[EXOFFI FREELANCE] The Name Is

the-name-is

Title: The Name Is

Author: LucifeRain (Ayya)

Genre: Romance-comedy-fluff

Length: Oneshoot

Ratting: PG-13

Cast:

  • Do Kyungsoo
  • Jung Soojung (you can imagine her as OC)
  • Xi Luhan
  • Kang Hyeri.

Disclaimer: This story is mine.

Summary: Ketika dua orang saling menunggu tanpa saling tahu.

Namanya Kyungsoo, pemuda yang mengenakan kacamata tebal dan selalu memawa buku ke mana-mana.

Namanya Jung Soojung, gadis berambut kusut semerah cherry yang mengenakan sepatu converse butut yang tidak pernah diganti sejak masuk sekolah.

~*~*~*~

Namanya Do Kyungsoo si peraih peringkat pertama selama lima semester berturut-turut. Pemuda yang mengenakan kacamata tebal dan selalu memawa buku ke mana-mana. Tergolong pelit ekspresi dan hemat bicara. Tempat kesukaannya di sekolah adalah ruangan penuh buku dan dia selalu membalas setiap orang yang menyapanya dengan anggukan kikuk.

Suatu waktu sekitar tiga bulan sebelum kelulusan, ia keluar seorang diri dari kelas. Bukan karena di hukum, malah sebaliknya, ia satu-satunya murid yang tuntas dengan nilai sempurna pada pelajaran kimia sedangkan yang lain harus remedial dan ia diberi jam istirahat ekstra.

Kyungsoo melangkah pelan menuju tangga, mengundang tatapan refreks dari beberapa siswa saat ia melewati pintu kelas mereka. Namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap siluet seseorang melalui celah dedaunan pohon cherry yang tak tergolong rindang.

Ia menumpukan tangannya di atas pagar pembatas. Mengamati seorang gadis yang terlelap di bawah pohon cherry yang berada di sudut taman sekolah.

Namanya Jung Soojung. Murid satu angkatannya yang terkenal sebagai preman sekolah. Gadis berambut semerah cherry yang mengenakan sepatu converse butut yang tidak pernah diganti sejak masuk sekolah ini. Tergolong ceroboh dan suka seenak jidatnya. Tempat langganannya adalah ruang kedisiplinan karena ia selalu berurusan dengan tata tertib.

Kyungsoo enggan melepas tatapannya. Sejurus kemudian ulasan senyum meluncur dari bibirnya.

Gadis itu tidurnya jelek sekali.

Soojung tidur dengan kepala menengadah, mulutnya mengaga dan kakinya mengangkang, sesekali ia berubah posisi karena merasa terganggu oleh cahaya yang menyusup nakal dari celah dedaunan sambil menggaruk pipi atau lehernya. Angin yang berhembus ke arahnya, membuat rambut gadis itu persis seperti sapu ijuk yang tak pernah dikeramas.

Kyungsoo tertawa kecil.

“Kenapa kau menyukai gadis itu, huh?” Luhan muncul tiba-tiba disampingnya, sepertinya dia orang tercepat yang mengerjakan soal remedial.

“Aku tidak menyukainya.”

“Uhh… bad liar!”

I don’t like her… seems like i cant control my self when she around me. She’s awesome in her own way.”

“Tell her how awesome she is…”

Kyungsoo menggeleng kecil, “Kalaupun aku benar menyukainya, aku tidak akan memintanya jadi pacarku. Dia bukan tipikal orang yang bisa diajak serius, aku yakin itu.” ujarnya tegas.

Kemudian kedua pria itu berlalu.

~*~*~*~

Namanya Jung Soojung, yang menghabiskan enam dari tujuh sore dalam seminggu di dalam van ice cream bersama seorang gadis pembuat ice cream yang umurnya tak jauh darinya. Wajahnya selalu belepotan dan tampak sibuk meladeni pembeli yang tergolong ramai. Lengkungan senyum ramah selalu tersungging dari bibir tipisnya sambil sesekali ia mengusapkan sapu tangan di pelipisnya.

Di penghujung sore setelah pintu van ditutup, ia melepas apron dan topinya lalu keluar dari sana dan melangkah menuju bangku sebelah kemudi. Tepat di tikungan pertama van itu berjalan, ia selalu meminta Hyeri memelankan laju mobil demi mengamati seseorang dari balik jendela.

