[EXOFFI FREELANCE] Love in Time (Chapter 3)

Love.jpg

Title        : Love in Time [Chapter 3]

Author        : Ariana Kim

Cast        : Kim Ara

Kim Jongin

Oh Sehun

Park Hana

Genre        : Family, Romance, Angst, School Life

Rating        : PG

Length        : Chaptered

Summary    : Hal yang paling mengesalkan bagi Jongin adalah menjadi saudara kembar Ara. Bagaimana bisa mereka yang tidak mirip satu sama lain bisa menjadi saudara kembar?Berawal dari harapan aneh yang Jongin buat, hidup mereka menjadi semakin rumit saja.

Disclaimer    : FF ini murni hasil pemikiranku. Ide cerita berasal dari kehidupan seseorang yang aku kenal dengan penyesuaian pada semua isi cerita. Apabila ada kesamaan tokoh dan jalan cerita mungkin itu hanya ketidaksengajaan. Don’t bash and don’t copast. Hargai kerja keras penulis ☺ FF ini pernah dipublish di blog pribadi aku 😉

HAPPY READING ☺

***

“Semua orang terasa asing bagiku, dan aku merasa kesepian di dunia yang ramai ini….” – Kim Ara.

Chapter 3

Hari itu cuaca sangat buruk. Prakiraan cuaca memprediksi akan terjadi hujan salju dan sepertinya hal itu benar. Suhu udara menurun drastis dan membuat sebagian orang enggan untuk keluar dari rumah hangat mereka. Nampak seorang gadis kecil berlari keluar dari gerbang sekolahnya. Dengan jaket tebal dan syal yang melilit di lehernya, gadis kecil itu seolah tak gentar dari cuaca yang sangat dingin itu. Ia terus berlari, entah apa yang dikejarnya.

“Jong…” panggil gadis kecil itu, saat sebuah mobil hitam pekat melintas di depannya.

Seolah mendengar panggilan gadis kecil itu, mobil itu berhenti dan kaca penumpang di bagian belakang terbuka, menampakkan seorang anak lelaki di dalamnya.

“Bukankah sudah aku katakan untuk pulang sendiri? Kau tidak dengar, huh?” teriak anak lelaki itu dari dalam mobil. Kepalanya ia keluarkan melalui kaca jendela yang terbuka.

Mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca mendengar teriakan saudaranya. “Tapi aku tidak tahu jalan pulang, Jong.” Lirihnya, menatap saudaranya dengan tatapan memelas.

“Jangan manja. Rumah kita tidak jauh dari sini!!” Bentak anak lelaki yang dipanggil Jong itu. “Ahjussi, jalankan mobilnya..” perintahnya pada sopir pribadinya.

Melihat mobil yang di depannya itu perlahan menjauh, tangis gadis itu pun pecah. Ia berlari mengejar mobil itu dengan kakinya yang pendek. Terus berlari walaupun mustahil untuk bisa mengejar mobil sudah melaju sangat jauh darinya. Karena terus berlari, gadis kecil itu tak melihat jalannya. Ia tersandung dan langsung jatuh terjerambab diantara tumpukan salju yang berserakan di jalanan.

“Jongin….” Panggil gadis itu dengan air mata yang membasahi seluruh wajah mungilnya.”

—————————–

Jongin tersentak dan matanya terbuka seketika. Ia mengangkat kepalanya yang sejak tadi berada diatas meja dan menatap sekeliling dengan matanya yang terbuka lebar. Nafasnya tidak karuan dan keringat mengalir diantara rambut panjang milik Ara.

“ Kim Ara, kau baik-baik saja?”

Hana, yang sejak tadi sibuk mengerjakan soal latihan di bukunya, menoleh pada Ara yang tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya. Keadaan gadis itu sangat kacau membuat Hana yakin jika Ara pasti baru saja mengalami mimpi buruk.

“A-aku dimana?” Tanya Jongin gamang. Ia belum tersadar sepenuhnya.

“Tentu saja di kelas. Kau tertidur selama istirahat berlangsung dan tiba-tiba terbangun seperti ini. Apa kau baru saja bermimpi, Ara?” tanya Hana penuh simpati.

