[EXOFFI FREELANCE] Nu Halo

nnn

Title : Nu HALO

Author:

LucifeRain

Cast :

Oh Sehun

Jung Sooyeon

Park Jungsoo

Genre :

Romantic-fluff-hurt

Rating :

General

Length :

Oneshoot

Summary:

Everything will change when you meet New Halo.

Disclaimer:

This story made by LucifeRain.

~***~

I swore I’d never fall again

But this don’t even feel like falling

Gravity can’t forget

To pull me back to the ground again

(Beyoncé – Halo)

~*~*~*~

Berikan lima kata untuk mendefenisikan hidup kalian…

Datar

Bosan

Jenuh

Keluh

Hampa

Seorang gadis merafalkan kelima kata itu sembari menatap selembar brosur club yoga yang diberikan seseorang saat dia keluar dari sebuah mini market. Ia menghela nafas panjang seraya membuang padang pada petala awan dalam tawang senja.

Kakinya mulai melangkah meninggalkan brosur yang tergeletak di tanah setelah lepas dari tangannya. Tatapannya tak berfokus, membiarkan intuisi mengintrupsi syaraf motoriknya untuk pergi ke mana saja, ke tempat dimana kadar kejenuhannya menurun atau sekadar berkesah pada kekosongan.

Jika ditilik dari hari lalu, semua emosi terpendam terus mengeruh namun ia tak sanggup melepas hingga jiwanya serasa ditikam oleh amarah yang terus membuncah. Mencela ketidakberdayaannya.

Mendadak kedua mata gadis itu membulat saat menyadari dimana dirinya berada. Sebuah gang kecil yang di penuhi dengan graffity dan berhadapan langsung dengan jalan dimana dua kelompok pemuda berseragam tengah beradu jotos.

Gadis itu ketakutan menyaksikan bagaimana kepalan keras menghantam wajah seseorang, teriakan mengerikan serta darah yang melekati diri mereka. Kakinya bergetar. Layaknya de javu.

Saat ia ingin berbalik pergi, sekonyong-konyong seseorang berteriak. “POLISI DATANG! CEPAT LARIIIIIIII!!!!!!!!!”

Derap langkah terdengar amat gaduh, sejurus kemudian gang tempatnya berdiri dilalui beberapa pemuda yang tergesa. Gadis itu bersandar ke tembok karena tak mungkin ia lari bersama para pemuda tadi, tiba-tiba seseorang menarik tangannya.

“Sedang apa kau?! Cepat lari! Kau cari mati, huh?!!!” orang itu berteriak padanya.

Sooyeon memandang cengkraman tangan pemuda itu di pergelangan tanganya, nafasnya tersenggal menuruti langkah cepat pemuda tadi. Hingga pada satu titik ia merasa tak mampu meraup oksigen.

Ia berhenti sambil menahan tanganya, kontan pemuda itu ikut berhenti. Sooyeon menatap lekat pemuda berambut perak dengan semburat oranye yang terpantul dari cakrawala senja.

Pemuda itu menatap waswas sekeliling dan ketika matanya menyapa penglihatan Sooyeon, gadis itu terhenyak mengagumi sepasang manik kelabu yang terbenam dalam lekuk elips mata pemuda di hadapanya.

“Baiklah, sepertinya sudah aman. Kau bisa pulang sendiri kan?” ucapnya. Sooyeon tak membalas.

“Lain kali kalau kau ada di tempat berbahaya, carilah tempat aman. Oke?!”

Pemuda itu berjalan menjauh.

Mungkin ini hanya perasaan atau imajinasinya, tetapi warna keperakan rambut pemuda itu seolah menyerap warna di sekelilingnya dan memancarkan cahaya bergradasi magis.

They didn’t even make a sound

I found a way to let you in

But I never really had a doubt

Standing in the light of your halo

~*~*~*~

Sooyeon baru saja keluar dari gerbang sekolah. Matanya agak menyipit saat matahari menyapa dengan sengatan yang mampu mendengungkan kepala. Ia melangkah cepat menuju sebuah halte yang tak jauh dari sana.

