Beauty and The Beast Chapter 12 [What’s Wrong With Me?] – HyeKim

beautyandthebeast2

Beauty and The Beast Chapter 12

└ What’s Wrong With Me? ┘

©2016 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim || Kyuhyun Super Junior as Cho Kyuhyun || V BTS as Kim Taehyung

Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, Family ||  Lenght : Multi Chapter || Rating : PG-17

Summary :

Beauty and The Beast adalah cerita dongeng yang dulu selalu menghiasi masa kecil seorang Kim Hyerim. Hyerim dulu sempat berkata ingin menjadi Belle, si cantik yang jatuh cinta pada beast. Si pangeran yang dikutuk jadi monster. Apa yang akan Hyerim lakukan bila hal tersebut terjadi padanya?

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


Luhan rasa ada yang tidak beres dengannya hari ini.


PREVIOUS :

Teaser || #1 || #2  || #3  || #4 || #5  || #6 || #7  || #8  || #9 || #10 || #11

BACKSOUND :

HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Sesekon. Dua sekon. Tiga sekon. Dan entah berapa sekon Luhan terus memandangi Hyerim atau lebih tepatnya memandangi gadis itu dengan bayang-bayang seorang Im Jinah. Dan Hyerim sendiri malah bergeming dan sesekali mengerjapkan matanya.

“Heh…” akhirnya Hyerim mengeluarkan suaranya sambil menjentikan jari didepan wajah Luhan yang langsung mengerjap. Mimik Hyerim terlihat jengkel sambil mencibir. “Matamu rabun ya?” ujar Hyerim dengan nada sarkastik dan tangan terlipat didepan dada, Luhan kembali mengerjapkan matanya dan langsung saja bayangan Jinah bunyar tergantikan sosok Hyerim.

“Jinah darimananya? Ini aku. Dasar mata rabun,” desis Hyerim lalu membalikan badan untuk membereskan kekacuan di dapur, berlakon seakan tak ada dampak apapun akan Luhan yang teringat sosok yang masih membekas dihatinya.

Disaat Hyerim sudah sibuk akan pekerjaannya, Luhan masih terdiam dengan mata menerawang ke bawah. Ketika sosok jelita Jinah dengan rambut dikepang satunya sedang tertawa melintas dibenaknya, Luhan langsung memejamkan mata dan menggeleng kuat guna sosok yang membobol benaknya itu lenyap.

“Heh rambut mangkuk, jangan diam saja seperti patung. Bantu aku membawa makan malam ke meja makan,” suara Hyerim kembali terdengar membuat Luhan langsung menatapnya dengan dahi mengernyit. Rambut mangkuk? Paham akan ekspresi Luhan, Hyerim menoleh sambil tersenyum menahan tawa. “Rambutmu korban siram airku.”

Kemudian Hyerim melongos pergi sambil membawa seporsi ayam goreng yang berhasil terselamatkan dengan kekehan tanpa suara. Mata Luhan membola dengan wajah bodoh dan tangan yang meraba rambutnya yang basah. Setelah itu dirinya mengeram kesal dan melayangkan tatapan laser pada punggung Hyerim yang sudah menjauh.

“Dasar kambing dungu.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Bangunan megah bernama rumah sakit itu memang identik dengan bau obat-obatan yang menyeruak kepangkal hidung dan baunya sangat tidak bersahabat. Tetapi di luar sana, langit sangat bersahabat dengan mentari yang menghangatkan bumi. Hari ini bagian Hyerim yang menemani ayahnya terapi bahkan dokter yang menangani ayahnya mengatakan dua hari kedepan Sang Ayah boleh kembali ke rumah sambil melakukan rawat jalan. Dengan senyum mengembang, Hyerim mendorong kursi roda yang diduduki oleh ayahnya. Raut Tuan Kim pun tak jauh beda dengan Hyerim yang bersemangat.

“Ayah, kita sudah sampai di kamar,” ujar Hyerim ketika keduanya sampai di kamar inap Tuan Kim dan langsung saja Hyerim membuka pintu tersebut dan mendorong masuk kursi roda ayahnya.

Ketika Hyerim hendak memapah ayahnya ke ranjang, Tuan Kim lantas mengangkat tangan kanan pertanda menolak disertai senyum lembut yang terkulum dibibirnya. Kemudian secara perlahan Tuan Kim berdiri dari kursi roda dan berjalan perlahan hingga berhasil duduk di atas ranjang. Hyerim yang sedaritadi mengamati ayahnya pun menghela napas lega ketika menyaksikan Sang Ayah berjalan ke ranjang dengan selamat.

“Aku hanya sakit dibagian hati, Hyerim. Bukannya lumpuh.” ucap Tuan Kim sembari menyarangkan tatapan menenangkannya kepada putrinya yang langsung merespon hal yang serupa yakni tersenyum.

Hyerim pun meletakan kursi roda ayahnya di pojok ruangan kemudian kembali membalikan badan juga masih setia dengan senyumnya seraya berkata, “Yah, aku ingin keluar sebentar ya.”

Ayah pun mengangguk tanpa mengucapkan kata untuk mengizinkan Hyerim. Setelah itu langkah kaki Hyerim tercipta keluar ruangan. Dirinya pun berjalan menuju kantin rumah sakit untuk membeli minuman kaleng dan mencari udara segar karena sesungguhnya ia benci berlama-lama di rumah sakit yang malahan mengingatkannya akan mendiang ibunya yang meninggal karena serangan jantung lalu mengerang nyawa di rumah sakit. Ketika minuman kaleng bersoda itu sudah berada digenggamannya, Hyerim membukanya lantas meneguknya hampir habis. Setelah itu Hyerim menghembuskan napasnya. Pikirannya melambung kepada kejadian semalam, Luhan yang menyebutkan nama Jinah di depan matanya. Dan hal tersebutlah membuat Hyerim hari ini nyaris gila karena rasa sesak tak beralasan direlung hatinya. Monster sialan, Hyerim terus mengumpat begitu pada sosok Luhan.

“Aku ingin jadi Belle!” pekikan bocah perempuan tersebut menyebabkan langkah kaki Hyerim terhenti. Dirinya memandang sekitar dan menemukan sumber suara yang berasal dari taman asri rumah sakit yang ia lewati. “Belle itu sangat cantik, aku ingin menjadi sepertinya.” lontaran kata dari punggung seorang bocah berkepang satu dengan baju dress putih dilengkapi pita pink lucu dibagian pinggang, kembali terdengar.

Entah hasrat apa, Hyerim malah melangkah mendekati bocah berkepang satu tersebut. Tatkala Hyerim sampai di belakang bocah tersebut, ia pun perlahan membungkuk seraya menepuk bahu Si Bocah pelan. Mendapatkan tepukan itu tentu sangat mengejutkan bagi Si Bocah berkepang yang langsung menoleh dan menyarangkan tatapan takut-takut kepada Hyerim, meskipun gadis jelita itu sedang tersenyum padanya.

“Belle?” ujarnya spontan dengan muka berbinar.

Sekarang Hyerim pun mengerutkan kening karena bingung atas ujaran bocah lucu di depannya ini, maka dari itu Hyerim mengulang ujaran barusan dengan nada bingung. “Belle?”

Si Bocah tersenyum memamerkan deretan gigi yang sebagian ompong itu, lalu menarik keluar buku dengan sampul Belle dan Beast yang sedang berdansa─persis seperti buku milik Nara yang  ia temukan di atap tempo itu. Dengan mata menyipit Hyerim memperhatikan sampul buku dongeng kesukaannya semasa kecil, lalu Si Bocah berkepang menarik kembali bukunya kedekapannya.