Sesaat Jongin hanya diam. Bagaimana bisa gadis di hadapannya ini memanggilnya ‘Ara’ sedangkan dirinya adalah seorang lelaki. Dirinya adalah Kim Jongin. Bukan Kim Ara. Dan, ia baru saja bermimpi apa? Sepertinya ia tidak asing dengan gadis kecil dalam mimpinya. Apa itu dirinya dan Ara saat masih kecil?

“Ara?” Panggil Hana saat gadis di sampingnya hanya terdiam.

Jongin nampak bingung. Ia terdiam beberapa saat dan baru ingat jika sekarang ia sedang berada di dalam tubuh saudara kembarnya – Ara. Dilihatnya Hana yang sejak tadi menunggu jawabannya dengan wajah bingung.

“Kau siapa?” Tanya Jongin. Ugh, terdengar sangat bodoh.

Mendengar pertanyaan itu Hana langsung memasang wajah terkejutnya. Ia benar-benar syok. Bagaimana bisa gadis di sampingnya ini bertanya siapa namanya sedangkan mereka sudah beberapa kali berbicara? Heol, harus Hana akui jika Ara memang gadis aneh.

“Aku sudah mengatakannya, tapi sepertinya kau melupakan namaku begitu saja.” Ucap Hana, tak mau ambil pusing. “Namaku Park Hana. Omong-omong, kau terlihat kacau sekali.” Sambungnya.

Jongin hanya mengangguk-angguk. Ia baru mendengar nama itu bahkan setelah setahun lebih bersekolah disini. Mungkin gadis di depannya ini bukanlah gadis populer. Jika bukan dari golongan kelas atas, pasti bukan dari golongan siswa-siswa berprestasi. Oh, hanya gadis biasa saja.

“Apa kita pernah saling berbicara sebelumnya?” Tanya Jongin, memastikan apakah Ara berteman dengan gadis ini atau tidak.

“Mungkin sudah beberapa kali. Tapi kau sering mengacuhkanku. Dan hei, ini pertama kalinya kita bicara panjang lebar.” Hana tersenyum cerah menyadari jika Ara mulai mau berbicara banyak padanya.

“Oh begitu.”

Sekali lagi Jongin mengangguk. Ia sempat berpikir bagaimana bisa Ara yang mempunyai segudang sifat buruk mau berteman dengan gadis biasa seperti ini? Dan setelah mendengar langsung jawaban gadis itu, sepertinya memang Ara menjaga jarak dengannya. Tentu saja. Jika dilihat-lihat, gadis ini biasa saja dan tidak menarik sama sekali. Penampilannya juga biasa saja. Yah, memang harus Jongin akui jika gadis ini cukup manis jika diperhatikan dengan seksama. Tapi siapa juga yang mau bergaul dengan orang biasa-biasa saja??

Oh, Jongin jadi terpikirkan sesuatu. Pasti akan sangat menarik jika Jongin memberikan sedikit kejutan pada saudara kembarnya itu.

***

Perlu beberapa detik bagi Ara untuk mencerna apa yang Sehun katakan. Sepertinya ia tidak salah dengar. Tapi jika dipikir-pikir lagi, bukankah itu tidak mungkin? Maksudnya, benarkah Jongin – saudara kembarnya yang sangat menyebalkan itu alergi pada telur? Ia yang sudah tujuh belas tahun tinggal bersama, bahkan selama sembilan bulan berada di dalam rahim yang sama, bagaimana sampai tidak tahu? Ah, ini pasti akal-akalan Sehun yang sengaja mengerjainya.

“Benarkah?” Tanya Ara, ingin memastikan apakah yang dikatakan Sehun itu benar atau tidak.

“Hmm..” Sehun bergumam. Ia seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. “Bagaimana bisa aku melupakan kejadian itu? Sekujur tubuhmu bahkan sampai muncul bintik-bintik merah karena kau makan dadar gulung buatan Ibuku beberapa tahun yang lalu.”

Ara kembali terdiam. Jongin benar-benar alergi pada telur rupanya.

