[EXOFFI FREELANCE] Black Enchanted (Chapter 5)

enchanted-copy

BLACK ENCHANTED CHAPTER 5 (HE’S BACK!)

Author        : Rhifaery

FB        : Rhifa Chiripa Ayunda

IG        : @chiripachiripi

Blog        : rhifaeryworld.wordpress.com

Main Cast    : Airin (OC), Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun and Suho

Genre        :Fantasy, Romance

Rating        : 17+

Author Note    : Inspired by Diabolix Lovers

Summary    : Airin yang tak pernah tahu asal-usul keluarganya, tiba-tiba dikirim pihak gereja ke sebuah rumah berisikan enam pria menawan: Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun dan Suho yang ternyata masih mempunyai hubungan darah dengannya. Namun kenyataan mengatakan bahwa mereka adalah vampir yang haus akan darah manusia. Menjadi satu-satunya seorang mortal mampukah Carroline membebaskan diri tanpa pernah terikat dengan pesona mereka?

Semua orang hidup untuk sebuah alasan.

    Tidak banyak waktu yang digunakan untuk berdiam diri. Karena keesokan paginya, Suho memintah mereka agar segera berkemas dan pindah ke tempat baru. Rumah yang sebanarnya adalah rumah Suho, terletak di tengah-tengah hutan pinus  dengan bangunan yang berdiri kokoh agak besar. Walaupun tidak semewah dari tempat sebelumnya, paling tidak inilah satu-satunya rumah yang memberikan keamanan sementara.

    Melihat bentuk dari rumah ini, Airin menjadi tersenyum getir. Kemana lagi mereka membawanya? Perkiraan mereka tentang keamanan tentulah bertolak belakang dari hal yang dipikirnya. Airin tahu, dimanapun dirinya berada, dia tak akan merasa nyaman jika bersama monster-monster ini.

    “Kau suka rumah ini?” Sehun bertanya setengah berbisik. Tanpa perlu menjawab yang dilakukan Airin hanyalah memperhatikan setiap sudut dari rumah baru yang mereka tempati. Tak banyak barang berharga atau perabotan mewah seperti sebelumnya. Bangunannya pun terkesan klasik dan tidak terawat kecuali dengan pemandangan yang disuguhkan melalui jendela. Hijaunya hutan belantara yang dibelakangnya berbatasan langsung dengan birunya air danau. Amazing that.

    “Aku lebih suka kau menjauh dariku.” Sehun tersenyum mendengar jawaban yang kelewat sengit tersebut. Dia memang gadis yang terlalu berani. Andaikan saudara-saudaranya berada di tempat yang agak jauh dari mereka, pastilah dia sudah melakukan sesuatu pada Airin.

    “Kamarmu ada di atas, mau kuantar?” Sehun menawarkan.

    “Tidak perlu, aku bisa sendiri!”

    “Ada D.O disana.” Sejenak Airin menghentikan langkah membuat Sehun seketika menahan tawa atas gurauan yang dia buat. “Dua pintu dari kamarmu, itu adalah ruangan D.O!”

    Airin menahan napas. Apa ini lelucon. Kenyataan bahwa mereka membawanya pindah sudah membuatnya frustasi. Ditambah keberadaan D.O yang tak pernah hilang dari jangkauannya. “Jangan percayakan Sehun, dia hanya bercanda!” Ujar Baekhyun yang tiba-tiba berjalan ke arah mereka.

    “Bisakah kau tidak ikut campur?” Ujar Sehun. Hampir itu membuatnya mengumpat karena Baekhyun telah merusak permainan intimidasinya.

    “Apa kau tak lihat, wajahnya sudah merah akibat kata-katamu. Apa lagi yang kau inginkan  darinya?”

    Sehun yang kepalang kesal memilih tak mengubris dan berlalu meninggalkan mereka. Setelahnya Baekhyun tersenyum manis memamerkan deretan gigi putihnya walaupun pada kenyataan Airin tetap mengacuhkannya. Vampir bukanlah sosok yang pantas diberi balasan senyum.

