[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 26)

draft

Tittle: DRAFT
by Tyar
Chapter | School life, Friendship, Romance | T
Cast
Sehun – Irene – Kai – Seulgi – With SM Artists.
Disclaimer
2016/2017 © TYAR
Don’t claim my fiction!!

Visit my village – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

List: [Prolog | Chapter 1 – Chapter 25]

-26-

Tak ada hal yang lebih menyiksa di dunia ini selain merindukan seseorang yang bahkan kita tidak tau, apakah dia masih mengingat kita? Atau justru sudah membuang semua hal dari memorinya? Setidaknya itulah yang Sehun rasakan selama 4 tahun ini. Memendam rindu, juga berusaha melupakan banyak hal.

Matahari baru saja menampakkan cahayanya sejam yang lalu, namun Sehun sudah berada di luar hari sabtu ini. Apalagi kalau bukan untuk lari pagi? Rutinitasnya semenjak menjadi mahasiswa yang sibuk dan selalu merasa lelah. Lari pagi adalah cara yang efektif baginya agar dapat menggunakan tubuh dengan baik dalam beraktifitas.

Namun sejak dia menyelesaikan skripsi dan sidangnya –menunggu jadwal wisuda, rutinitas lari pagi jadi dilakukannya setiap hari, sebelum pergi magang di perusahaan ayahnya Kai. Sehun melirik jam tangan di pergelangannya, masih tersisa 10 menit lagi untuk dia terus berlari menyusuri jalanan di daerah apartemennya.

Bolehkah Sehun sedikit jujur? Sebenarnya dia tidak pernah tertarik kembali tinggal di apartemen lamanya, dia tidak ingin tinggal di daerah yang sama. Karena ada banyak sekali hal yang gagal Sehun lupakan selama 4 tahun ini, terutama tentang Irene. Namun apa daya, dia tidak bisa menolak begitu saja pemberian ayah Kai. Apalagi apartemen itu sengaja di kosongkan demi menjadi tempat tinggal Sehun lagi setelah lulus SMA. Yah, selalu ada yang terlalu mudah didapatkan bagi orang-orang kaya seperti mereka. Dan penolakan Sehun selalu ditolak mentah-mentah.

Lewat headset yang terpasang di kedua telingnya, ia mendengar musik yang sejak tadi menemaninya tiba-tiba berhenti. Ponselnya bergetar. Dia pun menghentikan langkah larinya sambil melepas headset dan menerima telepon langsung di telinganya.

Wae?” sahut pria itu sambil mengatur nafasnya yang terengah. “Tumben sekali kau sudah bangun.”

Aku tidak tidur.” Balas seseorang di seberang sana dengan nada menyerah. “Ya! Kau ada di apartemen?”

Sehun mengerutkan keningnya, sambil berjalan menghampiri salah satu bangku taman dekat trotoar kemudian duduk di sana. “Kau tidak tidur? Ajaib.”

Laki-laki di seberang ponselnya menghela nafas, langsung paham dengan mendengar suara Sehun yang masih terengah, “Kau masih lari pagi di luar, benar?”

“Iya, dan kau Kim Kai? Sepertinya kau sedang tidak di rumah? Kau bukan baru pulang dari –“

“Tidak, jenius. Aku dari rumah. Semalaman tidak bisa tidur gara-gara kemarin malam sebelum pulang aku berkunjung ke rumah Seulgi.” Jawaban Kai sontak membuat Sehun tersedak dan memuntahkan semua air dingin yang baru saja ia tenggak dari botol minum miliknya. Membuat dia terbatuk dengan cukup keras.

“Apa kau bilang?” Sehun menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir, ternyata ucapan Kai kemarin pagi bukanlah isapan jempol belaka, bahwa dia benar-benar akan memberanikan diri mendatangi rumah Seulgi dan mencari gadis itu di rumahnya sendiri setelah 4 tahun ini Kai sama sekali tidak tau dimana keberadaannya.

Kai terdengar terkekeh ringan di seberang sana, “bukankah aku cukup gentleman?”

