[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 14)

poster-secret-wife4

 

Tittle             : SECRET WIFE

Author         : Dwi Lestari

Genre           : Romance, Friendship, Marriage Life

Length          : Chaptered

Rating          : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

 

Disclaimer           : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note       : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

 

 

 

Chapter 14 (Twins Birthday)

 

 

Ting tong.

Suara bel berbunyi di kediaman keluarga Park. Pelayan rumah tersebut, sedang sibuk menyiapkan sarapan. “Siapa pagi-pagi seperti ini berkunjung?”, tanya nyonya Park entah pada siapa. Dia sekarang sedang duduk di tempat makan, menunggu kedua putranya untuk sarapan bersama.

“Biar saya yang membuka samunim”, tawar seorang ahjumma paruh baya yang telah selesai menuangkan air putih.

“Emh”, nyonya Park mengangguk.

Pelayan itu segera berjalan menuju pintu rumah.

Dari lantai dua datanglah putranya. Dengan setelan jas rapi yang pas ditubuhnya serta mantel ditangan kirinya. “Selamat pagi eomma”, dia mencium kedua pipi ibunya.

“Selamat pagi sayang”, jawab sang ibu.

Namja itu meletakkan mantelnya disandaran kursi, menarik kursi tersebut dan mendudukinya. “Sepertinya aku mendengar suara bel rumah, siapa yang pagi-pagi seperti ini bertamu?”, dia kembali mengeluarkan suara.

Eomma juga tak tahu, sayang. Jung ahjumma sedang membukanya”.

Sementara itu, Jung ahjumma sudah membukakan pintu utama kediaman keluarga Park. Dari sana terlihat seorang gadis tengah berdiri dengan membawa kotak, seperti tempat makanan.

Annyeong haseyo”, sapa gadis itu ramah. Dia bahkan membungkukan badannya.

“Nona Junghae?”.

Gadi itu mengangguk. “Apa Park ahjumma ada?”.

Ne. Mari silahkan masuk. Samunim sedang sarapan”.

Gadis itu mengangguk kembali. Dia mengikuti kemanapun ahjumma itu membawanya.

Samunim. Nona Junghae mencari anda”, setelah mengatakan itu, Jung ahjumma meninggalkan ruang makan.

“Selamat pagi”, kata Junghae.

Nyonya Park menoleh yang diikuti oleh putranya. “Junghae-ya. Selamat pagi juga”, nyonya Park kini berdiri.

Junghae mendekat kearah nyonya Park. Dia mencium kedua pipinya. “Bagaimana kabarmu ahjumma?”.

“Seperti yang kau lihat sayang. Aku baik-baik saja”.

“Syukurlah”, Junghae kini menoleh kearah Chanyeol. “Selamat pagi oppa. Apa tidurmu nyenyak?”, dia menyapanya.

“Iya, setidaknya aku bisa bangun pagi”, jawabnya yang diikuti dengan senyum diwajahnya.

“Ah, ini untukmu ahjumma”, Junghae menyodorkan kotak yang dibawanya.

“Apa ini sayang?”, tanya nyonya Park sambil menerima kotak tersebut.

“Aku tidak tahu. Eomma yang menyuruhku memberikannya pada ahjumma”, Junghae mengedarkan pandangan seperti mencari sesuatu.

“Kau tak mau duduk”, kata nyonya Park yang melihat Junghae masih berdiri.

Ne”, Junghae mengikuti saran nyonya Park. “Dimana Sehun oppa?”.

“Kau mencariku?”, dari arah tangga terdengar suara orang yang Junghae cari. Tidak seperti biasa, Sehun kini berbalut setelan jas. Sangat rapi bahkan dia memakai dasi. Dia juga membawa mantel ditangan kirinya. Dia mendekat ke arah meja makan. Meletakkan mantelnya disandaran kursi dan duduk disebelah Junghae.

“Karena semua sudah berkumpul ayo kita sarapan. Sebentar, Junghae belum mendapatkan piring. Jung ahjumma”, nyonya Park memanggil pelayan rumahnya.

“Tidak perlu ahjumma. Aku sudah sarapan”, dengan nada yang sangat lembut Junghae menolaknya.

“Benarkah!”, nyonya Park kembali bertanya.

Ne”, kata Junghae sambil menggangguk. Dia menoleh kearah Sehun. “Oppa, kau benar-benar akan membuka cabang perusahaanmu disini?”, dia bertanya pada Sehun.

“Iya. Mereka sudah menyetujui harga yanga aku tawarkan. Aku akan menemui pemilik tanah setelah ini”, ada raut bahagia di wajah tampan Sehun.

“Aku punya investor untukmu. Semalam dia menghubungiku”, jelas Junghae.

“Apa aku mengenalnya?”.

“Aku tidak yakin kau mengenalnya. Tapi dia bilang jika dia mengenal Chanyeol oppa”, Junghae kini menoleh kearah Chanyeol.

“Aku”, Chanyeol menunjuk dirinya sendiri.

Junghae mengangguk membenarkan. “Namanya Ariel Hwang. Nama Koreanya…. Hwang….”, Junghae terlihat berfikir. “Ah, entahlah aku lupa”, lanjutnya setelah dia benar-benar tak mengingatnya.

“Ariel Hwang. Apa kau benar-benar mengenalnya hyung?”, Sehun kini bertanya pada Chanyeol.

“Ariel Hwang…”Chanyeol juga terlihat sedang berfikir. “Seingatku, aku tak punya kenalan dengan nama itu”, lanjutnya. “Tunggu. Marganya Hwang……. Entahlah!”, pasrahnya kerena tak juga mengingat.

“Ini aneh. Apa dia membohongiku? Aku akan menanyakan lagi padanya nanti”, Junghae melirik jam tangannya sekilas. Ada raut terkejut di wajah cantiknya. “Aku akan terlambat”. Junghae berdiri dari tempat duduknya. “Aku harus pergi semuanya. Ada meeting penting pagi ini. Selamat tinggal ahjumma. Selamat tinggal oppa.”, Junghae segera berjalan meninggalkan tempat tersebut.

“Iya, hati-hati sayang”, jawab nyonya Park

“Kau tak ingin sarapan dengan kami?”, tanya Sehun yang melihat Junghae sudah berjalan menjauh.

“Tidak, aku sudah sarapan oppa”, jawab Junghae. Dia terlihat berhenti dan menoleh. “Datanglah saat makan siang nanti, jika kau kau tertarik dengan investor yang aku ceritakan tadi”. Junghae kembali berjalan, lalu menghilang dibalik pintu.