Unni sangat cantik seperti Belle!” ujarnya semangat manakala membuat pipi Hyerim bersemu. Nyatanya walau itu pujian dari seorang bocahpun masih berhasil membuat Hyerim bersemu malu layaknya dipuji pujaan hati.

“Terimakasih, manis…” Hyerim berkata sambil mengelus pelan puncuk kepala Si Bocah berkepang yang kembali melihatkan deretan giginya dengan anggukan kepalanya. “Mau unni bacakan ceritanya?” tawar Hyerim gemas apalagi dengan gigi ompong bocah tersebut.

Kembali Si Bocah memasang wajah semangat dengan bola mata berbinar, dirinya mengangguk dengan cepat pertanda setuju. Hyerim pun menegakan tubuhnya kembali kemudian menarik lembut tangan bocah perempuan yang akhirnya mengenalkan diri sebagai Park Hanna. Hanna pun Hyerim bawa duduk di sebuah bangku taman yang tersedia. Secara perlahan Hyerim membuka buku tersebut dengan Hanna yang melirik-lirik isi buku dengan wajah berbinar tepat di sebelahnya.

“Pada suatu hari…” dongeng beauty and the beast pun dimulai oleh Hyerim. Dengan pita suara yang pas untuk berdongeng, Hyerim membacakan bait demi bait yang tertera di halaman pertama hingga akhirnya halaman terakhir. “… setelah itu keduanya hidup bahagia selamanya.” layaknya perkataan lumrah disetiap dongeng, Hyerim menutupnya demikian begitupun buku dongeng yang ia tutup perlahan.

Dengan senyum bak bidadarinya, Hyerim menyerahkan buku kembali kepada Si Pemilik─Hanna. Bocah berkepang itu menerimanya dan mendekap buku tersebut layaknya sesuatu yang berharga dan tidak boleh hilang dari jangkauannya. Hanna pun menatap Hyerim yang masih setia mengulas senyumnya.

“Aku suka ceritanya walau umma sudah sering mendongengkannya sebelum aku tidur.”

Senyum lebar Hyerim sedikit lentur tergantikan guratan tipis dibibirnya. Oh didongengkan beauty and the beast sebelum tidur? Kenapa Hyerim jadi teringat dirinya sendiri? Akhirnya Hyerim kembali mengulas senyum walau sangat tipis.

“Ibuku juga sering mendongengkanku cerita beauty and the beast sebelum aku tidur saat aku seusiamu.”

“Benarkah?” mata Hanna membola dengan binar antusias. Disertai kekehannya, Hyerim mengangguk.

“Ibuku selalu menyampaikan suatu pesan berarti tentang dongeng itu, mau tahu apa?” tanpa mendengar sahutan pun Hyerim tahu bahwa Hanna penasaran karena bocah satu itu menatapnya dengan pandangan ingin tahu. “Kadang kala cinta itu buta tidak peduli seberapa buruk atau jeleknya wajah maupun sikap orang tersebut, kadang cinta datang bersemi dari hati.” Hyerim mengutip perkataan mendiang ibunya tersebut dengan bayangan sosok paruh baya nan jelita Sang Ibu bergentayangan diotaknya.

Terlihat Hanna─Si Bocah berkepang, tengah menyerap perkataan Hyerim dengan mulut terbuka membentuk celah kemudian setelah mengerti─setidaknya demikian hipotesis Hyerim, Hanna kembali menatapnya dengan raut berbinar nan polosnya juga penasaran.

Unni sudah punya kekasih belum?”

Pertanyaan tersebut membuat Hyerim sedikit tersentak. Astaga, kenapa bocah ini menanyakan hal tersebut. Dengan senyum kikuk Hyerim memiringkan kepalanya ke samping kanan dengan gerakan kaku.

“Emmm… ya sudah,” jawab Hyerim sekenanya walau tak yakin siapa yang ia anggap kekasih. Jawabannya membuat Hanna menatapnya tambah penasaran.

“Apa unni mencintainya apa adanya? Tanpa mempedulikan seberapa jelek wajah maupun sikapnya?” pertanyaan Hanna yang sekarang Hyerim cap sebagai bocah sok tahu tentang cinta, membuat Hyerim membatu entah harus menyahutnya bagaimana.

Luhan. Nama itu terlintas kembali dibenaknya membuat ruh Hyerim seakan terbang entah ke mana. Wajah lelaki itu tidak jelek sama sekali malahan sangat… tampan. Tapi sikapnyalah yang benar-benar buruk dan semena-mena. Tapi diambil dari kata-kata ibunya yakni cinta bersemi dari hati. Hyerim pun merenungkannya kembali ditambah perkataan Nara tentang kisahnya dengan Luhan mirip dengan dongeng beauty and the beast. Menyebabkan Hyerim kembali berpikir mungkinkah─tunggu, apakah Hyerim baru mengakui bahwa hatinya jatuh cinta pada monster tersebut?

Unni…” Hanna, Si Bocah penasaran itu gemas karena pertanyaannya itu tidak dijawab Hyerim. Dirinya menggoyangkan tangan kanan Hyerim seraya memasang wajah memelas dengan bibir cemberut dan membuat Hyerim tak tahan untuk tidak menyarangkan sebuah cubitan dipipinya yang malahan membuat Hanna tambah memberengut.

“Baiklah kalau kamu penasaran akan percintaanku…” ucap Hyerim kemudian menarik napas sejenak. “Ceritaku seperti beauty and the beast. Awalnya sih aku menyerahkan diri padanya karena ingin menolong ayahku seperti Belle. Lalu aku terjerat bersama dirinya yang merupakan seorang monster. Bedanya bila Beast itu pangeran yang dikutuk menjadi monster. Namun lelaki ini malahan monster yang terjebak dalam tubuh pangeran. Mungkin sekarang….” Hyerim menggantungkan kembali ucapannya sembari menghela napasnya.

“… aku seperti Belle dan mulai mencintainya.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Perpustakaan Hanguk SHS tampak sedikit lengang saat ini, mungkin dikarenakan bukan musim ujian yang menuntut para murid untuk mendapatkan nilai sempura. Kecuali beberapa murid tingkat tiga yang akan melaksanakan ujian kelulusan beberapa bulan kedepan. Di pojok perpustakaan, terduduklah sosok Kim Taehyung yang kelihatan lesu dan berulang kali menghela napas berat. Buku pelajarannya dibiarkan terbuka begitu saja tanpa terjamah sama sekali.

“Eh Kim Taehyung!” secara tiba-tiba suara cempreng perempuan memasuki runggu seorang Taehyung yang lantas berbalik. Tag nama ‘Go Yeun’ terpatri dibaju seragam oknum yang memanggilnya tadi. Yeun adalah gadis yang selalu ingin tahu dan tukang gossip, setahu Taehyung.

“Apa?” sahutan dengan bola mata memutar malas Taehyung lihatkan dan terlihat Yeun tak gentar dan malah menarik kursi untuk duduk di sebelah Taehyung kemudian menopang dagu di atas meja sambil menoleh ke samping Taehyung diiringi tatapan penuh minat. “Dirimu seakan tertarik padaku saja bila begini.” Taehyung berujar sarkastik dan Yeun langsung mencibir kala itu.

“Aku memang tertarik padamu…” alis Taehyung yang satunya langsung terangkat tapi Yeun langsung melajutkan agar tidak terjadi kesalah pahaman. “… maksudnya tertarik pada kisah percintaan kakakmu.” sekarang dua alis Taehyung berkerut begitupula dahinya dengan mata menyipit, merasa aneh akan ucapan Yeun.

“Iya, bukannya kakakmu itu menikah dengan pemilik Lu Industries,” tersentak kaget adalah reaksi reflek Taehyung ketika mendengar suara lain dari arah belakang.

