[EXOFFI FREELANCE] UR (Chapter 1)

image1

Title : U R

Author : REDLIGHT

Length : Chaptered

Genre : Slice of life, Romance, Comedy, Marriage Life, Crime

Rating : PG-13

Cast : Oh Sehun EXO /-/ Bae Irene RV

Main cast : Park Chanyeol EXO /-/ Jung Eunji APINK /-/ Byun Baekhyun EXO /-/ Jisoo BLACKPINK /-/ HyunA /-/ Lee Kwang Soo /-/ Gong Yoo *bisa bertambah kapanpun*

Disclaimer : Hanya seorang author biasa, yang bisa saja melakukan kesalahan. Jadi mian kalo author ada banyak kesalahan di ff ini. 🙂

Chapter 1

Seoul, 09.00

Rintik-rintik hujan turun satu persatu memabasahi kota, lama kelamaan rintikan itu semakin banyak dan semaki cepat, hingga akhirnya hujan deras-pun tiba. Orang-orang berlarian, mengangkat tangannya di kepala, menahan rintikan hujan itu membasahi tubuh mereka.

Seorang perempuan turun dari mobilnya, dengan segera ia membuka payungnya dan memakainya. Ditutupnya pintu mobil dan segera berjalan menuju sebuah gedung tinggi, tidak lupa ia memijit tombol untuk mengunci mobilnya, terdengar suara ‘biip biip’, tanda mobil terkunci.

  1. HAE WON

Terpampang jelas diatas bangunan tinggi nan besar itu. Rumah sakit yang sudah menjadi tempat Irene bekerja sekitar 5 tahun yang lalu. Irene adalah satu-satunya dokter termuda di rumah sakit tersebut, umur 19 dia sudah menjadi dokter magang disana. Ketekunannya belajar dan bekerja membuat ia terus berkembang dan akhirnya diangkat menjadi dokter resmi RS. Hae Won.

//–//

“Selamat pagi.” sapa Irene kepada suster-suster yang berlalu lalang, mereka semua membungkuk  hormat kepada Irene.

“Selamat pagi sunbae-nim.” sapa Irene kepada rekan kerja yang lebih tua darinya, yaahh bisa dibilang senior.

Irene disambut dengan baik oleh orang-orang disana, semua orang ramah kepadanya, dari OB, suster, dokter senior, pasien, sampai pembesuk pun ramah kepadanya. Yaa, siapa yang mau mengacuhkan Irene, karna ia wanita cantik, pintar, ramah.

Ada satu kekurangan Irene, yang semua orang tidak menyangkanya, bahwa Irene adelah seorang JOMBLO.

//–//

Irene memasuki ruangannya, ruangan yang cukup untuk 3 orang dokter untuk melakukan pekerjaan.. Irene berjalan menuju meja kerjanya yang berada di sebelah jendela lebar, diambilnya jas dokter yang menggantung di sebuah tongkat yang memiliki semacam ‘ranting’ berukuran sedang.

Ia memakainya dengan cepat, lalu segera keluar ruangan kerjanya dan segera menuju kamar-kamar pasiennya yang berada di lantai 3.

Tingnong(?)

Suara pintu lift terbuka, ia segera keluar dari lift dan menuju kamar nomor 23, ia harus berjalan beberapa langkah saja agar dapat mencapai kamar itu.

//–//

Diperiksanya satu persatu pasien, hingga selesai. Irene kembali ke ruang kerjanya yang berada di lantai 2. Irene keluar dari lift, berbelok ke kanan untuk menuju ruang kerjanya. Tetapi sesuatu yang aneh terjadi, Irene mendengar suara ribut yang berasal dari lawan arah. Irene segera membalikkan badan, memastikan suara yang mengganggu telinganya. Irene berjalan cepat, semakin cepat Irene berjalan, suara  itu semakin terdengar jelas.

Irene berhenti di sebuah perempatan, ia menggerakkan kelapanya, mencari sumber suara yang sekarang terdengar sangat jelas.

Sebuah ruangan dengan pintu terbuka membuat Irene ingin pergi ke ruangan itu, Irene pikir suara itu berasal dari sana. Dan dugaan Irene benar, seorang laki-laki berumur sekitar 19 tahun tengah mengobrak-abrik ruangan itu sambil berteriak penuh amarah.

Heii tunggu, ruangan itu …

Ruangan ketua Lee?. Kenapa laki-laki itu berani sekali mengobrak-abrik ruangan ketua Lee? Yaampun, tidak sopan sekali, meskipun aku membencinya, aku tidak akan berani melakukan hal itu. Pikir Irene.