“Gadis yang benar-benar sibuk”, seru Sehun kemudian setelah Junghae menghilang. “Lalu untuk apa dia kemari?”, tanya Sehun.

“Dia memberikan ini”, nyonya Park mengangkat kotak yang tadi diberikan Junghae.

“Apa itu ommonim?”, tanya Sehun kembali.

“Entahlah, aku belum membukanya”. Ditaruhnya kotak tersebut di atas meja. Kain penutupnya dibuka, lalu tutup kotak tersebut. Kotak itu berisi makanan. Nyonya Park tersenyum melihatnya, itu adalah makanan kesukaannya. Apalagi jika sahabatnya itu yang memasak untuknya, owh rasanya akan berlipat-lipat enaknya.

“Bukankah itu makanan kesukaanmu eomma”, seru Chanyeol yang sudah melihat isi kotak tersebut.

“Iya kau benar sayang. Kapan dia menyiapkan ini semua? Kim Haejung memang sesuatu”. Nyonya Park mencium sejenak wangi makanan tersebut. Bahkan asap kecil masih mengepul dari kotak tersebut, tanda jika makanan tersebut masih hangat. Nyonya Park berinisiatif mengambil wadah untuk menyajikan makanan tersebut. Namun saat akan melangkah, pintu ruang makan tersebut kembali terbuka. Junghae kembali muncul dari pintu tersebut. Nyonya Park menatapnya dengan tatapan heran.

Junghae hanya tersenyum melihatnya. Dia berjalan mendekat ke arah mereka. “Ada yang terlupakan. Nanti malam ahjumma diundang makan malam ke rumah”, dia berbicara pada nyonya Park. “Kenapa aku bisa lupa, padahal itu tujuan utamaku datang kemari”, dia kini berbicara kembali pada dirinya.

“Makan malam!”, kata nyonya Park memastikan, yang dijawab dengan anggukan oleh Junghae. “Memangnya ada acara apa sayang?”, nyonya Park kini bertanya.

“Aku tak yakin. Tapi kurasa ulang tahun Jongin oppa dan Jungra eonni”.

“Ah, kurasa iya. Bukankah sekarang tanggal 14?”, nyonya Park membenarkan penuturan Junghae.

Sehun melihat ponselnya sebentar untuk memastikan. “Benar, sekarang tanggal 14. Kenapa aku bisa lupa! Aku bahkan belum mengucapkan selamat untuk mereka”, kata Sehun setelah memasukan kembali ponselnya.

“Karena itulah kalian juga harus ikut”, Junghae menunjuk kearah Sehun dan Chanyeol.

“Tentu”, jawab Sehun. Dan Chanyeol hanya memilih mengangguk sebagai jawaban.

“Kalau begitu, aku harus pergi kembali. Selamat tinggal”, Junghae memilih mencium kedua pipi nyonya Park sebelum meningalkan rumah tersebut.

 

***

 

Jungra kembali menyeruput kopinya. Dengan mata yang tak lepas menatap jendela. Salju kembali turun siang itu, semakin lebat dari terakhir dia datang ke tempat itu. D’smith Coffe, nama itu yang tertulis di jendela kaca tempat dimana Jungra menikmati secangkir kopi. Dia melirik jam tangannya kembali. Ini sudah 15 menit dari waktu yang dijanjikan. Gadis itu pasti sangat sibuk, pikirnya. Atau bisa jadi dia terjebak macet. Berbagai pikiran muncul dikepalanya. Dia hanya membuang pasrah nafasnya dan kembali meletakkan cangkirnya.

Jika saja ini bukan demi perusahaannya dia pasti tak akan mau menunggu. Ah, seharusnya dia mendatangangi gadis itu ketempat kerjanya. Ini memang salahnya, karena memilih tempat lain untuk bertemu. Dia kembali membuang pasrah nafasnya.

Sementara itu sebuah taksi berhenti tepat di depan kafe tersebut. Seorang gadis turun dengan meneteng tas ditangan kirinya. Dia merapatkan mantelnya dan berjalan tergesa memasuki kafe. Dia berhenti sejenak di depan pintu, membersihkan sebentar salju yang menempel dimantel maupun rambutnya. Setelah merasa cukup bersih, dia kembali meneruskan langkahnya memasuki kafe. Mengedarkan pandangannya mencari sosok yang mengajaknya bertemu di tempat tersebut.

Dia menemukannya. Gadis yang dia cari tengah duduk manis di meja dekat jendela. Gadis itu terlihat tengah menikmati secangkir minuman. Dengan senyum yang mengembang dia berjalan mendekati gadis itu. Menepuk punggunya sebelum menyapanya, “Eonni”.

Gadis itu menoleh. Senyum manis juga tercetak diwajahnya. Dia tahu jika dia sudah sangat terlambat. Karena itu, dia kembali bersuara sebelum gadis itu bersuara.

Mianhae. Aku tahu aku sudah terlambat. Aku tak pernah menyangka aku akan benar-benar sibuk”.

Gwenchana. Kau tak akan duduk?”, gadis itu tersenyum. Owh, ini tidak seperti yang ia bayangkan. Dia mengira jika kakaknya akan marah padanya. Tapi lihat, bahkan dia berkata tak apa-apa. Nada bicaranyapun tak menunjukkan jika gadis itu marah.

“Syukurlah”, dia membuang nafas leganya. Dia kemudian duduk berhadapan dengan gadis itu. “Kenapa eonni mengajakkku kemari? Jika memang ada perlu, kita bisa bicara di rumah nanti”, dia benar-benar terlihat sibuk. Bahkan sekarang dia langsung bertanya maksud diajaknya dia ditempat tersebut.

“Aku hanya tak ingin menunda pekerjaan Junghae”.

Junghae mengangguk paham. “Ya, itu memang sifatmu. Tunggu, eonni bilang jika tak ingin menunda pekerjaan. Memangnya pekerjaan apa itu?”, Junghae kembali bertanya. Dia sedikit penasaran dengan apa yang dilakukan kakaknya itu.

“Aku ingin minta bantuanmu”, dia terlihat tak enak mengatakannya. “Kau tak ingin minum dulu?”, lanjutnya.

“Tidak perlu”.

“Apa kau benar-benar sibuk?”.

“Eoh, banyak yang harus aku selesaikan hari ini. Besok aku harus berangkat ke jeju”.