Tatkala kepalanya menoleh, dua orang gadis menatapnya penasaran. Lee Ahran dan Oh Chorim, dua teman baik Yeun. Pasti keduanya menguping daritadi dan memperintah Yeun bertanya pada Taehyung. Ketiganya memang haus sekali bergossip dan mencari tahu.

“Iya, pemilik Lu Industries kan memiliki julukan layaknya monster yang terjebak dalam tubuh pangeran. Bagaimana bisa kakakmu menaklukan Si Monster itu? Aku jadi penasaran,” ucap Ahran yang sudah menarik kursi duduk di depan Taehyung diikuti Chorim. Keduanya lebih tepatnya ketiganya─bersama dengan Yeun, sangat menatap Taehyung dengan binar penuh minat.

“Haruskah aku memberitahunya?” ucap Taehyung datar dengan kornea mata menyipit dan ketara malas sekali meladeni tiga gadis haus informasi itu.

“Tentu saja!” ketiganya kompak menyahut dengan mata membola menyebabkan Taehyung berjengit kaget dengan wajah terkejut. “Pemilik Lu Industries terkenal tampan tapi sayangnya berhati sangat dingin!” lanjut Chorim dan disahuti anggukan dua temannya.

Mata Taehyung mengedip pada akhirnya setelah rasa kagetnya barusan ternetralisir, lalu dirinya menggerak-gerakan bibir kesal. “Apa sebegitu terkenalnya perusahaan tersebut hingga watak CEOnya saja diketahui begini,” gumam Taehyung pelan lalu menatap ketiga gadis yang masih berusaha mengorek informasi itu satu-persatu. “Kalau kalian ingin tahu, carikan aku seseorang yang ingin mendonorkan hatinya. Atau mungkin ada sanak saudara kalian yang akan meninggal, beritahu aku, siapa tahu mereka mau mendonorkan hatinya.”

Ekspresi tiga gadis tersebut tentu saja melongo dengan mulut menganga. Sementara Taehyung hanya berlagak cuek. “Dasar sinting!” kata Yeun dengan wajah jijiknya. “Mana ada yang mau mendonorkan hatinya begitu saja, bodoh.”

“Ya, dan lagipula kau ini mendoakan keluargaku berduka ya dengan adanya yang meninggal?” cibir Chorim dengan tatapan datarnya.

“Usaha kita untuk mencari donor hati itu akan percuma, sulit sekali asal kau tahu. Kalau donor STB setidaknya tidak merengut nyawa. Ini? Hati? Orang gila mana yang mau mengorbankan nyawa walau berbuat kebaikan dengan mendonorkan hati?” kata-kata Ahran dengan nada penuh sarkastik dan wajah yang sama membuat hati Taehyung tertohok serta badannya membeku. Apakah sesulit itu untuk membuat ayahnya bertahan?

Setelah itu ketiga gadis tersebut bubar dengan penuh cibirannya serta berbisik-bisik mengatakan Taehyung tidak waras. Akan tetapi Taehyung bersikap acuh dan ketika dirinya hendak menyelami buku pelajaran miliknya yang tak terjamah, sosok Park Jimin muncul dengan tatapan yang seakan menghunus Taehyung.

“Kamu gila menanyakan hal barusan kepada tiga gadis haus gossip tadi,” ujar Jimin diiringi membanting bokongnya duduk di kursi dingin perpustakaan yang berposisi di hadapan Taehyung.

Taehyung hanya melirik lelaki tersebut dan kembali pura-pura sibuk membaca. “Aku hanya sedikit patah arang masalah donor hati ayahku,” diiringi helaan napas berat juga bola mata lelah, Taehyung mengatakan hal tersebut.

Senyum tipis terkulum dibibir Jimin kemudian dirinya berkata dengan pita suara tenang. “Banyaklah berdoa, pasti ayahmu mendapatkan donor hati.”

Anggukan lemah Taehyung tercipta lalu dirinya menutup buku pelajaran yang ia baca untuk dimasukan ke dalam tas. Setelah itu dirinya bangkit sambil menarik tas punggungnya. “Aku duluan.” Taehyung pun langsung pergi dari perpustakaan tanpa menunggu respon Jimin.

Tatkala Taehyung masih dengan langkah lesunya menyerusuri perkarangan sekolah hingga akhirnya sampai di area luar sekolahan, sebuah suara memasuki runggunya menyebabkan kepalanya berbalik ke sumber suara.

“Taehyung…” panggilan sukses yang membuat Taehyung berbalik berasal dari mulut Luhan yang entah sejak kapan sudah berdiri dengan sebagian tubuh bertumpu pada tembok gerbang sekolah.

Hyung?” heran Taehyung sembari menyipitkan mata. Luhan pun mengangguk dengan tangan terkibas-kibas memperintahkan Taehyung mendekat. Ketika sudah berada tepat di depan Luhan, Taehyung bertanya. “Ada apa hyung ke sini?”

Terlihat Luhan menampilkan senyum miring yang khas akan sebuah kemisteriusan. Masih dengan tubuh bertumpu pada tembok juga tangan terlipat didepan dada, Luhan berkata santai. “Tentu memberikanmu les privat.” Luhan mengakhiri perkataannya dengan gerlingan mata sebab tahu Taehyung sangat tidak suka ide les privat yang Luhan cetuskan.

Namun bukan ekspresi ditekuk dengan mata memelas, Taehyung malahan menampilkan senyum tipis disertai anggukan ringan. “Baiklah. Kalau begitu kita belajar di cafe kesukaanku, bagaimana?” usul Taehyung karena sesungguhnya dirinya butuh sandaran akan kesehatan ayahnya. Mungkin Luhan lah pilihannya kali ini karena dirinya tak ingin merepotkan Hyerim lagi sekarang.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Selama perjalanan pulang. Entah berapa umpatan dan tamparan ringan maupun keras ditorehkan dibibirnya sendiri. Kim Hyerim rasanya akan gila atau memang sudah gila. Dirinya main mengatakan menyukai Luhan kepada bocah di rumah sakit barusan. Memang sih bocah tadi tidak tahu menahu akan Luhan tapi tetap saja Hyerim sudah mengungkapkan dirinya mencintai Luhan. Sekarang pun Hyerim kembali menampar bibirnya sendiri karena sudah mengatakan hal tak mutu itu. Masih dengan perasaan kacau, Hyerim mengambil kunci rumah dan hendak memasukannya ke lubang kunci. Namun sebuah penggerakan membuatnya menganga seketika, dikarenakan pintu masuk rumah yang terbuka dari dalam.

Raut terkejut diparas Hyerim makin terpampang dengan mulut terbuka ketika adanya sosok lelaki yang dengan lagak santainya memakan sebungkus keripik kentang lalu menatapnya dengan pandangan ingin tahu. Ya, lelaki inilah yang membuka pintu dari dalam rumah Hyerim dan Luhan.

“Eh kau ini Kim Hyerim, ya?” ujarnya dengan intonasi ceria dan wajah kelewat ingin tahu. Masih belum sembuh dari keterkejutannya, Hyerim mengangguk dengan wajah terbodohnya. Kemudian Si Lelaki tersebut seakan mensensor Hyerim dari atas ke bawah dengan memandangi gadis itu dari ujung kepala hingga kaki, setelahnya dirinya berdecak kagum. “Wah! Luhan tidak salah pilih. Cantik sekali istrinya!” ucapnya dengan pandangan takjub sambil geleng-geleng juga berdecak.

