[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 5)

philosophyoflove

Tittle: Philosophy of Love
by Tyar

Chapter | Romance | T

Cast: Oh Sehun – Bae Irene. Etc

Disclaimer
2016 © TYAR
Don’t claim my fiction!!

Inspired by
Perahu Kertas
AADC2

Visit my village – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

[1 / 2 / 3 / 4]

-5-

Di angkasa, di awan, di jalanan, semua memori dan perasaan seolah berlomba-lomba untuk bangkit.” ––Perahu kertas, Dee.

Hari ini tepat seminggu setelah pertemuan terakhir di restoran milik keluarga Sehun. Sejak hari itu, Irene lagi-lagi menghilang. Baiklah, Sehun rasa kali ini bukan menghilang. Hanya saja, tidak ada schedule apa-apa untuk buku The Clan: Orange selama beberapa hari ini. Mungkin itulah sebabnya gadis itu tak pernah muncul lagi di redaksi Cosmic untuk sekedar mampir atau membicarakan rencana seri selanjutnya. Baekhyun bilang, Irene sedang refreshing. Dan Sehun tak bisa berbuat apa-apa selain percaya dan menunggu.

Di jam istirahat, yang dilakukannya hanya menyelesaikan novel terbaru Irene dengan serius di sofa santai tim redaksi yang terletak dekat jendela besar kantor.

Sehun menggelengkan kepala takjub. Ini adalah yang kedua kalinya dia membaca naskah itu. Juga yang pertama kalinya membaca versi edit yang sudah disempurnakan menjadi sebuah novel. Pria itu berdecak kagum, memberi pujian untuk yang kesekian kalinya.

Tiba-tiba Baekhyun mendekat, menjatuhkan diri di sampingnya sembari menghembuskan nafas santai. Tangannya menggenggam 1 cup kopi miliknya. Sehun menoleh, membalas tatapan Baekhyun yang mencurigakan.

“Yakin, nih, nggak mau id kakaotalk nya Irene?”

“Kalau dia memang minta di rahasiakan, ya biar saja. Saya nggak mau ganggu privasinya.”

Baekhyun kemudian tersenyum jahil. “Jadi, sebenarnya ada apa antara kamu dengan Irene?” tanyanya dengan tatapan ingin tahu. Sehun hanya terkekeh mencibir.

Sejak hari itu, keesokannya Suho, Baekhyun, dan Wendy segera menginterogasi dirinya. Bertanya-tanya mengenai ibunya yang tiba-tiba memeluk Irene dan bertanya kabar seperti orang yang telah sekian lama tidak bertemu. Namun sejauh ini respon Sehun selalu acuh. Tak menjawab apapun selain mendesah tak peduli. Toh, rekan-rekan redaksinya itu sama-sama terlalu sibuk untuk ingat dan kembali menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama.

“Penting banget, ya? Cari tau soal saya dan Irene?” cibirnya.

Baekhyun mendesah, “Iya-lah. Yang kita tau selama ini kalian hanya teman satu SMA. Tapi kayaknya ada yang lebih spesial dari itu, deh. Wajar dong kalau saya juga penasaran? Seorang Sehun, gitu. Kita nggak pernah dengar kamu sedang terlibat hati dengan seseorang.”

“Cih.” Sehun mencibir lagi, terkekeh pelan. Namun dia akhirnya menghela nafas, mengalihkan pandangan ke arah langit cerah di luar jendela.

“Irene itu mantan saya.” Jawab Sehun akhirnya.

Baekhyun yang tengah meneguk kopi, hampir saja tersedak jika dia tak sanggup mengontrol diri. Kemudian dia menjentikkan jari dan berdecak dengan gemas, “Sudah saya duga!”

“Berapa lama kalian pernah pacaran?”

Sehun menoleh lagi dengan tatapan mendelik, “Kok jadi makin penasaran, sih?”

“Jelas, lah. Keliatannya kalian itu serius banget. Apalagi pas lihat ibu kamu ingin mengobrol 4 mata dengan Irene.”

Sehun menghembuskan nafas lagi, sudah kepalang.

“Kita dekat dari kelas 1 SMA. Pacaran di kelas 2, dan harus putus 2 tahun kemudian. Selama 25 tahun saya hidup, cuma Irene satu-satunya yang spesial.” Eskpresi Sehun tampak lebih serius kali ini.

“Tak tergantikan, begitu?”

Sehun mengangguk, “Saya yang meninggalkan dia karena masalah keluarga yang tak teratasi. Makanya minggu lalu ibu ingin sekali bicara banyak pada Irene.”

Baekhyun mengangguk-anggukkan kepala. Ternyata benar dugaannya, ada sesuatu yang lain dibalik Sehun dan Irene. “Hubungan kalian sekarang pun, sepertinya belum membaik. Dalam segi perasaan, lebih tepatnya.” Baekhyun kembali meneguk kopi di tangannya.

