[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Live – (Chapter 7)

IMG_7057(1)(1).JPEG

Tittle/judul fanfic                    : Reason Why I Life

Author                                       : Park Rin

Length                                     : Chaptered

Genre                                      : Romance, Family, Angst

Rating                                      : PG-13

Main Cast&Additional Cast   : Baekhyun

Park Sung Rin (OC)

Mingyu Seventeen

All EXO’s Members

Ect.

Summary                                 : “Aku harap Baekhyun benar-benar tidak membaca semua ini…”

Disclaimer                               : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98. Baca juga di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/

Author’s note : Halo! Ini FF pertama author, semoga kalian suka dengan FF ini. Selamat membaca.

“Rin menjauhlah.” Bisik Baekhyun di telinga Rin. Rin menggeleng, ia tidak tahu apa yang terjadi, namun ia tahu pasti Mingyu sedang marah besar. “Menjauhlah, sekarang!” Baekhyun membentak Rin, kemudian mendorongnya menjauh.

Bug

Satu lagi tinjuan keras di pipi kanan Baekhyun. Rin mulai menangis, ia tidak mengerti mengapa Baekhyun tetap diam saat menerima semua pukulan Mingyu.

“Itu karena Hyung telah membuat adikku menangis.” Mingyu masih mengepalkan tangannya. Ia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya, dan dengan cepat ia menendang tubuh Baekhyun sehingga Baekhyun jatuh tersungkur.

Oppa, cukup!” Rin berteriak kencang, membuat Mingyu tiba-tiba sadar. Mingyu segera mendekati Baekhyun yang masih tersungkur ditanah diikuti dengan Rin.

Hyung, kau tak apa-apa?” Mingyu segera membantu Baekhyun duduk.

“Tendanganmu lumayan juga.” Baekhyun tersenyum setelah berhasil duduk. Ia mengusap darah yang mengalir di ujung bibirnya.

“Maafkan aku.” Kata Mingyu menyesal.

“Jadi, aku sudah mendapatkan kesempatan kedua kan?” Baekhyun kembali tersenyum. Mingyu hanya diam menatap Baekhyun bersalah.

“Sebenarnya ada apa ini?” Tanya Rin yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka semua.

“Kita bicarakan di apartemen saja.” Kata Mingyu datar, ia kemudian membantu Baekhyun berdiri dan membantunya berjalan kembali ke apartemen Rin.

Disinilah Baekhyun dan Mingyu sekarang dengan keadaan kedua tangan terangkat. Didepan mereka terlihat Rin mondar-mandir dengan wajah marah. Setelah selesai mengobati luka Baekhyun, Mingyu menceritakan alasan meninju dan menendang Baekhyun tadi.

“Rin-a, aku sedang sakit. Tak bisakah aku terlepas dari hukuman ini?” Tanya Baekhyun dengan mengeluarkan wajah imutnya. Ini sudah lima belas menit semenjak mereka berdua di hukum Rin.

“Tidak! Ini semua karena kesalahanmu juga, oppa. Mengapa kau menyetujui tawaran gila Mingyu oppa? Bagaimana jika dia membunuhmu?” Rin mengoceh tanpa jeda, membuat Baekhyun segera mengerucutkan bibirnya lucu.

Ya! Aku tidak mungkin sesadis itu.” Kata Mingyu jengkel.

“Apanya yang tidak mungkin? Aku melihat jelas tatapan membunuhmu tadi. Jika saja aku tidak berteriak mungkin kau sudah berakhir dipenjara sekarang, oppa.” Rin membalas kata-kata Mingyu tak kalah jengkel. Baekhyun hanya terkekeh mendengar pertengkaran kedua kakak beradikitu

Bagaimana Rin tidak marah, Mingyu dan Baekhyun benar-benar membuat kesepakatan gila.

