[EXOFFI FREELANCE] HAVOC (Chapter 3)

havoc-new-cover

H A V O C

| Cast : All member EXO-K, Kang Hye-na OC, Kim Hyun-ji OC, Cho Ji-hyun OC, Han Ji-hee OC, Park Rae-sun OC, Kwon Min-ah OC|

|Genre : Romance, Fantasy, Sci-fi, School life|

| Leght : Chapter |

| Rating : PG 15+ |

|Discalimer : All cast in this FF belong to GOD and their parent. All plot in this story belong to me and ONLY me. Also I publish this FF in my Wattpad Account @96dreamgirl |

EXO’s Fanfiction by Hecate Helena

— HAVOC—

Chapter 3

“What kind of creature you are?”

H Y E N A

Biasanya aku selalu suka hutan. Bau tanah yang basah, udara yang menyejukan, dan juga suara-suara binatang di kejauhan sana. Hutan selalu membuatku nyaman. Di saat aku terlalu lelah untuk menghadapi semua kesedihanku, hutan selalu menjadi tempat favoritku untuk menyendiri. Tapi malam ini tidak. Bukan karena aku mulai membenci hutan, tapi karena situasiku saat ini.

Sejak beberapa menit yang lalu, aku tersaruk-saruk mengikuti seorang gadis sinting yang menarikku. Dia membawaku lebih dalam dan lebih dalam lagi ke dalam hutan. Sama sekali tidak peduli padaku yang beberapa kali hampir terjatuh atau tanganku yang mulai kesakitan. Gadis itu terus menarikku dengan kecepatan yang tak bisa aku bayangkan.

Aku masih ingat teriakan Jong-in saat aku ditarik pergi. Hal itu membuatku merasa sedikit bersalah padanya. Andai saja aku mengikuti sarannya untuk menjauhi gadis sinting di depanku ini, aku pasti tidak akan berakhir seperti sekarang. Dan andai saja Jong-in tidak bersikap seperti bajingan, aku pasti sudah berada di kamarku saat ini.

KRAKK

Suara derakan kencang tiba-tiba terdengar. Setelahnya, sebuah pohon pinus meluncur jatuh ke arahku. Aku membulatkan mataku, dan sedetik kemudian aku sudah terpental jatuh. Mendarat beberapa meter dari pohon pinus yang jatuh dengan suara berdebum yang sangat kencang. Pegangan tanganku terlepas, dan itu memberikanku kesempatan untuk menjauh dari gadis sinting yang entah bagaimana sudah bangkit berdiri beberapa meter di sampingku.

Gadis itu menyeringai, “Usaha yang bagus, makhluk lemah.” Ucapnya.

Aku mengikuti arah pandangan gadis di sampingku. Mendapati Jong-in yang berdiri di atas batang pohon yang baru jatuh. Matanya berkilat marah. Nafasnya memburu. Dan perubahan di wajah bagian kirinya membuatku menahan nafas. Ada noda hitam yang menjalar di permukaan wajahnya. Aku hampir yakin itu adalah pembuluh darah, namun noda hitam itu lebih mirip seperti tatto yang diukir memanjang dan mejalar seperti akar yang meliuk-liuk.

“Kau tidak akan bisa membawa gadis itu!” desis Jong-in, kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya.

“Ah- benarkah? Coba saja untuk menghentikan aku,” tantang gadis itu, dan secepat kilat gadis itu berdiri tepat di sampingku.

“Aku tidak akan membiarkan makhluk menjijikan sepertimu membawa gadis itu!”

“Lalu apa yang akan kau lakukan kalau aku menolak permintaanmu?”

Aku melihat Jong-in bergerak gelisah. Dia tidak menanggapi perkataan gadis yang mengajaknya bicara. Namun, deru nafas dan tatapan membunuhnya sudah cukup membuatku yakin kalau dia sangat marah saat ini.

“Ayolah! Kita berdua sama-sama tahu kalau kau tidak bisa melakukan apapun,” Seringai lebar terukir kembali di wajah gadis itu, membuat Jong-in menggertakan giginya.

“Aku bisa membunuhmu!” ancam Jong-in, nada dingin dalam suaranya membuat bulu kudukku berdiri.

“Coba saja. Kau tidak akan bisa menyentuhku tanpa melukai gadis ini,” gadis itu menyibakan rambutku ke belakang. Lalu aku merasakan sesuatu yang basah menyentuh leherku. Tunggu! Apa dia baru saja  menjilat leherku? Menjijikan!