    “Biarkan aku yang mengantarkanmu ke kamar?”

    “Tidak per…-

    “Atau aku akan menyuruh D.O untuk mengantarkanmu?”

    Selalu seperti ini. Vampir tetaplah makhluk menggerikan yang tidak pernah terima dengan apa yang dia inginkan. Masing-masing dari mereka memiliki sikap yang ingin menang sampai orang lain menyetujuinya.

    Baekhyun akhirnya mengantarkan Airin menuju kamarnya di lantai dua. Tempat itu sedikit lebih luas dari sebelumnya. Sebuah ranjang berukuran Quenn dan didominasi oleh dinding warna putih. Dari yang paling Airin sukai adalah, terdapat balkon di kamarnya yang langsung menghadap ke danau. Akan ada pemandangan sunset yang sebentar lagi bakal ia nikmati. Ditambah aroma hangat musim panas yang nyaman. Itu adalah satu-satunya yang masih bersifat manusiawi. Setidaknya.

    Pada akhirnya Airin menyadari ada yang tidak beres dari diri Baekhyun. Hal itu berpangkal dari perbuatannya yang tiba-tiba menutup pintu kamarnya juga jendela tiba-tiba yang tertutup dengan kekuatan supranatural. Tentu saja ia tahu apa artinya, Baekhyun menginginkannya saat ini. Instingnya terlalu kuat intuk menyadari bahwa Baekhyun benar-benar haus akan darahnya.

    “Kau tahu, darahmu mempunyai aroma yang memabukkan sejak pertama kali kau tiba.” Kalimat itu, Airin membencinya sangat. Hampir semua vampir yang mencoba darahnya mengatakan seperti itu. Seolah kalimat itu adalah pengikat dirinya dengan monster-monster itu. “Boleh aku mencicipinya?”

    Baekhyun beranjak maju sedangkan dirinya sama sekali tak punya keinginan untuk menolak ataupun berontak. Toh, hasilnya akan sia-sia. Tenaga manusia tak sepadan dengan mereka. Tanpa memerlukan aba-aba lagi, Baekhyun lantas meraih tubunhnya, sedikit memeluknya agar dia leluasa menggigit lehernya.

    “Akkkhhh…!” Airin memekik pelan. Kedua pergelangan tangannya sengaja dikunci agar dia tak banyak bergerak. Padahal tanpa Baekhyun melakukannya pun dia sama sekali tak punya niatan untuk kabur.

    “Darahmu sangat nikmat, seperti wine?” Rancaunya masih dalam posisi menghisap seolah tak mau melepaskan. Ini adalah pertama kalinya Baekhyun menikmati darahnya. Darah Eve. Entah benar atau tidak, memang tak mudah menemukan darah yang mempunyai rasa memabukkan seperti ini.

    “Kau sudah puas?” Tanyanya lirih.

    “Bagaimana jika ku katakan belum?” Bantah Baekhyun. “Darahmu megitu nikmat, sampai mati pun aku tak akan terpuaskan.” Jawabnya disertai cengiran tolol khas Baekhyun.

    “Kalau begitu habiskan saja sampai aku mati!” Ucapan gadis itu seketika membuat Baekhyun menghentikan aktivitasnya. Gadis ini selalu saja menginginkan kematian. Bahkan disaat semua monster sepertinya menginginkan kehidupan seperti manusia normal.

    Ditatapnya sayu mata Airin. Baekhyun bisa melihat bahwa kecantikan ada pada setiap lekuk wajahnya. Matanya yang bulat, hidingnya yang mancung juga bibir pink alaminya yang menggoda untuk dikecup. Well, sebenarnya Baekhyun pernah membayangkan bagaimana rasanya bercinta dengan gadis ini. Hanya saja itu harus menunggu persetujuannya dulu.

    “Tolong jangan lakukan itu.” Gadis itu sontak berkata sesaat Baekhyun memajukan wajahnya bersiap menciumnya.

    “Why, apa hanya Kai yang boleh melakukannya?”

