[EXOFFI FREELANCE] AUTUMN (Chapter 1)

5t1zhhhv5a

Tittle     : Autumn #1

Author  : Angestita

Length  : Chaptered

Genre    : Romance – AU – Drama

Rating   : PG 13

Main cast : Sehun EXO – Alessandra ( OC)

Diclaimer : Ini hanya fanfiction. Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia asli. Semuanya murni dari pikiran saya. Saya tidak mencontoh karya orang lain jadi saya harap kalian dapat melakukan hal yang sama.

Sumarry : setiap orang punya takdir mereka sendiri.

Suasana musim semi di Korea Selatan memang berbeda dengan di Kanada. Sungguh, Andra rasakan itu. Wanita cantik berhijab putih tulang itu tak henti hentinya mengarahkan cameranya sepanjang jalan. Pohon-pohon maple berjejer rapi dikanan kirinya. Daunnya yang berguguran terlihat indah. Datang ke festival Momojii Road adalah pilihan yang baik untuk orang baru sepertinya. Berbekal pendoman dari teman satu kantornya, wanita itu memilih mendatangi kawasan ini berdua saja. Ia dan camera canon kesayangannya. Sudah dua jam dia habiskan di tempat itu. Tapi matanya tak kunjung lelah malah kian semakin bersemangat.

Andra menatap hasil foto yang dia ambil dengan tatapan berbinar. Wajahnya yang berbingkai jilbab terlihat amat cantik. Apalagi berlatar pemandangan alam yang hangat. Beberapa daun maple berguguran, berputar layaknya helicopther sebelum akhirnya jatuh kebawah dan mendarat di telapak tangan itu. Andra menatap kagum daun maple berwarna merah kekuningam yang berhasil dia tangkap. Wanita cantik itu mengusap permukaannya dengan lembut seolah takut membuatnya rusak.

“Wah… indah sekali.” Ucapnya nyaris seperti bisikan. Entah mengapa melihat daun bersisi lima itu membuat hatinya menghangat. Seolah memang ada jalan yang Tuhan akan berikan untuknya melalui reruntuhan daun maple di musim seminya kali ini. Apakah itu menyangkut doa-doanya yang ia lantunkan setelah bersembahyang? Tak tahu. Yang Andra tahu hatinya senang. Maka pada akhirnya Andra menyimpan daun maple itu kedalam saku kantong tasnya agar tidak rusak.

Wanita itu ingin membidik objek indah didepannya namun gerakannya terhenti karena matanya yang cantik menangkap jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya menunjukkan pukul 3 sore hari. Sudah masuk waktunya sholat azhar. Dia harus segera kembali ke asrama sebelum waktu sholatnya habis. Dengan sedikit tergesa-gesa, ia memasukkan kameranya kedalam tas dan wanita itu bergegas pulang. Perjalanan ke tempatnya menginap memang agak jauh dari tempat itu, di tempuh sekitar satu jam lebih tiga puluh menit. Andra sama sekali tidak menoleh selama berjalan pulang, mengabaikan tarian daun maple yang indah ataupun gerakan dahannya yang tertiup angin. Ia hanya ingin pulang. Segera! Wanita itu bahkan tak sadar bahwa sejak tadi ia menjadi objek foto seseorang. Seseorang yang diam-diam tersenyum saat lensa kameranya menangkap senyum tulus itu.

“Aku ingin lihat hasil bidikanmu.” ucap Chanyeol kepada sahabatnya itu. Ia sudah menyelesaikan proses editing yang cukup memakan waktu. Pria berambut merah gelap itu segera mengambil kamera milik Sehun yang hanya diletakkan di meja begitu saja. Sebenarnya hasil bidikan Sehun cukup lumayan untuk seorang pemula sepertinya, itu alasan Chanyeol kadang memakai foto yang Sehun ambil untuk majalahnya.

“Kamu pergi ketempat itu ternyata.” bisik pria tinggi itu tanpa melihat kawannya. Sehun yang sibuk dengan ponselnya hanya mengangguk ala kadarnya. Sama sekali enggan berkomentar. Dia sedang memikirkan sesuatu atau tepatnya sedang mencari sesuatu.

Chanyeol yang sibuk melihat-lihat foto foto bidikan Sehun dibuat terkejut ketika melihat beberapa foto yang memperlihatkan objek seorang wanita dengan penutup kepala panjang tengah tersenyum menatap daun maple di tangannya. Pria itu menekan tombol zoom agar dapat melihat dengan jelas foto yang sedang ia lihat.

“Sehun kamu menangkap foto aneh.” Komentar Chanyeol sembari terus melihat foto itu.