Mendengar pujian tersebut membuat Hyerim salah tingkah dan tersenyum meringis. “Anu… kau ini siapa ya?” tanya Hyerim sedikit hati-hati walau bisa dibilang lelaki ini penyusup karena main menyusup ke rumahnya.

Dengan cengiran tanpa dosanya, lelaki tersebut mengulurkan tangan kanan dan mengenalkan diri. “Namaku Byun Baekhyun. Aku sahabat suamimu.”

Karena tak enak, Hyerim pun mengulurkan tangan ragu menjabat tangan Baekhyun serta masih dengan senyum meringisnya. “Aku Kim Hyerim.” tangan keduanya pun bersalaman singkat.

“Iya aku sudah tahu…” ujar Baekhyun dengan senyum lebarnya kemudian menyipitkan matanya menatap Hyerim. “… tapi kenapa Luhan bilang padaku bahwa lebih menarik bak sampah dibandingkan dirimu?” Baekhyun bergumam pelan namun masih dapat Hyerim dengar.

Hyerim seketika naik pitam. Oh jadi dirinya lebih hina dari bak sampah? Monster sialan! Hyerim mengumpat kesal dalam hati dengan bibir bergerak-gerak jengkel. Tanpa ia ketahui Baekhyun masih setia menatapnya dengan pandangan penuh minat.

“Apa dirimu bisa memasak?” tanya Baekhyun membuat Hyerim menyarangkan tatapan bingung padanya dan mengangguk. “Ya Tuhan, lelaki itu banyak sekali membual.” Baekhyum mendesah pelan dan Hyerim makin naik pitam karena yakin Luhan menginjak-injak imejnya dihadapan lelaki Byun ini.

“Kalau kau tidak percaya, aku akan memasakanmu sekarang!” ucap Hyerim dengan tangan terlipat didepan dada. Melihat wajah tertantang Hyerim membuat Baekhyun mengeluarkan tawa sumbang.

“Ah ya kebetulan aku lapar.” ucap Baekhyun dengan senyum dipaksa-paksakan.

Setelah itu Hyerim dan Baekhyun pun masuk ke dalam rumah. Disitulah Hyerim memulai aksinya membuat sebuah omellete untuk Baekhyun yang terus berceloteh selama Hyerim memasak. Dirinya mengatakan sudah bersahabat dengan Luhan sejak kecil, berdongeng tentang kekasihnya yang sangat cantik dan asli kelahiran Amerika, juga menceritakan dirinya yang baru datang dari Hampshire yang merupakan kota di Inggris. Hyerim tak menyangka Luhan yang dingin bisa berteman dengan Baekhyun yang kelewat banyak berceloteh ini. Omellete buatan Hyerim pun jadi, dengan sikap percaya diri nan sombong, Hyerim meletakan piring berisi omellete tersebut di depan Baekhyun yang langsung menganga dan menatap takjub hasil masakan Hyerim.

“Sudah kubilang aku bisa masak.” ujar Hyerim penuh kengangkuhan seraya membanting bokongnya ke kursi di depan Baekhyun yang menyengir kesekian kalinya kepadanya lalu mulai menyantap maha karya Hyerim tersebut.

Disela-sela mengunyah omellete itu, Baekhyun berkata. “Emmmm…. masakanmu memang enak, eheheh.” senyum puas pun tercetak diparas Hyerim ketika mendengarnya. “Ah monster dingin itu sudah diberikan istri yang cantik masih saja sulit membalut lukanya bersama Jinah.” Baekhyun berkata pelan sambil mefokuskan pandangan pada omelletenya dan memotongnya untuk ia suapkan kedalam mulutnya.

Namun perkataan yang tersiarkan pelan itu membuat tubuh Hyerim membeku layaknya tersiram air es seember penuh. Hatinya tercebik kembali dan menatap Baekhyun yang sedang menyantap nikmat omellete dengan tatapan kosong. Baekhyun yang sadar ditatapi pun menatap balik Hyerim kemudian menelan langsung omellete dimulutnya dengan wajah tak enak.

“Aduh… maaf, Hyerim-ssi… aku tidak…”

Hyerim menyunggingkan senyum tipis lantas berdiri. “Aku sepertinya harus ke kamar.” Hyerim pun membalikan badannya membuat Baekhyun mengigit bibir bawahnya tambah tak enak.

“Buatlah Luhan sepenuhnya melupakan Jinah…” langkah kaki Hyerim terhenti ketika suara Baekhyun mengatakan hal tersebut terdengar. “… aku yakin cintamu bisa mengisi hari-harinya.”

Hyerim seketika membatu mendengarnya, lalu menolehkan kepala ke samping untuk melirik Baekhyun sekilas. “Untuk apa? Dia pasti akan melupakannya karena gadis itu telah pergi menjauhkan?” kata Hyerim lalu memilih melangkah pergi meninggalkan meja makan sambil terus bertanya didalam hati apakah benar dirinya menyukai Luhan? Karena hal tersebut masih terlalu gamblang dihatinya.

Sementara itu di tempatnya, Baekhyun menatap punggung Hyerim dalam lalu berucap. “Jinah sudah kembali.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Luhan memijit pelipisnya lantaran pening menyerbunya sekon ini. Tumpukan kertas yang layaknya puncak gunung tersebut menandakan banyaknya berkas yang harus ditangani Luhan. Saat dirinya bergelut kembali dengan berkas tersebut sambil menunduk, sebuah sentakan di mejanya membuat Luhan kaget dan lantas menyarangkan tatapan tajam pada pelaku yang main mengebrak mejanya.

Hyung!” adalah Taehyung oknum yang mengebrak meja Luhan dan langsung menyapanya riang dengan wajah yang tak kalah riang. Luhan memandangnya datar sambil mencibir kesal, hari ini setelah kemarin keduanya belajar di cafe favorit Taehyung, bocah satu ini tiba-tiba mengekori Luhan ke kantor. “Hyung!” kembali Taehyung merengek dengan wajah memelas lantaran Luhan malah memilih sibuk dengan dokumen kerjanya lagi.

“Hm.” sesingkat itulah respon Luhan menyebabkan Taehyung cemberut.

Taehyung menjatuhkan tubuhnya di atas meja kerja Luhan dengan menumpu dagu ditangannya yang terlipat. “Aku bosan.” rengek Taehyung kembali mencoba menarik perhatian Luhan.

Sekilas Luhan melirik Taehyung datar dan kembali pada dokumennya. “Siapa suruh ikut ke sini?” ucapnya terkesan datar dan dingin.

Lagi, Taehyung mencibir kesal lantaran respon Luhan. Ketika sedang larut dengan perasaan bosan yang menghinggapinya, Taehyung melirik sesuatu di atas meja kerja Luhan. Sebuah figura foto. Lebih tepatnya figura foto yang berisikan foto pernikahan Luhan dan Hyerim. Kakaknya difoto tersebut menggunakan gaun pengantin elegan dan melingkarkan tangannya ditangan Luhan sambil tersenyum penuh hasrat kekakuan. Di sebelah Hyerim pun, Luhan hanya menampilkan senyum datar yang malahan terlihat bukan seperti senyuman dan lebih kelihatan layaknya sebuah garis tipis dibibirnya. Melihat itu membuat otak Taehyung bercabang ke mana-mana.

Hyung…” kembali Taehyung memanggil dan Luhan menjawabnya dengan gumaman singkat tanpa mengalihkan antensi dari berkas kerjanya. Kemudian Taehyung memandang Luhan ingin tahu lantas bertanya. “Apa kau sungguh menyukai kakakku?”

