[EXOFFI FREELANCE] The Wedding – (Chapter 6)

FG.png

[6th] The Wedding

 

Author: WhiteBLove

Cast: Oh Se Hun. Oh Hye Ra. Jung Jae Mi. And others cast.

Genre: Hurt. Marriage Life. Fluff.

Summary: “Aku tetap milikmu, Hye Ra.”-Sehun

Ket : This story pure from my Imagination! Please don’t be plagiator and try to copy my story without my permission.

 

https://whiteblove.wordpress.com/

 

Pagi ini uap tipis dari kopi hitam dalam sebuah cangkir kertas berwarna putih kembali mengepul diudara. Saat ini susana bulan September muai terasa. Keadaan diluar terlihat cukup dingin karna sisa rintikan hujan yang terus mengguyur sejak tadi malam.

Jae Mi tengah menghabiskan waktu paginya dengan duduk disebuah Sevel ditemani secangkir Kopi Hitam yang sebenarnya tak ia sukai. Entahlah, gadis ini tengah menginginkan kopi sejak tadi malam, namun setelah ssecangkir kopi tersaji dihadapannya, ia sama sekalin tak menyentuhnya.

Perutnya belakangan ini terasa sangat mual jika sudah bertemu dengan pagi yang dingin seperti ini. Mungkin angin malam lah yang berhasil membuat tubuhnya sedikit tidak Fit. Beberapa minggu ini kesibukan Jae Mi memang cukup banyak mengingat statusnya dikampus bukanlah sebagai anak baru yang hanya mendapat sedikit tugas. Wajar jika ia selalu pulang malam karna terlalu sibuk mengerjakan tugasnya di rumah Young Mi, teman sekelasnya.

Posisi gadis ini masih saja tak berubah sejak 10 menit lalu. Ia masih asik menyangga kepalanya dengan tangan kanannya, dan pikirannya pun tengah sibuk dengan semua hal yang tengah berkecamuk di otaknya. Mulai dari tugas yang mati satu tumbuh seribu, kemelut rumah tangganya dengan Sehun dan Hye Ra, serta ucapan Jong In beberapa hari lalu.

“.. Tubuhnya terlihat lebih berisi, Nona Jung.”

“Apa maksudmu? Kau menyindirku karna aku tak pernah mau meneraktirmu?”

“Hey.. kau kan memang selalu rakus dengan makananmu. Namun belakangan ini ku perhatikan.. kau tak terlalu banyak makan?”

“Jika kau merasa aku tak banyak makan lalu kenapa kau bilang bahwa aku terlihat lebih berisi?”

“Itu yang aku herankan, Nona.”

Jae Mi mulai tersadar akan lamunannya saat ucapan Jong In yang berputar dikepalanya telah selesai. Gadis ini hanya menghembuskan nafasnya kasar.

Belakangan ini aku memang tak banyak makan karna mual, celana Jeans ku juga mulai terasa sempit, apa mungkin.. Ahh.. kenapa aku malah mengikuti Jong In yang berpikir terlalu jauh, ucap Jae Mi dalam dalam hati.

“Wanita hamil dilarang minum kopi, kau tau?!”ucap seseorang yang ini duduk disamping Jae Mi seraya menggeser gelas kopi miliknya sedikit lebih jauh.

Jae Mi hanya terdiam setelah mendengar ucapan Jong In yang berhasil membuat matanya membulat sempurna.

“Apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Jong In.

“Kau tadi bilang apa?”

“Wanita hamil dilarang minum kopi. Ini, banana Milk lebih baik untukmu.”ucap Jong In seraya menyimpan Banana Milk dihadapan Jae Mi.

“Tutup mulutmu!!”ucap Jae Mi yang langsung melangkah pergi meninggalkan Jong In.

“Hahhh.. wanita hamil memang sedikit sensitif, biasanya dia hanya akan memukul kepala, kenapa sekarang malah pergi meninggalkanku?”ucap Jong In seraya melirik Jae Mi dari balik kaca Sevel.

 

 

“Iya.. akan langsung ku kirim ke Emailmu.”ucap Jae Mi menjawab celotehan seseorang melalui ponselnya.

