[EXOFFI FREELANCE] Andromeda (Chapter 2)

picsart_01-28-07-53-22

ANDROMEDA

Cast :

  • Song Hana
  • Oh Sehun
  • Kim Jongin

Author : AL

Genre : Horror, Supernatural, Romance

Lenght : Chapter

Rating : PG-17

Disclaimer : Semua alur dalam cerita ini adalah fiksi belaka. Ini murni hasil imajinasi penulis. Dilarang mengutip atau pun menyalin tulisan ini. Hargai karya penulis. Tulisan ini juga dimuat dalam wattpad pribadi penulis dengan judul yang sama.

**

Chapter 2

Aku mohon, tolonglah aku.

Kalimat itu terdengar begitu lirih. Siapa pun yang mendengar itu pasti akan ikut merasakan perasaan khawatir yang terkandung dalam pengucapan kalimat barusan. Rasa khawatir yang terkadang selalu dirindukan, tapi untuk kali ini, ketakutan memakan rindu itu sendiri.

Hana yang menjadi pendengar kalimat itu menggertakkan giginya. Ia menduga pasti ada hal buruk yang telah terjadi pada pemilik suara itu. Hal yang paling ditakutkan akhirnya benar-benar terjadi, tapi kalau hal itu tidak terjadi, apakah ada yang akan mempercayai ucapan Hana?

“Bibi, dengarkan aku baik-baik,” ucap Hana tenang, seperti sudah biasa mengatakan kalimat itu. “Sebelum sesuatu yang besar terjadi, aku minta bibi untuk pergi dari rumah itu terlebih dahulu. Tidak baik berlama-lama di tempat itu. Aku akan bernegosiasi dengan nenek itu lebih dahulu.”

Kau tahu nenek itu?”

Hana mengangkat ujung bibirnya tipis. “Aku pernah melihatnya, oleh karena itu aku tahu rumah bibi berada dalam zona yang gelap,” ucapnya sambil memiringkan kepalanya. “Aku pasti akan membantu bibi.”

Kali ini Hana mendengar isakan. Meskipun tidak jelas, ia mengerti  dengan jelas apa arti dari isakan itu. “Jonghan, anakku, dia.. dia..”

“Aku tahu,” ucap Hana mengangguk sedih.

Jongin juga, ia juga merasakan kedatangan nenek itu.”

Hana berdeham pelan. Ia menghembuskan nafas panjang merasa prihatin dengan semua kondisi ini. “Bibi, kita harus bicara. Bisa kita bertemu?”

**

Seorang pria paruh baya kini tengah memainkan kakinya untuk mengusir rasa bosannya. Berkali kali ia telah melihat deretan angka di jam tangan silver miliknya. Dia pikir, ia telah menunggu terlalu lama, bukankah gadis itu bilang hanya sebentar.

Kenapa ia menerima panggilan itu lama sekali?

Kali ini pria itu menegakkan punggungnya begitu seorang gadis yang ditunggunya mulai menghampirinya. Ia melihat gadis itu tersenyum kecil padanya.

“Jadi,  hem, Oh Sehun, sampai mana tadi kita bicara?” ucap gadis itu yang kini telah menatap lawan bicaranya dalam-dalam. “Kau bilang sesuatu tentang menjual bangunan ini bukan?”

Sehun menganggukkan kepalanya. “Ya, aku akan memberikan tawaran yang menarik jika kau menjual bangunan ini pada Ilhoon,” ucapnya percaya diri. “Bagaimana menurut pendapatmu, Hana-sshi?”

Hana menggaruk keningnya seolah sedang berpikir. “Kau tahu kan, mendapatkan bangunan di Seoul itu tidak mudah. Apalagi di tempat seperti ini,” ucapnya yang kini melipat tangannya didada. “Apa tawaranmu hanya sebatas itu?”

