[EXOFFI FACEBOOK] Dark Summer (Chapter 1)

timeline_20170126_063625

Author: Ahn Narha // @sparkyuevil08

Title: Dark Summer

Cast: Kai aka Kim Jong In (EXO-K)
Naeun aka Son Naeun (A-Pink)
Sehun aka Oh Sehun (EXO-K)
Alice aka Alice Kim (OC)
Tao aka Huang Zi Tao (EXO-M)
Donghae aka Lee Donghae (EXO-M)
And other (cast akan bertambah sesuai chapter)

Length: Chapter

Genre: Romance, friendship, family, thiller.

PG: PG-17

Disclaimer: Ini FF murni buatan saya. Cast milik Tuhan. Pliss jangan plagiat karya saya. Yang mau copy paste tak apa, yang penting cantumkan nama saya dan kalimat, “ini bukan karya saya.” Sorry for typo.

–Happy Reading–

Naeun melenguh kesal. Bagaimana tidak, seharusnya kakak satu-satumya yang begitu ia cintai menjemputnya di bandara. Tapi ini, kakaknya malah menyuruh orang lain untuk menjemput dengan alasan meeting yang tak bisa ditinggalkan. Meskipun namja yang menjemput Naeun melayani dengan baik, tetap saja Naeun merasa jika kakaknya itu sudah tak adil. Mengingat ini adalah hari pertama ia berada di Seoul setelah 5 tahun berada di Jepang.

“Kita sudah sampai,” ucap namja itu membuyarkan lamunan Naeun.

Namja berperawakan jangkung itu membukakan pintu lalu beralih menuju bagasi lalu menjinjing sebuah koper. Naeun menatap namja itu dari atas hingga bawah. Kaos putih dilapisi jaket berwarna hitam dan celana berwarna hitam panjang serta sepatu warna putih melekat sempurna ditubuh namja berkulit purih ini.

“Kapan oppa akan pulang?”

“Aku tidak tahu pasti. Dia hanya menitipkan ini untukmu.”

Namja itu menyerahkan secarik kertas yang bertuliskan lantai 22 kamar 435B.

“Aku sudah mengatakan pada Donghae hyung jika aku tak bisa mengantarmu ke sana.”

Naeun meringis, “baiklah. Katakan poda oppaku agar segera pulang. Atau aku akan membunuhnya.”

Namja itu mengernyit, namun sedetik kemudian dia tersenyum dan mengangguk.

“Tunggu,” teriak naeun saat namja itu akan memasuki mobil, “siapa namamu?”

“Sehun, Oh Sehun.”

Namja itu kembali tersenyum ramah. Sebelum akhirnya meninggalkan Naeun di area parkir apartemen.

Soo Naeun. Yeoja berwajah cantik dengan tubuh semampai. Rambut coklatnya terikat rapi. Coat coklat selutut melapisi kaos abu-abu dan celana pendek yang ia pakai. Kaki jenjangnya melangkah gontai menuju alamat apartemen yang tertera pada kertas tadi. Naeun menghela nafas lega saat sampai di lantai 22 apartemen itu.

Namun wajahnya kembali lesu saat dia menatap deretan angka di dekat pintu, “mengapa aku sebodoh ini.”

Dia mengambil handphone di tas hendak menanyakan kode apartemen pada Donghae. Tapi dia kembali kesal saat melihat handphonenya mati.

“Aish, bagaimana ini?”

Inilah keburukan sifat Naeun, tidak teliti, menyepelekan, dan ceroboh. Tidak mungkin dia harus menunggu Donghae di sini, yang bahkan diapun tidak tahu kapan Donghae akan pulang. Tubuhnya ingin segera mandi dan tidur. Tapi bagaimana cara dia masuk?

“Tidak tidak. Aku adalah Soo Naeun. Kali ini aku harus menggunakan otakku,” ya ya, dia memang hanya menggunakan otaknya saat dia menginginkannya. Dia kembali menyentuh beberapa tombol angka, dan kali ini terbuka.

“Oppa, aku tau kau sangat menyayangiku,” teriaknya girang saat mengetahui kode yang dipakai adalah tanggal lahirnya. Naeun menghempaskan tubuhnya di atas ranjang tanpa melepas coatnya lebih dulu. Namun tak lama kemudian tubuhnya terasa gerah membuat ia memutuskan untuk segera mandi.

Di tempat lain, tepatnya di dalam mobil hitam, sepasang kekasih tengah bercumbu. Namja itu terus saja membuat yeoja yang ia cium kewalahan hingga akhirnya yeoja itu melepaskan ciuman.

“Oppa, aku,” kata-katanya tertahan saat namja itu menciumnya sekilas.

“Wae, kau tidak suka dengan apa yang kulakukan?” ia mendekatkan wajahnya diantara leher dan telinga yeoja itu. Lalu menarik nafas panjang, membuat tubuh yeoja itu bergetar.