Waktu telah menunjukan pukul 8malam dan Jae Mi baru saja menapakan kakinya dipintu apartemen.

Lihatlah gadis ini, terlalu sibuk dengan tugasnya sampai-sampai ia kesusahan menutup pintu apartemen karna terlalu banyak buku tebal ditangannya dan ponselnya pun masih harus tetap menempel ditelinganya karna Young Mi sangat cerewet soal tugas-tugas mereka.

“Iyaa.. iya, punyaku sudah selesai, aku takan menyontek milikmu.”

“…”

“Aku sudah suruh Jong In menyelesaikannya..”

“…”

Jae Mi terus melangkahkan kakinya menuju kamarnya setelah berhasil menutup pintu apartemen dengan susah payah.

Gadis ini langsung menjatuhkan buku-buku tebal dari tangannya keatas lantai dengan begitu saja. Ia mengistirahatkan tubuhnya dengan duduk ditepi ranjang. Rasanya hari ini benar-benar melelahkan, terlebih kali ini Jae Mi masih harus meladeni celotehkan Young Mi tentang tugas kelompok mereka yang harus segera selesai.

“Kau mau menyuruhku lagi mengerjakan tugas itu?”

“…”

“Ahh, aku lelah bergadang terus, Young Mi. Ku mohon jangan aku, nee?”

“…”

“Baiklah, aku akan datang lebih pagi.”

Jae Mi langsung menutup sambungan telponnya dengan Young Mi. Ia langsung membanting ponselnya kesamping. Baru saja akan mengistirahatkan tubuhnya dengan berbaris diatas ranjang, seseorang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Spontan saja Jae Mi langsung menegakkan kembali tubuhnya duduk ditepi ranjang.

“Kita makan malam!”ucap Sehun yang kini berdiri dihadapan Jae Mi

“Aku sudah makan diluar.” Jawab Jae Mi.

“Ada Omma dan Appa ku, menunggumu.” ucap Sehun yang tetap dingin dihadapan Jae Mi.

Jae Mi langsung diam. Dalam hatinya ia ingin sekali berkata bahwa ia sangat ingin untuk beristirahat, namun kali ini sepertinya Sehun sama sekali tak mengizinkan dirinya untuk rehat sejenak.

Sehun langsung pergi melangkahkan kakinya keluar dari kamar Jae Mi. lagi-lagi gadis ini hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.

Aku harap nanti malam aku tertidur sampai kiamat, keluh Jae Mi dalam hati.

 

 

Jae Mi melangkahkan kakinya dengan bagitu malasnya kearah meja makan. Namun setelah pandangan Nyonya dan Tuan Oh terarah padanya, gadis ini langsung memperlihatkan senyumnya.

“Ah, Jae Mi..kau sudah pulang?”ucap Tuan Oh begitu Jae Mi baru saja menampakan dirinya diarea ruang makan.

“Nee, maaf aku pulang sedikit terlambat.”ucap Jae Mi seraya sedikit membungkukan tubuhnya.

“Sudahlah, ayo kita makan!” ucap Nyonya Oh yang mempersilahkan Jae Mi untuk duduk disampingnya.

Jae Mi hanya tersenyum. Tanda setuju. Ia pun duduk tepat disamping Nyonya Oh. Tanpa Jae Mi sadari, ada Hye Ra yang duduk dihadapnya tengah tersenyum kearahnya. Gadis ini sedikit membalas senyum Hye Ra.

Kali ini susana terasa cukup hangat. Semua berkumpul dalam satu meja makan.

“Aku senang malam ini semuanya berkumpul.”ungkap Tuan Oh yang tersenyum seraya melirik sekitarnya.

“Kami selalu makan malam bersama jika Jae Mi tidak telat pulang, sering-seringlah kemari.”ungkap Hye Ra membalas ucapan sang Mertua.

“Kami harap kami selalu punya waktu, Hye Ra.”ucap Nyonya Oh tersenyum melirik Hye Ra.