Jungra menghela nafasnya sebentar. “Bulan depan Davichi akan mengelurkan album terbarunya. Tapi desainer perusahaanku kecelakaan kemarin, dan dia harus dirawat dirumah sakit untuk beberapa minggu. Ada sedikit masalah tengan tangannya. Aku memintamu untuk…”, Jungra belum sempat melanjutkan ceritanya, namun Junghae sudah menyelanya.

“Membuatkan baju untuk mereka”, Junghae tersenyum setelahnya.

“Gadis pintar. Tapi setidaknya baju itu harus selesai minggu depan. Kita harus memulai syuting untuk pembuatan video klipnya”, Jungra juga ikut tersenyum mendengarnya.

“Minggu depan! Jangan bercanda eonni. Kau pikir mudah membuat baju. Dan lagi ini tinggal seminggu. Aku tak yakin akan menyelesaikannya”, ada raut tak menyenangkan di wajah Junghae. Entah itu marah, terkejut, atau kecewa.

“Apakah tidak bisa? Aku mohon Junghae, aku tak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Ah sebentar”, Jungra terlihat sedang mencari sesuatu dalam tasnya. “Ini. Dia sudah membuat beberapa desain. Sebenarnya ini sudah setengah jadi, hanya saja kau tahukan jika tangannya punya sedikit masalah”, Jungra menyerahkan tabletnya.

Junghae terlihat sibuk memeriksa gambar tersebut. Tangannya bahkan tak henti menggeser layar benda segi empat tersebut. “Tak terlalu rumit. Baiklah, ini demi kakak tercintaku. Aku akan membuatkannya”, Junghae kembali menatap Jungra. Senyum manis juga tercetak di wajahnya.

“Kau memang bisa diandalkan sayang”, Jungra membuang nafas leganya. Dia bahkan mengacak pelan rambut Junghae.

“Singkirkan tanganmu eonni”, Junghae mencoba menyingkirkan tangan kakaknya dari rambutnya. “Kenapa semua orang hobi sekali mengacak-acak rambutku”, Junghae terlihat kesal saat merapikan kembali tatanan rambutnya.

Kruk. Kruk. Terdengar bunyi yang membuat Jungra tertawa. “Kau lapar?”, dia bertanya pada Junghae.

Owh sial, kenapa perutnya harus berbunyi disaat seperti ini. Membuatnya malu saja. Junghae terlihat tersenyum kikuk. Dia kemudian mengangguk.

“Kau lihat restoran diseberang jalan sana?”, Jungra menunjuk kearah sebuah bangunan yang terlihat dari jendela di seberang jalan. “Bagaimana jika kita makan disana. Kebetulan aku juga belum makan siang”, ajak Jungra.

Junghae melihat sebentar restoran tersebut. “Ne”, Junghae juga mengangguk saat mengatakannya.

Setelah membayar tagihan minumannya Jungra mengajak Junghae menuju restoran tersebut. Tak butuh waktu lama, bahkan ini kurang dari sepuluh menit mereka sudah sampai di tempat tujuan. Mereka memilih tempat duduk di pojok ruang, dekat jendela dan juga dekat dengan akuarium. Tak lama setelah mereka duduk seorang pelayan restoran datang dengan membawa buku menu. Pelayan itu pergi setelah mencacat menu yang mereka pesan.

Suara dering ponsel tiba-tiba berbunyi memecah keheningan mereka yang menunggu pesanan datang. Dan itu berasal dari dalam tas Junghae. Junghae segera merogoh tasnya. Mengambil ponselnya, melihat layarnya sebentar sebelum mengangkatnya.

Yeobseyo”, jawabnya setelah menggeser tombol hijau diponselnya.

Yak, kau dimana sekarang? Kau menyuruhku mengunjungimu saat makan siang. Tapi saat aku datang kemari kau justru sudah pergi”, suara namja terdengar dari seberang sana. Nada bicaranya terdengar marah.

Oppa, mianhae. Tiba-tiba saja Jungra eonni menelfon ingin bertemu. Kemarilah, kami sedang makan siang”, Junghae menanggapinya dengan santai. Dia tak ingin menambah kemarahan namja itu.

“Baiklah! Kau dimana sekarang?”, namja itu terdengar pasrah saat mengatakannya.

“Olive chicken restaurant. Cepatlah datang!”, setelah mengatakan itu Junghae menutup sambungan telfonnya.

Nuguya?”, tanya Jungra.

“Sehun oppa”, Junghae tersenyum saat mengatakannya. “Tidak apa-apakan jika aku mengajaknya kemari?”, dia terlihat sedikit khawatir dengan reaksi kakaknya.

Gwenchana”, kata Jungra dengan nada datar. Tak ada raut tak suka di wajahnya.

“Ah, aku ke kamar mandi sebentar”.

Setelah mengatakan itu Junghae meninggalkan kakaknya. Dia bertanya pada seorang pelayan dimana letak kamar mandi. Dia membasuh wajahnya setelah menemukannya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar yang tergantung kokoh di depannya. “Apa Jugra eonni benar-benar sudah berbaikan dengan Sehun oppa?”, Junghae terlihat sedang berfikir. “Seharusnya kemarin sudah berhasil. Tapi wajahnya tak menunjukan jika dia kesal tadi. Wah, sepertinya Jungra eonni sudah benar-benar berubah”, dia tersenyum sendiri saat mengatakannya. Junghae menarik nafas panjangnya sebelum keluar dari kamar mandi.

Dia kembali berjalan menemui kakaknya. Namun dia sempat berhenti saat tahu jika meja yang tadi ditempatinya sudah penuh dengan dua namja yang duduk bersama dengan kakaknya. Hanya ada satu kursi kosong tampanya duduk tadi. Dia kembali melanjutkan langkahnya setelah mengenal siapa sosok yang duduk bersama dengan kakaknya. Salah satunya sudah pasti Sehun yang tadi menghubunginya. Dan namja yang satunya adalah kakak dari Sehun yang tak lain adalah suaminya. Mereka tengah mengobrol ringan.

‘Bagaimana mereka bisa bersama’, pikir Junghae. Dia memilih langsung duduk di tempatnya semula.

“Kau lama sekali”, tanya Jungra.

“Ada sedikit masalah dengan perutku”, bohongnya. Dia memang tak sedang sakit perut. Dia hanya sedang terfikirkan sesuatu. “Chanyeol oppa juga ikut”, Junghae kini melihat kearah Chanyeol.