Sehun menempelkan punggung pada sofa sambil menghela nafas lagi, “Yaa begitulah. Mungkin Irene masih takut dan ragu. Ini juga lah yang menjadi alasan kenapa dia jago di fiksi fantasi dan baru berani mengeluarkan fiksi romance seperti Filosofi Cinta.”

“Jangan bilang, tokoh Ara yang ada di filosofi cinta itu sebenarnya cerminan dari perasaan Irene yang sebenarnya?”

“Hmm. Bisa jadi. Saya juga sempat berpikir seperti itu. Ara nyaris 95% mirip dengan karakter Irene. Dan yah, sepertinya bagi dia saat ini, cinta memang bukan sekedar perasaan berbunga-bunga.”

“Dia tidak akan mau buta karena cinta dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk seseorang yang cuma bisa bicara cinta.”

“Ya. Persis seperti Ara.”

Baekhyun tiba-tiba merangkul pundak Sehun, “Tapi saya rasa, kamu masih punya peluang untuk kembali memulai semuanya lagi, Sehun.”

“Tau dari mana?”

“Irene itu terkenal sejak 2 tahun lalu. Berita tentangnya selalu muncul di dunia kepenulisan. Selama itu saya tidak pernah mendengar dia dekat dengan laki-laki. Nah, kemungkinan dia tidak pernah merasakan cinta dari laki-laki lain yang akan mambuat kamu punya peluang itu. Karena sejatinya, hati selalu ada pemiliknya. Tidak menutup kemungkinan, kan? Kalau ternyata perasaannya masih sama.”

Kali ini Sehun menatap Baekhyun lamat-lamat, “Tapi kita sudah tidak bertemu selama 7 tahun.”

“Eh?” Baekhyun menoleh dan membalas tatapan Sehun dengan ekspresi polos tak berdosa. Kemudian memberi cengiran lebar. “Lama juga, ya.”

Sehun mendelik lagi lalu menghembuskan nafas, “By the way, pernikahan kamu kapan, sih? Kok belum ada undangan?” dia mengalihkan pembicaraan.

Kali ini Baekhyun yang menghembuskan nafas, “Calon istri saya ingin mengundurnya sampai beberapa minggu kedepan.”

“Kenapa?”

“Yah. Adalah alasan yang tidak bisa diganggu gugat.”

Sehun tak menjawab, lalu tertawa meledek. “Yah, nunggu lagi, dong? Padahal Baekhyun sudah nggak sabar nih, kayaknya.”

“Diam kamu!”

XxxX

Selain cinta, ada satu lagi rasa yang paling membuat Irene sensitif; rindu. Sejak hari itu, ia seperti semakin diobrak-abrik. Kotak masa lalu seakan tumpah ruah, berantakan didepan matanya. Sementara dirinya terus ingin mundur menjauh. Namun semakin Irene melangkah, semakin rindu itu menajam. Setiap kali dia berusaha fokus di hadapan tulisannya, konsentrasinya selalu tiba-tiba terputus. Wajah Sehun akan muncul di benaknya, menghalangi semua idenya untuk menulis.

Cinta mungkin dapat kembali padanya, namun Irene masih enggan mengakui itu. Disisi lain ia bersedia mengakui, bahwa rindu kini mulai bersarang untuk Sehun.

“Terima kasih. Selamat membaca.” Irene tersenyum ramah setelah usai menorehkan tanda tangannya di halaman depan novel milik salah satu penggemar.

Sejak 10 menit lalu, dia kembali menyapa pembaca setianya melalui booksign di salah satu toko buku besar di kota itu. Setiap menit, antrian di hadapannya semakin bertambah. Dengan sisa fokus yang dimilikinya, Irene berusaha menghadapi orang-orang dengan seramah biasanya.

Sampai tiba-tiba satu hal yang familiar kembali terjadi.

“Hei,” sapa Sehun sambil tersenyum tipis. Tangannya menyodorkan seri pertama The Clan yang telah selesai ia baca, ke depan Irene.

Sementara gadis itu hanya berkedip dan menatap Sehun kaget. Lagi-lagi, itu terjadi. Dia mencoba membalas senyuman Sehun dengan ringan, lantas segera menurunkan pandangannya dan kembali mencoretkan tanda tangan disana.

“Ngak bosen ngantri, ya?”

“Salahkan Baekhyun yang tidak bisa menjaga rahasia kalau kamu sedang booksign disini.”

Irene menyerahkan novel itu sembari menghela nafas pasrah dan tersenyum mencibir, “yaah, palingan saya dipaksa nemenin makan siang lagi.”

Tetot. Dugaanmu salah besar.” Sehun melebarkan senyumnya lalu berlalu dari hadapan Irene.

Oh, demi dewa neptunus, Irene ingin sekali bergerutu saat itu juga karena jantungnya tiba-tiba melompat seperti ingin keluar, ketika melihat kembali wajah tampan itu. Irene rasa ia pasti sudah gila.

