Stuck On You (Bonus Chapter + Epilog) – Shaekiran & Shiraayuki

siapdiedit2345

Stuck On You! 

A Colaboration FanFiction By Shaekiran & Shiraayuki

 

Main Cast

Oh Sehun x Bae Irene

Park Chanyeol x Son Wendy 

Genres

School life, romance, funny, friendship, AU etc.

Length: Chapetered

Rating: Teenagers

Disclaimer

Ada yang kenal dengan author dengan pen name Shaekiran atau Shiraayuki?Cerita ini adalah hasil buah pikiran kami berdua.Merupakan sebuah kerja keras dari dua buah otak yang terus saja bersinergi untuk merangkai ratusan kata demi kata hingga menjadi sebuah cerita utuh.Hope you like the story. Happy reading!

 

Previous Chapter

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 [END] | [NOW] Bonus Chapter + Epilog |

Anyway, I really like you,” -Chen; Best Luck

 

Author’s side

Mungkin tak akan ada yang pernah menyangka, bahwa musim cepat sekali berlalu. Hari berganti perlahan tanpa bisa disadari raga atau dimaklumi jiwa, hingga bulan menepi dan tahun pun kian terganti. Kali ini, satu kedipan mata kala seberkas sinar mentari yang menelusup lewat celah kecil jendela apartemen pencakar langit itu, memaksa netranya yang terpejam membuka dalam hitungan detik. Ia sadar pula, bahwa 4 tahun telah terlewati begitu saja.

Wangi lavender menguar dalam ruangan bernuansa serba putih itu, hingga dalam hitungan detik kini sudah menyapa penciuman si gadis. Ia tersenyum menikmati aroma yang diam-diam merelaksasi tubuh penatnya itu. Puas, lantas ia mengalihkan fokusnya pada nakas. Sebuah smartphone model terbaru tergeletak tak berdaya di atas sana, diraihnya pula, lalu ditatapnya keadaan mengenaskan saat ternyata benda putih itu dalam keadaan mati. Rupanya, lagi-lagi ia lupa mengisi asupan daya ponselnya itu sebelum tidur.

Wendy hanya menghela nafasnya lemah, “kebiasaan bodoh,” pikirnya dalam hati. Namun itu tak berlangsung lama, karena baru saja tangannya membuka laci dan menemukan charger yang ia cari. Selesai dengan charger-nya yang kini sudah terhubung dengan smartphone dan saklar, gadis dengan rambut kecoklatan itu memilih memasuki kamar mandi setelah meraih handuknya, kemudian mulai menghidupkan shower dan menikmati mandi paginya.

Dering telpon yang menguarkan suara khas petikan gitar dengan lirik All of Me yang terlafalkan dari suara bass yang terdengar merdu, segera menjadi fokus Wendy selesainya ia mandi. Gadis yang masih menggunakan jubah mandi itu lantas segera berlari ke nakas, kemudian meraih ponselnya yang kini sudah dalam keadaan hidup, lalu tersenyum saat mendapati nama yang kini menghiasi layar ponselnya.

“Selamat siang sayang,” sapanya hangat, sementara lawan bicaranya yang ada diseberang lautan sana, kini tersenyum, meski Wendy tidak akan pernah melihat senyumnya karena mereka hanya berbicara via telepon.

“Selamat pagi juga Wendy-ku sayang,” balasnya si penelpon tak kalah mesra hingga kini semburat merah muncul di pipi gadis itu tanpa bisa ia cegah. Selalu seperti ini, meski ucapan selamat pagi dan selamat siang yang bisa dibilang tidak sinkron—karena jauhnya perbedaan waktu kedua negara itu—Wendy seakan tak pernah bosan saat mendengar sapaan Chanyeol yang nun jauh disana.

Hmm, kau dimana? Kabar baik ‘kan Chan?” tanya gadis itu pula, dan senyum Chanyeol tentu mengembang lagi. “Aku di kantor, kerja magang, yah, seperti biasanya,” balas Chanyeol dan Wendy mengangguk mengerti. Chanyeol sekarang berada di semester terakhirnya, dan ini adalah masa-masa magangnya sebagai mahasiswa bisnis sebelum akhirnya dinyatakan lulus dari Universitas Seoul.