“Aku tak sengaja bertemu dengannya di depan restoran tadi. Jadi aku mengajaknya sekalian kemari”, jelas Sehun.

Chanyeol mengangguk. “Kebetulan aku baru selesai bertemu dengan klienku tadi”, jawabnya kemudian.

Setelahnya pesanan mereka datang. Mereka sibuk menikmati makanannya.

“Sepertinya aku tertarik dengan investormu. Siapa dia sebenarnya?”, tanya Sehun memulai pembicaraan.

Junghae menelan makanan dimulutnya sebelum menjawab, “Ah, sekarang aku ingat siapa nama koreanya?”, Junghae terlihat senang saat mengatakannya. Dia senang karena telah mengingat apa yang seharusnya diingatnya.

Nuguya?”, Sehun kembali bertanya. Jungra yang tak paham dengan percakapan mereka memilih diam, dan menikmati makanannya. Berbeda dengan Chanyeol, dia terlihat diam, namun sebenarnya dia juga mendengarkan percapaan mereka. Dia sedikit penasaran dengan orang yang dibicarakan Junghae. Dia bilang jika orang itu mengenalnya, namun dia tak yakin mengenal orang tersebut.

“Hwang Jinyoung. Iya, aku yakin itu nama koreanya”, Junghae terlihat ragu diawal, namun dia mengangguk menyetujui perkatannya setelahnya.

“Hwang Jinyoung”, Sehun kembali memastikan. Seketika itu dia ingat dengan siapa pemilik nama tersebut. Dia sedikit menahan tawa setelahnya. Dia bahkan menutup mulutnya, karena hampir tersedak. Pandangannya kini tertuju pada Chanyeol.

Chanyeol yang mendengar nama itu seketika terdiam. Dia bahkan berhenti mengunyah makanan dimulutnya. Jungra yang memang tak paham dengan siapa yang mereka bicarakan menatap heran reaksi Sehun.

Waeyo? Kau baik-baik saja oppa?”, Junghae bertanya pada Sehun yang terlihat hampir tersedak”.

Sehun mengambil minuman di meja, lalu meminumnya. Setelah berhasil mereda tawanya, dia menjawab pertanyaan Junghae, “Ehem. Gwenchana. Aku hanya tak menyangka akan mendengar nama itu lagi, bukankah begitu hyung!”, Sehun kembali menaruh gelasnya di meja. Dia juga menatap lekat Chanyeol.

Chanyeol menelan kasar makanannya. Dia merasa aneh mendengar nama itu. Nama yang sudah hampir dilupakannya. Wajar saja, ini memang sudah cukup lama kenangan bersama pemilik nama tersebut. “Iya, ini memang sudah cukup lama”, dia akhirnya mengangguk setuju dengan penuturan Sehun.

“Jadi kalian memang mengenalnya?”, Junghae kembali bersuara.

“Tentu saja. Bahkan sangat mengenalnya”, jawab Sehun. Chanyeol hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Sangat! Memangnya siapa dia?”, Jungra yang tadi terdiam kini ikut bersuara.

“Haruskah aku mengatakannya hyung?”, Sehun bertanya pada Chanyeol.

Nae cheon sarang”, kata Chanyeol. Sangat singkat, namun mampu membuat mereka semua terdiam.

Sehun terdiam karena tak menyangka jika kakaknya akan mengakuinya di depan umum. Jungra terdiam karena ada sedikit rasa yang menusuk hatinya. Entah apa itu, dia sendiri bahkan tak tahu mengapa ia merasa tak suka mendengarnya. Junghae juga terdiam. Namun bukan karena sesuatu yang membuat hatinya tertusuk atau perasaan heran. Dia hanya mengingat-ingat cerita cinta yang pernah didengarnya dari gadis yang bernama Hwang Jinyoung. Cerita cinta yang harus berakhir tragis karena sifat egois sang ibu yang begitu membenci keluarganya.

Jadi namja yang dimaksud Hwang Jinyoung waktu itu adalah Park Chanyeol. “Jadi namja yang dia maksud adalah Chanyeol oppa”, Junghae bermaksud berkata pada dirinya sendiri. Namun suara dapat didengar oleh mereka semua.

“Apa maksudmu?”, tanya Sehun.

“Dia pernah menceritakan kisah cintanya dulu. Tapi, apa Park ahjumma sejahat itu?”, Junghae terlihat ragu saat mengatakannya. Dia tak pernah menyangka jika ibu yang dimaksudkan Hwang Jinyoung adalah Park ahjumma, ibu dari Park Chanyeol. Mengingat sikapnya yang hangat kepadanya selama ini.

“Jika kau memang sudah mendengarnya, ya memang seperti itulah eomma”, Chanyeol kembali bersuara. Ada raut bersalah diwajah tampan Chanyeol. Entahlah! Dia merasa tak enak dengan Junghae. Dia sangat memikirkan bagaimana perasaan istrinya sekarang. Dia sedikit menyesal telah mengatakannya tadi. Tapi mau bagaimana lagi, daripada mendengar dari orang lain lebih baik dia yang mengatakannya sendiri. Itu akan lebih baik, setidaknya menurutnya.

Sebenarnya dia sedikit heran dengan cerita yang pernah didengar Junghae tentangnya. Apa yang sebenarnya Hwang Jinyoung katakan tantangnya? Dan bagaimana mereka bisa sedekat itu? Namun perkataan Junghae membuatnya menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya.

Jinjayo! Tapi mengapa aku tak berfikir seperti itu”, Junghae tetap ragu dengan apa yang dikatakan Chanyeol.

“Kau belum mengenal siapa ommonim, Junghae. Jika kau tahu siapa dia sebenarnya…?”, Sehun terlihat menggantungkan kalimatnya. Sebenarnya dia tak ingin menjelekkan bibinya yang sudah mengasuhnya sejak dia lahir. Hanya saja setidaknya, gadis itu harus tahu siapa bibinya itu.

“Kau pasti akan takut dengannya”, sela Jungra.

Junghae kini menoleh ke arah Jungra. Dia tak paham dengan maksud perkataan kakaknya. Kenapa harus takut, Park ahjumma itu orang yang baik. Itulah yang selalu menjadi keyakinan Junghae. Karena memang Park ahjumma selalu bersikap hangat padanya.

Eoh, Ra-ya benar. Terkadang aku juga merasa seperti itu”, Sehun mengangguk setuju.

“Aku bahkan terkadang heran bagaimana mungkin appa begitu mencintainya. Dan mengapa Kim ahjumma mampu berteman baik dengannya”, Chanyeol juga ikut bersuara.

