[EXOFFI FREELANCE] Love In Time (Chapter 2)

lit

Title                 : Love in Time [Chapter 2]

Author             : Ariana Kim

Main Cast        : Kim Ara

  Kim Jongin

  Oh Sehun

  Park Hana

  Lee Yian

Genre              : Family, Romance, Angst, School Life

Rating             : PG

Length             : Chaptered

Summary         : Hal yang paling mengesalkan bagi Jongin adalah menjadi saudara kembar Ara. Bagaimana bisa mereka yang tidak mirip satu sama lain bisa menjadi saudara kembar?Berawal dari harapan aneh yang Jongin buat, hidup mereka menjadi semakin rumit saja.

Disclaimer       : FF ini murni hasil pemikiranku. Ide cerita berasal dari kehidupan seseorang yang aku kenal dengan penyesuaian pada semua isi cerita. Apabila ada kesamaan tokoh dan jalan cerita mungkin itu hanya ketidaksengajaan. Don’t bash and don’t copast. Hargai kerja keras penulis J  FF ini pernah dipost di blog pribadi author.

HAPPY READING J

***

“Aku terbangun dari mimpiku dan menemukan kembali sebuah bintang yang menyedihkan dari kejauhan….”­ – One of These Nights, Red Velvet.

 

***

 

Chapter 2

 

“Ibu.. ibu..”

Seorang gadis kecil berlari menghampiri seorang wanita yang tengah duduk di bangku taman. Gadis kecil itu menghambur memeluk wanita yang ia panggil ibu. Wanita itu lantas balas memeluk gadis kecil dengan penuh kasih sayang.

“Aku benar-benar merindukan Ibu..” ucap gadis itu setelah melepaskan pelukannya. Ia menatap wanita itu dengan matanya yang bulat.

Wanita itu tersenyum mendengar anaknya berkata demikian. “Ibu juga merindukanmu, sayang. Juga Jongin dan Ayahmu..” balasnya.

Gadis kecil itu kembali memeluk Ibunya. “Apapun yang terjadi, Ibu tidak akan meninggalkan aku dan Jongin, ‘kan? Ibu tidak akan pergi jauh lagi, ‘kan?” tanyanya dengan wajah memelas. Ia tidak ingin ditinggalkan oleh wanita yang paling ia sayangi di seluruh dunia lagi. Seminggu ditinggal saja ia sudah tidak bisa tidur dengan nyenyak.

“Tentu saja, sayang. Kalian ‘kan anak-anak Ibu, kesayangan Ibu. Sampai kapanpun Ibu akan menemani kalian. Ibu ingin melihat anak-anak Ibu tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.”

———————————–

“Ibu.. Ibu..”

Tiba-tiba Jongin tersadar dan langsung membuka matanya. Cahaya lampu di ruangan itu langsung membuat mata Jongin silau dan refleks ia menutupinya dengan tangannya. Nafas Jongin terengah-engah. Ia baru saja bermimpi bertemu dengan Ibunya. Rasa-rasanya ini pertama kalinya ia memimpikan Ibunya sejak beliau meninggal tiga tahun yang lalu.

Mata Jongin memandangi sekitarnya. Ia tidak tahu kenapa bisa sampai berada di ruangan ini, padahal seingatnya ia tengah berlatih basket bersama teman-temannya. Jongin bangkit dan rasa sakit langsung menjalari kepalanya. Saat bangkit, Jongin merasa ada yang aneh dengan dirinya. Kaki-kakinya terasa dingin padahal seingatnya ia memakai celana panjang saat berlatih tadi. Lantas Jongin melihat dirinya sendiri, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati dirinya memakai seragam yang biasa dipakai siswa perempuan di sekolahnya. Ya Tuhan, apa yang terjadi??

 

***

 

Ara seperti tersentak saat merasakan tangannya di pegang oleh seseorang. Perlahan ia membuka matanya. Cahaya yang berasal dari lampu di ruangan itu membuat penglihatannya sedikit silau hingga ia tidak bisa membuka matanya dengan baik.