Sesekali acara makan malam ini memang diselangi dengan sedikit perbincangan ringan antara kelimanya. Namun beberapa saat, Jae Mi sibuk dengan pikirannya. Gadis ini malah terlihat diam dan hanya memainkan makanannya. Jae Mi tengah dikelilingi rasa lelahnya setelah seharian ini ia sibuk dengan tugas kuliahnya.

“Jae Mi? Kau kenapa?”tanya Hye Ra yang mulai memperhatikan Jae Mi.

Jae Mi sedikit mengangkat kepala memandang Hye Ra dihadapannya. Sial. Kini pandangan Jae Mi mulai kabur. Gadis ini ternyata benar-benar kelelahan dan butuh istirahat.

“Jae Mi kau tak apa?”tanya Nyonya Oh yang langsung menyentuh tangan kanan Jae Mi.

“Aku baik-baik saja, Omma.”ucap Jae Mi yang kini terpaksa memperlihatkan senyumnya.

“Apa kau sakit? Wajahmu sangat pucat.”ucap Tuan Oh.

Jae Mi lagi-lagi hanya terseyum. Ia hanya tak mau merusak suasana makan malam.

“Kau harus istirahat Jae Mi. Sehun, bawa dia kekamar!”ucap Tuan Oh yang mengarahkan pandangannya pada Sehun.

Tanpa disadari semua orang, Sehun bangkit dengan menghembuskan nafas kasarnya. Ia langsung berjalan kearah Jae Mi.

“Ayo!”ucap Sehun dingin seraya membuka tangannya untuk membantu Jae Mi berdiri.

Jae Mi sudah tak tahan dengan kepalanya yang semakin pusing. Ia berdiri dengan bantuan Sehun, namun setelah tangannya menerima tangan Sehun, semua berubah menjadi gelap.

 

 

Kali ini Hye Ra tengah duduk terdiam disebuah kursi diarea koridor rumah sakit. Kakinya benar-benar lemas saat telinganya tak sengaja mendengan sedikit perbincangan antara Tuan Oh dengan orang-orang yang tengah berada didalam kamar inap Jae Mi. Ya, saat makan malam beberapa menit lalu, Jae Mi tak sadarkan diri dan langsung dilarikan kerumah sakit.

Pintu ruangan dihadapannya terbuka. Sehun menampakan dirinya disana. Hye Ra mulai sedikit menguatkan dirinya dengan menunjukan senyumnya untuk Sehun.

“Aku ikut senang mendengarnya.”ucap Hye Ra.

Dengan tiba-tiba saja Sehun mulai berlutut dihadapan Hye Ra.

“Sehun?”ucap Hye Ra heran.

Kedua tangan Sehun menggenggam tangan Hye Ra. Pria ini tengah menatap mata wanitanya yang kini terlihat sayu.

“Aku tetap milikmu, Hye Ra.”ucap Sehun.

“Apa makudmu? Kau memang miliku, Sehun!”Hye Ra yang kini membalas tatapan Sehun.

“Aku sangat mencintaimu.”

Hye Ra tertawa. Rasanya matanya benar-benar terasa panas. Sedari tadi ia terus menahan agar air matanya tak jatuh. Namun ucapan Sehun benar-benar menyentuh hatinya. Hye Ra tersenyum. Lalu tanpa sadar ia menangis dihadapan Sehun.

“Apapun yang terjadi aku tetap milikmu, Hye Ra.”ucap Sehun semakin kuat menggenggam tangan Hye Ra.

Kini Hye Ra menjatuhkan dirinya memeluk Sehun yang masih berlutut dihadapannya. Deru nafas Hye Ra benar-benar terdengar jelas oleh Sehun.

“Kau akan menjadi seorang ayah, Sehun.”Hye Ra yang tersenyum dibalik tangisnya.

Sehun terdiam. Ia tak ingin menjawab ucapan Hye Ra.

Menjadi seorang ayah. Sehun sama sekali tak merasakan jantungnya berdebar kencang atau bahkan perutnya seperti dipenuhi kupu-kupu yang terterbangan. Semuanya terasa biasa. Justru ada sesuatu yang terasa sesak didadanya saat Hye Ra memeluk dirinya seraya menangis. Sehun tau wanitanya tengah jatuh. Sehun tau bahwa Hye Ra tengah merasakan sakit dalam hatinya. Sehun tau bahwa tak ada kebahagiaan yang ikut serta dalam dirinya atas kabar Jae Mi.

