[TWOSHOT] CORPSE [1 of 2] — IRISH’s Tale

z

| CORPSE |

| EXO`s Baekhyun x OC`s Woori |

| Dystopia — School-life — Sci-Fi — Romance |

| Two-shot | Teenagers   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © IRISH Story All Rights Reserved

♫ ♪ ♫ ♪

In Baekhyun’s Eyes…

Sekolah ini menyeramkan.

Oh tentu saja.

Semua orang tahu itu.

Sekolah ini mengerikan.

Semua orang menghindarinya.

Dan sekolah ini sudah jadi sekolah paling tersisihkan di kota Seoul. Hampir seisi kota Seoul tahu tentang sekolah ini, tapi tak mau membicarakannya. Hanya ada dua kelas pada setiap angkatan disekolah ini. Dan bahkan satu kelasnya berisi tak sampai tiga puluh orang.

Sekolah yang sangat sepi. Dengan gedung besar dan mewah. Tapi kurasa total muridnya tak sampai seratus orang. Sungguh. Aku berani bertaruh.

Memangnya manusia mana yang mau anaknya bersekolah di tempat yang sama dengan monster seperti kami?

Monster? Bisakah kukatakan kami adalah monster?

Kurasa, ya.

Dan semua ini bukan salah kami. Peperangan yang seharusnya disalahkan dalam hal ini. Virus mematikan mereka telah mengubah sebagian kecil dari kami berubah menjadi sosok yang tak kami inginkan.

Makhluk bertaring permanen, dengan mata merah menyala, tanpa tanda kehidupan apapun. Secara klinis, kami mati. Kami adalah mayat. Tapi kami hidup. Haha. Bukankah kami adalah mayat hidup?

Tapi tidak.

Kami bukan mayat hidup.

Mereka sering menyebut kami vampire. Tapi juga tidak. Karena kami tidak meminum darah. Kami… hanya makan daging.

Daging mentah. Tidak yang lain.

Bayangkan, dengan adanya monster seperti kami, manusia mana yang mau menyekolahkan anaknya ditempat kami? Bahkan semua guru di sini sama seperti kami.

Oh tunggu—tidak. Ada dua orang guru manusia yang mengajar atas dasar rasa kasihan pada kami yang bahkan dibuang dari keluarga.

Kami semua—monster ini tentunya—tinggal di bagian gedung lain yang disebut asrama. Dan kami tak pernah membayar apapun. Kurasa keluarga kami—masih bisakah aku menyebutnya begitu?—sudah menyerahkan uang.

Dan juga masih ada pemerintah. Meskipun, hanya menunggu waktu sampai tiba-tiba saja mereka meledakkan tempat ini dan memusnahkan kami.

Beruntunglah karena tak satupun dari kami bisa mati dengan mudah, dan kami juga tak pernah menyerang manusia. Walaupun pernah terjadi, tapi manusia yang diserang tak terkena efek apapun. Jadi kurasa pemerintah masih mempertimbangkan hidup—atau kematian?—kami.

Corpse.

Baru-baru ini kudengar mereka menyebut kami seperti itu. Kurasa julukan itu lebih terdengar keren daripada mayat hidup atau vampire. Setidaknya tak ada makhluk lain yang disamakan dengan kami.

Ah. Hampir saja terlupa.

Sejujurnya keadaan di sekolah sunyi ini sudah sedikit berubah sejak kedatangan murid baru bernama Jung Seorin. Ya, terutama dengan bagaimana sahabatku—Chanyeol, tertarik padanya, dan akhirnya mereka bersama.

Manusia banyak yang menghina gadis manusia itu saat berjalan dengan Chanyeol, tapi gadis manusia itu punya satu kalimat yang selalu kuingat sampai detik ini.

“Aku yakin ada obat yang bisa menyembuhkan kalian dan membuat kalian kembali menjadi manusia.”

Ia mengucapkannya sebagai alasan kepindahannya di sekolah kami.

Hanya dia satu-satunya manusia yang berusaha berkomunikasi dengan kami. Lalu sisanya? Tujuh orang—satu wanita dan enam pria—di kelasku juga enam belas orang—sebelas wanita dan lima pria—lain di kelas sebelah, adalah manusia-manusia yang sangat berusaha untuk jauh dari kami.

Aku tidak menghitung Seorin tentu saja. Dan juga, ia ada di kelas sebelah. Membuatku dan yang lain di kelas ini hanya bisa bicara dan mendengar tentang mereka.