    “Tidak cukupkah hanya menghisap darahku?”  Airin memalingkan muka. Tak tertarik pada pada sesi obrolan yang tidak penting. Baekhyun sudah mendapatkan darahnya harusnya dia tak perlu mendapatkan yang lain bukan. Sampai saatnya Baekhyun pun memilih mengalah. Dia tersenyummanis dan beranjak meninggalkan Airin.

    Pada saat yang sama dengan kepergian Baekhyun, Airin memandang kosong jendela. Pandangan menerawang jauh dengan pertanyaan yang selalu sama, mengapa hidupnya sesial ini. Takdir baik sama sekali yang tak pernah berpihak padanya. Mempermainkan seolah dirinya bukan bagian dari manusia di muka bumi ini. Apa ini adil, saat dia merasa terkurung disini sementara mereka bermain dan bercanda tawa di depannya. Airin bisa melihat atas apa yang terjadi di bawah sana. D.O sedang duduk diantara bunga-bunga, Sehun berjalan sendiri sementara Chanyeol menggoda Suho yang tengah membaca. Mereka menganggap diri mereka saudara namun sama sekali tak punya kesadaran untuk saling melindungi. Karena pada dasarnya Airin sama sekali tak berhak berharap banyak. Ia sadar posisi dirinya tapi salahkan jika dia mengharap sedikit kepedulian ada padanya. Ia sedang sendirian sekarang.

    Lalu pada kesempatan tak terduga mata D.O berhasil menangkap matanya hingga membuat Airin terkejut. Dia lantas memalingkan wajahtapi nyatanya tidak semudah itu menjauhkan diri dari vampir karena posisi D.O yang sudah di depannya.

    Mereka membutuhkan seperkian detik untuk berteleport, jadi mustahil jika dirinya bisa lepas.

    “Memandangiku?” Ucapan singkat dari bibir pria itumembuatnya terperanjat. D.O sudah di hadapannya. Berpenampilan lugu tipikal pria manis yang mungkin membuatnya nyaman. Tapi itu dulu, jauh sebelum pria itu membuatnya hampir mati semalam.

    “Apa yang kau lakukan?” Suara Airin bergetar. D.O tak memberikan respon apapun kecuali langkah kakinya yang kian mendekat.

    “Kau mau apa?” Katanya lagi, perkiraannya persis pada pengalamannya kemarin malam. Saat D.O mendekat dan menghimpitnya ke batu nisan. Jika sekali lagi D.O melakukan, Airin bersumpah bahwa melompat melalui jendela adalah pilihan terbaik. “Hentikan! Kubilang berhenti…!”

    D.O tak mungkin berhenti semudah itu. Mata tajamnya tetap mengunci tatapan Airin walaupun entah yakin atau tidak, di dalamnya Airin melihatnya dalam kondisi layu. “MENJAUH DARIKU BRENGSEK!!!”

    Duk!

    Terdengar suara seperti orang yang sengaja jatuh. Airin yang awalnya menutup mata memberanikan diri untuk membukanya dan melihat D.O yang tertunduk di lantai. Terpuruk tanpa daya. Kepala pria itu ia tenggelamkan di kedua lututnya. Dan Airin bisa mendengar isakan kecil yang keluar dari mulutnya. D.O menangis. Tanpa sempat ia menanyakannya, pria itu justru menangis dihadapannya.

    “Kau kenapa?”Tanyanya hampir tak terdengar. Dengan perlahan Airin memberanikan diri berjalan di dekatnya. Walau itu membuat isakan pria itu justru semakin menjadi-jadi.

    “Ma-maaf?”

    Apa Airin tidak salah dengar. Pria itu justru memintah maaf padanya. Menunjukkan reaksi penyesalan yang sama sekali tidak ia pikirkan. Wajah terluka juga penyesalan yang teramat parah. Jika Airin berpikir tentang memafkannya atau tidak, itu menjadi hal sulit. Mengingat bagaimana semalam pria itu telah merengut apa yang ia miliki. Penyiksaan, penghinaan yang sama sekali tidak bisa ia lupakan. Membuatnya benci juga rasa ingin mati secara bersamaan.