“Dasar gila.” timpal Sehun santai. “Lalu bagaimana? Kau tidak langsung melamar Seulgi di depan semua anggota keluarganya, seperti yang kau rencanakan kemarin, ‘kan?”

Kali ini Kai menghembuskan nafas dengan berat, terdengar menyerah. “Aku tidak mungkin berani melakukannya. Lagipula, ternyata dia tidak di Seoul semenjak lulus SMA, hun.

XxxX

Daebak.” Gumam Sehun tepat setelah ia keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk untuk mengeringkan rambutnya. Sejak tadi yang dipikirkan Sehun hanya soal Seulgi dan Irene yang sama-sama tidak ada di Seoul selama ini, meninggalkan dua orang laki-laki sinting yang terus saja tidak dapat melupakan kenangan lalu atau bangkit untuk sekadar menemukan cinta yang lain. Mereka benar-benar pria lemah, pikirnya.

Sehun meraih ponsel dan menemukan sebuah pesan dari teman kampusnya, “Sehun-ah, aku butuh flashdiskmu. Aku baru ingat minggu lalu aku menyimpan fileku di sana. Aku akan mengambilnya malam ini ke apartemenmu, oke?”

Tanpa pikir panjang, lelaki itu segera mencari flashdisk miliknya yang Kai simpan di atas meja belajarnya pagi tadi. Namun ia tak menemukan benda kecil itu di sana.

Ya Kim Kai! Dimana sebenarnya kau menaruh flashdisk-ku, oh?” Sehun segera menyergah lawan bicaranya di seberang ponsel sambil mencari benda kecil itu di seluruh penjuru meja belajar.

“Di atas nakas kamarmu, Sehun, nakas!” balas Kai tak sabaran.

Sehun menghela nafas gemas, lantas untuk apa sejak tadi dia mencari di meja belajar dan sekitarnya?

“Bukankah aku menyuruhmu menyimpannya di atas meja belajarku? Bukan nak–“ Sehun menggantungkan kalimatnya saat ia tak mendapatkan apapun di atas lemari kecil di samping tempat tidurnya itu. “Apanya yang di atas nakas, hah?!”

“Ya! Ayolaah, cari di sekitar situ. Aku yakin sudah menyimpannya di sana. Mungkin terjatuh atau apa?”

“Ck. Kau benar-benar menyusahkan.” Gumam Sehun. Namun kemudian dia tak lagi mendengar apapun dari seberang sana. “Kai? Kau masih di situ?”

Telepon ditutup. Sehun mendesah sebal, berharap benda kecil yang amat penting itu berada di sekitar nakas atau dimana pun di tempat yang mudah terlihat olehnya. Lantas Sehun segera berjongkok, mencoba mencarinya di bawah nakas yang sempit, atau di sekitarnya. Satu menit matanya melirik kesana-kemari, namun hasilnya tetap nihil.

Sampai dia nyaris saja menyerah, benda itu pun berhasil tertangkap oleh pandangannya. Dia menghela nafas lega, “ini dia.”

Tangan Sehun dengan mudah dapat meraih flashdisk kecil itu tepat di bawah tempat tidurnya. Dan ketika itulah dia menemukan sesuatu yang lain di sana. Sebuah kotak sepatu yang sudah kusam. Seketika tubuhnya tak bergerak untuk beberapa saat.

Dia lantas meraih kotak itu dan merubah posisinya dengan duduk di atas lantai. Perlahan, Sehun membuka tutupnya dan segera mendapati barang-barang lama miliknya berkumpul di dalam sana. Lelaki itu meraih selembar foto dan menatap 4 siswa SMA bermandikan keringat dengan wajah kelelahan. Sungguh, Sehun ingin tersenyum jika saja dia bisa melakukannya.

Pandangan lelaki itu lalu beralih lagi ke dalam kotak sepatu, menatap selembar foto lainnya tanpa ingin menyentuh foto itu sama sekali. Tetapi dia tidak dapat menahan diri hingga ahirnya dia meraih selembar foto itu dengan ragu.

Irene, andaikan Sehun tau bahwa itu adalah hari terakhirnya melihat Irene tersenyum.