Tangan Luhan yang sedang mentandatangani satu berkaspun terhenti, seketika benaknya dipenuhi pertanyaan Taehyung. Apakah dirinya sungguh menyukai Hyerim? Luhan pun tahu betul hatinya masih belum bisa menghapus bayangan Im Jinah. Sepenuhnya masih membekas dihatinya. Semakin dirinya mencoba melupakan Jinah, semakin dirinya pula tersiksa akan hal tersebut. Sementara Hyerim hanya sebatas ‘istri kontrak’ sekarang ini bahkan diperjanjian keduanya dilarang keras jatuh cinta. Pertanyaan Taehyung membuat kepala Luhan layaknya kesemutan.

Hyung…” lagi, Taehyung memanggil Luhan karena gemas dan Luhan pun meliriknya dari ujung mata. “Aku bertanya apakah dirimu menyukai kakakku?” kembali diamlah yang Luhan pilih karena sesungguhnya hatinya lelah berbohong melantangkan mencintai gadis lain yang entah sudah memasuki relung hatinya atau belum. Terlihat Taehyung kecewa lalu menghela napas. “Kakakku itu mahasiswi tercantik diangkatannya lho.”

Topik yang Taehyung usung membuat Luhan mengerutkan dahi dengan satu alis terangkat serta mimik penasaran yang berusaha ia tahan. “Yang benar? Kakakmu cantik?” ucap Luhan dengan nada sarkastik lalu memilih kembali membaca dokumen yang ada ditangannya.

Tubuh Taehyung sedikit ia bungkukan dan terarah kepada Luhan. “Iya, para senior lelaki kakakku itu suka menjadi penggemar rahasianya…” kata-kata Taehyung itu disertai wajah antusiasnya, Luhan pun berpura-pura tuli dengan mengibaskan kertas kerjanya dengan kedua tangan lalu meniliknya lebih jelas kembali. “Hyerim nuna itu terlalu bodoh untuk menyadari banyak yang memperhatikan kecantikannya. Saat aku pergi ke kampusnya, bayangkan! Satu gerombol mahasiswa menghampiriku dan memohon padaku untuk didekatkan kepada kakakku bahkan ada yang mengaku-ngaku sebagai kekasih kakakku.”

Kuping Luhan pun mulai panas mendengarnya, wajahnya pun yang ingin sekali terlihat marah namun ia tahan. Menyadari hal itu, Taehyung menyunggingkan senyum tipis. Karena berarti strateginya berhasil memancing perasaan Luhan pada kakaknya.

“Ada saja yang mau mengaku-ngaku sebagai kekasih kambing dungu.” ejek Luhan dengan pandangan meremehkan.

Taehyung pun kembali duduk biasa tanpa mecondongkan badannya untuk condong ke arah Luhan, dirinya mengangkat bahu sok acuh dengan wajah cuek. “Entahlah. Mereka mengatakan selalu ingin mengajak kakakku pulang bersama dan mengajaknya kencan. Tapi terkadang kakakku cuek sekali dan sulit didekati. Padahal bila dirinya sendiri, kakakku sering didekati mereka bahkan saat semester awal ada seorang lelaki tampan yang mengantarnya pulang.” Taehyung berlagak antusias dengan mata membola dan mulut terbuka serta tangan kiri terlipat juga tangan kanan yang mengelus dagunya.

Luhan yang pura-pura mengotak-atik laptopnya pun tambah panas mendengarnya. Taehyung ingin sekali terbahak membaca raut kakak iparnya yang seakan mengatakan ‘Jangan dekati istriku atau kau mati’. Kemudian Taehyung berdiri dari duduknya di kursi yang berada tepat di depan meja Luhan, setelah itu dirinya mengambil ransel miliknya.

“Aku ada kerja kelompok di rumah Jongkook,” dilirik oleh Taehyung arlojinya yang menunjukan pukul setengah tiga siang, dimana waktu dirinya berjanji bersama dengan rekan kelompoknya. Taehyung melirik Luhan dengan senyum misteriusnya, kakak iparnya itu sedang balik menatapnya. “Jadi aku pamit dulu ya hyung, lagipula aku di sini seperti bocah kesepian karena dikacangi.” Taehyung mengedipkan satu matanya sambil menunduk dan menggerakan jarinya yang berada didepan alis ke arah depan, layaknya cara dirinya berpamitan seperti itu. Setelahnya Taehyung pun pergi meninggalkan Luhan.

“Hah… katanya Si Kambing Dungu itu mahasiswi tercantik? Yang benar saja!” Luhan mendesah dengan raut tak percayanya sambil menatap tempat terakhir Taehyung kemudian dirinya menarik kembali dokumennya untuk ia richi lagi namun ponselnya yang bergetar di atas mejanya membuat Luhan membuang napasnya kasar.

“Ck!” Luhan berdecak kesal lalu menaruh kertas dokumennya kasar serta menarik ponselnya malas. Matanya pun menyipit ketika melihat nama Baekhyun tertera diponselnya yang kelap-kelip sambil terus bergetar menandakan panggilan masuk.

Walau heran dengan alis mengerut serta mata menyipit, Luhan menggeser tombol dial dilayar sentuh ponselnya. Lantas Luhan pun menyapa Baekhyun dengan pita suara malas, “Hallo.”

“LUHAN!”

Sinting. Luhan mengumpat dalam hati lalu menjauhkan ponselnya dengan mata terpejam serta wajah tak nyaman lantaran pekikan super nyaring Baekhyun. Akhirnya Luhan kembali meletakan ponsel ditelinganya sambil dijepitkan dengan bahunya dan kepalanya yang dimiringkan ke kanan karena dirinya melanjutkan kembali kerjaannya yang menumpuk.

“Heh sinting!” pekik Luhan tertahan dengan bibir mengerut sebal dan tangannya yang bergerak mengisi dokumen dengan gerakan cepat-cepat―pelampiasan akan kekesalannya.

Akan tetapi respon Baekhyun malahan kekehan tanpa dosa membuat Luhan mendengus kesal. “Maaf, maaf presdir. Ahahah.” terselip nada mengejek dalam nadanya dan Luhan pun memutarkan bola matanya jengah.

“Kenapa meneleponku? Presdir ini sibuk.” kata presdir pun ditekankan oleh Luhan membuat Baekhyun terbahak mendengarnya.

“Iya aku tahu kamu ini sibuk, tapi sungguh kelakuanmu yang sangat pembual itu tidak bisa dimaafkan…” perkataan Baekhyun membuat Luhan tak paham juga erutan wajahnya yang bingung. “… kamu keterlaluan, sungguh! Istrimu tidak bisa memasak? Ya Tuhan! Masakannya itu mengingatkanku pada masakan ibuku. Lalu kamu bilang istrimu tidak lebih menarik dari tempat sampah? Dasar pembual! Dia cantik sekali sial!”

Kornea mata Luhan membola mendengarnya. Byun Baekhyun memang tidak berubah akan sikapnya yang main menerobos masuk ke rumahnya. Luhan memjijit pelipisnya dengan mata terpejam serta raut frustasi. Dan lagi seorang Byun Baekhyun menemui Hyerim. Kenapa tadi malam gadis itu tidak cerita?

“Kamu…. main menerobos rumahku? Hey Byun Baekhyun, aku tahu nenekku percaya padamu dan memberikan kunci cadangan padamu. Tapi―”

“Tapi kenapa dirimu mesti membual tentang istrimu hah?! Aku tidak akan merebutnya idiot! Aku sudah punya Emily yang menanti di Inggris.”

Karena aku menikah kontrak idiot dan mana mungkin aku memuji wanita yang notabenya bukan istriku sesungguhnya. Luhan ingin menyerukan hal tersebut pada Baekhyun tapi diurungkan. Tangannya yang berada di atas mejapun mengepal dan tangan satunya membenarkan posisi ponsel. Luhan pun memilih meninggalkan pekerjaannya dengan menaruh penanya dan menyenderkan punggungnya serta menghembuskan napasnya frustasi.