Jika saja waktu itu Ibu nya tak mencegah Jae Mi pergi, dan berlutut dihadapan gadis itu, Sehun sama sekali tak mau menyentuh Jae Mi untuk kedua kalinya. Ia tak ingin Hye Ra jauh terluka.

 

 

Jae Mi baru saja bisa membuka matanya saat kesadarannya baru saja kembali. Kebisingan yang ditangkap telinganya benar-benar membuatnya ingin segera mendapatkan kesadarannya penuh. Kini yang hanya ia lihat hanya sebuah kantung impus yang menggantung didekatnya dan tirai putih yang mengelilinginya.

‘Aku harap nanti malam aku tertidur sampai kiamat’

Ucapan hatinya beberapa jam lalu berhasil membuatnya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia sadar bahwa ia tengah berada dirumah sakit dengan ditemani jarum impus yang tertanam ditangan kirinya.

“Ah, Jae Mi? kau sudah bangun?”tanya seorang wanita dengan Jas putih yang tengah ia kenakan.

Jae Mi hanya terdiam mengerjapkan matanya.

Kini semua sisi tirai disekitar Jae Mi terbuka. Terlihat semua orang tengah berkumpul didekatnya. Termasuk Sehun yang tengah berdiri didekap pintu.

“Kau kelelahan, Jae Mi. Sehausnya kau banyak istirahat.”ucap Nyonya Oh yang kini berjalan menghampirinya.

Entah apa yang Jae Mi rasakan, pandangannya terus tertuju pada Sehun yang juga tengah memandangnya dari jauh. Gadis ini tengah tak fokus mendengar ucapan orang-orang disekitarnya yang terlontar padanya.

Sampai akhirnya Sehun berjalan kearah pintu dan pergi keluar dari ruangan ini. Satu hal yang baru Jae Mi sadari, Hye Ra tak ada disekitarnya.

“Selamat Tuan Oh, aku ikut senang atas kebahagian keluarga besar anda.”

Jae Mi mengerutkan keningnya saat seorang dokter wanita yang tadi ada dengannya kini tengah berbicara dengan Tuan Oh.

“Ah, terimakasih Nona, Hyo Ra. Aku benar-benar tak sabar menunggu cucuku lahir.”ucap Tuan Oh tersenyum lebar seraya melirik Jae Mi.

Otak Jae Mi mulai berputar saat appa mertuanya baru saja bicara tenang ‘cucu’.

 

Jong In.. aku ingin mencekik mu, teriak Jae Mi dalam hati.

 

 

Wajah pucat gadis ini masih terlihat jelas saat bibirnya terkena sinar matahari yang menyelundup masuk lewat celah kaca jendela kamarnya. Rambut hitamnya yang tergerai diatas bantal sedikit terlihat berantakan. Ia sadar bahwa waktu telah menunjukan pukul 7.30 pagi, seharusnya ia sudah bangun dan berada didapur untuk membantu Hye Ra menyiapkan santapan sarapan pagi ini. Atau bahkan pergi menyelunduk kekampus tanpa berpamitan terlebih dahulu pada siapapun. Pagi ini ia hanya bisa berbaring, asik bersembunyi dibalik selimut tebalnya karna semakin hari tubuhnya terasa lemas.

‘Usianya baru tujuh minggu, dia harus banyak istirahat untuk menjaga keadaan janinnya agar tetap sehat’

Ucapan dokter Hyo Ra tiga hari lalu benar-benar membuat Jae Mi ingin bertemu dengan Jong In dan langsung mencekik leher sahabat prianya itu.

Jika usianya tujuh minggu, itu artinya janinya sudah genap akan menginjak usia dua bulan. Jae Mi mulai terdiam. Sibuk dengan isi kepalanya.

Bagaimana tentang perjanjianku dengan Sehun? Waktu ku tinggal lima bulan lagi, ucap batin Jae Mi.