“Pasti berat, kau sudah sarapan ‘kan?” tanya Wendy kali ini, dan Chanyeol di ujung telpon sana hanya mengangguk, kemudian melafalkan iya dengan cepat, tidak ingin membuat gadisnya itu khawatir.

Nyatanya, Chanyeol bahkan belum sarapan sama sekali. Pagi ini ia berangkat ke kantor pagi sekali, tak peduli meski kemarin malam ia lembur atau perusahaan besar tempatnya magang sekarang ini adalah perusahaan kepunyaan ayahnya yang nanti akan dia warisi; Chanyeol selalu rajin. Ia tidak ingin kalah dari Wendy yang berjuang di negeri orang, juga tidak ingin mengecewakan ekspetasi ayahnya tentang seorang putra yang bisa beliau banggakan, bahkan Chanyeol merahasiakan identitasnya sebagai putra presdir atas kemauannya sendiri agar ia mendapat masa magang yang adil. Pertambahan usia Chanyeol nampaknya bukan isapan jempol belaka, bukan hanya fisik, namun pemikiran Chanyeol juga berkembang semakin dewasa.

“Wen, kau makan yang banyak ya, jangan takut gemuk sayang, kuliahmu pasti berat ‘kan? Terakhir kali kulihat kau semakin kurus saja,” sahut Chanyeol kali ini, dan Wendy hanya menggeleng lemah.

Ani, ini tidak berat Yeol. Kau menyapaku tiap pagi saja itu sudah membuat semuanya sangat ringan, hehe, aku makan kok, tenang saja sayang,” lagi-lagi semburat itu muncul, mungkin karena inilah Wendy yang awalnya tidak yakin bisa berhubungan jarak jauh dengan Chanyeol bisa bertahan hingga tahun ke-4. Diluar dugaan, rindu yang mereka pendam dan hanya tersalur dalam setengah tahun sekali itu nyatanya bisa menguatkan hubungan mereka.

“Baiklah Wendy, aku percaya. Hehe, sudah dulu ya sayang, aku mau meeting dulu. Doakan persentasiku sukses. Kau juga harus berangkat kuliah ‘kan? Kuliah yang bagus, jangan melirik lelaki lain, arraseo?” Wendy mengangguk, kemudian mendekatkan speaker handphone-nya ke mulut.

A-ra-seo-my-sweet-heart,” ejanya, dan cengiran Chanyeol muncul kali ini.

“Wen, kiss, morning kiss,” pinta Chanyeol jahil, dan Wendy hanya mengerucutkan bibirnya.

“Disana sudah siang Chan, bukan pagi lagi,” kekehnya, sedikit menggoda Chanyeol.

“Son Wendy, kau jahat,” rengek Chanyeol akhirnya, dan tawa Wendy jelas menguar ke permukaan.

“Chanyeol-ku yang malang, cup cup, jangan menangis, ok? Muachh, aku sayang Chanyeol, jeongmal saranghae,” akhirnya Chanyeol yang 100 % pura-pura ngambek itu tersenyum sumringah.

Muachh, saranghae my girl, pye-pye! Love you as always.”

^^

Jalanan Seoul yang ramai atau mentari yang sepertinya tidak mau bersahabat siang itu, tidak pula menjadi penghalang bagi gadis modis yang tengah menunggu lampu pejalan kaki berubah hijau. Dengan santai ia berdiri tegap di seberang zebra cross, masa bodoh dengan high heels 7 senti yang benar-benar menyiksa harinya. Tak lama, traffic light itu berubah warna, membuat sebuah senyum kecil terukir di bibir dengan polesan warna peach pink itu. Irene dengan mantap melanjutkan langkahnya, tujuannya hanya satu; Rumah Sakit Universitas Seoul.

Bangunan megah dengan tinggi berapa puluh lantai yang berdiri agung di tengah padatnya kota Seoul, menyambut netra Irene setelah beberapa menit berjalan kaki di trotoar. Dengan cepat gadis itu menggeser pintu transparan di depannya, kemudian melenggangkan kaki jenjangnya di koridor rumah sakit yang tengah sibuk-sibuknya itu meski waktu tengah menunjukkan jam makan siang.