Satu jam kemudian, pekerjaan yang memegalkan tangan itu akhirnya selesai. Irene berjalan pelan menghampiri Sehun yang sudah berdiri menatapnya. Jujur saja, sedikit rasa gugup mulai hinggap dalam dirinya. Namun kemudian ia diam-diam menarik nafas, mencoba bersikap netral.

Senyum Sehun menyambut langkah terakhir Irene dengan manis.

“Bersedia saya culik lagi?” gurau pria itu. Irene terkekeh.

“Kemana kali ini?”

Sehun mengerling sembari mengangkat satu tangannya di depan Irene. “Kalau begitu, serahkan kunci mobilmu.”

Gadis itu tersenyum lantas menyerahkan benda yang diminta pria itu. Keduanya pun berjalan bersama menuju mobil Irene. Sesampainya Sehun segera mendahuluinya untuk membukakan pintu mobil untuk Irene.

Gadis itu mulai gugup ketika Sehun menjalankan mobil miliknya. Yang bisa ia lakukan hanya mengetuk-ngetukkan jemarinya di permukaan sabuk pengaman sembari memandangi ke luar jendela. Sesekali ujung matanya melirik ke samping, memperhatikan wajah Sehun yang teduh. Pria itu menoleh, kemudian terkekeh pelan melihat ekspresi Irene. Sehun tau dia gugup.

Beberapa saat di lampu merah, Sehun segera mengeluarkan ponselnya, menyambungkannya ke lubang usb yang ada di dasbor mobil.

Sebuah alunan menyenangkan dari Urban Zakapa mulai memenuhi mobil. Irene segera menoleh, menatap Sehun dan mengkerutkan keningnya.

“Sejak kapan suka Urban Zakapa?” tanyanya dengan nada mencibir. Group musik yang satu ini adalah salah satu yang paling Irene sukai sejak dulu. Dan sejauh yang ia tau, Sehun tidak begitu menyukai musik lokal.

Sehun tertawa pelan. “Terlalu cepat menyimpulkan. Siapa bilang saya suka Urban Zakapa?”

“Eh?”

“Ini lagu kesukaan kamu, Cafe Latte. Masih suka Urban Zakapa, kan?”

Irene tertegun mendengarnya. Baiklah, bukan hal aneh jika Sehun masih mengingat apa kesukaannya. Namun lagi-lagi Sehun membuat dirinya merasa tersentuh. Dulu, mereka jarang sekali mendengarkan lagu bersama karena selera musik yang berbeda. Pria disampingnya itu bahkan tidak pernah tertarik mendengarkan musik favorit Irene bersama seperti ini.

Sehun melirik ke sampingnya, kemudian memberi senyum. Irene tak membalas, kepalanya segera menoleh kembali keluar jendela, menatap jalanan. Sambil menikmati beberapa lagu kesukaannya.

“Kamu mau bawa saya kemana, sih?” tanyanya iseng. Tidak terlalu ingin tau, sebenarnya.

“Ke tempat kesukaan saya. Tempat yang akan membuat kamu jatuh cinta.”

Telinga Irene begitu sensitif dengan kata-kata terakhir yang Sehun ucapkan. Dengan refleks ia menoleh lagi. Membuat Sehun lagi-lagi tertawa pelan.

“Jatuh cinta dengan tempat itu, maksud saya, Irene.”

Gadis itu tak menjawab selain menghembuskan nafas sebal. Ia lalu dengan iseng menarik ponsel Sehun, memeriksa perpustakaan lagu yang ada didalamnya.

“Loh? Kamu sekarang suka The Script?”

“Kamu tau The script juga?”

“Tau, lah. Ini nih lagu yang paling saya suka,” dengan semangat Irene mengalihkan Urban Zakapa yang masih mengalun menjadi lagu berjudul Breakeven milik The Script.

“Jadi sekarang kita sama, nih?”

Irene tak tertarik memberi jawaban, selain terkekeh pelan. Benar, hari ini Irene menemukan satu lagi kesamaan yang baru dari mereka, selain jatuh cinta pada dunia kepenulisan. Sisa perjalanan, keduanya sesekali membicarakan hal-hal menyenangkan lainnya. Seputar buku-buku kesukaan, schedule-schedule kepenulisan Irene. Dan apapun, yang membuat keduanya sama-sama nyaman, lalu saling melempar senyum dan tawa. Membuat gugup yang gadis itu rasakan tanpa disadarinya sudah hilang begitu saja.

Sedan hitam Irene kini sampai di depan sebuah gedung sederhana berwarna putih kusam. Gedung berlantai 3 itu memiliki banyak jendela bertengger di depannya. Sejujurnya, meski tampak sangat sederhana dan kusam, Irene menyukainya. Itu mirip dengan gedung-gedung vintage yang pernah ia lihat di google.