FLASHBACK ON

“Rin-a… Rin-a…. bukalah pintunya, aku akan menejaskan semuanya.” Baekhyun menggedor pintu itu keras. Berharap orang yang didalamnya akan membuakakan pintu itu untuknya.

“Rin, tidak akan membukakan pintu itu untukmu, Hyung.” Suara laki-laki yang Baekhyun kenal mengejutkannya. Tidak salah lagi itu, Mingyu.

“Mingyu, tolong aku. Aku harus bertemu Rin sekarang.” Baekhyun menatap Mingyu memohon.

“Sebenarnya hubungan apa yang kalian miliki hingga Rin bisa sesedih ini?” Mingyu menatap Baekhyun bingung.

“Aku dan Rin sudah berpacaran semenjak dua hari yang lalu.” Kata Baekhyun membuat Mingyu melotot. Ia tidak menyangka hubungan Baekhyun dan adiknya hingga sejauh itu, selama ini Mingyu hanya mengira bahwa Baekhyun dan adiknya hanya sebatas idola dan fans yang beruntung.

“Kau memacari adikku? Kemudian kau mengeluarkan skandal besar?” Mingyu bertanya marah, meskipun ia masih kaget dengan fakta hubungan Baekhyun dan adiknya. Ia lebih tidak bisa menerima bahwa Baekhyun menyakiti adiknya secepat ini.

“Maafkan aku, aku mempunyai alasan kuat mengenai hal ini.”

“Aku tidak bisa memaafkanmu, hyung. Seberapa kuatpun alasanmu aku tidak bisa memaafkanmu.” Mingyu menggeleng, emosinya mulai mencuat.

“Kumohon berikan aku kesempatan satu kali lagi.” Baekhyun menunduk.

Mingyu menatap Baekhyun geram, tangganya mengepal erat siap menonjok siapapun yang menyentuhnya.

“Aku akan memberikanmu kesempatan satu kali lagi, tapi aku memiliki syarat.”

“Apa syaratnya?”

“Kau harus bersedia aku pukuli hingga aku merasa bahwa kau cukup terluka sama seperti adikku.” Kata Mingyu berusaha mengontrol nada suaranya.

“Apa hanya itu syaratnya?”

Ne, aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir hyung. Pergilah sekarang!” Mingyu berusaha dengan keras menahan emosinya yang benar-benar naik.

“Mengapa tidak sekarang?” Baekhyun menatap Mingyu lekat, tatapannya seolah mengajak Mingyu untuk segera memukulinya.

“Diamlah, Hyung! Aku tidak akan bisa mengontrol diriku, jika aku memukulimu sekarang.” Mingyu menatap tajam Baekhyun. “Setidaknya, kau minta maaf dahulu kepada adikku sebelum kau tidak bisa mendapat maaf lagi.” Tambah Mingyu.

“Baiklah, aku akan pergi. Aku akan minta maaf dulu kepada Rin sebelum kau membunuhku.” Baekhyun berjalan menjauh. Mingyu tetap mengepalkan tangannya.

FLASHBACK OFF

“Rin-a kapan kami selesai dihukum? Aku ada latihan setelah ini.” Mingyu mulai mengeluh, lima belas menit lagi ia harus memulai latihan siangnya.

“Baiklah, hukumannya selesai. Jangan ulangi lagi perbuatan kalian, aku tidak ingin ada yang terluka karenaku.” Rin menyudahi acara menghukum Mingyu dan Baekhyun.

“Tidak usah khawatir, tidak ada yang terluka memang. Tetapi, ada yang terbunuh.” Kata Baekhyun jahil. Rin yang mendengarnya langsung melotot, sementara Mingyu hanya tersenyum geli.

Rin menatap mereka berdua jengkel. “Sebelum itu terjadi, aku yang akan mati duluan.” Kata Rin asal sambil melipat tangannya.

Pluk

Kepala Rin dijitak halus oleh Mingyu. Ia menatap Rin kesal, begitu juga dengan Baekhyun. Rin hanya menatap mereka seolah bertanya ada yang salah.