Junghae berakhir berdua dengan Chanyeol. Setelah kepergian kakaknya yang tiba-tiba mendapat telfon. Dan juga Sehun yang harus mengurus sesuatu. Tinggalah mereka berdua yang kini masih terdiam ditempatnya.

“Mengapa mereka meninggalkan kita berdua?”, keluh Junghae. Dia meraih gelas di samping piring makanannya, lalu meminumnya.

“Maaf soal tadi”, Chanyeol menggenggam tangan kiri Junghae yang berada di atas meja.

“Kenapa oppa minta maaf?”, tanya Junghae yang terheran dengan sikap Chanyeol.

“Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu”, Chanyeol semakin erat menggenggam tangan Junghae. Pandangannya bahkan tak lepas dari wajah Junghae.

Junghae semakin bingung dibuatnya. Kenapa dia harus meminta maaf, dia bahkan tak melakukan kesalahan apapun pikir Junghae. Apa karena pengakuannya tadi. Hanya itu yang masuk akal difikiran Junghae. “Jika ini soal pengakuan oppa tadi, oppa tak perlu minta maaf. Aku baik-baik saja, sungguh. Bukankah setiap orang memiliki masa lalu”, Junghae membalas tatapan Chanyeol. Dia bahkan tersenyum saat mengatakannya.

Chanyeol hanya memandang lekat wajah cantik Junghae. Dia tak pernah menyangka jika reaksinya akan seperti itu. Sebenarnya ini wajar, karena mungkin gadis itu memang belum sepenuhnya mencintainya. Kenapa dia mengatakan tentang cinta disaat seperti ini. Tentu saja gadis dihadapannya memang belum mencintainya. Ini belum lama sejak mereka saling mengenal. Bahkan rasanya baru kemarin dia dikenalkan ibunya. ‘Owh, apa yang aku fikirkan? Apa aku baru saja berharap jika dia akan cemburu? Andwe, andwe Park Chanyeol. Apa yang kau fikirkan sekarang?’, Chanyeol tengah bergelut dengan fikirannya.

Oppa, kau baik-baik saja?”.

Perkataan Junghae menyadarkannya. “Ah, ne. Aku baik-baik saja”, dia tersenyum untuk meyakinkan Junghae yang terlihat cemas. Dia melepaskan genggaman tangannya.

Junghae melirik jam tangannya. Dia harus segera kembali ke kantor, atau dia akan lembur untuk hari ini. Sebenarnya dia masih ingin disini, hanya saja pekerjaan sudah menunggunya. Dengan berat hati, dia berpamitan padanya, “Oppa, aku harus kembali ke kantor. Mianhae karena tak bisa menemanimu lebih lama”.

“Aku juga harus kembali ke hotel. Kau bawa mobil?”, tanya Chanyeol.

Junghae menggeleng. “Aku tak pernah bawa mobil sendiri sekarang. Eomma tak akan mengizinkannya”.

“Mau ku antar?”.

“Aku tak mau mere-…”, belum sempat Junghae melanjutkan, tangannya sudah ditarik oleh Chanyeol.

Kajja”, ajaknya.

Junghae hanya pasrah mengikutinya.

Chanyeol membukakan pintu mobilnya untuk Junghae. Junghae tersenyum sebelum mendudukan tubuhnya di kursi mobil tersebut. Setelah menutup pintu untuk Junghae, Chanyeol beralih menuju kursinya di depan kemudi. Kurang dari semenit mobilnya sudah meninggalkan restoran dan bergabung dengan mobil lain dijalan.

“Terima kasih sudah mengantarku oppa”, kata Junghae setelah mobil yang dinaikinya berhenti tepat di area kantornya. Dia juga menoleh ke arah Chanyeol.

Chanyeol hanya menggangguk dengan senyum diwajahnya.

“Besok aku akan berangkat ke Jeju”, ada nada menyesal saat Junghae mengatakannya.

“Bersama Jongdae?”.

Junghae menggeleng. “Jongdae oppa harus berangkat ke Beijing”, Junghae membuang nafas pasrahnya.

Waeyo? Sepertinya kau tak rela pergi kesana?”, tanya Chanyeol. Dia tahu jika sikap Junghae menunjukan kalau dia tak suka pergi kesana.

“Tentu saja. Seharusnya dia yang pergi ke Jeju bukan aku. Aku bahkan tak yakin jika dia pergi ke Beijing untuk perjalanan bisnis”.

“Kenapa kau berfikir seperti itu? Setahuku dia memang punya proyek disana”.

“Proyeknya sudah selesai, dan itu baik-baik saja. Dia hanya mencari alasan untuk bisa menemui Lay Zhang”.

“Kenapa kau tak menolaknya jika memang kau tak mau”.

“Apa aku bisa?”, Junghae membuang pasrah nafasnya setelah mengatakannya. “Aku harus masuk”.

Junghae bermaksud membuka pintu mobil tersebut, namun entah mengapa tangannya berhenti sebelum pintu itu terbuka. Dai teringat sesuatu, dia menoleh kembali kearah Chanyeol. Mendekatakan wajahnya, dan bermaksud mencium singkat bibirnya. Dan chu, dia berhasil menciumnya. Namun saat akan menjauhkan wajahnya, tiba-tiba tengkuknya ditarik hingga bibir mereka benar-benar menyatu kembali.

Junghae membulatkan matanya. Dia tak pernah menyangka Chanyeol akan bereaksi lain kali ini. Biasanya dia selalu berhasil mencuri ciuman singkat dari namja itu. Junghae menutup matanya saat Chanyeol melumat lembut bibir atasnya. Untuk beberapa saat mereka terhanyut dalam ciuman tersebut.

Junghae kembali membuka matanya saat bibir mereka telah terlepas. Dia sedikit terengah. “Oppa~”, dia melayangkan protes setelahnya.

“Itu karena kau sering mencuri ciuman dariku”, kata Chanyeol dengan wajah tak bersalahnya.

“Ah, molla”, Junghae terlihat pasrah saat mengatakannya. Chanyeol terlihat tersenyum melihat tingkah istrinya. “Aku masuk dulu. Jangan lupa datanglah saat makan malam nanti”, kata Junghae lagi.

Chanyeol mengangguk. Junghae membuka pintu setelahnya. Dia benar-benar berjalan masuk ke kantornya.