Ia mendengus jengkel.

Namanya Do Kyungsoo yang menghabiskan empat dari tujuh sore di sebuah bangku taman yang terkadang bersama anjing berbulu putih panjang yang bermain atau tertidur di sekitarnya. Wajahnya tampak asyik berkutat pada buku di salah satu tangan sambil sesekali melirik lalu lalang orang di depannya. Tawa kecil terkadang lepas dari bibirnya karena disana tempat kesukaannya membaca buku komedi, salah satu genre favorite untuk menyegarkan otak.

Saat lengang atau hanya ada beberapa pembeli, Soojung selalu mencuri pandang dari dalam van. ia menyukai gestur pemuda itu ketika ia menggeser punggungnya untuk mencari tempat yang lebih nyaman, ketika ia membalik kertas atau ketika ia mengusap kepala anjingnya.

“Kau pasti menyukainya kan?!” goda Hyeri di bangku kemudi.

“Tidak… tidak… dia itu menyebalkan. Masa selama setahun dia duduk disitu tapi tak pernah sekalipun beli ice cream di tempat kita padahal banyak orang yang lewat di depannya sambil memakan ice cream.” Soojung menggerutu kesal.

“Ahaha… mungkin dia tak suka ice cream atau yang manis-manis.”

“Tapi aku beberapa kali melihatnya memakan coklat.” Tampiknya.

“Kau memang menyukainya…” kali ini Hyeri mengerling nakal pada Soojung membuat gadis itu memukul pundaknya lalu menggelembungkan pipi.

“Sudah ku bilang, dia itu menyebalkan!”

“Kalau begitu, bilang padanya bagaimana ia sangat menyebalkan.”

Soojung memutar bola matanya lalu menatap Hyeri malas, “Kalaupun aku ingin berkelahi, aku tidak akan berkelahi dengannya. Dia bukan tipikal orang yang merespon orang dengan baik, aku yakin itu!”

Kemudian kedua gadis itu kembali mengobrol dengan topik berbeda.

~*~*~*

Namanya takdir. Ketika Soojung berlari dengan derai tawa sambil terus memandang kebelakang untuk mengawasi teman yang sedang mengejarnya seraya melayangkan sumpah serapah karena tingkah jahilnya. Gadis itu terus berlari sampai ketika ia meluruskan pandangannya ke depan, dari tikungan muncul seorang pemuda yang berbelok ke arahnya.

Mata mereka beradu dengan ekspresi kekagetan serupa.

“Minggir!!!” teriak Soojung sambil mengerahkan tenaganya untuk mengehentikan langkah namun larinya tadi terlampau cepat.

Soojung memejamkan matanya, terasa jelas bagaimana kerasnya ia menabrak tubuh Kyungsoo hingga pemuda itu mengerang karena punggungnya terbentur pagar pembatas di lantai dua.

Sayup-sayup Soojung mendengar helaan nafas tertahan, lalu keheningan melanda, yang tersisa hanya bunyi angin yang meniup lembaran kertas dari buku Kyungsoo yang terjatuh dengan posisi terbuka.

Kala ia membuka matanya, jantungnya berpacu sangat cepat karena matanya dengan mata Kyungsoo berjarak sangat dekat dan hidung mereka nyaris bersentuhan. Kacamata pemuda itu jatuh entah kemana dan membuat Soojung terpekur sejenak mengagumi mata besar bemanik hitam yang selalu tersembunyi di balik lensa tebal.

Dengan gerakan cepat, Soojung menarik tubuhnya yang langsung terhuyung. Ia tercekat diiringi sorak riuh orang disekelilingnya.

Bibir Kyungsoo berdarah.

Saat Soojung mengusap kasar bibirnya dengan punggung tangan, ia melihat bercak darah disana padahal ia tak merasa sakit sedikitpun di bibirnya. Kelopak matanya melebar, semburat merah menjalari pipinya.

“Ya! ahahaha kalian hahaha belum apa-apa sudah berciuman di depan banyak orang hahaha.” seru Luhan yang menyaksikan kejadian itu dengan jelas. Ia tergelak lebar.

