[EXOFFI FREELANCE] The One Person is You [Re: Turn On] – Chapter 6

PhotoGrid_1480225269408.jpg

The One Person Is You [Re : Turn On]

 

Tittle                          : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 6

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

 

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

 

Rating                        : T

 

Length                       : Chapter

 

 

~Happy Reading~

*Author POV*

 

“Karena itu, kau baik-baik saja Lee Hyojin?”

 

Hyojin masih terdiam, membiarkan otaknya mencerna setiap perkataan Chanyeol, mulai dari pengakuannya yang mengejutkan gadis bermata bulat itu, serta pertanyaan pria berkaki panjang tersebut yang tak ditangkap dengan baik oleh pendengaran Hyojin. Chanyeol sendiri menunggu, menanti jawaban Hyojin setelah dia memberanikan diri untuk berkata jujur atas alasan keberadaannya.

 

Ditengah ‘diamnya’ dua pemuda-pemudi tersebut, terdengarlah keluhan dengan nada menyebalkan dari mulut Jinhyo yang sudah tak ingin berada diantara drama kakaknya.

 

“Sedang syuting film ya? Atau drama? Tema-nya pasti tentang zombie wanita berinisial Hyojin yang jatuh hati pada pangeran katak bertelinga lebar itu.” ia menunjuk Chanyeol tanpa ragu atau memikirkan soal sopan santun, “Oh iya, endingnya zombie itu memutuskan kaki sang pangeran untuk ditambal pada kakinya sendiri. Karena dia pendek. Titik.”

 

Dan karena kata-katanya itu, dia mendapat kehormatan berupa pukulan kepala oleh Hyojin dengan sepenuh hati.

 

“Jadi menurutmu, aku ini pendek?”

 

Sebelum Jinhyo menjawab dengan jujur, kakaknya kembali memukul kepalanya serta tambahan berupa tendangan di tulang keringnya.

 

“Berhenti bicara omong kosong sebelum aku patahkan lidahmu!”

 

“Hoho… noona, lidah adalah daging tak bertulang, jadi bagaimana kau akan mematahkannya?. Dengan otak tumpulmu?”

 

Chanyeol yang mendengar perkataan tajam Jinhyo berusaha menahan tawanya dengan mengalihkan muka serta terbatuk beberapa kali untuk menyamarkan kekehannya. ‘Si konyol Hyojin versi pria’ batinya bahagia karena ada juga orang yang bisa membalas umpatan ‘cerdas’ Hyojin.

 

“Daripada mengurusi otak tumpulku ini, lebih baik rawat otak kosongmu itu!. Gunakan untuk belajar! Bukannya dibawa ke kantor polisi karena bertengkar dengan wanita!”

 

Chanyeol kecewa karena Hyojin masih belum kalah telak, sekaligus terkejut karena pernyataannya soal Jinhyo yang bertengkar dengan wanita.

 

“Bertengkar dengan wanita?!. Ja-jangan bilang… Kang Rae Mi… ah! Tidak mungkin kan?” ia bertanya, juga meyakinkan diri sendiri bahwa itu tidak benar.

 

“Kenapa tiba-tiba mengungkit soal Kang Rae Mi sih?” tanya Hyojin dengan nada sebal, “Kalau kau khawatir padanya, kenapa malah datang kemari?. Kau kan bisa menemuinya lantas bertanya langsung padanya!”

 

Bukannya Chanyeol yang menjawab, justru Jinhyo yang menyahuti. “Kau cemburu ya?”

 

“Lee Jinhyo, aku sudah cukup lelah dengan masalah uang, jadi jangan kau buat tubuhku semakin lelah karena memukulimu.”

 

Jinhyo berdecak, “Jangan khawatir!, nanti juga aku akan bayar kembali uangmu itu.” kemudian mendengus sambil menendang batu yang menghalangi jalannya, “Bagaimana bisa uang jauh lebih penting daripada keluarga.” Sindirnya. Pria itu pun lalu menoleh pada Hyojin yang masih belum berniat mengikuti Jinhyo untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang.

 

“Ternyata Lee Dae Ryeong mendidikmu dengan benar menurut dunianya, kan?”