“Aku bisa merasakan kekuatan yang besar menguar dari gadis ini. Kalau saja atasanku tidak menginginkannya, sudah aku santap gadis ini. Pasti akan sangat lezat!” komentar gadis itu tepat di telingaku, hal itu membuatku bergidik ngeri.

“Da-dagingku ti-tidak akan enak,” gumamku, berusaha untuk tidak terlihat takut. Yang mana hal itu sangat sulit dilakukan karena tubuhku yang gemetaran.

Gadis itu terkekeh, “Dasar gadis lugu!”

“Jauhkan tanganmu dari tubuhnya, makhluk terkutuk!” teriak Jong-in, suaranya bergema di sepenjuru hutan. Membuat beberapa burung beterbangan pergi.

“Ow- kau membuatku takut,” ejek gadis itu, “Jangan menggertakku, pengecut! Kau tidak akan bisa melakukan apapun padaku. Aku yakin, kau tidak mau sejarah lama terulang lagi, benarkan?”

Aku mendengar deru nafas Jong-in yang semakin cepat. Sebuah kabut gelap tiba-tiba menyelimuti sosoknya. Hawa dingin yang menusuk menyelimutiku. Membuat tulang-tulangku ikut menggigil karenanya. Aku melihatnya sedikit demi sedikit melayang di udara, dibarengi dengan sebuah angin topan lokal yang membuat daun-daun kering beterbangan.

“Aku akan membunuhmu!” suara Jong-in terdengar sangat berat. Lebih mirip seperti geraman marah yang bergema kencang. Membuatku lagi-lagi bergidik mendengar suaranya.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara berdesing diiringi dengan derap langkah kaki mendekat. Sedetik kemudian,  Jong-in tersungkur di tanah sambil memegangi lengan kirinya. Erangan kesakitan lolos dari mulutnya. Aku memicingkan mataku. Melihat sebuah benda menancap di lengan kiri Jong-in.

“Hye-na?”

Aku menoleh, mendapati Hyun-ji yang menatapku dengan terkejut. Di belakangnya ada Sehun yang juga sedang menatapku dengan sebuah Crossbow di tangannya. Membuatku yakin bahwa Sehunlah yang membuat Jong-in jatuh tadi. Tapi kenapa Sehun malah menembak Jong-in? Kenapa dia tidak menembak gadis di sampingku?

Aku membulatkan mataku. Bukan karena terkejut melihat dua orang itu berkeliaran di hutan pinus tengah malam, tapi karena melihat penampilan mereka. Cahaya biru berpendar dari leher Hyun-ji. Aku mengerutkan kening melihat sebuah tulisan di lehernya. Aku bahkan tidak sadar kalau tulisan itu ada di lehernya saat aku bertemu dengannya tadi siang.

SEHUN’S

Aku menggumamkan tulisan yang ada di leher Hyun-ji. Kenapa nama sehun terukir di lehernya? Apakah itu sebuah bentuk ikatan hubungan atau apa? Aku bertanya-tanya. Kemudian aku menoleh ke arah Sehun, menahan nafas saat melihat bola mata sehun yang berwarna biru langit. Di kegelapan seperti ini, aku bisa melihat warnanya dengan jelas.

Seseorang menarikku mendekat. Membuatku tersadar dari lamunanku. Gadis yang berdiri di sampingku merangkulkan tangannya di sekitar leherku. Sesuatu yang dingin dan tajam menempel di leherku. Rasa perih seketika menjalar, membuatku yakin bahwa sebuah belati sedang di tempelkan di sana.

“Bala bantuan? Cukup bagus!” desis gadis di sampingku, “Tapi kalian tidak bisa memusnahkanku tanpa si bocah Phoenix!”

“Bocah Phoenix di sini!” seru seseorang.

Aku mendongkak. Melihat warna merah api berpendar di udara. Aku tidak bisa melihat sosok yang sedang terbang ke arah kami. Namun saat sosok itu mendarat, aku lagi-lagi membeliakan mataku.

Beberapa meter di samping Hyun-ji, aku melihat Chan-yeol. Bukan Chan-yeol yang aku lihat seperti tadi siang, tapi sosok Chan-yeol dengan sepasang sayap api besar di belakang punggungnya. Dia tidak mengenakan bajunya, sehingga aku bisa melihat otot-ototnya yang mengkilat di bawah cahaya api dari sayapnya.

Chan-yeol kemudian melepaskan pelukannya dari seorang gadis berambut brunate yang ikut terbang bersamanya tadi. Sayap apinya terkepak pelan, sampai kemudian terlipat dan hilang di balik punggung Chan-yeol.

“Merindukanku, sayang?” ucap Chan-yeol, dia menoleh ke arahku lalu mengedipkan matanya.