“Seharusnya aku merekamnya hahaha.” celetuk seseorang di belakang Soojung.

“A…. maaf…. Itu tidak sengaja…” Soojung tergugu, tak henti-hentinya merutuki diri. Ia ingin melayangkan tatapan sangar pada siapapun yang mengejeknya tapi syaraf motoriknya hilang kendali.

“Yak! Jung Soojung! bagaimana rasa bibir si peringkat pertama?” celetukan jahil itu diiringi tawa keras dan celaan senada.

Dengan geram Soojung melepas sepatu bututnya dan memasang kuda-kuda untuk melemparkannya pada siapa saja, kontan teman-temannya berhambur dan ia ikut mengerjarnya. Well, sebenarnya itu modus untuk menghindari Kyungsoo.

Kyungsoo menyeka sisa darah di bibirnya dengan ibu jari, sejurus kemudian tepukan pelan mendarat di pundaknya. Ia meraih kacamatanya yang disodorkan Luhan lalu memungut bukunya yang jatuh.

Is she still awesome?” tanya Luhan dengan senyum geli.

Always like that and… unpredictable”

Keesokan harinya kejadian itu menjadi berita panas seantero sekolah selama seminggu penuh.

~*~*~*~

Namanya keajaiban. Ketika acara perpisahan sekolah, Kyungsoo sangat sibuk menghindar dari para gadis yang mengincar kancing kedua jas seragamnya. Sudah tradisi memang, dimana seseorang memberikan kancing kedua pada orang yang disukainya karena kancing itu dianggap paling dekat dengan hati dan melekat pada seragam yang dikenakan selama tiga tahun.

Meskipun ia tak pernah berusaha mencolok, tapi Kyungsoo memiliki pengagum yang tidak sedikit. Salah satunya karena dia pintar dan tergolong tampan meski mengenakan kacamata, lagi pula dia selalu bersama Luhan si siswa paling populer. Karena enam bulan lalu Luhan memiliki pacar, maka penggemar Luhan yang patah hati tingkat akut beralih padanya.

“Do Sunbae-nim, berikan aku kancingmu!” terikakan serupa terus berkumbandang hingga Kyungsoo pusing sendiri bahkan ia terus menutupi kancing keduanya dengan telapak tangan.

Ia sudah menolak tapi gerembolan siswi yang mengelilinginya malah semakin membanyak.

Kyungsoo mencopot kancingnya dengan kesal, ia membuangnya ke sembarang arah hingga para penggemarnya bersorak kecewa. Kancing putih itu jatuh tepat di atas kepala seorang gadis kemudian nyangkut di rambut kusut berwarna semerah cherry.

Soojung meraba rambutnya lalu mengambil sesuatu disana yang ternyata sebuah kancing, ia mengamati benda itu dengan raut bingung. Saat Soojung menoleh ke belakang, ia mendapati segerombolan gadis siap menyerbunya.

“Ya! kembalikan kancing Do Oppa!”

“Hah kancing???” dengan mulut terngaga, Soojung menatap gerombolan gadis itu, menatap kancing di tangannya, lalu menatap Kyungsoo.

“Kancing itu milikku!!”

“Berikan padaku!” terikan serupa lainnya melambung menyakitkan telinga.

Soojung hanya mematung dengan tampang bodoh. Otaknya yang lamban mencerna apa yang terjadi, memilih kabur dari tempat itu. Meninggalkan Kyungsoo yang tersenyum tipis tanpa sadar.

Tapi ketika kaki Soojung berhenti di balik gedung, ia menatap lagi kancing itu. lalu teriakan melengking membahana hingga mengejutkan burung-burung yang bertengger santai di ranting pohon.

~*~*~*~

Senja itu agaknya matahari terlalu enggan kembali ke peraduannya, seolah mengerahkan sisa-sisa sinarnya demi memercik semburat oranye pada kumpulan awan sebelum bulan menggantikan singgasananya. Di langit tampak sekawanan burung yang terbang menuju barat daya diiringi bunyi gesekan dedaunan dan ranting ketika angin sore menyapa.

Seorang pemuda meletakkan buku yang sejak tadi dibacanya. Ia menengadah, menerawang jauh mengamati suguhan opera alam yang menjadi rutinitasnya ketika berada di tempat yang sama, jam yang sama, disore yang berbeda.