Oke, ia tidak boleh tegang karena hal itu akan menimbulkan kecurigaan. Ia harus bersikap biasa. Ayo, Ara. Kau pasti bisa melalui semua ini. Ara mencoba menyemangati dirinya.

“Sepertinya aku sudah lupa.” Kata Ara akhirnya, setelah tak menemukan kalimat yang tepat untuk diungkapkan.

“Hei, kalian sedang apa disini?”

Tiba-tiba Yian datang entah dari mana, memotong pembicaraan mereka berdua. Dalam hati Ara bersyukur karena lelaki itu telah menolongnya. Jika tidak, pasti Sehun akan semakin menginterogasinya. Omong-omong, kenapa ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya?

“Tidak ada. Aku dan Jongin hanya sedang duduk-duduk disini.” Jawab Sehun enteng. Yian mengangguk paham dan ikut bergabung dengan mereka disana.

“Musim semi sudah hampir tiba rupanya..” Ucap Yian dengan matanya yang mengamati sekeliling. Udara memang masih dingin, tapi salju sudah mulai mencair walaupun tidak banyak.

“Iya. Dan turnamen nasional sudah hampir dekat.” Sehun ikut menimpali.

Sementara kedua lelaki ini bercakap-cakap mengenai hal yang tidak ingin Ara ketahui, Ara merasakan ada yang aneh pada tubuhnya. Ia mulai merasakan panas walaupun udara masih saja dingin. Ramennya sudah habis beberapa saat yang lalu dan tanpa ia sadari kedua lelaki itu memperhatikan Ara.

“Jongin, wajahmu..”

“Kenapa dengan wajahku?” Potong Ara cepat. Ia mengambil ponsel Jongin dari saku celananya dan melihat pantulan dirinya pada layar ponsel itu. “Oh, wajahku!!” pekiknya saat melihat wajahnya mulai dipenuhi dengan bintik-bintik kemerahan.

“Apa yang baru saja kau makan, Jongin?” Timpal Yian, panik melihat keadaan sahabatnya.

“Dia barusan makan telur.” Jawab Sehun, memeriksa seluruh tubuh Jongin. Yian mengangguk. Ia sudah tahu jika temannya ini alergi pada telur. Tapi apa yang membuat lelaki ini berpikir untuk memakannya lagi setelah apa yang pernah terjadi padanya?

Ara tersadar dengan apa yang dilakukan oleh Sehun. Refleks ia memundurkan tubuhnya saat jaraknya dengan Sehun terlampau dekat. Mungkin bagi Sehun ini hal yang wajar mengingat mereka adalah sesama lelaki. Tapi bagi Ara yang berada dalam tubuh Jongin, jelas-jelas ini terasa aneh. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya merasa tidak nyaman. Ia tidak terbiasa berdekatan dengan para lelaki.

“Sehun, aku baik-baik saja. Sebaiknya aku harus ke UKS untuk meminta obat alergi.” Tandas Ara. Ia mengisyaratkan pada kedua lelaki itu jika tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dan perlahan ia melangkah menjauh.

“Jong, temui aku sekarang juga!!”

***

Setelah menerima panggilan Ara, Jongin langsung berlari menuju UKS, tempat Ara meminta bertemu. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada saudaranya itu, tapi mendengar nada suaranya yang serius, ia yakin pasti ada hal yang terjadi. Dan Jongin harap itu bukanlah hal yang buruk.

Jongin mempercepat langkah kakinya. Dalam hati ia mengumpat, kenapa gadis ini memiliki kaki yang begitu pendek? Ditambah rok yang ia pakai cukup ketat, membuatnya semakin sulit saja berjalan dengan cepat. Akhirnya Jongin memilih untuk berlari, walaupun tidak secepat larinya saat ia menjadi dirinya, tapi ini lebih baik daripada terus berjalan. Jongin bahkan menghiraukan siswa-siswi yang melihatnya dengan pandangan aneh saat ia berlari di sepanjang koridor.

Akhirnya setelah lelah berlari, Jongin sampai juga di depan UKS. Ia segera membuka pintu dan dengan nafas yang masih terengah-engah ia berjalan masuk, mencari Ara yang pasti berada di balik tirai-tirai itu.