Keduanya turun dari mobil, lalu berjalan menuju pintu masuk. Ada beberapa orang keluar dari sana, berpapasan dengan mereka. Tampak terlihat seperti para mahasiswa yang sedang dikejar deadline paper. Ketika mereka menginjakkan kaki di dalamnya, sebuah ruangan cukup luas yang kosong menyambut keduanya. Hanya ada beberapa sofa dan nakas-nakas tak terurus yang menyebar di ruangan itu.

“Jangan bilang, ini rumah kos-an?” tanya Irene ketika dia dan Sehun mulai menaiki tangga.

“Sayangnya, ini memang rumah kos-an.”

“Eh?”

Pria itu tak menjawab, selain meraih tangan Irene dan menariknya untuk segera melangkah cepat. Namun ketika mereka sampai di lantai 2, Irene tiba-tiba menarik tangannya dari genggaman Sehun. Perasaannya tiba-tiba saja jadi merasa aneh, dan.. Sedikit takut.

Keduanya berhenti, Sehun berbalik menatap Irene bingung, “Kenapa?”

“Kita mau ngapain?” tanya Irene.

Sehun diam, memperhatikan ekspresi gadis di depannya yang tiba-tiba berubah pucat. Seperti mencemaskan sesuatu. Kini mata Irene berputar, menelusuri pemandangan pintu-pintu kamar yang ada di sekitar mereka. Kemudian Sehun mengerti apa yang Irene maksud.

Lantas ia tertawa, lagi.

“Irene, saya mau bawa kamu ke markas lukis saya. Bukan mau berbuat macam-macam. Astaga.”

Lawan bicaranya masih diam menatap Sehun tak yakin. Entah apa yang merasuki dirinya, sebuah prasangka gila menghampiri benaknya begitu saja, ketika di tangga tadi mereka berpapasan dengan sepasang pemuda tengah bermesraan.

Melihat raut wajah Irene yang masih cemas, Sehun lantas kembali mengambil tangan gadis itu dengan pelan lalu tersenyum. “Kamu mengenal saya lebih dari siapapun. Jadi, jangan berpikir yang aneh-aneh.”

Mereka pun kembali melangkah. Sampai di sebuah kamar di lantai teratas, di koridor terujung. Sehun melirik Irene terlebih dahulu sebelum ia benar-benar mendorong pintu. Kemdian pemandangan yang tidak pernah Irene temukan, menyambutnya. Bau cat menyerbak dari seluruh ruangan. Benar, itu tempat dimana Sehun menjadi dirinya sendiri; seorang pelukis.

“Waw.” Takjubnya. Dia tak pernah menemukan lukisan Sehun sebanyak ini. Berbagai ukuran kanvas tersebar di setiap sudut kamar. Bercak-bercak cat tak beraturan menghiasi setiap penjuru tembok bahkan lantai kayu yang kini dipijakinya. Banyak sekali kanvas-kanvas yang tertutup kain, berjejer rapih, ataupun bersandar saling menindih di ujung tembok. Juga lukisan-lukisan gagal atau setengah jadi.

Irene mendekat ke salah satu kanvas, senyumnya seketika mengembang. Akhirnya, ia bisa melihat kembali karya Sehun. Namun yang ia rasakan hanya hampa. Lukisan yang kini ditatapnya tak terasa hidup, tak bernyawa. Seperti bukan apa-apa.

“Disinilah saya selalu mengingat kamu. Tapi itu masih jauh lebih banyak dari semua lukisan yang ada disini.” Sehun berbalik setelah membuka jendela lebar-lebar agar udara segar bisa masuk.

“Kamu melukis cuma pakai tangan, nggak pakai hati.” Komentar Irene pelan, masih menelusuri beberapa kanvas di sekitarnya.

Sehun diam. Itu benar. Semua kanvas-kanvas yang ada di sekitar Irene berdiri saat ini, adalah tempat dimana ia menyimpan karya-karya ‘pelarian’nya. Memang tidak pakai hati.

Kamu menjadi penulis, dan saya menjadi pelukis. Kamu menulis, dan saya akan menggambarkan semua kisah untuk kamu. Ingat?”

Irene berhenti. Beberapa detik tatapannya menjadi kosong, lalu menoleh membalas tatapan Sehun yang kini malah tersenyum ringan kearahnya. Ucapan Sehun barusan adalah salah satu mimpi bersama mereka di masa lalu. Mimpi yang selama 7 tahun ini Irene pikir, tak akan pernah terjadi.

“Saya selalu saja mengingat itu setiap melukis. Dan lukisan-lukisan tak bernyawa yang kamu lihat itu, saya membuatnya ketika saya tidak ingin mengingat kamu. Ketika saya terus mencoba dengan keras melupakan semuanya, dan membuangmu jauh-jauh.”