Ia tertarik dari lamunannya ketika seseorang menjulurkan semangkuk kecil ice cream tepat di depan wajahnya. Kyungsoo meraih ice cream itu. Bola matanya bergerak mengikuti gerik seseorang yang mengambil posisi duduk di sebelahnya.

Soojung berdeham kecil. Ia gugup setengah mati, pikirannya mendadak sibuk sibuk menangkap jantungnya yang seakan lompat kesana kemari. Benaknya dipenuhi rekaman dua kejadian yang tak mampu diusir dari pikirannya.

Ia menatap Kyungsoo lurus-lurus, “Dengar, kau tidak perlu membayar ice cream itu. itu gratis untuk satu-satunya pengunjung taman yang tidak pernah beli ice cream ini. Aku baik bukan? Oh lupakan…” Soojung tertawa gugup. “Itu juga bukan ice cream sisa, karena makanan sisa sama saja makanan yang dikasih orang sebelum basi dan….”

Kalimat Soojung terhenti. Ia terhenyak melihat Kyungsoo yang tersenyum kecil lalu menyendokkan ice cream ke dalam mulutnya kemudian menyapukan lidahnya ke sekitar bibir untuk membersihkan sisa ice cream disana.

Thanks.” Kyungsoo melepas senyum lembut.

Mendadak Soojung lupa kalau ia punya jantung.

Ice cream paman Kang selalu enak.” Sambung Kyungsoo kemudian. Paman Kang adalah pemilik label ice cream yang dijual keliling itu.

“Ka… hmm… kalau kau suka kenapa tidak membelinya?” Soojung awalnya terbata namun kalimat yang meluncur kemudian secepat kereta api ekspres.

“Aku sangat suka es tapi tak bisa merasainya lagi karena aku terkena amandel sampai pernah dioperasi.”

“Ahhh…” refleks Soojung mengambil mangkuk ice cream di tangan Kyungsoo dengan panik. “Maafkan aku, aku tidak tahu.” Soojung jadi merasa bersalah karna mengira yang tidak-tidak.

Kyungsoo menggeleng kecil, “Tak apa. Sebaiknya kau habiskan ice cream itu sebelum meleleh.”

Soojung mengangguk, intruksi Kyungsoo mengambil alih pikirannya hingga ia dengan santainya menyendokkan ice cream itu dan terhenti saat ujung sendok itu mengenai bibirnya. Seketika pipinya memanas.

Indirect kiss?!!!

Soojung menggeleng cepat. Ah tidak, tadi kan sendok itu sudah bersentuhan dengan ice cream.

Soojung menoleh kesumber tawa kecil yang ternyata berasal dari Kyungsoo.

“Kau kenapa?” tanya Kyungsoo yang merasa gemas melihat tingkah kikuk Soojung.

“Ahh tidak apa-apa.”

Seketika tawa melambung dari bibir mereka. Percakapan itu berlanjut dan Soojung mulai nyaman dengan atmosfir yang diciptakan Kyungsoo. Dibalik kesan pendiamnya, ternyata Kyungsoo memberi respon yang cukup menyenangkan setiap Soojung berbicara sesuatu dan ia cukup ramah.

Ah, pantas saja Luhan betah di dekat Kyungsoo padahal mereka sangat bertolak belakang, begitu pula beberapa orang yang sering terlihat berdiskusi dengannya. Soojung baru menyadari bahwa Kyungsoo bukan tipikal orang kutu buku yang sepenuhnya menarik diri dari dunia luar.

Dugaannya selama ini tentang Kyungsoo meleset, pepatah yang mengatakan jangan melihat buku dari sampulnya itu tepat sekali.

“Kyungsoo, kenapa kau selalu membawa buku kemana-mana?” Soojung sadar betul pertanyaan ini benar-benar aneh.

Alasan ia melayangkan pertanyaan itu karena sebuah kejadian di minggu pertama semester pertama kelas tiga. Disana segalanya bermulai.

Kelas tiga memiliki jadwal olah raga renang di minggu pertama setiap bulan dan itu merupakan pelajaran paling disukai. Soojung si mahluk serba praktis itu tak mau repot-repot mengantri di ruang ganti untuk menukar seragamnya dengan baju olah raga.

