[EXOFFI FREELANCE] Breakin’ Away – (Chapter 2)

PicsArt_02-01-06.32.18.jpg

Title                          : Breakin’ Away

Author                    : Kyokyo

Length                    : Multichapter

Genre                      : Romance, teenager

Rating                     : PG – 15

Main cast             :

Kim Jong In / Kai Kim

Kang Ji Eun (OC)

Additional Cast :

Kang Haneul

Park Chan Yeol

Sudah lama gadis itu tidak merasakan perasaan seperti ini. Perasaan dimana kau merasa kedinginan saat yang lain sedang merasa hangat. Hanya dengan menatap mata itu, dunianya seolah disedot. Dia tak mampu berpaling untuk beberapa saat.

“Dosen itu sepertinya mengenalmu.” Gadis berkuncir kuda itu mengajak bicara Ji Eun. Kali ini Ji Eun bisa mengalihkan perhatiannya pada gadis yang duduk di sebelahnya itu. Tadinya dia cukup lama terpaku pada cowok bermata sayu itu. “Kau bahkan belum menyebutkan namamu.”

“Aku… cukup mengenalnya.” kata Kang Ji Eun agak ragu. “Aku Kang Ji Eun.” Dia mengulurkan tangannya.

“Aku Park So Yeon.” Gadis berkuncir kuda itu menyambut uluran tangan Ji Eun sambil tersenyum.

Jam kuliah pembuka dari dosen Kim Hyunah itu akhirnya selesai. Kang Ji Eun cukup bernapas lega. Tapi dia kembali bergidik saat dosen itu hampir meninggalkan kelas. Gadis itu tidak tahu itu hanya perasaannya saja atau benar – benar terjadi. Tapi dia merasa bahwa dosen itu menatapnya sambil menyeringai.

Well, dia memang merasa kalau tidak akan ada yang baik – baik saja selama ia di sini. Di Seoul.

“Kang Ji Eun.” Seseorang dengan suara yang berat memanggil namanya.

Gadis itu menoleh. Dan berdirilah seorang cowok yang super jangkung. Yah, cowok bergigi sempurna yang menjadi topik pembicaraan semua orang tadi pagi itu kini menatapnya dengan ceria.

“Ya?” Ji Eun menatap cowok itu bingung. Yah, gadis itu akui kalau ketampanan cowok itu diatas rata – rata. Garis wajahnya, binar matanya, caranya tersenyum, entahlah apa orang itu datang dari langit?

“Aku Chanyeol. Park Chanyeol.” Cowok itu memperkenalkan dirinya dengan penuh percaya diri.

“Hai. Senang berkenalan denganmu.”

Biarpun dia merasa agak gugup, tapi dia berusaha tetap tenang dan tersenyum ramah. Come on, siapa yang tidak gugup kalau ada cowok yang gantengnya di atas rata – rata mengajakmu berkenalan? Memang selama di Jepang dia selalu berada di antara teman – temannya yang tampan. Kento, si model sekolah dan Chiba, si jenius sekolah. Tetapi dia baru pertama kali bertemu cowok sesempurna Park Chanyeol, tinggi, tampan, ramah, dan kelihatannya pintar. Well, Kang Ji Eun memang terlalu cepat menilai seseorang.

“Kau suka clubbing?” Chanyeol bertanya.

Gadis itu membulatkan matanya. Dia seharusnya ingat bahwa tadi dia menjadi bahan tertawaan semua orang. Dan si Chanyeol dan temannya yang bermata sayu itu juga ikut tertawa.

“Mm. Lumayan.” jawab gadis itu.

“Kalau begitu, mau clubbing bersamaku hari ini? Hitung – hitung sebagai perayaan teman baru. Kita baru saja berteman kan?” ajaknya masih dengan percaya diri. Lalu kemudian cowok itu mengalihkan perhatiannya pada temannya, si cowok bermata sayu itu. “Benarkan Kai?” Dia kemudian mengalihkan perhatiannya kembali pada Ji Eun. “Oh iya, dia temanku namanya Kai Kim. Dia lulusan SMA terkenal di LA loh?”

