[EXOFFI FREELANCE] I Won’t Let You Go” (Chapter 1)

PhotoGrid_1486754110654.png

Title        :    “I Won’t Let You Go” Chapter 1

Author        :    jichooxjnt

Length        :    Chaptered

Genre        :    Romance

Rating        :    PG-13

Cast        :

Blackpink’s Jisoo as Kim Jisoo

EXO’s Sehun as Oh Sehun

iKon’s Bobby as Bobby Kim, etc…

Disclaimer    :

Keseluruhan ide dan cerita adalah milik saya, belum pernah di post di manapun, dan mohon maaf jika ada kemiripan ide atau beberapa bagian dalam FF ini. Itu semua adalah ketidaksengajaan.

Note:

Ini adalah fanfiction SMxYG pertama saya. Mohon maaf jika banyak typo. Semoga para pembaca mau meluangkan waktunya untuk menuliskan saran agar saya lebih terpacu lagi dalam melanjutkan tulisan fiksi ini. Terimakasih, selamat membaca^^

Mencintai seseorang dengan tulus bukanlah perkara mudah. Setidaknya, itulah yang dialami oleh Kim Jisoo. Bertahun-tahun, hatinya jatuh pada seorang pria, yang bahkan mungkin, pria itu tidak tau perasaan Jisoo, atau pria itu tau, tapi pura-pura tidak tau. Bagaimana dia memperjuangkan perasaannya sendirian, mencintai dalam diam, mengagumi dari kejauhan, dan berkorban demi pria itu; mungkin pria itu tidak tau atau dia menutup mata dan telinganya rapat-rapat?

Pria itu, Oh Sehun. Hanya Oh Sehun. Selama bertahun-tahun, hanya Oh Sehun yang ada didalam hati gadis itu, Kim Jisoo. Pertemuan singkat yang berujung pada jatuh hati yang teramat dalam, membuat Jisoo bahagia sekaligus sakit.

***

=2008, Setelah SM Casting System; SM Ent. Building=

Para trainee baru berkumpul untuk pertamakalinya setelah audisi berakhir, di gedung SM Entertainment. Gedung kecil yang telah melahirkan bintang terkenal seperti H.O.T, S.E.S, DBSK, Super Junior, dan bahkan SNSD itu, menjadi tempat yang kini sangat berarti bagi puluhan trainee baru ini.

Hanya sekitar 15 trainee baru yang kali ini berkumpul. Terdiri dari 8 trainee laki-laki dan 7 trainee perempuan usia belasan tahun. Mereka menerima banyak pengarahan yang akan berguna selama mereka menjalani masa trainee di perusahaan agensi itu.

Mereka menggunakan nametag yang terpasang di dada kiri mereka. Ada Oh Sehun, duduk diantara para trainee laki-laki yang ada di sisi kiri ruangan itu, sedangkan Kim Jisoo, duduk disisi kanan, diantara trainee perempuan lainnya.

Kim Jisoo berjalan menyusuri lorong gedung itu. setelah acara pengarahan tadi, ia berniat untuk menemui pamannya yang bekerja disini, di SM Entertainment. Tiba-tiba, tidak sengaja dia ditabrak seorang anak laki-laki. Ia terjatuh, anak laki-laki itu juga ikut terjatuh.

“Aww” Jisoo meringis ketika kakinya diduduki oleh laki-laki itu.

“M..maaf, aku tidak sengaja” laki-laki itu membantu Jisoo berdiri. Jisoo melihat nametag di dada kiri laki-laki itu. Oh Sehun.

“Kau trainee baru juga ya?” tanya Jisoo ketika Ia sudah bangkit berdiri.

Laki-laki itu mengangguk. “Kau juga kan?”

Jisoo tersenyum antusias. “Aku tidak apa-apa. Kau mau kemana?” kini Jisoo bertanya. Senyum kecil menghiasi wajahnya.

“Aku mau ke stasiun kereta bawah tanah”

Sehun membungkuk dan hendak pergi. Namun tiba-tiba Jisoo menahan tangan laki-laki itu.

Sehun menatapnya bingung.

Refleks, Jisoo melepaskan tangannya dari tangan laki-laki itu. Ia menatap Sehun penuh keraguan.