2 orang laki-laki berjas dokter berlari cepat dari depan, memasuki ruangan ketua Lee,, mencoba menghentikan aktivitas laki-laki itu. Ketua Lee  hanya diam melihat ruangan yang asalnya rapih, menjadi berantakan, wajahnya merah padam memendam amarah, ia berdiri di belakang kursi kerjanya. Buku-buku terbuka tidak beraturan, kertas-kertas berserakan dilantai dan di meja, komputer terjatuh dari atas meja, kacanya retak, sofa menjadi tidak beraturan. Laki-laki itu terus mengacak-acak ruangan ketua Lee dan terus membuat keributan.

Irene hanya bisa melihatnya, tidak tau harus berbuat apa, keributan itu membuat orang disekitar tertarik, wajah mereka menunjukkan ekspresi ingin tau, seakan-akan berbicara ‘ada apa?’ ‘Apa yang sedang terjadi?’.

Salah seorang dokter yang tadi mencoba menghentikan laki-laki itu menghampiri Irene, wajahnya menunjukkan ekspresi kesal, ia baru saja mendapatkan ‘surprise’ tonjokkan dari tangan si laki-laki yang sedang membuat keributan.

“Irene-ah, tolong panggil security, penting sekali, dan cepat hubungi keamanan untuk mengkondisikan para pembesuk agar tidak terganggu dengan kejadian ini.”

Irene mengangguk, meng-iyakan.

“Tapi, Chanyeol-ah, dia siapa?” Tanyaku kepada Chanyeol, teman kerjaku, ahh bukan teman kerja, tepatnya sahabatku sejak SMA.

“Tidak tau. Heyy cepatt sanaa.” Chanyeol mendorong tubuh Irene untuk segera menjalankan perintahnya.

Irene segera berlari menuju lift, dan segera ia memijit tombol untuk menuju lantai 1.

Setelah pintu lift terbuka, Irene segera keluar dari lift dan segera menuju meja registrasi, jarak lift dengan meja registrasi cukup jauh, agar tidak memakan banyak waktu,, ia segera mengeluarkan ponselnya lalu memanggil petugas di meja resgistrasi. Irene mencari-cari nomor kontak meja registrasi, tidak ditemukan, pandangan Irene terus tertuju kepada ponsel, ia tidak tau apa yang ada dihadapannya.

Dan …

Brukk

Irene menabrak seorang pria, tubuhnya besar, lebih tinggi darinya. Irene mengaduh kesakitan sambil memegangi pundaknya, untung saja tidak sampai jatuh, jika sampai jatuh, itu akan sangat memalukan. Irene mendongkakan kepalanya, melihat siapa yang baru saja ia tabrak.

Heyy, aku pernah melihat orang ini sebelumnya, tapi … Kapan?, batin Irene. Wajah pria itu benar-benar tidak asing.

Eo, maaf, aku tidak sengaja.” Irene sedikit menundukkan kepala, meminta maaf. Sambil membenarkan posisi kacamatanya yang agak melorot.

“Tidak apa-apa.” jawab pria itu –datar.

Yaampun, datar sekali responnya, membuatku merinding!, Irene kembali membatin. Tiba-tiba pikirannya teralihkan oleh perintah Chanyeol tadi, Irene hampir lupa karna ia baru saja menabrak seorang pria tinggi yang –ekkhhmm- tampan.

***

“Yasudah, aku kembali.” Ucap Irene, dengan segera, ia kembali ke lantai 2, tepatnya ke ruangan ketua Lee.

Suara keributan disana sudah tidak terlalu terdengar. Irene berjalan dengan hati-hati, setelah dekat dengan ruangan itu, ia melihat keadaan didalam ruangan. Sudah stabil, laki-laki yang tadi mengobrak-abrik ruangan ketua Lee,, kini telah duduk, ditemani seorang pria  yang …. Hey? Dia?

Pria yang tadi Irene tabrak dengan tidak sengaja.

Kenapa dia ada disitu? Apa hubungannya dengan laki-laki itu?, batin Irene.

Ketika asik ‘mengintip’ ruangan ketua Lee, sebuah tangan menepuk pundak Irene hingga ia berteriak kaget, sontak teriakan Irene membuat orang-orang disekitarnya melihat kearah Irene yang kini tengah menutup mulutnya dengan tangannya, termasuk orang-orang yang berada di ruangan ketua Lee.

Irene tersenyum kikuk lalu segera menarik orang yang barusan mengagetkannya, Chanyeol.

Ya! Kenapa kau mengagetkanku? Barusan memalukan sekali!!” Kata Irene setengah berteriak geram.