 

***

 

Junghae terheran saat memasuki halaman rumahnya. Bagaimana tidak, banyak orang yang berlalu-lalang mendekorasi tempat tersebut. Ibunya juga terlihat sibuk menata makanan di meja saji. Dia mendatangi ibunya untuk bertanya. “Eomma, untuk apa semua ini? Bukankah eomma bilang jika hanya makan malam biasa!”.

Sang ibu menoleh. Dia tersenyum saat mendengar pertanyaan putrinya. “Awalnya memang begitu sayang. Tapi kurasa akan lebih seru jika kita mengadakan party kecil-kecilan”, jawab sang ibu.

“Iya, kurasa juga begitu. Bagaimana mungkin kita hanya makan malam bersama untuk merayakan ulangtahun mereka. Sangat tak etis kurasa”, Junghae tersenyum menanggapi pernyataan ibunya.

“Gadis pintar”, jawab sang ibu yang kembali sibuk dengan pekerjaannya.

“Perlu ku bantu eomma?”, tawar Junghae.

“Tidak perlu sayang. Ini sudah hampir selesai. Masuklah, kau hanya perlu mempersiapkan dirimu”.

Junghae hanya mengganguk sebagai jawaban. Dia masuk ke rumah seperti saran ibunya. Dia bertemu Jongin saat menuju kamarnya. “Oppa, kau sudah datang”, sapanya.

“Tentu. Memang seharusnya aku ada kan!”, jawab Jongin.

Junghae mengangguk. “Saengil chukkae”.

Gomapta”.

“Tapi aku tak ada hadiah untukmu, oppa”.

“Tak apa. Kau hadir di rumah ini sudah hadiah untuk kami”.

Aish, oppa bisa saja”, jika ini di serial komik, mungkin pipi Junghae sudah memerah karena perkataan Jongin. “Aku ke kamar dulu”, lanjutnya. Dia berjalan pelan menyusuri tangga rumahnya. Kamarnya memang berada di lantai dua.

Dia merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Dia sedikit lelah hari ini. Dia menutup matanya sebentar, rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Dia bahkan tak sadar jika dia sudah terlelap.

“Junghae-ya”, Jongin membuka pintu kamar adiknya. Dia bermaksud membicarakan sesuatu dengannya. Dia melihat adiknya tengah terlelap dengan posisi yang tak mengenakan. “Di terlihat lelah”, Jongin melirik jam dinding sekilas. “Acaranya masih cukup lama”. Dia kemudian membenarkan posisi tidur Junghae berharap adiknya akan merasa nyaman. Dia juga memberikan selimut untuk adiknya. Dia kembali menutup pintu kamar adiknya. Membiarkannya tidur untuk beberapa saat.

Acara perayaan ulang tahun si kembar telah siap. Segala keperluan untuk tamu undangan sudah selesai mereka siapkan. Mereka memilih party di halaman depan yang dekat dengan kolam renang. Tak banyak yang diundang, hanya keluarga besarnya dan beberapa teman dekat. Karena memang acara tersebut cukup mendadak.

Ayah, ibu, Jungra serta Jongin sudah siap. Mereka sedang menunggu kedatangan tamu undangannya. Yang pertama datang adalah putra pertama mereka beserta istri dan juga mertuanya. Mereka memberikan ucapan selamat kepada sang pemilik pesta. Bahkan mereka juga membawa hadiah untuk keduanya.

Tak lama setelahnya datanglah keluarga Park Chanyeol beserta adik dan ibunya. Mereka juga membawa sesuatu untuk sang pemilik pesta.

“Jongin-ah. Saengil chukkae”, kata Sehun yang sengaja mendekat ke arah Jongin. Dia bahkan melayangkan tinju kearahnya, yang ditanggap sigap oleh Jongin.

Gomawo. Kau masih di Korea”, tanya Jongin.

“Iya, masih banyak yang harus aku lakukan disini”, Sehun berkata sambil mengangguk. Dia menoleh kearah Jungra. “Saengil chukkae juga Ra-ya”, katanya.

“Kau sudah mengatakannya tadi siang”, Jungra menyunggingkan sedikit senyumnya.

“Itu tadi siang. Sekarang beda lagi”, kata Sehun kembali yang ditanggapi tawa oleh mereka.

Nyonya Park juga mengucapkan selamat untuk mereka yang diikuti oleh Chanyeol. Untuk sesaat mereka lupa jika Junghae belum muncul disana. Setelah mengobrol cukup lama, barulah Chanyeol menyadarinya. “Dimana Junghae? Dia tak kelihatan”, tanyanya.

“Ah, kau benar hyung. Dimana dia?”, Sehun yang juga tersadar ikut bersuara.

Semua orang juga tampaknya baru tersadar. Mereka saling melirik menanyakan dimana keberadaan gadis itu.

“Aku lupa membangunkannya. Di terlihat lelah. Aku tak tega membangunkannya tadi, jadi aku membiarkannya tidur sebentar”, jelas Jongin.

“Tidur?”, mereka berkata dengan serempat. Mereka bahkan terlihat kaget.

“Aku akan membangunkannya”, Jongin bermaksud pergi, namun lengan Sehun menghalanginya.

“Kau pemilik pesta, tak seharusnya kau pergi. Aku yang akan membangunkannya”, kata Sehun.

“Baiklah!”, Jongin mengangguk setuju.

Sehun segera masuk ke kediaman mereka. Ingin sekali rasanya Chanyeol yang pergi membangunkannya. Hanya saja, itu akan terlihat aneh jika dia yang menawarkan dirinya. Dia tak begitu dekat dengan gadis itu, setidaknya itu yang difikirkan keluarga mereka. Karena itu, dia membiarkan Sehun yang melakukannya.

Rumah itu masih sama seperti terakhir kali Sehun berkunjung. Tak butuh waktu lama untuk menemukan kamar Junghae, karena memang dia sudah cukup menghafal rumah tersebut. Sehun membuka pelan pintu kamar Junghae. Berjalan mendekat ke arah ranjangnya. Mendudukan tubuhnya di tepian ranjang. Dia dapat melihat wajah polos Junghae saat tertidur. Gadis itu bahkan masih memakai baju yang sama dengan yang ia pakai siang tadi. “Kau benar-benar terlihat lelah”, Sehun mengusap pelan rambut Junghae.

“Aku bahkan tak tega membangunkanmu”, Sehun hanya membuang nafas pasrahnya. Untuk beberapa saat dia hanya diam memandangi wajah polos Junghae. Sampai dia melihat Junghae menggeliat kecil dalam tidurnya. Matanya juga perlahan terbuka. “Kau sudah bangun”, tanya Sehun memastikannya.

