[EXOFFI FREELANCE] Havoc (Chapter 2)

havoc-new-cover

H A V O C

| Cast : All member EXO-K, Kang Hye-na OC, Kim Hyun-ji OC, Cho Ji-hyun OC, Han Ji-hee OC, Park Rae-sun OC, Kwon Min-ah OC|

|Genre : Romance, Fantasy, Sci-fi, School life|

| Leght : Chapter |

| Rating : PG 15+ |

|Discalimer : All cast in this FF belong to GOD and their parent. All plot in this story belong to me and ONLY me. This story may content alot of CURSES, so read by your own risk. Also I publish this FF in my Wattpad Account @96dreamgirl

EXO’s Fanfiction by Hecate Helena

 

— HAVOC—

 

Chapter 2

 

“What the hell?”

 

H Y E N A

Tak ada yang lebih menyenangkan menjadi murid baru selain ditinggalkan sendirian di tengah tempat yang tidak pernah aku datangi dengan hanya selembar kertas bodoh yang tak bisa aku mengerti sama sekali. Aku lagi-lagi mendengus kesal. Mengucapkan beberapa umpatan terbaik pada manusia baik hati yang sudah membuatku seperti ini. Byun Baek-hyun! Aku bersumpah akan menggunduli kepala merah mudanya itu saat aku bertemu dengannya lagi.

“Itu peta sekolah, temukan ruangan Nyonya Han. Dia akan memberitahumu semuanya.”

Kalimat terakhir Baek-hyun masih terngiang di telingaku. Aku ingat bagaimana senyum bodoh terhias di wajahnya sebelum dia melangkah pergi meninggalkanku dengan kantong plastik hitam di tangannya. Dia bahkan membawa pergi koperku juga. Ingin sekali aku menenggelamkan kepala merah mudanya ke air mancur di sampingku ini. Tapi, yang bisa aku lakukan hanya mengikuti intruksinya. Well, mencoba mengikuti. Karena sejak setengah jam yang lalu, yang aku lakukan hanya berputar-putar di sekitar taman. Membuat keinginan membunuhku semakin kuat pada Baek-hyun yang sangat baik hati itu.

Aku melirik kembali kertas yang aku pegang. Berusaha menebak arah mana yang seharusnya aku lewati. Baru beberapa langkah, tiba-tiba aku merasakan sesuatu menabrak tubuhku. Membuatku terhuyung dan jatuh tersungkur ke depan membentur rumput.

“Oh, maafkan aku,”

Aku mendengar seseorang berucap, lalu sebuah tangan terulur di hadapanku. Aku menerima uluran tangan itu dan bangkit berdiri. Menoleh kepada siapapun yang sudah menabrakku beberapa saat yang lalu. Seorang pemuda.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya lagi.

Aku mengerjap, satu hal yang aku sadari bahwa pemuda di depanku ini sangat tinggi. Tinggiku bahkan hanya mencapai bahunya. Dan juga rambutnya, pirang keperakan. Dan ya, pemuda di depanku ini juga tampan.

“O-oh, aku tidak apa-apa,” balasku sesaat kemudian.

Pemuda itu tersenyum, “Kau sangat cantik,” komentarnya membuatku memutar bola mataku, “Tapi aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apakah kau baru di sini?” tanyanya.

Ne, baru hari ini aku pindah.” Jawabku singkat.

“Ah, pantas saja. Karena mataku ini sudah sangat hafal wajah-wajah secantik bidadari yang ada di sekolah ini.” ucapnya, mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Tipikal playboy. Memberikanku peringatan  untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari pemuda di hadapanku.

Yakk!! Chan-yeol hyong! Berhentilah menggoda gadis dan bantu aku! Kau tidak mau berakhir di tiang gantungankan hari ini?” aku mendengar seseorang menggerutu, aku menoleh ke arah suara. Mendapati pemuda lain dengan setumpuk buku di tangannya. Aku hanya bisa melihat rambut hitamnya, karena wajahnya tertutup oleh buku yang dia bawa.

Pemuda di hadapanku mendengus dan segera berlari menghampiri pemuda yang memanggilnya. Mengambil beberapa buku dari tangannya dan menghampiriku lagi, “Ah- aku sampai lupa. Namaku Park Chan-yeol, senang bertemu dengan gadis cantik sepertimu.” Ucapnya mengulurkan tangan lagi.

“Kang Hye-na,” balasku, menjabat tangannya lalu menariknya kembali.

Hyong, kau tahukan apa yang akan dilakukan Nyonya Song kalau kita terlambat? Dia ak-“

“Memaksa kita untuk menghafalkan seribu satu perang saudara sepanjang sejarah revolusi! Kau tidak perlu mengingatkanku, Sehunie.” Potong Chan-yeol,  memutar bola matanya dengan malas.

“Dan aku akan membunuhmu kalau kau yang membuat kita mendapatkan hukuman itu nanti!” Pemuda berambut hitam itu menghampiriku dan Chan-yeol. Dari jarak ini aku bisa melihat jelas wajahnya. Tanpa terkecuali wajah tampan dan juga dagu tajamnya yang indah.

Pemuda itu menoleh ke arahku, lalu tersenyum, “Oh Sehun, “ Ucapnya cepat. Lalu mengulurkan tangannya.

“Kang Hye Na.” balasku, sambil menjabat tangannya.

“Maafkan aku kalau terkesan tidak sopan. Tapi kami sedang buru-buru,” ucapnya, menyenggol lengan Chan-yeol dan mendorongnya.