Tunggu! LA? Los Angeles? Amerika?

“Jangan bercanda!” sahut cowok bermata sayu itu dengan dingin.

***

Kai Kim tidak habis pikir dengan pola pikir sepupu gilanya itu. Dia baru saja mengatakan kalau dia sedang jatuh cinta hanya karena seorang gadis aneh yang mengatakan ingin clubbing.

“Kai. Aku jatuh cinta padanya.” kata Chanyeol, tanpa mengalihkan pandangannya sedetikpun pada gadis itu. “Dia lucu.”

“Kau gila. Kau pikir gadis itu badut.” ejek Kai sentimen. Tapi diam – diam dia juga memandangi gadis itu. Rambut cokelat kehitaman sebahu, mata bulat seperti karakter kartun, entahlah yang pasti gadis itu bukan tipenya.

“Maaf. Aku belum tahu alasanku kenapa aku ingin menjadi dokter. Aku baru saja memulai untuk mencarinya.” Gadis itu mengungkapkan alasannya.

Kai tersenyum meremehkan. “Bilang saja kau terpaksa kuliah di sini.” gumamnya sinis. Atau mungkin Kai justru merasa kalau gadis itu mirip seperti dirinya?

“Wah, alasannya sangat keren.” Chanyeol kembali memuji gadis itu. Sementara Kai menatapnya malas dan lebih memilih bermain ponselnya. Lalu sejenak tiba – tiba Chanyeol memukul lengan cowok itu dengan heboh. “Woah, dosen itu tahu namanya. Namanya Kang Ji Eun, Kai. Sangat cantik bukan? Kang Ji Eun.”

Kang Ji Eun? Rasanya cukup familiar. Dia menatap gadis itu dari jauh. Dan tanpa sengaja, gadis itu juga sedang menatapnya. Dan entahlah, Kai merasa waktu seperti melambat, dan kemudian berhenti untuk beberapa saat. Lalu waktu itu kembali berjalan saat ia menyadari Chanyeol menghampiri gadis itu dengan penuh antusias.

Kai tidak seberapa mendengar apa yang dikatakan si over confident chanyeol itu. Dia hanya mengamati dari jauh. Tapi yang pasti cowok itu mengajak gadis yang namanya Kang Ji Eun itu untuk bersenang – senang ala Park Chanyeol. Dan menurut perkiraannya, Chanyeol pasti akan menyangkut pautkan dengan dirinya seperti yang sudah sering terjadi.

Dan beberapa detik kemudian dugaannya benar. “Jangan bercanda!” sahut Kai acuh. Dia meraih tasnya dan melenggang pergi.

“YA!! Kau mau kemana?” teriak Chanyeol tapi cowok itu tidak menggubrisnya. Dia beralih pada Kang Ji Eun. “Ji Eun, lain kali ya. Lain kali kita pergi clubbing. Sepupuku sedang pms.” katanya cepat.

PMS? Chanyeol pikir Kai perempuan?

***

Kang Ji Eun berpamitan dengan teman barunya, Park So Yeon. Hari ini dia akan melakukan segalanya sendirian. Ah, pergi ke salon rasanya tidak buruk. Rasanya sudah lama sejak terakhir kali ia mengubah warna rambut. Terakhir kali saat semester pertama kelas 3 SMA. Dia, Hyeri, dan Satsuki kompak mengubah warna rambut mereka menjadi pirang. Dan beberapa saat kemudian, mereka bertiga kena hukuman dari Nobuhiro Satoya, guru olahraganya. Di SMA nya boleh mengubah warna rambut, asal tidak dengan warna yang mencolok. Apalagi pirang.

“Kau pasti sangat merindukan mereka ya, Ji Eun.” Gadis itu bergumam sendiri.

Saat dia berada di pelataran kampusnya, gadis itu bertemu kembali dengan Park Chanyeol dan si cowok bermata sayu, Kai Kim.