“Aku hanya,” kata-kata yeoja itu kembali tertahan saat mendapat ciuman di leher. Membuat suara desahan keluar dari mulutnya. “Bagaimana bisa aku menolakmu?”

Namja itu tersenyum nakal. Dan mereka kembali berciuman lebih dalam.

Tapi lagi-lagi yeoja itu melepaskan diri, “bisakah kita melanjutkannya di tempat lain?”

Wajah kecewa namja itu langsung senang. Dengan cepat mereka keluar dari mobil. Untuk sesaat mereka menahan diri. Saat sudah sampai di dalam apartemen mereka kembali berciuman. Bahkan mereka belum melepaskan kontak saat menuju kasur. Yeoja itu terjatuh ke kasur saat namja itu mendorongnya. Namun dia tersenyum, membuat namja di depannya menciumnya lagi. Bahkan kali ini tangan mereka sibuk melepas pakaian dan melemparkannya entah kemana.

“Arrgggg. Apa yang kalian lakukan di sini? Cepat pergi, pergi!” teriak seorang yeoja dengan menutupi wajah.

Teriakannya lantas membuat pasangan kekasih itu langsung berdiri, dan membenarkan pakaian. Kecuali si laki-laki karena sudah terlanjur bertelanjang dada.

“Kai, kau selingkuh lagi?”

Namja yang bernama Kai menggeleng, dan mengalihkan pandangan pada yeoja yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.

“Kau siapa? Mengapa kau ada disini?”

“Kau yang siapa. Apa kau bodoh? Kau tidak lihat apartemen nomer berapa ini?” Naeun balas berteriak.

“Kai, jawab aku. Siapa dia? Kau selingkuh dengannya?” yeoja itu menunjuk Naeun dan menatap Kai marah, “Kau benar-benar selingkuh? Dasar bajingan.”

Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi Kai. Membuat kemarahannya memuncak, “kau berani menamparku? Apa kau tidak ingat siapa aku?” entah kenapa ucapannya membuat yeoja di depannya seperti tersadar, “ya, aku selingkuh dengannya. Kau puas? Sekarang cepat pergi dan jangan muncul di depanku lagi wanita jalang.”

Yeoja itu hanya menatap Kai tak percaya, namun kemarahan membuat ia memilih pergi. Bagaimana dengan Naeun? Ya, saat ini dia hanya tercengang melihat kejadian tadi. Dia tidak menyangka jika yeoja itu menampar tanpa mendengar penjelasan dulu.

Kai kembali menatap yeoja yang masih tak bergerak di depan pintu kamar mandi. Sejenak amarah Kai pergi saat melihat yeoja di depannya. Rambut yang tergelung keatas membuat leher dan bahunya terekspos bebas. Bahkan handuk itu hanya menutupi bagian dada hingga paha bagian atasnya saja. Dan sialnya lagi, air masih bercucuran dari tubuh yeoja itu, membuat Kai kehilangan kendali dan bergerak mendekat. Naeun yang menyadari hal itu segera mengambil kemeja yang tergeletak di lantai untuk menutupi tubuhnya. Kai terus mendekat, membuat Naeun sedikit mundur.

“Apa yang akan kau lakukan?”

Tubuh Naeun seakan-akan menarik Kai untuk terus mendekat, “seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan di apartemenku?” bahkan kemeja itu tidak mampu menutupi tubuh Naeun, membuat Kai semakin tertarik.

“Apa kau bilang? Apa angka 435B terlalu-” kalimatnya tertahan. Tubuhnya sudah berada di antara dinding dan namja itu.

Kai melepaskan tangan Naeun yang mencoba mengeratkan kemeja. Naeun memberontak. Namun semakin dia memberontak, semakin pula Kai mengunci tubuh dan tangannya.

“Lepaskan. Lepaskan atau aku akan,”

“Akan apa?” entah kenapa tubuhnya ingin terus mendekat pada yeoja itu.

Kai menatap Naeun seduktif, membuat Naeun jengah. Dari bibir, leher hingga sebagian dada yang terbuka. Dapat Kai rasakan aroma tubuh Naeun. Wajahnya mendekat pada leher Naeun, menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Kai mengeluarkan smirk saat mendengar lenguhan kecil dan merasakan tubuh yeoja itu menggelinjang. Pikiran Naeun menolak perlakuan Kai, tapi tubuhnya malah merespon sebaliknya. Dapat ia rasakan aroma maskulin namja yang bertelanjang dada itu.

“Atau jangan-jangan, kau sengaja datang kesini untuk menggodaku?” ucap Kai tepat di telinga kanan Naeun.

‘Tidak, ini tidak benar’ batin Naeun. Dengan sekuat tenaga Naeun melepaskan genggaman tangan dan mendorong tubuh Kai. Namun yang terjadi adalah Kai menarik tubuh Naeun dalam pelukannya.