“Ah- iya. Tapi bisakah kau beritahu aku di mana ruangan Nyonya Han?” tanyaku, berharap mendapatkan petunjuk dari dua orang di depanku ini.

“Ruangannya ada di lantai teratas gedung ini. Ruangan satu-satunya yang ada di lantai itu,” jelas Sehun, menunjuk ke arah lorong masuk gedung.

“Baiklah, terimakasih,” balasku, menyunggingkan senyum ramah pada Sehun.

“Aku bisa mengantarmu!” Ucap Chan-yeol cepat-cepat.

Hyong!” Sehun mendengus dan melotot ke arah Chan-yeol.

Chan-yeol hanya menaikan bahunya dengan santai, “Jangan melotot padaku, aku hanya ingin berbuat baik.” Protes Chan-yeol.

“Lupakan niat baikmu. Kita harus menyelamatkan hidup kita dulu dari amukan Nyonya Song!” Sehun mengangguk ke arahku, lalu menarik Chan-yeol yang menggerutu karena tumpukan buku di tangannya.

Aku hanya menggelengkan kepalaku, lalu mulai melangkahkan kakiku memasuki gedung. Seperti dugaanku bahwa interior dalam gedung juga sangat indah. Perpaduan warna coklat di dinding dan lantai marmer cream sangat pas di mataku. Aku mengedarkan pandanganku, berusaha menemukan lift yang bisa membawaku ke lantai atas. Namun, yang aku dapati hanya sebuah tangga kayu besar di ujung lorong. Yah, tidak semodern kelihatannya. Aku sangat yakin orang yang membangun gedung ini phobia terhadap lift atau semacamnya. Maksudku, siapa yang mau naik tangga untuk sampai di lantai atas gedung setinggi ini?

Aku menghembuskan nafasku dengan malas dan mulai menaiki tangga. Lantai pertama, kedua, ketiga, keempat. Tepat di lantai ke empat tangga berhenti. Aku mengerutkan keningku. Ternyata gedung ini tidak setinggi kelihatannya. Aku melangkah menyusuri lorong panjang. Mengalihkan pandanganku ke sebelah kiri. Tempat ruangan–ruangan berderet dengan rapih. Aku perkirakan adalah ruangan kelas. Aku melangkah lebih jauh. Mencoba melihat dari jendela di samping pintu masuk ruangan. Dan benar, aku bisa melihat murid-murid sedang duduk di mejanya, tampak serius mendengarkan apapun yang wanita di hadapan mereka katakan. Beberapa dari mereka tampak sibuk menulis. Tipikal anak-anak rajin.

Setelah beberapa kelas aku lewati, aku menangkap sebuah keanehan. Aku mencoba melihat lebih jelas. Semua murid perempuan yang aku lihat, memakai kemeja putih pendek dengan rok kotak-kotak berwarna merah. Di leher mereka ada dasi hitam kecil berbentuk pita. Semuanya memiliki rambut panjang hitam yang diikat ekor kuda. Sedangkan untuk murid laki-lakinya memakai kemeja putih yang sama dan celana panjang berwarna cream. Rambut hitam mereka disisir dengan rapi. Tampak mengkilat di bawah cahaya lampu ruangan.

Penampilan mereka terlihat membosankan, kaku dan sama sekali tidak menarik. Terlebih lagi dengan ekspresi datar yang mereka pasang di wajah mereka. Aku melihat seorang gadis menoleh ke arah jendela, sesaat tatapan matanya bertemu denganku. Gadis itu tampak terkejut dan takut? Aku tidak mengerti kenapa dia terlihat takut melihatku. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke buku catatannya. Aku mengerutkan kening tidak mengerti, namun aku memilih untuk menghiraukan gadis itu dan melangkahkan kembali kakiku.

Tepat di ujung lorong, aku melihat tangga ke atas lagi. Aku mendengus kesal. Aku tidak tahu kenapa wanita yang dipanggil Nyonya Han itu mau menempatkan ruangannya di lantai teratas gedung cukup tinggi tanpa lift. Aku rasa dia memiliki kesukaan aneh terhadap tangga-tangga atau semacamnya. Yah, apapun itu. Yang jelas aku harus sampai ke ruangannya sebelum kakiku merengek untuk segera lari dari sekolah aneh ini.

Namun belum sempat aku sampai ke tangga, aku memberanikan diri untuk menoleh lagi ke arah ruangan kelas. Dan pemandangan di hadapanku membuatku menghentikan langkahku. Tulisan kelas istimewa terukir di atas pintu masuk. Aku melihat ke arah jendela. Suasana kelas di ruangan itu sangat berbeda dari beberapa kelas yang aku lewati tadi. Murid-murid di dalam kelas itu tidak ada yang memakai seragam. Mereka memakai pakaian biasa seperti yang aku pakai saat ini. Dan kelas itu terlihat sangat– hidup.

Beberapa anak laki-laki sedang berusaha mengikatkan tali ke salah satu ujung baju teman di depan mereka yang sedang tidur. Sedangkan anak-anak perempuan sedang sibuk dengan peralatan make up dan juga majalah fashion terbaru mereka. Tampak tidak peduli pada wanita yang sedang marah di depan mereka. Aku mengerutkan kening saat menangkap sosok Baek-hyun. Pemuda itu sedang sibuk dengan ponselnya, sebuah earphone terpasang di telinganya. Tampak baik-baik saja setelah meninggalkanku di taman tadi. Yah, dia memang sebaik hati itu ternyata.