 

Hyojin kesal, sangat kesal bahkan bisa saja ia lepas kontrol dan meluapkan amarahnya dengan mudah kepada Jinhyo yang sudah semakin kurang ajar terhadapnya. Tapi sel rasional gadis itu masih mampu menguasai dirinya. Ia bukannya merengut atau melempar tinjunya pada sang adik, melainkan membalas seringaian Jinhyo dengan penuh percaya diri.

 

“Kau sendiri tak pernah benar-benar menganggapku sebagai kakakmu. Jadi, bagian mana dari dirimu yang harus kuanggap keluarga?”

 

Senyum puas Hyojin makin mengembang begitu melihat perubahan ekspresi Jinhyo yang rasa percaya dirinya mulai luntur dan berubah menjadi amarah. Hyojin tak ambil pusing, dia mendekati pria yang masih memakai seragam sekolahnya itu dengan langkah yakin. Ia berikan dua bungkusan berisi red velvet dan satu strawberry cheese cake miliknya, mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang yang masih tersisa pada Jinhyo sebelum sang adik melempar semua pemberiannya.

 

“Dengar, kue-kue ini untuk ayah dan ibu, terserah kau mau ikut makan atau tidak. Lalu, uang ini, gunakan untuk membeli tiket kereta atau membayar bis atau taksi… terserah. Yang jelas kau harus pulang dengan selamat sampai di rumah. Jangan anggap ini sebagai rasa kasihan atau kebaikan hatiku, tapi ini adalah tanggung jawab yang memang merupakan hakmu.” Jelas Hyojin tanpa melepas pandangannya dari mata penuh kebencian milik Jinhyo.

 

“Jadi kumohon, dengarkan ucapanku ini dan lakukan dengan benar jika kau masih mau membalas dendam dengan cara yang benar pada CEO sialan itu.”

 

***

 

Rae Mi menyusuri jalanan kota Seoul, distrik Gangnam, sendirian. Mengacuhkan lalu lalang kendaraan yang melewatinya serta beberapa pejalan kaki yang bertanya-tanya mengapa gadis berwajah polos dengan pakaian kuno itu tampak lesu. Kepalanya tertunduk, seperti mencari uang recehnya yang jatuh. Tubuhnya pun sedikit membungkuk dan kakinya sesekali menghentak tak karuan layaknya sedang menginjak kecoa yang jelas-jelas tak ada di sepanjang jalan yang ia lalui.

 

“Haah~ kenapa harus bertengkar lagi sih?” gerutunya dengan suara pelan, tak mau mengganggu orang lain dengan suaranya maupun menjadi pusat perhatian lagi. “Apa memang aku dan Hyojin tidak ditakdirkan bersama ya?. Sepertinya banyak sekali halangan untuk kami meneruskan hubungan pertemanan.”

 

Gadis itu menghentikan langkahnya sejenak, menatap pohon kering tak berdaun yang akan kelihatan seram jika saja tidak ada lampu kecil berwarna-warni yang melilit dahan dan batangnya itu. Pohon ditengah taman bermain tersebut tampak mencolok, memperindah kondisi taman yang cukup kotor dan kusam karena jarang pengunjung, apalagi tidak ada petugas yang membersihkannya.

 

Kelap-kelip lampu yang menghiasi pohon itu seolah menghipnotisnya, menenangkan kekacauan hati gadis itu serta membuatnya kembali mengingat masa lalu. Memori-memori kecil kembali berputar di otaknya, entah itu kenangan indah selama kuliah, atau malah kenangan buruk yang sama sekali tak ingin gadis itu ingat lagi…

 

‘Yak! Kang Rae Mi!’

 

‘Seharusnya kau mati! Kenapa masih berani menampakan diri di depanku?’

 

‘Kau hanya dimanfaatkan! Dasar idiot!’

 

Rae Mi menutup mata saat suara-suara aneh memenuhi kepalanya, kedua tangannya terkepal kuat, bibirnya mengatup rapat dan keringat dingin mulai membasahi dahi serta lehernya. Dia tak ingin mendengarnya, tak mau mengingatnya…

 

‘Dia pelakunya kan?’

 

‘Benar!, dia orangnya!’