“Oooo, wajahmu memerah.” Goda Chanyeol.

“Memerah karena malu! Dasar bodoh.” Irene memukul kepala Chanyeol.

“Ya! Sakit!” Teriak Chanyeol.

“Rasakan.” Ucap Irene sambil mendelikkan matanya.

“Hey, kau jangan menyakiti calon seorang ayah.” Chanyeol memukul pelan kepala Irene.

“Haha, seorang ayah? Kau mengada-ngada.” Irene tertawa meremehkan.

“Kau tidak  ingat? Setahun yang lalu aku menikah.” Chanyeol melipat kedua tangannya didepan dada nya.

“Eo aku baru ingat.” Ucap Irene datar.

“Heyy, kapan kau menyusul? Karna jomblo, kau sampai lupa bahwa aku telah menikah. Apa kau menyukaiku? Hmm?” Goda Chanyeol, bercanda.

“Menyukaimmu? Heyy, kau terlalu berharap padaku!” Ucap Irene kesal.

“Dann tunggu, jomblo? Kau kasar sekali padaku.” lanjut Irene.

“Hahaha, cepatlah cari pacar, setelah kau putus dengan mantanmu dulu, aku belum pernah mendengar kau berpacaran lagi.” Chanyeol tertawa.

“Pacar? Untuk apa pacaran? Tidak ada gunanya.”

“Yakin?” Ucap Chanyeol memastikan

“Yakin.” Ucap Irene pasti.

/-/

Irene kembali ke ruang kerjanya, ia segera duduk di kursinya, memijit lengannya sendiri. Cape sekali, batin Irene. Irene menyenderkan tubuhnya dikursinya, memejamkan matanya perlahan, mencoba merileks kan pikrian dan tubuhnya.

Tiba-tiba terbesit pikiran yang menganggu dirinya, pria yang tidak sengaja tadi Irene tabrak. Siapa dia? Kurasa aku pernah melihatnya disuatu tempat. Kenapa pertemuan tadi sangat membekas, dan wajah datarnya membuatku ingin memukulnya?. Batin Irene.

“Ahh sudahlah, untuk apa aku pikirkan?” Gumam Irene pelan, lalu tak lama setelah itu, ia sudah hanyut dalam mimpi pendeknya, ia tertidur.

***

“Irene! Hey Irene!!” Seseorang menggoyang-goyangkan bahu Irene keras membuat Irene hampir terjatuh dan langsung membuka matanya.

“Ada apa? Tidak usah keras-keras bisa kan?” Ucap Irene kesal sambil menatap tajam orang yang berada di sebelahnya, Chanyeol.

“Itu, ada yang ingin menemuimu.” Chanyeol menunjuk pintu.

“Siapa?” Tanya Irene datar.

“Tidak tau, tapi sepertinya kau pernah bertemu dengannya”

“Hmm yasudah.” Irene segera berdiri dari kursinya untuk menemui orang yang dimaksud Chanyeol.

Irene membuka pintu pelan, lalu sedikit berjalan kedepan, Irene mendapati seorang pria sedang menatapnya, heyy tunggu, bukankah dia prang yang tadi Irene tabrak? Kenapa ia ingin menemui Irene?.

“Emmm, apa kau mencariku?” Tanya Irene mengawali pembicaraan.

Ne, aku mencarimu” Jawab pria itu.

“Ada perlu apa?” Tanya Irene lagi.

“Bisakah kita berbicara di tempat lain?” Pinta pria itu.

Eo, baiklah” Irene menganggukkan kepalanya.

Irene dan pria itu sedang berada diatap rumah sakit, tepatnya ditempat pemberhentian helikopter ketika akan mendarat. Mereka saling berhadapan, angin kencang menerpa rambut Irene yang dikuncir, membuat rambutnya bergoyang kesana kemari.

“Ada perlu apa?” Tanya Irene.

“Tidak perlu apa-apa.” Jawab pria itu dengan wajah datarnya.

“Lalu? Kenapa kau ingin menemuiku?” Tanya Irene heran. Heran sekali.

“Ahh, siapa namamu?” Lanjut Irene.

“Oh Sehun” jawabnya, lagi-lagi dengan wajah datarnya.

“Aku, Bae Irene.” Irene mengulurkan tangannya, bermaksud untuk bersalaman.

Pria itupun menjurlurkan tanganya, mereka bersalaman. Tetapi ketika Irene akan melepaskan salamannya itu, tangan Sehun terus memegang tangan Irene. Sampai akhirnya, Sehun menarik Irene hingga berada didalam pelukan Sehun. Sontak perlakuan Sehun membuat Irene kaget dan dengan cepat mendorong badan Sehun untuk menjauh, tatapi gagal, Sehun malah semakin erat memeluk  Irene.