Irene tau tujuannya, ruangan Sehun, ruangan khusus para dokter magang. Sehun memang tengah magang di rumah sakit ini, berusaha menjadi dokter spesialis jantung seperti ayahnya untuk beberapa tahun ke depan. Tapi awal tahun magangnya ini Sehun tengah ditempatkan di unit gawat darurat, sebagi dokter umum yang awam menangani kecelakaan, pekerjaan sibuk yang kadang membuat Sehun kehilangan waktu bersama Irene selama beberapa bulan terakhir lelaki Oh itu memulai masa magangnya.

Seperti sekarang, bukan sosok jangkung nan hangat kekasihnya yang Irene dapati ketika memasuki ruangan Sehun. Malah, keadaan ruangan yang kosong melompong menyapa Irene dalam sunyi. Gadis itu hanya menghela nafasnya pelan, kemudian memasuki ruangan kosong itu dan menuju meja Sehun. Dirapatkan Irene bokongnya ke bangku Sehun, dan dipandanginya keadaan meja kekasihnya yang cukup acak-acakan itu.

“Dasar jorok,” batinnya, bercanda sebenarnya, karena ia tau bagaimana perfeksionisnya Sehun. Mungkin kekasihnya itu hanya sedang terlalu sibuk dan tak sempat merapikan mejanya, jadi setelah meletakkan bento makan siang spesial yang memang sengaja dia siapkan untuk Oh Sehun, Irene mulai merapikan dan menyingkirkan semua debu di ruangan itu.

Hanya butuh waktu sebentar sebelum Irene selesai dengan pekerjaannya, dan kini gadis itu tengah duduk santai sambil memadangi dua foto yang terpajang di atas meja Sehun. Foto keluarga Sehun—potret sederhana pria itu dan kedua orangtuanya—juga potret 4 orang remaja di sebuah kedai soju, potret Sehun dan ketiga sahabatnya, Wendy, Chanyeol, juga Irene yang kini menjabat sebagai kekasih hatinya.

Irene tersenyum sambil mengelus figura foto yang diambil 3 tahun lalu itu, saat usia mereka menunjukkan usia 20 tahun yang tandanya mereka sudah dewasa dan memutuskan minum soju untuk pertama kalinya bersama-sama, tepat saat kepulangan Wendy ke Korea di tengah liburan semester gadis itu.

Tak lama, suara derit pintu yang terbuka mengagetkan Irene. Netra gadis itu segera dengan bersemangat mengarah ke pintu, berharap bahwa Sehun yang tengah menekuk muka lelah yang ada di balik benda coklat itu. Namun Irene harus kecewa, karena kini netranya malah bersibobrok dengan netra lelaki lain, Do Kyungsoo, sesama dokter magang seperti Sehun.

“Ah, kau pasti mencari Sehun, iyakan Irene-ssi?” tanya Kyungsoo ramah, dan gadis Bae itu hanya mengangguk ringan. Sudah beberapa kali ia dan Kyungsoo berbicara dan saling menyapa, dan Irene merasa lelaki berkacamata itu cukup sopan padanya.

“Iya Kyungsoo-ssi. Ah, dia pasti sedang sibuk di IGD kan?” tanya Irene kemudian, dan lelaki itu membenarkan sambil duduk di mejanya sendiri.

“Sehun seingatku tadi sedang menangangi seorang pasien serangan jantung, mendadak sekali. Padahal seharusnya pasien itu check up hari ini, tapi dia malah datang dengan keadaan pingsan karena jantungnya kambuh,” jelas Kyungsoo sederhana, dan Irene hanya menganguk mengerti. Gadis itu lantas melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu menghela nafasnya lemah, cukup tak rela karena ternyata menit cepat sekali berlalu.

“Kau mau pergi?” tanya Kyungsoo saat menyadari gerak-gerik gelisah kekasih teman sesama magangnya itu, dan Irene dengan terpaksa mengangguk.

“Sepertinya iya, jam makan siangku hampir habis dan aku harus kembali ke kantor,” kata Irene kecewa, karena ia belum bisa melihat kekasihnya hari ini.

“Sayang sekali, padahal mungkin sebentar lagi Sehun selesai,” sesal Kyungsoo pula dan Irene hanya tersenyum masam.

Gwenchana, sampaikan saja salamku padanya dan tolong ingatkan dia untuk makan bento-nya Kyungsoo-ssi. Jangan sampai dia sakit karena kelaparan,” kekeh Irene sambil berdiri dari duduknya, kemudian menuju pintu yang masih terbuka itu. Seperti kata Irene, Kyungsoo sangat sopan padanya hingga lelaki itu tidak menutup pintu, tipe lelaki yang menghargai wanita, kalau dipikir Irene.