Satu lagi.

Alasan mereka tak betah berdekatan dengan kami adalah karena bau busuk yang akan tercium sangat tajam saat mereka ada di dekat kami. Tak heran, sudah berapa tahun kami tak mandi? Tak bertambah tua? Dan tidak berganti pakaian?

Corpse membenci air.

Entah karena alasan apa. Kami membencinya. Saat musim hujan tiba, kami semua akan mengurung diri di kelas sampai tak setetespun air ada di dekat kami. Kami sering menjauh dari manusia saat mereka minum.

Aku sungguh tidak tahu mengapa. Tapi air sangat menyeramkan. Tentu saja, bagi manusia, kami adalah hal paling menyeramkan. Sosok asli kami saja sudah mengerikan. Karena disaat-saat tertentu—yang tak bisa kami kontrol—kami bisa berubah menjadi monster mengerikan. Dan manusia takut pada kami karena itu.

Selain perbedaan itu, kami masih terlihat seperti manusia—aku tak mengatakan penampilan kami tentu saja, karena kami sangat menyeramkan—maksudku adalah, kami bisa belajar seperti manusia, bicara, bergerak, berjalan, dan melakukan rutinitas manusia kami.

Disekolah ini bahkan ada kelas PE. Menakjubkan bukan?

“C-Chogi…”

Aku tersentak dari lamunanku, dan memandang gadis yang berdiri di sampingku dengan tatapan takut. Ingatkah tentang satu-satunya gadis manusia dikelasku? Dia adalah orangnya. Kang Woori.

Gadis pendiam yang masuk ke sekolah ini sejak tahun pertama. Meski aku tak bisa bertanya padanya tentang alasan yang membuatnya harus ada di sekolah ini, tapi dia cenderung berusaha menjauh dari kami.

Dia tak mungkin jadi manusia tidak beruntung yang harus bersekolah bersama satu populasi corpse, bukan?

Woori—masih menunggu sahutanku sementara aku masih bergeming memandangnya. Kuperhatikan lagi, dia sesekali terlihat menyernyit—mungkin juga, berada di dekat corpse membuatnya merasa tidak nyaman.

“Guru bilang, aku… harus bergabung dengan salah satu kelompok.”

Aku mengerjap cepat saat mendengar ucapannya.

Apa ia bicara soal tugas?

“Ini soal tugas kelompok. Maksudku, ah…” ia mendesah pelan, dan melirik ke arah pemuda—manusia dikelas ini—yang menatapnya dengan tatapan yang, aih, bagaimana aku menggambarkannya?

Aku sedikit berjengit terkejut saat ia mendekatkan tubuhnya ke arahku. Maksudku, apa ia tidak merasa terganggu karena bau ini?

“…aku tak mau bersama Taeyong dan yang lainnya, bisakah aku bergabung dengan kelompokmu?” ucapnya lagi.

Ah, benar. Tugas ini harus dikerjakan oleh tujuh orang. Dan karena jumlah corpse dikelas ini ganjil, satu-satunya pilihan adalah salah satu manusia itu bergabung dengan kami.

Tentu saja aku ingat bagaimana gadis ini selalu menanyai kami setiap ada tugas kelompok. Ia tak mau satu kelompok dengan bangsa manusianya.

Tapi… kenapa? Kenapa ia memilih menyiksa dirinya untuk bersama kami selama dua kali empat puluh menit dibandingkan duduk tenang bersama bangsanya?

Aku kembali tersadar. Ia tengah menunggu jawabanku. Aku melirik beberapa corpse di kelompokku, dan mereka tampak kepayahan mengangkat bahu. Ya. Gadis ini tak banyak bertingkah aneh di kelas, dan kami bahkan mungkin hampir tak menganggapnya ada. Menerimanya di kelompok bukanlah hal yang sulit, bukan?

Aku akhirnya mengangguk. Dan membuat senyum mengembang diwajahnya, tersenyum adalah satu hal yang tak bisa kami lakukan dengan syaraf yang hampir sepenuhnya lumpuh ini.

“Terima kasih…”ucapnya, ia kemudian menggeret sebuah kursi dan duduk di celah kecil kelompok kami.

Dengan santai ia membuka buku catatannya, seolah perbedaan kami tak menjadi masalah untuknya. Sementara aku tanpa sadar masih memperhatikannya.