“Kau pikir mudah untuk lepas dariku? Kau tidak tau siapa aku?” ia semakin menarik tubuh Naeun.

“Pergi dari apartemenku bodoh. Atau aku akan melaporkanmu atas tuduhan-”

“Tuduhan apa? Karena masuk apartemenmu dan melakukan ini?” lagi-lagi Kai menarik tubuh Naeun makin dekat. Ia menempelkan dahinya pada dahi Naeun, menikmati aroma tubuh yeoja itu.

Kai menangkup wajah Naeun, membuat Naeunitu tak bisa berkutik. Perlahan namun pasti, Kai menyusuri wajah Naeun dengan hidungnya. Dari puncak kepala, hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Nafsu yang sempat terhenti tadi, kini mulai muncul lagi.

Dapat Naun rasakan darahnya berdesir hebat. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya. Karena meskipun di Jepang bisa dibilang kehidupannya cukup bebas, bukan berarti ia pernah merasakan jatuh cinta. Apalagi berada pada suasana intim seperti sekarang. Tanpa ia sadari tubuhnya merespon perlakuan Kai. Mengeratkan tubuhnya pada namja yang belum sejam ia kenal. Naeun mulai terpancing. Ia tahu, kapan saja Kai bisa menarik handuk itu. Ia tahu, kapan saja Kai bisa menciumnya dengan posisi ini. Tapi ternyata, saat ia mulai ingin merasakan sentuhan bibir namja itu, tubuhnya tersentak.

Kai membuat jarak, lalu menarik tangan Naeun keluar dari apartemen. Tangan Naeun terhempas keras membuat ia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.

“Lihatlah gadis bodoh. Sekarang kau atau aku yang bodoh? Apa aku perlu memperbesar angkanya?” melihat Naeun tercengang, Kai kembali menarik tangan Naeun ke pintu apartemen disebelahnya. “dan lihat ini!”

“Soo Naeun, kau benar-benar bodoh!” gumam Naeun.

Namun sepertinya namja itu mendengar, melihat dia tersenyum mengejek padanya.

“Ya, kau benar. Kau memang bodoh. Dan ceroboh!” ucap Kai sebelum pergi.

Naeun terus menyalahi dirinya. Dia benar-benar malu, sangat malu. Ini adalah hari pertama dia berada di Seoul, tapi kesialan sudah menimpanya empat kali. Yang pertama tidak dijemput Donghae, yang kedua dia tidak tau kode apartemen, yang ketiga dipermalukan namja yadong karena salah masuk apartemen, dan yang terakhir dia berdiri di depan pintu apartemen seperti orang tolol yang hanya memakai handuk dan kemeja tipis ditubuhnya
.
“Naeun-ah.”

“Oppa,” tanpa perintah Naeun langsung memeluk Donghae erat. Tak dapat di pungkiri dia sangat merindukan Donghae meskipun beberapa bulan lalu Donghae telah mengunjunginya.

Donghae melepaskan pelukan, “mengapa kau di luar?” baru ia sadari jika Naeun hanya memakai handuk dan kemeja tipis dengan kancing terbuka, “dan mengapa pakaianmu seperti ini? Apa yang terjadi? Ayo cepat masuk.”

Donghae membuka pintu apartemen dan segera masuk. Tanpa ia sadari adiknya masih berdiri menatap angka di depan pintu apartemen lalu beralih menatap angka di pintu apartemen disebelahnya. Dan benar saja, angka yang tertera sama, namun huruf dibelakang angka jelas berbeda. Dan bagaimana mungkin dia tidak melihat huruf sebesar itu.

“Naeun-ah, cepat masuk.”

Naeun masih saja merutuki kecerobohannya di depan pintu. Membuat Donghae menarik Naeun masuk.

“Sekarang ceritakan apa yang terjadi”

“Oppa, aku malu, sangat malu. Dan semua karenamu oppa.”

“Aku? Bagaimana bisa?”

Naeun menceritakan semuanya dengan rasa kesal. Kecuali saat namja pemilik apartemen mendekatinya. Entah kenapa ia tak ingin menceritakan hal itu. Naeun semakin kesal melihat Donghae menahan tawa.

“Apa itu lucu? Kau menyebalkan oppa.”

“Baiklah baiklah, aku tidak akan tertawa,” Donghae memeluk Naeun sebentar, “sebaiknya kau meminta maaf pada pemilik apartemen itu. Sekalian mengambil barang-barangmu yang ada disana.”

“Aku? Shireo. Ini semua karena Oppa, jadi oppa saja yang pergi.”

“Ayolah adik kecilku. Tetap saja kau yang salah. Tapi karena kau menganggap oppa yang salah, kita pergi bersama. Tapi sebelum itu, kau harus memakai ini.”

Donghae melepaskan coat yang ia pakai, lalu memakaikannya pada Naeun, mengancingkan lalu merapikannya, “begini lebih baik,” ucapnya dengan menatap Naeun.