“Mmm, anu- maukah kau menjadi temanku?” wajah gadis itu memerah ketika melontarkan pertanyaan itu.

Sehun tersenyum tipis. Ia mengangguk.

“Eo, tentu saja”

Itu bukanlah pertemuan pertama bagi Kim Jisoo dan Oh Sehun. Saat hari dimana mereka audisi, Jisoo sudah melihat Sehun. Sehun mulai menarik perhatian Jisoo saat dia memberi makan seekor anak anjing yang kelaparan. Anak anjing itu tidur didepan gedung dan dari banyaknya orang yang ada disana, hanya Sehun yang memberinya makan.

Mulai saat itu, Jisoo selalu tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Sehun.

Setiap hari, Jisoo menggambar wajah Sehun. Ya, Jisoo suka menggambar sejak kecil. Wajah Sehun menjadi gambar sketsa wajah pertama yang dibuat Jisoo. Setiap hari, Jisoo menggambar wajah Sehun.

Jisoo juga menggambar Sehun saat memberi makan anak anjing.

Jisoo menggambar Sehun saat membantunya berdiri.

Jisoo juga menggambar Sehun saat dia sedang menari.

Sehun adalah orang yang membuat Jisoo bersemangat selama trainee. Sehun adalah alasan mengapa Jisoo berlatih menari dengan keras, alasan mengapa Jisoo tetap bertahan menjalani trainee sekalipun sebenarnya dia ‘tidak sanggup’.

Sehun adalah alasan menagapa Jisoo selalu meminta dibelikan buku gambar oleh ibunya, bahkan hampir setiap minggu. Itu semua karena Jisoo selalu menggambar Sehun. Setiap hari. Sejak Jisoo melihat Sehun untuk pertama kalinya.

Jisoo menangis ketika dia merasakan rasa sakit di dadanya. Ia sesak napas. Sudah 3 bulan semenjak ia bergabung dengan agensi ini, ia merasa sangat tertekan. Seorang pria datang menghampiri Jisoo yang sedang duduk di pojok ruang latihan dance. Pria itu berjongkok, mengangkat wajah Jisoo.

“Paman..”

“Jisoo-ya, jangan lemah. Kau harus bertahan disini, kumohon” paman itu menatap Jisoo dengan penuh rasa iba. Jisoo mengangguk lemah dan menyeka air matanya.

“Aku akan jadi idol agar bisa melunasi hutang ayah. Aku janji, paman”

=2009=

“Jisoo-ya” seorang wanita menangis ketika melihat Jisoo, terbaring lemah di tempat tidur Rumah Sakit. Wanita itu terus menangis. Dia menggenggam erat tangan putrinya.

“Kondisinya sangat lemah, nyonya. Ini sudah kali ketiga dalam seminggu ini, dia dilarikan ke Rumah Sakit. Aku khawatir karena Jisoo sangat lemah. Jantungnya semakin lemah, dia tidak bisa menjalani aktifitas yang berat. Kondisi ini sangat serius, nyonya” ujar seorang dokter yang berdiri dibelakang nyonya Kim, ibu Jisoo.

Nyonya Kim menatap nanar kepada Jisoo.

“Dia bersikeras belajar menari, dokter Jung. Dia bersikeras ikut trainee di perusahaan agensi untuk membayar hutang Sungsoo”

Dokter Jung terkejut.

“Pantas saja. Nyonya, sebaiknya Jisoo tidak melakukan itu semua. Maksudku, dia belum mampu banyak bergerak. Sejak kecil jantungnya sangat lemah. Dia tidak boleh lelah. Sudah berapa lama dia trainee?”

“Hampir setahun, dokter”

Dokter Jung semakin terkejut. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Air mukanya berubah menjadi sangat serius.

“Nyonya, sejak kecil aku merawat Jisoo seperti aku merawat putriku sendiri. Aku tidak tau kalau selama ini Jisoo menjalani trainee di perusahaan agensi atau apapun itu, aku tidak tau dan jujur aku sedikit kecewa pada Anda. Kenapa harus Jisoo yang bekerja keras?” dokter Jung berhenti sejenak.