    “Aku memaafkanmu.” Jawabnya lirih. Bahkan Airin saja tak tahu tentang apa yang barusan ia katakan. Membuat mata pria di hadapannya membulat sempurna, dan tentu saja masih ada sisa-sisa air mata.

    “Kau tidak takut padaku?”

    “Kau tak akan membunuhku.” Jawabnya asal. Tapi begitulah kenyataannya, sejahat apapun D.O, selemah apapun rasa pengendalian dirinya, D.O tak pernah merencakan untuk membunuhnya.

    “Tapi aku bisa menyakitimu.”

    “Makanya jangan lakukan lagi.” Sungguh mudah Airin menjawabnya, walaupun ia masih belum percaya pada perubahan D.O yang tiba-tiba.

    Pria itu tidak salah. Jauh dari dasar hatinya, pria itu kesepian. Setidaknya itulah yang diceritakan Suho sebelum mereka pindah. Jika dilihat dari kesalahan masa lalu, memang D.O lah yang membunuh ayahnya, dengan cara keji tanpa ada sedikitpun nurani. Sebagai vampir baru D.O masih mempunyai pengendalian buruk. Menghisap darah ayahnya sendiri dan menghabiskan seumur hidupnya dalam penjara penyesalan.Kejadian malam kemarin adalah diluar batas pengendalian. Pria itu tidak mempunyai cukup kewarasan dengan kata lain D.O melakukannya secara tidak sadar.

    “Aku benar-benar minta maaf, bahkan seribu maaf pun ku kira tidak akan cukup.”

    Walaupun D.O sudah mengatakannya secara tulus, D.O merasa ada rasa ketakutan dari gadis itu. Terbukti dari bagaimana tubuh itu bergetar sebelum D.O merengkuh wajahnya dengan dua tangannya. Alasan logis, dia melakukannya karena sayang. Rasa sayang yang menggebu-gebu juga tak ingin ditinggal, itulah yang menjadi cikal bakal kejadian kemarin.

    Karena melihat perubahan pada putranya, Ayah D.O pun sempat berencana ingin meninggalkannya hampir meninggalkannya, hingga membuatnya kalap dan melakukan perbuatan terkeji seumur hidupnya.

    “Kau bisa menyebutkan apa keinginanmu kecuali jangan pergi.” Timpal D.O yang langsung disambut gelengan dari Airin. Oh ayolah, dia sudah trauma untuk berusaha kabur hingga dia tak ingin mencobanya, “Lalu?

    Tak ada jawaban. Mata itu masih terdiam menatap D.O dengan pandangan takjub. Ini adalah pertama kalinya dia berbicara sedekat ini dengannya. Bahkan Airin bisa mencium aroma khas cemara yang ada dalam tubuh pria itu. “Kau merindukan Kai bukan?”

    “Hah?”

    D.O memilih tersenyum. Dugaannya benar. Dari awal D.O memang curiga bahwa Kai lah yang berhasil masuk dalam hatinya. Terbukti dara tatapan mata yang diberikannya, D.O bisa membacanya sekaligus memahami apa yang dipikran gadis itu. “Aku akan membawa Kai untukmu. Aku janji.”

    Jika seorang vampir sudah berjanji maka tidak ada pantangan untuk mengingkarinya. Begitulah prinsip yang selalu Kletern terapkan. Terbukti dari bagaimana Suho berjanji padanya dulu, dan dia memutuskan untuk menepatinya sampai sekarang. Maka yang dilakukan Airin hanyalah mengangguk. Perlahan ada rasa nyaman saat D.O di sisinya.

    “Untuk yang terakhir, aku ingin kau memberiku izin.” Sambung D.O pelan. Memberikan isyarat pada Airin agar dia diizinkan berbuat lebih. Tak paham dengan apa yang selanjutnya D.O lakukan, pria gadis itu lantas memejamkan mata dan merasaka sentuhan lembut mendarat di puncak keningnya.