Segerombolan orang menyesaki halte itu sampai sebuah bus datang dan mereka berbondong-bondong berpindah ke dalam bus. sooyeon mengurungkan niatnya menaiki bus tadi karna terlihat penuh sesak, ia tak suka tempat yang ramai.

Kakinya mundur selangkah lalu duduk di kursi halte, menoleh ke kiri dengan dagu sedikit terangkat, kalau-kalau bus berikutnya sudah dekat. Kemudian ia meluruskan kepalanya lalu tertunduk kecil sambil bersenandung pelan lagu favoritenya akhir-akhir ini.

Tanpa sadar ekor matanya menangkap seseorang yang duduk bersandar di kursi halte paling ujung, orang itu duduk membelakangi jalan dengan kepala yang tertutup tudung hoodie serta mata terpejam.

Angin yang berhembus kencang dalam sekejap, mendorong tudung hoodie orang yang masih bergeming itu.

Rambut perak.

Bisikan imajiner berkisruh dalam relung pendengaran Sooyeon, tatapannya jatuh pada pemuda itu secara skeptis dan saat fokusnya kembali, ia sudah berada di hadapan pemuda tadi dengan telunjuk hampir menyentuh pipi pemuda dihadapannya.

Pemuda itu membuka matanya. Buru-buru Sooyeon menarik tanganya.

“Kau yang semalam itu, kan?” ia melepas earphone yang menyumbat telinganya.

Sooyeon mengangguk kecil.

Pemuda di hadapannya mengedarkan pandang ke sekeliling lalu kembali menatap Sooyeon, “Kau mau pulang?” Sooyeon mengangguk lagi.

“Ka… Kau tidak pulang?” tanya Sooyeon. Gugup. Sudah lama ia tidak berbicara dengan orang asing selain keluarganya atau para penjual.

Debar hangat melingkupi hatinya.

“Ahh… kau tahu kan dua hari yang lalu aku ikut tawuran. Ya begitulah, aku di skors selama tiga hari.”

“Tapi kau memakai seragam sekolah.”

“Ini hanya akal-akalan ku saja. Aku malas meladeni keluargaku yang sok terpelajar itu, jadi aku pura-pura ke sekolah padahal hanya diam disini sampai sopirku menjemput pada jam pulang.” Ungkapnya panjang lebar.

“Hmm… aku Oh Sehun. Kau?” ia mengulurkan tangannya.

“Sooyeon… Jung Sooyeon.” Saat Sooyeon menyambut tangan itu, ia berjanji tak pernah menghapus kata Oh Sehun dalam seluruh ingatannya.

Oh Sehun si rambut perak bermata kelabu.

“Ah aku bosan dari kemarin terus disini. Sial sekali hanya aku murid Donghwan yang ikut tawuran, aku jadi sendirian. Apa kau ingin langsung pulang?” Sehun mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban Sooyeon. “Kau ingin ikut bersamaku?”

“Kemana?” Sooyeon mengernyit.

Seulas senyum terpeta di wajah Sehun, “Bersenang-senang.”

Sooyeon semakin menghangat.

Sudah berapa lama ia tak mendengar ajakan itu? ah tidak, bahkan ia ragu pernah mendengarnya.

It’s like I’ve been awakened

Every rule I had you breakin’

It’s the risk that I’m takin’

I ain’t never gonna shut you out

~*~*~*~

“Wooaaaaa…” kalimat itu mengalun alami dari bibir Sooyeon, matanya berkilat riang.

Sehun membawanya ke pantai, dimana deburan ombak yang disambut senandung burung camar diantara bunyi gesekan dedaunan menjadi orkestra alam yang sangat merdu. Udara disekitar memang agak lembab namun tergolong memabukkan untuk dihidu.