 

“Hentikan…” lirih gadis itu tanpa berani membuka mata, tidak mau kalau tiba-tiba bayangan lama yang coba ia lupakan kembali terlihat.

 

‘Kau yang melakukannya! ITU KAU!. Kang Rae Mi, kaulah yang sudah membunuh Mi Joon!’

 

“Oi! Kang Rae Mi!”

 

Rae Mi segera membuka matanya, nafasnya tersengal padahal ia tak habis berolahraga atau melakukan kegiatan melelahkan semacamnya. Kakinya tiba-tiba terasa lemas, namun dia sedikit lega saat melihat Yongguk datang menghampirinya sambil membawa dua kaleng minuman ringan, menatap Rae Mi penuh heran karena wajahnya yang nampak pucat.

 

“Kau baik-baik saja kan?” tanya pria itu dengan wajah cemas, namun ia tutupi dengan berkilah pada Rae Mi yang cuma memandangnya tanpa menjawab. “Bukannya aku khawatir padamu, aku hanya takut kalau kau pingsan sembarangan dan bagaimana aku harus jelaskan itu pada ibumu.”

 

“Aku baik-baik saja.” Jawab Rae Mi akhirnya.

 

Yongguk tak menanyakan lebih lanjut, toh dia juga tak begitu peduli akan apa yang terjadi pada gadis itu. Ketertarikan Yongguk pada Rae Mi sudah berlalu, hanya rasa penasaran ketika pertama bertemu gadis berwajah polos yang suka ikut campur urusannya. Sekarang, Kang Rae Mi hanya merupakan teman dari wanita yang pernah dia sukai, sekaligus seseorang yang membuatnya kembali merasakan kasih sayang seorang ibu melalui nyonya Kang, selaku ibu kandung Kang Rae Mi.

 

“Ibumu menelponku.” Ujar Yongguk, menyodorkan salah satu minuman yang ia bawa. “Dia mencemaskanmu karena kau tak mengangkat satu pun panggilan darinya.”

 

Mendengar penuturan Yongguk, Rae Mi bergegas mengambil ponselnya, mengecek apakah yang dikatakan pria berwajah cukup menyeramkan itu benar adanya. Betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat log panggilan yang menunjukkan bahwa ibu serta ayahnya berusaha menghubunginya berkali-kali sejak ia keluar dari kantor polisi. Pikiran Rae Mi benar-benar kacau sampai tak sadar ponselnya terus berdering sejak tadi.

 

“Sepertinya ada yang akan mendapat omelan ibu saat sampai di rumah nanti.” Sindir Yongguk seraya menyeruput minumannya.

 

Rae Mi tak merespon, hanya menghela nafas berat seraya kembali mematikan ponselnya. Yongguk pun cuma melirik, sekali lagi, tak ingin bertanya lebih jauh mengenai keadaan gadis itu untuk hubungan mereka yang cuma sebatas teman. Yah, jika memang itulah yang akan terjadi sesuai keinginan keduanya. Tapi mungkin tidak dengan kedua belah pihak keluarga mereka.

 

“Jangan lupa untuk datang pada acara makan malam besok, pastikan kau tidak membuat acaranya batal seperti apa yang dilakukan Lee Dae -maksudku ayahmu beberapa tahun yang lalu.”

 

Rae Mi menoleh, “Kapan? Dan kenapa?” tanyanya, antara penasaran dan tidak.

 

“Aku tak tahu pasti, namun saat itu ayahku ingin menjodohkanku dengan Hyojin supaya perjanjian dengan perusahaan keluarga Chanyeol gagal. Sayangnya, ayahmu lebih memilih pria tinggi bermuka tolol itu…” Yongguk melirik Rae Mi sambil tersenyum sinis, “…padahal dia sudah menduakan Hyojin dengan dirimu, benar kan?” lanjutnya.

 

Rae Mi mendengus, mengalihkan pandangan karena muak melihat seringaian Yongguk yang sudah sering pria itu pamerkan padanya maupun teman-teman lainnya.

 

“Kau benar-benar ingin melakukan perjodohan ini? disaat kau masih belum bisa melupakan perasaanmu pada Hyojin?” tanya Rae Mi setelah beberapa saat terdiam.