Saat dihari pertama dirinya telah menjadi alumni anak sekolah, rasanya sejak itu waktu mulai berjalan begitu lambat. Kehidupan kuliah yang ditunggu-tunggu selama ini jadi tak semenarik bayangan Sehun. Hidupnya nyaris sama seperti masa awal SMA, datar dan biasa saja.

Pun selama itu pula Sehun tak pernah berhasil berhenti mengingat Irene, satu-satunya rindu yang tak dapat dia raih. Mungkin memang benar, ada sesuatu hal yang lain yang masih bersemayam dalam dadanya sebagai alasan terkuat kenapa dirinya begitu segila ini merindukan Irene. Si sinting itu, satu-satunya perempuan yang pernah berhasil memporak-porandakan masa SMA Sehun, si ceroboh pengganggu yang tak henti-hentinya membuat dia kerepotan. Namun ketika Irene benar-benar pergi dari hidupnya, semua jadi tampak kelabu lagi. Hati Sehun seketika kosong, melengang tanpa ada apa-apa. Hampa.

XxxX

Kai mulai merasakan kakinya membeku. Telinganya tak dapat lagi mendengar sahutan Sehun di seberang sana sampai dia menutupnya sendiri dan memasukkan ponsel ke dalam saku. Dia bahkan nyaris saja menjatuhkan satu cup kopi di tangannya jika dia tidak segera menyadarkan diri.

Beberapa saat lalu, tepat setelah keluar dari salah satu kafe langganannya dan berjalan melewati halte, Kai menemukan seseorang tengah berdiri di sana. Gadis itu menatap layar ponselnya, mengetik sesuatu kemudian kembali memperhatikan jalanan, tampak sedang menunggu bus.

Dengan susah payah, Kai mengangkat kakinya untuk melangkah mendekat. Dengan tatapan yang tak percaya, dia menyahut, “Kang Seulgi?”

Gadis cantik itu segera menoleh, dan terkejut menemukan sosok Kai sudah berdiri di dekatnya. Jantung Seulgi kali ini bekerja lebih cepat dari biasanya, kakinya melemas, dan dia tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun selain membalas tatapan Kai dengan bingung.

Kedua tangan Kai meraih pundak Seulgi, tak dapat menahan ekspresi bahagia dari wajahnya. “Kemana saja kau selama ini, oh?”

S-sunbae,” gumam Seulgi. Kali ini wajahnya tampak merasa bersalah.

Sore itu, di bawah senja yang melukis langit. Kai dan Seulgi berakhir di pinggir sungai Han, duduk bersama di atas bumper depan mobil milik Kai yang sengaja ia parkir di sana, demi menikmati pemandangan petang kota Seoul.

Sejak tadi, tak ada yang berhasil keluar dari bibir Seulgi maupun Kai. Gadis itu menggenggam satu kaleng minuman soda yang dingin, masih belum tertarik meneguknya sedikitpun.

Sementara Kai masih setia dengan senyumnya, sesekali matanya melirik ke samping, memandangi wajah Seulgi yang semakin menawan di matanya. Selama 4 tahun ini, Kai tidak tau Seulgi ada dimana. Baru saja kemarin dia mengunjungi rumahnya, dan tidak ada yang berhasil didapatkan Kai selain sebuah keluarga yang tiba-tiba jadi tertutup, mereka merasa bersalah karena Seulgi memaksa untuk tidak memberi informasi apapun –informasi mengenai Seulgi yang mengemban pendidikan di Universitas di luar kota, dan bukannya di Seoul.

Lelaki itu mendesah, “Kau benar-benar mengujiku, Kang Seulgi.”

Seulgi terkekeh pelan, menoleh membalas tatapan Kai dengan ragu. “Apa kabar, sunbae?”

Kai tertawa kecil, “Ya! Sampai kapan kau akan memanggilku sunbae, hah?”

Gadis itu tersenyum kaku, dia tau Kai mungkin sedikit bergurau dengan kalimatnya barusan. Seulgi pun membuka tutup kaleng di tangannya kemudian menyesapnya perlahan demi menyegarkan tenggorokannya yang tiba-tiba serat.