Aku melihat ke arah depan, tepat ke arah wanita yang sedang menjewer salah satu murid. Aku mengerutkan kening merasa mengenali orang yang wanita itu jewer. Chan-yeol! Aku tersenyum melihat ekspresi Chan-yeol yang kesakitan. Tak jauh dari sana aku juga melihat Sehun, dia tampak kesal. Mulutnya bergerak mengucapkan sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengarnya dari posisiku yang sekarang. Aku melihatnya melempar buku yang dipegangnya. Namun, dia langsung memungut buku itu kembali saat seorang wanita meneriakinya. Well, aku rasa mereka gagal menyelamatkan diri.

Dan yang terakhir, pandanganku tertuju pada seorang pemuda yang duduk di pojok ruangan. Kedua kakinya dia tumpukan di atas meja. Sebuah earphone terpasang di telinganya, matanya terpejam. Tertidur mungkin? Rambutnya yang berwarna coklat keemasan dibiarkan berantakan. Tampan. Hanya kalimat itu yang ada di otakku saat aku melihatnya. Dan untuk alasan yang tak bisa aku mengerti, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku. Terlalu sayang untuk melewatkan pemandangan indah di depan mataku.

Aku tidak tahu berapa lama aku memandangi pemuda itu, sampai akhirnya aku melihat pemuda itu bergerak dan membuka matanya. Dia menoleh tepat ke arahku. Tatapan mataku bertemu dengannya. Aku melihatnya sedikit terkejut, namun dia cepat-cepat mengubah ekspresinya. Dia tiba-tiba menatapku dengan marah. Aku mengerutkan kening tidak mengerti. Aku tahu, aku harus mengalihkan pandanganku darinya. Tapi aku tidak bisa. Dia mengalihkan pandangannya. Aku melihatnya menuliskan sesuatu di atas kertas. Lalu beberapa saat kemudian dia mengangkat kertas itu ke arahku.

“PERGILAH! KAU TERLIHAT BODOH MEMANDANGIKU SEPERTI ITU!!!”

Aku mendengus, sikapnya ternyata tidak seindah wajahnya. Satu lagi pemuda kasar yang harus aku hadapi. Aku tahu, memang salahku yang memandanginya duluan tapi diakan tidak perlu memperingatiku sekasar itu. Dan yang membuatku bingung adalah efek tulisan itu terhadap diriku. Entah karena alasan apa, tulisan itu membuatku sedih. Entah kenapa aku membenci sikapnya terhadapku. Entah kenapa aku ingin pemuda itu bersikap baik padaku. Gila! Ini gila aku bahkan tidak tahu siapa nama pemuda itu!

“Kim Jong-In!”

Aku terlonjak kaget saat seseorang berucap di sampingku. Aku cepat-cepat menoleh, mendapati seorang gadis yang sedang menatap pemuda yang aku lihat dengan kesal. Kemudian dia menoleh ke arahku.

“Jangan hiraukan dia, Kai memang bukan orang yang ramah.” Ucapnya kemudian, aku hanya mengangguk berusaha mengingat nama pemuda yang gadis di depanku katakan. Kim Jong In.

“Ah- namaku Kim Hyun-ji!” ucap gadis itu riang dan mengulurkan tangannya.

“Kang-“

“Kang Hye Na. Aku sudah tahu namamu,” Ucapnya memotong perkataanku.

“Aku tahu karena Nyonya Han memberitahuku,” Lanjutnya saat aku menatapnya dengan bingung, “Kau adalah roomateku dan mulai hari ini kita berteman. Ayo ikut aku,” Ucapnya, dia melingkarkan tangannya di lenganku dan menarikku.

Aku tidak berkomentar apa-apa dan hanya mengikuti kemanapun gadis ini membawaku. Aku rasa semua orang yang ada di sekolah ini memiliki kepribadian yang aneh. Dimulai dari pemuda menyebalkan seperti Baek-hyun, para murid dengan penampilan membosankan mereka, dan terakhir seorang gadis aneh yang tiba-tiba akrab denganku. Aku tidak tahu siapa lagi yang akan aku temui setelah ini. Tapi yang aku tahu bahwa orang itu tidak akan lebih baik dari orang-orang yang aku temui tadi. Sejauh ini, aku masih merasa bahwa akulah satu-satunya orang normal di tempat ini. Membuatku bertanya-tanya alasan apa yang cukup masuk akal sehingga aku harus berakhir di sini.

Aku terlalu tenggelam dalam pikiranku sehingga aku tidak sadar bahwa saat ini, kita sudah keluar dari gedung utama. Aku melihat tiga bangunan yang berdiri berdampingan. Aku menoleh ke arah hutan pinus yang berada jauh di belakang bangunan-bangunan itu. Aku bahkan bisa merasakan aroma pinus yang menusuk indra penciumanku.

Hyun-ji terus menarikku ke sebuah bangunan yang berada paling dekat dengan hutan pinus. Ruang-ruang berderet berhadapan saat aku memasuki bangunan itu. Aku perkirakan bahwa ini adalah asrama. Melihat dari nomor-nomor yang terpasang dan juga aksesoris  yang terpajang di depan pintu.

Hyun-ji tiba-tiba menghentikan langkahnya. Nomor 88 tertera di pintu di hadapan kami. Aku menoleh ke arahnya, dia memencet beberapa tombol di samping pintu dan kemudian pintu pun terbuka. Dia melirikku, dan mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam ruangan.

Jjang! Ini adalah kamar kita! Aku harap kau akan menyukainya,” ucapnya dengan riang. Membuatku bertanya-tanya apa yang membuat gadis ini terlihat sangat senang.