 

“Tak ada pilihan lain. Kakakku terlalu sibuk menangisi hubungannya yang kandas karena tak direstui keluargaku, sebagai anak laki-laki ‘pungut’nya, aku harus membanggakan mereka kan?” jawab Yongguk yang kembali meminum minumannya sekaligus menyembunyikan senyuman mirisnya.

 

“Kau terlalu pesimis dengan hidupmu. Berbicara seolah hanya kau yang kesusahan.” Ledek Rae Mi yang akhirnya meminum minuman kaleng pemberian Yongguk.

 

“Ucapanmu mengingatkanku akan seseorang.” Balas Yongguk. Dan sebelum Rae Mi bertanya tentang siapa yang dia maksud, pria itu memutuskan untuk pergi setelah membuang kaleng kosong ditangannya ke tempat sampah terdekat.

 

“Sebaiknya kau segera pulang lalu tidur untuk mempersiapkan acara besok.”

 

***

 

“Halo? Oh Sehun?”

 

“Ya, halo. Ada apa? Eungh… kenapa semalam ini menelpon sih?”

 

Hyojin mengumpat tanpa suara pada ponselnya, “Aku mengganggu acara tidurmu ya?” tanyanya sekedar berbasa-basi.

 

“Menurutmu?” sarkas Sehun dengan nada jengkel, “Kau pasti butuh sesuatu, ugh… cepat katakan supaya aku bisa lekas melanjutkan tidurku.”

 

“Wah, wah, kenapa kau jadi mirip dengan Jong In sih?” keluh Hyojin tak kalah sebal, “Oke, aku akan langsung pada intinya. Kau sedang di apartement kan?. Aku butuh tempat menginap untuk sementara waktu.” Potongnya sebelum Sehun membalas ledekan dari Hyojin.

 

“Kenapa?…jangan-jangan…kakekmu lagi?”

 

Hyojin tersenyum bangga seraya bertepuk tangan keras karena Sehun dapat menebaknya dengan benar, padahal tak ada hal yang perlu dibanggakan sebab siapapun yang mengenal Hyojin dengan baik pasti memberikan jawaban yang sama seperti Sehun jika tiba-tiba Hyojin meminta menginap selama beberapa hari atau lebih.

 

“Kau seperti cenayang. Jadi, aku bisa kesana sekarang?”

 

“Ya, ya, dan cepat. Juga jangan berani-berani untuk memasak ramyeon dimalam hari, mengerti?”

 

 

“Aishh! Bajingan tengik sialan!” gerutu Hyojin saat Sehun memutuskan sambungan telepon sepihak. Gadis itu pun segera mematikan ponselnya lantas memastikan berapa uang yang tersisa di dompetnya apakah cukup untuk naik taksi atau transportasi apapun itu menuju apartement Sehun.

 

“Ah, sepertinya cukup. Kalau kurang nanti minta Sehun keluar untuk membayar sisanya. Sebaiknya aku pergi seka-”

 

Langkahnya terhenti saat Chanyeol menarik lengannya, menatapnya penuh cemas dan kebingungan, juga sedikit kesal karena tak diacuhkan oleh Hyojin sejak kepergian Jinhyo bahkan ketika dia sibuk menelpon Sehun.

 

“…rang. Apa?!” ketus Hyojin karena salah tingkah. Dia tak menyangka kalau Chanyeol sampai berani melakukan skinship terhadapnya. Gadis itu bahkan tak menatap mata Chanyeol dengan benar, berbeda dengan pria tinggi yang kini memberikan tatapan tajam yang bahkan tak bisa dimengerti oleh mahasiswa psikologi seperti Hyojin.

 

“Kenapa kau tidak pergi dengan Jinhyo?, pulang ke rumah orangtuamu. Kenapa malah menginap di rumah orang lain? Bahkan seorang pria?!”

 

“Apa masalahmu sih?” Hyojin mencoba melepas genggaman tangan Chanyeol, “Lagipula Oh Sehun bukan pria bertabiat buruk seperti yang kau pikirkan!. Soal kenapa aku tak pergi bersama Jinhyo juga bukan urusanmu kan?”

 

“LEE HYOJIN!”