Sejujurnya, Seulgi sedikit merasa malu karena dia tiba-tiba mengingat kejadian ‘kecil’ di perpustakaan sekolah 4 tahun silam. Ah, mungkin lebih tepatnya, semua perasaan kini bercampur aduk di dalam hatinya dan membuat dadanya sesak.

“Kupikir Seoul memang sengaja menyembunyikanmu dariku selama ini,” Kai menghembuskan nafas, terdengar kepasrahan dari suaranya, “ternyata kau memang tidak di Seoul.”

Kali ini Seulgi tersenyum, kembali menikmati dinginnya minuman kaleng digenggamannya sembari menatap cahaya langit yang semakin redup. “Aku sungguh minta maaf, sunbae.”

“Tidak kumaafkan.” Balas Kai santai lalu meneguk kopi yang ada di tangannya.

Seulgi menghela nafas, “Kau yakin? Aku harus kembali lagi ke Daejeon 3 hari lagi, loh.”

Kai menoleh, wajahnya merenggut seperti anak kecil yang marah. “3 hari? Yang benar saja. Aku tidak pernah bertemu denganmu 3 tahun setengah, dan kau hanya membayarnya dengan 3 hari?”

Seulgi terkekeh pelan, menatap lelaki di sampingnya dengan teduh. “Sunbae,

Ya! Lagipula kenapa kau harus kuliah di luar Seoul, sih? Memangnya Universitas di sini kurang apa?” gerutunya benar-benar seperti anak kecil.

Seulgi masih tersenyum geli, “Sunbae,

Geurae, 3 hari lagi aku yang akan mengantarmu langsung sampai ke depan gerbang kampusmu. Dan selama kau masih di Seoul, kau harus –“

Sunbae!” Seulgi menyeru pelan, kemudian meraih kedua pipi Kai dengan gemas. Membuat lelaki itu membeku seketika, ia rasakan tubuhnya mulai gemetaran saat kedua mata Seulgi menatap dirinya lekat-lekat sambil tersenyum dengan begitu sejuk.

Tak sampai disitu, dalam situasi yang masih mendebarkan jantung Kai, Seulgi mendekatkan wajahnya. Mengikis jarak di antara keduanya hingga tak tersisa setipispun, hingga sentuhan itu terjadi. Kali ini, Seulgi membalaskan perbuatan Kai di perpustakaan waktu itu –mengecup bibir Kai dengan perlahan. Membiarkan Kai mengecap rasa soda dari bibirnya.

“Aku akan membayarnya dengan selamanya, sunbae. Bukan 3 hari.” Bisik gadis itu setelah dia menjauhkan wajahnya dari Kai yang kini menatap Seulgi tak percaya.

“Waw. Kau ternyata perempuan yang penuh kejutan.”

XxxX

Sehun menatap langit Korea yang gelap lewat jendela besar apartemennya. Mengingat bagaimana saat ini dia dan Irene berada di bawah langit yang berbeda, juga di bawah matahari yang berbeda.

Ingatan terakhir Sehun mengenai wajah Irene adalah saat hari kelulusan. Dia masih sangat ingat kalimat terakhirnya untuk Sehun. Dan dia menyesal ketika itu dia tidak bisa berkata apa-apa selain menatap punggung Irene yang terus menjauh dan hilang di ujung koridor –itu kerap sekali datang ke dalam mimpinya sebagai mimpi buruk.

Di tengah-tengah lamunannya, tiba-tiba suara alarm pintu apartemen berbunyi. Sehun menoleh dan menemukan Kai menghampirinya dengan ekspresi yang begitu cerah. Dia menatap Sehun beberapa detik. Kemudian mereka sama-sama menatap kota Seoul yang gemerlap.

“Sehun,” panggilnya. Yang dipanggil hanya menggumam memberi jawaban sambil melirik Kai sebentar. Bibirnya terangkat begitu lebar, tersenyum penuh arti.

“Aku bertemu dengannya.”