Adik kecil yang selalu merengek padanya kini sudah besar. Dapat Donghae sadari jika adik satu-satunya yang begitu ia sayangi telah tumbuh menjadi gadis cantik. Lekuk tubuh pada Naeun juga sudah terlihat. Namun muncul perasaan khawatir pada Donghae. Mengingat Naeun sudah beranjak dewasa dan ia harus menjaga Naeun sendiri selama di Korea.

“Ada apa oppa?”

“Oppa baru sadar jika tanggung jawab oppa begitu besar. Kau sudah besar, tapi oppa tidak bisa selalu menemanimu. Apapun bisa terjadi diluar sana.”

“Tenanglah oppa, aku bisa menjaga diriku. Oppa jangan khawatir, oke?”

“Bagaimana oppa bisa percaya ucapanmu. Bahkan belum apa-apa kau sudah salah memasuki apartemen.”

Naeun hanya tersenyum masam mengingat kejadian itu. Benar kata Donghae, bagaimana dia bisa menjaga dirinya sendiri? Apalagi dengan sifat ceroboh dan keras kepala yang sulit dihilangkan.

Beralih ke apartemen sebelah, Kai tengah berbaring di tempat tidur. Sesekali dia tersenyum, namun tiba-tiba dia kesal. Bayang-bayang yeoja yang hanya memakai handuk itu masih teringat jelas. Wajah cantik dan lekuk tubuhnya nyaris membuat Kai kehilangan kendali. Ditambah lagi aroma tubuh yang membuat Kai semakin ingin mendekat.

Saat itu, Kai seakan-akan terhipnotis oleh Naeun. Penolakan dan ucapan yeoja itu seperti menyuruh Kai untuk berbuat lebih jauh. Pikiran dan hatinya tidak sejalan. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir dapat ia rasakan jantungnya berdetak dengan ritme cepat. Tapi untunglah usaha Kai untuk mengendalikan nafsunya berhasil. Lamunan Kai terhenti saat mendengar bel pintu. Dengan berat hati ia berjalan ke ruang tamu. Namun sebelum itu Kai memakai t-shirt yang ada di sofa untuk menutupi tubuhnya yang masih bertelanjang dada.

Tampaklah seorang namja yang masih berpakaian kerja.

“Aku kesini untuk minta maaf atas kelakuan adikku. Sekaligus untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal disini,” Donghae menyikut tangan Naeun sebagai tanda untuk melakukan hal yang sama.

“Aku minta maaf. Apa aku bisa mengambil barang-barangku sekarang?” terlihat jelas jika Naeun tak benar-benar melakukannya.

Kai tersenyum dan mengangguk, ‘kali ini kau selamat karena ada kakakmu, tapi lain kali jangan harap’ batin Kai. Tubuh Kai terhuyung karena Naeun yang menerobos masuk. Kai hanya bisa menggeleng-geleng kepala dan menyembunyikan kekesalannya. Sedangkan Donghae terus minta maaf atas kelakuan Naeun.

Tak lama kemudian Naeun kembali dengan semua barang bawaannya.

“Kau sudah selesai?” tanya Donghae yang hanya dibalas anggukan oleh Naeun.

“Terimakasih. Sekali lagi aku minta maaf atas kelakuan adikku.”

“Aku bisa mengerti,” Kai melirik Naeun sekilas. Lalu kembali masuk ke apartemen setelah Donghae dan Naeun pergi.

“Seharusnya kau tak bersikap seperti itu,” ucap Donghae setelah mereka berada di dalam apartemen.

“Apa maksud oppa? Aku sudah bersikap baik padanya?”

“Baik dari mana? Jelas-jelas kau bersikap ketus padanya.”

“Oppa mengatakan itu karena oppa tak tau yang sebenarnya terjadi.”

“Oppa tau apa yang terjadi. Kau salah masuk apartemennya, kau marah-marah seakan-akan itu apartemenmu, lalu dia mengajakmu keluar untuk membuktikan jika kau salah. Lalu dimana letak kesalahan lelaki itu?”

Naeun hanya terdiam mendengar penjelasan Donghae. Ya memang benar, penjelasan Donghae menunjukkan jika dirinya lah yang salah, bukan namja yadong itu. Tapi jika dia benar-benar menceritakan semua, akankah Donghae masih bersikap sama? Tidak, tidak mungkin Naeun menceritakan kejadian itu.

“Baiklah, aku yang salah. Aku tidak akan seperti itu lagi, aku akan bersikap lebih baik. Ada lagi?”

Donghae hanya menghela nafas. Sifat adiknya masih sama, belum berubah sama sekali.