 

Gadis itu membulatkan matanya karena terkejut atas bentakan Chanyeol. Biasanya, disaat Hyojin menunjukkan betapa lebar matanya ketika melotot, Chanyeol akan mengomelinya, berdecak atau protes dan semacamnya. Tapi kali ini yang Hyojin dapat hanyalah tatapan menusuk yang entah kenapa membuatnya merasa kesal.

 

“Apa pengakuanku tadi tak ada pengaruhnya untukmu?, haruskah kau terus menyembunyikan apa yang terjadi padamu dan menungguku untuk mencari tahu sendiri baru kau akan menjelaskannya saat keadaan terdesak? Lee Hyojin, apa kau harus meminta bantuan pada pria lain saat ada aku disampingmu? Tidakkah kau memikirkan perasaanku?.. Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?!”

 

Hyojin menghempaskan tangan Chanyeol hingga tautan tangan mereka terlepas, “Pengakuan apa yang kau maksud?, apa barusan kau bilang mencintaiku atau semacamnya?” ujar Hyojin dengan senyuman sinisnya, “Entah telingaku yang rusak atau kau memang tak mengatakannya. Kau hanya bertanya tentang keadaanku, jadi, kujawab sekarang…”

 

“…Park Chanyeol, aku baik-baik saja.”

 

“Hyojin-ah, bukan itu yang ku maksud!”

 

“Sudahlah. Aku tak ingin berdebat di tengah jalan seperti orang bodoh. lagipula ini bukan saatnya membicarakan soal perasaan.”

 

Hyojin berbalik, hendak menghentikan taksi yang lewat supaya bisa mengantarnya ke apartement Sehun secepatnya. Tapi Chanyeol merasa belum mengatakan semuanya pada Hyojin. Kembali pria itu menarik lengan Hyojin namun segera ditepis oleh pemiliknya.

 

“Park Chanyeol, kumohon, jauhi aku, berhenti mengatakan berbagai macam hal konyol yang menjijikan.” Katanya sambil menunduk, tak mau menunjukkan matanya yang memerah karena menahan tangis. Karena itu dia berbalik dengan cepat serta menghentikan taksi yang hampir melewatinya.

 

Sebelum benar-benar memasuki taksi, Hyojin sempat mengatakan kalimat kejam yang mengejutkan Chanyeol.

 

“Kau itu cuma pria di masa lalu yang hanya bisa membuatku menunggu. Padahal hatimu masih tetap untuk orang yang sama, bukan aku.”

 

***

 

Seorang gadis berambut pendek berlari menuju kerumunan mahasiswi yang sibuk mengobrol satu sama lain. Baik membicarakan soal pelajaran, pertemanan, maupun pacar masing-masing serta pria populer di kampus. Gadis berambut pendek itu hampir saja membatalkan niatnya untuk bertanya pada mereka jika saja dia tidak dalam keadaan terdesak.

 

“Permisi…” panggilnya dengan nda rendah dan berusaha semaksimal mungkin agar terdengar sopan. Dia tak mau mencari gara-gara dengan mahasiswi universitas lain, jadi meskipun penampilan compang-camping yang dia sebut sebagai gaya ‘rocker’ maupun ‘baddas’ itu terlihat aneh dan menyebalkan, setidaknya cara bicara yang sopan akan menghentikan mereka sejenak untuk menghakimi gaya hidupnya.

 

“Saya ingin bertanya, apa kalian mengenal Oh Sehun dari jurusan Hukum?”

 

Pertama yang dia dapat adalah tatapan menyelidik dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Kedua, pandangan menghakimi yang biasa dia dapat setelah orang-orang melihat penampilan luarnya. Dan sebelum pada tahap ketiga yaitu, tak diacuhkan atau malah dicaci maki, maka gadis berambut pendek itu segera tersenyum lebar seraya memperkenalkan dirinya.

 

“Ah, saya Jang Mira dari universitas Yonggang jurusan manajemen. Salam kenal!”

 

“Ah…ya salam kenal.” Akhirnya dia mendapat sambutan, meski masih canggung. Tentu saja, Mira dan para mahasiswi itu kan baru bertemu hari ini dan tak saling mengenal sebelumnya.