“Sejak kecil fisik Jisoo sangat lemah dan sedikit berbeda dari anak-anak lainnya. Kau tau itu, tuan Kim juga tau, dia bahkan diejek teman-temannya karna tidak kuat berlari. Jisoo butuh perlakuan khusus. Trainee bukanlah hal yang baik bagi Jisoo, nyonya”

“Aku tau” sela nyonya Kim.

Dokter Jung membelai rambut Jisoo.

“Sebaiknya, Jisoo berhenti latihan menari. Alihkan saja ke yang lain. Misalnya music. Dia masih bisa menyanyi atau menggambar, tapi tidak dengan menari atau hal-hal yang menguras tenaga”

Selama hampir setahun menjalani kehidupan sebagai trainee, Jisoo mengalami banyak kesulitan. Fisiknya sangat lemah, membuat pelatih menari mereka merasa iba.

Jisoo bukanlah tidak punya kemampuan, skill menarinya bagus, sangat bagus. Dia sangat cepat memahami koreografi yang diajarkan, dia juga sangat baik dalam melakukan gerakan-gerakan sulit. Dibanding teman-temannya yang lain, Jisoo lebih mudah dilatih.

Namun kesehatannya semakin memburuk. Jisoo semakin sering pingsan. Jadwal latihan yang padat, serta jadwal belajarnya saat akan menghadapi ujian kelulusan SMP, membuat dia sering jatuh pingsan.

Jisoo berdiri didepan ruang latihan dance. Matanya sejak tadi terus memperhatikan Sehun yang sedang berlatih dengan anak-anak lainnya. Jisoo tersenyum miris.

Sadar ada yang memperhatikannya sejak tadi, Sehun keluar ruangan. Sehun menatap Jisoo bingung.

“Jisoo-ya”

Jisoo menoleh. Ia bahkan tidak sadar kalau Sehun sudah keluar.

“Eo, Sehun-ah”

Sehun berjalan mendekati Jisoo. Sambil menyeka keringat di dahinya, Sehun terus memperhatikan Jisoo.

“Kau kenapa? Kau habis menangis ya?”

Reflek, Jisoo menyeka airmatanya. Ia memaksakan diri untuk tersenyum dihadapan Sehun.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Sehun-ah”

“Apa?”

“Aku mengundurkan diri.. A-aku berhenti ikut trainee”

Sehun sedikit terkejut.

“Loh, kenapa? Kau akan sangat jago menari. Suaramu juga sangat bagus”

“Menjadi idol bukanlah keinginanku, Sehun-ah”

Jisoo mengeluarkan sebuah buku gambar dari tasnya. Sehun menatapnya bingung. Jisoo menyodorkan buku itu dan mengambil tangan Sehun untuk menerimanya.

“Aku membuatnya. Untukmu”

Sehun menerima buku itu dengan ragu dan tatapan yang masih bingung.

Jisoo memundurkan kakinya.

“Sampai jumpa, Sehun-ah”

Jisoo berbalik dan berlari. Ia menangis.

“Ji..Jisoo-ya!” Sehun memanggil Jisoo yang sudah menjauh.

Jisoo menangis semakin kencang. Kata-kata ibunya kembali muncul diingatannya. Kata-kata yang dilontarkan ibunya kemarin.

“Jisoo-ya, ibu tidak mau penyakitmu makin parah. Berhentilah trainee dan mari kita fokus dengan pengobatanmu”

=2010, Setelah Kelulusan SMP=

School of Performing Arts Seoul

Kim Jisoo dan ibunya berjalan menuju mobil yang sudah menunggu mereka. Pasca lulus dari SMP, Jisoo tetap ingin belajar seni. Setelah beberapa bulan menjalani pengobatan, Jisoo sudah membaik dan mulai bisa beraktifitas dengan baik.

Jisoo tersenyum ketika mengingat bagaimana dia bisa memilih sekolah ini sebagai tempatnya untuk melanjutkan pendidikan.

“Paman, Sehun.. Dimana dia akan melanjutkan sekolah?” tanya Jisoo pada pamannya.

“Sekolah seni Seoul (SOPA). Apa kau mau mengikutinya?”