Karena jam pelajaran olah raga kelas sebelumnya habis pada jam istirahat, maka mereka memilih menyelesaikan olah raga sesudah bel pelajaran usai dan berganti baju saat istirahat. Sedangkan kelas Soojung juga berganti baju olah raga pada jam istirahat agar ketika bel mereka bisa langsung pemanasan. Alhasil ruang ganti penuh sesak.

Soojung memilih melapis baju olahraganya di balik seragam, bahkan ia merasa nyaman memakai celana training di balik rok karna bisa mengangkang sesuka hati.

Setelah melepas seragam sekolahnya, Soojung bersandar dengan santainya di dinding luar ruang ganti perempuan. Ia malas mengacuhkan ributnya para perempuan yang berebut bilik dan para laki-laki yang tergesa-gesa keluar masuk ruang ganti khusus mereka yang letaknya di sebelah ruang perempuan.

Sampai ketika seseorang keluar dari ruang ganti, mata Soojung terpaku pada titik itu.

Kyungsoo keluar dari sana. Tangannya tak menggenggam buku seperti biasa, melainkan kacamata yang selalu dipakainya sambil menyandang tas yang disampirkan di punggung kanan. Tampak jelas bulir-bulir air yang meluncur dari rambut berantakan itu ketika Kyungsoo mengacaknya dengan tangan yang satunya.

Tanpa jas atau vest sekolah, kemeja putih lengan panjang itu melekat pas di tubuh Kyungsoo. Mata besarnya terlihat menawan ditambah rambutnya yang basah dan berantakan. Adegan itu terekam bagai potongan film slow motion dalam benak Soojung. Ia terkesima.

Soojung meneguk salivanya. Kalau penampilan Kyungsoo seperti ini, bisa-bisa para siswi rela melengketkan wajahnya di jendela kelas Kyungsoo setiap hari.

“Karena aku menyukainya.” Balasan Kyungsoo menyadarkan Soojung dari lamunannya.

“Kau sendiri sudah lama bekerja disana?” Kyungsoo melirik ke arah van ice cream yang tak jauh dari sana.

“Hmm… sekitar dua tahun. Aku harus bekerja ketika ayahku meninggal tiga tahun lalu, ibuku hanya bekerja pada sebuah rumah makan dan aku memiliki adik.” Tutur Soojung.

Kyungsoo mengangguk-angguk, “Berapa adikmu?”

“Tiga. Yang satu perempuan baru lulus sekolah dasar dan paling kecil kembar laki-laki dan perempuan, mereka berumur enam tahun. Kau tahu? Mereka sangat lucu…” Soojung tersenyum diakhir. “…meski terkadang merepotkan.” Imbuhnya kemudian seraya mengangkat bahu lalu tertawa kecil.

“Jadi kau bekerja untuk adik dan ibumu?”

“tentu saja.” Balas Soojung dengan anggukan mantap, “karena kalau hanya ibuku yang bekerja, uang kami tak akan cukup untuk biaya sehari-hari.”

Kyungsoo tersenyum kecil. Bohong kalau ia bilang dirinya mengerti kondisi Soojung karena meski bukan berasal dari keluaga konglomerat namun keluarganya tergolong sangat mampu dan ia adalah anak tunggal sehingga semua tercurah padanya.

Bukankah kita bisa mengerti jika kita merasakan hal yang sama? Jika tidak, maka itu hanya mencoba memahami. Karenanya Kyungsoo merasa salut pada Soojung yang mulai mengemban tanggung jawab saat kebanyakan orang tengah asyik menikmati masa-masa awal sekolah menengah atas.

Kyungsoo tersenyum, gadis ini benar-benar…

“Soojung, kenapa kau selalu membiarkan rambutmu berantakan?”

Soojung tertawa kecil. Pertanyaan Kyungsoo tak kalah konyol dengan pertanyaan yang diucapkannya tadi.

Kyungsoo hanya penasaran saja. Semua bermula pada sebuah kejadian di minggu pertama semester pertama kelas tiga. Kelas tiga memiliki jadwal olah raga renang di minggu pertama setiap bulan dan jadwal kelas Soojung sesudah kelas Kyungsoo.