Aku hanya bisa menggeleng tak percaya. Masih tidak mengerti dengan apa yang aku lihat di depan mataku. Tentang Hyun-ji, Sehun, dan juga Chan-yeol. Kenapa mereka bisa berubah seperti ini? Dan sebenarnya makhluk macam apa mereka? Pertanyaan itu berputar-putar di benakku. Membuatku sedikit pusing. Aku harap ini hanya mimpi dan aku bisa segera bangun dari mimpi mengerikan ini.

Belum reda rasa terkejutku, tiba-tiba Sehun melangkah maju. Pemuda itu menyeringai ke arah gadis yang sedang memegangiku. Kemudian, angin kencang menerpa tubuhku. Aku terpental menabrak pohon pinus, sebelum akhirnya jatuh berdebum ke tanah. Aku meringis, merasakan nyeri di bagian punggungkku.

Yak! Bisakah kau mengendalikan kekuatanmu? Kau membuat Hye-na terluka, tahu!” gadis brunate yang aku lihat mengomeli Sehun.

“Aku tidak sengaja!” protes Sehun, gadis brunate itu hanya mendengus dan melangkah ke arahku.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya, dia kemudian membantuku untuk duduk.

Aku hanya bisa mengangguk lemah. Aku melihat Sehun dan Hyun-ji mendekati gadis yang tadi memegangiku. Lalu kemudian kedua orang itu menyerang  dengan garakan-gerakan yang sulit untuk ditangkap oleh mataku.

“Tunggu di sini. Ini akan segera selesai,” gadis brunate itu kemudian berlari ke arah Chan-yeol. Chan-yeol mengangguk, kemudian mengikuti Sehun dan Hyun-ji untuk melakukan perlawanan.

Mataku teralih pada Jong-in. Pemuda itu masih tersungkur di tanah. Erangan kesakitan masih terdengar dari mulutnya. Membuatku yakin bahwa apapun yang menancap di lengannya saat ini, benar-benar membuatnya tersiksa.

Aku tidak tahu, sudah berapa lama perkelahian itu berlangsung. Yang aku tahu bahwa semakin lama gerakan mereka semakin cepat. Beberapa kali aku melihat Sehun atau Chan-yeol mengerang dan terpental ke belakang. Sebelum akhirnya dia bangkit, dan mulai menyerang kembali.

Aku hanya bisa menyandarkan tubuhku ke pohon sambil sesekali memijat kepalaku yang berdenyut nyeri. Aku tidak tahu situasi apa yang sedang aku alami saat ini. Sekolah aneh, orang-orang aneh, dan sekarang makhluk-makhluk misterius yang sedang berkelahi di depanku. Sekeras apapun aku memikirkannya, tidak ada satupun jawaban yang cukup masuk akal yang muncul di benakku.

Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan yang memekakan telinga. Aku memicingkan mataku ke arah medan perkelahian.  Hyun-ji dan gadis berambut brunate sedang memegangi gadis yang tadi menarikku ke hutan. Masing-masing dari mereka memegangi salah satu lengan gadis itu. Sedangkan Sehun sedang berusaha menarik sesuatu dari tubuh gadis di depannya. Pemuda itu kemudian menyeringai. Sesuatu yang berdenyut ada di tangannya. Sebuah jantung? Tidak mungkin!

Aku melihat bola api di tangan Chan-yeol. Kemudia dia mengarahkan bola api itu kepada sesuatu yang sedang Sehun pegang. Hal itu membuat gadis yang sedang berlutut di hadapan mereka melolong tidak berdaya.

Hyun-ji, gadis brunate dan Sehun mundur. Memberikan akses pada Chan-yeol untuk mengarahkan bola api di tangannya ke tubuh gadis yang sudah tergeletak tak berdaya di sana. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ledakan. Hal itu membuat sebuah gelombang kekuatan yang cukup besar untuk bisa merobohkan beberapa pohon di sekitarnya.

Aku menoleh, mendapati sebuah pohon yang sedang jatuh ke arahku. Aku terlalu terlambat menyadari pohon itu. Dan sekarang, aku tidak punya waktu untuk sekedar menghindar. Akhirnya, aku memejamkan mataku. Menunggu batang pohon itu menghantam tubuhku. Namun, aku malah merasakan seseorang merangkul tubuhku dan tubuhku sedikit terangkat. Kemudian erangan kesakitan terdengar tepat di telingaku. Aku cepat-cepat membuka mata. Mendapati Jong-in yang sedang meringis di depanku.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya, terlihat berusaha keras menahan sakit.