“Ara..” Jongin bersuara, memanggil Ara sambil membuka tirai pembatas satu persatu.

“Aku diujung.” Jawab Ara dengan suara berat Jongin. Jongin mengerti dan berjalan menuju tirai paling ujung.

Sesampainya disana, ia menyibakkan tirai yang mengelilingi sebuah dipan kecil dan alangkah terkejutnya ia mendapati ada banyak bintik-bintik merah pada tubuhnya.

“A-apa yang terjadi?” Jongin jelas saja syok melihat keadaan tubuhnya.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku jika kau alergi pada telur, huh?” Ara bersungut marah. Ia menunjukkan lengan dan kakinya – lebih tepatnya tubuh Jongin – pada lelaki itu.

“Heol, jadi kau baru saja makan telur? Dasar bodoh! Kenapa tidak bertanya lebih dulu padaku?” Jongin ikut marah. Bagaimana bisa Ara begitu ceroboh dan membuat tubuhnya menjadi seperti ini?

“Yak! Memangnya aku harus bertanya padamu terlebih dulu jika aku ingin melakukan sesuatu? Salahmu sendiri tidak memberikan penjelasan yang lengkap padaku.” Ara tidak mau kalah. Ia tetap saja menyalahkan Jongin atas apa yang terjadi padanya – pada tubuh Jongin lebih tepatnya.

Jongin menyibakkan rambut panjang Ara yang mengganggunya. Ia merasa gerah walaupun udara sangat dingin di luar akibat amarahnya yang mendadak muncul. “Aku takut kau akan lupa jika aku memberitahu semuanya padamu.” Ungkap Jongin. Ia tengah sibuk mencari-cari sesuatu di dalam lemari yang tak jauh darinya.

“Kau lupa jika aku sangat pandai? Aku mampu mengingat semua hal sekalipun itu sudah terjadi puluhan tahun yang lalu dalam hidupku.” Kata Ara menyombongkan diri.

“Kau baru tujuh belas tahun, bodoh!” Jongin mengoreksi. Saudaranya ini jika berbicara suka berlebih-lebihan. Benar-benar hiperbola.

“Berhenti memanggilku bodoh, Jong.” Ara tidak terima.

Jongin menemukan apa yang dia cari. Di tangannya ada sebotol air mineral dan satu strip obat yang entah itu apa namanya. “Berhenti memanggilku dengan namaku saja, bodoh. Aku lahir sepuluh menit lebih cepat darimu.”

“Tapi kita lahir di hari yang sama, Jong.” Ara tetap saja ngotot. Orang tuanya pernah menyuruhnya untuk memanggil Jongin dengan sebutan ‘Oppa’ tapi ia tidak pernah melakukannya sampai detik ini. Yah, dengan alasan yang semua orangpun tahu.

“Minumlah.” Ucap Jongin, menyodorkan obat itu pada Ara.

“Apa itu?” Ara melihat satu strip obat yang dipegang Jongin.

“Ini obat alergi. Aku biasa minum ini saat alergiku kambuh.” Jelas Jongin, tapi Ara masih terdiam. “Cepatlah, sebentar lagi masuk.”

Tanpa banyak bicara, Ara menuruti ucapan Jongin. Ia membuka satu tablet obat itu dan meminumnya dengan cepat. Tak ada apapun yang terjadi, obatnya belum bekerja. Tidak seperti di iklan-iklan yang sembuh seketika setelah minum obat. Itu hanya trik pemasaran yang kuno.

“Mulai detik ini kau harus berhati-hati dengan apa yang kau lakukan.” Ucap Jongin. Ia hendak pergi namun sentuhan Ara di bahunya membuatnya menghentikan langkah.

“Jong, terimakasih..” Ucap Ara lirih, setengah ragu. Jongin masih bisa mendengarnya.

“Tentu. Aku hanya tidak mau terjadi hal yang buruk dengan tubuhku.” Jawab Jongin. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tanpa berbalik, ia melangkah keluar dari UKS.