 

“K-kau mencari Oh Sehun kan?. Sepertinya dia sedang di kantin sekarang, karena kelas Mr.Kwon diliburkan.” Jawab seorang gadis imut berkuncir dua yang menatap Mira penuh keraguan, masih tak yakin gadis berambut pendek yang memakai celana dengan robekan yang cukup lebar dilututnya itu merupakan seorang mahasiswi juga.

 

“Eoh, terima kasih.”

 

Setelah membungkuk sekitar tiga kali, gadis itu pergi meninggalkan gerombolan mahasiswi yang masih menatapnya curiga tersebut, mencari Oh Sehun lagi tanpa peduli pandangan orang-orang disekitarnya yang memperhatikan lantas membicarakan dirinya.

 

“Wuah!, gadis itu benar-benar sesuatu!”

 

“Aku masih tidak percaya kalau dia mahasisw universitas Yonggang, apa dia mencoba menipu kita?”

 

“Taruhan!, dia pasti terpaksa bicara sopan dengan kita. Pasti biasanya dia bicara dengan banmal pada orang asing atau malah menambahkan ‘brengsek’ tiap akhir kalimatnya.”

 

Gadis-gadis itu malah bergunjing, menjelek-jelekan Mira yang tidak mereka kenal, tertawa atas ledekan mereka terhadap gaya berpakaian gadis berambut pendek tersebut serta mengandai-andai tentang keburukan Mira yang belum tentu benar adanya.

 

“Sudah-sudah, tidak baik membicarakan orang lain.” Seorang gadis menengahi. Wajahnya yang cantik nampak khawatir pada Mira yang masih belum jauh darinya, “Semoga dia tidak tersesat dan menemukan orang yang dicarinya.”

 

“Aih, Jiyeon eonni terlalu baik. Orang seperti dia tak perlu dicemaskan, yakin dia pasti sering keluar malam dan hafal semua club di Seoul!”

 

Jiyeon tak kembali mendengarkan pembicaraan teman-temannya, dia menunduk untuk mengambil dompet kecil berwana coklat tua yang jatuh beberapa meter di depannya. Ia melihat sekeliling, tak ada yang memperhatikannya atau terlihat seperti kehilangan dompetnya. Ia putuskan untuk membuka dompet tersebut, mencari tahu siapa pemiliknya… atau mungkin ada informasi penting untuknya.

 

“Park Jiyeon!”

 

Karena terkejut, Jiyeon segera menyembunyikan dompet itu di belakangnya, memasang wajah polos nan rupawan yang membuatnya terkenal baik dikalangan pria maupun wanita.

 

“Yak! seharusnya kau memanggilnya sunbae atau eonni!” protes teman Jiyeon yang mendengar panggilan Hyojin padanya.

 

Hyojin tak acuh, cuma memberikan tatapan malas pada anak satu angkatan dengannya tersebut lantas kembali bicara dengan Jiyeon.

 

Sunbae tahu kan kalau tugas makalahnya dikumpulkan hari ini, sunbae sudah menyelesaikan bagian sunbae kan?” tanya Hyojin dengan suara serak. Maklum, dia begadang semalam suntuk untuk mengerjakan tugasnya yang menumpuk. Ditambah masalah semalam yang membuatnya stress dan merasa agak kurang sehat.

 

“Ya, tentu saja. Aku sudah mengirimnya ke e-mailmu, tinggal siapkan print out-nya.” Jawab Jiyeon yang kemudian fokus pada bulatan hitam disekitar mata Hyojin. “Sepertinya kau kelelahan mengerjakan tugas. Kau baik-baik saja?, kau kelihatan tidak sehat.”

 

Hyojin mundur selangkah untuk menghindari kontak fisik dengan Jiyeon yang hendak memegang wajahnya. Hal yang paling tidak sukai ketika berurusan dengan Jiyeon, seniornya dari jurusan kedokteran. Bukannya ada masalah, tapi dia tak mau akrab dengan gadis populer seperti Jiyeon, apalagi belakangan Hyojin menemukan keanehan tentang seniornya itu dari hasil analisisnya beberapa bulan ini.