“Kalau begitu aku pamit Kyungsoo-ssi,” pamit Irene, dan lawan bicaranya hanya mengangguk sekilas. Derap langkah Irene melenggang pasti sedetik setelahnya, membelah lorong yang padat pasien, perawat lalu lalang, atau dokter yang berlari menuju IGD, kesibukan rumah sakit yang bisa di mata Irene.

Tak lama setelah kepergian Irene, pintu coklat ruangan itu terbuka lagi, menampilkan sosok Sehun yang tampak mengenaskan dengan mata bengkak dan rambut cukup awut-awutan. Sehun menekuk mukanya, lalu berjalan ke mejanya dengan lesu.

“Tadi Irene datang,” suara Kyungsoo yang tengah memakan makan siangnya menyapa Sehun segera, hingga Sehun yang tadinya tak bersemangat nampak langsung bergairah. Ditatapnya mejanya yang sudah rapi, kebiasaan Irene jika mengunjunginya, sekaligus membenarkan ucapan Kyungsoo kali ini.

“Dia sudah pergi, katanya harus kembali ke kantor. Pesannya kau makan bento yang dia bawa itu dan jangan sampai kau kelaparan,” lanjut Kyungsoo lagi hingga sebuah senyum tipis kini terajut di bibir Sehun. Dengan cepat pria itu meraih bento buatan Irene, membukanya lalu menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya, tak pelak membuatnya harus memuji keahlian memasak Irene yang semakin berkembang.

Namun tiba-tiba raut wajah Sehun berubah, bukan karena masakan Irene yang tidak sedap di lidahnya, bukan pula karena perutnya tiba-tiba sakit atau ada panggilan darurat mendadak untuknya. Sehun hanya mengingat sesuatu hal yang penting.

“Kau kenapa?” tanya Kyungsoo saat mendapati perubahan raut Sehun itu, dan dengan cepat pria Oh itu menghela nafasnya dalam.

“Hari ini peringatan jadi kami yang ke-4, ini hari anniversary kami,” jawab sehun sambil menghela nafasnya lagi, sedikit menyesal karena dia belum bertemu Irene di hari penting ini.

^^

Malam menyapa Seoul dengan cepat. Rembulan sudah menguasai langit, ditemani pendar milyaran bintang yang membuat langit semakin indah. Gadis itu, Irene namanya, nampak duduk memandangi bintang lewat jendela tranpsaran ruangannya yang ada di lantai 12.

“Kau belum pulang?” tanya Irene ketika mendapati sosok Chanyeol kini mendekat ke arahnya. Chanyeol dan Irene, meski dalam jurusan yang sama di universitas, nyatanya ditempatkan di divisi yang berbeda. Kantor Chanyeol ada di lantai 13, satu lantai di atas Irene.

Chanyeol nampak menggeleng, kemudian duduk di atas meja Irene dengan santai.

“Belum, aku lembur, dan menemukanmu yang juga sepertinya lembur,” jawab Chanyeol sekenanya, dan Irene nampak mengangguk paham. Belakangan ini Irene maupun Chanyeol berubah menjadi sosok sahabat yang baik, mereka sering saling curhat selama 4 tahun mereka dalam jurusan yang sama, dan Irene seperti janjinya pada Wendy, benar-benar menjadi pengawal Chanyeol dari gangguan wanita yang mencoba-coba mendekati lelaki Park itu.

“Mau pulang? Sepertinya Sehun tidak bisa menjemputmu, tebakku sih,” kata Chanyeol tak lama kemudian. Rasanya Irene dalam kondisi yang kurang bagus, biasanya Irene akan ceria dan berteriak hiperaktif kepadanya, tapi kali ini Irene bersikap sangat murung.

“Boleh juga, Sehun pasti tidak menjemputku,” balas Irene lemah, lalu meraih mantelnya yang tersampir di atas kursi.

Kajja,” kata Irene tak lama setelahnya, dan kedua manusia itu segera menaiki lift dan turun ke lantai dasar. Selama di lift, mereka tidak berbicara apapun hingga membuat Chanyeol bingung kemana semua ocehan Irene yang biasanya? Lantas diraih Chanyeol ponselnya di saku mantel, kemudian mulai mengetikkan pesan pada Sehun bahwa dia mengantar Irene pulang.