Aku menoleh ke arah belakang Jong-in. Batang pohon itu jatuh menimpa bahunya. Tapi posisiku bergeser dari terakhir kali aku duduk. Seingatku, jarakku cukup jauh dengannya saat aku melihat pohon itu jatuh ke arahku. Bagaimana bisa Jong-in ada di depanku secepat ini?

“Jawablah!” Jong-in kembali meringis, “Apa kau tidak apa-apa?” ulangnya, menggertakan gigi-giginya.

Belum sempat aku menjawab, tubuhku ditarik berdiri. Membuat rangkulan Jong-in lepas dari tubuhku, “Hyena, Kau tidak apa-apa?” tuntut Baek-hyun yang entah sejak kapan sudah sampai di tempat itu.

Aku menghiraukan Baek-hyun. Mataku masih terpaku pada Jong-in. Aku melihatnya menggeser batang pohon dari bahunya dengan susah payah. Kemudian dia bangkit berdiri, dan mulai berjalan pergi dengan gontai. Aku berkedip sekali dan Jong-in sudah menghilang dari pandanganku. Kemana pemuda itu pergi?

“Kang Hye Na, jawablah! Kau tidak apa-apa?” Ulang Baek-hyun. Dia menarik bahuku, membuatku menatap wajah khawatirnya.

“Aku Ak-“ gumamku.

“Apa kau terluka? Bagian mana yang terluka? Hyena, demi tuhan jawab pertayaanku!”

Lagi-lagi aku menghiraukan pertanyaan Baek-hyun. Aku menatapnya tidak yakin. Terlalu bingung bahkan hanya untuk menjawab pertanyaannya. Aku menolehkan pandanganku pada orang-orang di belakangnya. Sebelum akhirnya, aku merasakan kegelapan menarikku.

-o0o-

Aku mengerjapkan mataku. Meringis saat sebuah cahaya menerpa mataku. Aku sekali lagi mengerjap, lalu dengan perlahan membuka kedua mataku. Aku menoleh, mendapati Hyun-ji yang sedang memandangku dengan khawatir.

“Kau sudah sadar?” tanyanya.

Aku menggerakan tubuhku untuk bangun, merasa asing dengan pemandangan ruangan tempat aku berada. Hyun-ji menyodorkan segelas air padaku. Aku mengambilnya, meneguk habis isinya. Merasakan kesegaran di tenggorokanku yang kering.

“Aku ada di mana? Apa yang terjadi?” tanyaku, meringis saat merasakan kepalaku yang berdenyut nyeri.

“Kau ada di ruang kesehatan sekolah. Kau pingsan setelah-“ Hyun-ji menjawab dengan ragu.

Aku mengerutkan kening, “Setelah apa?”

“Setelah perkelahian itu,”

“Perkelahian? Tapi ak-“

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Semuanya. Tentang Hyun-ji, Sehun, Chan-yeol, perkelahian itu dan juga Jong-in. Tanpa sadar aku beringsut sedikit menjauh dari Hyun-ji. Aku melihat raut terluka di wajahnya, dan perasaan bersalah tiba-tiba menyerangku.

“Aku tahu, kau pasti terkejut. Tapi percayalah, kami bukan orang-orang yang jahat,” ucapnya, Hyun-ji berusaha menarik tanganku. Namun dia segera menjauhkan lagi tangannya setelah melihat ekspresi di wajahku.

Dia menghela nafasnya, “Baiklah. Aku rasa kau masih terlalu Syok dengan semua ini. Aku bisa mengerti. Tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa kami semua berniat baik padamu,”

Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada Hyun-ji. Terlebih lagi aku tidak tahu, makhluk seperti apa Hyun-ji itu. Hyun-ji bangkit dan melangkah ke arah pintu. Namun kemudian dia berbalik lagi ke arahku.

“Seseorang akan datang untuk menjelaskan semuanya padamu. Kau pasti akan mengerti. Aku akan menunggumu di kamar,” ucapnya. Setelah tersenyum padaku, dia melangkah ke luar ruangan.

Beberapa saat kemudian, seorang pemuda masuk ke ruangan. Pemuda itu berjalan ke arahku, rambut hitamnya bergerak-gerak saat dia melangkah. Kacamata coklat bertengger di hidung mancungnya. Membingkai mata indahnya yang lebar. Di tangannya ada sebuah buku tebal dengan sampul yang sudah agak usang. Pemuda itu kemudian menarik kursi, lalu mendudukan diri di samping tempat tidur tempat aku duduk.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

“Sudah lebih baik,” jawabku.