Sehun yang penasaran menoleh dengan wajah bertanya-tanya. Pria itu mendengus pelan ketika melihat foto yang dilihat Chanyeol. “Aku hanya heran saja melihat orang dengan pakian tertutup seperti itu. Ini masih September, bro  dan pakaianya sudah seperti winter saja.” komen Sehun.

Chanyeol terkikik geli mendengar komentar dari temannya itu, “Ini bukan baju hangat, Hun. Itu namanya Jilbab. Dia seorang muslim jadi dia memakai jilbab. Jangan bodoh deh, hun. Seperti ini saja tidak tahu.” Ledek Chanyeol disela kekehannya.

Sehun menatap sahabatnya kagum dan heran. “Darimana kamu tahu?” Tanya pria itu spontan. Sedari tadi saja ia browsing saja tak ketemu-ketemu. Tapi pria di depannya hanya dengan melihat fotonya saja sudah tahu. Benar-benar membuat iri!

Pria bersurai merah itu tersenyum kalem, “Aku pernah datang ke Malaysia untuk mewawancarai salah satu menteri disana. Saat aku tiba disana banyak orang yang memakai jilbab. Awalnya aku sama sepertimu, tetapi setelah aku menginap semalam disana dan mendapat sedikit pengetahuan dari salah satu staff aku jadi tahu apa yang mereka pakai dan mengapa mereka memakai itu.” Terang Chanyeol perlahan.

Pria bersurai hitam yang ada dihadapan Chanyeol terlihat tengah berfikir sebelum kemudian ia bertanya, “Lalu mengapa dia harus memaikai jibab?”

“Jilbab hun!” Koreksi Chanyeol. “Jadi setahuku mereka menggunakannya karena mereka beragama islam.” Jawab Chanyeol.

“Jadi umat islam wajib berjibab?” Tanya Sehun yang lebih tepatnya memperjelas jawaban Chanyeol.

Chanyeol mengangguk, ” Kecuali cowok karena cowok punya lainnya. Tapi aku lupa namanya.” Ucap ia santai.

Sehun mengangguk paham, jadi penutup kepala yang wanita pakai itu namanya jilbab. Dia baru tahu sekarang.

“Bagaimana jalan-jalannya?” Zahra bertanya dari meja kerjanya tanpa menoleh ke arah teman satu kamarnya. “Menemukan seseorangkah disana?” Tanya wanita itu lagi.

Andra yang baru saja selesai sholat hanya menatap temannya sekilas, “Sangat baik. Wah… aku tidak pernah membayangkan akan mengalami hal seperti ini.” Imbuh wanita cantik itu lagi.

Zahra hanya terkekeh pelan mendengar komentar temannya itu. Andra adalah anggota paling muda di kantor. Pantas jika semangatnya selalu berapi-api. Mereka baru berkenalan musim semi satu tahun yang lalu, Andra adalah staff khusus yang dipindahkan dari KBRI Kanada ke KBRI Korea Selatan. Andra dipindahkan karena orang tuanya tidak mengizinkan anaknya bekerja terlalu jauh, maklumlah putri seorang mentri. Meski demikian Andra tidak pernah sekalipun congak kepada teman kantornya. Dia malah tidak suka dibeda-bedakan. Baginya saat ia bekerja ia adalah Alessandra bukan putri seorang mentri. Selain itu Andra juga tetap tinggal di asrama yang disediakan oleh negara selama mereka bekerja di KBRI Korea Selatan. Andra berbaur dengan mereka tanpa merasa sungkan. Kadang dia tidak menemukan sosok putri pejabat yang layak orang awam temukan ada pada diri Andra.

“Aku lelah.” Ucap Andra sembari menaiki tempat tidurnya. Ia kamar ini memiliki dua tempat tidur yang bertingkat. Andra ada diatas karena dia yang paling muda. Jadi dia yang bagian memanjat-manjat. “Selamat tidur kakak.” Ucap Andra kepada Zahra sebelum wanita cantik itu menutup matanya.

“Selamat tidur.” Bisik Zahra.

Jauh dari asrama itu seseorang masih setia menatap bintang-bintang seorang diri. Wajah tampannya terlihat tenang. Sama sekali tidak memancarkan expresi apapun. Dialah Oh Sehun. Pria tampan yang menghabiskan waktu malamnya dengan termenung dibalkon kamar. Entah itu memikirkan keluarga, pekerjaan, masadepan atau dirinya sendiri. Seolah menghabiskan malam disana adalah kewajiban. Seperti orang yang sakit yang minum obat. Duduk disana saat malam hari, nyatanya selalu membuat rasa lelah pria itu hilang. Sepertinya pemuda bermarga Oh itu punya caranya sendiri dalam menghibur diri.