Jika Jae Mi memutuskan untuk tetap pergi, itu artinya ia akan pergi saat usia kandungannya telah meninjak usia tujuh bulan. Apakah nanti ia akan sanggup untuk mengurus sisa waktu kehamilannya sendirian, atau bahkan nanti ia harus melahirkan bayinya dan membesarkannya sendirian pula.

Tanpa sadar, tangan Jae Mi mulai menyentuh perutnya yang masih terlihat rata.

Kau disana? Ku harap kau baik-baik saja, ucap Jae Mi memandang perutnya.

Gadis ini masih terlalu muda untuk dititipkan seorang bayi dalam rahimnya. Ia bahkan tak tau apa yang harus ia lakukan jika nanti anaknya benar-benar terlahir kedunia.

 

Clekk

 

Seseorang berhasil masuk kedalam kamarnya tanpa menetuk pintu terlebih dahulu. Jae Mi tentu sudah tau siapa yang berkunjung kekamarnya pagi ini.

“Sarapan!”ucap Sehun yang telah terlihat rapih dengan kemeja putih tanpa dasinya.

“Aku akan sarapan nanti.”ucap Jae Mi dengan nada malas.

“Aku tak ingin bertengkar dengan Hye Ra hanya karna aku gagal membujukmu.”ucap Sehun melemparkan tatapan tajamnya pada Jae Mi.

Jae Mi hanya menghembuskan nafasnya kasar. Ia mulai menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya. Jika sudah begini, Sehun akan pergi karna tanda Jae Mi setuju untuk ikut sarapan dengannya dan Hye Ra, namun kali ini berbeda, Sehun masih tetap berdiri memandang Jae Mi yang sibuk dengan aktifitasnya.

“Apa lagi?”tanya Jae Mi yang heran

“Aku menunggumu.”jawab Sehun

“Aku akan segera kesana.”

Sehun masih terdiam dengan posisinya. Berdiri tegak dihadapan Jae Mi seraya memasukan kedua tangannya kedalam saku celana hitamnya.

Jae Mi mulai mengacak rambutnya sendiri. Ia sadar, pria ini takan beranjak jika bukan Ia yang berjalan didepannya terlebih dahulu.

“Baiklah.”ucap Jae Mi dengan seikit malas.

Gadis ini telah duduk ditepi ranjang untuk memakai sendal rumahnya sebelum melangkah. Jika bukan karna tuntutan Sehun, Jae Mi enggan untuk bangun karna tubuhnya masih sangat terasa lemas.

Sehun masih santai memperhatikan Jae Mi yang menurutnya sangat lelet. Gadis yang berpredikat sebagai sitri keduanya ini kini telah berdiri dihadapannya. Namun baru saja akan mengikuti langkah Jae Mi dari belakang, Sehun terdiam saat memperhatikan langkah Jae Mi yang semakin melemah.

“Kau tak apa?”tanya Sehun yang spontan langsung menahan tubuh Jae Mi agar tak jatuh.

Jae Mi hanya mengangguk dengan wajah pucatnya. Sehun mulai sedikit khawatir dengan keadaan Jae Mi, ia langsung membawa tubuh Jae Mi kembali ketempat tidur.

 

 

Hye Ra membalikan tubuhnya saat menyadari langkah kaki Sehun berjalan menuju meja makan.

“Sehun, mana Jae Mi?”tanya Hye Ra yang heran karna tak ada Jae Mi dibelakang suaminya.

“Boleh aku bawakan makanannya kekamar?”tanya Sehun tanpa menjawab pertanyaan Hye Ra terlebih dahulu.

“Kenapa?”

“Dia masih lemas.”ucap Sehun yang insiatif mengambil nampan.

Hye Ra hanya terdiam melihat Sehun memindahkan beberapa makanan keatas nampan untuk ia bawa ke kamar Jae Mi. Hye Ra senang kini suaminya tak bersikap acuh pada Jae Mi. Tapi nyatanya ada perasaan tak Ikhlas dalam diri Hye Ra saat menyadari Sehun sudah sedikit ‘berubah’.