Sehun menaikkan sebelah alisnya. Baru sedetik kemudian ia terkekeh pelan menyadari apa maksud dari ucapan lawan bicaranya barusan. “Apa uang yang aku tawarkan padamu kurang? Padahal aku pikir itu sudah lebih dari cukup,” ucapnya.

“Aku tidak berminat dengan uang.”

“Lalu?”

“Tawaran itu bisakah diubah?” tanya Hana sambil mulai mendekat ke arah Sehun. Ia mengatur jarak sedekat mungkin dengan lawan bicaranya itu. “Aku hanya menginginkan satu hal.”

“Apa maksudmu?” ucap Sehun sambil menundukkan kepalanya. Menyelaraskan pandangan matanya untuk melihat perubahan ekspresi lawan bicaranya itu. “Apa yang kau inginkan?”

Hana tersenyum. “Jadilah asistenku,” ucapnya tanpa ragu. “Aku akan menjual bangunan ini padamu asalkan kau mau melakukan itu. Bagaimana?”

Apa gadis ini sudah gila?

**

Hana mengaduk gelas kopinya yang hanya tinggal separuh. Bunyi gesekan es batu terdengar jelas saat ia melakukan aksinya itu. Kali ini, dengan gerakan malas ia mengambil ponselnya dengan tetap mempertahankan posisinya, duduk terduduk dan menutupi matanya dengan satu tangan.

“Ini sebabnya aku benci datang ke tempat seperti ini sendirian,” bisik Hana. “Kenapa hantu pelayan itu terus menatapku. Ah, lalu kenapa bibi itu belum datang juga.”

Hana menghembuskan nafas panjang. Detik berikutnya ia kini mulai mendekatkan ponsel miliknya ditelinga. Begitu sambungan terhubung ia mulai berdeham pelan. “Halo?”

“Halo,” ucap seseorang diujung sana. Suaranya asing, berbeda dengan yang sebelumnya pernah Hana dengar.

“Kau siapa?” tanya Hana.

“Bukankah seharusnya aku yang menanyakan itu? Kau siapa nona? Kenapa meneleponku?”

Hana mengerutkan keningnya. Ia kemudian melihat layar ponselnya, memastikan nomor yang ia panggil bukan nomor yang salah. “Aku tidak salah. Ini nomor bibi. Tapi kenapa malah suara laki-laki yang ku dengar?” gerutu Hana.

“Halo?”

Hana buru-buru mendekatkan kembali ponselnya itu ke telinganya. “Ya, begini, hem apakah ini nomor bibi?”

“Bibi? Bibi siapa maksudmu?”

Hana menghembuskan nafas panjang. “Aku bahkan lupa menanyakan nama bibi itu,” bisik Hana kesal. Kemudian ia mulai berdeham pelan. “Hem, begini, maksudku apakah ini nomor bibi yang memiliki aksen busan itu?”

Aksen busan? Aku tambah tidak mengerti maksud ucapanmu.”

Lagi-lagi Hana menghembuskan nafas panjang. “Baiklah,  sepertinya aku salah sambung,” ucapnya pasrah. “Maaf telah mengganggu waktu anda, aku akan menu,”

“Eh, tunggu dulu. Jangan ditutup. Aku hanya bercanda.”

Hana terdiam sejenak. “Apa maksudmu?”

Terdengar suara kekehan dari ujung sana. “Ehm, bisakah kau menegakkan pandanganmu? Kau pasti akan terkejut.”

Hana menaikkan sebelah alisnya, jelas ia tidak mengerti maksud ucapan yang didengar barusan itu. Tapi ia tetap melakukannya, ia kini menegakkan kepalanya dan menata poni rambutnya yang sedikit menghalangi pandangannya. Betapa terkejutnya ketika ia menyadari, di meja depannya ada seorang laki-laki yang masih mengenakan seragam lengkap sedang tersenyum padanya sambil memegang ponsel.