Seoul National University, kampus yang banyak diminati oleh calon mahasiswa-mahasiswi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Letaknya ada di Kota Seoul, distrik Gwanak. Menyediakan sekolah untuk S2 dan S3. Fakultas yang ada rata-rata semuanya masuk ke dalam kelompok favorite. Salah satunya fakultas Ilmu Politik.SNU juga menyediakan sekolah malam yang dikhususkan untuk pekerja kantoran. Biasanya dimulai pada pukul 08.00 malam hingga 12.00. Itulah yang menjadikan Alessandra memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya disana selain itu juga karena kualitas kampusnya yang tidak usah dipertanyakan lagi.

Sebenarnya ada alasan utama yang membuat Alesandra memilih SNU daripada kampus lainnya, pendidikan disana disampaikan dengan bahasa Inggris. Jadi, Alessandra tidak terlalu kesusahan memahami materi yang dosen sampaikan. Maklumlah, Alessandra tidak terlalu menguasai bahasa korea. Untuk biaya sekolah di SNU, Alessandra masih mendapat bantuan dari kedua orang tuanya, gaji yang Alessandra terima masih kurang untuk membiayai sekolahnya.

Walau demikian, Alessandra benar-benar mempertanggung jawabkan kepercayaan yang diberikan oleh orang tuanya. Dia dapat membagi waktu dengan baik antara pekerjaan dan sekolah. Semuanya tidak mudah, selama dua semester dia bersekolah di SNU, ada banyak masalah yang dia hadapi. Apalagi untuk mahasiswa asing seperti dirinya. Alessandra harus siap berlapang dada menerima beban itu seperti yang terjadi hari itu. Seperti yang terjadi hari itu, salah satu dosen memberikan tugas untuk menghubungi lulusan SNU dan mewawancarai mereka untuk tugas akhir tahun. Sebenarnya, Alessandra pernah menghadapi masalah seperti ini, hanya saja saat itu dia dibebaskan mewawancarai siapa saja bukan alumnus SNU.

Alessandra masih duduk di perpustakaan fakultas, padahal jam menunjukkan pukul 11 malam waktu Korea Selatan. Dosen yang mengajar jam terakhir hari itu membubarkan kelas lebih awal karena harus pergi ke luar negeri pagi harinya. Waktu yang tersisa itu dia gunakan untuk mencari kontak person alumnus di buku tahunan yang disimpan di perpustakaan. Kursi yang ada di depannya bergerak pelan, menimbulkan suara yang sedikit berisik. Alessandra mendongak, melihat orang yang memutuskan untuk duduk di depannya, matanya menangkap seorang wanita berwajah oriental duduk dihadapanya. Dia adalah teman satu kelas Alessandra. Namanya Jung Soo Jung.

“Soo Jung-sshi.” Alessandra memanggil nama wanita dihadapannya, pelan.

“Aku sudah mendapatkan senior untuk wawancaraku.” Wanita berambut coklat tua itu berucap dengan nada datar. Alessandra yang mendengarnya diam-diam menghela nafas sedih. Sampai jam itu dia belum mendapatkan kontak persone untuk wawancara tugas akhir tahunnya. Soo Jung, wanita yang ada dihadapan Alessandra, memandang simpati ke arah teman satu perjuangannya itu sebelum menarik keluar laptopnya yang ada di dalam tas. Selama menunggu proses loading, Soo Jung membuka pembicaraan. “Kamu belum mendapatkan CP senior?” Sebenarnya ini bukan pertanyaan penting, karena jawabannya sudah terlihat jelas.

Alessandra menghela nafas sedih kemudian menghela nafas sedih. Wanita Indonesia itu belum mendapatkan CP senior yang akan mau dia wawancarai.

“Aku punya beberapa CP senior. Tadi aku simpan linknya. Mungkin kamu bisa menghubungi salah satunya.” Soo Jung bertutur sembari menatap layar laptopnya. “Akan aku kirimkan lewat e-mail.” Lanjut Soo Jung lagi.

Wajah cantik Alessandra yang terbingkai jilbab berubah cerah, “Terimakasih Soo Jung-shi.” Balas Alessandra pelan.

“No problem, aku sudah mengirimkannya. Coba check e-mailmu.”

Alessandra tidak perlu diperintah untuk yang ke dua kali. Dia sudah melaksanakan perintah Soo Jung. Ada banyak e-mail masuk, tetapi yang paling baru dari Soo Jung. “Sudah masuk, sekali lagi terimakasih.”

Soo Jung mengangguk, “Pulanglah, Seoul akam hujan sebentar lagi.” Setelah mengatakan itu Soo Jung segera membereskan laptopnya. “Aku pulang dulu ya.” Pamit wanita itu. Alessandra mengangguk, wanita itu segera membereskan barang-barangnya. Sepertinya Alessandra harus segera pulang ke dorm, semakin malam dia pulang, akan bahaya juga di jalan.