Jisoo mengangguk antusias. “Tentui”

Pria itu menatap Jisoo. Tangannya memegang bahu Jisoo.

“Kau tidak boleh menari lagi, Jisoo-ya”

“Aku akan ambil jurusan seni murni, paman. Aku sudah janji pada ayah dan ibu untuk tidak menari lagi” jawab Jisoo cepat. Jisoo mencoba meyakinkan pria yang kini menatap dalam ke manik matanya.

Pria itu menghembuskan napasnya.

“Hah.. Baiklah Kim Jisoo. Kau memang keras kepala seperti ayahmu”

Jisoo terkekeh pelan.

“Paman Youngmin juga keras kepala seperti ayah. Kita sama” mereka pun tertawa bersama.

Ibu Jisoo menepuk pelan pundak Jisoo

“Jisoo-ya, eomma mau ke toilet. Apa kau mau ikut?” pertanyaan itu sukses membuat Jisoo tersadar.

“Ani.. Aku tunggu eomma di mobil saja”

“eo.. baiklah”

Jisoo duduk didalam mobilnya. Ia melihat pemandangan indah sekolah ini. Masuk ke sekolah ini tidaklah mudah. Begitu jelas diingatannya bagaimana ketika pertama kali ia mendaftar dan ikut audisi. Audisi, hanya untuk masuk ke sekolah ini. Senyumannya kembali muncul ketika Ia teringat pertemuannya dengan Sehun. Ia mendaftar di tahun yang sama dengan Sehun. Ia melihat Sehun ketika sedang menunggu giliran wawancara.

Jisoo kembali mengambil buku gambar dan pensilnya. Tangannya mulai lincah, menciptakan sebuah sketsa indah, tentu saja, gadis itu kembali menggambar Sehun. Menggambar objek yang ia lihat ketika test wawancara.

Sehun mungkin tidak menyadari bahwa setiap hari, selalu ada yang memperhatikan gerak geriknya, sambil menggambar apa yang dia lakukan. Jisoo selalu melakukannya. Sehun juga tidak sadar jika Jisoo ternyata berada di sekolah yang sama dengan dirinya. Walaupun berbeda jurusan, berbeda gedung, tapi Jisoo selalu berhasil mengikuti Sehun.

Selama 3 tahun sekolah di sekolah yang sama, Jisoo hanya memperhatikan Sehun dari kejauhan. Saat itu, di tahun kedua, sebenarnya Jisoo ingin menyatakan perasaannya pada Sehun. Namun, ia langsung mengurungkan niatnya itu ketika pamannya memberitau bahwa Sehun akan segera debut.

Bagi Jisoo, berita itu seperti badai yang menerjangnya. Jisoo sadar, Sehun tidak tau jika Jisoo berada di sekolah yang sama dengannya. Jisoo juga sadar bahwa Jisoo tidak akan bisa seperti Sehun, menjadi idol. Itu karena fisiknya. Jisoo bahkan menolak tawaran pamannya yang akan menjadikan dia sebagai aktris karena ibunya tidak mau Jisoo bekerja terlalu berat.

Dan selama itu pula, Jisoo tetap menggambar Sehun. Entah sudah berapa banyak buku yang habis karena Jisoo selalu menggambar setiap hari. Dalam sehari, Jisoo bisa membuat 3 sampai 6 gambar. Dan semua gambar itu adalah kegiatan Sehun. Di kantin, di lapangan, saat pulang sekolah, Jisoo terus membuntuti Sehun. Seperti seorang maniak. Jisoo begit tergila-gila akan sosok Sehun yang sebentar lagi semakin jauh dari jangkauannya.

=2013; Graduation Day=

Jisoo meremas roknya. Ia gugup setengah mati. Hari ini adalah kesempatan terakhirnya untuk muncul dihadapan Sehun dan menyatakan perasaannya.

“Jisoo!” suara seorang pria mengagetkan Jisoo.

Jisoo menoleh. “Eo, Bobby” gadis itu tersenyum kikuk.

Pria itu, Bobby. Sahabat Jisoo yang lulus tahun lalu. Ia datang membawa sebuket bunga sebagai tanda ucapan selamat untuk Jisoo. Ia memberikan bunga itu dan Jisoo menerimanya dengan senang hati.