“Kau laki-laki itu?” tanya Hana hati-hati. Ia kini menatap dalam-dalam laki-laki yang ada di hadapannya itu untuk memastikan satu hal.

Laki-laki yang sedang diperhatikan Hana kini tersenyum. Sedetik kemudian ia mulai mendekat ke arah Hana. Ia menjauhkan ponselnya dari telinganya yang mengakibatkan sambungan dari ponsel Hana juga ikut terputus. Kini, Hana menyadari hal itu,  dugaannya benar.

“Boleh aku duduk di sini, Noona?”

Hana menatap malas laki-laki yang kini bahkan sudah duduk di hadapannya sebelum ia menjawab pertanyaannya itu.

“Aku mencarimu dari tadi,  ternyata kau ada di hadapanku, noona,” ucapnya sambil menopang dagu. “Aku tadinya ingin meneleponmu lebih dahulu, tapi kau sudah melakukannya. Maaf ya, telah mengerjaimu, habis kau tadi terlihat aneh, lagi pula itu juga menyenangkan.”

Hana menggelengkan kepalanya pelan melihat tawa kecil yang ditunjukkan untuknya itu. “Kau benar-benar membuang waktuku,” ucapnya malas.

Kini laki-laki di hadapan Hana memperlihatkan cengirannya. “Hem, habis noona menutupi wajah dengan tanganmu itu. Makanya aku melakukannya,” ucapnya santai. “Ada apa memangnya? Ku pikir kau tidak percaya diri dengan wajahmu. Tapi, sepertinya tidak.”

Hana menarik ujung bibirnya tipis. “Kalau aku mengatakan alasannya apa kau akan mempercayaiku?”

Laki-laki itu diam sejenak. Sedetik kemudian ia membulatkan matanya. “Apakah ini sesuatu tentang hantu?” bisiknya ragu.

Hana menganggukkan kepalanya.

“Kalau begitu jangan ceritakan. Aku sudah tidak ingin lagi mendengar kisah hantu,” ucapnya sambil mengibaskan tangannya. “Kalau bercerita tentang hantu aku jadi mengingat kejadian malam itu.”

Hana berdeham pelan. “Hem, jadi kau Jongin bukan?” tanyanya pelan. “Dimana bibi? Ah, maksudku ibumu? Kenapa dia tidak datang bersamamu?”

Laki-laki yang bernama Jongin itu menghembuskan nafas panjang. Ekspresi wajahnya kini berubah. “Ibu saat ini sedang di rumah sakit bersama Jonghan. Noona tau, tadi pagi saat ibu sedang berkemas dan bersiap untuk menemuimu, tiba-tiba saja ia terjatuh dari tangga.  Padahal ibu adalah orang yang sangat berhati-hati. Aneh sekali bukan.”

Hana prihatin. “Lalu bagaimana kondisi bibi saat ini?”

“Kakinya terluka. Tapi ibu sudah lebih baik, kata dokter ibu butuh banyak istirahat,” ucap Jongin sambil memainkan jemarinya mencoba mengusir rasa khawatirnya itu. “Semenjak kejadian itu pula, ibu tidak mau jauh-jauh dari Jonghan dan aku. Ia benar-benar takut nenek itu akan mengikutinya sampai rumah sakit.”

“Tidak, dia tidak akan mengikuti bibi. Nenek itu tidak bisa pergi dari rumah itu. Dia termasuk hantu penunggu,” ucap Hana. “Sebaiknya kau jangan kembali dulu ke rumah itu sebelum aku menyelesaikan tugasku. Kau harus menjaga bibi baik-baik.”

Jongin membuang nafas gusar. “Lalu apa yang akan kau lakukan? Noona benar-benar akan melakukan ritual pengusiran?”

“Tidak semudah itu,” ucap Hana sambil menggelengkan kepalanya. “Aku baru saja kehilangan buruanku, jadi sulit untuk melakukan ritual dengan kondisi seperti ini.”