Beberapa saat Sehun membeku dan menatap Kai penasaran, kedua bola matanya sempat membulat, dan dengan polosnya dia berkata, “Bertemu dengan? Dengan Irene?”

Kai yang sudah memperlihatkan wajah super bahagianya lantas segera mendengus gemas dan mengusap dahinya. “Aish. Kau terlalu banyak memikirkan Irene, ck.”

Sehun mengedipkan matanya beberapa kali, lalu menghela nafas. Kai benar, mungkin lebih tepatnya Sehun terlalu berharap.

“Jika aku bertemu Irene, tentu saja reaksiku akan lebih heboh dari ini.” Timpal Kai. Sehun hanya mengangguk sebagai respon, lalu menatap Kai dengan tampang tanya.

“Jadi kau bertemu siapa?”

Kai tersenyum lebar, “Kang Seulgi.”

“Oh,” respon Sehun singkat sembari mengangguk santai dan kembali menatap ke luar jendela.

Oh? Itu saja responmu?” protes Kai.

“Lantas aku harus bagaimana? Kau malah membuatku iri, bodoh. Aku juga ingin bertemu dengan Irene.” Balas Sehun tak mau kalah, kemudian kali ini nafasnya dengan berat berhembus. “Rasanya seperti aku ingin menyusulnya ke Amerika, apa itu gila?”

Kai terkekeh meledek, “Gila. Kau bahkan tidak tau dimana Irene tinggal. Kau pikir Amerika hanya sebesar lapangan golf, hah?”

Ada alasan kenapa Sehun berpikir sampai sana. Adalah ketika siang tadi ayah Kai memberi taunya –sebagai calon karyawan tetap di perusahaan keluarga Kim, bahwa minggu depan Sehun yang akan menemani Presdir Kim di rapat bersama beberapa perusahaan besar. Dan di antaranya adalah perusahan milik ayah Irene.

“Jangan harap ayahnya akan memberi informasi padamu, kawan. Kau tau dialah orang yang paling ingin memisahkanmu dari anaknya.”

“Itu dia masalahnya,” sekali lagi Sehun menghela nafas. “Aku sebenarnya yakin Irene akan pulang dan menemuiku, tapi –“

“Tapi kapan?” sambung Kai. “Kau tau ‘kan sikap orang-orang tua seperti Presdir Bae dan ayahku yang punya perusahaan super besar, mereka biasanya saling menjodohkan anak mereka demi kepentingan perusahaan.” Suaranya terdengar mendramatisir. Membuat Sehun segera menoleh ke arahnya dan memberi tatapan kejam seolah dia akan membunuh Kai dengan tangannya sendiri saat itu juga.

“Kau ingin aku berharap kau dijodohkan dengan Bae Irene, begitu?” desisnya pelan kemudian melangkah pergi meninggalkan Kai menuju dapur.

Sementara Kai sudah mengeluh sebal, “Aish. Tentu saja ayahku tidak akan melakukan itu.”

XxxX

“Hm, dia yang akan menjemputmu. Kau masih ingat dengan wajah asisten Park ‘kan?”

“Ya, aku ingat. Kau tenang saja.” Sembari memberi jawaban, tangannya meraih kaca mata hitam yang tersemat di hidungnya. Membukanya perlahan dan mencari sosok ahjussi yang sudah lama sekali tak dia lihat. Setelah memasukkan ponsel, wanita itu mengedarkan pandangannya lantas dengan mudah menemukan seseorang yang dia cari. Pria itu pun tersenyum sopan ke arahnya, segera membukakan pintu sedan hitam paling mewah itu ketika sang majikan mendekat dan memberi salam dengan sopan.

“Apa kabar, ahjussi?”

“Oh, baik, tentu saja. Kau sendiri, nona?”

Gadis itu tersenyum jenaka sambil melangkah masuk ke kursi belakang mobil, “tidak terlalu baik.”

Sesampainya ahjussi itu di balik setir, dia menyahut kembali, “mungkin hadiah yang akan ayahmu berikan akan membuat nona jauh lebih baik.”