“Sesukaku.” balas Luhan dingin bahkan matanya pun membinarkan kedataran.

Dapat telinga Luhan cerna bahwa Baekhyun mencibir kesal dan pasti dengan muka jengkelnya. “Istrimu untuk ukuran gadis Korea itu cantik sekali! Tahu-tahu diambil orang lain, tahu rasa!” ucap Baekhyun dengan nada menyolot.

Ucapan Baekhyun barusan membuat Luhan seketika membatu mendengarnya. Benaknya kembali terngiang kata-kata Taehyung beberapa sekon kebelakang.

“Kakakku itu mahasiswi tercantik diangkatannya lho.”

“Hyerim nuna itu terlalu bodoh untuk menyadari banyak yang memperhatikan kecantikannya. Saat aku pergi ke kampusnya, bayangkan! Satu gerombol mahasiswa menghampiriku dan memohon padaku untuk didekatkan kepada kakakku bahkan ada yang mengaku-ngaku sebagai kekasih kakakku.”

Gigi Luhan menggertak kesal tatkala suara Taehyung menyerukan hal-hal barusan terputar layaknya kaset rusak dibenaknya.

“Tahu-tahu istrimu diantarkan oleh seorang lelaki tampan ke rumah. Baru kamu tahu rasanya!”

Lagi, karena ucapan Baekhyun yang menurut Luhan menyebalkan itu, ucapan Taehyung terngiang dibenaknya.

“… kakakku sering didekati mereka bahkan saat semester awal ada seorang lelaki tampan yang mengantarnya pulang.”

Tangan Luhan mengepal karena suara Taehyung itu terngiang terus-menerus diotaknya. Mulutnya pun bergerak-gerak menahan amarahnya. Di sebrang sana, Baekhyun menjauhkan ponselnya dan menatap layarnya dengan senyum penuh arti.

Kan gadis itu bisa membuatmu melupakan Im Jinah,” kata Baekhyun pelan dengan wajah juga senyum gelinya membayangkan Luhan terpancing perasaannya untuk Hyerim.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Buatlah Luhan sepenuhnya melupakan Jinah, aku yakin cintamu bisa mengisi hari-harinya.”

Hyerim mengulang ucapan Baekhyun kemarin yang sukses membuatnya membisu sepanjang malam bahkan saat bertatap muka dengan Luhan. Hyerim sedang melipat tangan kiri dibawah dada dengan siku tangan kanan bertumpu dan mengelus-elus bawah dagunya.

“Akh! Sumpah aku bisa frustasi memikirkannya!” pekik Hyerim tertahan sambil mengacak-acak rambutnya. Lalu dengan badan sedikit membungkuk lesu, Hyerim kembali berjalan sambil mengerucutkan bibirnya.

Hyerim masih saja frustasi akan sesuatu yang menurutnya tak wajar sama sekali. Luhan. Nama pria dingin yang berupa monster sialan itu membuatnya gila setengah mati. Hyerim pun menggeret langkahnya lesu namun tidak lagi dengan badan membungkuk, hingga sebuah rangkulan dibahunya membuat Hyerim tersentak.

“Hyerim-ssi,” adalah sebuah panggilan yang terjadi setelah insiden rangkulan barusan. Oknumnya pun orang yang sama. Maka dari itu Hyerim memalingkan wajah ke samping dan mendapati seorang seniornya yang ia tahui bernama Lim Hyunwoo sedang merangkulnya.

Su…su…sunbae,” lafal Hyerim kepada sosok Hyunwoo dengan nada tersendat dan mata membola lantaran terkejut. Sementara Hyunwoo masih setia merangkulnya dan meliriknya sambil tersenyum.

“Wajahmu kenapa kaget begitu?” ujar Hyunwoo dengan senyum menahan tawanya lalu menarik pipi Hyerim gemas. Dan reaksi Hyerim malah mematung dengan matanya yang masih melebar dan sedikit mengerjap beberapa kali akan aksi Hyunwoo yang menarik pipi kirinya yang malah tak berakhir sakit bagi Hyerim.

Tepat beberapa meter dari kedua orang tersebut, Luhan berjalan dengan pandangan ke sana-ke sini layaknya orang resah. Beberapa mahasiswa dan mayoritas mahasiswi pun berbisik-bisik melihat Luhan yang mencolok. Ya, selain ketampanannya, Luhan termasuk salah seorang pengusaha terkenal di semenanjung Korea. Lalu Luhan langsung menyipitkan matanya ketika melihat sosok gadis yang tak lain Hyerim sedang bersama dengan seorang lelaki berparas menawan. Lelaki tersebut tersenyum cerah dan yang paling fatal―menurut Luhan, adalah mengacak-acak rambut Hyerim lalu kembali merangkul gadis tersebut untuk diajak jalan bersama. Gigi Luhan menggertak kesal dengan tangan terkepal kuat, kemudian dengan langkah lebar-lebarnya Luhan menghampiri objek tersebut yakni Hyerim dan Si Lelaki.

“Heh Kim Hyerim!” reflek suara lantang tersebut keluar dari mulut Luhan.

Hyerim yang sedang sibuk mengobrol dengan Hyunwoo pun merasa jantungnya seakan copot detik ini juga. Dengan mata membulat kaget dan jantung berdegup kencang, Hyerim menolehkan pandangan dan menemukan sosok Luhan dengan napas terengah menghampirinya.

“Oh dia suamimu ya?” ucap Hyunwoo santai dan senyum tenang lalu menurunkan tangannya yang merangkul Hyerim sementara Si Gadis pun hanya diam tidak merespon ucapan Hyunwoo.

Langkah lebar Luhan berhenti walau wajahnya yang merah padam masih terlihat serta napasnya masih tersenggal selayaknya orang yang kelelahan. Hyerim yang tahu Luhan marah entah karena apa, hanya memilih diam dan mengigit bibir bawahnya. Hyunwoo yang berada ditengah-tengah atmosfer aneh itu pun memilih tersenyum ramah pada Luhan dan membungkukan badannya.

Annyeong haseyo, Lim Hyunwoo imnida,” perkenalan Hyunwoo pun dibalas Luhan dengan tatapan juteknya. Namun Hyunwoo tetap bersikap santai.

“Kau ingin mengantarkan Hyerim pulang?” ucap Luhan dengan nada dingin dan pandangan mata kurang bersahabat yang ia sarangkan pada Hyunwoo. Hyerim pun hendak membuka mulut untuk menyanggah namun suara Luhan lebih dulu menyerobot. “Tolong ya! Gadis ini sudah menikah dan jangan main menggodanya apalagi mengajaknya pulang. Ingat itu.” penegasan Luhan membuat Hyerim membuka mulutnya lebar kelewat kaget. Apalagi setelahnya Luhan mencekal tangan kanan Hyerim dan menariknya kasar.

“Heh lepas, idiot!” ucap Hyerim sedikit menahan diri agar tak kelepasan untuk berteriak. Tapi Luhan main menariknya makin kasar membuat Hyerim meringis menahan perih.

Hyunwoo yang melihat adegan itu pun terkekeh tanpa suara kemudian berucap. “Suami yang cemburuan sekali.” setelah itu dirinya beranjak dari tempatnya.

“Lepas bodoh!” kembali pada Hyerim yang masih setia ditarik oleh Luhan menuju mobilnya. Dirinya sungguh malu diperhatikan orang-orang yang ia lewati. Dan lagipula ada apa dengan Luhan? Tiba-tiba muncul di kampusnya dan marah tidak jelas seperti sekarang.