“Jangan berkata hal aneh.” Kata Baekhyun sambil mengacak rambut Rin hingga yang punya mendecak marah.

“Makanya kalian juga jangan berkata aneh.” Rin ikut menyahut sengit.

“Sudahlah, aku harus pergi sekarang. Jika tidak, aku yang akan terbunuh karena terlambat latihan.” Mingyu beranjak bangun dari duduknya. Ia meregangkan tangan dan pinggangnya yang terasa pegal karena hukuman Rin tadi.

“Pergilah latihan dengan Baik, Mingyu-ya.” Baekhyun melambaikan tanggannya pada Mingyu dengan santai. Mingyu yang melihatnya hanya mengangguk.

“Hati-hati dijalan.” Pesan Rin sebelum Mingyu menghilang di balik pintu.

Ne!” Sahut Mingyu, sebelum ia benar-benar keluar dari apartemen Rin.

“Jadi, sekarang apa yang harus kita lakukan?” Tanya Rin pada Baekhyun, setelah Mingyu meninggalkan mereka bedua di apartemen Rin.

“Rin-a, bagaimana jika kita lanjutkan acara makan kita? Aku masih lapar” Ucap Baekhyun memelas. Rin menepuk kepalanya pelan, ia lupa ia ditengah acara sarapan siangnya.

“Makanlah oppa, aku sudah kenyang.” Rin mempersilahkan kembali Baekhyun untuk makan. Entah kenapa dirinya perutnya terasa tak nyaman sejak memulai makan tadi, mungkin efek maagnya kemarin.

“Kau yakin sudah kenyang? Kau baru memakan dua sendok bubur.” Baekhyun terdengar khawatir.

“Aku sudah kenyang sungguhan, oppa.” Rin meyakinkan Baekhyun bahwa ia memang sudah benar-benar kenyang.

“Baiklah.” Baekhyun pasrah, ia kembali menuju meja makan dan melanjutkan acara makan mereka yang terganggu tadi.

“Ngomong-ngomong, kenapa oppa tidak segera menghubungiku setelah skandal itu keluar? Setidaknya oppa-kan bisa menghubungiku terlebih dahulu.” Rin mengikuti Baekhyun menuju meja makan. Ia bicara sambil menopangkan dagunya di kedua tangannya.

“Ponselku disita agensi, katanya aku tidak boleh melihat ponselku jika aku tidak ingin terluka.” Baekhyun fokus pada makanannya saat bicara, namun Rin dapat merasakan ada nada sedih dibalik ucapan Baekhyun.

Keheningan menyelimuti keduanya, Rin sadar ia menanyakan pertanyaan yang salah meskipun ia sangat ingin tahu jawabannya. Sementara Baekhyun sedang berusaha fokus kemakanannya, dadanya tiba-tiba terasa sesak kembali. Meskipun ponselnya disita, Baekhyun tidak mungkin tidak mendengar semua kebencian yang terlontar untuknya. Baekhyun hanya berpura-pura kuat.

Baekhyun melirik jam tangan cokelatnya sebentar, “Rin-a aku harus kembali sekarang, aku ada jadwal.” Kata Baekhyun setelah jam menunjukan pukul setengah satu siang. Rin kemudian menangguk, mengantarkan Baekhyun keluar.

“Hati-hati dijalan, oppa. Kau beneran yakin tidak butuh di teleponkan manager.” Rin menatap Baekhyun khawatir.

“Tidak usah khawatir, aku akan menggunakan bis untuk pulang. Lagipula disini kan khawasan yang cukup sepi, tidak mungkin ada yang mengenaliku.” Kata Baekhyun sambil tersenyum manis, ia mengusap kepala Rin, berusaha menenangkan kekasihnya yang sedang khawatir itu. “Jika ada apa-apa kau bisa menghubungiku lewat Chanyeollie.” Pesan Baekhyun keluar dari pintu. Rin menangguk kemudian menutup pintu dan menguncinya setelah Baekhyun keluar.