“Kau siapa?” Ucap Irene sedikit berteriak sambil berusaha menjauhkan badan Sehun.

Sehun tidak menjawab.

“Berani-beraninya kau melakukan hal ini padaku, memangnya kau siapa?!!” Kali ini Irene berteriak sambil memukul-mukul dada Sehun. Membuat Sehun sedikit melonggarkan pelukannya.

Irene mengambil beberapa langkah kebelakang. Sambil menatap Sehun.

Sehun kembali menarik tangan Irene, dan …

Sebuah benda lembut menempel pada bibir tipis Irene, membuat Irene membelalakkan matanya tak percaya. Dengen cepat, Irene mendorong Sehun. Bibir Sehun menjauh.

“Apa yang telah kau lakukan? Kenapa kau lancang sekali huh?!” Irene berteriak, matanya sudah memerah,  berkaca-kaca.

Sehun tidak menjawab lagi.

Ya! Apa kau punya mulut? Maka bicaralah! Apa kau bisu??!” Teriak Irene dengan amarah yang sedaritadi sudah meluap.

Sehun kembali menarik tangan Irene dan mendaratkan ciumannya lagi, Irene memberontak, tetapi tetap saja, Sehun yang menang.

Tidak seperti tadi, kini Sehun menarik tengkuk Irene untuk memperdalam ciumannya, Irene tidak bisa berkutik, ia terus memukul-mukul Sehun.

“Hhmmmpphh…. Hhmmph” Irene tidak berani membuka mulutnya untuk berteriak, jika ia membuka mulutnya, Sehun mungkin akan melakukan hal-hal lain.

Siapa pria brengsek ini? Kenapa ia melakukan ini padaku?!,batin Irene.

Dengan amarah yang terus memuncak, Irene kembali mendorong Sehun menjauh, dan kali ini berhasil. Irene meneteskan air matanya. Sehun mengambil langkah maju, kini pria dihadapan Irene semakin mengerikan, wajah datarnya berubah menjadi bak monster yang ada di film-film hollywood, Irene mengambil langkah mundur, terus menudur karena ketakutan, mundur, mundur,  mundur , dan ….

“Aaaaaaaaaaaaa!”

/-/

“Aaaaaaaaaaaaa!” Irene berteriak.

Irene membuka matanya dan .. Eh?

Mimpi? Lantas apa yang terjadi setelah itu?, batin Irene.

“Kenapa kau berteriak? Apa kau baru saja bertemu dengan hantu di mimpimu? Hahaha” Chanyeol yang berada di kursi kerjanya tertawa terbahak-bahak.

“Diam kau! Ya benar, aku baru saja bertemu dengan hantu, ahh bukan hantu, tapi, monster!” Irene berdiri dari kursinya dan segera menuju kulkas yang berada di dekat pintu.

Irene mengambil sekaleng bir lalu membuka tutupnya, dan segera kembali ke kursi kerjanya.

“Heyy, apa kau ada job setelah ini? Tidak baik jika kau meminum bir sekarang.” Chanyeol menasihati.

“Setelah ini aku bebas.” Jawab Irene, lalu ia meneguk birnya.

“Aku terlalu terburu-buru” jawab Chanyeol.

Setelah itu hening.

Eo, Irene-ah, apa kau mau ikut makan malam bersamaku?” Tawar Chanyeol.

“Hmmm, ntahlah, sepertinya tidak akan” jawab Irene sambil bergegas berdiri dari suduknya, menuju tempat sampah untuk membuang bekas kaleng bir.

Wae?, Eunji sudah menyiapkan makan malam, sebaiknya kau ikut, jangan sampai kau mengecewakan istriku” Chanyeol berbicara dengan sedikit kesal.

“Hmmm” Irene menghela nafas. Lalu tak lama setelah itu Irene mengangguk, menyetujui.

“Baiklah.”

/-/

“Terimakasih atas makanannya, aku menikmatinya” ucap Irene setelah meminum segelas air putih.

“Sama-sama, lain kali kau harus sering datang kesini, dan makan malam bersama kami” kata Eunji dengan senyuman manis diwajahnya.

“Hmm baiklah, jika aku tidak sibuk” jawab Irene sambil tersenyum.

“Kalo begitu, aku pulang dulu, sudah malam” Irene bangkit dari duduknya, dan segera bersalaman kepada Eunji dan Chanyeol, dan juga si kecil Park Eun Yeol.