Jongin tidak begitu mengerti maksud ucapan Hana barusan terutama kata buruan yang dibicarakannya itu, tapi menganggukkan kepala merupakan cara yang terbaik untuk menanggapi ucapan lawan bicaranya itu saat ini.

“Aku ingin mencoba berbicara dengan nenek itu terlebih dahulu, setelah itu baru aku akan memikirkan cara apa yang tepat untuk mengembalikannya ke alamnya,” lanjut Hana.

Jongin terdiam sejenak. Ia memikirkan sesuatu. “Kalau kau butuh bantuanku katakan saja,  noona. Aku pasti akan membantu,” ucapnya dengan senyuman.

“Kau hanya perlu menjaga ibu dan adikmu dengan baik,” ucap Hana sambil membalas senyuman Jongin. “Aku bisa melakukan itu sendiri.”

Meskipun itu sangat sulit.

**

Tumpukan berkas itu sudah tiga hari bersarang di meja kerja seorang Oh Sehun. Selama hari itu pula, pemiliknya sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak dan terus menerus memikirkan semua yang harus ia kerjakan mengenai tumpukan itu. Reputasinya sebagai seorang direktur kini sedang terancam. Mainan politik dalam Ilhoon kini tengah berlangsung, ia benar-benar harus waspada. Sekarang, Sehun mengetahui dengan jelas kalau permainan politik seperti itu tidak hanya terjadi di dalam pemerintahan, tapi itu juga ada dalam kehidupan bisnisnya. Sungguh memuakkan.

Sehun kini menghembuskan nafas panjang. Sepintas ia memikirkan kejadian yang dialaminya kemarin.

Jadilah asistenku

Kalimat itu masih terdengar jelas dalam benak Sehun seolah ia baru saja mendengar itu. Kata-kata gadis itu terus menerus terngiang dalam benaknya.

“Kenapa aku harus menjadi asistennya? Dia tidak tahu aku siapa ya? Berani sekali dia,” gerutu Sehun. Ia terlihat masih kesal terlihat dari perubahan ekspresi lipatan diwajahnya. “Apa dia mencoba untuk memanfaatkanku?”

Bukan memanfaatkanmu. Aku hanya ingin meminta apa yang pantas dari pertukaran ini. Aku memberikanmu bangunanku, dan kau menjadi asistenku. Apa sulitnya? Kita sama-sama mendapatkan apa yang kita inginkan.

Sehun memghembuskan nafas mengingat jawaban yang dilontarkan gadis itu kemarin.

Aku tahu kau sangat membutuhkan bangunan ini kan? Jadi terimalah tawaranku ini. Tidak ada negosiasi apa pun, oke. Aku akan memberikan waktu untuk kau berpikir, tapi jangan lama-lama ya, aku benar-benar sangat membutuhkan asisten saat ini.

Gertakan gigi kali ini terdengar dari mulut Sehun. “Tawaran macam apa itu! Benar-benar tidak masuk akal,” ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Tawaran seperti apa sih yang membuat Sehun seperti ini?”

Suara itu membuat Sehun berdiri dari posisinya. Ia memiringkan kepalanya memperhatikan lama orang yang saat ini sedang menatapnya itu. Sebuah senyuman terlukis membalas senyuman yang diarahkannya padanya. “Bella?” ucapnya masih dengan senyumannya. “Sedang apa kau disini?”

Orang yang dimaksud Sehun dengan nama Bella itu kini memajukan sedikit bibirnya. Ia mulai mendekat ke arah Sehun dan duduk di hadapan direktur muda itu. “Aku kesini tentu  saja untuk menemuimu,” ucapnya sambil melipat kedua tangannya didada  “ Kau lupa ya, hari ini jadwalmu untuk mengawasi duo idiot itu. Kenapa kau tidak datang ke markas?”

Sehun menepuk jidatnya pelan. “Ah, benar aku lupa,” ucapnya sambil terkekeh pelan. “Tapi, berhubung kau disini, aku ingin menanyakan suatu hal.”