Waktu itu Kyungsoo telah selesai mengerjakan post test matematika, ia menoleh ke arah teman-temannya yang tampak sibuk mengerjakan. Tak lama kemudian terdengar bunyi gaduh dari luar dan terlihat para murid melewati kelas Kyungsoo.

Awalnya Kyungsoo tak mengindahkan, namun tatapannya jatuh pada seorang gadis berambut semerah cherry. Rambut yang biasanya kusut dan berantakan sampai bentuknya tak jelas itu kini tersisir rapi, bulir-bulir air yang membebani rambut itu membuatnya jatuh lurus hingga sepanjang pinggang ramping Soojung. Tawa renyah gadis itu menguar dan terekam jelas dalam benak Kyungsoo hingga ia mengaguminya.

Tanpa mereka ketahui satu sama lain, mereka selalu menunggu momen yang sama dihari yang sama, diminggu pertama, pada tiap bulan yang berbeda.

“Karena aku menyukainya.” Soojung membalas dengan jawaban yang sama.

Mereka tertawa kecil lalu terdiam sendirinya, tenggelam dalam pikiran masing-masing sembari menikmati langit dengan cahaya matahari yang semakin menipis.

“Kau mau pulang…?”

Soojung menoleh kearah Kyungso, “Ah iya aku harus pulang.”

Saat Soojung beranjak, Kyungsoo menahan tangannya. Soojung menatap lingkaran tangan Kyungsoo di pergelangan tangannya, lalu memandang lekat pemuda itu.

“Maksudku, kau mau pulang bersamaku?” bola mata di balik lensa tebal itu menatap Soojung dalam, hingga membuat gadis itu terpana.

Senyum Soojung merekah, ia mengangguk dengan sorot mata ceria. “Aku akan bilang ke Hyeri eonni dulu.”

Saking antusiasnya, Soojung sampai setengah berlari kearah van. Ia langsung bilang kepada Hyeri yang ternyata ikut menonton dengan gemas.

Ketika Soojung elangkah ke luar van, disana Kyungsoo menunggunya dengan seulas senyum.

“Kau suka ramyun?” tanya Kyungsoo setelah mereka mulai berjalan.

“Sangat suka! Apalagi ramyun di kenai Bibi Kwon, membayangkannya saja sudah membuatku lapar. Disana juga ada jjangmyun yang tak kalah enak, kau harus mencobanya.” Jelas Soojung antusias.

“Bagaimana kalau kita kesana?” tanyanya lagi yang langsung mendapat persetujuan Soojung.

Mereka berjalan beriringan ditemani sinar bulan dan lampu lolipop di tengah taman sambil bercengkerama melewati air mancur yang memantulkan cahaya lampu warna-warni. Sesekali tangan mereka yang berayun saling bersenyuhan hingga akhirnya tangan itu menyatu dan berayun dalam gerakan yang sama.

Ini bukan akhir melainkan awal. Jika diibaratkan mencari harta karun maka sekop adalah pondasi perasaan mereka, bila perasaan yang mereka miliki satu sama lain semakin kuat, maka semakin kuat pula sekop itu menggali. Keraguan atau perkelahian yang akan lumrah terjadi seperti bebatuan yang akan menghalangi di tengah galian, sedangkan kebahagian serta kegembiraan merupakan harta yang mereka cari. Harta itu berada dalam peti yang mengabadikan dan selalu melindungi kebahagiaan itu.

Namanya cinta.

THE END

Annyeong^^

Maafkan segala typo yang ada *bow

Adakah D.O – Krystal Shipper disini? Kkk~ udah lama aku pengen nulis ff tentang mereka tapi nggak ada ide, jadinya cuma cerita ringan gini aja^^

Ini ff pertama yang aku publish setelah setahunan hiatus, jadi maaf kalau jelek ya hihihi^^

Kritik dan saran sangat dihargai.

Cheers,

LucifeRain (Ayya)

Iklan

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] The Name Is

  1. Ff ttg kyubgsoo selalu berhasil buat aku senyum2 sndiri 😊😊.. makasi buat ff nya. Suka sm cara kamu nulis ttg karakter pemerannya.. moga2 ada sequel nya ya 👍😙

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s