Oh? Benarkah? Ayah sudah menyiapkan sesuatu untukku?”

Supir sekaligus asisten pribadi itu mengangguk mantap, masih dengan senyum ramah yang setia bertengger di wajahnya.

Dan benar saja, ketika dia sampai di kantor sang ayah. Pria paruh baya itu segera menyambutnya dengan hangat, dan menghambur peluk padanya. Membuat dahi gadis itu mengkerut karena melihat ayahnya tiba-tiba menjadi orang yang tampak hangat.

“Asistenmu bilang, kau sudah menyiapkan hadiah untukku? Aku harap itu lebih dari sekadar ponsel lamaku yang kau sita.”

Pria paruh baya itu terkekeh pelan, seraya mengeluarkan sebuah kotak ponsel lama dari dalam laci meja kerjanya dan menyerahkan benda itu pada anak kesayangannya, “kau akan tau hadiah selanjutnya besok,”

“Besok? Kenapa tidak sekarang saja?”

“Karena hadiahnya memang ada besok, Bae Irene. Kau akan mendapatkannya besok. Yang harus kita lakukan sekarang adalah,” sang ayah mengeluarkan sebuah map dokumen, “menyiapkan presentasi untuk rapat besok.”

Kedua bola mata Irene membulat sempurna, oh ayolah. Apakah itu disebut dengan hadiah? Dia baru saja sampai dan ayahnya sudah memberinya tugas untuk besok pagi. Sungguh menyusahkan –anggap Irene.

XxxX

“Kau siap Sehun?”

Sehun mengangguk mantap ke arah Presdir Kim –ayah Kai. Dia sudah sangat siap dengan rapat pertamanya ini. Segala hal untuk presentasi dan menyampaikan semua hal-hal dari perusahaan Kim, telah dia persiapkan tepat setalah Pesdir Kim mengabarinya mengenai ini beberapa hari lalu.

Namun semua kesiapan yang telah ia bangun itu seketika runtuh kala Presdir Bae bersama seorang asisten laki-laki dan seorang gadis muda yang cantik, datang memasuki ruangan rapat.

Pada awalnya, yang dia lakukan adalah menunggu dengan tenang –yakin semua akan berjalan dengan lancar. Sampai ayah Kai menyenggol sikutnya dan berbisik, “bukankah dia teman satu SMAmu yang dulu pernah memiliki masalah denganmu?”

Dan benar saja –Sehun baru menyadarinya. Menyadari bahwa kini sosok Irene berada di hadapan matanya. Wanita dengan rambut kecoklatan tergerai sebahu itu, begitu menawan dengan balutan atasan biru pastel yang terlipat bagian lengannya, juga sebuah celana lurus berwarna putih. Jantung Sehun nyaris terhenti, antara percaya dan tidak bahwa Irene yang sudah dinantinya selama ini ada di tanah yang sama dengannya saat ini. Gadis pecicilan berambut kuda itu kini tampak menjadi wanita yang benar-benar menawan, jauh dari apa yang pernah dibayangkan.

Irene sempat melirik ke arahnya, membalas tatapan terkejutnya dengan eskpresi ragu. Namun tak ada yang bisa mereka lakukan. Sehun hampir saja melangkah mendekati gadis itu hendak memeluknya atau apapun yang ingin sekali dia lakukan. Namun Presdir Kim menahan lengannya dengan segera, “Tidak sekarang, Sehun.”

Dan hari itu, semua berjalan semakin lambat baginya. Tubuhnya terus mengeluarkan keringat dingin, menanti 2 jam rapat berlalu saja seoalah-olah seperti berhari-hari bagi Sehun.

Namun setelah dengan tak sabarannya Sehun menunggu, dia tetap tidak bisa menemui Irene sama sekali. Presdir Bae benar-benar menutup kesempatannya. Sungguh, jika pria itu bukan ayah Irene, Sehun mungkin sudah mengikatnya dan melemparnya ke sungai Han.