Ruangan itu lengang untuk beberapa saat. Sehun kini melangkah, mendekati satu kanvas yang tertutup kain putih dengan sempurna. “Tapi kenyataannya, justru kamulah yang menjadi alasan kenapa saya masih ingin melukis. Meski tanpa mau bermimpi apa-apa.”

“Ini lukisan yang paling saya suka.” Setelah memastikan Irene sudah berdiri di dekatnya, jemari Sehun terangkat, kemudian menarik selembar kain itu dengan sekali sibak.

Beberapa detik hening kembali. Irene menganga, menutup mulutnya segera dengan kedua telapak tangan ketika ia menyadari sesuatu. Kini sebuah lukisan seorang lelaki terpampang di hadapannya. Seorang laki-laki dengan bahu yang tegap, dengan sebuah busur dan anak panah di tangannya.

“Ini?” Irene merasa takjub. Lukisan itu tampak nyata. Seperti bernyawa.

“Ya, itu Elian. Karakter ciptaanmu yang paling saya suka di novel Earth .”

Irene sangat tersentuh. Untuk pertama kalinya ia melihat sosok Elian di depan mata, meski hanya sebuah lukisan. Tapi setidaknya, Elian bukan lagi khayalan dalam benaknya. Itu adalah hal yang paling menakjubkan baginya. Elian si karakter paling sempurna, seorang prajurit terhebat. Petarung tangguh, pemanah tak terkalahkan, pemilik strategi paling sempurna. Cekatan dan disiplin, begitu Irene mendeskripsikan karakter itu dalam novelnya. Adalah karakter yang juga paling ia sukai.

“Maaf kalau tidak sesuai dengan ––”

“Sehun. Ini mirip dengan yang saya khayalkan selama ini. Bahkan lebih sempurna.”

“B-Benarkah?”

Irene mengangguk semangat, “Ini hebat! Elian juga yang paling saya suka. Lukisan ini bahkan lebih menawan dari yang pernah dibayangkan.”

“Jangan berlebihan,” gumam Sehun, merasa tersanjung.

Irene tak membalas, ia segera meraih ponselnya, membidikkan kamera tepat di hadapan lukisan itu. Namun Sehun mencegahnya, menurunkan lengan Irene dengan pelan.

“Kamu boleh memilikinya.” Pria itu tersenyum. “Besok pagi, akan saya kirim ke alamat rumah kamu.”

Gadis itu tak bergeming. Ia menatap Sehun terharu. Namun juga merasa tak pantas mendapatkannya, “Tidak, Sehun. Jangan seperti itu. Lukisan ini akan tampak menakjubkan kalau kamu pamerkan, atau apapun itu. Seseorang pasti jatuh cinta pada lukisan ini.”

Sehun menggeleng, “Saya cuma mau kamu yang jatuh cinta pada lukisan ini. Lagipula, Elian itu karakter ciptaanmu, kamu punya hak memilikinya.”

XxxX

Keesokannya Irene kembali ke tempat itu, mengejutkan Sehun yang tengah melukis sesuatu. Cahaya jingga berpendar menembus jendela, tirai kusamnya melayang-layang seperti biasa. Gadis itu datang bersama laptop kesayangannya, butuh berpikir ribuan kali untuknya bisa sampai sana.

“Sedang melukis apa?” tanya Irene ringan, dengan 1 cup kopi di tangannya. Kakinya mendekati Sehun lalu duduk dikursi kecil kosong di dekat Sehun. Pria itu hanya menoleh sembari tersenyum. Rambutnya yang pendek menyisakan anak-anak rambut didahinya nyaris terlihat seperti poni. Kali ini penampilannya hampir seperti seorang seniman, dengan kaos putih polos dan celana selutut.

“Tapat waktu, saya sudah selesai.” Sehun mengerling, kemudian menyimpan peralatan melukisnya di bawah kakinya.

Irene menatap isi kanvas dan mendapati dirinya sebagai objek sang pelukis.

Dia tertegun. Belum 10 menit Irene ada di tempat itu, sesuatu lagi-lagi sudah kembali membuat jantungnya bekerja tak normal. Diantara semua lukisan-lukisan yang berjejer di sana-sini, mungkin beberapa atau banyak diantaranya adalah lukisan dirinya. Tak satupun ia berhasil menemukannya kemarin, sampai hari ini. Terakhir kali, Sehun memperlihatkan sketsa dirinya adalah ketika pria itu mengirim surat berisi kalimat menyakitkan 7 tahun silam.

Itu indah. Irene sungguh ingin memilikinya dan memajangnya di sudut terbaik di dalam kamar. Ia pun tersenyum.

It’s awesome.” Pujinya lembut.

Just like you.” Balas Sehun. “Kamu boleh memilik––”

“Tidak, Sehun. Tidak untuk kali ini.”

“Tidak apa-apa. Saya masih punya banyak. Dan akan selalu melakukannya.”