“Oppa sudah mempersiapkan semua keperluanmu selama di sini. Kau bisa sekolah mulai besok. Kau hanya perlu mengurus beberapa administrasi. Kau tidak perlu khawatir, disana ada Jung songsainim, kau masih ingat dia kan? Disana juga ada Sehun, kau bisa bertanya padanya. Oppa juga sudah menitipkanmu pada Sehun, jadi jika oppa tak bisa menemanimu, dia yang akan menemanimu. Tenang saja, dia bisa dipercaya. Oppa sudah mengenalnya sejak pertama kali kembali ke Korea.”

“Sekolah? Oppa, tidak bisakah ditunda minggu depan? Dititipkan? Oh tuhan, apa aku anak kecil? Sebenarnya aku akan masuk SMA atau TK oppa?”

“Oppa percaya padamu, tapi sifat ceroboh dan keras kepalamu itulah yang oppa takutkan. Naeun-ah, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi diluar sana. Ini bukan di Jepang, tak ada Ayah dan ibu yang akan terus menjagamu, tak ada Park ahjussi yang akan terus mengantarmu kemanapun, bahkan disini juga tak ada Kimi akan yang selalu menemanimu. Disini hanya ada oppa dan kau. Kau harus belajar mandiri disini, kau harus menjaga dirimu sendiri. Bukan berarti oppa tak akan menjaga dan mengawasimu, tapi kau juga harus mengerti jika oppa juga mengawasi cabang perusahaan abojji. Oppa harap kau mengerti itu.”

Donghae tau betul jika Naeun cukup dimanja oleh kedua orangtuanya. Ia menatap Naeun lekat, meyakinkan apa yang ia katakan. Naeun tersenyum, lalu memeluk Donghae.

“Aku mengerti oppa. Aku tau kau sangat menyayangiku, dan aku juga sangat menyayangimu.”

******

Hari ini adalah hari pertama sekolah. Seperti yang diucapkan Donghae tadi malam, semua sudah disiapkan. Termasuk seragam, buku dan beberapa perlengkapan lainnya. Semua berjalan lancar seperti rencana Donghae. Naeun ke sekolah di antar Donghae, sesampai di sekolah langsung menemui Jung Songsainim, setelah itu masuk kelas dan mendapat teman baru. Namun sampai jam istirahat datang, Naeun belum melihat batang hidung Sehun. Padahal Donghae mengatakan jika Sehun akan menunggu di depan gerbang tadi.

“Naeun-ah, siapa yang kau cari?” tanya yeoja yang sedari tadi bersama Naeun.

Kim Yura namanya. Yeoja berperawakan tinggi dengan wajah cantik berlesung pipi.

Naeun meringis, “ah, bukan, tidak seperti itu.”

“Jangan sungkan. Tanyakan saja padaku siapa yang kau cari. Aku mengenal hampir semua orang di sekolah ini,” memang tak perlu diragukan lagi kemampuan Yura dalam bersosialisasi. Dia memang sangat lihai dalam berkomunikasi. Belum setengah hari mereka berkenalan, tapi Yura seakan-akan sudah lama mengenal Naeun.

“Benarkah? Ah, sebenernya aku sedang mencari Sehun. Kau mengenalnya?”

“Sehun? Oh Sehun? Tentu saja aku mengenalnya. Bagaimana bisa semua orang yang ada di sini tak mengenalnya?”

“Apa dia seterkenal itu?”

“Tentu saja dia terkenal, bahkan kau pun mengenalnya,” Yura langsung menatap Naeun menyelidik, “tapi bagaimana bisa kau mengenal Sehun?”

“Oppaku yang mengenalkannya padaku.”

Yura mengangguk-ngangguk paham, “aku tau dimana dia. Kau ingin kesana?”

“Tidak tidak. Aku hanya ingin tahu kemana dia.”

“Baiklah. Ayo kita makan siang, menu hari senin adalah menu paling spesial. Kajja,” ia langsung menarik tangan Naeun.

Yura memang mengenal semua orang yang ada di sekolah. Buktinya, di sepanjang perjalanan ke kantin Hyojin menyapa semua orang yang ia lewati. Ada yang membalas, namun ada pula yang mengabaikan. Diantara orang-orang itu tak sedikit pula yang bertanya siapa yeoja yang Yura bawa. Yura menjelaskan dengan bingar, sedangkan Naeun hanya tersenyum. Bukan karena dia malas berbicara atau apa, tapi pikirannya masih memikirkan ucapan Yura. Tentang Sehun.

“Yura-ah, kau belum menjelaskan padaku mengapa Sehun seterkenal itu?” tanya Naeun saat mereka ditengah makan siang.

“Kenapa kau begitu penasaran?” Yura balik bertanya, alisnya menyatu dan menatap Naeun menyelidik, “apa kau menyukainya?”

“Apa?” mata Naeun membulat seketika, “tidak, tentu tidak. Bagaimana bisa aku menyukai dia?”

“Baiklah. Kalau begitu,”

BRAKK!! Kalimat Yura tergantung saat seorang yeoja berambut pirang menggebrak meja mereka.