Dia tersenyum, membentuk love shape indah di bibirnya, “Ah- Perkenalkan namaku Do Kyung Soo. Kau boleh memanggilku Kyung-soo atau D.O. Tapi aku lebih suka kau memanggilku D.O,”

Aku mengangguk, “Aku Kang Hye Na,”

“Aku sudah tahu soal itu,”

Aku hanya mengangguk, “Hyun-ji bilang seseorang akan datang untuk menjelaskan semuanya. Apakah kau orangnya?”

“Benar sekali,”

“Tapi kenapa tidak mereka sendiri yang menjelaskannya padaku?”

“Mereka ingin memberikanmu sedikit waktu untuk jauh dari mereka. Mereka yakin kalau mereka yang menjelaskannya, akan sedikit sulit bagimu untuk memahaminya, “ Jawabnya, “Lagipula sudah menjadi keahlianku untuk menjelaskan hal ini pada orang-orang awam,”

“Orang-orang awam?”

“Lupakan saja. Aku hanya bercanda,” D.O terkekeh, “Baiklah, kau ingin aku mulai darimana?”

“Apa kau akan menjawab semua pertanyaanku?” tanyaku lagi.

“Tentu saja. Itu tujuanku ada di sini,”

“Semuanya?”

“Semuanya. Tanyakan apapun padaku dan aku akan menjawabnya dengan hati-hati,” jawabnya mantap.

Aku mengangguk, “Bisa kau jelaskan makhluk apa mereka?”

“Maksudmu kami? Kami adalah Mutans.”

“Mutans?”

Aku melihat D.O menegakan tubuhnya, buku yang tadi dia pengan di jadikan alas bagi sikunya, “Ya, Mutans. Pada dasarnya kami adalah manusia yang mengalami mutasi genetik. Terutama di jantung. Sel-sel kami selalu meregenerasi dan membuat kami tidak akan pernah tua. Selain itu kami juga dianugrahi semacam kekuatan yang membuat kami lebih mirip seperti makhluk abadi,”

Aku mengerutkan kening, “Kekuatan semacam apa?”

D.O menaikan bahu, “Apa saja. Api, angin, air? Semacam itu,”

“Lalu bagaimana bisa makhluk seperti kalian ada di bumi ini? Apakah kalian jatuh dari surga seperti malaikat? Atau diusir dari neraka sepeti iblis?” tanyaku, membuat D.O malah tergelak di tempatnya.

“Aku lebih memilih untuk jatuh dari surga, “ komentarnya, “Tapi sayangnya, kami bukan makhluk seperti itu. 100 tahun yang lalu, sebuah asteroid jatuh di bumi. Beberapa tahun setelahnya, para ilmuan meneliti asteroid itu. Mereka lalu menyebutnya sebagai Shapire Stone. Beberapa dari mereka melakukan penelitian lebih lanjut. Namun, hal itu tidak berakhir baik. Sebuah ledakan besar terjadi karena kumparan tidak kuat menahan energi besar dari Shapire Stone. Lalu kemudian terjadi sesuatu yang aneh. Para ilmuan yang terkena dampak ledakan dengan ajaib memiliki kekuatan. Para peneliti juga menemukan fakta bahwa semua sel dalam tubuh mereka terus meregenerasi. Mereka akhirnya menamai diri mereka sebagai ‘Mutans’.”

Aku mengangguk-angguk mengerti mendengar penjelasan D.O, “Lalu, apa yang terjadi pada Shappire Stone itu? Apakah benda itu tetap dijadikan untuk menciptakan para mutans baru?”

D.O menggeleng, “Benda itu hilang. Terjadi kekacauan di antara para ilmuan. Para Mutans tiba-tiba menyadari bahwa manusia tidak pantas untuk ada di muka bumi. Mereka menjadi gila karena kekuatan yang mereka miliki. Terjadi pembantaian besar umat manusia pada saat itu. Para ilmuan yang menentang para Mutans merencanakan untuk menghancurkan Shapire Stone. Namun para Mutans berhasil merebut kembali Shapire Stone dan melakukan penelitian untuk menciptakan jenis Mutans baru. Namun, yang mereka dapatkan malah sepasukan monster yang menambah buruk keadaan,”

Aku mengeryit membayangkan kekacauan yang terjadi pada saat itu, “Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?” tanyaku.

D.O mengelus-ngelus dagu dengan jarinya, “Monster-monster itu malah berbalik menyerang para Mutans. Hal itu awalnya menguntungkan para manusia, namun setelah para monster itu lebih kuat mereka menyatakan kekuasaannya di antara manusia. Monster itu namanya Avox. Mereka terdiri dari 3 tingkatan Altum, Medio dan Humilis. Tergantung seberapa banyak mutans yang pernah mereka makan. Mereka bertahan hidup dengan menyerap inti kehidupan manusia,”

“Makan? Maksudmu, benar-benar memakan Mutans? Seperti layaknya manusia makan?”