***

Jam pelajaran sudah di mulai beberapa saat yang lalu. Ara duduk di tempat Jongin biasa duduk, tepatnya di samping Sehun. Awalnya Ara sempat heran, kenapa Jongin selalu bersama dengan lelaki itu? Bahkan sampai duduk di kelaspun harus bersebelahan. Walaupun jelas-jelas Ara tahu jika Sehun dan Yian adalah teman baik Jongin, atau mungkin sahabatnya, tapi tetap saja ini berlebihan untuk ukuran para lelaki. Ara saja tidak sampai sebegitunya.

Pelajaran berjalan begitu saja. Ara hanya diam di tempat duduknya, mendengarkan penjelasan guru. Di sampingnya, bisa ia lihat Sehun yang sibuk dengan kegiatannya menggambar sesuau di bukunya. Ara berdecak, kenapa bisa lelaki itu menyia-nyiakan waktunya padahal biaya sekolah sangatlah mahal.

“Baiklah, anak-anak. Untuk tugas minggu depan, Ibu ingin kalian mengerjakannya secara berkelompok.” Ucap Songsaenim yang sejak tadi menjelaskan pelajaran. “Silakan bentuklah kelompok yang terdiri dari empat orang dan berkumpul bersama kelompok kalian.”

Ara terkejut mendengarnya. Membentuk kelompok? Kira-kira ia akan sekelompok dengan siapa, ya? Ara tidak tahu siapa siswa yang paling pintar di kelas ini. Oh, Ara melupakan satu hal. Ia adalah Jongin untuk saat ini dan ia tidak tahu apa yang akan Jongin lakukan jika disuruh membuat kelompok. Jika ia adalah Ara yang biasanya, ia akan memilih satu kelompok dengan siswa-siswa tepandai di kelasnya. Selain mudah diatur, berkelompok dengan sesama siswa pandai itu banyak sekali manfaatnya dibandingkan berkelompok dengan siswa bodoh yang hanya akan menyusahkan diri sendiri saja.

“Hei, bagaimana kalau seperti biasa saja?” Dari arah belakang, Ara mendengar Baekhyun berbisik pada Sehun yang duduk di sampingnya. Sehun terlihat mengangguk dan langsung menatapnya, membuat Ara terkejut karena tertangkap basah tengah menatap lelaki itu.

“Jongin, seperti biasa saja, ya..” Sehun tak menyadari perubahan raut wajah Ara. Ia tersenyum penuh arti pada temannya itu.

“Maksudmu?” Ara terheran-heran.

“Kita akan satu kelompok.” Seru Baekhyun dan Yian bersamaan dari arah belakang. Ara memutar tubuhnya menghadap ke belakang. Jadi selain selalu bersama setiap saat, Jongin juga satu kelompok dengan mereka? Benar-benar tidak bisa dipercaya!!

Setelah Songsaenim menyuruh mereka untuk berkumpul bersama kelompok masing-masing, beliau membagikan selembar kertas berisi tugas yang harus mereka kerjaan pada masing-masing kelompok. Ara menerima kertas itu dan langsung membacanya. Dalam hati ia tersenyum, ternyata soalnya sangat mudah.

“Kalian bisa mulai mengerjakannya dan dikumpulkan minggu depan.” Ucap Songsaenim dan kembali duduk di meja depan kelas.

“Soal apa ini? Kenapa tidak ada yang bisa kumengerti?” Rutuk Baekhyun sambil mengacak-acak rambutnya karena frustasi melihat serentetan soal-soal itu.

Ara mengernyit. “Ini sangat mudah. Kau hanya tinggal mengalikan kedua sisi lalu membagi tiap sisi dengan jumlah yang sama, setelah itu….” Ara menjelaskan panjang lebar sambil mengerjakan soal nomor satu yang terlihat sangat mudah baginya. Ketiga lelaki itu memperhatikan dengan seksama penjelasan Ara yang berada dalam tubuh Jongin. “Apa kalian mengerti?” tanya Ara setelah menemukan jawaban dari soal nomor satu.

Ketiga lelaki itu terdiam, menatap Ara dengan pandangan yang sulit diartikan. Ara mengartikan kediaman mereka bahwa mereka paham dengan apa yang Ara jelaskan, sehingga ia berniat untuk membagi soal-soal itu agar setiap anggota kelompok mendapatkan jatah mengerjakan soal.