    D.O menciumannya, untuk terakhir kalinya sebelum dia melepaskan perasaan itu untuk orang lain.  Bahwasahnya dia tak berharap banyak akan perasaannya. Asalkan Airin tetap disisinya juga tetap terlihat olehnya. Sungguh ini sudah melebihi cukup saat melihat bahwa orang yang engkau sayangi bahagia dengan orang yang kau percayai.

***

    Airin tidak tahu mengapa dirinya terbangun sepagi ini. Saat butiran embun masih memenuhi kaca jendelanya, burung-burung masih berkicau dengan suara merdunya atau suara berisik dari ruang dapur yang tak pernah sepagi ini. Kala itu Chanyeol memasuki kamarnya, hampir berniat menggigit pahanya dan tidak jadi karena Airin lebih dulu bangun.

    “Bersiap-siaplah, kita akan mengajakmu keluar.” Begitulah katanya. Tidak ada alasan untuk menolak dan tetap disini. Setidaknya untuk pertama kalinya, Airin kembali merasakan udara segar. Beberapa pembekalan makanan sudah dimasukkan ke keranjang. Tidak cukup banyak, karena hanya Airin lah yang membutuhkan pembekalan itu. Sedikit senang karena D.O yang sengaja memasak untuknya.

    Tempat yang dituju tak jauh dari mereka tinggal. Berupa padang rumput yang luas, menyerupai lapangan golf namun penuh ranting-ranting pohon di sekitarnya. Dari dalam tas, Baekhyun mengeluarkan bola berikut alat pemukulnya. Rupanya mereka akan berencana bermain basbol. Well, salah satu kegiatan manusia dan sedikit tak pantas untuk mereka. Tapi apa salahnya jika Airin melihatnya sebentar.

    “Sehun, dia memiliki kemampuan lari yang cepat sedangkan Baekhyun memiliki ketangkasan yang hebat. Pantas sekali menjadi penangkap.” Komentar Suho di tengah obrolannya dengan Airin. Permainan memang belum dimulai tapi nampaknya mereka sedang adu cekcok dalam pemilihan tim.

    “Bagaimana dengan Chanyeol?” Tanya Airin. Chanyeol memang unjuk kebolehan dari tadi. Pantas Airin penasaran.

    “Jika kau berpikir Chanyeol pandai berolahraga, kau salah. Bahkan dia tak bisa membedakan batu dan bola sedangkan D.O walaupun memiliki badan yang kecil, dia sedikit lebih atletis dari Chanyeol.” Tawa lembut keluar dari bibir Airin, dari jauh ia bisa melihat Chanyeol yang melambai ke arahnya sehingga tak sadar terkena lemparan bola dari Baekhyun.

    “Kukira D.O hanya berbakat dalam hal memasak?” Sambungnya memasukkan sepotong sushi ke dalam mulutnya, entah sadar atau tidak, hal itu justru membuat Suho jadi memandang ke arahnya.

    “Kau tidak marah padanya?” Pertanyaan Suho terdengar menyerupai manusia. Memangnya siapa dia, bagaimana Airin bisa marah pada kaum vampir. Bahkan jika Airin berniat membunuh satu per satu diantara mereka, Airin lah yang bakal terbunuh lebih dulu.

    “Apakah permainan sudah dimulai, kau bisa menjadikanku wasit!” Katanya mengalihkan. Oh ayolah, bukan saatnya memikirkan hal yang lalu. Ini adalah saatnya bersenang-senang. Sudah lama dia tidak merasakannya bukan?

    “Kita tidak memerlukan wasit. Jadilah penonton bersamaku disini.”

    “Kau tidak ikut main?”

    “Dibutuhkan jumlah pemain yang genap. Andai Kai ada di sini.”

    Entahlah, Airin menjadi lebih sensitif jika nama itu disebut. Hampir semua vampir tahu akan perasaannya namun Kai sama sekali tak peduli. Dia pergi tanpa Airin tahu atau lebih tepatnya disaat Airin butuh. Padahal dialah yang pertama menyarankan untuk pergi. Alhasil karena perbuatannya itu menyebabkan Airin hampir mati. Tak perlu untuk terus bertanya tentangkeberadaannya. Karena itu akan mengingatkan pada kerinduan yang tak terbalas juga sakit hati yang tersamarkan.