XxxX

Seoul masih tampak sama bagi Irene semenjak ia meninggalkannya, termasuk Sehun. Laki-laki itu selalu menjadi yang paling menawan baginya dulu, dan semakin menawan pula kini. Sesungguhnya dia ingin sekali berlari berhambur ke pelukan Sehun dan menangis meluapkan rindu di pundak lelaki itu. Namun dia tidak bisa.

“Bagaimana hadiah yang ayah berikan untukmu? Mengesankan, bukan?”

Irene masih sangat ingat kalimat ayahnya ketika mereka telah menyelesaikan rapat dan kembali ke kantor mereka. Jadi, itu hadiah spesial dari ayah? Mempertemukannya dengan Sehun. Itu mengejutkan, mengingat ayahnya lah yang sangat bersikeras menjauhkan dirinya dari Sehun. Tetapi ayahnya pula yang mendekatkannya kembali. Kemarin sore, Irene tidak akan pernah lupa dengan kalimat yang ayah katakan, “Siapa yang tidak senang mendapat calon menantu super ganteng dengan kemampuan otak yang tidak meragukan. Jangan salah paham, selama ini yang ayah lakukan hanya menempatkan sesuatu pada tempat dan waktunya.”

Siang itu, akhirnya Irene kembali membongkar isi ponsel lamanya dengan perasaan campur aduk. Dia membuka kontak, menatap semua nomor ponsel yang masih aman tersimpan di sana. Jemarinya pun memilih sebuah kontak dan menekan tombol panggil. Jantungnya sempat berdebar tak karuan, tidak yakin dengan apa yang dilakukannya. Hingga seseorang di seberang sana menjawab. Irene pun tersenyum.

“Kim Kai?”

“Iya?”

“Na-ya.

| to be contunied |

HAYOOOHHH MASIH BELUM TAMAT JUGA WQWQWQWQ /abaykan/. Sampai ketemu di chap selanjutnya gaes~~ mungkin nanti di endingnya aku akan ngebacot 10 halaman /plak/. Gak deng. Huahahahahah.

Iklan

23 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 26)

  1. Calon mantu beneran nih? Tinggal nunggu Sehun melangkah kan? Huhuhuu
    Mulai terharu mewek ngebaca draft udah mau berakhir. Tp gemes juga kalo nereka ga ketemu2.
    Oiyaa, masak iya papanya Irene lgsg setuju gitu ajaa pdhl dia dulu galak banget? Bakal dijelasin ato emang penjelasannya segitu aja? Tp kalo hunrene akhirnya bahagia yaudah deh gapapa bangeeett hehehe.

  2. kayanya nih ff chapter nya bakal sampe 100++ deh…hahahahha
    tapi gk bosenin…ahh ya ampun dibalik kelicikan kekejaman ayah irene ternyata tersembunyi sesuatu yg mengejutkan…intinya harus sabar n tabah yaaa… langsung dibilang menantu pula…idiihhh udah direstuin aja hunrene…asikkkk

  3. Ya ampun aku sampe lupa kalo ada ff Draft disini dan malah fokus ke ff Draft plus ff POL yg di wattpad. Langsung ngebut baca 4 ff yg kelewat. Sempet ngira ff ini ending nya cuma sampe disini aja. Tinggal pengen liat ending nya kayak gimana. Penasaran. Jgn lama2 ya, Author.

  4. YAAMPUN THOR TEGA SEKALEHH MEMBUAT HATI MELETUP LETUP. NJERR SUMPAH FF INI BUAT HATIKU TERBOLAK BALIK LOO, KEREN BANGET. next chapt buruan di publish. Maaf di chapt sebelumnya ngga pernah leave comment, karena wi-fi yang nyandet gak keruann. Wkwk ukeeeyy thor tengkyu sekali yaa❤❤

    HUNRENE BURUAN NIKAH DEEE💕💕💕
    Tapi jujur aku sedih FF ini bakal tamat, wkwk

  5. Next oenn, omo perfect couple HunRene & SeulKai bertemu dan pastinya berharap untuk mereka bersatu
    Oenni keep writing & fighting
    Selalu menunggu update mu ooenn

  6. Kaaaa cepet publis chapter selanjurnyaaaaa. Aku penasaran bangettttt. Itu engga salah ayahnya iren ? Kesambet apa dia kaaa ? Astaga aku kagett lohhh

  7. ya allah singkat banget, iya tau kalo ff ini mau tamat. tapi jgn segitunya juga dong…….
    tetep smangat ngetiknya ya thor, aku tunggu kelanjutannya.