“Jongin, bisa kau ulangi?” Yian akhirnya membuka suara, membuat Ara yang hendak membagi soal terdiam.

“Iya, aku tidak paham sama sekali.” Sehun ikut menimpali.

“Ayo ulangi lagi, Jongin.” Celetuk Baekhyun. Matanya berbinar-binar. “Kau hebat sekali bisa mengerjakan soal sesulit ini. Terakhir kali yang kuingat kau mendapatkan nilai tiga di ujian semester lalu.” Sambung Baekhyun.

Rahang Ara hampir saja melorot mendengar penurutan ketiga lelaki itu. Ia pikir mereka sudah paham dengan penjelasannya dan tugas ini bisa diselesaikan dengan mudah. Tapi, kenyataannya mereka tidak mengerti sama sekali. Ditambah kenyataan bahwa Jongin benar-benar bodoh dalam pelajaran membuat ketiga temannya ini terheran-heran dengan kemampuan ajaib Jongin.

Ara menepuk dahinya. Ternyata, selain bodoh, Jongin juga berteman dengan orang-orang bodoh.

Di sisi lain…

“Permisi..”

Hana yang masih berkutat dengan buku tebal di depannya, menoleh saat merasakan lengannya di senggol oleh gadis di sebelahnya.

“Park Hana, bisa kau membantuku mengerjakan soal nomor tiga? Aku tidak paham sama sekali.”

***

Berkali-kali Ara menghembuskannya dengan berat. Ini baru sehari ia berada dalam Jongin dan rasanya sangat berat. Hari-hari Jongin sangat berkebalikan dengan dirinya dan hal itu membuatnya selalu gusar. Ia tidak pernah bisa menebak apa yang akan terjadi dan kehidupan yang Jongin jalani benar-benar membuatnya terkejut. Terlebih dengan teman-teman Jongin yang super duper bodoh itu. Bagaimana bisa Jongin betah berteman dengan mereka yang bahkan tidak bisa diambil keuntungan sama sekali. Ara menggeleng-gelengkan kepalanya sekali lagi.

DRRRRT…. DDDRRRRRT..

Ponsel yang berada dalam saku celananya bergetar. Ara langsung mengambilnya dan melihat panggilan dari Jongin. Ia segera mengangkatnya.

“Ya?”

“Kau tidak lupa jadwalku hari ini, ‘kan?” tanya Jongin dari seberang. Sekarang ini selain bertukar posisi, mereka juga bertukar ponsel.

“Tentu saja. Aku bersiap untuk pulang sekarang.” Jawab Ara enteng. Saat ini ia tengah berjalan keluar dari area sekolahnya. Jam pelajaran sudah berakhir beberapa saat yang lalu dan ia tidak sabar untuk merebahkan dirinya di dalam kamarnya yang nyaman.

“Hei, hari ini jadwal latihan basket sepulang sekolah.” Seru Jongin, membuat langkah kaki Ara terhenti.

Ya Tuhan, latihan basket!! Ara benar-benar lupa setengah mati.

“Yak!! Kenapa diam saja?” Jongin berteriak dari seberang. Ara menjauhkan ponselnya mendengar suara cempreng Jongin. Oh, itu adalah suaranya. Kenapa suaranya sangat tidak enak didengar, ya?

“Oh, ya, aku akan ke lapangan sekarang juga.” Kata Ara akhirnya, ia memutar tubuhnya dan berbalik.

“Jangan lupa seragam olahragaku ada di dalam loker. Kau tahu dimana lokerku, ‘kan?” Tanya Jongin memastikan.

“Iya. Kau sudah memberitahukannya padaku.”

“Baiklah. Akan kuhubungi nanti.”

BIIIP

Sambungan telepon terputus. Jongin yang tengah duduk di dalam mobil mendesah. Hidupnya menjadi semakin rumit saja.