Junghae dengan cepat membuaka matanya. Dia kaget saat melihat Sehun sudah duduk disampingnya. “Sehun oppa”, Junghae bahkan terduduk saking kagetnya. Dia melihat kesekelilingnya. Ini ada dikamarnya. Ah, dia teringat jika dia bermaksud merebahkan tubuhnya sebentar. Jadi dia ketiduran, hanya itu yang terlintas dalam fikirannya. “Aku ketiduran ya”, dia melirik jam dindingnya sebentar. “Apa pestanya sudah mulai?”, dia kembali bertanya.

“Belum. Mereka semua menunggumu”.

“Hah”, Junghae terlihat kaget. Sepertinya dia belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.

“Iya, mereka semua menunggumu”, Sehun kembali bersuara.

Junghae mengangguk paham akhirnya. “Baiklah! Aku akan ganti baju sebentar. Ah, sepertinya aku perlu mandi”, Junghae segera berlari memasuki kamar mandi.

Sehun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Junghae.

Pesta itu berlangsung meriah, meski sedikit terlambat memulainya karena menunggu Junghae. Junghaepun merasa sedikit bersalah. Kenapa dia harus ketiduran tadi. Namun rasa bersalahnya hilang perlahan setelah Jongin meyakinkannya, jika itu tak masalah.

Setelah pemotongan kue, mereka menikmati hidangan yang disajikan. Suara musik juga terdengar memenuhi halaman rumah tersebut.

Junghae terkadang tersenyum mendengarkan beberapa penuturan sepupunya. Ya, dia tengah mengobrol dengan putra dari saudara tertua ibunya. Baekhyun juga ada disampingnya. Mereka cukup akrab meski umur mereka yang cukup terpaut jauh, 13 tahun. Itulah yang menjadi daya tarik Junghae, mudah akrab dengan seseorang. Bahkan putra dari sepupunya yang baru berusia sekitar lima tahun itu juga menyukainya.

Jungra berjalan mendekati Junghae. “Kau bisa bermain piano?”, tanyanya.

Ne”, Junghae mengangguk. “Kenapa memangnya?”, Junghae balik bertanya, karena mendapat pertanyaan yang cukup aneh dari kakak perempuannya.

“Kau tak mau bernyanyi untuk kami”, Jungra kembali bersuara.

“Tidak”, Junghae menggeleng. “Suaraku tak sebagus itu”, tolaknya.

“Kau bernyanyi sangat baik di perayaan ulang tahun pernikahan eomma dan appa kemarin. Kenapa kau tak mau bernyanyi di pesta ulang tahun kami”, Jungra sedikit protes dengan penolakan Junghae.

“Iya, dia benar sayang. Kenapa kau tak bernyanyi untuk kami”, sela Jongin. Entah sejak kapan dia sudah berada disamping Jungra.

“Aku tidak mau”, Junghae kembali menolak.

“Kau bahkan tak memberi hadiah pada kami. Ayolah, aku akan menganggap itu sebagai hadiah untuk kami”, Jungra kembali merayu adiknya.

Semua orang setuju dengan Jungra. Mereka kini memojokkan Junghae untuk bernyanyi. Junghae hanya bimembuang kasar nafas kesalnya.

“Baiklah! Aku akan bernyanyi untuk kalian”, Junghae akhirnya menyerah. Dia berjalan ke arah piano yang memang sengaja di tempatkan di halaman untuk pesta tersebut. Dia mengambil nafas panjang sebelum jari-jarinya menekan nuts-nuts piano tersebut. Kini jari-jarinya dengan lihai menekan nuts demi nuts piano hingga menimbulkan rangkaian bunyi yang indah. Tak lama setelahnya mulutnya mengeluarkan suara untuk bernyanyi.

 

It feels like we’ve been out the sea, woah

So back and forth that’s how it seems, woah

And when I wanna talk you say to me

That if it’s meant to be it will be, ho woah woah

So crazy is this thing we call love

And now that we’ve got it we just can’t give up

I’m reaching out for you

Got me out here in the water and I

I’m overboard

And I need your love to pull me up

I can’t swin on my own

It’s too much

Fell like I’m drowning without your love

So throw your self out to me my lifesaver

Never understood you when you say, woah

You wanted me to meet you half way, woah

I felt like I was doing my part

You kept thinking you were coming up short

It’s funny how things change, cause now I see, woah woah woah

So crazy is this thing we call love

And now that we’ve got it we just can’t give up

I’m reaching out for you

Got me out here in the water and I

I’m overboard

And I need your love to pull me up

I can’t swin on my own

It’s too much

Fell like I’m drowning without your love

So throw your self out to me my lifesaver

It’s supposed to be some give and take I know

But your only taking and not giving any more

So what do I do?

Cause I still love you

And you’re the only one who can save me,

woah, woah, woah

I’m overboard

And I need your love to pull me up

I can’t swin on my own

It’s too much

Fell like I’m drowning without your love

So throw your self out to me my lifesaver

 

Suara indah Junghae mampu membuat mereka terhanyut dengan lagu yang dibawakannya. Suara tepuk tangan terdengar setelah dia menghentikan permainannya. Dia sedikit merasa malu setelahnya. Dia bahkan berlari menuju ibunya dan bersembunyi dibalik punggungnya. Dia benar-benar malu.

 

to be continue….

 

Sebelumnya saya mau minta maaf untuk chapter kemarin. Banyak yang bingung ya. Sebenarnya memang ada part flasbacknya, hanya aku lupa menulisnya. Aku teringat saat aku sudah mengi-emaikan ceritanya. Sekali lagi maafkan daku yang agak lalai, hahaha……

 

Aku tak dapat feel di chapter ini.

Semoga tetep suka.

Tetap tinggalkan jejak kalian. Siapa tahu saja, aku kasih password di chapter-chapter selanjutnya.

Terima kasih banyak…… J

Aku cinta kalian semua……. ❤ ❤ ❤  #tebar kiss dimana-mana……

 

Iklan

58 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 14)

  1. Baru sempet komen di part ini.. Setelah baca semuanya.. Maafkan aku.. Baca nya marathon sich dari part prolog ampe part 14.. Bahkan tadi sempet klimpungan nyari part 12 ga ketemu2..

    Ff nya seru kak.. Menarik.. Cinta bersegi2.. Ditunggu kelanjutan ceritanya.. Semangat buat kakaknya..