Irene menoleh kemudian terkekeh sambil menggeleng, “Saya tidak mau memenuhi kamar dengan karya kamu. Kamar saya bukan galeri.” Guraunya, mengelak dari keinginan yang sebenarnya. Tapi itu benar, dia tak mau ada sesuatu yang akan mengingatkannya pada Sehun setiap dia akan tidur, atau setiap dia terbangun di pagi hari.

Sehun ikut terkekeh, kemudian menghadap Irene. “Jadi? Ada perlu apa kesini sore-sore begini?”

Irene meneguk isi cup miliknya lalu mengedikkan bahu, “Saya butuh suasana baru untuk menulis.”

“Kamu? Akan menulis disini? Di tempat seberantakan ini?”

“Kenapa memangnya? Ngak boleh?”

“Tentu saja boleh. Tapi ––”

Irene berdiri, meraih tas laptopnya dan manjatuhkan diri di atas sofa tua yang ada di sudut ruangan. “Saya akan pulang besok pagi.” Entah apa yang ada dipikirannya, tiba-tiba saja kalimat itu dengan mulus keluar dari bibirnya. Itu bukanlah niat yang sebenarnya, namun sesuatu seperti mendorong dirinya untuk tetap tinggal. Setidaknya satu malam saja. Di dalam suasana yang kini begitu nyaman baginya.

Sehun tak bergeming, ia menatap Irene yang kini sudah menyilakan kedua kakinya dan berkutat dengan layar laptop. “Kamu akan tidur disitu?” tanya Sehun ragu.

“Kamu mau membiarkan saya tidur di lantai?” balas Irene polos.

“Kamu mau membiarkan saya tidur dilantai?” kali ini Sehun yang balik bertanya dengan pertanyaan yang sama.

“Jangan harap saya akan berbagi tampat, Sehun.” Cibir Irene dengan senyum jahilnya.

Sehun tersenyum geli. Dia suka Irene yang seperti itu. Terserah, dia rela lakukan apa saja demi gadis itu. Meski dia harus tidur di kamar mandi sekalipun.

“Baiklaah. Terserah kau saja, madam.”

Gadis itu tak menjawab, mulai tenggelam dengan tulisannya.

Sehun berdiri dari tempat duduknya, menghampiri dapur kecil yang ada di samping ruangan itu. Membuat secangkir kopi. Setelah itu dia menghampiri jendela, menutupnya dengan rapat dan berdiri disana dengan meneguk isi cangkir. Dia baru tau, kalau senja bisa seindah itu meski hanya dilihat dari gedung lantai 3 yang tua. Matanya berbinar, memandangi matahari yang nyaris tenggelam di balik tingginya bangunan-bangunan pencakar langit. Kepalanya lalu menoleh sedikit kebelakang, melirik Irene yang semakin larut dalam fiksi The Clan seri kedua miliknya.

Sehun pikir, seharusnya ada sesuatu yang Irene rasakan saat ini. Entah perasaan ingin kembali, mungkin? Atau sesuatu seperti kembali jatuh cinta padanya? Dia hanya bisa berharap. Semenjak pertemuan mereka kembali, Irene berubah menjadi wanita yang sulit ditebak. Seharusnya Irene lari darinya sejauh mungkin, jika pada akhirnya dia tak menerimanya kembali. Jika pada akhirnya semua harus tenggelam lagi. Apalagi yang harus Sehun buktikan bahwa selama ini, 7 tahun lamanya, dia terus memendam semuanya sendirian. Merindukan sesuatu yang sampai detik ini tak juga kembali. Siapa yang berpikir bahwa itu bukanlah hal yang menyakitkan?

Sehun bukannya tidak lelah bertahan. Dia hanya lelah mencari. Tak ada yang lebih menawan dari sosok Irene, baginya. Semua dunianya sudah terperangkap pada gadis itu, gadis yang kini dengan nyaman berada di belakangnya. Bersikap seolah-olah kamar itu adalah miliknya juga.

Langit semakin larut. Sehun masih disana sampai cahaya jingga benar-benar menghilang dari pandangannya.

“Kamu kaya orang frustasi, Sehun. Dari tadi berdiri disitu.” Irene tiba-tiba menyahut, sambil melangkah santai menuju dapur.

Lelaki itu tak menjawab, selain menoleh dan mengikuti langkah Irene.

“Jadi kamu cuma punya ramen?”

“Saya nggak tinggal disini setiap hari. Untuk apa menyimpan banyak bahan makanan?”

Irene menganggukkan kepalanya. Kemudian melipat baju lengan kemejanya sampai sikut. Tanpa berbicara banyak, gadis itu meraih 2 bungkus ramen lalu mulai memasaknya dengan santai.

Sementara sang pemilik kos, menarik kursi meja makan dan duduk di sana sambil memperhatikan punggung Irene.

“Kamu kelaparan, Rene? Sampai masak 2?”

“Yang satunya buat kamu.”

Sehun berdehem, “Calon ––”

“Jangan mulai, deh.” Gerutu gadis itu tanpa menoleh kemanapun.