“Jangan tanya kenapa aku tidak pernah mau sekelompok dengan mereka. Satu kelompok dengan kalian jauh lebih baik daripada bersama enam orang mesum itu.” ucapnya pelan, tatapannya tertuju padaku, itu artinya ia bicara padaku.

Tunggu? Apa ia bisa membaca pikiran atau semacamnya? Kenapa sedari tadi kusadari ia seolah menjawab pertanyaan dibenakku?

Atau pertanyaan itu tampak jelas dari ekspresi—aku sebenarnya tak punya ekspresi—ku? Sehingga ia bisa menjawabnya lebih dulu?

Kenapa… aku merasa seharusnya Kang Woori lah yang lebih menarik perhatian kami daripada Seorin?

Seorin yang hanya dengan dengan terbuka mengajak kami berteman tapi tak banyak mengenal kami. Seorin yang dengan cueknya berkontak fisik dengan kami tapi tak bisa tahu apa yang kami ingin utarakan.

Tapi Woori. Walaupun gadis pendiam ini hanya bergabung dengan kami dua kali seminggu, ia tahu semua nama kami. Dan ia selalu menunggu kami bicara sebelum mengutarakan keinginannya—meski ia tahu kami hampir tak pernah bicara.

Ia seringkali mengutarakan apa yang ada dibenak kami.

Ia juga selalu tersenyum setiap bertemu dengan kami. Secara tak langsung sering membantu kami saat kelas ini terkena efek hujan deras. Ia bahkan tak jarang membawa plastik besar dari rumahnya untuk menutup jendela berlubang di kelas—kami pikir bahwa ia menutup jendela itu karena benda persegi itu tepat di sebelah kursinya—yang seringkali membuat kami terkena percikan hujan yang kami benci.

Yang paling sering terjadi adalah saat ia bergumam tentang kematian hewan di hutan yang ada di belakang asrama sekolah, dan secara tak langsung membuat kami memburu hewan itu sepulang sekolah karena rasa lapar.

Benar. Perlahan, aku sadar bahwa gadis ini lah yang sebenarnya sudah berteman dengan kami tanpa perlu ia katakan. Walaupun selama ini kami selalu mengelu-elukan Seorin dan menganggap keberadaannya di sini seperti dewi fortuna yang akan menyelamatkan hidup kami.

Apa seharusnya… Kang Woori lah yang seharusnya mendapatkan kata-kata ‘pertemanan’ dengan kami? Bukan Seorin?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Ah… Menyebalkan sekali. Aku tidak bisa tidur semalaman karena harimau buas yang memburu rusa-rusa besar di belakang hutan. Belum lagi melihat bangkai tiga ekor rusa di belakang. Aish… Aku kehilangan nafsu makan…”

Pagi ini Woori masuk ke kelas dengan menggerutu kesal seperti itu. Dan ucapannya tentu menjadi alarm bagi kami—termasuk aku—bahwa kami akan dapat makan siang.

Tapi, ini pertama kalinya aku sama sekali tak terusik. Perhatianku masih tertuju pada Woori, memperhatikan ekspresinya. Apa ia benar tak sengaja mengatakan itu? Atau memang selama ini ia sengaja mengatakannya untuk memberitahu kami?

Kuakui kelas kami memang lebih sering menemukan lebih dulu makanan itu di banding kelas sebelah. Aku sedikit heran, kenapa aku tak pernah mendengar apapun dari kamarku sementara ia tahu padahal ia tak tinggal di asrama?

Saat bel panjang tanda pelajaran awal habis, semua corpse kelas kami berhamburan keluar. Terkecuali aku, dan Chanyeol.

Aigoo, kemana semua murid kelas ini?” Seorin berucap kaget saat masuk ke kelas kami. Ditangannya sudah ada sebuah rantang besar yang aromanya membuatku menyernyit menahan keinginanku untuk merebut rantang itu.

Chanyeol tentu tak perlu repot berburu. Seorin selalu membawa daging untuknya setiap hari. Dan di saat seperti ini, saat biasanya aku ikut berburu bersama yang lain—dengan informasi dari Woori tentunya—aku memutuskan untuk keluar dari kelas.

Dari sudut mataku aku bisa melihat Woori menatap ke arahku—aku tak berniat melihatnya, semuanya terjadi begitu saja. Aku menghela nafas panjang. Bau daging menyeruak dari dalam kelas. Dan aku menginginkannya. Daging serigala pasti akan sangat enak.