    Sebelum nyq salam kenal..

    Makasih..^^ 🙂

  2. Baru sempet baca, makin gemes nih ama dua org ini kapan ngakunya coba iiihhh grget, apa eomma Chan nerima junghae yaaahhh heeemmm semoga, next say 😉😉

  3. Kapan sih Junhae dan Chanyeol memberitahukan pada semua orang kalau mereka tuh sudah nikah ?? Chanyeol juga kayaknya sudah agak suka sama Junhae , tapi Junhae nya aja yang nggak peka . Jungra suka sama Chanyeol kah ? Next »

  4. Wah, ternyata ny.Park memiliki kepribadian ganda wkek
    Tapi kalo Junghae ga ngerasa ny.Park jahat, itu tandanya dia cocok sama ny.Park 😁
    Oia Thor, kapan nih Junghae sama Chanyeol ngaku ke keluarganya?
    ditunggu nextnya ya thor, Fighting 😊💪

    • iya, kayaknya…..

      ditunggu saja ya…..
      terima kasih…..

      aku baru buat wattpad, kalu minat baca karyaku yang lain
      id-nya: dwi_lestari22

  5. nyatanya ny.park tak sejahat itu saat dengan junhae,, apakah ini tandanya kalau ny.park bakal setuju kalau nanti pernikahan mereka terbongkar.. makin nggak sabar nunggu semuanya ketahuan

  6. itu artinya junghae cocok sama ny. park…
    kalo hwang jinyoung itu investor, berarti kan kaya kok ny. park gk setuju.. aku kok lupa dulu gk setujunya kenapa….hahahaha
    chanyeol gitu yaa sekaliny nyosor ..kkkkkkkk
    junghae ke jeju ditemani chanyeol dong… sapa tau mreka bisa bulan madu..

    • kurasa memang iya,
      kalau Hwang Jinyoung itu cast baru, yang diawal-awal itu Cho Youngrin…..
      kalau tanya bagaimana kronologi tak disetujuinya hubungan mereka, masih saya buat abu-abu…
      ditunggu saja pokoknya……

      terima kasih… 🙂

    • gak jahatnya kan ma Junghae #lirik mama Chan…….

      Junghae suka curi-curi kiss, hahaha…
      dia kan dari kecil hidup di Amerika, jadi wajar saja….

      terima kasih ya… 🙂

  7. Mama park emang sejahat itu kah?
    bukannya dulu mama park nolak hwang jinyoung karna miskin trus kok ini jadi investor ?
    apa aku yang salah baca yang chap awal awal hehehe
    lanjut Kaka
    Fighting

    • itu bukan hwang jinyoung sayang, itu cho youngrin yang chapter awal-awal……

      ditunggu saja ya…
      terima kasih … 🙂

  8. Woooowwww chan eomma horrorr seperti bermuka dua , perasaan part yang ini pendek bgt yak apa gue terlalu serius baca nya sampe gak nyadar udah tbc~ …
    Huaaa ditunggu chapter selanjut nya ajj deh
    Tetep semangat thor !

    • takut donk…..
      gak pendek sebenarnya, sama dengan chapter lainnya….
      kamunya saja yang terlalu serius bacanya……

      terima kasih ya….. 🙂

  9. Feel nya kerasa , but satu aja pertanyaan thor …
    Kapan ,….. Junghae sama ceye ngaku mereka udah nikah 😭 ane sudah bersabar melihat sehun yg terus2an ngepet junghae mulu , ceye nya kapan coba 😭

  10. belum dipublish ternyata.. awas junghae dapat mertua galak.. kekeke..semoga part selanjutnya banyakin moment junghae chanyeol.. semoga cepat punya anak.. wish alk the best buat couple ini.. *ini yg ultah siapa… hahaha mianhae kim twins..

    • iya, kasihan mbak Junghae nya……

      aku nggak janji bakalana banyak momen mereka…
      ditunggu saja ya…

      terima kasih… 🙂

  11. Kapan sih chanyeol sama junghae publis hubungan mereka ???? Keburu orang lain masuk di hubungan mereka
    Selow kaaaa, aku udah jatuh cinta sama ff ini wkwkwk ditunggu chapter selanjutnya kaa 💪💪💪💪💪

    • terima kasih untuk sarannya……

      ditunggu saja,
      nanti pasti tahu kemana arah ceritanya…

      thanks for reading…… 🙂

  12. Keren ceritanya ☺
    Chaenyeol oppanya cemburu? Tapi apakah chaenyeol oppa masih suka sama mantannya?
    Salam kenal saya reader baru☺jdi gak sabar buat next chapternya 😊ijin baca chapter sebelumnya ya

  13. akhirnya chptr 14udh di post,,,,, ak suka dgn sikap junghae, sntiasa ceria, prmah dan brfikiran positif cnth time chanyeol bg tau yg jinyong ex-glfrnnya, klu cwek lain mngkin udh cmbru, kok jungra yg skit ati yhh jgn2 jungra ska sma chanyeol,,lagu yg junghae yanyi tajuknya ap yh hehehe,,,,, kak jgn lm2 yh dtunggu chpter slnjut yhh:)

  14. finally netes juga setelah nunggu seminggu lebih.
    udah kangen sama Chan-Hee moment.
    uh, kapan pernikahan mereka kebongkar.
    greget aku nunggu saat2 itu.

    chapter depan tolong banyakin Chan-Hee moment ya hehe
    /banyak maunya

    ditunggu next chapter.
    fighting for writing Tari^^

  15. yeyyy…. akhirnya udah keluar chapter 14. makin seru ceritanya.
    kenapa waktu Chanyeol bilang Nae cheon sarang (mengakui klo hwang jinyoung adl cinta pertamanya) jungra yg merasa tidak suka bukannya junghae. klo kupikir jungra kan tidak menyukai chanyeol. apa mungkin jungra sudah mengetahui ada suatu hubungan antara chan-hae. trus jungra merasa klo pengakuan chanyeol akan melukai perasaan adiknya. jadi jungra merasa tidak suka.
    ahhh… molla! *hanya author dan tuhan yg tau wkwk
    dan mnrtku untuk junghae yg tidak marah atas pengakuan chanyeol itu mungkin karena junghae memang orang yg pengertian. jgn salah paham ya mas chan. kupikir mb junghae sudah mencintaimu kok… hahaha…
    pjg bgt nih komentarku. hihihi…. ^^

    next ya eonni… lanjuuuttt (Chapter 15)….
    Fighting!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s