Tak berapa lama kemudian, Irene membawa dua mangkuk ramen dan meletakkannya di atas meja makan kecil itu. Keduanya kini duduk saling berhadapan. Irene tersenyum, meraih sumpitnya dan mulai menikmati isi mangkuk. Begitu pun juga dengan Sehun.

“Lain kali, kalau kamu datang kesini bawalah bahan makanan yang kamu ingin masak. Biar saya bisa kembali mencicipi masakanmu.” Sahut pria itu di sela-sela makan malam.

“Berharap saya kesini lagi?” cibirnya.

“Jiwa sarkasnya mulai keluar, deh.” Balas Sehun. Keduanya kemudian tertawa pelan.

“Ingat pertemuan pertama kita?” Sehun kembali menyahut. Irene mengangkat kepalanya spontan. Mulai sensitif dengan pembicaraan masa lalu seperti itu. Namun lawan bicaranya hanya membalas tatapannya sambil terkekeh. “Maksud saya, waktu kamu datang ke Cosmic. Dan kita ngopi bareng.”

“Ah,” Irene menganggukkan kepalanya lalu kembali menyeruput sesuap mie.

“Kamu sarkas banget, waktu itu. Bikin saya tegang.” Sehun tersenyum lebar, mengingat hari itu. “Benar-benar diluar ekspektasi.”

Irene tertawa mendengar itu, “memangnya kamu harap saya akan bersikap bagaimana?”

Sehun mengedikkan bahu, mengangkat mata tampak memikirkan sesuatu. “Entahlah, mungkin sekedar menghambur dan memeluk saya?”

“Jangan becanda.” Irene menggelengkan kepalanya, kemudian tertawa. Disusul dengan tawa Sehun yang renyah.

XxxX

“Kenapa liat saya seperti itu?” tanya Sehun ketika Irene yang kini duduk di sofa memperhatikannya kembali melukis. Pria itu tak menoleh sedikitpun, menunggu jawaban.

“Aneh aja. Liat seorang pelukis biasanya rambutnya gondrong, penampilannya urakan. Sementara kamu dari atas sampai bawah, rapih.”

Pria itu tersenyum mendengar kalimat Irene. Dulu, dia memang laki-laki urakan seperti yang dikatakan gadis itu. Poni lebat, baju belel seadanya. Dan bertingkah semaunya seakan dunia adalah tempat yang paling membahagiakan sepanjang masa. Hari ini Sehun sudah harus menjadi laki-laki dewasa. Berbagi tanggung jawab bersama kakak dan ibunya di dalam keluarga. Menjadi seorang editor yang bekerja bersama penulis, membuatnya jadi lebih nyaman dengan perubahan itu.

“Menyenangkan rasanya jika bisa melihat semua lukisanmu berada di sebuah galeri pameran.” Gumam Irene kemudian.

Senyum Sehun kali ini menipis, “Saya tidak pernah mengharapkan apa-apa dari semua ini.”

Irene kemudian membaringkan tubuhnya sembari menarik selimut tipis seadanya. “Bersama atau tanpa saya, kamu harus berani menjadi pemimpi.”

“Saya akan melakukannya dengan senang hati, jika pada akhirnya kamu akan berada di sisi saya untuk waktu yang tak terbatas. Ketika itu terjadi, maka semuanya akan jelas. Kalau saya akan bermimpi sesuka hati.”

Gadis itu menutup mata, mengangkat sebelah ujung bibirnya dan tak memberi jawaban apapun.

Satu jam kemudian mata Irene sudah terlelap, wajahnya tampak damai. Sementara yang Sehun lakukan kini hanya berlutut di hadapan sofa. Menatap wajah damai di depannya dengan teduh. Itu adalah momen yang paling dirindukannya. Memperhatikan Irene dengan leluasa, tanpa halangan apapun. Hanya ada suara-suara malam dan hembusan nafas Irene yang terdengar ditelinganya.

Jemari Sehun dengan perlahan menghampiri kepala Irene, lalu menyentuhnya dengan sangat hati-hati. Mendapati Irene tak terganggu sama sekali, ia menggerakan tangannya, mengelus surai hitam itu dengan lembut. Sampai berakhir di pipinya.

Tak ada yang lebih indah selain bisa hidup bersama sosok Irene, pikir Sehun.

Tanpa sadar, wajahnya kini sudah tak berjarak dengan gadis itu. Hanya menyisakan 2 senti. Pandangan Sehun turun, melirik bibir Irene beberapa detik, kemudian kembali menatap matanya yang tertutup. Sedikit lagi ia bergerak. Maka pertemuan itu akan terjadi.

Sehun menahan nafas, hembusan udara halus semakin terasa di permukaan wajahnya. Jantungnya berdegup kencang. Seakan nyaris melompat dari tempat asalnya.