“Kau sudah sadar?”

Suara lelaki. Ara tidak salah dengar. Pasti ada lelaki yang berada di sebelahnya. Kurang ajar sekali dia dekat-dekat dengan dirinya. Ara memaksakan matanya untuk terbuka agar bisa melihat siapa lelaki yang berani mendekatinya di saat dirinya lengah seperti ini.

Lee Yian.

Ara membaca name tag yang tertempel pada kemeja yang dikenakan lelaki itu. Heol, bukankah dia temannya Jongin? Kenapa dia bisa ada disini? Apa jangan-jangan Jongin yang menyuruh lelaki itu untuk menemaninya disini? Memangnya apa yang terjadi pada dirinya? Ugh, mengingatnya membuat kepala Ara kembali berdenyut-denyut.

“Jongin, gwaenchana?” Yian kembali bertanya saat lelaki yang terbaring di sampingnya ini memegangi kepalanya.

“Kepalaku sakit.” Jawab Ara sambil meringis.

Tunggu.

Siapa yang dipanggil lelaki itu? J-Jongin dia bilang?

Heh, apa lelaki ini tidak bisa membedakan dirinya dengan Jongin? Walaupun ia dan Jongin saudara kembar, tapi mereka sama sekali tidak mirip. Terlebih Jongin laki-laki dan Ara perempuan. Apa yang salah dengan kepala lelaki itu?

Ara bangkit dari posisi tidurnya dan menatap lelaki itu. Tak lupa ia buru-buru menarik tangannya yang tadi sempat dipegang oleh lelaki itu. Huh, kenapa sih lelaki ini harus ada disini? Memangnya dia mengenal Ara?

“Apa kau haus?” Yian bertanya setelah keheningan yang cukup lama.

Kening Ara berkerut. Lelaki ini benar-benar aneh, pikirnya. “Tidak. Aku baik-baik saja dan tolong tinggalkan aku.” Ucapnya.

DEG

Sesaat Ara menyadari sesuatu. Ada yang salah dengan dirinya. Seingatnya suaranya tidak seberat ini. Apa ia sedang flu hingga suaranya berubah menjadi seperti ini? Ah tidak. Ia sehat-sehat saja selama ini. Perlahan Ara menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan betapa terkejutnya ia mendapati dirinya bukan seperti apa yang ia pikirkan selama ini.

“KYAAAAAAAAAA!!!!!” Jeritnya histeris. Ia langsung turun dari ranjang dan membuka tirai yang mengelilinginya. Dan saat ia berhasil menyibakkannya, ia kembali dikejutkan melihat seseorang yang ia ketahui sebagai dirinya yang selama ini.

“AAAAAAARRRRRGGHHHHHHHHH!!!!!!”

Jongin dan Ara sama-sama berteriak histeris melihat diri mereka masing-masing. Jongin kembali melihat dirinya lagi, meraba-raba tubuhnya dan kembali menjerit setelah mengetahui jika ini sesuai dengan apa yang ia pikirkan barusan.

“Kenapa dengan kalian?” Sehun yang baru saja masuk, bingung melihat tingkah Jongin dan gadis itu. Ada apa dengan mereka?

 

***

 

“Jadi, tubuh kita tertukar begitu?” Ara mengulangi lagi pertanyaannya. Ia benar-benar tidak bisa mempercayai ini semua.

Saat ini mereka sedang berada di atap sekolah. Jongin langsung menarik Ara saat sadar ada orang lain diantara mereka berdua dan rasanya tak akan baik jika ada yang tahu tentang mereka.

“Itu yang bisa kusimpulkan setelah apa yang terjadi pada kita. Memang apa namanya jika kau berada dalam tubuhku dan aku berada dalam tubuhmu? Itu artinya jiwa kita tertukar, Ara.” Jelas Jongin, masih terlihat ragu.