Setelahnya, Chanyeol sempat melirik tanggal di ponselnya dan seketika itu pula dia teringat sesuatu; hari anniversary. Bukannya dia hafal sekali hari anniversary kedua sahabatnya itu -meski memang demikian- hanya saja kebetulan hari jadi mereka berdua berbarengan dengan hari jadinya bersama Wendy. Mengingat Wendy, diam-diam Chanyeol merasa sedih juga. Andai gadisnya itu ada di Korea, mungkin mereka ber-4 bisa merayakan hari jadi bersama-sama.

Jadi, Chanyeol dengan cepat mengetikkan sebuah pesan lagi pada Sehun,

“Kau tidak lupa ini hari apa ‘kan? Irene kelihatannya super murung,”

^^

Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam kala Irene sampai di rumahnya dengan selamat. Mobil Chanyeol sudah pergi beberapa menit lalu, meninggalkan Irene yang kini hanya mampu membuka gerbang rumahnya dengan tidak bersemangat. Pikirnya melayang jauh, dia murung, hingga dia hanya mendiamkan Chanyeol selama perjalanan padahal biasanya dia bercanda tanpa tau malu dengan sahabatnya itu. Diam-diam dia merasa bersalah juga, namun hatinya seakan enggan pura-pura bahagia saat kekasihnya sendiri lupa hari jadi mereka berdua.

Grep!

Tubuh Irene seketika menegang saat kini sepasang lengan kekar berbalut mantel coklat memeluknya dari belakang dengan sangat erat. Irene sempat memberontak, sebelum akhirnya oknum yang memeluknya tanpa ijin itu berbisik di telinga mungilnya.

“Ini aku sayang,” kata Sehun lirih, dan seketika rasa takut tadi terganti dengan kristal bening yang meleleh di wajah Irene.

“Maaf karena aku sangat terlambat Irene, maaf karena belakangan ini kita jarang bertemu karena kesibukanku. Kesannya aku jadi mengabaikanmu seperti di SMA dulu, maaf,” lirih Sehun, masih berbisik pada gadis yang selama 4 tahun ini memenuhi relung hatinya yang terdalam, mengisi hari-harinya, juga mewarnai hidupnya dengan pelangi kasih sayang.

Sehun lantas melepaskan pelukannya, kemudian memutar badan Irene agar menghadap ke arahnya. Ditatapnya sendu gadisnya yang kini menangis itu, lalu jemarinya bergerak me-lap air mata Irene.

“Selamat hari jadi ke-4 sayang, semoga sekarang, nanti dan selamanya, kita akan terus merayakan hari jadi seperti ini. Semoga kita menua bersama, memiliki keluarga kecil bersama, dan melewati hari-hari suka duka kita bersama. Saranghae, Bae Irene,”Sehun mendekatkan tubuhnya, kemudia mengecup mesra kening Irene. Yang dicium hanya bisa makin menangis haru, lalu bersusah payah menjinjit dan melakukan hal yang sama pada Sehun; mengecup kening kekasihnya itu.

“Rene,” Sehun berucap lirih, kemudian menggengam kedua tangan Irene.

“Aku mungkin belum bisa menjanjikan sesuatu padamu, pekerjaanku masih sangat awal dan mungkin aku belum tentu sukses. Tapi Rene, will you be my lady?”Irene membulatkan matanya, lantas ditatapnya Sehun terkejut bukan main. Sehun, melamarnya?
“Mak-maksudmu apa Sehun?” tanya Irene sedikit tergagap, dan Sehun hanya mengigit bibir lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lantas diambilnya sebuah kotak kecil berwarna merah maroon dari dalam mantelnya, kemudian membukanya sedetik kemudian, memanjakan mata Irene dengan pemandangan sepasang cincin emas putih yang sangat cantik dan berkilauan.

“Jadilah tunanganku Irene, dan beberapa tahun lagi saat aku sudah sukses, aku akan datang dan melamarmu sebagai pendamping hidupku untuk selamanya.”

^^

Chanyeol memarkirkan mobilnya ke bagasi rumah. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam saat ia tiba, dan rumahnya sudah nampak gelap, tidak seperti biasanya.

Ting!