“Tentu saja tidak. Mereka hanya menggigit leher para Mutans dan menyerap inti kekuatannya. Yah, mirip seperti Vampire,”

“Lalu apa yang dilakukan manusia selanjutnya? Apakah para Avox berhasil membantai semua Mutans?”

“Tidak. Mutans yang tersisa bekerjasama dengan manusia dan menyembunyikan diri. Mereka hidup layaknya manusia. Menikah, bekerja, memiliki anak. Mereka terus melakukan penelitian untuk menemukan cara  agar bisa mengalahkan para Avox. Sampai akhirnya mereka menemukan cara untuk menciptakan api abadi. Api abadi diciptakan dari gabungan kekuatan para Mutans berkekuatan Api Phoenix. Api abadi bisa membakar jantung mereka dan meleburkan mereka menjadi debu,”

“Api Phoenix?” aku mengerutkan kening, tiba-tiba teringat pada Chan-yeol dan sayap apinya, “Seperti Chan-yeol?”

“Ya, seperti dia,”

“Lalu apakah setelah itu para Mutans menang melawan para Avox?”

“Hampir. Kalau saja tidak terjadi perpecahan di antara para manusia dan Mutans. Entah bagaimana caranya, beberapa Mutans melihat peluang untuk mengendalikan para Avox. Itulah awal dari permusuhan para Mutans dan para pemburu,”

“Para pemburu?” aku menaikan sebelah alis.

“Para pemburu adalah manusia yang bertugas untuk memburu para Avox yang mengusik ketenangan manusia. Mereka memiliki cairan yang bisa melumpuhkan sementara kekuatan Avox. Meskipun tidak sampai membunuh, tapi cairan itu cukup bisa membuat mereka tersiksa. Begitupun kepada para Mutans, mereka masih memendam dendam pada kami karena masalalu kami yang pernah mengacau dan membantai umat manusia,”

“Tapi itukan masa lalu. Setidaknya sekarang, Mutans bisa membantu mereka mengalahkan Avox, benarkan?”

“Benar. Tapi mereka terlalu angkuh untuk mengakui itu semua. Mereka mengabdikan seluruh hidup mereka untuk memburu para Avox. Melumpuhkan mereka untuk sementara. Tapi para Mutans hanya melawan Avox untuk mempertahankan diri,”

“Aku masih belum mengerti,” kataku berkata jujur.

“Jadi begini. Singkatnya, para Avox memburu Mutans dan Para Pemburu memburu Avox. Seperti yang aku jelaskan tadi. Avox memburu Mutans untuk meningkatkan kekuatan mereka. Lalu, Kenapa Para pemburu memburu Avox? Karena Avox juga menyerang manusia untuk menyerap inti kehidupan mereka. Avox bukan makhluk abadi seperti Mutans. Mereka membutuhkan manusia untuk bertahan hidup,”

“Dan Para pemburu membenci Mutans karena dendam masa lalu, itu sebabnya meskipun mereka tahu hanya Mutans yang bisa memusnahkan Avox, mereka lebih memilih untuk bekerja sendiri dengan melumpuhkan mereka, “ Aku menyimpulkan, “Tapi kira-kira berapa lama cairan yang mereka miliki bisa melumpuhkan para Avox?”

“Tergantung tingkatan Avox yang mereka tembak. Tingkatan Humilis bisa lumpuh untuk waktu sekitar 6 bulan. Sedangkan tingkatan Medio bisa lumpuh selama 1 bulan. Dan untuk tingkatan Altum hanya bisa lumpuh selama beberapa minggu saja,”

Aku mengangguk mengerti, “Sedangkan Mutans bisa melawan para Avox dengan cara mengambil jantung mereka dan membakarnya dengan api Phoenix. Kalau begitu para Mutans lebih hebat dibandingkan dengan para pemburu. Iya kan?”

“Tidak juga. Mutans yang memiliki kekuatan api Phoenix sangat jarang ditemukan. Biasanya dalam satu kelompok Mutans, hanya ada satu orang yang memiliki kekuatan tersebut. Terlebih lagi, cairan yang dimiliki Para Pemburu juga bisa berefek pada kami, meskipun hanya bertahan untuk beberapa hari,”

“ Ah- begitu, Lalu bagaimana kalian melawan Avox dalam jumlah banyak?”

