[EXOFFI FREELANCE] The Headmaster (Chapter 6)

1485602269079

The Headmaster

Tittle          : The Headmaster #6

Author       : Angestita

Lenght       : Chaptered

Genre         : Angst – Romance – school life – AU

Rating        : PG 13

Main cast   : Sehun EXO – Baek Su Min (OC)

Other cast : Kim Kai EXO – Irene Bae (RV) – Mark Lee (NCT)

Sumarry     : Sehun memiliki segalanya. Mapan, pintar, dan sangat tampan. Tetapi apa yang terjadi apabila ada seseorang yang ingin menguasai semua yang Sehun punya? Lalu apakah ia akan tetap menikah dengan Irene setelah apa yang wanita itu perbuat?

Diclaimer      : Ini hanya FF. Tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan artis. Apabila ada kesamaan unsur ataupun nama tokoh mutlak ketidaksengajaan. Jangan copy-paste tanpa meminta izin penulis. FF ini murni dari hasil pikiranku.

Sehun menatap kuburan yang ada di depannya. Hari ini tepat dua tahun kematian saudaranya. Disana tertulis dengan jelas sebuah nama. Lee Taeyong. Putra pertama keluarga Lee Jung Suk. Calon pewaris Louis Group. Tampan, cerdas dan baik hati, maka dari itu banyak orang yang mencintainya dan merasa kehilangan sekaligus. Sekalipun dua tahun telah berlalu tetapi kenangan selama dia hidup masih tetap ada dan menjadi kenangan terindah. Sehun, secara pribadi tidak terlalu dekat dengan Taeyong, mereka hanya bertegur sapa apabila bertemu dan tidak pernah secara pribadi terjalin hubungan yang dekat.

Tapi kedatangannya kemari, memang tak perlu dipertanyakan lagi. Kematian Taeyong dua tahun lalu sempat menyeret namanya dan membuat issue yang semakin berbelit. Diakui apa tidak, Sehun masih dapat merasakan hatinya berdesir dan tengkuknya dingin apabila mengingat malam itu. Kematian Taeyong memang murni kecelakaan. Tetapi banyak orang yang masih membawa namanya atas krjadian ini. Rasanya rasa sesak itu kembali datang, tak ada orang yang benar-benar berniat membunuh saudaranya sendiri apalagi pria normal seperti Sehun. Sekalipun dia punya ambisi besar tetapi tindakan gelap seperti itu tak pernah terfikirkan.

Pria berkemeja hitam itu menghela nafas pelan, “Semoga kamu hidup dengan tenang disana.” Ucap Sehun tulus. “Aku benar-benar minta maaf karena datang terlambat. Aku minta maaf karena kejadian dua tahun yang lalu.” Sehun menambahi dengan suara yang sedikit bergetar.

Ting!

Sebuah telefon nasuk kedalam ponselnya. Sehun segera mengangkatnya. “Hallo, pak, ada apa? Apa?! Saya akan kesekolah sekarang juga.” Sehun segera berlari meninggalkan makaman itu. Hatinya berdebar kencang, Sehun harus segera datang kesekolahnya.

Su Min berdiri tengah duduk diruang kelas X IPA 2, dia sedang mengawasi ulangan matematika sekarang. Walau demikian otak dan fokus pikirannya terbang jauh ke tempat lain. Bayang-bayang wajah tampan mendiang Taeyong dan seorang wanita, sukses mengalihkan pikirannya. Taeyong tampan, wanita yang foto bersamanya juga lumayan imut. Mereka serasi dimatanya. Tapi yang menarik lainnya dari foto yang Taeyong unggah di akun instagramnya adalah foto yang diunggah untuk terakhir kali itu. Dalam foto itu Taeyong tidak sendirian tetapi bersama teman-teman yang lainnya. Ada 5 orang dan mereka membuat foto bergaya love dengan tabgan. Tetapi caption yang  Taeyong tulis seolah menyadari bahwa usiannya sudah tak lama lagi. Pesan itulah yang menarik perhatiannya. Sederhana tetapi terpatri jelas di otaknya.

TaeyongLee

Dua tahun yang lalu

 icoaexd1fd 

❤ 2996

“… Just live well. Just live. I’ll be walking beside you every step of the way. Love, Taeyong.”

💬2890

Just live well. Just live. Caption yang penuh arti… apa dia sudah tahu, dia akan mati?  Su Min bergumam dalam hati.