Tak lama, bunyi pesan masuk datang, jadi sebelum keluar dari mobil Chanyeol segera meraih ponselnya di saku kemudian membuka pesan dari Sehun itu. Nampak sebuah foto selfie kedua pasangan itu ada di sana, membuat senyum Chanyeol langsung terkembang saat membaca pesan dari Sehun. 

“Thanks my bro, anniversary kami super romantis,”

Chanyeol tertawa, meski meringis dalam hati juga karena iri. Ah, kapan dia bisa seperti ini dengan Wendy? Dia juga ingin pamer kalau hari ini dia anniv dengan kekasihnya, tapi gadisnya malah nun jauh di seberang samudera dan benua sana.

Pria itu lantas keluar dari mobil setelah membalas pesan Sehun, kemudian dengan cepat melangkahkan kakinya memasuki rumah.Yang dia inginkan sekarang hanyalah memasuki kamar, terlentang di atas kasur kemudian tidur setelah menelfon Wendy.

“Aish, kenapa gelap seperti ini?” batin Chanyeol saat mendapati seluruh rumahnya yang gelap gulita. Lantas tangannya segera meraba-raba dinding, berusaha mencari letak saklar.

Tik.

Perlahan, satu demi satu lampu di rumah besar itu menyala, sedikit menyilaukan Chanyeol karena ruangan yang begitu terang, namun lebih menyilaukan lagi karena kini ada seorang sosok yang sangat ia ingin rengkuh tepat ada di depannya.

“Ayolah Park Chanyeol, kenapa kau sampai berhalusinasi Wendy ada di Korea? Di rumahmu pula,” Chanyeol terkekeh, merasa meringis sebenarnya, namun ia berusaha tegar dengan halusinasinya lalu membuka mantel tebal yang membalut tubuhnya.

“Halusinasi apanya? Kau tidak senang aku ada disini?” Chanyeol jelas terbelalak kini, karena sosok yang ia kira halusinasinya itu sekarang mendekat ke arahnya, kemudian membantunya membuka dasi.

“Wendy, ini benar-benar kau?” tanya Chanyeol akhirnya, dan senyum yang diukir gadis di depannya itu segera menyadarkan Chanyeol, kalau Wendy sekarang benar-benar ada di hadapannya, berjarak begitu dekat dengannya, dan jelas tersenyum padanya.

Grep!

Tangan kekar Chanyeol segera menarik Wendy dalam peluknya tanpa babibu lagi, diciumnya puncak kepala Wendy, dan dibalas Wendy pula dengan pelukan sama erat.

“Aku merindukanmu Wen, sangat rindu,” bisik Chanyeol, tak terasa, air matanya kini meleleh.

“Aku juga merindukanmu Chanyeol, sangat,” dan rindu itu pula yang membuat Wendy tak sanggup membendung tangisnya.

Malam itu, dibawah sinar lampu yang terang benderang, kedua insan itu berpelukan dalam haru, melepas rindu, dan tertawa bersama untuk pertama kalinya dalam sekian musim tak bertemu. Mungkin ini, hari jadi yang tidak akan pernah dilupakan oleh keduanya. Sederhana, namun sangat bermakna.

^^

Ruangan luas itu kini disulap menjadi sangat istimewa. Warna kalem memenuhi semua sudut ruangan yang terkesan feminim, bunga terangkai di segala sisi, juga tamu undangan yang kini berlalu lalang mengucapkan selamat kepada kedua pasang yang berbahagia itu.

Sehun Irene, juga Chanyeol Wendy sepakat merayakan hari pertunangan mereka dalam satu hari. Sebuah kabar yang menghebohkan hampir seisi Universitas Seoul, juga SMA Hannyoung dimana kisah mereka masih menjadi legenda beberpa tahun belakangan. Masing-masing pihak yang berasal dari keluarga bisnis pun semakin memadati arena pesta Tak hanya rekan bisnis dan perkumpulan dokter, para staff rumah sakit tempat Sehun magang, senior-senior Irene dan Chanyeol di kantor, adik kelas mereka, alumni, dan beberapa sahabat Wendy datang langsung dari Amerika untuk memerihkan acara berbahagia itu.

Namun, diantara gerombolan tamu yang memenuhi ruangan pesta, netra Chanyeol membulat saat mendapati Seulgi beserta kumpulan genk fans fanatiknya semasa SMA kini ada diantara para tamu yang menyelamati mereka. Jika saja Chanyeol tidak ingat bagaimana perlakuan mereka pada Wendy, mungkin Chanyeol tak akan segusar ini.