Aku mengedarkan pandanganku ke sepenjuru kamar. Hanya terdapat dua tempat tidur, dua lemari, dua meja belajar, satu perapian dan juga satu jendela besar di antara dua tempat tidur. Dan satu pintu yang aku perkirakan adalah kamar mandi. Tempat tidur di sebelah kananku bermotif awan dengan hiasan bermotif bunga di dindingnya. Sudah dapat aku pastikan, itu adalah tempat tidur Hyun-ji.

Aku mengerutkan kening saat aku mendapati koperku sudah ada di atas tempat tidur di sebelahnya. Seingatku, koperku dibawa oleh Baek-hyun. Apakah Baek-hyun yang mengantarnya ke sini?

“Baek-hyun memberikan kopermu kepada Nyonya Han. Tapi karena kau tidak juga muncul di ruangannya dia menyuruhku untuk membawa kopermu ke sini dan mencarimu.” Ucap Hyun-ji, menjawab pertanyaan di benakku.

Aku mengangguk dan melangkahkan kakiku ke tempat tidur berwarna putih di samping tempat tidur Hyun-ji dan mendudukan diriku di sana. Hyun-ji mengikuti gerakanku dan duduk di sampingku. Tiba-tiba dia menarik tanganku, “Aku sangat senang kau sekamar denganku. Kau tahu? Aku sangat kesepian selama ini. Sejak-“ Hyun-ji menghentikan ucapannya, kakinya bergerak dengan gelisah. Membuatku lagi-lagi mengerutkan keningku.

“Ah- pokoknya aku sangat senang. Aku bahkan membereskan semuanya hanya untukmu. Aku harap kau juga senang berada di sini!” Hyun-ji berucap dengan nada riang seperti sebelumnya.

“Terimakasih, aku senang kau yang menjadi teman sekamarku,” Ucapku meyakinkannya.

Beberapa menit kemudian, aku sudah tenggelam dalam cerita Hyun-ji. Dia menceritakan semua tentang dirinya. Bagaimana perasaannya saat dia pertama di sekolah ini, bagaimana sulitnya dirinya untuk beradaptasi sampai pada akhirnya dia bertemu dengan kekasihnya. Beberapa kali aku tertawa mendengar celotehannya. Aku rasa aku mulai menyukai gadis di depanku ini. Sempat terpikir olehku untuk menanyakan cara aneh yang dilakukan Baek-hyun untuk membuka gerbang pada Hyun-ji, tapi aku mengurungkan niatku. Terlalu sayang untuk melewatkan cerita Hyun-ji yang tampak menyenangkan.

Hyun-ji sangat cantik. Dengan rambut coklatnya, mata hazle yang tampak bersinar saat dia bercerita. Dan juga kepribadiannya yang ceria menambah kecantikan gadis itu. Selama ini, aku tidak pernah dekat dengan seorang pun. Aku selalu menjauhkan diri dari semua orang. Dan selama ini, teman-temanku juga tidak repot-repot untuk mendekatkan diri mereka padaku.

Sejak kecil aku selalu jadi orang aneh di mata mereka. Aku tidak tahu alasannya apa dan aku tidak berusaha untuk mencari tahu. Setidaknya sejauh ini, dengan melakukan itu aku cukup jauh dari masalah. Tapi hari ini, aku bertemu Hyun-ji. Aku merasa nyaman ada di dekatnya. Ternyata memiliki teman tidak buruk juga.

Hyun-ji menghentikan ceritanya saat tiba-tiba kami mendengar ketukan dari jendela kamar kami. Hyun-ji bangkit dan melangkah mendekati jendela. Dia menggeser beberapa pot kecil yang ada di dekat jendela, dan perlahan membukanya. Sebuah kepala tiba-tiba muncul dari jendela itu. Hyun-ji sedikit memundurkan tubuhnya. Membiarkan orang di hadapannya masuk.

Aku melihat orang itu memeluk Hyun-ji dan menciumnya. Hyun-ji memukul bahu orang itu dan melepaskan pelukannya. Saat itulah aku melihat Sehun.

“Oh! kau gadis yang tadikan?” tanyanya sedikit terkejut, “Hyena. Namamu Kang Hye Na!”

Aku mengangguk, “Dan kalau aku tidak salah, namamu Oh Sehun. Rencana penyelamatamu tidak berhasil rupanya,” celotehku.

Dia terkekeh, ”Ah- kau melihatku dihukum ya? Yah, lagipula tidak ada yang bisa lolos dari wanita menyeramkan itu,” ucapnya dengan malas.

“Kau sudah mengenalnya?” tanya Hyun-ji pada Sehun.

Sehun mengangguk dan memeluk Hyun-ji lagi, menopangkan dagunya di bahu Hyun-ji. Aku biasanya tidak suka melihat pasangan bermesraan di hadapanku. Aku sangat membenci tontonan lovey dovey.  Membuatku selalu ingin muntah saat mereka menunjukan sikap sepasang remaja gila yang kasmaran. Kau tahu? Seperti berciuman di depan umum atau semacamnya. Sungguh! Aku benar-benar membenci hal itu.

Namun anehnya, aku tidak merasakan hal itu saat aku melihat Hyun-ji dan Sehun. Sikap mereka sama sekali jauh dari ‘sepasang remaja gila yang kasmaran’ yang aku benci. Tidak. Hubungan mereka sepertinya lebih serius dari pada itu. Mungkin seperti kisah cinta profesional orang dewasa? Aku tidak tahu. Percayalah, aku benar-benar payah soal hal ini. Tapi yang jelas mereka menunjukan hubungan yang membuat orang berkata ‘aw’ atau ‘cute’ seperti saat menonton drama-drama Korea.