“Kau tidak berburu?”

Aku tersentak kaget, tak sadar jika Woori sudah berdiri di sebelahku. Aku segera mengalihkan pandanganku darinya, tak ingin bicara dengannya karena ia manusia.

“Ah…” ia berucap pelan membuatku tanpa sadar memandangnya lagi.

“Kau tidak suka rusa, benar bukan?” ucapnya, tersenyum padaku, dan ucapannya membuatku mengerjap cepat.

Bagaimana ia tahu?

“Lalu daging apa yang kau suka? Harimau? Serigala? Tupai?—” ia berucap cepat dan mencondongkan tubuhnya ke arahku, “—kucing? Sapi? Ayam?” ucapnya kembali mencecarku.

“Serigala.” ucapku singkat.

Aku melihatnya mengangguk-angguk dari sudut mataku. Kemudian tatapannya melebar, dan ia menoleh ke arahku lagi.

“Apa kau lapar?” tanyanya.

Aku tak menyahut. Pergilah dari tempat ini. Aku tak suka manusia.

“Kau tidak lapar?” ulangnya.

“Pergilah.” ucapku akhirnya, menatapnya dingin—dan mendengar ucapanku, aku tak lagi melihat tatapan ramahnya.

Tatapannya kini… seolah kecewa, dan bingung. Tapi sekon kemudian ia kemudian tersenyum dan mengangguk, tangannya bergerak menggaruk pelan sisi lehernya, entah kenapa ia melakukan itu. Dan akhirnya ia menghela nafas panjang.

“Aku tidak tahu jika kau sangat benci manusia. Maaf.” ucapnya sambil berbalik dan melangkah ke dalam kelas.

Ia bahkan tahu aku membenci manusia.

“Tapi, Baekhyun-ssi, jika kau lapar mungkin kau sebaiknya memeriksa semak-semak di belakang ruang guru. Kurasa ada yang bisa kau makan disana.” aku mendengarnya berucap walaupun aku tak membalikkan badanku sama sekali.

Memangnya apa yang ada di sana?

Aku menoleh, dan saat Woori tengah berjalan memunggungiku, aku segera menekan keingintahuanku tentang ucapannya. Bodohnya kaki ini sudah melesat pergi ke tempat yang ia ucapkan. Semak belukar tinggi yang ada di belakang ruang guru.

Aku menyernyit saat mendengar suara nafas serigala di sana. Dan saat aku melangkah mendekat, aku tersentak melihat seekor serigala tua ada di sana. Lemah. Tidak berdaya.

Cepatlah mati. Dan aku bisa memakanmu dan—tunggu… Bagaimana Woori bisa tahu tentang ini?

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku kembali ke kelas paling akhir. Bagaimana tidak? Aku terpaksa harus membunuh serigala itu, dan memakannya, karena aku tak mau menunggu lebih lama lagi.

Dan saat aku melangkah kembali ke kelas, aku tersentak saat berpapasan dengan Woori. Seperti dugaanku, ia tersenyum saat menatapku. Seolah sikap dinginku padanya tadi tidak berefek apapun.

“Oh…” ia tampak mengulum senyum, “apa kau sudah kenyang?” lanjutnya.

Aku dengan segera mengalihkan pandanganku. Bodoh. Aku tertangkap basah mengabaikannya sekaligus mempedulikannya di satu waktu.

Aku meliriknya saat mendengar ia tertawa pelan. Tapi ia nyatanya masih memandang ke arahku.

“Bersihkan wajahmu, bekas darah serigala itu mungkin akan membuat yang lain bertanya-tanya.” ucapnya pelan, hampir berbisik.

Ia kemudian menatap ke dalam kelas, dan menghela nafas panjang.

“Senang melihat kalian ada dikelas dengan wajah seperti ini. Bukan dengan wajah merengut yang ada di pagi hari saat kalian lapar.” ucapnya sambil tertawa pelan dan melangkah ke dalam kelas.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku merasa bahwa aku jadi corpse yang paling kenyang kemarin. Kurasa aku tak perlu makan untuk beberapa hari ke depan. Satu ekor serigala seharusnya bisa dimakan oleh lebih dari sepuluh corpse. Tapi aku terlalu serakah kali ini.

Sangat sulit untuk bisa makan serigala. Sungguh.