“kau sudah bilang padanya?” tanya Bobby yang memang sudah mengetahui rencana sahabatnya itu.

Jisoo meletakkan bunga itu di kursinya. Ia menatap Bobby dengan tatapan memelas

“Kurasa lebih baik aku-”

“Lebih baik kau cepat kesana dan nyatakan perasaanmu sebelum dia dikeremuni fans” potong Bobby cepat sambil menarik tangan Jisoo. Jisoo segera menghentikan Bobby. Membuat Bobby mengendus kesal.

“Oh ayolah Kim Jisoo. Ini kesempatan terakhirmu sebelum kau pindah”

Jisoo menunduk. Tangannya mencengkram tangan Bobby.

“Yak. Kau hanya menyatakan perasaanmu kan? Bukan mau mengajaknya kencan atau pacaran kan? Oh ayolah Kim Jisoo ini sudah lima tahun dan kau-“

“Aaaarasseo” Jisoo segera memotong perkataan Bobby sebelum ada oranglain yang mendengar suara Bobby yang volumenya sangat keras.

Jisoo berjalan perlahan menghampiri tempat Sehun yang sedang mengobrol dengan teman-temannya. Jisoo merasa takut. Entah apa yang ditakutkan, tapi Jisoo merasa tidak perlu melakukan ini karena toh, sebentar lagi dia akan pindah dan tak akan bertemu Sehun lagi. Setidaknya itu yang ada di dalam pikirannya.

Ekor mata Sehun menangkap sosok gadis yang tengah menunduk dan posisinya galau, antara mau maju atau mundur. Sehun merasa bahwa gadis itu hendak menghampirinya.

“Ha..”

“Palliwa!” seketika Sehun berhenti ketika dia melihat ada pria yang mendorong gadis itu hingga tubuh gadis itu menubruk tubuhnya.

“Ahh” gadis itu meringis dan terkejut melihat siapa yang ditubruknya.

Sehun tampak ingin marah pada pria itu namun pria itu langsung kabur. Betapa terkejutnya Sehun ketika melihat siapa gadis yang kini tepat dihadapannya.

“Ji-Jisoo? Kau kah itu?”

Akhirnya Jisoo menatap Sehun. Dengan wajah yang memerah, Jisoo menatap Sehun sambil tersenyum kikuk.

Wajah Sehun menunjukkan ekspresi muka terkejut. Jisoo semakin gugup. Wajah Sehun kini ada didepan wajahnya.

“Ya, kau ternyata sekolah disini… Kenapa aku bisa tidak tau”

“Aku mau memberikan ini sebagai kenang-kenangan” Jisoo memotong ucapan Sehun sambil memherikan sebuah amplop coklat.

Dahi Sehun mengkerut.

“Apa ini gambar yang kau buat?” tanya Sehun yang teringat kembali akan kejadian beberapa tahun lalu; ketika Jisoo berpamitan dan memberikan buku gambar padanya.

Jisoo tersenyum miris. “Lihat saja sendiri. Tapi jangan disini”

Sehun menerima amplop itu.

“Sekarang apa kesibukanmu?” entah apa yang membuat Sehun bertanya pertanyaan tak terduga itu. Bagi Jisoo, itu adalah pertanyaan tak terduga karena Jisoo berpikir Sehun tidak akan banyak bertanya mengingat mereka berada di keramaian dan pasti banyak kamera yang sedang merekam Sehun. Tunggu-

“Sehun-ah, kurasa tidak baik jika aku mengobrol lama denganmu. Langsung saja ke intinya”

Sehun memandang Jisoo dengan wajah serius. Seakan ia penasaran dengan apa yang akan dikatakan Jisoo.

Jisoo menarik napasnya dan menghembuskannya. Berusaha menenangkan dirinya dari kegugupan.

“Sehun-ah, aku tidak tau kau sadar atau tidak. Tapi- Aku menyukaimu. Ani. Aku mencintaimu. Perasaanku sudah lama muncul. Pertama kali saat aku melihatmu di audisi. Ku pikir itu hanya cinta monyet anak remaja tapi ini bahkan sudah lama ku pendam”

Ia berhenti sejenak dan mengambil napas lagi.