“Itulah kenapa kita juga memiliki kekuatan untuk melawan mereka. Satu keunggulan yang kita miliki daripada pemburu adalah kekuatan yang kita miliki cukup untuk mengambil dan mengumpulkan jantung Avox sampai kita bisa membakarnya sekaligus,”

“Apakah pemburu juga bisa mengambil jantung Avox?”

D.O lagi-lagi menggeleng, “Tidak. Hanya Mutans yang bisa melakukannya. Para Pemburu hanya bisa melumpuhkan mereka dengan cairan,”

Ada jeda yang cukup lama setelah D.O menjelaskan hal itu. Aku sendiri sedang berusaha memahami semua informasi membingungkan yang aku terima.

“Sayang sekali Para Pemburu membenci Mutans. Padahal mereka bisa saja bekerjasama untuk melawan Avox,” komentarku.

D.O memutar bola matanya, “Yah, mungkin itu sebabnya sekolah ini ada,”

“Apa maksudmu?”

“Kau pernah melihat para murid berseragam membosankan yang berkeliaran di sekitar sekolah?” tanya D.O, aku mengangguk.

“Yah, mereka itu keturunan para pemburu. Pendiri sekolah sepertinya ingin menciptakan hubungan baik antara para pemburu dan Mutans lagi. Padahalkan itu sangat sulit. Tapi mereka beralasan semuanya dilakukan untuk alasan keamanan,”

“Keamanan macam apa?”

“Aku tidak tahu. Yang jelas, kehadiran para Pemburu juga bisa menguntungkan kami. Aroma mereka menutupi aroma tubuh kami sehingga Avox tidak mudah menemukan kami di sini,”

“Lalu manfaat keberadaan kalian untuk mereka?”

“Kami bisa membuat benteng pertahanan tak kasat mata dengan darah kami atau mengajari mereka beberapa trik mengalahkan Avox? Semacam itu. Avox itu sangat cepat, dan hanya Mutans yang tahu titik-titik kelemahannya,”

Aku mengangguk untuk yang kesekian kalinya. Pikiranku melayang pada Baek-hyun dan cara Baek-hyun membuka gerbang saat pertama datang ke sekolah ini. Akhirnya pertanyaan itu terjawab. Aku menghela nafas panjang. Tiba-tiba merasa lelah dengan semua penjelasan yang dikatakan D.O. Sesekali aku memijat kepalaku. Aku tidak tahu, kalau semua penjelasan itu bisa membuatku sakit kepala seperti ini.

Dari semua yang aku dengarkan, aku bisa mengambil beberapa point penting yang mulai aku mengerti. Sekolah ini adalah sekolah campuran Mutans dan Para Pemburu. Baek-hyun, Sehun, Chan-yeol dan Hyun-ji adalah seorang Mutans. Makhluk abadi yang berasal dari manusia yang mengalami mutasi genetik. Para murid dengan pakaian seragam membosankan mereka adalah Para Pemburu. Manusia yang memburu Avox dengan melumpuhkan mereka dengan cairan. Dan Avox adalah monster psikopat menjijikan yang memburu Mutans untuk meningkatkan kekuatan dan memburu manusia untuk bertahan hidup. Aku rasa aku akan sangat membenci makhluk terkutuk itu. Terutama mengingat aku pernah berinteraksi dengan salah satu dari mereka.

Aku lagi-lagi memijat kepalaku yang berdenyut nyeri. Semua informasi ini bisa-bisa membuatku kram otak rasanya. Aku menunggu saat di mana D.O menertawaiku dan bilang bahwa semua ini hanya lelucon garing yang dia miliki. Tapi, hal itu tidak datang juga. Itu artinya, semua yang D.O jelaskan padaku adalah kebenarannya.

Tapi, tunggu! Kalau semua itu adalah kebenaran. Lalu, kenapa aku ada di sekolah ini? kalau sekolah ini berisi makhluk-makhluk yang berurusan dengan monster, lalu bagaimana denganku?

“Lalu kenapa aku ada di sekolah ini?” tanyaku, aku bahkan tidak sadar kalau aku baru saja menyuarakan pikiranku.

“Karena kau adalah incaran utama para Avox,” jawab D.O, membuat nafasku tercekat di tenggorokan.

“Apa? Kenapa?”

“Seseorang yang sangat jahat sedang mengendalikan para Avox saat ini. Mereka meyakini kalau kau adalah kunci keberhasilan rencana mereka,”

“Rencana? Rencana apa?”