Ara menghembuskan nafasnya, suaranya terdengar begitu berat, khas lelaki. “Ini pasti gila. Maksudku, bagaimana bisa hal ini terjadi pada kita? Memangnya kita hidup di negeri dongeng?” Cibirnya, sambil mengacak-acak rambut cepak Jongin.

“Berhenti menyentuh kepalaku. Kau pasti akan melukainya.” Jongin melalui tangan Ara, menyingkirkan tangannya dari kepalanya. Karena tubuh Ara lebih pendek dari Jongin, memaksa Jongin untuk berjinjit sehingga bisa menyentuh kepalanya sendiri.

“Cih.. memangnya kenapa jika aku melakukannya? Aku memang ingin sekali memukulmu sejak dulu.” Kata Ara. Seakan ingin membuktikan perkataannya, Ara mencubit pipi Jongin dengan keras dan refleks ia menjerit kesakitan.

“Oh, beraninya kau!! Lihat apa yang akan aku lakukan padamu ini.” Jongin tak mau kalah. Ia menjambak rambut panjang Ara dengan keras namun lagi-lagi ia juga menjerit kesakitan karena seakan-akan ia seperti sedang menjambak rambutnya sendiri.

Ara marah melihat dirinya dilukai oleh Jongin. Ia berjalan dengan cepat mendekati Jongin dan langsung mendorongnya hingga jatuh.

“Yak!! Apa yang kau lakukan padaku, bodoh??!!” Jongin berteriak saat Ara dengan brutal menjambak rambutnya. Ia ingin bangkit namun Ara sudah menduduki tubuhnya hingga ia terhimpit. “Hei, sakit, bodoh!! Apa kau tidak tahu itu sama saja melukai dirimu sendiri? Ini rambutmu bukan rambutku!!” sambungnya. Namun teriakannya seakan percuma karena Ara seolah tuli dengan semua ocehan Jongin.

Tanpa mereka sadari, Sehun dan Yian membuka pintu dan terkejut melihat mereka yang tengah berkelahi. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Sehun bahkan sampai melotot melihatnya. Bagaimana mungkin, – ah tidak. Apa Jongin bodoh? Kenapa ia menyerang perempuan seperti itu? Posisi mereka benar-benar!!

“Jongin, kau gila??” Yian memekik begitu melihat apa yang tengah dilakukan Jongin pada gadis itu. Ia berlari dan mencoba menarik Jongin yang menduduki gadis itu.

“Minggir kau, bodoh!!” Tak mau diganggu, Ara yang berada dalam tubuh Jongin mendorong Yian hingga lelaki itu mundur sedikit dan melanjutkan lagi pergulatannya dengan Jongin.

Jongin yang berada dalam tubuh Ara tak tinggal diam. Ia tak mau menjadi pihak yang lemah hanya karena berada tubuh saudara kembarnya yang menyebalkan ini. Ia mulai melakukan serangan balik pada Ara dengan menggigit lengan gadis itu hingga Ara memekik kesakitan. Saat Ara mulai lengah karena kesakitan, Jongin mendorong tubuh Ara hingga ia terjungkal ke belakang.

“Kau benar-benar menjengkelkan!!” Teriak Jongin marah. “Aku tidak mau melukaimu lebih jauh karena kau ini perempuan. Tapi jika kau begini terus padaku, jangan menangis jika aku melukaimu lebih jauh lagi.” Sambungnya lalu berjalan pergi. Ia bahkan tidak mempedulikan Sehun dan Yian yang terdiam melihat perkelahiannya dengan Ara yang berada dalam tubuh Jongin.

“Jongin, kau baik-baik saja?” Sehun mendekati Jongin yang sedang menepuk-nepuk celananya yang kotor terkena debu.

“Hei, kenapa kau melukai gadis itu?” Yian ikut mendekati Jongin.

Ara yang berada dalam tubuh Jongin terdiam. Kenapa dua lelaki ini cerewet sekali, sih? Oke, harus Ara akui jika mereka ini teman-teman Jongin. Tapi, apakah harus berlebihan seperti ini? Cara mereka bersikap seperti segerombolan gadis-gadis gila yang berlebihan. Cih, menyebalkan saja.