“Aku bilang begini karena setelah ini mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi. Aku baru saja mendapat beasiswa kuliah di luar negeri dan aku akan pindah besok lusa. Setidaknya, aku sudah mengakui perasaanku dan aku sudah berhenti membohongi diriku sendiri”

Sehun menatap Jisoo dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun dibalik itu semua, Jisoo tersenyum lega. Ya, hatinya sudah lega.

“Selamat atas kelulusanmu. Sukses dengan karirmu. Aku akan selalu mendukungmu sampai kapan pun. See you on the top, Sehun-ah. Selamat tinggal” Jisoo segera berbalik dan berlari menjauhi Sehun yang masih terpaku di tempatnya.

Jisoo berlari…

Berlari dengan airmata yang mengalir, ditengah keramaian…

Berlari tanpa menoleh kebelakang…

Berlari tanpa menyadari ada sepasang mata yang terus menatap punggungnya…

Mata itu memerah, siap mengeluarkan bulir-bulir air…

Aku tau” mata itu yang berbicara.

***

=Januari 2017=

‘Welcome to Korea’

Spanduk besar yang terpampang di bandara Incheon menyambut para penumpang yang hendak keluar bandara. Cuaca dingin awal tahun membuat orang-orang mengeratkan mantel mereka. Banyak hiasan terpampang di setiap sudut bandara. Walaupun sudah lewat, tapi hiasan natal masih di pajang dan ditambah dengan hiasan khusus tahun baru.

Kim Jisoo mengikat tali sepatunya yang terlepas. Sambil menggigit passport, Ia berjongkok ditengah keramaian pengunjung. Tiba-tiba sepasang kaki dengan sengaja mendorong punggung Jisoo hinga dia terhuyung.

“Yak!”

Tangan Jisoo menarik sebelah kaki itu dengan gemas.

“Ya! Ya! Sakit!” si empunya kaki meringis. Tanpa ampun, Jisoo menarik kaki itu hingga orang yang ditarik terjatuh dengan sedikit dramatis.

“Tolong bersikap sedikit lebih dewasa, Bobby. Kau sangat kekanakan” Jisoo bangkit berdiri. Bobby hanya memberikan cengiran khas miliknya.

“Ohh, baiklah nona wakil direktur” jawab Bobby dengan nada meledek. Dia bangkit berdiri dan memandang lurus ke mata Jisoo.

“Sebentar lagi aku jadi bodyguard wakil direktur. Terdengar menggelikan, ‘kan?” pria tinggi itu kembali memberikan cengiran yang dibalas jitakan keras tepat di kepalanya.

Jisoo berjalan melewati Bobby. Bobby mengikuti langkah Jisoo.

“Aku tidak menyangka bahwa kau akan pulang seperti ini”

Jisoo berhenti, membuat Bobby juga berhenti dan menabrak tubuh Jusoo.

“Yakk!”

“Lihat ini” Jisoo menarik kepala Bobby hingga menatap sebuah poster.

Bobby mendengus kesal.

“Apa maksudmu? Aku tau mereka adalah EXO”

Jisoo menjitak kepala sahabatnya itu dengan keras hingga tangannya pun terasa sakit.

“Sebentar lagi aku akan bertemu Sehun. Aku merasa seperti mimpi”

“Kalau begitu cepatlah bangun dan bekerja! Ck” Bobby berdecak kesal. Dia berjalan meninggalkan Jisoo yang masih berdiri memandangi poster idol masa kini.

“Kalau kau masih berdiri disitu, kau tidak akan pernah bertemu pujaan hatimu” ucapan terakhir Bobby membuat Jisoo tersadar dan langsung berjalan mengejar Bobby.

Jisoo dan Bobby sudah berada didalam mobil yang memang telah di siapkan untuk menjemput mereka. Mereka duduk bersebelahan. Jisoo meletakkan kepalanya di bahu Bobby sambil memainkan ponselnya.

“Hanya 3 bulan kan?” tanya Bobby sambil melirik ponsel Jisoo yang menampilkan foto Sehun.