“Bagaimana kau bisa berurusan dengan Nyonya Song? Bukankah kau sendiri yang selalu bilang. Okeh jauhi wanita itu atau sesuatu yang buruk akan terjadi padamu,” Hyun-ji berucap, membuyarkan lamunanku tentang mereka.

Sehun mengerucutkan bibirnya, memain-mainkan tangan Hyun-ji dengan tangannya. Saat ini mereka berdua duduk di tempat tidur Hyun-ji, menghadap ke arahku, “Jangan salahkan aku! Semua ini gara-gara Chan-yeol hyong!” Sehun memberengut.

“Apa lagi yang dia lakukan kali ini?”

Sehun menghela nafasnya, “Semuanya berawal dari pak tua yang menyebalkan itu!” dia mendengus, “Chan-yeol hyong entah bagaimana berakhir membakar sarapan yang Tuan Kim bawa. Dan aku yang tidak sengaja lewat di depan mereka juga ikut dihukum untuk membereskan setumpuk buku di perpustakaan. Yah, Kau-“

Dan pembicaraan dimulai dari cerita itu.  Berlanjut ke beberapa celotehan konyol yang Sehun lontarkan satu jam kemudian. Sampai seseorang mengetuk kamar asrama kami. Hyun-ji bangkit dari duduknya dan membuka pintu. Menampilkan sosok yang ingin sekali aku bunuh sejak meninggalkanku sendirian siang tadi. Baek-hyun!

“Apakah aku mengganggu kalian?” tanyanya, melangkah masuk.

“Sangat!” aku mendengus kesal.

“Wow! Terimakasih atas sambutannya yang ramah,” ucapnya lagi, aku hanya memutar bola mataku dengan malas.

“Bagaimana kau bisa masuk ke sini?” Tanya Hyun-ji.

“Apakah pertanyaan itu juga boleh aku tanyakan pada pacarmu itu?” Baek-hyun menunjuk ke arah Sehun.

“Setidaknya aku cukup pintar untuk tidak masuk lewat pintu depan!” protes Sehun, melipat kedua tangannya di depan dada.

“Setidaknya aku tidak cukup bodoh untuk memanjat dan masuk lewat jendela seperti maling,” balas Baek-hyun, mengundang teriakan protes lagi dari Sehun.

“Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, Oppa.” Hyun-ji berkata.

“Tugas jaga!” jawab Baek-hyun riang, “Itu memberikanku akses untuk masuk kemana pun yang aku mau,” lanjutnya, melangkah lebih  dekat ke arahku. Dan tanpa meminta izin, mendudukan dirinya di sampingku.

“Kau tampak baik-baik saja, “ Komentar Baek-hyun, “Bagaimana tour sekolahmu tadi?” tanyanya, senyuman menyebalkan terukir di wajahnya.

“Sangat menyenangkan,” aku memaksakan senyum, “Terimakasih pada si bodoh yang meninggalkanku sehingga aku harus merasakan tour berputar-putar di sekitar taman selama setengah jam!” ucapku, menambahkan nada manis yang terlalu dipaksakan pada perkataanku.

Baek-hyun terkekeh, “Tidak perlu berterimakasih. Itu sudah menjadi tugasku.” Ucapnya.

Aku mendengus kesal. Ingin sekali aku melemparkan lampu di atas meja ke kepala bodohnya itu. Berharap hal itu bisa menghentikan sikap menyebalkannya, “Kenapa kau sangat menyebalkan?” gumamku.

“Karena aku adalah Byun Baek-hyun,”

“Ya, tidak perlu diperjelas,” ucapku dengan malas.

Tiba-tiba dia melemparkan tas karton ke arahku. Aku bahkan tidak menyadari Baek-hyun membawa tas itu saat masuk tadi. Aku membuka isinya, menemukan sesuatu  berbentuk segitiga yang terbungkus alumunium foil.

“Itu sandwich, aku tahu sepanjang siang ini kau tidak memakan apapun. Anggap saja sebagai permintaan maafku,” ucapnya.

“Wah, kau ternyata tidak terlalu buruk.” Komentarku, menyenggol lengannya.

“Hei, aku ini lebih baik hati daripada kelihatannya. Kau saja yang tidak tahu,” ucap Baek-hyun dengan bangga.

Aku memutar bola mataku, “Ya ya, terserah kau saja tuan baik hati,”

Beberapa saat kemudian aku mendengar bunyi bip yang cukup keras. Aku menoleh ke arah Sehun dan Hyun-ji. Lalu ke arah Baek-Hyun. Sebuah benda hitam mirip jam melingkar di pergelangan tangan mereka. Cahaya merah berpendar lemah dari benda itu. Dan aku yakin bunyi yang aku dengar juga berasal dari sana. Dan kalau aku tidak salah ingat semua anak yang ada di kelas istimewa yang aku lihat tadi siang juga memakai benda yang sama di pergelangan tangan mereka. Termasuk Jong-in. Aku cepat-cepat menggeleng. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengenyahkan pemuda kasar itu dari pikiranku.

“Benda apa itu?” tanyaku, menatap ketiga orang di depanku dengan bingung.

“Ah- bukan apa-apa. Ini hanya panggilan untuk kelas malam.” Baek-hyun menjawab dengan cepat.

Aku tidak yakin dengan jawabannya, aku menoleh ke arah Hyun-ji. Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum, “Kita harus segera pergi. Beristirahatlah, kau pasti lelah,” ucap Hyun-ji.