 

‘Ya ada masalah dengan adikku, lalu dengan Park Chanyeol, belum lagi tugas serta ujian semester yang datang berturut-turut, juga masalah dengan Rae Mi dan Lee Dae Ryeong!’ Hyojin menggerutu dalam hati, tapi yang dia sampaikan pada Jiyeon hanyalah…

 

“Tidak, aku baik-baik saja. Kalau begitu aku pergi dulu sunbae, sampai jumpa dua jam lagi.”

 

Baru beberapa langkah Hyojin menjauh dari Jiyeon dan kerumunannya, Mira kembali menghampiri gadis langsing dengan tinggi semampai itu.

 

“Permisi… maaf mengganggu lagi, tapi… kantin itu disebelah mana ya?”

 

Sepertinya Hyojin mengenal suara itu. Dia menghentikan langkahnya, menoleh untuk memastikan apakah Hyojin benar-benar mengenal pemilik suara tersebut.

 

“Eoh!, Hyojin eonni!”

 

Belum sempat Jiyeon menjawab pertanyaan Mira, gadis itu langsung menghambur ke pelukan Hyojin yang tak siap. Hampir saja tubuhnya ambruk, Mira sendiri tak acuh, terus memeluk Hyojin sambil berputar tak karuan seperti anak lebah yang akhirnya menemukan ibunya setelah berpisah sekian lama… dan anak lebah itu bernama Hachi… euh, sepertinya itu adalah cerita kartun kesukaan Hyojin semenjak berpisah dengan orangtuanya. Tak seharusnya disamakan dengan pertemuannya bersama Jang Mira.

 

“Lama tidak bertemu eonni semakin cantik saja! -ah ralat! Maksudnya sekarang jadi lebih mirip wanita! Hahahaha!”

 

Hyojin tak merasa sakit hati dengan sindiran Mira, toh itu hanyalah candaan semata dan dia sudah terbiasa atas cara bicara Mira yang ‘apa adanya’.

 

“Kenapa kau bisa ada disini?, mau bertemu Sehun?”

 

“Tepat sekali!” gadis itu menjentikan jari di depan wajah Hyojin, “Aku mau memberikan pesanan Sehun, eonni tahu dimana bocah itu sekarang?”

 

Hyojin terkekeh, “Anak yang kau panggil bocah sekarang jauh lebih tinggi darimu!” ledeknya.

 

Mira mengerucutkan bibir, “Hanya berbeda dua puluh senti kok!” tingkah sok imutnya membuat senyuman Hyojin luntur.

 

“Lebih baik hentikan. Aneh rasanya melihat gadis bergaya ‘rock and roll’ sepertimu melakukan aegyeo.” Hyojin melirik map coklat ditangan Mira yang ada logo firma hukum yang pernah menjadi tempat kerja kakak dari Park Chanyeol. “Ngomong-ngomong… apa itu pesanan Sehun?” tanyanya seraya memandang map tersebut.

 

Mira gelagapan, lantas memasukkan map itu ke dalam tas ranselnya. “Bukan… yang dia pesan adalah informasi bukan map-” sadar bahwa dia salah bicara, Mira segera memukul mulutnya kemudian tersenyum manis pada Hyojin.

 

Eonni, jangan tanya lebih lanjut soal ini padaku oke?. aku takut keceplosan dan malah membeberkan semuanya, padahal Sehun meminta ini secara rahasia. Jadi, untuk privasi tolong jangan tanya padaku oke?”

 

Hyojin menatap Mira curiga tapi menuruti kemauannya. Ia paham akan keadaan Mira, dan memang tak seharusnya gadis itu menjawab segala rasa keingintahuan Hyojin, apalagi menyangkut soal privasi sahabatnya.

 

Ponsel Mira berdering, dia meminta Hyojin menunggunya sementara dia mengangkat telepon agak jauh dari tempat Hyojin. Gadis itu tak mengalihkan pandangannya dari gerak-gerik Mira serta apa yang barusan gadis itu masukkan ke dalam tasnya.

 

“Apa sekarang setiap orang perlu merahasiakan sesuatu, bahkan sahabat-sahabatku?” gumam Hyojin dengan pandangan kosong, tak lagi menganalisis Mira seperti sebelumnya. “Sudahlah, bukan urusanku juga.” Ujarnya santai kemudian.