Jisoo mengangkat kepalanya dan menatap Bobby. Bola matanya memutar.

“Hmm.. Apa kau tidak ikhlas membantuku?” tanya Jisoo dengan nada kesal.

Bobby menggeleng.

“Ani. Aku hanya ingin cepat-cepat lulus dan mendapat gelar sepertimu”

Jawaban Bobby membuat Jisoo terkekeh.

“Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal dengan benar padanya”

“Kau pikir, apa dia akan peduli dengan pengakuanmu?”

Jisoo menatap Bobby dan menempelkan dahinya di dahi Bobby. Jarak mereka sangat dekat. Seperti sepasang kekasih, padahal bukan.

“Dia peduli atau tidak, yang penting aku tulus”

Bobby tersenyum meremehkan dan menjauhkan dahi Jisoo dengan jari telunjuknya.

“Jangan banyak bermimpi, bodoh. Dia seorang superstar sekarang”

“Aku tidak peduli. Anggap saja aku fansnya”

“Kau maniak”

“Yak!” Jisoo menjitak kepala Bobby dengan keras. Sejenak, dia terdiam. Beberapa tahun lalu, dia seperti maniak. Dia merenung dan berpikir bagaimana Sehun berpikir tentangnya. Seorang gadis yang menggambar?

Tiba-tiba Jisoo memandangi Bobby. Merasa tidak nyaman, Bobby berdecak kesal.

“Mwo?”

“Menurutmu, apa yang Sehun lakukan dengan buku gambar dan kertas hasil gambarku?” pertanyaan Jisoo menggeletik ditelinga Bobby.

Bobby tertawa, “Dia akan membuang kertas-kertasmu. Kau hanya memberinya sampah. HAHA”

Seketika air muka Jisoo berubah menjadi murung. Tawa Bobby terhenti.

“Untuk apa berpikir soal gambarmu? Dia bahkan tidak berniat mencari tau tentangmu. Jadi, berhentilah berharap dan lakukan saja apa yang harus kau lakukan disini”

SM Entertainment Building. Tempat yang dulunya hanya gedung biasa, kini berubah menjadi tempat wisata bagi turis yang ingin melihat ‘rumah’ bagi para bintang hallyu. Kini Jisoo dan Bobby sudah sampai di gedung yang sebentar lagi akan menjadi rumah kedua mereka di Seoul. Jisoo melirik Bobby yang sejak di perjalanan sudah tertidur pulas. Gadis itu mengguncang tubuh Bobby dan sesekali memukul lengan kekar pria itu.

“Bobby, wake up.. Kita sudah sampai”

Bobby tersadar dan matanya seketika membesar ketika ia melihat penampakan gedung dari dalam mobil.

“Yakk kenapa kesini? Harusnya kita langsung ke apartemen!”

Lagi-lagi Bobby berdecak kesal. Jisoo tidak mempedulikan pria itu dan keluar dari mobilnya. Ia berpamitan dengan supir yang membawanya kesini.

Bobby yang masih mengantuk, lebih memilih untuk tidur di mobil.

Jisoo berdiri didepan gedung yang kini sudah terlihat mewah. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menekan-nekan layar itu. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya sambil menikmati pemandangan sekitar gedung.

“Eo.. Paman.. Aku sudah sampai di kantor..”

Beberapa detik kemudian, mata Jisoo membesar ketika Ia melihat beberapa pria baru saja keluar dari gedung itu. Satu dari antara pria-pria itu adalah orang yang Ia cari. Oh Sehun!

Mereka berjalan kearah Jisoo. Mata Jisoo tak berkedip memandangi sosok Sehun yang terlihat tampan dengan topi hitam dan kaos putih serta celana jeansnya.

“Sehun…”

Dunia Jisoo serasa berhenti. Namun tiba-tiba…

#To Be Continue.

jichooxjnt

Iklan

7 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] I Won’t Let You Go” (Chapter 1)

  1. wahh ff nya bagus thor, si sehun kayaknya juga suka deh ama jisoo,,jisoo jadi wakil direktur apa tu? jadi penasaran!!!!ditunggu kelanjutannya thor fighting!!!!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s