Kupikir aku seolah menyimpan dendam pada serigala. Jadi aku memakannya sampai habis. Sendirian. Baiklah. Aku tak akan makan untuk beberapa hari ke depan.

Tapi gadis itu, Woori, ada banyak hal yang sekarang kupertanyakan tentang dirinya. Dan aku tertidur terlalu lelap semalam. Akibatnya, aku terlambat.

Ini sungguh tidak lazim. Tak pernah sekalipun corpse terlambat. Semua pelanggaran di sekolah kami diciptakan oleh manusia disini. Kami semua, corpse, patuh pada peraturan.

Aku sudah tidak ingat apa di masa lalu aku juga seperti ini, aku tak mengingat masa manusiaku sama sekali. Aku bahkan tak ingat wajah kedua orang tuaku. Saat terbangun sebagai corpse, aku terbangun sebagai seseorang yang tak tahu apapun.

Langkahku terhenti di depan kelas, dan menyernyit melihat Woori duduk sendirian di depan kelas dengan menopang dagunya. Menyadari keberadaanku, ia menoleh, tersenyum padaku.

Hey,” ucapnya dengan nada sangat ramah, “whoah, kau terlambat? Aku tak pernah melihat corpse terlambat.” sambungnya.

Benar bukan? Ia akan mengatakan apa yang kupikirkan.

“Kenapa denganmu?” tanpa sadar aku berucap.

Ia memandangku sejenak, lalu menunjukkan deretan giginya, tersenyum, membuat matanya tenggelam di balik senyum itu.

“Aku tak mengerjakan tugas, seperti biasanya. Tugas itu terlalu susah kau tahu.” ucapnya membuatku segera tersadar, oh ayolah, ia sering diusir keluar bersama beberapa orang manusia lain yang—hey, dimana teman manusianya?

“Ah, seharusnya aku ikut dengan mereka hari ini. Mereka akan menghadiri pertemuan di balai kota. Kau lihat? Enam orang itu membolos.” ucapnya kembali menjawab pertanyaan di benakku.

“Kang Woori.” ucapku membuatnya menatapku, kaget.

“Ya?” ucapnya sedikit tergeragap.

“Bagaimana bisa kau tahu apa yang kupikirkan? Kenapa kau selalu mengucapkan apa yang baru saja kupikirkan?”

Ia mengerjap beberapa kali, dan menatapku dalam diam.

“Apa kau… baru saja bicara sebanyak itu padaku?” ucapnya balik bertanya.

Aku memejamkan mataku sejenak, sudah seharusnya aku tak bicara apapun pada manusia ini. Aku tahu ia akan bereaksi berlebihan dan jadi banyak bicara seperti ini.

“Ah, maaf, aku tak berniat banyak bicara. Tapi, aku tak punya kemampuan semacam itu, kenapa menanyakannya?”

Aku berjengit mendengar ia mengatakan ‘aku tak berniat banyak bicara’ tepat setelah aku memikirkan bahwa ia banyak bicara. Ia benar-benar… tahu dengan persis tentang pemikiranku.

“Lupakan.” aku akhirnya berucap sebelum melangkah masuk ke dalam kelas.

Hebatnya, aku tak memperkirakan bahwa seonsaengnim akan memberi corpse maupun manusia, hukuman yang sama.

Dan disinilah aku sekarang, duduk disebelah Woori, bersama-sama diusir dari pelajaran. Ah. Aku yakin ia akan bicara lebih banyak lagi.

“Tenang saja, aku tidak akan bicara apapun padamu, aku ingat kau tidak suka manusia.” aku memejamkan mataku—catatan, ia kembali membaca pikiranku.

Aku bisa mendengar Woori menggeser duduknya, tapi herannya tindakannya membuatku semakin merasa tak nyaman.

“Semua ini karenamu.”

“Apa?” aku menatapnya. Untuk sepersekian detik aku memperhatikan wajahnya. “Kau tidak seharusnya memberitahuku tentang serigala itu.” sambungku.

Woori mengerjap dua kali sebelum ia berucap.

“Lalu kenapa tidak menahan dirimu?” tanyanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil.

“Insting kami tak bisa dilawan.”

“Kalau begitu kau harus berlatih.” ucapnya membuatku sangat ingin menyernyit bingung seperti yang manusia sering lakukan.

“Berlatih?”

Woori mengangguk.