Lamunan itu buyar ketika sebuah suara masuk kedalam telinganya, suara teriakkan, semua orang memandang keluar jendela, Su Min yang terkejut segera berlari menghampiri pintu. Dia berjalan menuju tembok pembatas, matanya jatuh ke arah anak-anak yang berlarian di lapangan menuju ke kolam renang yang ada di pojok sekolah. Kolam renang itu indoor. Jadi tidak terlihat dari tempatnya berdiri. Su Min sebenarnya ingin ikut melihat apa yang terjadi, apalagi setelah melihat ada banyak guru yang ikut berlari juga.

“Ada apa lagi ini?” Tanyanya pada diri sendiri.

Sementara itu, mobil yang Sehun kendari masih terjebak macet di jalan utama. Maklumlah tak jauh dari jalan itu akan diadakan konser musik besar dua jam lagi. Sehun mendesah dalam hati, beberapa kali dia menekan klakson berharap mobil yang ada didepannya akan segera bergerak.

“SHIT!!!!” Bentak Sehun frustasi. Meski demikian pria itu tak lantas berbuat brutal, dia masih punya otak untuk menjaga sikap dengan baik.

Mobil yang Sehun kendarai tiba disekolah satu setengah jam kemudian. Saat Sehun tiba, kondisi sekolah benar-benar kacau balau. Anak-anak berhamburan keluar ruang kelas, ada yang hanya berdiri menggerombol di bawah tangga, ada yang duduk di lobby, bahkan ada yang menangis. Wali kepala sekolah bidang kesiswaan dan Guru BK, menyambut kedatangan Sehun. Mata mereka terlihat merah, tampak mereka habis menangis.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi awalnya, tapi murid itu meninggal di kolam renang, guru Jongin yang menemukannya ketika dia ingin memulai pelajaran olahraga.” Kata Park Shin Hye.

Jung Nara, menatap Sehun dengan pandangan takut, “Menurut catatan saya kemungkinan kematian anak itu bunuh diri. Karena kata teman temannya beberapa hari ini dia cenderung pendiam dan tak acuh. Dia memang punya permasalahan dengan jiwanya.”

“Siapa namanya? Sudah hubungi orang tuanya? sekarang dia sudah dibawa ke rumah sakit kan? Bagaimana keterangan dari polisi? Siapa yang menangani kasus ini?” Sehun mengacuhkan ucapan Nara dan Shin Hye. Dia malah bertanya pertanyaan lainnya, “Kita bahas ini diruangan saya.”  Ucap Sehun sembari melangkah menuju ruangannya.

Su Min masih sibuk menangani anak-anak yang masih syok dengan kejadian tadi. Beberapa diantaranya memang dekat dengan Seo Jin. Dibantu Seung Wan dan Soo Jung, tak membuat tangis anak-anak mereda. Memang mengerikan mengetahui kenyataan itu apalagi dengan melihat kondisi jasad itu secara langsung. Su Min lantas mengingat Jongin, bukankah pria itu yang pertama kali melihat jenasah Seo Jin? Apakabar dia sekarang? Apakah dia baik – baik saja? Su Min berencana menemui pria itu setelah menyelesaikan urusannya.

Di kantor ruang kepala sekolah kini duduk dua orang anggota kepolisian, Jongin, Nara, Shin Hye dan Sehun sendiri. Mereka tampak berbicara dengan diliputi ketegangan. Wajah Jongin yang datar sedikit pucat, menampilkan gurat keresahan akibat kejadian ini. Setelah berunding lumayan lama akhirnya diambil sebuah keputusan untuk meliburkan sekolah selama 3 hari. Keputusan itu diambil agar kepolisian dapat menginvestigasi kematian Seo Jin dengan akurat tanpa diganggu oleh aktivitas murid-murid.

Seoul High School, setelah sekian lama tidak terdengar kabar miringnya siang itu wartawan seolah benar-benar terpuaskan. Apalagi dengan keputusan Sehun yang bersedia di tuntut apabila ada pihak yang dirugikan. Sehun juga tidak menutup berita ini dari media. Dia mempersilahkan wartawan-wartawan dan rakyat korea selatan tetap memantau kelanjutan kasus hingga selesai.

Keputusan Sehun seolah membuka peluang bagi musuh-musuhnya untuk menjatuhkan Sehun. Mendengar berita demikian, ayah kandung Sehun segera meminta anaknya menghadap dirinya malam itu juga. Semakin peliklah urusan itu.

Mark sore itu sepulang sekolah bersama ibu dan ayahnya pergi ke Makam. Mereka ingin berdoa untuk kematian Taeyong. Tak ada raut sedih terpatri dalam ketiga wajah itu. Tetapi tampak masih jelas dalam sorot mata mereka rasa kehilangan. Rasa paling pekat dan paling panjang. Mark menatap makam kakaknya yang tampak rapi dan harum -berbagai bunga bertaburan diatas sana- pemberian dari teman-teman kakaknya. Dia mencoba tersenyum kala meletakkan sebuket bunga krisan diatas makam Taeyong. “Berbahagialah di surga sana, kak.” Ucap Mark lirih. “Kami akan selalu mendoakanmu.” Imbuhnya.