Rin bersiap untuk mandi, ia mengambil handuk beserta perkakas mandinya kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dua puluh menit mandi, Rin keluar dengan muka segar dan handuk melilit di atas kepalanya. Ia melirik jam yang tergantung di ruang tengah, lima belas menit lagi ia akan berangkat kerja.

Pukul eman sore, Rin melangkahkan kakinya pulang. Ia menusuri trotoar jalan dengan tidak semangat. Tangannya sibuk men­-scroll layar ponselnya yang tengah menampilkan salah satu berita dari Baekhyun. Rin mengigit bawah bibirnya,k omentar-komentar kebencian yang ditujukan kepada Baekhyun sungguh mengerikan. Ia sangat kasihan pada kekasih tersayangnya, jika saja semua orang tahu yang sebenarnya Baekhyun tidak mungkin mendapat kebencian sebesar ini.

Rin memasukan password apartemennya, kemudian berjalan menuju kamarnya untuk menganti baju dan memasak ramen. Setelah selesai membuat ramen, Rin melangkahkan kakinya menuju sofa bersama dengan semangkuk ramen panas ditangannya. Tangannya masih setia membuka ponselnya.

Matanya terus membaca komentar-komentar negatif yang Baekhyun terima, ia juga melihat petisi-petisi yang dilayangkan untuk Baekhyun. Selain itu, ia juga membaca tentang postcard Baekhyun yang tak tersentuh padahal selama ini Baekhyun termasuk member tercepat dalam penjualan marchandise. Rin terdiam, ia kembali mengingat wajah Baekhyun yang tiba-tiba suram saat ia bertanya mengenai ponselnya. “Aku harap Baekhyun benar-benar tidak membaca semua ini…” Rin kemudian bangun dari tempat nyamannya, bersama dengan ramen yang baru dimakannya satu suap. Rin merasa mual entah kenapa.

Dua hari setelah kejadian itu, Rin dan Baekhyun tidak bertemu. Sebenarnya, Rin yang melarang Baekhyun untuk pergi menemuinya, asalasannya karena berita skandal itu masih panas. Rin tidak mau Baekhyun mendapatkan masalah lebih karena ketahuan menemui seorang wanita.

Meskipun tidak pernah bertemu dan Baekhyun yang tidak memegang ponselnya, Rin dan Baekhyun tetap berkomunikasi lewat Chanyeol. Chanyeol yang awalnya khawatir dengan hubungan keduanya, mulai berusaha berfikir positif. Setidaknya Baekhyun dan Rin tidak bertemu untuk sementara waktu, mereka menuruti nasehatnya.

Sore itu Rin pulang dari bekerja setelah lima jam menghabiskan harinya di toko itu. Hari ini adalah hari Minggu, Rin teringat bahwa akan ada Inkigayo hari ini. Jadwal Inkigayo hari ini terasa sangat mengkhawatirkan bagi Rin, karena Baekhyun akan tampil perdana di stasiun televisi lewat acara ini setelah skandal tersebut. Terlebih Rin tidak dapat menonton langsung acara tersebut karena tiba-tiba bosnya meminta tolong untuk memanjangkan jadwal bekerja Rin hari ini. Setelah bekerja pun Rin tidak bisa menonton acara tersebut di televisi apartemennya karena ia harus pergi ke supermarket untuk membeli persediaan makanan, Rin baru ingat sebelum pulang kerja tadi bahwa persediaan makanannya benar-benar tidak tersisa.

Saat melewati pedagang tv di supermarket itu, Rin tertarik pada TV yang sedang menyiarkan inkigayo. Rin melihat Baekhyun sedang memandu acara itu bersama Suho, Kwanghee, dan Yoobi ia melihat Baekhyun berusaha tersenyum, meskipun terlihat begitu dipaksakan. Acara itu telah memasuki bagian terakhir, Taeyang memenangi acara itu dengan lagunya Eyes, Nose, Lips. Rin masih terfokus pada Baekhyun saat itu, sesaat sebelum encore Rin dapat mendengar fans berteriak keras, bukan untuk Taeyang melainkan untuk Baekhyun.