“Pergilah, karena kami akan makan di meja ini,” yeoja berambut pirang itu menatap Yura dan Naeun bergantian. Lalu menatap yeoja berambut hitam yang sedari tadi hanya diam.

“Mengapa harus di sini? Apa kau tak melihat meja kosong disana?”

“Kim Yura, kau masih berani bersikap begitu?”

Naeun dan yeoja berambut hitam masih diam. Yeoja berambut hitam diam karena merasa si rambut pirang bisa mengatasi. Sedangkan Naeun diam karena dia adalah siswa baru dan tak ingin bermasalah dengan orang-orang disini.

“Mengapa aku harus takut? Pergilah hidung plastik.”

Si rambut pirang mulai terbakar emosi dengan ucapan Yura. Dia hendak menampar, namun tangannya tertahan.

“Tak perlu melakukan itu. Kami akan pergi,” Naeun melepaskan tangan si rambut pirang, dan beralih menggenggam tangan Yura. Sedangkan tangan kanannya mengangkat piring makanan. Saat berbalik, tanpa sengaja tubuhnya menabrak seorang namja. Piring yang ia bawa otomatis mengotori seragam namja itu. Semua orang menatap meja Naeun. Naeun hanya meringis tanpa berani menatap siapa yang ia tabrak.

Reflek tangan Naeun membersihkan seragam namja itu dengan tangannya. Kata maaf terus keluar dari mulut Naeun. Namun yang terjadi noda makanan malah semakin menyebar dan terlihat jelas di kain putih itu. Naeun kembali meringis merutuki kecerobohannya.

Yeoja berambut hitam itu menarik tubuh Naeun menjauh dari namja yang ia tabrak,”berani sekali kau mengotori bajunya? Lihatlah sekarang, kau malah memperparah. Kau benar-benar,” tangan yeoja itu hendak melayang pada pipi Naeun yang masih tertunduk, namun cengkraman seorang namja menahannya.

“Sudahlah Alice, dia tak sengaja melakukan itu. Lagi pula dia tetanggaku.”

Seketika Naeun menatap namja yang ada di depannya. Dia adalah namja yadong itu. ‘Bagaimana mungkin aku satu sekolah dengannya?’ batin Naeun. Bukan hanya Naeun yang terkejut. Semua mata kini benar-benar tertuju pada mereka. Bahkan mata Alice kini makin membulat mendengar ucapan Kai. Kai yang begitu digilai para yeoja terutama di sekolah, bertetangga dengan yeoja yang hanya beberapa jam lalu resmi menjadi siswa di sekolah ini.

“Mengapa kau begitu terkejut tetanggaku? Apa aku begitu tampan? Atau kau merindukanku, Son Na Eun?” nama Naeun di ucapkan dengan penuh penekanan pada setiap katanya oleh Kai. Membuat semua orang semakin terkejut, termasuk Naeun.

“Kau mengenalnya?” namja berambut hitam yang sedikit lebih tinggi dari Kai mulai membuka suara.

“Tentu saja. Bahkan meskipun kemarin dia baru resmi jadi tetanggaku, kami sudah sangat dekat. Bahkan kami pernah sedekat ini?”

Kai mencondongkan tubuhnya pada Naeun, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, “benar kan tetangga?” lanjut Kai. Entah kenapa saat menatap Naeun, Kai seperti teringat pada seseorang. Seseorang yang sangat berarti. Tatapan mata teduh itu, membuat Kai terus menatap Naeun, semakin dekat. Membuat Naeun mendorong tubuhnya menjauh. Naeun berbalik akan pergi, namun tangan Kai menahan.

“Kau akan pergi begitu saja setelah apa yang kau lakukan? Lihatlah, kau mengotori seragamku,” separuh dari seragam itu memang sudah tertupi noda makanan.

“Kau bahkan belum mengembalikan kemejaku yang kau pakai kemarin.”

Lagi-lagi ucapan Kai membuat semua orang semakin terkejut. Berbagai spekulasi muncul dalam benak mereka.

‘Apakah Kai menyukai yeoja itu?’

‘Apakah sainganku semakin bertambah?’

‘Apakah dia korban Kai?’

‘Apakah mereka pacaran? Tidak, tidak mungkin. Tapi mengapa Kai bersikap begitu?’

‘Apa dia juga pernah tidur bersama Kai?’

‘Aku senang karena Alice mendapat saingan baru.’

‘Rasakan itu Alice. Kai tak akan pernah jadi milikmu.’

‘Kurasa dia akan menjadi korban Alice selanjutnya.’

‘Ini akan sangat seru.’

Pandangan mereka pun menunjukkan apa yang ada pada benak mereka. Ada yang senang seperti Yura, ada pula yang marah seperti Alice dan si rambut pirang. ‘Naeun tetangga Kai? Oh tuhan, ini sungguh keberuntungan. Jika Kai menyukai Naeun, kemungkinanku untuk mendapatkan Tao semakin terbuka. Terimakasih Naeun, aku mencintaimu,’ batin Yura kegirangan sambil menatap namja yang sedari tadi berada di samping Kai.