Disamping Mark, wanita cantik dengan rambut sebahu, berwarna hitam gelap, tampak berdiri dengan tegar. Dia berusaha menerima kematian putra pertamanya. Ya, memang sudah dua tahun berlalu. Dua tahun mereka terpisah. Dua tahun lamanya hatinya merindukan putranya itu. “Taeyong, mama selalu ada untukmu. Mama akan berdoa untuk kebahagianmu disana. Hiduplah dengan baik, nak.” Ucap Nyonya Lee dalam hati.

Tuan Lee Jung Suk tampak menghela nafas dengan berat, tampak sekali dia sangat tersiksa dengan kondisi ini. “Nak, papa rindu kamu. Tapi papa yakin kamu sudah bahagia disana.” Ucap pria itu.

“Ayo, pa pulang. Matahari akan tenggelam sebentar lagi.” Sang istri berbisik kepada suaminya.

Tuan Lee mengangguk, dia lantas bangkit dari posisi bersimpuhnya. “Papa tinggal dulu nak.” Ucap beliau sebelum melangkah pergi.

“Mama, pulang dulu Yong. Besok mama kesini lagi.” Timpal Nyonya Lee.

Mark bangkit dari posisinya, “Kakak, aku pulang dulu ya.” Pamit pria itu. Sepeninggalan keluarga Lee, pemakaman itu kembali sepi. Aroma kesedihan yang berlatar matahari senja seolah menjadi pemandangan tersendiri sore itu. Ya, tidak ada yang pernah benar-benar bahagia merayakan kepergian seseorang yang mereka sayang. Walaupun itulah jalan terbaiknya.

Malam harinya, Su Min memutuskan untuk pergi keluar rumah bersama anggota keluarganya. Jarang sekali mereka makan bersama di luar seperti ini. Maklumlah, Tuan Baek sibuk dengan urusan rumah sakit. Wanita berjaket putih itu tampak sedang sibuk dengan ponselnya selama menunggu pesanan datang. Dia memeriksa instagramnya barangkali kawannya ada mengupload foto baru. Dan postingan terbaru dari Mark Lee, membuat jantungnya berdebar kencang. Bagaimanapun ini sebuah keajaiban. Setelah lama tidak aktif di instagram, anak didiknya itu mengunggah sebuah foto baru.

MarkLee

1 minute ago

 ekme0smw2f

❤ 2.345

I will miss this moment. May God always protect you my beloved brother.

💬 2.144

@Chittapon_Ten : Sabar ya dek, kakak disini juga selalu berdoa untuk @TaeyongLee

@Johnny : Nggak nyangka hari ini tepat dua tahun kamu ninggalin kita @TaeyongLee. Bro, semoga kamu bahagia di surga sana.

@Bae_Yeri : Kakak @TaeyongLee, aku selalu berdoa untukmu. Semoga Tuhan melindungimu disana.

@Jinri : long time no see Taetae picture, I think Im very miss you tae. May God always protect you…

@Yuta_NK : Mark, sabar ya. Ini mungkin jalan terbaik untuk Taeyong. Kita disini juga kehilangan dia. Tetapi kita sadar takdir Tuhan lebih indah. @TaeyongLee, we miss you.

Su Min terpaku ketika membaca beberapa komentar yang diberikan. Hari ini tepat dua tahun kematiannya, dia seolah dapat merasakan kesedihan itu. Kematian seseorang memang selalu membawa luka tersendiri untuk mereka yang mengenalnya.

Entah dorongan darimana tangannya tertarik untuk menuliskan sebaris komentar.

@BaekSu_Min : Aku tidak tahu kakakmu sudah meninggal. Aku turut berduka cita. Semoga kakakmu diterima ditempat yang terbaik disisi Tuhan.

Su Min meletakkan ponselnya kembali kedalam tas saat hidangan makan malam datang. Memang demikian aturan yang berlaku dalam keluarga mereka. Saat sedang makan usahakan tidak melakukan apapun kecuali aktivitas makan itu sendiri. Tuan Baek dan Nyonya Baek tampak sangat menikmati hidangan makan malam mereka berbeda dengan Su Min yang hanya makan dengan diam.