Aku mengangguk, menolak untuk bertanya lebih jauh. Terlebih lagi apa yang Hyun-ji katakan benar. Aku sangat lelah. Hari ini terasa sangat panjang bagiku. Mereka bertiga berpamitan padaku. Setelah memberi peringatan cukup keras untuk tidak meninggalkan kamar, mereka melangkah pergi.

Setelahnya aku memutuskan untuk mengganti bajuku dan pergi tidur. Namun, setengah jam kemudian yang bisa aku lakukan hanya menatap langit-langit kamar. Aku tidak tahu kenapa rasa kantuk yang aku tunggu tidak kunjung datang. Aku sudah merubah posisiku untuk yang ke 30 kalinya. Tapi, rasa kantukku tidak datang juga. Aku memang bermasalah dengan tempat baru, tapi seharusnya rasa lelah yang aku rasakan cukup untuk bisa membuatku tertidur. Bukannya malah memandangi langit-langit kamar seperti yang aku lakukan sekarang ini.

Pikiranku melayang jauh memikirkan segala macam keanehan yang terjadi hari ini. Rasa penasaran semakin menumpuk di pikiranku seiring waktu yang berlalu di tempat ini. Dimulai dari pengorbanan darah yang Baek-hyun lakukan untuk membuka gerbang, para murid dengan penampilan membosankan mereka, kelas istimewa yang berisi murid-murid aneh dengan sesuatu yang melingkar di pergelangan tangan mereka. Dan tentu saja seorang pemuda yang membenciku saat pertama kali bertemu denganku.

Kim Jong-in. Aku tidak tahu kenapa pemuda itu melayangkan tatapan tidak suka yang sangat kentara padaku tadi siang. Apakah aku mirip seseorang yang dia benci? Atau aku pernah bertemu dengannya dan melakukan kesalahan? Tapi seingatku, tadi siang adalah kali pertama kita bertemu. Tapi kenapa pemuda itu bersikap begitu padaku? Dan yang terpenting adalah rasa tertarik yang  tidak bisa aku mengerti pada dirinya. Aku menghembuskan nafasku dengan kasar. Semua pikiran itu malah membuatku jauh dari rencana tidurku hari ini.

Pada akhirnya aku menyerah. Aku bangkit dari tempat tidurku. Biasanya buku bisa membantuku untuk cepat tertidur. Namun sialnya, aku meninggalkan buku-buku itu di rumah bibiku. Aku menolehkan pandanganku ke jendela besar di sebelah kiriku. Bulan bersinar cukup terang di luar. Dan suasana malam ini cukup sunyi. Suara burung hantu bahkan bisa aku dengar dari dalam hutan di kejauhan sana. Aku hanya bisa melihat bayangan hitam pohon-pohon pinus yang berjejer rapih sepanjang mata memandang.

Aku kemudian melirik ke arah tempat tidur kosong di sampingku. Menebak-nebak kelas malam seperti apa yang Hyun-ji ikuti. Dan kenapa hanya aku yang tidak diberitahu? Bukankah aku juga seorang murid di sini? Aku malah dibiarkan beristirahat di kamarku. Yah, apapun alasannya.

Aku menghela nafasku. Tidak bisa seperti ini terus. Aku tahu peringatan Hyun-ji, Sehun, dan Baek-hyun cukup jelas agar aku tidak meninggalkan kamar. Namun, aku harus mencari sesuatu yang bisa membuatku tidur.

Aku bangkit. Menyambar jaketku dari dalam lemari, lalu melangkah meninggalkan kamar. Aku menyusuri lorong asrama. Mencari-cari petunjuk yang bisa membawaku ke perpustakaan. Aku mengira asrama akan terlihat menyeramkan pada malam hari, namun ternyata tidak. Lampu-lampu yang terpasang di penjuru lorong cukup terang dan membuatku sedikit aman. Setidaknya cerita-cerita asrama seram karena lampu remang-remang tidak aku rasakan di sini.

Langkahku terus tertuju ke gedung utama, melewati sebuah taman kecil yang dipenuhi bunga soba di pinggirannya. Aku baru sadar bahwa bangunan asrama ada di halaman belakang gedung utama. Itulah kenapa aku tidak bisa melihat bangunan ini saat pertama kali sampai.

Tolong aku

Aku menoleh ketika mendengar suara bisikan. Aku yakin, aku mendengar suara itu. Namun, aku tidak melihat siapapun. Aku mengeratkan jaketku. Mungkin aku hanya berhalusinasi. Aku menghiraukan suara itu dan mulai melangkah lagi.

Aku mohon. Siapapun tolong aku

Lagi. Aku menoleh. Aku cukup yakin suara itu berasal dari hutan pinus di samping bangunan yang terletak di sisi paling kanan asramaku. Aku yakin itu adalah asrama murid laki-laki. Dilihat dari bentuknya yang sama dengan asramaku. Hanya saja warnanya berbeda.

Mengikuti rasa penasaranku, tanpa sadar kakiku melangkah ke arah suara yang meminta tolong itu. Aku tidak peduli bahwa suasananya sekarang sangat mirip dengan adegan film horor atau semacamnya. Aku hanya tidak bisa melawan rasa penasaranku. Otakku memerintahkanku untuk segera pergi dari tempat itu, namun kakiku tidak mau menurutinya.