“Seperti yang kami lakukan. Kau pasti juga bisa.”

Aku mendengus pelan, dan mengalihkan pandanganku.

“Kami bukan lagi manusia. Kami corpse. Insting semacam itu tak bisa ditolak.”

Beberapa saat kami sama-sama terdiam. Aku bisa mendengar Woori menarik dan menghembuskan nafasnya dengan teratur.

TES.

Aku tersentak, dan segera berdiri saat setetes air mengenai bahuku. Melihat tindakanku, Woori mengerjap terkejut.

“Kenapa?” tanyanya kaget

“Air.”

Woori mendongak, dan setetes air juga jatuh ke wajahnya. Tak hanya setetes, tapi beberapa tetes lagi.

“Hujan…”

Woori menatapku khawatir.

Seonsaengnim tak mungkin mengizinkanmu masuk. Apa kau mau kembali ke asrama?”

Benar. Guru di sini menurutku bersikap sangat kejam. Ia tak akan peduli padaku yang akan basah. Ugh. Membayangkan tubuhku basah adalah hal yang mengerikan. Dan membayangkan tubuhku terkena percikan air juga hal yang mengerikan.

Aku menggeleng.

“Hujan.” ucapku lagi.

Woori tertawa pelan, dan kemudian berdiri menjajariku, walaupun tingginya hanya sebatas bahuku.

“Kenapa corpse sangat membenci air?” ucapnya sambil kemudian menarik lenganku, membuatku tersentak kaget.

“Apa yang ka—”

“Kau mau kehujanan? Kita harus berteduh.” potongnya.

Aku akhirnya menurutinya. Dan mengikuti langkahnya. Walaupun akhirnya Woori terengah-engah karena berlari-lari kecil bersamaku. Aku tidak mengerti, kenapa berlari dalam waktu tak sampai dua menit membuatnya begitu terengah-engah dan bahkan terlihat pucat, karena aku tak pernah merasa lelah.

Kami sampai di rumah kaca yang ada di sisi sekolah. Ruangan tidak terawat yang hanya berisi tanaman-tanaman mati. Ruangan ini terabaikan sejak munculnya corpse. Tak ada satupun dari kami yang tertarik pada tanaman.

Baru saja aku tertarik pada tanaman yang tak pernah kuperhatikan, kusadari aku berdiri di tengah ruangan yang terbuat dari kaca dan—air. Aku berjengit melihat sekelilingku. Air. Air dimana-mana. Hujan deras yang turun membuatku bisa melihat jelas bagaimana air berjatuhan mengenai dinding kaca ini.

“Kenapa kau membawaku ke sini?” ucapku, menatap Woori yang masih berusaha mengatur nafas.

“Apa?” ucapnya di sela nafas cepatnya.

“Kau baik-baik saja?” tanpa sadar pikiranku teralihkan oleh keadaannya.

Woori memejamkan matanya sejenak dan mengangguk.

“Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku.” ucapnya tanpa sadar kembali menjawab pernyataan dalam pikiranku.

“Kenapa kau bawa aku kesini?” ucapku segera mengalihkan pembicaraan.

Woori tampak mulai bisa bernafas tenang. Ia kemudian memandang ke arah langit-langit kaca.

“Tempat ini sangat bagus bukan?”

Tidak. Sama sekali tidak.

“Aku sangat suka melihat hujan dari tempat ini tanpa harus basah.” ucapnya membuatku memandangnya.

Aku sangat membenci hujan. Mendengar suaranya, melihatnya, terutama saat terkena air hujan.

“Bukankah tempat ini juga bagus untukmu? Kau hanya akan mendengar suara hujan dan melihatnya, tapi kau tidak kena air.” ucap Woori sambil tersenyum.

“Aku benci hujan.”

“Aku tahu. Tapi kau harus terbiasa. Memangnya kalian selamanya mau bersembunyi di kelas saat hujan?”

“Aku benci air.”

Woori menatapku lama, senyum masih ada diwajahnya, tapi ia tak mengalihkan pandangannya atau bicara apapun.

“Apa mungkin… kau tidak ingat kehidupan manusiamu?” tanyanya membuat tatapanku melebar.

“Aku tidak mengingatnya.”

Woori menyernyit.

“Sama sekali tidak? Sedikit pun?” cecarnya

“Tidak.”

Woori akhirnya menghembuskan nafas panjang.

