duduk di depannya,

“Katakan apa yang ibu inginkan,” Luhan membuka pembicaraan,

“Kau harus meninggalkan rumah ini dan kembali ke rumahku, sekarang,” Nyonya Xioa memberikan perintah,

“Tidak, aku tidak akan pergi kemana – mana,” Luhan menjawab,

“Luhan, apa kau benar – benar ingin menentangku?” Nyonya Xiao kembali berkata dengan lantang,

”Jika ibu masih menyuruhku untuk menjadi pewaris tunggal SM CORPS. Aku tidak akan mau, lagi pula apa salahnya dengan hidupku yang sekarang, sekarang aku punya segalanya dan aku mempunya seseorang yang akan aku nikah-”

“Maksutmu, wanita ini?” Nyonya Xiao memberikan sebuah photo pada Luhan,

“Bagaimana ibu tau?”

“Dengan anakku, kau tidak bisa menikah dengan wanita ini.”

“Apa ada yang salah dengan wanita ini?”

“Dia bukan orang yang berasal dari kelas kita dan aku sudah menyiapkan perjodohanmu dengan JUNG CORPS.”

”Tapi-”

“Ibu tidak pernah main – main, kau tau ibu tidak akan segan – segan menyingkirkan siapapun yang menjadi penghalang untukmu.”

“Tapi-”

“Tidak ada kata tapi lagi, jika kau masih berhubungan, aku akan melenyapkan wanita itu dengan caraku sendiri, sekarang cepat bereskan barang – barangmu dan pindah ke rumah barumu!”

– TBC –

Iklan

5 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] To Love You More (Chapter 6)

  1. Aku reader baru ff ini jadi maklum yah aku rada” ga ngerti..
    Ibu nya si luhan kok jahat ya kay penyihir.emang darisono nya jahat atau gimana?

    Pokok nya swmangat thor dan salam kenal..

  2. Kasihan luhan dia terpaksa melakukan itu karna disuruh ibu nya. Dia juga harus menanggung kebencian yang diberikan hana, seharusnya dari awal luhan cerita yang sebenarnya sama hana jadi hana mungkin nggak akan sebenci itu pada luhan.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s