Akhirnya Luhan mengakhiri langkahnya ketika dirinya berada di dekat mobil miliknya, diambilah oleh Luhan kunci mobil tersebut dan langsung saja memencet tombol membuka kunci. Lalu Luhan pun menatap Hyerim tajam. Hyerim yang tadi sedang memperhatikan pergelangan tangannya yang perih akibat dicekal Luhan pun mendongakan kepala dan berjengit ngeri akan tatapan tajam Luhan yang tertoreh untuknya.

“Masuk!” titah Luhan dingin sesuai sikap aslinya. Lalu dirinya membuka pintu penumpang di sebelah pengemudi dan mendorong Hyerim masuk tanpa lembut sedikitpun.

Tubuh Hyerim sedikit terjembab masuk dan nyaris mengenai bagian-bagian mobil yang membatasi kursi penumpang dan kursi pengemudi di sebelahnya. Hyerim mendengus keras lantaran diperlakukan layaknya karung beras oleh Luhan. Lelaki tersebut pun masuk ke mobil setelah menutup pintunya dengan bantingan kemudian mulai menjalankan mobil masih dengan muka marahnya. Hyerim yang sudah membetulkan posisi duduknya dan memasang sabuk pengaman, menoleh pada Luhan dan memperhatikan wajah lelaki itu dari samping.

“Kamu ini kenapa?” tanya Hyerim pada akhirnya setelah mobil yang dibawa Luhan sudah menjauhi perkarangan universitasnya.

Saat hendak melontarkan jawaban ketus, Luhan malah terdiam ketika memikirkan alasan kenapa dirinya begini. Dirinya kesal ketika mendengar ada lelaki yang mengantar Hyerim pulang. Dirinya tidak suka melihat lelaki yang kelihatan menyukai Hyerim merangkul gadis tersebut. Dirinya tak nyaman mendengar penuturan Taehyung akan sosok Hyerim yang diklaim sebagai mahasiswi paling cantik dan banyak mahasiswa yang terkagum-kagum akan kecantikan Hyerim. Luhan pun tak tahu kenapa dirinya merasakan perasaan seperti ini. Apakah dirinya cemburu? Buru-buru Luhan menggeleng ngeri akan pemikiran tersebut. Hyerim yang melihat kelakuannya pun langsung menatapnya bingung.

“Kenapa geleng-geleng? Apa kamu bingung kenapa tiba-tiba marah tak jelas seperti ini? Jangan-jangan kamu sedang pre-mentruation syndrom.”

Lantas Luhan melirik Hyerim bengis akan perkataan kelewat santai gadis tersebut. “Pantatmu aku PMS hah!” ucap Luhan datar dan Hyerim terlihat mengangkat bahunya tak peduli lalu memilih menatap keluar jendela dibanding berdebat akan perilaku Luhan beberapa sekon lalu.

Akhirnya hening pun terjadi di mobil tersebut. Hyerim memilih diam dan memperhatikan wajah Luhan sesekali. Wajah marah lelaki itu sudah mulai mereda. Ketika masih menyelami lekuk wajah Luhan, Hyerim menyadari betapa tampan lelaki tersebut dan membuat aliran darahnya mengalir deras memompa jantungnya. Merasa diperhatikan, Luhan balik melirik ke Hyerim dan langsung terpana akan tatapan gadis tersebut. Keduanya saling melirik hingga…

‘Tin!’

Luhan tersentak kaget mendengar klakson mobil yang berada di sampingnya. Si Pengemudi tampak menatap mobil Luhan kesal. Hyerim yang juga terkejut langsung salah tingkah dan memilih memalingkan wajah dari Luhan. Sialan. Untung dirinya tidak celaka. Luhan mengumpat dalam hati lantaran hanya terpana akan korena mata Hyerim, dirinya nyaris celaka. Benar-benar gila. Luhan merasa hari ini dirinya sangat aneh. Tiba-tiba marah tidak jelas pada Hyerim yang digemari para lelaki. Juga terhenyak akan tatapan lembut seorang Hyerim. Luhan rasa ada yang tidak beres dengannya hari ini.

‘Duk!’

“Aw!” Hyerim merintih ketika keningnya mencium jendela mobil Luhan lantaran Si Monster dingin tersebut main menginjak pedal rem. Diiringi desisan kesalnya, Hyerim menatap Luhan tajam.

Tetapi Luhan malah berlagak santai dan melepaskan sabuk pengamannya lalu menatap Hyerim yang masih setia menatapnya tajam. “Ayo turun, kita ada di kantorku sekarang.”

Lalu setelah berucap begitu, Luhan pun turun mendahului Hyerim yang melebarkan mata dan membuka mulutnya sedikit karena kaget. Luhan mengajaknya ke kantornya? Untuk apa? Sekiranya itu yang membuat Hyerim kaget sekaligus heran. Namun ketukan kelewat tak sabar Luhan dari jendela di sebelah Hyerim membuatnya mau tak mau turun.

“Kenapa dirimu mesti diam begitu sih? Lelet sekali! Sekarang kamu ini jelmaan siput ya bukannya kambing dungu?!” kata Luhan sambil menatap Hyerim kesal dan Hyerim yang malas berdebatpun mendengus mendengarnya. Lalu secara tiba-tiba Luhan menarik tangan Hyerim dan mengamitnya membuat Hyerim kembali melebarkan mata kaget dan menatapnya. “Ini kantorku. Nanti pagawaiku aneh bila kita tidak akur.”

Mendengarnya membuat Hyerim kecewa dan cemberut. Dirinya kira Luhan memang mau megandengnya. Hash, sudahlah lagipula kenapa Hyerim malah memikirkan hal tersebut. Ingin pemikiran tak wajarnya hilang, Hyerim memejamkan matanya sesaat lalu ketika membukanya dirinya merasakan tangan Luhan menariknya masuk ke kantornya yang merupakan gedung megah dengan tulisan besar Lu Industries yang berposisi di paling atas bagian pojok kanan gedung tersebut. Luhan yang merupakan CEO perusahaan pun langsung disambut sopan ketika memasuki gedung tersebut dengan pegawai yang langsung membungkuk saat melihatnya. Tangannya masih setia megandeng tangan Hyerim dan sesekali menarik gadis itu yang malah memandang sekitar dengan seksama. Dulu Hyerim terlalu tergesa hingga tak memperhatikan seluk beluk gedung Lu Industries ketika pertama kali menemui Luhan masalah ayahnya yang dipecat.

Ketika melewati beberapa karyawan, mereka pun langsung berbisik akan Hyerim yang notabenya istri Luhan yang merupakan putri mantan pekerja di restoran naungan Lu Industries yang dipecat oleh Luhan. Tentu saja hal tersebut banyak menarik minat banyak orang. Dan sebagian besar bahkan mungkin semua karyawan lelaki menatap Hyerim kagum akan hasrat terpesona mereka lantaran paras jelita yang baik hati Tuhan berikan untuk Hyerim. Luhan sangat peka akan tatapan para lelaki tersebut dan membuat wajahnya memerah menahan amarah kembali karenanya. Sementara Hyerim dengan lagak polosnya tersenyum pada lelaki yang terpana akan kecantikannya. Sesuai perkataan Taehyung, Hyerim tidak peka akan keterpesonaan lelaki yang mengidolakannya secara diam-diam. Dasar kambing dungu! Luhan mengumpat dalam hati.

“Astaga!” Hyerim memekik karena tatkala dirinya menoleh ke depan, Luhan sudah membalikan badan menatapnya tajam. Hyerim langsung dilanda rasa gugup ketika membaca wajah Luhan yang sedang memendam amarah, dirinya pun menelan ludah takut. “Kamu kenapa lagi? Ada yang aneh denganmu hari ini.” heran Hyerim sembari menatap Luhan penuh tanda tanya.