‘Kai mengenal yeoja itu? Apa Sehun juga mengenalnya? Kurasa aku akan bekerja lebih keras untuk Alice musim panas ini. Tapi apa dia juga akan menjadi sainganku’ batin si rambut pirang,

‘Kemeja? Apa yang sudah terjadi? Apa dia sudah menjadi korban Kai? Apa mereka pacaran? Tidak, tidak. Tidak mungkin Alice. Apapun hubungan mereka, kau harus menjadi kekasih Kai. Ya, kau harus mendapatkan Kai, harus,’ Alice meyakinkan diri. Ekspresi khawatir berganti dengan keangkuhan dan keegoisan pada wajah cantiknya yang merupakan keturunan Korea-Perancis.

“Apa kau lupa tetangga? Apa aku perlu menceritakan apa yang terjadi pada kita di dalam apartemenku-”

Kalimat Kai terhenti saat Naeun membekap mulut Kai. Dan kini semua orang semakin penasaran dengan kalimat Kai. Mereka yang awalnya mengira itu hanya motif Kai untuk mendapatkan Naeun, mulai memunculkan spekulasi baru.

Alice menghempaskan tangan Naeun, “lancang sekali kau menyentuh wajah Kai. Kau sungguh-”

“Biarkan saja Alice. Kau begitu terkejut karena ini. Lalu bagaimana saat kau melihat wajahnya menyentuh wajahku?”

Semua orang semakin terkejut. Tak dapat dipungkiri lagi, Naeun memang korban Kai. Begitulah yang ada dalam pikiran mereka. Alice, sang ratu sekolah yang selama ini selalu beranggapan jika dirinyalah yang akan menjadi kekasih Kai, kini semakin geram. Wajah cantiknya merah padam. Sedangkan Naeun hanya menggeleng-gelengkan kepala tanpa mengatakan apapun. Memang benar, wajah mereka pernah bersentuhan. Tapi wajah Kai lah yang menyentuh wajah Naeun, bukan sebaliknya. Naeun benar-benar tak menyangka Kai akan melakukan itu. Dia tak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya karena ulah Kai. Tanpa aba-aba lagi, Naeun berbalik akan pergi.

“Kau masih ingin pergi? Lihatlah, kau mengotori baju dan wajahku,” terlihat beberapa noda makanan pada sekitar area mulut Kai akibat bekapan tangan Naeun tadi.

Naeun berhenti. Ia bukan tipikal orang yang meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. Orang tuanya dan Donghae juga mendidik Naeun menjadi orang yang bertanggung jawab. Namun namja itu sudah mempermalukannya. Namja itu sudah membuat dirinya seakan-akan wanita murahan. Jangankan melakukan hubungan asmara, jatuh cintapun Naeun belum pernah. Airmata mulai muncul di pelupuk mata Naeun. Namja itu sudah benar-benar keterlaluan baginya. Alasan itulah yang membuat Naeun kembali melangkah.

Kai tersenyum ketika melihat Naeun terdiam. Dia yakin yeoja itu akan berbalik. Namun dugaannya salah. Dengan cepat kai menyusul Naeun, membalikkan tubuh Naeun agar menatapnya.

“Kau tak akan tanggung jawab atas kesalahanmu? Lihatlah, kau sudah-”

“Lalu apa kau tak akan bertanggung jawab karena sudah mempermalukanku?”

Kai tersentak. Dapat ia lihat kemarahan dalam mata dan suara Naeun. Oh tidak, kini yeoja itu menangis. Ini sungguh diluar dugaan. Meskipun dirinya playboy, tapi melihat seorang yeoja menangis pantang bagi Kai. Dan semua orang tau itu.

“Kau, kau benar-benar keterlaluan,” kini Naeun tak bisa mengendalikan emosi.

Begitu pula Kai. Melihat wanita menangis adalah hal terburuk baginya. Dan itu terjadi karena kenangan masa lalu. Tidak, ia benar-benar tidak bisa melihat yeoja ini menangis. Kai menarik tubuh Naeun dalam pelukannya. Seorang wanita tak boleh menangis di depannya, apa lagi karena kesalahan ia sendiri. Kai mendekap Naeun erat. Tangan kekar itu bergantian mengelus punggung dan kepala Naeun bergantian. Memang ia tak bisa melihat seorang yeoja menangis. Namun memeluk yeoja itu agar berhenti menangis jarang ia lakukan. Entah kenapa terdapat penyesalan luar biasa saat melihat Naeun menangis. Naeun terus memberontak, meminta Kai melepaskan pelukan mereka. Namun apalah daya, Kai semakin mengeratkan pelukan.

“Kumohon lepaskan aku. Lepaskan aku,” suara Naeun semakin tak terdengar lirih karena ia menangis.

“Lepaskan dia Kai. Apa kau tak mendengarnya?”