“Lepas sepatumu, ini menyenangkan!”

Sooyeon mendapati Sehun yang sudah mendekati bibir pantai, pemuda itu berbalik lalu menyunggingkan senyum sembari melambaikan tangan ke arah Sooyeon. Matahari bersinggasana tepat di ubunnya, semacam memuliakan rambut perak itu. ah terlalu mengagumkan.

“Ayo kesini!”

Seruan itu menghilangkan lamunan Sooyeon, ia membuka sepatunya lalu mencampakkannya dengan tidak sabar, percis seperti anak kecil yang sangat antusias ketika pasir pantai melengketi kakinya. Senyumnya merekah saat ia berlari ke arah sehun, ke arah air biru yang terus bergelung menciptakan ombak.

Kemiringan menuju bibir pantai agaknya lebih dari 30 derajat, hal itu membuat Sooyeon kelimpungan menahan lajunya ketika semakin dengat dengan Sehun. Ia berakhir dalam rengkuhan tangan Sehun.

Sooyeon hanya bisa tertawa menatap Sehun, ia menyapukan helaian surai yang menutupi wajahnya lalu menatap manik kelabu milik sehun.

“Kau senang?” bibir tipis Sehun tersenyum padanya.

Sudah berapa lama ia tak mendapat pertanyaan itu? baru kali ini ia merasa dipedulikan.

“Kau sering kemari?” Sooyeon menyadari dirinya mulai nyaman atau bahkan sangat nyaman berada dalam lingkupan Sehun.

Sehun mengedikkan bahu, “Kalau aku bosan.” tawanya menyusul kemudian.

Sooyeon terperanjat ketika air laut yang tergolong dingin menyapa kakinya, refleks ia memegang pundak Sehun dan bergidik menatap pada air yang kembali surut.

Gelak sehun meledak begitu saja. Sooyeon sangat polos dan ia menikmati setiap gerik gadis itu, bahkan setiap ekspresi kaku yang menjejaki wajah Sooyeon mampu membuatnya terpikat. Ia mencandunya.

Bibir Sooyeon mengerucut, membuat Sehun gemas menarik pipinya hingga Sooyeon mengaduh kecil. “Kau tidak pernah kepantai, huh?”

Sooyeon menggeleng masam.

“Kenapa? Ini tidak terlalu jauh, hanya 30 menit.”

“Aku baru setahun disini, sebelumnya aku tinggal di Gangnam.”

Sehun mengangguk kecil.

Tiba-tiba ia menggendong Sooyeon ala briddal, Sontak Sooyeon memeluk leher Sehun erat. Debar jantungnya seolah menimbulkan rasa panas yang nyaris terbakar karna berpacu sangat kencang.

Sehun menurunkan Sooyeon di antara air laut yang bergerak pasang hingga rok gadis itu basah terkena percikannya, sementara si pelaku berlari meninggalkan Sooyeon dengan tawa lebar tanpa mengacuhkan celananya yang basah hingga kelutut.

“Yak!!! Kau!!!!” Sooyeon mengejar Sehun dan berusaha mendorong pemuda itu ke air, sesekali ia mencipratkan air ke wajah sehun yang dengan cepat menghindar kemudian menyerang balik. Bulir-bulir air yang terhambur tak ubahnya sebuah krystal yang memantulkan sinar mentari. Derai tawa tak henti terdengar dari bibir mereka.

Lagi-lagi Sooyeon terlonjak ketika sesuatu menggelitik kakinya, ternyata ia berpapasan dengan seekor keong. Layaknya anak kecil yang penasaran, ia berjongkok kemudian mengamati keong tadi.

Sehun tersenyum geli. “Kau tunggu disini sebentar ya.”

Sooyeon mengangguk tanpa melihat Sehun, ia sibuk mengorek pasir yang menjadi rumah keong. Apakah ada lebih banyak keong disana? ah ternyata dia menemukan remis-remis kecil yang bersembunyi.