Sehun keluar dari ruang kerja papanya dengan wajah kusut. Tampak sekali bahwa pria itu sedang letih. Dia tidak berkunjung ke kamar ibunya. Malam itu sepertinya dia masih ingin sendirian. Mungkin ditemani oleh beberapa gelas wine atau vodka. Yang penting dia bisa melepeskan barang sejenak rasa penatnya. Akhirnya ia memutuskan untuk langsung pergi dari kediaman kedua orang tuanya.

Pelik sekali batinnya, berkecamuk sepanjang jalan. Sampai-sampai keningnya berkerut, menandakan dia sedang berfikir berat. Sehun masih mengendarai motornya tak tentu arah. Dia belum memutuskan akan berhenti di club mana. Sementara itu angin malam bertiup kian kecang menghantarkan suasana dingin yang kian mencekik tubuh. Sepertinya malam hari itu hanya Sehun yang memutuskan untuk keluar dengan motornya daripada mengendarai mobil.

Setelah berputar putar di daerah Myeongdong, Sehun akhirnya memutuskan untuk pergi ke Itaewon. Disana ada club langganannya. Pria itu tampaknya benar-benar ingin mengakhiri malamnya dengan minuman keras. Keputusannya bulat untuk datang ke sana. Kemelut hatinya kian memuncak ketika tubuhnya menolak aroma alcohol yang menusuk indera penciumannya. Tapi pria itu tetap memutuskan untuk menelan mentah-mentah minuman haram itu. Tak peduli akan resiko yang diakibatkan. Tak perlu menunggu waktu yang lama, Sehun kehilangan kendali atas kesadarannya. Pria tampan itu sudah mabuk di sudut club padahal masih ada watu dua jam menuju jam 12 malam.

Seseorang bartender yang melihat kondisi Sehun yang telah mabok, merasa kasihan. Akhirnya dia memilih menghubungi teman terdekatnya atau keluarga yang di daftar kontak ponsel Sehun. Sayangnya tidak ada yang mengangkat sambungan telefon dari Sehun. Hingga sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel pria itu. Telefon dari Baek Su Min.

“Hallo? Ini dengan Hyun Shuk. Maaf pemilik ponsel ini sedang mabuk berat. Dapatkah anda menghubungi pihak keluarga? Saya sudah menghubungi melalui telefon tetapi tidak di angkat. Oh… dia sudah mabuk berat sepertinya tidak bisa pulang sendiri. Anda tahu rumahnya? Bisakah anda menjemputnya disini?” Bartander itu kemudian menyebutkan alamat dan nama club tempatnya bekerja.

Baek Su Min, wanita yang tidak pernah datang ke club malam seumur hidupnya. Tapi malam itu ditemani kedua orang tuanya, dia masuk ke dalam tempat paling bangsat yang pernah dia masuki. Demi menjemput bossnya yang mabuk berat. Kedua orang tua Su Min awalnya menolak menjemput Sehun dengan alasan tidak mengenal pria itu. Tetapi Su Min memaksa untuk menjemput Sehun. Wanita itu sepertinya iba harus membiarkan Sehun yang mabuk dan tak bisa pulang, seorang diri.

Bartander yang mengangkat telefon tadi segera menunjukkan keberadaan Sehun setelah Su Min menyambanginya.

Sehun, pria yang malam itu memakai jaket coklat tua dengan kaos tipis berwarna crem, terlihat tengah tempar di pojok meja. Aroma alkohol menguar dengan kuat menusuk hidungnya. Sepertinya Sehun benar-benar mabok. Pria itu sudah tak sadarkan diri ketika Su Min datang. Dengan bantuan dua orang pria Su Min membawa Sehun ke dalam mobilnya. Kedua orang tua Su Min yang awalnya tampak cuwek kemudian merasa iba. Mereka memutuskan membawa Sehun ke klinik milik mereka.

Sepanjang perjalanan Su Min tak banyak bicara, wanita itu hanya duduk dalam diam dan membiarkan pahanya menjadi bantal tidur Sehun. Walau tak terlihat dengan jelas perasaan yang keluar dalam diri Su Min terhadap Sehun, Nyonya Baek tampaknya dapat menangkap sinyal-sinyal perasaan yang Su Min berikan. Dan entah mengapa wanita itu merasakan perasaan yang tidak enak.

Beliau akui Sehun tampan untuk usia pria dua puluh ke atas. Wajahnyapun terlihat pria yang baik-baik. Dan wanita itu yakini Sehun mapan, terbukti dia sudah menjadi Kepala Sekolahpadahal usianya masih muda. Apabila bersanding dengan putrinya sepertinya pria itu cocok. Hanya saja kenapa hatinya tak mengatakan demikian? Hatinya seolah menolak keberadaan Sehun.

TBC

Iklan

9 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] The Headmaster (Chapter 6)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s