“Andai saja ada alat yang bisa membuat orang melihat isi pikiran orang lain. Aku akan membaginya denganmu.”

“Membagi? Apa?” tanyaku penasaran.

“Ingatanku… tentangmu saat kau masih jadi seorang manusia.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Ceritanya, abis rapi-rapiin laptop dan ketemu sama file cerita ini. WKWK. Tau enggak ini kapan selesai diketik? 5 Januari 2015 ~ kan icikiwir sekali tuirnya ini epep sebelum dia ane lahirkan kembali dengan editan seadanya.

Berhubung waktu masih begitu limited buat dipake ngetik sekedar epep ficlet, rasanya ngelahirin epep lama dengan ide yang super aneh ini juga engga ada salahnya .-.

Satu lagi, diri ini sesungguhnya udah lupa ini cerita dasarnya mau jadi cerita chapter atau apa……. Maklum dia sudah tenggelem selama dua taun. LOLOLOL.

Iklan

24 pemikiran pada “[TWOSHOT] CORPSE [1 of 2] — IRISH’s Tale

  1. mreka gk pernah mandi apa gk bolotan tuh muka…hahahaha
    ohhh baek teman masa kecilnya woori.. aaahhhhh pantesan kok lbh care ke baekhyun..
    lah masih penasaran jg kok woori bisa tau apa yg dipikirkan baek yaa,,..
    irishhh mah suka gitu.. maklum faktor umur.. kkkkkkkkk

  2. Bnran deh rish dirimu ni khayalannya luar biasa ya..macam2 makhluk bisa terbentuk. Skrg zombie digabung ama vampire ama werewolf, jadinya corpse. Kayaknya corpse lahir setelah keturunan vampire werewolf kawin ama zombie akhirnya lahir anak bawa virus corpse….(apaan sih teorinya).
    Aku penasaran kenapa mereka benci air?

    • Iseng aja rish…
      Kyaaaaa irish….momen hujannya kok pas bgt ama lagunya Soyou ama bebek yg bahas soal ujan…
      Aku nunggu2 rilisnya, pas ketemu di YouTube ya ampun suaranya Baek smooth bgt….soyounya juga sumpah melting….ini lbh great dr pada dream…
      Sumpah aku lbh suka ini wlw dream itu Baekhyun duet ama mantan bias (Suzy too mature skrg gk suka, aku suka dia jd hyemi di dream high biarin chubby yg penting gk terlalu dewasa kyk skrg).
      Aku tuh bingung ama suara Baekhyun kok bisa selembut itu banget…secara sedari awal dengerin album EXO gk pernah denger yg selembut ini…kayaknya dia udh improve bgt vocalnya… padahal kmrn di Instagram teriak2 lagunya Kim Hyun moo yang Moon of Seoul, dia kece juga nyanyian beutifulnya crush sayangnya gk full, (I need Baek more covering another song klo perlu bikin soundcloud sekalian macam ceye, ceye yg suaranya ngebass pede aplg bebek yg aku akuin suaranya hampir semua genre masuk tp klo rnb Kyungsoo rajanya.)sebelnya dia part-nya lbh sedikit dari Soyou…aku suka bgt pas part high notenya..ya gk tinggi2 amat tp cukup bkn hati ngejleb…aku akuin Chen suaranya di nosedive pertama dgr bikin merinding, tp klo Baekhyun disini bikin melting…dia cowok apa cowok sihhh suaranya lembut bgt!!!! Apa efek jakunnya ketelen ya? Wkwkwkwkwk
      (Kyknya ni lagu gk bisa no 1 di chart deh, soalnya saingan ama BTS..everywhere pada heboh ini…(EXO comeback harus lbh heboh!!!)
      Maaf ya rish jadi curhat tp beneran pengen heboh dgr lagu duetnya bebek…
      Awal kenal diakan ngerock gayanya di Mama wkwkkwk

    • Mbb ya sayangs :* BUAKAKAKAKAKAKAKAK INI CERITANYA ADA OSTNYA YA WAKTU BACA CERITA INI JADI CUCOK KAN YA XD BTW LAGUNYA SOYU CABE UDAH LAMA RILIS YA, BERKAT LEMBUR DIRIKU BAHKAN ENGGA SEMPET BUAT DENGERIN LAGUNYA. SEDIH T.T
      INI BTW KENAPA ISINYA CURHATAN SOYU CABE YA…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s