    Saking sibuknya memikirkan itu, Airin tak sadar bahwa permainan sudah dimulai. Berawal dari Baekhyun yang memukul bola menggunakan stik. Pukulannya sangat jauh melewati hamparan juga pepohonan tinggi. Mungkin bagi manusia, mustahil bahwa bola itu akan tertangkap, tapi melihat dari kecepatan lari Sehun tidak menepis kemungkinan bola itu bisa didapatkan. Dari situlah Chanyeol yang datang dari arah berlawanan berlari mati-matian mengejarnya namun gagal karena bola sudah berada lebih dulu di tangan Sehun.

    “Benar-benar hebat.” Komentar Airin. Masih terpukau dengan permainan menakjubkan ini. Mungkin ini seperti di film Shaolin Soccer yang dimana para pemainnya menggunakan kekuatan untuk bermain. “Tapi aku rasa Chanyeol tak seburuk itu kok.”

    “Tapi di kaum vampir dia yang paling payah!” Balas Suho.

    Permainan berlanjut dengan Chanyeol yang menjadi pemukul. Sebelumnya dia sempat mengerling pada Airin memberinya cium jauh dengan mulut yang seolah-olah berkata Ini untukmu.Tentu itu membuat Airin penasaran bagaimana permainanya kelak. Tidak jauh lebih buruk, Chanyeol bahkan berhasil memukulnya lebih baik dari pukulan Baekhyun sebelumnya. Sayangnya karena kalah cepat Sehunlah yang lagi-lagi jadi penangkapnya.

    “Sebenarnya apa yang kau lihat, aku susah-susah memukulnya  tapi kau malah mengabaikannya begitu saja!” Omelnya kepada Baekhyun.

    “Pukulanmu terlalu keras hingga membuat bolanya terhalang angin.” Bantah Baekhyun.

    “Angin kepalamu, apa kau pikir kita sedang main layang-layang?” Dari jauh Airin merasa lucu mendengar pertengkaran mereka. Suho bahkan tertawa tanpa ada niatan untuk melerai atau memisahkan mereka.

    “Aku ganti tim dengan D.O saja!” Sambung Baekhyun frustasi.

    “Baiklah, pergi sana dan bergabunglah dengan tim-mu yang setengah tiang.”

    “Apa yang kau katakan??” Tak terima disebut setengah tiang, D.O justru menjitak kepala Chanyeol. Membuat situasi cekcok semakin bertambah panas. Untuk satu jam kedepan sepertinya mereka akan terus seperti ini. Hanya Sehunlah yang merasa frustasi berusaha menghentikan tingkah mereka namun tidak berhasil.

    “Suho, apa mereka selalu seperti ini?” Tanyanya yang menahan tawa.

    “Lebih tepatnya selalu berisik.”

    “Ini bagus, lebih mirip keluarga.” Pernyataan spontanitas itu membuat Suho tertegun di tempatnya walaupun sama sekali tidak Airin sadari.  Gadis itu malah memilih untuk  tertawa melihat Sehun dengan wajah memelasnya memohon salah satu darinya untuk menghentikan pertengkaran.

    Lebih mirip keluarga? Benar. Barangkali ini bisa dipahami manusia. Karena sebuah keluarga terbentuk dari sikap yang saling menyanyangi, melindungi ataupun mengasihi. Namun mereka sama sekali tidak diajari arti keluarga disini. Kebersamaan bukan membentuknya untuk saling peduli. Melainkan karena mempunyai tujuan sama. Terlepas dari itu mereka hanyalah satu individiu yang masing-masing bertahan untuk kehidupan dirinya sendiri.