***

Dengan tergesa-gesa Ara berlari memasuki lapangan indoor yang terletak di bagian paling belakang gedung sekolah. Hal itu cukup menguras tenaganya karena ia tidak terbiasa berlari sewaktu masih di dalam tubuhnya. Ia jarang mengikuti pelajaran olahraga dengan alasan sakit dan memilih untuk diberi tugas daripada disuruh berlari mengelilingi lapangan. Cih, seperti orang kurang kerjaan saja.

“Jongin, kau terlambat.” Seru Kim Minseok saat melihat Jongin masuk dengan nafas terengah-engah.

Ara melihat sekeliling. Mereka baru pemanasan rupanya. Ia bergabung dengan yang lainnya dan ikut melakukan pemanasaran.

“Untung saja Choi Songsaenim belum datang.” Bisik Sehun yang ternyata berada di sampingnya. Ara hanya mengangguk dan meneruskan pemanasan mengikuti yang lainnya.

Tak lama Choi Songsaenim pun datang. Ia segera membagi mereka menjadi dua tim dan menyuruh mereka untuk bertanding. Guru pelatih itu ingin melihat sejauh mana kemajuan latihan murid-murid didikannya setelah selama ini latihan. Peluit panjang dibunyikan tanda pertandingan akan dimulai. Ara berdiri dengan gelisah di tempatnya. Ia belum pernah bermain dan tidak bisa bermain basket. Bahkan, menyentuh bolanya saja tidak pernah. Hal itu membuat ketakutan tersendiri dalam diri Ara.

Saat Yian mengoper bola kearahnya, Ara hanya diam saja. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan hingga Baekhyun yang berada di tim lawan dengan mudah merebutnya dan berhasil memasukkannya ke dalam ring, membuat tim lawan unggul beberapa poin dari timnya. Beberapa orang yang satu tim dengan Ara memandangnya dengan kecewa, tak terkecuali Chanyeol.

Lelaki bermarga Park itu tiba-tiba saja mendekati Ara yang berada dalam tubuh Jongin. Dari raut wajahnya bisa dipastikan bahwa lelaki itu marah dan hendak melayangkan kekecewaannya pada temannya itu.

“Jongin, apa yang kau lalukan?” Teriak Chanyeol, membuat pertandingan terhenti seketika.

“A-aku..” Ara terbata-bata, tak bisa melanjutkan kalimatnya. Jujur, ini pertama kalinya berada dalam situasi seperti ini. Semua pasang mata tertuju padanya dan Jongin. Dan jangan lupakan jika mereka semua itu laki-laki!

“Hei, pertandingan semakin dekat. Kau bisa tidak serius sedikit?” Chanyeol berkata sambil mendorong tubuh Jongin, membuat Ara mundur selangkah demi selangkah. Ia tidak terbiasa berurusan dengan lelaki selain Jongin dan situasi ini benar-benar tidak mengenakkan baginya.

“Iya, apa yang terjadi pada dirimu?” Baekhyun ikut bertanya. Walaupun ia berada di tim lawan, tapi Baekhyun adalah temannya, dan mereka akan sama-sama bertanding untuk melawan sekolah lain saat turnamen berlangsung nanti.

Ara terdiam. Ia tak mampu menjawab. Itu adalah hal yang ia khawatirkan sejak berada dalam tubuh Jongin. Mereka pasti akan curiga jika melihat Jongin yang biasanya sangat lihai bermain basket tiba-tiba saja kehilangan kemampuannya itu. Mereka pasti akan bertanya-tanya.

Choi Songsaenim melerai mereka. Ia mendekati Jongin dan menatapnya intens. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi nasib tim kita tergantung padamu.” Ucapnya, membuat Ara tidak mengerti. “Kau adalah pemain paling hebat dalam tim ini. Tapi jika kau begini terus, lupakan untuk bisa masuk final.” Sambungnya, membuat yang lainnya mendesah kecewa.

“Jongin, aku tidak mau tim kita kalah hanya karena kau mengacaukan segalanya!!” Ucap Chanyeol masih tetap tidak terima. Ia bahkan sampai mendorong Jongin hingga membuat tubuhnya terjatuh. Jongin, walaupun ia laki-laki tapi jiwanya adalah seorang perempuan, tidak memiliki kekuatan untuk bisa menahan dirinya.