“Aku baik-baik saja. Dan tolong berhentilah bersikap seperti itu. Kalian membuatku muak saja.” Ucapnya dingin. Ia berjalan keluar dari atap meninggalkan Sehun dan Yian yang kebingungan.

“Kupikir ada yang salah dengannya.” Sehun bergumam namun masih didengar oleh Yian. “Hei, Yian. Apa kau tidak penasaran apa yang mereka lakukan sebelum itu? Kupikir Jongin menyukai gadis itu.” sambungnya, mengemukakan analisisnya.

Yian tertawa mendengarnya. “Jangan gila. Kau tahu ‘kan seperti apa selera Jongin? Mana mungkin dia – oh, terlebih dia adalah gadis mengerikan yang membuat Baekhyun kehilangan kepercayaan dirinya. Heol, itu mustahil.” Ucap Yian, mematahkan analisis yang Sehun buat.

“Oke, bisa jadi seperti itu. Tapi apa kau tidak ingin tahu kenapa posisi mereka begitu? Itu adalah posisi yang sangat pas untuk – “

“Bicara yang masuk akal sedikit dan bersihkan otakmu, bodoh.” Yian pergi meninggalkan Sehun yang mulai berpikiran aneh-aneh.

 

***

 

“Ah, sialan!!”

Untuk kesekian kalinya Jongin mengumpat kesal. Bagaimana tidak? Ia tidak bisa pulang karena semua barang-barangnya dibawa oleh Ara, terlebih kunci motor yang ia letakkan di dalam tasnya. Gadis itu pulang tanpa memberitahunya dan membuatnya harus berdiri menunggu bus yang datang dalam cuaca sedingin ini dengan pakaian yang minim. Oke, seragam yang dipakai Ara ini normal. Tapi ia tak habis pikir, bagaimana bisa gadis-gadis itu bertahan dalam cuaca sedingin ini dengan rok sependek ini? Walaupun sudah memakai mantel setebal apapun, tapi kakimu masih akan terpapar cuaca dingin. Seharusnya sekolah lebih perhatian pada siswinya, setidaknya dengan membuatkan seragam musim dingin yang benar-benar nyaman.

Berkali-kali Jongin mencoba menelepon Ara menggunakan ponsel milik gadis itu namun tidak diangkat sama sekali. Gadis itu benar-benar mengerjainya kali ini. Ia pasti menelepon Ahn Ahjussi untuk menjemputnya dan meninggalkan dirinya seorang diri. Jika saja posisinya tidak seperti ini, ia pasti akan meminta teman-temannya untuk mengantarnya pulang ke rumah. Tapi dengan keadaannya yang seperti ini, apa yang bisa ia lakukan selain melakukannya seorang diri?

Akhirnya bus yang ditunggu Jongin pun tiba. Ia tersenyum senang dan mulai melangkahkan kakinya untuk naik ke dalamnya. Namun saat sampai di pintu, Yian memaksa masuk hingga mau tak mau ia harus mengalah dengan mempersilahkan Yian naik duluan. Dalam hati Jongin mengumpat. Temannya yang satu ini memang tidak punya sopan santun sama sekali. Tapi Jongin sedang tidak ingin mencari masalah sekarang terlebih ia berada dalam tubuh kembarannya ini.

Setelah naik, ternyata bus itu penuh dan hanya satu kursi kosong di samping Yian. Jadilah Jongin memilih untuk duduk di samping lelaki itu. Mungkin jika Ara yang sebenarnya, pastilah tidak mau berdekatan dengan laki-laki. Tapi Jongin yakin seratus persen gadis itu juga tidak ingin repot-repot naik bus, berjalan kaki jauh sedikit saja tidak mau.

Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan apapun diantara keduanya. Baik itu Yian maupun Jongin, sama sekali tak bertukar sapa. Awalnya Jongin ingin menyapa temannya ini, tapi mengingat seperti apa dirinya sekarang ini, akhirnya ia mengurungkannya. Ia takut Yian akan tahu dan pastinya itu akan menjadi buruk untuk dirinya dan Ara. Terlebih jika Yian tahu siapa ia dan Ara sebenarnya.

“Aku ingin meminta maaf padamu atas nama temanku.” Yian, yang sejak tadi fokus pada ponselnya, membuka pembicaraan dan membuat Jongin yang berada dalam tubuh Ara menoleh. “Jongin memang tidak bisa mengontrol emosinya.”

Jongin mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa temannya yang satu ini menjelek-jelekkannya di depan orang lain? Untung saja Ara adalah dirinya, jika tidak, Ara pasti akan tertawa dan mengejeknya terus menerus.

“Tidak apa. Itu hanya kesalahpahaman.” Jongin mencoba meniru bagaimana Ara berbicara. Rasanya agak sulit karena ia tidak terbiasa berbicara dengan nada dan ekspresi seperti itu. Sepertinya ia harus alami layaknya dirinya sendiri.

“Aku tidak tahu kau memiliki hubungan dengan Jongin.” Yian menyahut.

“Hubungan apa maksudmu? Aku bahkan tidak mengenalnya.” Jongin mencoba mengelaknya. Jika Yian tahu ia dan Ara memiliki suatu hubungan, bisa gawat nanti.

Yian mengangguk mendengar jawaban Ara. Dugaan Sehun ternyata salah besar. Lagipula, jika Jongin memiliki hubungan dengan seorang gadis, Yian pasti akan tahu karena Jongin sering meminta pendapatnya tentang semua hal. “Oh, baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong, namamu Kim Ara, ‘kan?”

Jongin yang berada dalam tubuh Ara mengangguk. Sebisa mungkin ia bersikap wajar tanpa menimbulkan kecurigaan apapun. “Iya.”

“Aku Lee Yian, kelas 2-C. Senang bertemu denganmu.” Kata Yian sambil tersenyum. Jika saja yang sekarang ada dihadapan Yian adalah seorang gadis yang benar-benar ‘gadis’, pastilah ia akan langsung terpesona pada senyuman manis Yian. Terlebih wajahnya yang benar-benar tampan pasti akan membuat gadis manapun takluk padanya, kecuali itu adalah Jongin yang berada dalam tubuh seorang gadis yang menyebalkan. “Ternyata kau tidak seburuk yang aku kira.” Sambungnya tiba-tiba, membuat Jongin terkejut.

“Maaf?”

“Ah, tidak. Hanya saja, setelah melihat bagaimana kau bersikap pada Baekhyun – temanku, waktu itu.. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak tentangmu.”

Kening Jongin berkerut. Baekhyun pernah mengganggu Ara? Kapan dan dimana? Kenapa Yian bisa tahu?

“Kau pasti merasa terganggu sekali ‘kan dengannya? Maaf ya, dia benar-benar kelewatan padamu.” Sambung Yian.

Oke Yian, cukup minta maaf untuk semua ulah teman-temanmu. Tapi Jongin tak habis pikir, ada angin apa sampai Baekhyun menghampiri Ara dan mengganggunya? Pasti lelaki itu berpikir untuk menggoda Ara dan menjadikannya target selanjutnya. Jika itu benar, Jongin tak akan membiarkan hal itu. Ia tidak mau Ara sampai berurusan dengan teman-temannya. Bukan karena ia mengkhawatirkan Ara, tapi karena Jongin tidak mau sampai teman-temannya tahu tentang siapa dirinya dan Ara. Itu akan menjadi hal yang buruk.

Tanpa sadar ternyata bus berhenti di halte yang letaknya tak jauh dari rumahnya, Jongin segera turun, meninggalkan Yian yang matanya terus-terusan mengikuti setiap pergerakan Jongin yang berada dalam tubuh Ara. Dalam hati Yian, ia tersenyum bisa melihat sisi lain gadis yang selama ini dibicarakan oleh semua teman-temannya. Ternyata Kim Ara yang selalu dianggap buruk oleh teman-temannya, tidak seburuk. Mungkin Ara memang gadis yang pendiam dan kurang bersosialisasi. Itulah sebabnya ia bersikap begitu. Yian tak mau lagi berpikir yang buruk tentang gadis itu.