“Baekhyun Penghianat..” Teriak fans disana membuat Rin diam, meskipun tidak jelas Rin bisa mendengarnya, bahkan Taeyang juga terlihat kaget mendengar teriakan fans disana.

Rin segera menyudahi acara berbelanjanya dan segera pulang ke apartemennya. Rin segera menuju halte dan menaiki bis menuju ke apartemennya. Di bis Rin segera membuka ponselnya, jarinya segera mengklik nama Suho oppa. Rasa khawatirnya sudah melewati batasnya, ia benar-benar harus mengetahui dimana kekasihnya itu sekarang.

Oppa, Apakah Baekhyun oppa bersamamu?” Rin segera menekan tombol send setelah mengetikkan kalimat itu.

Rin menyalakan dan mengunci kembali ponselnya sekedar untuk mengecek apakah sudah ada balasan atau belum. Ini sudah pukul setengah sembilan malam dan Suho belum mengirimkan balasan.

Ia membuka ponselnya kembali, kali ini bukan untuk mengecek pesan melainkan untuk mengirimi seseorang pesan. Orang itu adalah Chanyeol, Rin berdoa semoga Baekhyun ada di dekat Chanyeol sekarang.

Oppa, apakah Baekhyun Oppa bersamamu?” Rin segera mengirimkannya. Rin berdoa supaya Chanyeol segera membalas pesannya, Rin tahu Chanyeol adalah orang yang terbiasa untuk memegang ponselnya sepanjang waktu.

Ponselnya bergetar, Rin segera membukanya.

“Tidak, ada apa?” Chanyeol membalas pesan itu, Rin seketika kecewa karena Chanyeol tidak bersama Baekhyun sekarang. Tak lama ponselnya bergetar panjang, Chanyeol menteleponnya.

Ne, Oppa.” Rin segera menjawab telepon itu.

“Ada apa Rin-a? Apakah terjadi sesuatu dengan Baekhyun?” Suara Chanyeol terdengar serak khas orang baru bangun tidur.

Oppa, kau belum menonton Inkigayo hari ini?”

“Belum, memangnya ada apa? Tadi aku ada jadwal sehingga tidak menonton tv sama sekali, dan sampai dorm aku langsung tertidur.” Rin mengigit bibirnya pelan.

“Ada sesuatu yang terjadi di Inkigayo, Oppa. Aku tidak enak menceritakannya, kau harus melihatnya sendiri. Tapi, sebelum melihatnya bisakah dirimu mencari tahu Baekhyun dimana?”

“Oke, aku akan mengirimimu pesan setelah aku menememukan anak itu. Aku tutup ya teleponnya.” Kata Chanyeol mengerti.

Ne, oppa.” Rin mengucapkannya pelan kemudian telepon itu tertutup.

Rin melihat layar ponselnya, ada sebuah pesan masuk saat ia sedang berteleponan dengan Chanyeol tadi. Rin sedikit lega, Suho mengiriminya pesan.

“Rin-a, bisakah kau mengirimiku alamat apartemenmu?” Tulis Suho di pesannya.

Rin segera mengetikkan alamat apartemennya, meskipun ia bingung dengan Suho yang tiba-tiba menanyakan alamatnya. Dipikiran Rin Suho pasti menanyakan alamatnya bukan untuk bermain-main karena Suho bukan tipe orang yang senang bermain-main, apalagi disaat yang mengkhawatirkan seperti sekarang. Rin hanya berdoa semoga setelah mengirimkan alamat apartemennya Suho akan memberikan berita baik mengenai Baekhyun

Dua puluh menit setelahnya pintu apartemennya berdenting, Rin segera mebukakan pintu apartemennya. Dua laki-laki berdiri dihadapannya, salah satu laki-laki disana terlihat mabuk dan satunya lagi membopong laki-laki mabuk itu. Laki-laki mabuk itu adalah Baekhyun dan satunya lagi adalah Suho.