“Tenanglah, aku yang mengundang mereka,” sebuah bisikan hangat saat Wendy menggengam telapak tangan Chanyeol yang gelisah lantas mengejutkan pria itu.

“Kau mengundangnya?” ulang Chanyeol sekali lagi, dan Wendy hanya mengangguk seakan tak ada yang salah saat dia mengundang para pem-bully-nya ke pesta pertunangannya.

“Selamat atas pertunangan kalian,” ucap Seulgi tulus sambil menyalami Chanyeol juga Wendy, dan Wendy nampak sangat bahagia saat melihat Seulgi mengucapkan selamat padanya.

“Kupikir kau tidak akan datang, terima kasih Seulgi-ah, aku bahagia sekali kau ada disini,” balas Wendy hangat, lalu tersenyum pada sosok di depannya itu. Seulgi tidak bisa menahan harunya lagi, tangisnya hampir pecah kalau saja dia tidak ingat kalau dia ada di sebuah pesta berbahagia.

“Maafkan kami Son Wendy, maaf,” lirih Seulgi, dan sebuah senyum terpatri di bibir Wendy secara spontan.

“Sudah sejak lama aku memaafkan kalian, kalian tidak salah, jusru aku yang minta maaf,” lirih Wendy lagi sambil memeluk Seulgi hangat. Perlakuan Wendy membuat netra Chanyeol yang berdiri disebelahnya dan menyaksikan semua itu dengan jelas semakin membulat, namun diam-diam dia merasa lega pula karena memiliki calon pendamping hidup super baik hati seperti Wendy.

“Hiks, kenapa jadi kau yang minta maaf?” tolak Seulgi di sela-sela tangisnya yang pecah terbendung, dan hanya senyum jahil Wendy yang muncul ke permukaan.

“Maaf karena aku merebut oppa kalian,” kata Wendy sambil mengedipkan matanya jahil dan seketika tawa memenuhi ruangan itu, termasuk Chanyeol yang cukup tersanjung dengan jawaban bercanda ala gadis itu.

^^

Suara piano nampak menguar memenuhi ruangan itu. Tamu nampak duduk rapi di atas kursi, sementara bola mata mereka semua kini tertuju pada 4 orang yang ada di atas panggung sana. Nampak Chanyeol berada dibalik lantunan piano yang mengalun lembut, diikuti Wendy yang duduk di sebelahnya sambil memegang microphone. Lain Wendy dan Chanyeol, Sehun maupun Irene kini lebih memilih berdiri sambil berpose mesra, siap menggerakkan badan mereka enerjik seperti yang seharusnya.

Kedua pasangan itu tersenyum bahagia. Empat tahun lalu mereka ber-4 melarikan diri dari pentas seni sekolah, dan kali ini, teman-teman mereka menagih penampilan yang seharusnya mereka nikmati 4 tahun yang lalu itu. Harusnya mereka menolak, karena lucu saja tampil tanpa persiapan seperti ini, terlebih Sehun atau Irene yang mungkin sudah lupa beberapa koreografi yang dulu mereka persiapkan, bagaimana pun juga sudah terlau banyak tahun yang terlewati.

Namun mereka memilih maju, mengenang masa SMA-nya kembali, merasakan getaran zaman sekolah yang mempermtemukan dan mengikat mereka dalam sebuah hubungan tak terpisahkan. Banyak lika-liku yang mereka lalui, dan nampaknya itu sudah cukup untuk menguji kisah kasih mereka.