  8. huaaaa gue jingkrak2 pas tn. bae sebut Sehun calon menantunya,akhirnyaaaaaaaaaaaaa
    hunrene+kai comeback!!!!!!!!
    cepetan posting chapter selanjutnya, bikon hunrene nya romatis

  9. astagaaaaaaa~~~
    kurang ini kuraang.. T_T
    bener2 dibikin kepo ini nih namanya..
    udh deg2an ajj gw nungguien hunrene moment, tapi ga ada..
    eetapi, kok presdir bae agak ambigu ya..? sengaja mempersiapkan ini ikhlas krna syg irene dan demi masa depan apa emg ada sesuatu yg buruk yg udh dia rencanain dr jauh2 sih..?
    semoga ajj dia emg ikhlas krna syg irene.
    kai-seulgi udh mulai jelas, tinggal sehun-irene nih..
    gasabaar ini, pliss nextnya dicepetin yaa..??
    wakakakkakakkkk
    fightiiiiing…!!!

  10. BELOM TAMAT JUGA!?!? KAMPRET, COEG SEKALI😑😑 OH JADI BAPAKNYA AIRIN ITU PUNYA PERENCANAAN JANGKA PANJANG? OKEY OKEY, AKU MAAFKAN DIRIMU KAK TYAR, HAHA😂😂

    BUT UNTUK CHAPTER KALI INI, MUNGKIN CUKUP PENDEK DAN TERLALU BANYAK SPOILER YANG KELUAR MENURUT AL😶. MULAI DARI PERJODOHAN HUNRENE, AL TEBAK PASTI UJUNG2NYA MEREKA MENIKAH/TUNANGAN. HAL YANG SAMA TERJADI SAMA KAISEUL, UDAH PASTI UJUNG2NYA MEREKA PACARAN ATAU BAHKAN MENDAHULUI HUNRENE DAN MEREKA TUNANGAN DULUAN. INI CUMA SPEKULASI TAPI AL MASIH MENGHARAPKAN BEBERAPA KEJUTAN KAYA MEREKA DOUBLE DATE DAN SEULRENE SALING MENGOBROL TENTANG PASANGAN MEREKA MASING-MASING ATAU SEMACAMNYA.

    ANYWAY, THIS FANFICTION IS COMING TO THE END, SEBAGAI PENGIKUT DRAFT DARI JAMAN SEULGI MASIH DIBULLY SAMPE SEKARANG BERANI NYIUM KAI, ANE CUKUP SEDIH FF INI BAKAL SELESAI😥😥. AL TIDAK BERHARAP UNTUK SEBUAH SEQUEL, AL LEBIH BERHARAP ENDING YANG BISA NGEBUAT PEMBACA MENGHAYALKAN KELANJUTANNYA SENDIRI.

    LAST BUT NOT LEAST, MAAPKEUN KEPSLOK JEBOLLLLL!!!!! 😂😂😂😂😂

  11. Oke gue udah berharap draft ending. Eh ternyata
    Minggu depan mahasiswa udh mulai msuk kuliah. Gue gak tau apa lu trmasuk mahasiswa itu atau gak. Tapi gue khawatir bakal nunggu lama lagi 😓
    Chapter ini terbilang singkat dan rada menyebalkan. Mksd gue cuma “tuan bae”
    Fighting buat lu!! 💪

  12. Aaaaa….singkat bangetttt uniiiiiiiii…..stelah kau dgn teganya memisahkan mreka ber3….
    Penasafan sama reaksinya kai hihi…
    Ternyata ayahnya Irene ada maksud baik hehe…pdahal udah disumpahin gara2 misahin Irene…
    Hehe next yya unni…karyamu selalu kunantikan..
    Fighting…!^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s