Di Korea Selatan jam kerja kantor dimulai pukul 09.00. Tetapi Alesandra sudah datang ke kantor setengah jam sebelum jam masuk kerja. Selama menunggu jam kerja masuk, dia memutuskan untuk menghubungi alumnus yang CPnya sudah dikirim Soo Jung semalam. Ada lima nama orang beserta CPnya yang ada, tiga diantaranya tidak bisa dihubungi, mungkin contact persone yang ada sudah tidak dipakai. Alessandra sudah pesimis. Dia meragu menghubungi dua kontak yang tersisa, tapi bagaimanapun dia harus berusaha. Demi tugas akhir tahunnya.

Alesandra menghubungi sebuah nomer, yang masih tersisa. Sayangnya nomer itu sudah tidak dipakai. Berat hati, ia menjauhkan ponselnya dari daun telinga. Parasnya yang cantik berubah sedih. “Semoga nomer yang terakhir bisa dihubungi.” Bisik Alessandra pelan. Telunjuknya menekan angka-angka berjumlah tujuh digit. Ada nada masuk, menandakan telefon terhubung. Tak lama telefon diangkat oleh seorang wanita. Alessandra berbegas menyapa dengan ramah dan mengatakan niatnya. Tetapi sepertinya niatnya harus berbuah penantian. Wanita yang mengangkat telefon itu adalah sekretaris bukan orang yang ingin dia hubungi. Pada akhirnya, Alessandra harus menunggu untuk dihubungi oleh wanita itu apabila dia berkenan menerima tawarannya.

Dia menghela nafas lega setelah telefon ditutup. Sebagian bebannya seolah terangkat. Walaupun belum deal tetapi dia sudah menemukan setidaknya satu orang untuk menjadi narasumbernya. Syukurlah, satu urusan sudah selesai.

Sehun memasuki kantornya dengan langkah pelan, kantornya bukan berada di daerah elite yang dipadati gedung pencakar langit. Kantornya masih terletak di Seoul tapi di distrik Jung, dekat dengan Namsan Tower. Orang yang datang ke kantor milik Sehun pasti akan dibuat bingung karena letaknya di Namsangol Hanok Village. Sebenarnya tempat itu lebih tepat disebut tempat beristirahat karena dari bentuk kantornya yang bergaya Hanok juga didukung panorama indah di sekitar lingkungan kantor. Sehun membeli sebuah rumah Hanok memang khusus untuk menjadi tempatnya bekerja.

Sehun memang punya cara tersendiri untuk membuat karyawan-karyawan yang bekerja dengannya betah. Apalagi bidang tempat mereka bekerja memperlukan kerja otak yang cukup extra.

Ketika pria tampan itu sudah duduk di kursinya, seorang wanita dengan pakian formal masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia adalah sekretarisnya. Namanya, Bae Irene. Usianya awal dua puluh tiga tahun, selisih dua tahun dari Sehun. Irene dulu juniornya di kampus, hanya saja mereka mengambil fakultas yang berbeda.

“Pagi pak.” Sapa Irene ramah, setelah berada disamping meja kerja Sehun wanita itu baru mengeluarkan Ipodnya. Sudah ada jadwal yang terlampir dengan rinci disana. Setiap pagi Sehun selalu mengechek jadwalnya satu hari itu. “Baiklah, mana materi yang saya minta kemarin? Sudah kamu siapkan?” Pria itu bertanya sembari menyerahkan Ipod kepada Irene.

“Sudah pak, saya sudah meletakkan di meja bapak. Map berwarna biru muda.”

“Ok, terimakasih. Kamu bisa kembali.”

“Maaf pak sebelumnya…” Irene berkata dengan intonasi lembut, bermaksud menyela perbuatan Sehun demi menarik perhatiannya. Sehun menoleh ke arah Irene tanpa suara. “Tadi pagi saya mendapat telefon dari salah satu mahasiswa SNU. Dia menghubungi bapak karena ingin mewawancarai bapak untuk tugas akhir tahun. Apakah bapak bersedia meluangkan waktu?” Setelah Irene menyelesaikan perkataannya dengan baik, Sehun tak kunjung menjawab.

“Apa ada jadwal kosong?”

Irene segera melihat jadwal yang dia buat untuk bossnya dalam satu minggu ini. “Jam 4 sore pak.” Jawab Irene sopan.

“Ok… buat janji dengannya jam 4 sore. Suruh dia datang kesini saja.”

“Baik pak.”

Irene segera meninggalkan ruang kerja Sehun setelah menyelesaikan tugasnya. Dia segera menghubungi mahasiswa tadi sesuai pesan yang Sehun sampaikan.

TBC

 

Iklan

9 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] AUTUMN (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s