“Kai akan ikut kita. Kita pergi clubbing malam ini ya? Wah minum Jack Daniels pasti menyenangkan.” Chanyeol menyapanya dengan heboh.

“Aku tidak ikut.” protes Kai enggan.

“Ah, sayang sekali. Kalau begitu, hanya kita berdua ya?” kata Chanyeol sambil menatap gadis itu. “Ayo kita bersenang – senang sampai mabuk!”

Kai berdehem. “Baiklah aku akan ikut.” katanya tiba- tiba.

Ji Eun menatap mereka berdua dengan ragu. Pergi clubbing dengan dua laki –laki yang baru dikenalnya, lalu minum Jack Daniels sampai teler. Ayolah! Kang Ji Eun belum segila itu. Kalau itu Chiba atau Kento, dia mungkin tak masalah. Tapi mereka berdua? Meskipun setampan itu, dia harus berpikir berkali – kali untuk setuju.

“Aku ingin pergi, tapi…”

“Kang Ji Eun!” Seseorang dengan suara hangat memanggil namanya. Mata gadis itu melebar seperti piring. Di belakang kedua cowok tinggi itu, ada Nyonya Kang, ibunya yang berdiri di samping mobil. Dia menatap anak gadisnya sambil tersenyum, tapi matanya menunjukkan ekspresi lain. Ibunya mulai berjalan menghampirinya, dan Ji Eun merasa setiap langkahnya seperti menyeret gadis itu dalam lubang penuh salju. Dingin.

“Eomma.” gumam gadis itu.

Chanyeol dan Kai sontak mengalihkan pandangan mereka pada wanita borjuis itu. Mereka menundukkan tubuh sedikit untuk memberi salam.

“Teman baru Kang Ji Eun?” tanya Nyonya Kang.

Kai menunduk sambil tersenyum, tapi ada yang aneh dengan tatapannya pada ibu gadis itu. “Annyeong haseyo. Aku Kai.”

“Annyeong haseyo. Aku Park Chanyeol. Kang Ji Eun mirip dengan anda. Cantik.” Chanyeol memperkenalkan diri sambil memuji Nyonya Kang. Apa dia sudah mulai mendekati ibu Ji Eun?

“Oh, begitu. Apa kalian akan pergi ke suatu tempat hari ini?” tanya Nyonya Kang lagi.

“Kami akan….”

“Mm. Tidak. Kami bertiga hanya diskusi singkat. Baiklah aku mengerti. Sampai ketemu besok!” Kang Ji Eun sengaja memotong kalimat Chanyeol sebelum cowok itu berkata yang tidak – tidak pada ibunya. Bisa gawat kalau ibunya tahu dia ingin pergi clubbing.

Sementara gadis itu menarik ibunya masuk ke dalam mobil, Kai terus menerus menatap gadis itu dan ibunya dengan tatapan yang tak bisa dimengerti. Sampai mobil itu hilang di kejauhan, Kai terlihat mulai mengingat sesuatu.

***

“Eomma, kita mau kemana?” Kang Ji Eun bertanya pada ibunya saat ibunya tidak melewati jalan ke arah rumah mereka. “Sepertinya tidak ke arah rumah.”

“Kita akan pergi jalan – jalan sebentar.” kata ibunya singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.

“Aku tadi terkejut eomma menjemputku.” kata Ji Eun berusaha mencairkan suasana.

“Tentu saja. Aku tidak ingin membiarkanmu keluyuran tidak jelas seperti di Jepang.” sahut ibunya.

Gadis itu memaksa senyum. “Itu hanya cara anak muda untuk bersenang – senang.”

“Bersenang – senang sampai kau menjadi rumput liar?” tanya ibunya retoris.

Mimik muka gadis itu berubah. Ada raut marah dan kesedihan yang tak mampu ia ungkapkan. “Mm. mungkin lebih tepatnya rumput yang terawat. Lagipula aku tidak liar. Mana ada ada rumput liar yang berhasil lolos di Tokyo University?” balasnya, lalu menatap jendela. Sekilas Nyonya Kang melirik anak gadisnya itu.

