[EXOFFI FACEBOOK] (Fallen)tine

10924783_732369170213803_5012889587180406860_n

 

Tittle     : (Fallen)tine
Cast    : Oh Sehun || Kim Yongsun
Genre    : Sad romance, etc.
Rating    : General
Length    : Oneshot
Author    : K-Writer / Sosa Rohmansyah / @k_writer99

Sebelumnya fanfic ini pernah dibacakan pada radio frekuensi 92.4 fm (KPOPZONE). Jadi, jangan menyalah-artikan bahwa ini sebuah bentuk ke-plagiat-an. Karna pembuatnya adalah “Asli Saya”. Ini adalah bentuk narasi-nya.

Disclaimer : Hanya segelintir ide yang dikembangkan untuk hari kasih sayang. Semua tokoh milik Tuhan dan Keluarga-Nya. Sorry for typo and happy reading!

.
.
.
Apa yang kau inginkan di hari Valentine?
.
.
.
Sebatang coklat,
.
.
.
Sebait puisi,
.
.
.
atau, Setangkai mawar.
.
.
.

[Story Begin]

Sangat lama, pria itu terduduk pada hamparan rerumputan dan ilalang basah yang tumbuh mengelilingi tempatnya merenung. Mata teduhnya yang sedari tadi gusar beralih menatap ke sekeliling, hanya ada bukit-bukit landai beraroma air hujan yang menemaninya di tempat ini seorang diri. Gumpalan kapas kelabu yang menyembunyikan rona jingga senja kembali mengambang malas di atas angkasa luas. Pisau-pisau kecil menjelma menjadi angin dingin yang menyayat kulit pucat pasi-nya, menembus ke sendi-sendi terdalam hingga mampu membuatnya mengigil.

Ia lupa bagaimana caranya tersenyum saat wanita itu tidak kunjung menyapanya. Ia lupa bagaimana caranya tertawa saat wanita itu tidak lagi berlari menghampirinya. Ia lupa bagaimana caranya berdiri layaknya seorang pria, saat wanita itu tidak berjalan dan bersanding dengannya. Ia lupa bagaimana caranya bernapas saat wanita itu tidak pernah tersenyum lagi padanya. Ia sangat rapuh saat wanita itu tidak lagi bersamanya. Lembaran-lembaran kehidupannya tidak berarti tanpa adanya wanita itu di sisinya.

Cara wanita itu tersenyum lugu untuknya. Cara wanita itu kesal dengan wajah menggemaskan. Cara wanita itu menghiburnya dengan sejuta kesederhanaan. Cara wanita itu menata rambut ikalnya yang justru membuatnya terpikat lebih jauh. Ia sangat menyukai semua hal yang ada pada wanita itu. Menurutnya, wanita itu adalah sebuah obat candu.

Pria itu menghela napas panjang lalu tertunduk. Ia masih terdiam bagaikan patung kematian. Ia masih setia menunggu untuk wanita itu. Ia terus berharap jawaban akan penantiannya yang panjang.

“Tidakkah kau mengingat hari ini, my princess?”

Beriringan dengan suara husky pria itu menggumam, ia merasakan kehadiran seseorang. Derap langkah yang berpijak pada tanah basah berembun menghasilkan suara halus yang mengalun pada gendang telinganya. Pria itu mendongak, memperhatikan sosok lain tengah berjalan ke arahnya.

Sudut bibir tipis itu tertarik secara otomatis. Menyimpulkan sebuah sunggingan sabit cerah yang menyiratkan kebahagiaan terpendam. Rasa kecewa menguar dari dalam dada pria itu begitu saja saat sosok wanita yang ditunggu-tunggunya telah berdiri di sampingnya.

“Apa kabar, Sehun?” ucap wanita lembut.

Suara itu masih sama. Masih tetap merdu. Suara itu kembali menyapa-nya, menggetarkan setiap celah-celah kecil di relung hatinya. “Kabarku baik, Yongsun,” jawab Sehun mulai beranjak dari tempatnya bersimpuh. Berdiri tepat di samping wanita yang ia panggil, Yongsun.

Yongsun tersenyum simpul. Mini-dress putih berpadu mantel hitam yang dikenakannya begitu selaras dengan tubuh mungilnya; di mata Sehun. Rambut ikal yang biasanya diikat itu kini telah tergerai sempurna. Pipi tirus tanpa polesan itu selalu terlihat merona, selalu membuat Sehun gemas untuk menyentuhnya.

Sehun mendengus lalu mengulum senyum. “Kabarmu sendiri bagaimana?”