Setiap langkah yang aku ambil membuat perasaan takut sedikit demi sedikit mulai merayapiku. Bagaimana kalau suara itu adalah suara hantu? Bukankah asrama identik dengan cerita-cerita anak yang bunuh diri? Aku menggelengkan kepalaku, mencoba mengusir kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Aku sampai di sisi taman yang berhadapan langsung dengan asrama murid laki-laki. Hampir tersungkur jatuh saat aku menemukan seseorang yang sedang duduk di bangku panjang yang dipasang di situ. Aku mendekat, mencoba melihat dengan jelas. Entah kenapa orang di depanku sangat famliar. Aku mengerutkan kening, mencoba mengingat sesuatu.

Jong-in! Itu Kim Jong In! Pemuda itu sedang duduk dengan santai dengan sebuah buku di tangannya. Earphone yang sama yang aku lihat tadi siang terpasang di telinganya. Pemuda itu tampak tenggelam ke dalam apapun yang sedang dia baca. Lampu taman cukup terang, sehingga kali ini aku bisa melihat sosoknya dengan jelas.

Entah kenapa, melihat Jong-in membuat perasaanku aman. Aku masih bisa mendengar suara yang memanggilku. Namun, dengan kehadiran Jong-in di sana mengurangi kekhawatiranku. Tapi, apa yang dilakukannya di sini? Bukankah mereka ada kelas malam? Apakah dia membolos dan memilih untuk membaca buku di taman ini?

“Bisakah kau berhenti memandangiku?” ucapanya tiba-tiba, membuatku sedikit terlonjak kaget.

N-ne?” tanyaku tidak yakin.

Dia menutup bukunya. Melepaskan earphone di telinganya dan menoleh ke arahku. Aku mengerutkan kening saat melihat kaus panjang  abu-abu yang kerahnya sampai menutup lehernya. Dia ternyata memiliki selera fashion yang aneh. Maksudku, siapa yang memakai kaus seperti itu saat musim panas seperti ini?

“Aku yakin, kau dikirim ke sekolah ini bukan untuk menjadi penguntit,” ucapnya dingin, membuyarkan lamunanku tentang dirinya.

“Ak-aku, aku bukan penguntit!” elakku.

“Lalu apa yang kau lakukan di depan asrama murid laki-laki malam-malam begini?”

Aku ingin sekali menanyakan padanya tentang suara yang aku dengar, namun aku mengurungkan niatku, “Aku mencari perpustakaan,” jawabku.

“Perpustakaan ada di gedung utama,”

“Ah- ya, terimakasih telah memberitahuku,” ucapku tidak yakin.

Aku tidak tahu harus senang atau tidak saat Jong-in memberitahu letak tempat yang aku cari. Aku tahu aku harus segera pergi ke sana atau bahkan kembali ke asramaku. Namun aku terlalu takut untuk melangkahkan kakiku. Aku harap Jong-in tidak keberatan kalau aku sedikit lebih lama berada di sini.

“ Kenapa kau masih ada di sini?” tanyanya lagi tidak sabaran.

“Umm aku,” aku menoleh ke arah hutan pinus, “Bolehkah aku sedikit lebih lama di sini?” tanyaku.

“Ah- aku tahu! Kau ingin lebih lama dekat denganku, begitu?”

“Bukan! Bukan itu alasannya. Ak-“

“Sudahlah! Aku seharusnya tahu kau tertarik denganku ketika melihatmu memandangiku. Tapi harus aku katakan padamu bahwa aku tidak tertarik pada gadis sepertimu. Jadi pergilah dan urusi urusanmu sendiri!” bentak Jong-in, dia kemudian mengalihkan pandangannya lagi pada bukunya.

Mendengarnya mengatakan hal itu entah kenapa menyakitiku. Sekaligus menyalakan emosi di dalam diriku. Aku mengepalkan tanganku, “Yak! Dengar tuan, aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan padamu sehingga kau bisa sekasar ini padaku. Seingatku ini adalah hari pertama kita bertemu dan kau langsung bersikap kasar padaku. Aku minta maaf karena sudah memandangimu. Aku tidak tahu bahwa kau akan sangat membenci seseorang hanya karena alasan sepele seperti itu!”

Aku melihatnya menatapku. Mulutnya terbuka. Untuk sesaat aku melihat perasaan bersalah pada matanya, namun kemudian dia mengeraskan rahangnya, “Pergilah!” ucapnya kemudian.

“Baiklah, aku akan pergi. Asal kau tahu, kalau bukan karena suara-suara itu aku tidak akan berakhir di tempat ini. Dan aku sarankan kau untuk mengambil kelas etika. Sikapmu itu benar-benar lebih buruk daripada seorang bajingan!” ucapku penuh amarah, pria ini benar-benar mengorek sisi terburuk dalam diriku.

Aku meliriknya sekilas, lalu berbalik untuk meninggalkan tempat ini. Namun, dia menarik lenganku dan membuatku menatapnya lagi. Bagaimana bisa dia muncul di hadapanku secepat ini?

“Kau bilang suara? Suara apa yang kau dengar?” tanyanya.

“Bukan urusanmu!” bentakku, berusaha melepaskan lenganku dari cengkraman tangannya.

“KANG HYE NA!” bentaknya, “Beritahu aku suara apa yang kau dengar!” tanyanya lagi.

Aku membeliakan mataku saat Jong-in meneriakan nama lengkapku, seingatku aku tidak pernah memberitahukan namaku padanya. Darimana dia tahu?

“Aku tidak mau memberitahumu. Lepaskan!” pintaku, masih berusaha melepaskan lenganku darinya.

Aku mendengarnya menghela nafas dengan berat. Aku bahkan bisa melihat tatapannya melembut ke arahku, “Tolonglah, beritahu aku suara apa yang kau dengar, naya?” gumamnya.