Irene berjalan menuju luar apart Chanyeol diikuti Eunji,Chanyeol dan anaknya di belakang. Irene pamit sekali lagi dan segera meninggalkan apratemen Chanyeol.

Irene segera menaiki mobilnya dan menancap gas untuk segera pergi pulang.

“Hhhhh” Chanyeol, mengehempaskan badannya keatas ranjangnya.

“Apa hari ini sibuk? Kenapa kau begitu terlihat lelah?” Tanya Wunji kepada suaminya itu.

“Tidak” jawab Chanyeol.

“Lalu?” Tanya Eunji lagi.

“Tidak ada apa-apa”

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Eunji sambil berjalan mendekati Chanyeol.

“Ini soal Irene” Jawab Chanyeol dengan nada yang serius.

“Ada apa dengan Irene?” Tanya Eunji heran.

“Aku sedikit khawatir dengannya.”

“Khawatir? Memangnnya ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Irene?” Eunji semakin tidak mengerti, Eunji duduk di bibir ranjang.

“Irene terlihat kesepian, dia harus segera mencari pasangan, jika begini terus, kapan ia akan mempunyai anak seperti kita?” terlihat sedikit senyuman di wajah Chanyeol, senyuman menggoda.

Ya! Dasar! Seharusnya kau tidak perlu memikirkan hal itu, hanya Irene yang memutuskan memiliki pasangan atau tidak, karna itu urusan Irene” Eunji menidurkan anaknya yang sedari tadi ia gendong.

“Aku merasa kasihan pada Irene” ucap Chanyeol.

“Sudahlah, lebih baik sekarang kau istirahat” Eunji mengusap kepala Chanyeol.

Geurae”.

/-/

Waktu menunjukkan pukul 20.00, jalan raya kota Seoul masih ramai, para pejalan kaki masih memenuhi trotoar, mobil-mobil masih berlalu lalang, termasuk mobil yang Irene bawa.

“Ahh, aku lupa membeli bahan makanan.” Gumam Irene.

“Sebaiknya aku membelinya dulu” lanjut Irene lalu segera memelankan laju kendaraannya dan segera berhenti di sebuah supermarket.

Irene turun dari mobilnya dan segera memasuki supermarket, untuk membeli bahan makanan.

Irene memasukkan beberapa ramen instan kedalam belanjaannya, lalu segera memilih makanan lain. Seseorang berjalan dibelakangnya, Irene membiarkan itu, Lalu Irene  memilih bahan masakan, tetapi perasaan yang asalnya baik-baik saja, kini benar-benar tidak enak. Irene menoleh kebelakang, tidak ada siapapun kecuali orang yang tadi berjalan.

“Tak ada apa-apa” gumam Irene pelan sekali.

Irene memasukkan tangannya kedalam saku mantel yang ia pakai, mencari sebuah benda berbentuk kotak, berwarna pink berbahan  kulit. Dompet, Irene sedang mencari dompet.

Eh?

Kemana dompetku? Kurasa tadi aku memasukkannya kedalam saku. Kenapa sekarang tidak ada? Gumam irene bertanya tanya pada diri sendiri.

Irene memeriksa satu persatu sakunya, tetapi tetap tidak ada. Irene panik, panik sekali, sampai sesuatu terbesit dalam pikirannya, matanya langsung menatap orang yang tadi berjalan dibelakangnya.

Irene pikir, orang itu telah mencuri dompetnya.

“Permisi, apa kau melihat dompetku? Dompetnya berwarna pink” Ucap Irene setelah menepuk pundak orang itu, ia seorang laki-laki.

“Tidak, aku tidak lihat”jawab laki-laki itu sedikit terputus-putus. Laki-laki itu cukup mencurigakan.

“Ohh seperti itu, yasudah terimakasih” Irene sedikit tersenyum, lalu laki-laki itu meinggalkan Irene. Irene terus memperharikan laki-laki itu, sampai sesuatu yang tidak disangka Irenterjadi. Laki-laki itu memang mencuri dompetnya. Laki-laki itu menyimpan di dalan saku jaket yang ia pakai!.

“Heyy tunggu?! Kau mencuri dompetku!” Teriak Irene keras.

To be continue

Asli ini keknya FF bakalan gaje kesananya:( iya gasih? Yaah biarlah, biarkan author ini berkarya U_U.

Author mau promosi nih wkwk;v

Follow ye Wattpad: @redlight61

Author juga publish ff ini disanaa, dan jumlah pembaca yang sangat mengkhawatirkan;’

Thanks! Love you guys!.

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] UR (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s