“Jika sekali lagi kau seperti itu, kupastikan kau akan berurusan denganku.” Sambung Chanyeol, yang sepertinya masih saja marah. Tentu saja, ia berharap banyak pada turnamen dan tidak mau tim mereka gagal masuk final.

Ara tersinggung mendengar ucapan Chanyeol. Lelaki itu sangat kasar dan tidak punya sopan santun. Kata-katanya benar-benar menyinggungnya hingga ke dalam hatinya yang terdalam. Selama ini, ia tidak pernah menyinggung siapapun dan kini ada laki-laki yang berani menyinggungnya. Ia tidak terima. Ia bukanlah orang yang akan menyusahkan orang lain. Ia tidak pernah mengganggu lelaki itu dan bagaimana bisa ia berkata sekasar itu padanya?

Maka Ara bangkit dan membersihkan pakaiannya yang kotor terkena debu. Ia merebut bola yang dipegang oleh Yian dan melemparnya hingga tepat mengenai wajah Chanyeol, membuat lelaki itu berteriak dan sesaat tubuhnya langsung terhuyung ke belakang.

“KIM JONGIN!!!!! Kau dihukum push up seratus kali!” Teriak Choi Songsaenim marah melihat apa barusan Jongin lakukan pada Chanyeol. Ia langsung membubarkan latihan hari ini dan menyuruh semunya pulang, terkecuali Jongin.

“Aish, sialan!!” Umpat Ara. Enak sekali pelatih itu menyuruhnya  push up seratus kali.

“Kenapa diam saja?” Choi Songsaenim ternyata belum pergi. Ia menatap Jongin marah. “Kau tidak lupa ‘kan ada CCTV yang terpasang di setiap sudut lapangan ini. Jika kau tidak melakukan hukumanmu, kupastikan kau akan mendapatkan yang lebih berat dari ini!!” ucapnya yang terdengar seperti ancaman bagi Ara.

Ara menghembuskan nafasnya pasrah. Ia akhirnya melakukan push up karena tak ingin Jongin sampai terlibat masalah hanya karena dirinya. Jika sampai Jongin mengetahui hal ini, ia pasti akan membuat hidup Ara tidak tenang.

“Sembilan puluh tujuh.. sembilan puluh delapan…. S-sembilan.. puluh.. sembilan…. Se-ra…tus.”

Ara langsung ambruk setelah hitungan keseratus. Otot-otot tangannya sepertinya kaku karena ia tidak pernah push up sebelumnya. Bukankah sudah dikatakan jika Ara tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga, itu artinya dia tidak pernah berolahraga sekalipun itu hanya lari-lari kecil. Ia terbiasa dimanja oleh Ibunya sejak kecil.

Sebuah tangan terulur tepat di hadapannya. Ara menengadahkan kepalanya dan melihat Sehun yang mengulurkan tangan kanannya. Di tangan kirinya ada sebotol air mineral dan handuk putih yang terkalung di lehernya.

“Bangunlah. Aku akan membuatmu mengingat betapa hebatnya dirimu saat bermain basket.”

“Oh Sehun…..”

TBC~

Akhirnya… *usap keringet* capter 3 selesai juga.

Butuh perjuangan untuk menyelesaikan chapter ini karena ideku tiba-tiba menghilang begitu saja. Aku harap kalian gak kecewa dengan chapter 3 yang ceritanya semakin jelek saja. Makasih buat admin yang udah mau publish dan makasih juga buat yang udah nyempetin waktunya untuk baca FF gaje ini. Jangan lupa kritik dan sarannya setelah kalian membaca FF ini.

Ariana Kim~

Iklan

6 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Love in Time (Chapter 3)

  1. yah, udah tbc lagi .. kebayang deh kalau aku ada di posisi jongin n ara pasti bingung banget harus jadi orang lain,serba salah.. next next

  2. Aku harap mereka dengan bertukar jiwa ini bisa saling menghargai sesama saudara kembar, bisa makin peduli. Semoga mereka bisa akur terus dengan pertukaran jiwa ini. Walaupun aku nggak tau kenapa jiwa mereka bisa bertukar gitu.
    Next nya jangan lama-lama ya thor.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s