 

-To Be Continue-

 

Note: Ceritanya makin ribet dahh..x)

Mohon tinggalkan komentar, yaa..:)

Iklan

22 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The Wedding – (Chapter 6)

  1. walaupun awalnya hye ra yang memaksa sehun buat perhatian pada jae mi. tapi ketika meliahat perubahan pada sehun yang tanpa paksaan memberi perhatian pada jae mi, pastilah ada rasa sakit karena sedikit kecewa.
    hahhhhh T.T sehun-ah jangan berpikiran kalo kamu akan membagi cintamu! jebal!

  2. kok makin nyesek ya sama hyera
    Kasian banget, jangan bilang nanti sehun bakal berubah trus hyera makin ditinggalin dan nanti hyera cerai sama sehun #drama banget
    Haduh jangan ya thor
    Berharap sehun hyera sama jae mi bahagia bareng :))

  3. Dari awal baca ff ini aku lebih respect ke tokoh Hye Ra, gak cuma bikin nyesek tapi aku sampe nangis beneran bayangin ada diposisi Hye Ra istri mana ya yg bener-bener bisa rela ngebagi suaminya sama wanita lain…
    Aku juga takut Sehun lama-lama cinta sama Jae Mi ya gimanapun Jae Mi kan hamil anaknya Sehun yg pasti Sehun gak bakalan cuek lagi sama Jae Mi, aku harap Sehun tetep stay sama Hye Ra masa iya rumahtangga udah lebih dari 8 tahun bubar gitu aja hanya karena seorang wanita yg baru masuk ke hidupnya Sehun haahh jangan sampe dan aku gak berharap ada tokoh pria lain buat Hye Ra aku pengen tetep Hye Ra sama Sehun…*maksabangetyapadahalygbikinceritabukanaku*
    Hwaiting author kamu laur biasa bikin ff ini bisa bikin yg baca kaya diubek-ubek perasaannya klo bisa jangan lama-lama updatenya…😉😉

  4. Ya amlun Sehunnnn…
    Rasanya mau digampar aja, kan kasihan tuh si Hyera. Si Jaemi juga, dasar perusak rumah tangga orang… ihhhh ganggu aja sih Jaemi.
    Thor, ini ceritanya si Jaemi meninggal karena melahirkan donk!!??
    Terus tuh, si Hyera hamil anaknya Sehun.. Ya thorrrrr
    Pleaseeee

  5. Oohh astaga aku gak sanggup lagi bacanya, terlalu menyayat hati
    Aku bener bener takut kalau nnti sehun luluh dn bakalan sama jae mi tp nanti jae minya gimana dong ? Aduh sumpah hye ra yg sabar, sakit banget nih akunya, paling ngiris hati tuh pas sehun berlutut sma hye ra, wktu itu trnyata dia dilema antara sang ibu atau wanita yg dicintainya, sumpah posisi sehun pasti bkin sakit kepala banget

  6. Bisakah next chapter nya dipercepat..
    aku ga mau komentar apapun..
    kepala ku sudah penuh sam cerita karangan sendiri…
    wah…ini chapter yg paling buat hati deg deg kan..
    semangat kak…
    💪💪💪💪💪💪

  7. Kasian hyera, sampe kapan dia bisa bertahan kaya gitu 😢😢😢 tapi kasian juga jaemi 😥😥😥😥😥 aaahh kaaa harus cepet update pokonyaaaa
    Semangattt 💪💪💪💪💪💪

  8. Sudut pandang ini aku kasian sama hyera, istri mana sih yang mau dipoligami meskipun dia gak bisa punya anak? Nyeksek tuh klo aku jadi hyera. Gimana nanti klo jaemi lahiran, sehun sama keluarga oh gak nganggap dia? Huh *abaikan pemikiranku ini. Tapi untuk jaemi juga sedih diumurnya masih remaja udh jadi istri. ISTRI KEDUA lagi

    Lanjut,,, keep writing;))

  9. ya sih ceritanya makin rumit. ga tau knp tp nyesek aja bacanya, kasihan hyera anatara seneng ma cemburu. gk tau lah nnt sehun ma siapa..
    dilanjut thor

  10. Semakin rumit nih keadaannya. Entah kenapa aku lebih kasian liat hye ra, kayaknya dia merasa nyesek banget. Tapi si jae mi kasian juga.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s