***

Kai Kim menyumpah serapahi kegilaan Park Chanyeol dalam hati. Bagaimana mungkin cowok itu ingin mengajak anak orang untuk clubbing sampai mabuk? Apa dia berniat melakukan hal itu? Memang sinting. Dan gadis itu akan lebih sinting lagi kalau ia ikut terperangkap dalam rencana Chanyeol. Minum Jack Daniels sampai mabuk? Jangan kira ia akan membiarkannya.

Kai berdehem. “Baiklah. Aku akan ikut.” Katanya. Dia ingin tahu apa gadis itu tetap ingin pergi. Dan di sisi lain, kalau gadis itu nekad ingin pergi, maka ia bisa menjadi pengontrol Park Chanyeol.

“Aku ingin pergi. Tapi…”

Gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya karena seseorang memanggil namanya. Mulutnya membulat kecil. Dan ia bergumam pelan, “eomma.”

Eomma?

Kai dan Chanyeol membalikkan badan. Dan tidak jauh dari mereka, berdirilah seorang wanita paruh baya yang cukup trendi. Mata Kai membulat tak percaya. Wanita ini tidak asing, tapi ia sendiri juga tidak mengenal siapa dia. Pertanyaan – pertanyaan itu cukup berkelebat dalam benaknya.

“Oh, begitu. Apa kalian akan pergi ke suatu tempat hari ini?” tanya ibu gadis itu.

Chanyeol akan menjawabnya. Tapi gadis itu sudah memotongnya. “Mm. Tidak. Kami bertiga hanya diskusi singkat. Baiklah aku mengerti. Sampai ketemu besok!”

Gadis itu buru – buru mengajak ibunya pergi. Sampai dia masuk ke dalam mobil, sampai mobil itu menghilang di kejauhan, Kai teringat sesuatu. Dia terlalu banyak berpikir, sampai suara Chanyeol berlalu begitu saja.

Mungkinkah gadis itu….

5 tahun lalu

“Awas!” Seorang anak perempuan mendorongnya sampai ia tersungkur di trotoar. Tidak bukan itu. Anak itu justru menyelamatkan Kai kecil yang hampir ditabrak sepeda. Lalu dia memarahi orang yang hampir menabraknya itu seperti orang dewasa. Lalu beberapa saat kemudian, dia menghampiri Kai.

“Kau tidak apa – apa?” tanya gadis kecil itu. Lalu dia memperhatikan lengan Kai yang mengeluarkan darah. “Kya!! Lihatlah! Lenganmu berdarah!” seru gadis itu panic.

Kai melihat lengannya yang memang mengeluarkan darah. Lalu dia mengalihkan perhatiannya pada gadis itu. Kai meringis. “Tidak sakit kok. Rasanya pasti lebih sakit kalau aku tertabrak sepeda.”

Gadis itu berjongkok. Dan terus memandangi luka Kai. “Tapi tetap saja. Lukanya tidak bisa dibiarkan begitu saja.” Gadis itu merogoh tas kecilnya. Lalu mengeluarkan sehelai tisu dan sehelai sapu tangan berwarna merah jambu. Dengan telaten ia membersihkan darah Kai menggunakan tisu. Sesekali anak itu menjerit kesakitan. Dan kemudian gadis itu mengejeknya, “Katanya tidak sakit?” Dia kembali membersihkan darah anak itu. “Tunggulah sebentar lagi! Seharusnya aku membawa disinfektan.” gumamnya. Lalu gadis itu mengikat saputangan merah jambu itu di lengan Kai dengan lembut.

“Saat di rumah, suruh ibumu untuk mengobati lukamu dengan benar. Kuman itu menyeramkan loh?” kata gadis itu.

“Gomawo.” kata Kai sambil berdiri. Gadis kecil itu ikut membantunya berdiri. “Kau sendiri.. Apa kau baik – baik saja?”