Sesuatu yang basah dan dingin menyentuh pipi Sooyeon, ia menarik pipinya dan menatap sebotol minuman yang di julurkan Sehun. “Makasih.” Ucapnya riang lalu meminumnya.

“Disana ada kedai ice cream, sepertinya enak. Mau mencobanya? Aku yang traktir deh.”

Sooyeon menyuguhkan lengkung senyum tertulus yang pernah terlepas dari bibirnya. Sehun terpekur, merasa dirinya tengah menyelam dalam lautan euforia yang menggeitik hati untuk terus memuja Sooyeon sekalipun dengan mata terpejam.

“Aku akan membawamu ke sana kalau kau mau ku gendong.”

“Hah? Aku bukan anak kecil!”

Sehun terkekeh, “Kau kan seperti anak kecil.” Ia menjulurkan lidahnya dan disambut dengan pukulan kecil Sooyeon di lengannya.

“Aku tidak mau!” Sooyeon melipat tangannya di depan dada dengan bibir yang mengerucut.

“Ya, anggap saja kau membantuku. Punggungku jadi kaku kebanyakan duduk tanpa sandaran, jadi hitung-hitung olah raga hehehe.”

Tanpa menunggu jawaban Sooyeon, Sehun berjongkok di hadapannya. Dari posisi itu ia menarik tangan Sooyeon ke depan dadanya, hingga tubuh gadis itu ikut merendah dan akhirnya menempel di punggung sehun, saat itulah Sehun berdiri dan menyempurnakan posisi Sooyeon dalam gendongnya.

Hembusan angin membuat rambut Sehun mengumbarkan wangi mint yang segar, ingin rasanya Sooyeon bertanya sampoo apa yang ia gunakan. Sooyeon terkikik dalam hati. Saat dia menyandarkan dagunya di pundak kanan Sehun secara perlahan, Sooyeon dapat mencium aroma cologne yang berbaur dengan wangi maskulin khas pemuda itu.

Ahh… kenapa ada aroma sememabukkan ini.

Tanpa sepengetahuan masing-masing, bibir mereka terus menyunggingkan senyum yang tak mampu lagi di kulum tetapi mampu menularkan senyum itu pada setiap orang yang mereka lewati.

Bisakan dunia hanya diseputar senyum ini saja?

“Hei…” panggil Sehun, Sooyeon hanya mengguman. “Kau jarang makan ya? badanmu sangat ringan, tahu?! Tak ada bedanya sama satu keranjang pisang.”

Sooyeon menjitak pelan kepala Sehun sambil berdesis sebal, “Setiap makan piringku isinya lima centong nasi!”

“Hah? Tidak mungkin! Nasimu itu pasti kau bagi dengan kucing!”

“Itu benar, kau mau bukti?”

Sehun bergidik sambil menatap Sooyeon, “Aku jadi takut rugi mentraktirmu.” Tawa mereka melambung setelahnya.

Diam-diam Sooyeon berkomat-kamit dalam hati berharap debaran jantungnya bisa waras sedikit saja.

“Sehunnie…”

Sehun menyukai cara Sooyeon memanggilnya.

“Ya?”

“Aku penasaran, kau sepertinya orang baik tapi kenapa kau ikut tawuran? Kenapa juga kau berbohong pada orang tuamu tentang skorsing itu? ah apa aku terlalu banyak tanya? Maaf.”

“Tak apa.” Sehun tersenyum. “Kau tahu? Aku salah satu anggota gengster. Awalnya aku bergabung dengan mereka agar dapat berkelahi dan menunjukkan ke keluargaku bagaimana aku memberontak. Dan yah, aku di hukum habis-habisan. Meski begitu aku tak mau meninggalkan temanku yang berandalan itu, mereka lebih baik dari pada teman bermuka dua yang ku kenal selama ini.”

“Kau pasti orang… berada.”