Bagaimanapun, aku benar-benar menyukaimu

Kau memelukku ketika aku diam-diam tersenyum sayang

Aku menunggu untuk hari ini, karena kau sungguh manis

Lihat aku, aku akan melindungimu sayang

Aku bermimpi setiap hari

Memegang tanganmu dan terbang selamanya, hingga terlalu sering

Kekasihku, aku merindukanmu

Ini takdir, kau tidak dapat menghindarinya

Setiap hari aku begitu beruntung

Aku ingin mengakui di dalam hatiku yang tersembunyi, aku mencintaimu

Bibirku gemetar, hatimu beterbangan

Kau adalah cintaku sayang

Aku tahu bahwa ini adalah cinta

Aku senang karenamu

Ini adalah cinta sayang

Aku bermimpi setiap hari

Memegang tanganmu dan terbang selamanya, hingga terlalu sering

Kekasihku, aku merindukanmu

Ini takdir, kau tidak dapat menghindarinya

Setiap hari aku begitu beruntung

Aku ingin mengakui di dalam hatiku yang tersembunyi, aku mencintaimu

Aku sangat mencintaimu sampai aku bisa mempertaruhkan segalanya

Aku berjanji bahwa aku akan selalu peduli untukmu

Bahkan jika melewati waktu dan semuanya berubah

Bahkan jika dunia berakhir, cintaku

Kau keberuntunganku, aku tak dapat menghindarinya

Setiap hari aku begitu beruntung

Aku ingin mengakui di dalam hatiku yang tersembunyi, aku mencintaimu

 

[Best Luck by EXO’S Chen]

 

Bagi Chanyeol, Wendy adalah keberuntungan, seorang gadis yang mengisi harinya dengan segala macam canda tawa, Wendy yang cuek namun ternyata bisa meluluhkannya hingga bertekuk lutut dan selalu merindu gadisnya tiap detik. Sama pula dengan kekasihnya, Wendy pun merasa Chanyeol adalah keberuntungannya pula, sosok lelaki yang awalnya ia benci, namun berakhir menjadi pengisi tiap lorong hatinya, lelaki yang merubah hidupnya menjadi lebih berwarna, kekasih yang mengajarkannya segala macam rasa pahit dan manisnya hidup dan juga pria yang selalu melindunginya.

Begitu pula Sehun, yang awalnya menganggap Irene adalah sebuah kesialan hidup, kini harus menelan ucapannya sendiri karena nyatanya hatinya berkhianat karena melirik Irene. Tanpa Sehun sadari ternyata hatinya itu sudah memilih keberuntungannya sendiri, dan ia memilih Irene. Tak jauh berbeda dari kekasihnya, Irene pun awalnya membenci Sehun, sangat, karena lelaki itu selalu mendikte hidupnya dari atas sampai bawah. Tetapi nyatanya nyaman menjalar terlalu cepat. Irene tidak ingin kehilangan Sehun, hatinya memilih Sehun, dan Sehun sendiri kini menjadi keberuntungannya.

Dan jika engkau tanya pada mereka ber-empat, apa kisa mereka berakhir bahagia disini? Mungkin mereka akan menjawab tidak, dengan sangat lantang tanpa berpikir 2 kali. Kisah mereka belum berakhir bahagia, karena mereka memilih kisah tanpa akhir. Kisah tanpa henti, bagai lingkaran tak berujung, itulah kisah mereka. Tanpa akhir, mereka terus bercerita. Terus hidup, hingga Tuhan sendiri yang akan mengakhiri kisah indah mereka dan membuat seri kedua di surga. Dengan canda tawa, mereka berharap, selama nafas masih milik raga, mereka akan bahagia untuk selamanya.

Jalan yang kita lewati terlalu berkelok dan curam hingga terkadang aku berpikir untuk berhenti. Namun hatiku terlalu egois, entah mengapa hatiku ingin aku terus melangkah sambil menggenggam tanganmu tak peduli jika nantinya kita sama-sama mati jatuh ke dalam jurang kegelapan itu. Karena hatiku berkata, itulah cinta.”

 

 

FIN

 

Author’s Note

Go check Afterword + Pengumuman, ADA SESUATU YANG SPESIAL DISANA >.<

Iklan

37 pemikiran pada “Stuck On You (Bonus Chapter + Epilog) – Shaekiran & Shiraayuki

    • sweet kan mereka, bikin iri >.<
      Makasih untuk apresiasinya buat ff Stuck On You ini chingu, kami terhura sekali :"
      Dan kami berdua punya karya baru kok, hoho, boleh dilirik judulnya Gotta be You. Semoga tertarik ya ❤

    • FF collaboration kami selanjutnya sudah di up lo, judulnya Gotta Be You, monggo di cek chingu 😀
      Duh, kami terhura chingu bilang ini desert yang manis, wkwk, makasih buat semua apresiasinya selama ini chingu, thanks for reading cerita abal-abal kami ini ❤

  1. Ping balik: Stuck On You (Afterword + Announcement + Little Gift) | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s