“Aku tidak tahu. Tapi, apapun rencananya. Itu akan membuat kehancuran besar di muka bumi,”

Aku terduduk lemas, tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Kenapa harus aku? Kenapa takdirku tidak pernah membaik? Seolah semua penderitaanku selama ini belum cukup. Dan sekarang, aku harus menerima kenyataan bahwa kehancuran dunia ada di tanganku. Yah, hidupku memang tidak pernah adil.

“ARGHHH!!”

Sebuah teriakan memilukan tiba-tiba terdengar. Membuatku sedikit terlonjak dan membuyarkan lamunanku tentang hidupku yang menyedihkan. Aku cepat-cepat menoleh ke arah D.O.

“Terjadi lagi,” gumamnya.

“Suara siapa itu?” tanyaku.

D.O menghela nafasnya, “Kai,”

Aku mengerutkan kening, “Jong-in? Apa sesuatu terjadi padanya?” tanyaku. Teringat pada terakhir kali aku melihatnya menghilang di hadapanku dengan tubuhnya yang terluka.

“Selalu terjadi sesuatu padanya,” jawab D.O kelewat santai, seolah hal itu sering sekali terjadi.

“Apa? Apa yang terjadi padanya?” tanyaku, perasaan khawatir seketika menyelimutiku.

“Kau akan mengetahuinya nanti. Tapi sekarang kau harus kembali ke asramamu. Sudah cukup banyak informasi yang kau terima hari ini. Aku yakin, hal itu pasti membuatmu pusing,”

Aku tidak bereaksi apapun, membuat D.O tersenyum. “Aku berjanji akan menjelaskannya lain kali. Ayolah, kau harus beristirahat,” D.O mengulurkan tangannya ke arahku.

Sebenarnya aku sedikit tidak rela mengikuti ucapannya. Terlebih dengan suara teriakan Jong-in yang semakin keras terdengar. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada pemuda itu. Teriakannya membuat sesuatu di dalam dadaku berdenyut sakit. Tapi D.O benar. Kepalaku terasa pusing setelah menerima informasi darinya. Oleh karena itu, aku mengangguk dan menerima uluran tangan D.O. Membiarkan pemuda ini mengantarkanku kembali ke asrama.

Namun baru beberapa langkah, aku berhenti. Teringat akan sebuah pertanyaan besar yang ada di benakku, “Lalu, aku termasuk mahluk yang mana?” tanyaku.

D.O tersenyum, “Bukankah jawabannya sudah jelas? Kau sama seperti kami. Kau adalah Mutans,”

Mwo?”

TBC

Author notes~

Aku gak yakin sama part ini TT__TT

Membosankan atau membingungkan? Aku gak tahu kalian bakal nganggep kayak gimana. Aku pasrah sajalah wkwk  Apakah penjelasannya semakin membuat kalian pusing atau mengerti? Tapi aku harap part ini bisa memberikan kalian sedikit informasi dan menjawab pertanyaan kalian selama ini. Makasih untuk semua yang selalu ngikutin cerita ini dan nyempetin baca dan juga komen. Aku tunggu respon kalian selanjutnya ya.

Jeongmal Gamsahamnida ^^

 

Iklan

10 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] HAVOC (Chapter 3)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 7) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 6) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 5) | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 4) | EXO FanFiction Indonesia

  5. WAH BARU BACA AKU:( lebig jelas sihh kalo kemarin kan masih ngeraba raba mereka itu makhluk apaa gituu, tapi ya kenapa kai selalu mengalami sesuatu/? Tapi dia kok gak bisa ngalahin si avox ituu? Teruss kenala hyena cuma bisa bengong doang gak bisa ngapa ngapainn? Emang dia mutans yang kayak gimanaa? Hehe aku kebanyakan nanya nihh next nya cepetan di update yaa hihihi

  6. Chapter ini bagus dan seru thor !! Apa lagi pas aksinya kai hehe
    Penjelasannya bikin saya ngerti ttg alur ceritanya tapi bikin tambah penasaran gara2 kai teriak2 uuuh kasian😢😢 scene pertarungannya seru cuman masih harus banyam perbaikan contohnya terlalu cepet alurnya jdi kadang bingung bayanginnya author semangat nulisnya ! Next nya ditunggu!!! 😆😆😆

  7. Satu per satu misterinya akhitnya terpecahkan, walaupun masih ada yang buat aku bingung tapi masih banyak misteri yang belum terungkap tentang bagimana hyena bisa jadi kunci utama nya dan kenapa dia bisa jadi mutans dan kenapa kai sampai teriak gitu. Kelanjutan nya selalu aku tunggu tapi jangan lama-lama ya kak dan ff ini jangan sampe gantung karena digantungin itu gak enak 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s