Yongsun tak lantas menjawab. Ia justru mengeratkan mantelnya lalu mendongak. Menatap langit yang turut bersedih karena menyambut kehadirannya di tempat ini. “Akan turun hujan,” lalu kembali menunduk.

“Kau masih tidak menyukai hujan, hm?”  Sehun berkata amat pelan. Matanya tetap fokus melihat wajah tuan putri-nya dari samping.

Yongsun tetap menghiraukan pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dan mengarah untuknya. Ia mendesah panjang lalu menekuk lututnya, meletakkan sekantung berukuran sedang di sampingnya, dilanjuti oleh tangannya yang mulai merayap pada rerumputan hijau yang menyelimuti sebuah gundukan di hadapannya.

“Aku merindukanmu.”

Kata-kata itu. Kata-kata yang membuat Sehun selalu dibayang-bayangi rasa bersalah. Ia tersenyum getir saat melihat wanita itu bersimpuh pada rerumputan, meraba-raba gundukan basah dengan telapak tangan hangatnya secara perlahan. “Aku juga merindukanmu, Yongsun.”

Sesudahnya, hening mendominasi. Semilir angin menerbangkan beberapa anak rambut Yongsun. Gema suara gagak hitam layaknya alunan melodi ballad di pemakaman bersahutan, menyergap kebisuan yang tercipta pada salah satu gundukan tempat Yongsun bersimpuh lemah.

Perlahan, kepala Yongsun mendongak. Senyuman tipis itu tersungging di wajah rupawannya. Obsidian hitam itu sedikit mengecil saat ia merasakan sesuatu akan merembes melewati ujung matanya. “Selamat hari valentine, Sehun.”

“Ini adalah tahun pertamaku melewati hari valentine tanpa-mu,” Yongsun memberi jeda untuk menetralkan suaranya yang bergetar. “Aku ingat tahun lalu kau memberiku setangkai mawar putih dengan sebatang coklat. Kau tahu? Mawar itu kutanam di pot dan sekarang sudah mekar dengan cantik.”

Sesegera mungkin, lengan Yongsun terangkat untuk menyeka salah satu sudut matanya. “Aku juga masih ingat saat dua tahun yang lalu kau membacakan puisi untukku di koridor sekolah. Ugh! Itu memalukan, Sehun. Kata-katamu sangat puitis, ditambah perlakuanmu yang seakan-akan kau adalah pangeran berkuda putih di negeri-negeri dongeng.”

Pertahanan Yongsun sudah mencapai batasannya. Sebelum air bening itu meluncur membelah pipinya, ia segera merogoh sesuatu di dalam kantung coklat yang sempat ia bawa. Mengeluarkan benda di dalam kantung tersebut dengan napas tertahan.

“Aku membawakanmu bubble tea coklat, Sehun,” meletakkan segelas plastik itu di depannya, disertai tawa keterpaksaan yang terdengar lirih dan sumbang.

“Aku tidak bisa memberikan sesuatu yang istimewa untukmu. Aku hanyalah seorang gadis sederhana yang bahkan sudah lupa caranya menyukai seseorang karena kepergianmu. Aku hanya bisa berdo’a agar kau selalu bahagia dan sehat di sana,” tenggorokan Yongsun tercekat tiba-tiba. “Aku menyukai seorang pria tampan dengan semua pesona-nya. Aku menyukai pria itu dengan kesederhanaan yang membuatnya nampak sempurna, oleh karena itu aku akan berusaha untuk selalu menyimpan nama pria itu bersama kenangan-kenangan indah yang telah tertanam di lubuk hatiku.”

“Selamat hari Valentine, Oh Sehun. Aku mencintaimu. Dulu, sekarang, dan nanti.”

Bulir bening  itu jatuh bersamaan dengan jutaan air suci dari langit. Meluncur deras dengan semua kenangan tabu di area pemakaman pinggir kota. Menorehkan luka kepedihan di hati seorang wanita yang terjebak dalam jeruji cinta lamanya.

Sampai suara gemuruh hujan beradu pilu dengan tubuh mungil wanita itu bergetar, terdengar sebuah bisikan lembut di gendang telinganya,

“Aku juga mencintaimu Kim Yongsun.”

“Dan… terima kasih bubble tea-nya.”

[END]

Oke-oke, saya tahu ini sungguh sangat amat telat, disitu saya merasa sedih :’v Saya baru bisa memberikan bentuk fanfic berupa narasi ini sekarang karena kendala laptop saya rusak, disitulah saya merasa sedih lagi :’D

Bhai!

Salam hangat,
K-Writer

Iklan

One thought on “[EXOFFI FACEBOOK] (Fallen)tine

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s