“Dulu kakekku menteri pendidikan dan keluargaku punya bisnis perhotelan yang… yah… membuat nama keluargaku semakin terpandang. Mereka selalu mengekangku sejak kecil, membuat hidupku semau mereka saja. Aku selalu tak punya pilihan di hadapan mereka, dan akhirnya aku membuat pilihanku sendiri.”

Sooyeon tercenung mendengar cerita Sehun, seperti bisikan ia membalas, “Aku tahu rasanya. Cerita kita mirip, tapi setidaknya kau lebih beruntung di akhir.”

Baru saja Sehun ingin bertanya balik, tetapi ia mengurungkan niatnya karna mereka sudah sampai kedai ice cream. Ia langsung menurunkan Sooyeon.

“Nanti kita lanjutkan lagi ya, kajja!”

Mereka memesan dua gelas fruit salad ice cream dengan dua stik coklat yang menancap di samping gundukan es utamanya.

“Bagaimana kalau kita bertaruh, yang habis duluan dalam sepuluh menit menjadi pemenangnya dan yang kalah harus mentraktir ice cream untuk si pemenang lain kali.” Mata kelabu itu berkilat jenaka.

Okay?”

“Okay.”

Mereka mulai memakan stik coklat lebih dulu, setelah itu Sooyeon melahap buahnya kemudian ice cream-nya, sedangkan Sehun memilih menghabiskan ice cream lebih dulu lalu memakan buahnya. Menyadari perbedaan itu, mereka tertawa dengan bibir terkatup karna dipenuhi makanan.

Sooyeon melahap sendokan ice cream terakhirnya lalu meletakan sendok itu di samping gelas, ia mengangkat tanganya yang terkepal. “Aku menang!!” ucapnya kemudian tergelak melihat sehun yang menahan tawa sambil kelimpungan mengunyah buah terakhir di mulutnya.

“Haha… taktik yang ku pakai berhasil, kan?” serunya bangga.

Sehun menggeleng. Setelah meludeskan buah terakhirnya dan menyapukan punggung tangan di bibirnya, ia berseru “Ya! kau yang kalah!”

Mwo? Aku menghabiskanya duluan, kau…”

Sooyeon tak berkutik kala Sehun mencondongkan wajahnya hingga mereka hanya berjarak satu kilan, tiba-tiba Sehun menjulurkan lidah hanya sepanjang bibirnya kemudian menyentuh sisa ice cream yang menempel di sudut bawah bibir Sooyeon. Ujung bibir atas Sehun dan bibir bawah Sooyeon bertemu.

Mata kelabu milik Sehun menguncinya, membuatnya seolah terhanyut dalam lautan merah jambu yang asing sekaligus menyejukkan.

“Kau kalah.” Sehun menarik wajahnya lalu menjulurkan lidah. Ia beranjak dari duduknya, meninggalkan Sooyeon yang masih mematung.

Sooyeon menyentuh kedua pipinya dengan telapak tangan, hangat yang tersebar dari degup jantung yang liar seolah merambat ke pipinya yang bersemu. Rasanya ia ingin mengumpet di bawah meja atau mengigit taplak meja saking malunya. Astaga, bahkan jejak dingin bibir Sehun seperti membakar kulitnya.

Baby, I can see your halo

You know you’re my saving grace

You’re everything I need and more

It’s written all over your face

~*~*~*~

Matahari mulai mendekati tempat persembunyiannya, cahayanya meredup secara perlahan namun masih sanggup memancarkan sisa-sisa kekuasaan sinarnya yang berupa jingga kemerahan, terlihat tepat di ujung laut yang memantulkan garis warnanya dengan sedikit berbayang.

Sahutan kelompok burung yang bermain di atas laut biru jingga dan sepoian angin darat yang mengibaskan pakaian cukup kuat hingga meniup pasir yang sesekali terkena mata, membuat siapa saja enggan beranjak.

“Sampai kapanpun sunset selalu sama. Selalu mengagumkan.” Gumam Sehun.