    “Apa itu?” Ujar Airin. Dia merasa bahwa ada seseorang yang datang dari arah semak. Begitupun dengan Suho yang tampak sedikit panik dan memanggil mereka untuk segera kembali. Raut kekhawatiran tergambar di wajah Sang tetua itu. Bagaimana jika musuh mereka sudah mencium keberadaannya. Menemukan bahwa Kletern sudah bersama seorang manusia sebagai calon Eve.

    Keempat orang membentuk posisi melindungi Airin dengan lingkaran. Sementara Suho berada di depan untuk memeriksa keadaan. Beruntungnya mereka sudah membuat persiapan, berlatih membentuk kekuatan demi melindungi gadis yang sebentar lagi menjadi bagian dari mereka.

    “Kai….” Terdengar suara pelan Suho, bersamaan dengan munculnya lelaki rupawan yang kedatangannya sudah lama mereka tunggu.

    Kai berjalan ke arah mereka dan langsung disambut pelukan dari semua vampir. Seringan kecil terlihat dari ujung bibirnya, sadar bahwa dia baru saja melakukan kekacauan yang membuat semuanya khawatir. Untuk itu, dia pun menerima saja pukulan kecil yang di arahkan ke kepalanya.

    “Kau kemana sajasih, lihat kulitmu menjadi hitam karena lama tak pulang?” Ujar Baekhyun merangkul lengannya sedikit memaksa lantaran sebal karena Kai terlalu lama meninggalkan rumah.

    “Hanya mencari mangsa.” Balasnya singkat yang terdengar sakartik.

    “Mencari mangsa tidak mungkin selama ini. ”Sambung Chanyeol “Atau jangan bilang kau sedang mencari sekaligus mencicipi satu persatu mangsa yang kau dapat. Benar bukan?”

    “Ya, terserahmu saja lah.” Balasnya malas menanggapi omongan Chanyeol yang terlalu vulgar. Tatapan Kai tertuju pada suatu titik. Dimana ia melihat seorang gadis yang masih berdiri tanpa memberi sambutan. Bukannya membalas tatapannya, Airin malah menunduk. Sungguh gadis yang tak pernah sadar bahwa dialah alasan untuk kembali.

    “Hey, Kai ayo kita main. Kita sudah punya pemain yang genap sekarang!” Ajak Sehun. Namun Kai menggeleng tidak bermaksud menolak melainkan menyuruh Sehun untuk menata permainan lebih dulu.

    “Aku nanti menyusul.”Jawabnyasingkat. Barulah saat semuanya menjauh yang tersisah hanyalah mereka berdua. Kai berjalan mendekat, menatap wajah sama seorang yang paling ia rindukan. Walaupun Airin masih terdiam pucat, hampir tanpa nyawa. “Tidak ingin memelukku?”

    “Hah?” Ekspresinya sungguh membuat Kai ingin tertawa. Well, dia gadis yang sama, yang selalu membuatnya tertarik dengan satu tatapan mata. Begitu tatapan mereka bertemu, tidak ada niatan untuk Kai menyudahinya. Begini lebih baik. Tanpa kata yang terucap. Hanya mata mereka yang saling memandang.

    “Ehm… bagaimana kabarmu Kai?” Akhirnya Airinlah yang memberanikan diri untuk bertanya dahulu.

    “Dari sekian lama, hanya itulah yang ingin kau tanyakan padaku?”

    “Apa…?” Lagi-lagi Airin menjawab dengan bodohnya. Airin sadar untuk kali ini dirinya terlalu kaku. Kai terlalu dekat membuatnya sangat mudah menjangkaunya. Dapat ia hirup aroma khas yang keluar dari tubuhnya. Benar-benar memabukkan. Aku merindukanmu Kai? Itulah kata yang ingin dia ucapkan hanya saja egonya menyangkal.

    “Kai cepatlah. Kami menunggumu!” Teriakan keras Baekhyun terdengar dari sini. Kai menganggapnya sebagai perusak suasana. Bagaimana tidak, Baekhyun berlari cepat ke arahnya, menggagalkannya dari aksi mencium gadis itu. Tangannya digeret sedikit pemaksaan menuju ke lapangan.