Namun sesuatu menyadarkan dirinya. Membuat Sehun kembali menarik kepalanya sedikit. Dan menyunggingkan senyum. Lantas sebagai gantinya ia mengecup kening Irene dengan perlahan. Dengan hati yang sudah ia serahkan seluruhnya hanya untuk Irene.

XxxX

Pukul setengah 6 pagi. Cahaya langit masih setengah terang. Bulan masih tampak terlihat memudar di atas langit ketika Sehun memandangi lewat jendela. Semalaman ia tak tidur. Memanfaatkan kesempatannya untuk memperhatikan kedamaian Irene dalam lelapnya. Lalu menjadi orang pertama yang gadis itu temukan kala membuka mata.

“Ada schedule apa hari ini?” tanya Sehun yang duduk di kusen jendela dan tak mengalihkan pandangan kemanapun.

“Seminar kepenulisan.”

“Jam berapa? Apa nggak kepagian pergi sekarang?”

Irene tersenyum, meletakkan tas yang sudah dirapihkannya di atas sofa lalu mengampiri Sehun. “Jam 9. Diluar sudah cukup terang, kok.”

Pria itu segera berbalik kala menyadari keberadaan Irene. Membuat keduanya kini saling berhadapan.

“Terima kasih, Sehun. Senang bisa mendapat kesempatan tinggal disekitar lukisan-lukisan hebatmu.”

Lawan bicaranya tak memberi balasan, matanya terus menatap Irene lamat-lamat. Karena itu Irene segera mengucap kata pamit dan berbalik hendak meninggalkannya. Namun Sehun dengan sigap menahan lengan Irene, menarik tubuhnya hingga tak ada jarak diantara keduanya. Gadis itu diam, terkejut dengan aksi tiba-tiba Sehun. Kini ia berdiri diantara kedua kakinya. Kepala mereka yang kini hampir sejajar, membuat pandangan keduanya lebih dekat dari sebelumnya, membuat Irene membeku di hadapan tatapan lelaki itu.

“Sehun, saya ––” pergerakannya semakin terkunci kala Sehun merangkul pinggul Irene, menariknya tanpa tahu jarak.

“Katakan. Mau dibawa kemana hubungan tidak jelas kita ini?” bisiknya.

Irene diam membisu. Sedikit demi sedikit semakin tenggelam dalam tatapan pria itu. Jemarinya yang kini berada di atas bahu Sehun bergerak dengan samar, hanya berhasil menjauhkan diri beberapa senti. “Saya belum mau membahas soal ini.”

Lengang beberapa saat. “Lalu sampai kapan saya harus menunggu?”

Irene menahan nafas, sejak tadi harum tubuh Sehun yang maskulin begitu menggoda penciumannya. Dengan setengah sadar, tangannya kini naik, meraba pipi pria itu dengan pelan. Membuat jantung Sehun bergetar.

“Mungkin sampai projek saya dan Cosmic selesai.”

“Saya cuma ingin tau bagaimana perasaan kamu saat ini?” suaranya masih berbisik parau. Membiarkan senyap menguasai ruangan itu.

Kesadaran Irene semakin menipis, matanya kini menelusuri wajah sempurna Sehun tanpa celah. Jemarinya bergerak halus, merasakan setiap sudut wajah menawan itu seakan Sehun hanyalah miliknya.

Kemudian kepalanya menggeleng pelan. “Saya tidak tau.” Dia berbisik.

Sebelum Sehun kehilangan akal sehat, dia segera meraih tangan Irene dari wajahnya. Mengenggamnya perlahan. “Kamu bukannya tidak tau. Kamu cuma takut mengakuinya. Kamu bisa percaya kali ini, saya tidak akan tinggalkan kamu.”

Hening kembali. Waktu seakan berhenti berputar. Sehun enggan melepaskan tatapannya dari mata Irene. Seolah-olah tak akan pernah ada hari esok. Genggaman di tangannya semakin erat, semakin tak mau melepaskan.

“Mengakui atau tidak mengakuinya, bukanlah sebuah keputusan. Saya harus menentukan, apakah mengakuinya untuk tetap tinggal dan memulai semuanya dari awal. Atau mengakuinya lalu membuang semuanya jauh-jauh dan kembali hidup masing-masing.”

“Kamu tidak harus memutuskan apa-apa, Irene. Kamu cuma butuh percaya.”

Dengan perlahan tapi pasti, Irene melepaskan genggaman itu. Kali ini mengambil alih kedua tangan Sehun, melepaskan diri dari eratannya. “Maaf, Sehun. Tapi saya masih butuh waktu.”

Sehun pasrah, membiarkan gadis itu melangkah satu langkah kebelakang sembari melepaskan kedua tangannya dengan perlahan. Membuat dadanya mulai sesak.

“Sampai ketemu.” Pamit Irene setelah menyentuh pipi Sehun lembut. Kemudian pergi melangkah meninggalkannya sendirian di tempat itu.

| to be continued |

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 5)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s