Mereka terduduk di batang pohon kelapa yang sepertinya sudah lama terbenam di pasir.

Sooyeon memandang Sehun yang terkesima dalam biusan panorama sunset. Bisakah kalimat terakhir tadi ia bisikkan pada sehun? Betapa ia sangat menyukai rambut perak itu kala senja, ketika rona oranye menyentuhkan kilaunya di setiap helai rambut yang bergerak seirima hembusan angin itu.

Begitu pula mata kelabu itu seakan mencampurkan jingga pada selaput pelanginya. Sooyeon ingin memilikinya, bahkan ingin memiliki tempat dimana kedua hal itu bernaung.

“Kali ini giliran kau yang cerita, katamu katamu pengalaman kita mirip.”

Mereka saling tatap.

“Mirip Cinderella. Klise…” Sooyeon menerawang jauh ke arah laut.

“Ibuku meninggal sejak aku dilahirkan dan aku punya ibu dan kakak tiri, mereka mengaturku dengan seenaknya, membatasi duniaku, bahkan mereka mengatur siapa saja yang boleh berteman denganku, aku sudah lelah melawan mereka.” Tatapan Sooyeon berubah sendu mengingat betapa ngerinya sebuah vas kaca merobek kepala hingga menyisakan beberapa bekas jahitan.

“Ayahku? Dia terlalu cinta pada pekerjaanya. Ingat aku saja tidak.” Rasanya sama seperti membuka luka batin yang belum sembuh.

“Ya… kita mirip. Tapi kalau kisahmu Cinderella berarti kau sudah menemukan pangerannya, huh?” Sebenarnya sehun ingin memberi saran tapi apa daya, ia juga mengalami hal serupa dan tak kunjung mendapat solusi.

Sooyeon berpaling dari tatapan Sehun, tawa getir meluncur dari bibirnya dan tak ada sepatah kata lagi yang keluar.

“Sebaiknya kita pulang.” Sehun beranjak, menyipitkan mata pada senja yang menua. Ia menyampirkan tas punggungnya lalu menggenggam tangan Sooyeon.

Mereka berjalan beriringan menuju halte yang tak jauh dari sana. Senja telah usai dan lampu-lampu jalan mengambil alih penerangan. Setelah beberapa kali kendaran beroda lewat, akhirnya mereka menemukan bus yang mereka cari.

Bus itu sepi, hanya ada empat orang yang duduk di kursi belakang dan tengah. Sehun menuntun Sooyeon ke bangku paling belakang kedua di sebelah kiri, mempersilahkan Sooyeon duduk di samping jendela dan ia setelahnya.

“Aku akan mengantarmu sampai rumah.” tutur Sehun beberapa menit setelah bus itu melaju.

“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.” Sanggah Sooyeon. Ia membuang tatapannya ke luar jendela, tak ingin Sehun menangkap sinar ketakutan yang memancar dari matanya.

“Aku akan mengantarmu tak peduli apapun yang terjadi.” Sehun berkata layaknya vonis tak terbantahkan dan Sooyeon hanya mampu menghela nafas panjang.

“Sehunnie…”

“Ya…?”

Mata mereka beradu.

“Terima kasih banyak untuk hari ini. Aku tidak pernah sesenang ini sebelumnya, aku serius.” Sooyeon tersenyum tulus. Masih hangat dalam ingatannya bagaimana ia menikmati tawanya sendiri yang diiringi tawa renyah Sehun.

Hari yang begitu indah di tempat yang indah bersama orang yang membuat perasaan menjadi indah. Rasanya benar-benar beruntung memiliki hari ini, seperti mengecap terang baru dalam kelamnya mayapada.

“Sooyeon-ah…”

Mata kelabu itu menjerat Sooyeon semakin dalam.

“Mungkin ini gila tapi ku rasa…” kalimat itu menggantung cukup lama hingga keheningan menguasai. “…Aku menyukaimu.” Ungkapan itu meluncur nyaris seperti bisikan.