Tak perlu waktu lama, Jongin akhirnya sampai di rumahnya yang super besar itu. Ia melangkah masuk dan alangkah terkejutnya saat menemukan Ara yang tengah berdiri saat ia membuka pintu. Dalam tubuh Jongin, Ara menatap kembarannya itu dengan wajah masamnya, membuat Jongin bisa menebak jika gadis itu sedang marah.

“Aku menunggumu sejak tadi.” Ara membuka suara.

Jongin melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ternyata diikuti oleh Ara. “Aku tidak bisa pulang karena kau membawa kunci motorku.”

“Salahmu sendiri pergi begitu saja.” Balas Ara tak mau kalah.

“Kau yang lebih dulu menyerangku.” Balas Jongin sambil memasuki kamarnya.

“Aku benci berada dalam situasi seperti. Apa kita terkena kutukan?” Ara mulai mengeluarkan apa yang berkecamuk dalam pikirannya sejak tadi. Ia terus berpikir bagaimana bisa hal itu terjadi pada mereka berdua? Mereka tidak berada di negeri dongeng dan tidak ada penyihir yang mengutuk mereka berdua.

“Aku juga tidak tahu kenapa. Ini benar-benar tidak masuk akal.” Ucap Jongin sambil melepas jas yang melekat di tubuhnya. Ara yang menyadarinya, buru-buru mencegah Jongin untuk melepasnya.

“Kau tidak bisa sembarangan melakukan itu. Bagaimana jika kau melihat tubuhku?” pekik Ara sambil mengacak-acak rambut cepak milik Jongin. “Sejak tadi aku merasa tidak nyaman dengan pakaian aneh ini, tapi aku takut mengganti pakaian.”

Di depannya, Jongin mengerang frustasi. “Aku juga tidak berminat melihat tubuhmu yang sama sekali tidak menarik.”

“Yak!! Jaga bicaramu, bodoh. Awas saja jika kau memanfaatkan situasi ini untuk menyentuh tubuhku.” Ara memberikan tatapan tajamnya pada Jongin. Jongin yang sudah terbiasa dengan hal itu, hanya melengos dan membaringkan tubuhnya pada ranjangnya yang empuk.

“Ini pasti tidak mungkin.” Ucap Jongin setelah keheningan yang cukup lama menyelimuti mereka berdua. Ara menoleh, menatap Jongin dengan wajah bingung.

“Apanya yang tidak mungkin?”

“Begini,” Jongin bangkit dan menempatkan dirinya untuk duduk dengan nyaman. “Aku tidak yakin apa karena hal ini, tapi aku mulai berpikir – “

“Langsung pada intinya saja, bodoh.” Potong Ara cepat. Sejak dulu Jongin tidak bisa berbicara langsung pada inti pokoknya dan hal itu akan memancing kemarahan Ara hingga mereka akan terlibat percekcokan pada akhirnya.

“Oke.” Jongin memasang wajah malasnya. “Aku pernah membuat harapan, harapan yang sangat aneh. Aku berharap agar menjadi orang lain di kemudian hari.” Jelas Jongin.

Ara terdiam, mencerna apa yang barusan Jongin katakan. “Jadi kau berpikir jika harapanmu ini menjadi kenyataan, begitu?” tebak Ara, yang mulai mengerti kemana arah pembicaraan Jongin.

Jongin mengangguk.

“Tapi kenapa kita harus bertukar posisi? Jika Tuhan memang berniat mengabulkan permintaanmu, harusnya kau dibuat mati terlebih dahulu baru dilahirkan kembali menjadi orang lain. Kenapa harus melibatkanku?” Ara tidak habis pikir. Ini semakin tidak masuk akal saja.

“Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu. Kita berada dalam situasi yang sama, jadi sebaiknya kita berpikir dengan kepala dingin.”

“Kapan kau membuat harapan itu?” tanya Ara penasaran.

“Saat ulang tahun kita yang ketujuh belas kemarin.”

“Tidak. Ini pasti tidak mungkin.” Ara berdiri dari duduknya. “Jika kau memintanya saat ulang tahun kita, bisa saja kita akan kembali lagi saat ulang tahun kita yang ke depalan belas dan itu masih sangat lama.” Ara frustasi. Sekarang baru pertengahan Februari dan bulan Desember masih akan sangat lama. ”Jong, kau yang menyebabkan semua ini. Tolong berdoalah pada Tuhan agar ia mengembalikan kita seperti semula lagi. Aku tidak mau hidup seperti ini selamanya.”

“Kenapa kita tidak berdoa bersama-sama saja?”

“Tuhan sepertinya lebih menyayangimu. Buktinya dia mengabulkan doamu.”

“Ini tidak sesederhana itu, Ara.” Jongin mulai kesal. Kepalanya sudah pusing memikirkan hal ini dan Ara semakin membuatnya pusing saja. “Mungkin Tuhan sedang menguji kita. Sebaiknya kita ikuti saja alur yang ia buat.” Jongin mulai menyerah.

“Jadi?”

“Mulai detik ini, kita harus menjalani peran yang berbeda sekarang. Kau menjadi diriku dan aku menjadi dirimu. Jadi, katakan padaku semua tentang dirimu.”

“Heol, kau gila!” Ara tetap tidak terima. Ia tidak mau menjadi Jongin. Selamanya.

“ARA!!!” Teriak Jongin yang mulai kehabisan kesabarannya. Ara mengerti dan diam. “Baiklah, aku minta maaf karena telah membuat harapan bodoh itu. Tapi yang perlu kau tahu, aku juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kau rasakan.”

Ara menghembuskan nafasnya yang terasa berat. “Baiklah. Apa yang harus aku lakukan selama menjadi dirimu?”

 

***

 

Keesokan harinya mereka mulai menjalani perannya masing-masing. Jongin mulai menjadi Ara dan Ara pun demikian. Mereka sepakat untuk saling berkomunikasi mulai sekarang, baik itu untuk memantau keadaan satu sama lain dan untuk menghindari adanya hal-hal yang tidak diinginkan. Cukup mereka saja yang tahu mengenai keadaan mereka sambil mereka mencari cara bagaimana mengembalikan diri mereka seperti semula.

Tidak mudah untuk menjadi seseorang yang sangat berbeda denganmu. Ara yang terbiasa dengan kesendiriannya, harus mulai berbaur dengan teman-teman Jongin. Mau tidak mau ia harus berdekatan dengan laki-laki yang sangat dihindarinya selama ini. Ingin rasanya ia bersikap seperti dirinya yang sebenarnya, tapi jika ia melakukan itu, teman-teman Jongin pasti akan menaruh curiga padanya. Tapi satu hal yang paling membuatnya pusing adalah, ia tidak bisa bermain basket sedangkan Jongin adalah atlet basket! Bukankah itu hal yang paling tidak masuk akal??!!

Disisi lain, Jongin juga merasa kesulitan menjalankan perannya sebagai Ara. Ia tidak masalah dengan Ara yang tidak memiliki satupun teman. Hal itu justru membuatnya tenang karena tidak akan ada seorangpun yang tahu karena tidak ada yang mengenal Ara dengan baik disini. Tapi, sudah hampir ribuan kali Jongin membolak-balik buku pelajaran milik Ara, tak ada satupun yang ia mengerti! Ia dan Ara memang saudara kembar. Tapi selain wajah mereka yang tidak mirip satu sama lain, Ara dan dirinya juga memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda. Jika selama ini Ara berada dalam posisi lima teratas di sekolah, Jongin harus rela terus-terusan berada pada posisi lima terbawah sejak dulu. Bukahkah itu benar-benar ironis?