“Tentu saja.” jawab gadis itu. “Aku ibu perimu kan? Ibu peri tidak pernah terluka.”

“Sayang, apa yang kau lakukan? Ayo kita pulang!” Seseorang memanggil gadis itu. Gadis itu tersenyum lalu menghampiri wanita itu.

“Anak itu hampir saja tertabrak sepeda tadi.” cerita gadis itu pada ibunya.

Ibu gadis itu menatap Kai. “Lain kali hati – hati ya. Jangan terluka lagi!” katanya hangat, sementara Kai kecil hanya tersenyum kaku.

Hari itu gadis itu dan ibunya pergi sambil bergandengan tangan. Saat itu matahari mulai terbenam di ufuk barat.

“Ah, rupanya dia si ibu peri…” gumam Kai. Seulas senyum tergurat di sudut – sudut bibirnya.

***

Mata Kang Ji Eun tak henti – hentinya menatap bingung. Bagaimana tidak, ibunya tiba – tiba mengajaknya ke sebuah salon elit di kawasan Gangnam. Salon kecantikan itu berukuran cukup besar dengan dua lantai dan memiliki konsep dekorasi Eropa klasik pada bagian luar bangunannya. Saat masuk ke dalam bangunan itu, seorang wanita cantik berumur sekitar tiga puluhan menyapa ibunya dengan ramah. Lalu berganti menatapnya sambil tersenyum ramah. Sementara ibunya pergi ke arah lain dengan ditemani dua kapster, wanita itu membimbing Ji Eun.

“Agassi, ibu Anda sudah memesan sebuah dress cantik.” kata wanita itu, yang tag namenya tertulis Lee Kang Ah.

Ji Eun menatap bingung, sambil berjalan di samping wanita itu. “Aku tidak mengerti. Dress untuk apa?”

Lee Kang Ah hanya tersenyum. Lalu perlahan ia membuka sebuah tirai yang disana tergantung sebuah dress pendek tanpa lengan yang mungkin beberapa senti di atas lutut. Tapi yang membuatnya terlihat cantik adalah flower pattern yang menghiasinya.

“Nyonya Kang yang memilihnya sendiri.” kata wanita itu memberitahu.

Eomma?

Tanpa membiarkan gadis itu berpikir lebih lama lagi, Lee Kang Ah memaksanya untuk berganti baju. Setelah itu, selama hampir 30 menit, gadis itu dirias oleh salah satu kapster salon. Sementara lee kang ah hanya mengawasinya. Saat nyonya Kang selesai dirias, wanita itu menghampiri Lee Kang Ah, dan ikut mengawasi anaknya dari kejauhan. Dari refleksi bayangan di cermin, Ji Eun cukup gugup karena ibunya melihatnya seperti itu.

“Kau cantik.” puji nyonya Kang begitu gadis itu berjalan menghampirinya. Sementara yang dipuji hanya tersenyum dengan rona merah yang tergurat di kedua pipinya.

“Kenapa kita dandan begitu formal? Apa kita akan pergi ke suatu tempat?” tanya gadis itu lagi ketika di mobil.

“Pertunangan kakakmu.”

Kang Ji Eun terperangah.

***

“Apa kau sedang teringat dengan ibu perimu?” tanya Park Chanyeol sambil menyodok bola billiard. Beberapa bola itu dengan sukses masuk ke dalam lubang.

“Apa?” Kai yang sedang tiduran di atas sofa mengerjapkan matanya beberapa kali. “Mm. Entahlah.” gumamnya kemudian.

“Matamu selalu seperti itu ketika memikirkan anak itu.” sahut Chanyeol. Ia meminum segelas bir yang ada di atas meja. “Padahal ini sudah lebih dari 5 tahun. Kenapa kau masih memikirkan gadis itu? Kau menyedihkan, dude.”

Kai tersenyum. “Entahlah.”

Dia menatap jendela besar itu. Ibu peri kita bertemu lagi. Ini pasti takdir kan? Batinnya.

***

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s