    “Baiklah, aku akan kesana.” Ucap Kai menyerah. Dilihatnya Airin hanya mengangguk pelan. Begitu banyak pertanyaan namun ia memilih bungkam. Hingga saat kaki pria itu berjalan menjauhinya, samar-samar Airin mendengar bisikan yang keluar dari mulutnya. Sebuah kata yang mungkin akan membuatnya melayang jika tidak ada pohon yang menjadi penyangganya. Kata yang sebenarnya ingin ia ungkapan dan tersimpan dalam dada. Kata-kata itu, Airin menyukainya. Sangat.

    “Aku merindukanmu juga Kai.” Bisiknya dan berharap Kai mendengarnya kali ini.

TBC

    Well buat yang nanya-nanya kemarin, sebenarnya tokoh utamanya adalah Kai. Posisi Sehun disini masih dianggap kok (orang ganteng mah, gak boleh disia-siain haha) semacam orang ketiga gitu lah. Cuma jalan cinta mereka agak sedikit ribet gitu lah, Airin manusia, sedangkan Kai vampir. Kalaupun Airin diubah menjadi vampir pun, cinta mereka nggak akan mulus but she’s an Eve! (penjelasan Eve chapter2 berikut yah)

    Trus buat yg kemarin protes, yang nudu2 aku nistain D.O, oh please, aku bneran nggak sengaja buat gitu. Abisnya aku baca dari salah satu blog, D.O yang paling yadong. Mantannya Sojin kan? Tau kan Sojinn bodynya kayak apa??? (Mashaallah). Kalo pake Chanyeol ma, nggak seru udah ketebak. Pake Suho, wajah malaikat gitu mau diapain coba? Pake Baekhyun? Cabe. Entar fell-nya ilang lagi? Ya udah pake D.O aja. Hahaha

    Kritik n Komen diperlukan demi penyemangat authornya nulis ☺ Sedih… bgt pas kalian komennya pas minta pasword doang. Padahal kan ini authornya lagi PPL mau persiapan skripsi juga, tapi masih sempet2in tuh ngelanjut cerita.  So. Jadi yang udah baca, sempatin buat koemen yah? Gomawo

Iklan

45 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Black Enchanted (Chapter 5)

  1. Author kapan ne di update. Dah tunggu lama bgt. Penasaran. Tiap kali buka ff aku pasti liat ff ini terus. Ditunggu y update nya. Semangat :))

  2. Wah kakak aku udah baca chapter 5 nya dari awal dan selalu ngomen kaka soal kai sama sehun trus waktu nunggu chapter 6 eh malah di password
    Kak kitimin passwordnya yah
    Ini email aku kak sberlianalee@gmail.com
    Thank you kak. Aku selalu menunggumu
    Eakkkk kkkk

  3. Baru sempet baca yg chapter 5 :’v. Akhirnya Kai balik lagi :v. Makin seru nih keknya ceritanya :v. Btw semangat terus ya kak buat lanjut ke chapter berikutnya. Aku msh setia nungguin lanjutannya, soalnya dari awal aku baru baca judulnya langsung tertarik dan ternyata bagus ceritanya :v :v

  4. Wah yg udh ditunggu tunggu
    Duh do nya menangis dan minta maaf siapa juga yg gak mau maafin..
    secara do hahaha
    Tambah seru. Cepat update ya author

  5. Akhirnya kai muncul juga
    Waktu partnya kai muncul sampai akhir feel nya kena banget. Ade myesek2nya gitu juga waktu baca. Saat kai sma airin tatapan mata paling suka kkkkk
    Lanjut yah thor. Semangat.entah sehun atau kai yang jdi main cast nya itu gpp toh mereka bias aku
    Tapi kalau bisa sih kai aja soalnya feel nya udah dapet. Kkk

  6. biar dinistakan (?) pengen juga sih kali-kali jadi si airin kapan lagi dikelilingi cogan euuyyyy hhhhh
    semangat terus ya minn lanjutin ceritanya mmm btw moment sama sehunnya dibanyakin hehehe emm saran sih kepengenan aku aja sih ini *blibetdah hehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s