Kembali pada Ara yang berada dalam tubuh Jongin, ia merasa lapar saat jam istirahat. Tidak biasanya ia merasakan lapar. Mungkin ini karena ia berada dalam tubuh seorang laki-laki yang porsi makannya jauh lebih banyak darinya. Jadi ia memutuskan untuk pergi ke kantin saat teman-teman Jongin tengah sibuk dengan kegiatan mereka. Tak tahu apa yang ingin ia makan, jadi ia memutuskan membeli mie ramen instan yang praktis dan bisa dimakan di mana saja. Setelah membayarnya, Ara memutuskan untuk memakannya di taman sekolah yang sepi.

“Benar-benar enak..” Ucapnya saat lidahnya merasakan mie itu pada indera pengecapnya. Sudah lama ia tidak makan mie ramen instan dan jika Nenek melihatnya, ia pasti akan memarahinya. Untung saja ia menjadi Jongin sekarang, jadi kalaupun Nenek melihatnya, ia akan biasa saja. Karena Nenek tidak pernah mempan memarahi Jongin dan itu sebabnya sekarang Nenek tidak terlalu mengekang Jongin mengenai banyak hal. Uh, senangnya menjadi Jongin.

“Jongin, apa yang kau lakukan?”

Ara hampir saja tersedak saking terkejutnya melihat Sehun tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya. Lelaki itu mengatur nafasnya, bisa Ara tebak pasti ia pasti habis berlari.

“Oh, ada apa?” Ara memasang ekspresi setenang mungkin. Ia tidak ingin terlihat mencurigakan.

“Tidak. Hanya saja kau menghilang tadi.” Kata Sehun, ia mendudukkan dirinya di samping Jongin. “Oh, apa yang kau makan?”

“Hanya ramen instan.” Kata Ara, menunjukkan apa yang tengah ia makan. “Kau tidak berniat meminta ramenku, ‘kan?” Ara sudah menebak pasti lelaki itu akan memintanya. Itu kan selalu dilakukan oleh laki-laki. Tapi awas saja jika Sehun berani meminta mie ramen miliknya. Ia tidak akan memberinya sedikitpun.

“Hei, bukankah kau alergi pada telur?” tanya Sehun saat melihat ada telur rebus di dalam ramen yang dimakan temannya itu.

Tiba-tiba Ara terdiam. Merasa terkejut setengah mati.

 

Jongin alergi pada telur??

 

 

 

 

 

TBC~

 

 

Holla~ ini adalah chapter 2 😀 😀

Sekali lagi makasih buat admin yang udah mau ngepost Ffku ini. Makasih juga buat readers yang udah mau membaca Ffku. Maaf kalo aku gak bisa bales komennya, hehe.. Kritik dan saran aku tunggu selalu J

 

 

Ariana Kim~

 

Iklan

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Love In Time (Chapter 2)

  1. Astaga naga!! Kok bisa tertuker sih??? Abpa yg mereka lakukan sampai jadi begini??? Nanti ara dipasangin sama siapa kak? Sehun? Sehun yaa plisss*-*
    Bagus kak baguss.. Kirakira jiwa mereka tertukarnya lama gakyaa?
    Goodluck kaa

  2. Mereka bertukar jiwa benar-benar keren alur nya gak bisa ditebak. Mungkin dengan pertuaran jowa ini mereka bisa mengerti akan persaufaraan dan kepedulian masing-masing.

  3. bagus maaf ya baru komen disini first comment ga. ini menarik. secret garden uh tapi mereka saudara kembar lula nonidentik pasti tujuannya biar ara bisa bersosialisasi dan tau bagaimana rasanya hidup dengan orang lain bukannya jadi individual. dan untuk jongin mungkin biar tau rasanya di protectivein dan di sayang banget sama neneknya. hanya menebak maaf jika tidak suka. SEMANGAT BUAT NEXT CHAPTERNYA YA AKU TUNGGU😘😘😘😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s