“Apa ini tentang suatu hal yang membuatmu gusar seperti ini?”

Benar sekali.

**

Lima menit telah berlalu.

Seharusnya Hana sudah berhasil memanggil hantu pengintai yang membuat kontrak dengannya. Tapi, dari tadi tanda-tanda kehadirannya pun sama sekali tidak terlihat.

Apa kemampuanku sudah menurun ya?

Dengan berat hati Hana kini mulai membuka matanya, dilepasnya kain yang ada ditangannya untuk syarat pemanggilan ini. Suara embusan nafas kini terdengar. “Payah sekali,” gerutunya. “Apa aku langsung saja masuk ke rumah itu saja ya? Semoga saja nenek itu tidak langsung membunuhku.”

Hana mengambil nafas dalam-dalam. Digenggamnya gelang yang juga merupakan jimat keberuntungannya itu erat-erat. Baru Hana ingin mengambil langkah dan membuka pintu rumah itu sebuah gerakan menghentikannya.

Dengan cepat Hana kini membalikkan badannya. Punggungnya bergetar. “Kau benar-benar mengagetkanku,” ucapnya yang tanpa sadar menaikkan suaranya beberapa oktaf. “Kenapa semua hantu selalu mengagetkanku.”

“Bukankah kau yang memanggilku? Kenapa kau malah terkejut?”

Hana terdiam sejenak. Ia mengatur nafasnya pelan. “Kenapa kau tidak langsung datang ketika aku memanggilmu, ha?” ucap Hana sambil mengatur jarak dari hantu yang ada di hadapannya saat ini. Bau hantu pengintai saat khas dengan darah, Hana sangat membenci bau itu.

“Aku ini sibuk sekali. Jadi kau harus memakluminya ya. Tapi ngomong-ngomong, ada perlu apa kau memanggilku.”

“Hey, ternyata hantu juga punya kesibukan ya,” ucap Hana asal. “Aku ingin minta tolong padamu untuk mengintai rumah ini. Bisa kan?”

Aku tidak bisa.”

Hana membulatkan matanya. “Apa maksudmu? Kau ini sudah mengikat kontrak denganku, kenapa kau tidak mau melakukan tugasmu, ha?”

“Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak bisa. Kau tidak melihat aura rumah ini apa? Kau seharusnya sudah menyadarinya. Penunggu hantu di rumah ini benar-benar tidak ramah. Kau langsung saja melakukan ritual pengusiran. Jangan membuang waktumu untuk mencoba berbicara baik-baik dengan hantu di tempat ini.”

“Aku belum memiliki perantara. Aku tidak bisa langsung melakukan ritual.”

“Kalau begitu jauhi saja rumah ini. Sebagai hantu aku memperingatimu, kalau kau ingin hidupmu panjang umur jangan mencoba bicara pada hantu di rumah ini. Mengerti?”

Hana menghembuskan nafas panjang. “Separah itukah?” tanyanya ragu.

“Lihat itu, di jendela lantai dua. Dia sedang memperhatikan kita. Kau tidak lihat tatapannya? Matanya merah, seakan sedang menunggu santapan lezat yang datang.”

“Aku tahu. Makanya aku tidak menoleh ke atas dari  tadi,” ucap Hana sambil menelan salivanya perlahan.

Kalau seperti ini, apakah aku harus menangkap buruanku lagi?

**TBC**

Haii..

Al diisini masih bawa kasus yang sama niih. Jangan lupa masukan dan sarannya yaa..

See you di update minggu depan.

 

Iklan

8 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Andromeda (Chapter 2)

  1. OMG kok makin serem…..
    ngomong” hantu kontraknya hana itu yg matanya copot itukah??? kok gaul yaa, sok”an sibuk.. hahahahha
    okeee ini cukup menghibur diri yg sedang taakut….hehehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s