Rin segera mepersilahkan mereka berdua masuk tanpa banyak bicara. Ia segera mengarahkan Suho menuju kamarnya. Suho masuk ke kamar Rin, dan segera menjatuhkan Baekhyun ditempat tidur Rin. Rin dengan cekatan melepas sepatu dan melonggarkan kemeja yang dikenakan Baekhyun, sementara Suho meregangkan pinggul dan kedua tangannya.

“Ada apa dengan Baekhyun oppa, oppa?” Tanya Rin setelah selesai membenarkan posisi Baekhyun.

“Kita bicarakan diluar saja.” Jawab suho pelan. Rin hanya menangguk dan mengikuti langkah Suho keluar kamar.

Rin mempersilahkan Suho untuk duduk, Suho kemudian duduk di kursi meja makan. Rin kemudian melangkahkan kakinya ke dapur, ia dengan cekatan menyeduh teh hangat untuknya dan Suho. Setelah selesai menyeduh teh hangat, Rin bergabung dengan Suho duduk di meja bulat itu.

“Jadi, Baekhyun oppa mabuk karena kejadian Inkigayo tadi?” Tanya Rin memastikan setelah Suho menceritakan semuanya. Suho menangguk kemudian meneguk teh hangat yang diberikan oleh Rin.

“Sepertinya Baekhyun benar-benar terluka, hingga dia bisa minum sebanyak tadi. Aku sudah berusaha untuk melarangnya minum, namun ia tetap saja menghabiskan minumannya. Maafkan aku karena membawanya kesini, aku tidak mungkin membawanya ke dorm dengan keadaan seperti itu.” Kata Suho pelan.

“Tidak apa-apa.” Jawab Rin pelan. Mata Rin kemudian terfokus pada gelas tehnya yang sudah habis setengah, ia mulai mengkhawatirkan Baekhyun.

“Sudahlah, Baekhyun akan baik-baik saja. Sebentar lagi kemarahan fans akan berkurang.” Kata Suho sambil ia mengusap punggung Rin halus.

“Aku harap itu segera terjadi.” Jawab Rin pelan. Ia kemudian menengguk teh tersebut hingga habis.

Suho memutuskan untuk menginap juga di apartemen Rin. Suho dan Baekhyun akan tidur di kamar Rin, sedangkan Rin akan tidur di kamar Mingyu. Rin segera membuka ponselnya dan mengirimkan pesan pada Chanyeol bahwa sekarang Suho dan Baekhyun sudah ada bersamanya dan ia juga mengatakan bahwa mereka berdua akan menginap di apartemennya.

“Baiklah jika seperti itu Rin, aku percayakan Baekhyun kepadamu dan Suho hyung” Balas Chanyeol.

“Oke.” Balas Rin singkat kemudian menaruh ponselnya di meja. Ia kemudian menatap Baekhyun yang tidur pulas. Suho sedang mandi sekarang, jadi Rin memutuskan untuk menemani Baekhyun sebelum ia pergi tidur.

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti kalian.” Baekhyun mulai mengigau. Rin yang melihat itu semua langsung menggenggam tangan Baekhyun. Ia mengusap-ngusap punggung tangan itu pelan.

“Maafkan aku, tolong maafkan aku.” Baekhyun mulai menangis di dalam tidurnya. Rin menatap Baekhyun iba, Rin terus mengusap punggung tangan itu berharap Baekhyun akan segera tenang. Jujur ia tidak tahu harus mengucapkan apa kepada Baekhyun yang tengah mabuk ini.

 

Iklan

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Live – (Chapter 7)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s