Meski pelan, namun mampu menggetarkan roma. Terekam sempurna dalam benak Sooyeon bahkan kalimat itu seolah menggema dalam relung hatinya.

Sooyeon tak membalas ucapan Sehun, hanya tersenyum dan menularkannya pada Sehun. Secara perlahan ia mendekatkan wajahnya lalu mencium lengkungan senyum pemuda di hadapannya. Bibir mereka bertemu. Perlahan mata mereka terpejam dan mulai menikmati pagutan bibir yang didorong naluri alami, manis dan lembut seperti permen kapas merah jambu.

Ciuman itu terhenti tepat ketika bus berhenti.

Sedikit tak rela menerima kenyataan bahwa mereka sudah sampai. Usai kah?

Sehun segera menuntun Sooyeon keluar dari bus, tak ada kekakuan antara mereka. Seperti sudah berkenalan sangat lama, bukan kemarin di momen tawuran. Kedua jemari yang saling berpautan itu terayun seirama dengan langkah mereka di atas trotoar yang diiringi lampu jalan dan ditemani bunyi jangkrik yang bersahutan.

Tak ada perbincangan setelahnya, mereka membiarkan intuisi saling menyentuh perasaan yang paling sukar terjamah.

Bisakah waktu ini diabadikan dalam bola kristal? Ia akan memajangnya di tempat terindah dan sewaktu waktu akan diguncangnya supaya kebahagiaan di dalam bola kristal itu mengumbar.

Sooyeon terlalu asyik dengan hayalannya hingga ketika fokusnya kembali, dirinya dan sehun sudah berada di depan rumahnya. Kepanikan segera menyergap Sooyeon, ia berbalik menghadap Sehun.

“Sehun sebaiknya kau pulang sekarang, cepat!” nada bicaranya terdengar gemetar.

“Kenapa?”

Sooyeon menatap gusar pintu rumahnya lalu kembali menatap Sehun, “Cepatlah Sehun, maaf aku tidak bisa mempersilahkanmu masuk.” Kali ini Sooyeon mendorong pelan bahu Sehun. Gurat ketakutan tercetak jelas di wajah yang mulai mengeluarkan keringat dingin itu.

Baru saja Sehun ingin melangkah pergi, pintu terbuka dan munculah seorang pria yang parasnya sangat familiar dalam ingatan Sehun.

“Ah Park Songsaenim, annyeong haseyo….” Sehun membungkuk hormat pada Park Jung Soo yang merupakan kepala sekolah sekaligus guru ter-killer di Donghwan, sekolahnya.

Kondisi ini membuat Sehun bertanya-tanya, apa Park Jung Soo adalah saudara tirinya yang kejam itu atau… yang jelas dia terlalu muda untuk seukuran ayah. Ia menatap Sooyeon yang pucat pasi bahkan menghindari tatapannya.

“Park Songsaenim, apakah Sooyeon adikmu?” Sehun memberanikan diri membuka mulut.

“Dia istriku.”

Sehun membeku.

End

Well, terima kasih sudah membaca fanfict ini dan aku akan lebih senang jika kalian meninggalkan barang sedikit pendapat tentang ff ini~^^

Cheers,

LucifeRain (ayya)

Iklan

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Nu Halo

  1. Ffnya keren bgt thor. Suka jalan ceritanya. Sequel dong. Btw aku gak mudeng dngn saudara tiri, istriku ak blm nangkep maksudnya. Maafkan diriku yg gak mudengan ini thor. Keep writing ya! ^^

  2. Speechless.. 😂😂😂 keren banget..ga nyangka sama ending nya,
    “Dia istriku”. What????
    Kejutan, Udah dibikin baper diawal, gatau nya dijatuhin di ending.😭😭
    Wahai author maha membolak balikkan hati para reader… 😂😂😂😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s