Aku melihat kekhawatiran di matanya. Aku mengerjap beberapa kali. Tidak. Bagaimana mungkin pemuda ini khawatir padaku? Aku rasa dia memang punya gangguan emosional. Bagaimana bisa sikapnya langsung berubah dari marah menjadi khawatir? Dan barusan dia memanggil namaku dengan nama kecilku. Tidak ada yang tahu panggilan itu selain bibi dan juga sepupuku. Lagi-lagi, Jong-in membuatku sangat bingung.

Baru saja aku akan menjawab pertanyaannya, aku merasakan seseorang menarik lenganku. Membebaskanku dari cengkraman lengan Jong-in. Aku menoleh, melihat seorang gadis dengan pakaian tidur yang sudah kotornya menatapku. Dari mana datangnya gadis ini?

“Tolong, tolong aku,” ucapnya dengan lirih

Aku menatap gadis itu. Gadis itu tampak tidak berbahaya. Rambutnya acak-acakan. Dan pakaiannya tampak lusuh. Aku menatap matanya, merasa bingung dengan matanya yang keperakan. Gadis itu terus menerus memohon kepadaku.

“MENJAUHLAH DARI MAKHLUK ITU!” Aku mendengar Jong-in berteriak dan secepat kilat dia sudah ada di depanku. Aku menoleh ke arahnya. Aku bersumpah, aku melihat ketakutan di mata coklatnya. Tapi kenapa?

“Kita harus menolongnya,” ucapku pada Jong-in, menghiraukan rasa penasaranku.

“TIDAK! HYE-NA, MENJAUHLAH DARI MAKHLUK ITU SEKARANG JUGA! KITA TIDAK AKAN MENOLONGNYA!” teriak Jong-in frustasi.

Aku mengepalkan tanganku, merasakan emosi mulai merasukiku lagi, “Baiklah! Kalau kau tidak mau menolongnya, biar aku saja yang menolongnya!”

“KANG HYE NA! DEMI TUHAN! MENJAUHLAH DARI MAKHLUK ITU!” perintahnya.

“KAU TIDAK BERHAK MEMERINTAHKU SEPERTI INI! BUKANKAH KAU BILANG AKU HARUS MENGURUSI URUSANKU SENDIRI? INI URUSANKU! PERGILAH KALAU KAU TIDAK MAU MEMBANTU!” aku balas berteriak padanya.

Aku melihat Jong-in mengacak rambutnya dengan kasar, aku juga mendengarnya mengumpat beberapa kali sebelum akhirnya menatapku lagi, “Banyak hal yang tidak kau ketahui, Hye-na. Aku mohon menjauhlah dari makhluk itu,” pinta Jong-in dengan lirih.

Untuk sesaat aku terdiam. Menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku menuruti perkataan Jong-in? Tapi, bukankah pemuda itu membenciku? Lalu kenapa sekarang dia malah terlihat peduli padaku? Tapi gadis di sampingku membutuhkan pertolongan. Haruskah aku menolongnya?

Setelah beberapa saat, akhirnya aku mengangguk. Mungkin ada baiknya aku mengikuti usul Jong-in. Lagipula aku masih baru di sini dan juga dari kesungguhan di setiap kata-kata yang diucapkan Jong-in membuatku ingin percaya padanya. Mungkin aku bisa meyakinkan Jong-in untuk membantuku menolong gadis di sampingku ini nanti.

Aku merasakan cengkraman gadis itu di lenganku semakin erat. Aku menoleh, melihat sekilas gadis itu menyeringai padaku. Belum sempat aku bereaksi, aku merasakan tubuhku ditarik ke arah hutan pinus.

“KANG HYE NA!!!”

TBC

Author note~

Bagaimana dengan part ini? mulai ngeh dengan ceritanya? Pasti belom wkwkk kemarin ada yg request buat munculin jongin. Akhirnya aku munculin juga. Aku mengucapkan banyak terimakasih buat kalian yang menyempatkan baca cerita ini dan juga meninggalkan komentar. Aku harap kalian mengikuti terus cerita ini.

Jeongmal Ghamsahamnida

^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

14 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Havoc (Chapter 2)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 6) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 5) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 4) | EXO FanFiction Indonesia

  4. WIII UPDATEEE!! Makhluk apaan tuhh? Kenapa jongin cuma nyuruh jauhin doang bukannya nolongin hyena? Kan aneh-_- ceritanya makin bikin penasaraaan wkwk update nya yang cepet ya eonn hehehehe

  5. Yeaaaay akhirnya update juga 😃😃😃😃 mkasih thor udah munculin jongin oppa hehe 😍😍 suka banget ma karakter jongin bad guyy
    baca chapter ini merinding gara2 scene hye na dibawa ke hutan pinus hiiii serem
    Alurnya samar bangeeet tapi seruuu kok
    Jongin bisa tau nama kecil hye na dri mana??? Cepet update next yaa ditunggu bgt!!

  6. Akhirnya jongin muncul. Thor di chapter ini tidak banyak membantu tentaang teka-teki nya makin banyak misteri yang belum terkuak tentang siapa yang beraekolah di sekolah aneh ini. Lanjutan nya jangan lama-lama thor soalnya nggak sabar nunggu kelanjutannya.

    • Yapp, memang sengaja belom ada penjelasan apa-apa di part-part awal hhe makanya tetep ikutin kelanjutannya ya. Untuk lanjutan aku usahain buat selalu kirim tiap minggu wkwk Makasih udah nyempetin baca dan komen ya ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s