Napas Luhan tersenggal habis lalu dirinya menarik napas serta menghembuskannya kasar. Matanya melotot menatap Hyerim yang makin takut akan dirinya sekarang ini. “Kamu… tidak boleh tersenyum pada lelaki yang terbengong melihatmu!” ujar Luhan tegas dengan wajah tak bersahabatnya yang menakutkan.

Seketika Hyerim melongo mendengarnya. Hal tak masuk akal apa yang Luhan ujarkan barusan?

“Kamu lupa kontrak baru kita beberapa minggu lalu ya?” ucap Hyerim dengan wajah tertekuk jengkel.

Mendengar ucapan Hyerim menyebabkan muka Luhan yang marah perlahan memudar tergantikan dengan kerutan-kerutan bingungnya. Hyerim pun menyentak tangan Luhan kasar dari pergelangan tangannya, kebetulan tempat mereka sekarang sepi jadi Hyerim bebas mengutarakan tentang kontraknya dan Luhan.

“Jangan ganggu privasi masing-masing. Dan dirimu sekarang sudah meganggu privasiku. Itu melanggar kontrak! Dan oh ya, kamu juga hampir melakukan hubungan badan denganku dua kali! Itu juga melanggar kontrak!” semprot Hyerim sembari berkacak pinggang dan menatap Luhan menuntut. Luhan  terperangah akan Hyerim yang kembali menyinggung kontrak mereka berdua.

“Heh!” seru Luhan sambil mengibaskan tangan kanan didepan wajah Hyerim yang sedang mengembungkan pipi jengkel dengan mata melotot lebar. “Aku akui melanggar kontrak tentang hubungan tubuh tapi untuk kontrak privasi aku tidak mengatakan deal sama sekali.” Luhan balik menyemprot membuat Hyerim menggertakan giginya kesal mengingat insiden tugasnya yang hancur karena ciuman tak mutu yang berawal dari tak sengajanya kedua bibir mereka menempel.

“Tapi tetap saja melanggar kontrak! Kamu main datang ke kampusku dan menyuruh Hyunwoo sunbaenim jangan mengantarku, ya well aku belum tahu apa dirinya akan mengantarku atau tidak. Lalu melarangku untuk tersenyum pada lelaki lain. Kamu kira kamu siapa?” nada Hyerim mulai meninggi.

Adu argumen kali ini membuat kepala Luhan berdenyut menahan segala emosinya. Lalu dengan gigi menggertak dirinya menjawab penuh ketegasan. “Suamimu, aku suamimu!”

Jawaban Luhan direspon wajah meremehkan Hyerim dengan dengusan gelinya. “Kontrak kita jangan lupa, idiot.”

Baiklah, Luhan makin sebal sekarang akan kontrak yang terus disinggung. Dirinya menghunuskan tatapan tajamnya pada Hyerim. “Kamu menyinggung kontrak karena merasa aku melanggarnya? Hah! Seperti dirimu tidak pernah melanggarnya saja!” ucap Luhan ketus sambil melipat tangan didepan dada serta memalingkan wajah.

“Ya tentu saja aku tidak melanggar kontrak, aku ini tidak seperti―” obsidian Hyerim seketika melebar ketika benaknya mengingat sesuatu. Perasaan asing yang hinggap pada hatinya akhir-akhir ini hingga dirinya main mengatakan mencintai Luhan. Sementara dirinya sadar betul sudah mentanda tangani kontrak yang berisikan untuk tidak saling jatuh cinta. Sekon ini pun tubuh Hyerim membatu hanya karena sebuah torehan kertas yang berisikan janji-janji pernikahan dirinya dan Luhan.

“Hey!” Luhan berujar sambil menjentikan jarinya didepan wajah Hyerim yang langsung tersekiap. Hyerim mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali lalu memandang Luhan kosong. Ekspresinya menyebabkan Luhan menampilkan senyum miring terselip rasa kemenangan. “Nah, pasti dirimu pernah melanggar kontrak kan.”

Ucapan Luhan dengan nada sedikit akan hasrta sindiran tersebut membuat Hyerim salah tingkah seketika dan menggerak-gerakan bola matanya resah karena mungkin saja dirinya sudah melanggar kontrak paling fatal. Tangan Hyerim pun saling menyatu dan bergerak-gerak saling menekan satu sama lain bergantian.

“Aku…” nada agak gugup lolos dari mulut Hyerim, matanya menghindari mata milik Luhan yang menatapnya dengan satu alis terangkat dan wajah sarkastiknya. “… ingin ke toilet.” Hyerim pun angkat kaki sambil sedikit menunduk dan berjalan menuju toilet sementara Luhan hanya menatapi kepergiannya lalu mendengus.

“Dasar, padahal aku saja tidak yakin dia melanggar kontrak yang mana. Hah, aku jadi penasaran melihat ekspresinya itu. Kontrak mana yang dia langgar ya?” sambil berjalan menuju ruangannya, Luhan berpikir dengan mata menerawang ke lantai sambil menggaruk dagunya. Ketika tidak dapat menemukan jawabannya, Luhan mengangkat bahunya. “Kenapa aku harus peduli sih? Sepertinya banyak yang salah denganku hari ini.” gumam Luhan pelan lalu dirinya pun sampai di depan pintu ruangannya.

Dengan perasaan ringan, Luhan meraih kenop pintu ruangannya lantas mendorongnya. Kepalanya masih sedikit menunduk ketika memasuki langkah pertama ke dalam ruangan yang didominasi warna putih―yakni warna favoritnya. Lalu Luhan mengangkat wajahnya hingga akhirnya matanya melebar dengan raut kosong mendapati satu sosok yang main duduk di kursi kerjanya dan memutar kursi tersebut yang semula membelakangi pintu masuk dan melihatkan lebih jelas sosok yang duduk di situ.

“Luhan-ah!” adalah sapaan riang yang Luhan terima dari sosok yang lancang main menerobos masuk ruang kerja bahkan duduk di kursinya.

Sosok gadis cantik menawan dengan balutan dress hijau berpadu kuning keorange-orangean, layaknya musim panas di sebuah pantai tercipta dicorak bajunya. Gadis dengan rambut berwarna coklat bergelombang yang ia ikat satu dan disampiran dibahu kanannya. Gadis yang menatap Luhan dengan senyum cantiknya. Gadis tersebut lah yang membuat Luhan kaget bukan main dan nyaris membuat jantungnya copot bahkan berdebar sekaligus.

Apakah gadis tersebut orang asing? Tidak, Luhan sangat mengenalnya. Gadis itu adalah…

“Im Jinah…” gumaman super pelan tersebut lolos dari bibir Luhan akan jawaban gadis yang berada beberapa jengkal di depannya sekarang.

―To Be Continued―


ir-req-this-love-21

 Klik Foto Untuk Membaca

Summary :

Ketika 2 pasukan tentara dari negara berbeda disatukan dalam lika-liku hubungan cinta. Keduanya dipertemukan namun jarak yang memisahkan serta restu dari orang tua pun menjadi penghalang. Hanya sepenggal kisah antara Luhan, salah satu pasukan khusus dari China dan Hyerim, seorang dokter tentara dari Korea Selatan. Bagaimana kelanjutan kisah keduanya?

 ♫

p.s : seperti biasa maafkan typo karena kemalesan edit, anggap sebagai penghias fiksi astral ini

-Luhan’s Future Wendy, HyeKim-


Iklan

2 pemikiran pada “Beauty and The Beast Chapter 12 [What’s Wrong With Me?] – HyeKim

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s