 

Ia memasukkan tangan ke dalam saku coat-nya ketika udara dingin mulai mengusik kulit tubuhnya. Kakinya menendeng udara beberapa kali karena bosan menunggu Mira yang tak kunjung menyelesaikan panggilannya. Gadis itu tampak membahas hal serius dengan lawan bicaranya. Sekali lagi Hyojin mengamati map coklat yang sejak tadi mengganggunya, membuatnya begitu penasaran karena ada urusan apa Oh Sehun dengan orang-orang dari firma hukum tersebut.

 

“Jika semakin serius, baru itu menjadi urusanku.” Ucapnya setelah berpikir keras, “Jika saja pria tua gila harta itu berani mengganggu orang yang kusayangi dengan bala bantuan semacam itu… aku juga tak akan tinggal diam.” Tangannya mengepal kuat begitu ingatan menyakitkan tentang Lee Dae Ryeong muncul.

 

Eonni!”

 

Panggilan Mira kembali menyadarkannya.

 

“Eoh, kau sudah selesai?. Kalau begitu ayo kuantar ke kantin, mungkin Sehun masih ada disana bersama Jong In.”

 

“Jangan khawatir, kau tak akan terpisah atau menyakiti orang-orang yang kau kasihi lagi.”

 

“Kau bilang apa?”

 

Hyojin jelas-jelas mendengar bahwa gadis berambut pendek yang lebih muda satu tahun darinya itu mengatakan sesuatu tentang Hyojin, tapi Mira cuma tersenyum sambil menggeleng lalu menggelayut manja di lengannya.

 

“Tadi aku bilang ‘ayo segera ke kantin’!”

 

“Tidak, bukan itu yang aku dengar.” Sanggah Hyojin yakin.

 

“Benar kok!, mungkin Hyojin eonni salah dengar atau sedang tak fokus.” Elak Mira, “Sudahlah, aku mau cepat-cepat ketemu Sehun dan mentraktir eonni!”

 

Hyojin memang masih berstatus mahasiswa psikolog dan belum sehebat psikolog ternama seperti Jean Piaget maupun Sigmund Freud dan Carl Gustav Jung yang menjadi idolanya dalam dunia psikologis, tapi mengetahui perubahan sikap Mira yang kecil sekalipun sepertinya sudah menjadi bakat Hyojin. Entah kenapa dia merasa gadis itu pun menyembunyikan rahasia besar darinya selain pesanan milik Oh Sehun.

 

 

~To Be Continue~

 

Halooooooooo

Maaf ya updatenya jadi ngadat 2 minggu sekali, hal ini dikarenakan minggu lalu kuota author sekarat dan nyari paketan yang sama seperti sebelumnya agak susah. Jadilah kemaren hiatus sampe seminggu. Tapi syukur deh sekarang bisa lanjut lagi kekeke

Oh iya, untuk info nih mungkin ff TOPIY bakal update seminggu sekali dan paling lambat dua minggu sekali kalau author sedang sibuk ini itu. Jadi mohon kemaklumannya *bow*

Nah, si jiyeon udah muncul nih. Tinggal buka siapa tokoh pria berlesung pipi yang gangguin hyojin di toko roti. Yang jelas bukan yixing ya soalnya hyojin kan kenal sama yixing yang merupakan teman satu band-nya yeolli kekeke~ siapa ya? Myungsoo kah? Atau tokoh baru lain kah? Tunggu jawabnnya di chapter selanjutnya! *sok misterius*

Okedeh, RCL Juseyoooooooo~~~

Iklan

5 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] The One Person is You [Re: Turn On] – Chapter 6

  1. Aduhh hyojin… kasian ih
    Chanyeol mah gitu.. ngeselin,, minta ditabok apaa

    Aduh lumutan aku nunggunya..
    Fast update kakkk
    Seminggu sekali aja,, jangan dua minggu sekaali… penasaran sma chanjin kedepannya hwee

  2. emang myungsoo ada lesung pipinya… hahaha…
    chanyeol mah gitu, kemarin aja sok” cuek.. sekarang sok” perhatian.. tapi telat terlanjur hyojin udah kezeeellllllll…
    kasian hyojin… tapi tetep setronggg ya!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s