Suara itu berhasil membuat semua mata menatap Kai dan si arah sumber suara bergantian. Kai mendongak, dan tampaklah namja yang sangat ia kenal. Sehun. Oh Sehun. Namja berperawakan jangkung itu tengah menuju ke arah mereka. Kai yang terus menatap tajam Sehun tak menyadari jika pelukannya pada Naeun mulai melemah. Hingga dalam satu tarikan tubuh Naeun sudah berada di samping Sehun.

“Lihatlah, kau membuatnya menangis seperti ini,” Sehun sedikit menunduk. Tangan kanan bak porselin itu menghapus air mata di wajah Naeun. Sangat lembut, dan penuh perhatian.

“Jangan mencampuri urusanku Oh Sehun. Enyahlah, ” tatapan tajam Kai membuat semua orang yang melihat semakin penasaran apa yang akan terjadi.

Sudah dua tahun mereka tak melihat Sehun dan Kai berbicara. Jangankan berbicara, berada pada jarak yang cukup dekat saja tak pernah. Padahal semua orang tahu jika awalnya mereka merupakan sahabat baik. Bahkan mereka terlihat seperti sepasang kekasih dan kakak beradik yang tak bisa di pisahkan. Meskipun Tao, namja keturunan Cina itu sering menjadi pihak ketiga dalam hubungan mereka.

Pihak ketiga yang dimaksud disini bukan berarti Tao ingin merusak persahabatan Kai dan Sehun. Melainkan diantara mereka bertiga, Kai lebih dekat dengan Sehun dari pada dirinya. Bahkan Tao menangis saat melihat kedua sahabatnya bertengkar. Berulang kali Tao merengek seperti anak kecil agar Kai dan Sehun kembali bersahabat. Tapi apalah daya seorang Huang Zi Tao yang berjuang sendirian melawan dua orang yang sama-sama keras kepala, terutama Kai. Kejadian dua tahun lalu itulah yang memecahkan persahabatan mereka bertiga. Memang, Tao tak memihak Kai atau Sehun. Namun sejak Sehun selalu ingin sendiri, Tao mulai menyerah dan memilih Kai yang selalu ingin di temani.

“Aku memang tak berhak mencampuri urusanmu. Tapi aku berhak mencampuri urusannya,” Sehun menatap Kai tak kalah tajam, membuat Kai semakin geram. Ia beralih menatap Naeun yang masih menunduk, “sebaiknya kita pergi. Aku sudah lama menunggumu.”

Kai tersenyum getir, “Oh Sehun, tampaknya kau masih hobi mengambil apa yang bukan milikmu.”

Langkah kaki Sehun terhenti, membuat Naeun yang berada di belakangnya juga berhenti. Melihat kesempatan itu, dengan cepat Kai menyusul dan mencoba menarik tangan kanan Naeun. Tapi tangannya terhempas. Kali ini bukan karena Naeun, tapi karena Sehun.

“Berhentilah memaksakan kehendakmu Kim Jong In. Apa yang kau inginkan tak selalu bisa kau miliki.”

“Lalu apa bedanya denganmu yang suka mengambil milik orang lain?”

“Tutup mulutmu Kim Jong In. Aku tak pernah mengambil apapun tanpa ijin.”

“Benarkah? Apa aku bisa mempercayai itu setelah apa yang kau lakukan Oh Sehun?” tersirat kebencian dalam tatapan Kai. Namun dalam kebencian itu terdapat pula kerinduan pada namja yang dulu sudah ia anggap sebagai adiknya.

“Lalu apa aku bisa percaya jika seorang Kim Jong In tak bisa melihat seorang perempuan menangis di depan matanya?”

Keduanya menatap Naeun. Yeoja itu terus menunduk. Mereka tak tau Naeun masih menangis atau tidak, karena suara isakan tangis tak terdengar lagi. Sehun kembali melangkah pergi. Kali ini tangan kanannya merangkul pundak Naeun, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan kiri Naeun erat. Khawatir jika Kai akan merebutnya lagi.

“Keterlaluan kau Oh Sehun. Dasar pembunuh!” semua orang tersentak dengan ucapan Kai, termasuk Sehun. Kecuali Tao yang kini menunduk sedih melihat kedua sahabatnya itu.

To Be Continued

Gimana? Jelekkah? Mohon komentarnya yaa. Seperti apapun komentar kalian, masukan sangat saya butuhkan untuk kelangsungan hidup FF ini. Minimal 10 komentar dan masukan lah, oke? 😀
Oiya, ada yang mau buatin author cover buat FF ini secara ikhlas gak? Soalnya author gak punya app photoshop, dan disitu author merasa sedih :3 Yang mau silahkan, yang gak mau #akuravovo Thanks for reading, see you next time. Salam Thehun^^

Iklan

5 pemikiran pada “[EXOFFI FACEBOOK] Dark Summer (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s