Stuck On You! (Chapter 09) – Shaekiran & Shiraayuki

siapdiedit2345.png

Stuck On You! 

A Colaboration FanFiction By Shaekiran & Shiraayuki

 

Main Cast

Oh Sehun x Bae Irene

Park Chanyeol x Son Wendy

 

Genres

School life, romance, funny, friendship, AU etc.

Length: Chapetered

Rating: Teenagers

Disclaimer

Ada yang kenal dengan author dengan pen name Shaekiran atau Shirayuki? Cerita ini adalah hasil buah pikiran kami berdua.Merupakan sebuah kerja keras dari dua buah otak yang terus saja bersinergi untuk merangkai ratusan kata demi kata hingga menjadi sebuah cerita utuh.Hope you like the story. Happy reading!

Previous Chapter

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | [NOW] Chapter 9 |

 

They say love is blind.. oh baby you so blind,” –Gd;that xx

 

 

Sehun’s side

Penyesalan selalu datang terlambat? Kenapa? Entahlah, mungkin itu sudah menjadi ciri khas mereka. Dan sekarang kata andai saja membuat penyesalanku semakin menjadi-jadi.

Andai saja aku tidak mengabaikan Irene, andai saja aku tidak membentaknya tadi, dan lebih tepatnya, andai saja aku tidak jatuh cinta pada gadis dengan senyum memikat itu.

Dan satu lagi, andai saja aku tidak pergi ke taman ini sekarang.

“Se-sehun-ah?” aku hanya tersenyum hambar seraya menatap fokus ke manik gadis bermarga Bae yang telah berhasil meluluhlantahkan isi hati dan pikiranku. Dia nampak ragu dengan kehadiranku disini, merasa risih mungkin? Pantas saja ia menghindar saat kami berpapasan di lorong sekolah tadi.

“Em.. hai,” aku melambaikan tanganku singkat, semoga lambaian tanganku mengurangi sedikit kecanggungan diantara kami bertiga. Iya, bertiga.

“Kau juga suka ke taman ini?” aku menolehkan pandanganku ke arah seorang pria yang wajahnya lumayan rupawan yang tengah berdiri di samping Irene dengan wajah datarnya.

“Mungkin iya, mungkin tidak, hanya saja hari ini saat aku tersadar aku sudah berada di sini. Dan ternyata kalian juga sudah berada disini,” ujarku tenang dan menekankan kata kalian entah apa tujuannya.

“Ah.. begitu, kami ingin pulang duluan, apa kau tidak masalah kami tinggal sendiri?” kali ini pria yang kuketahui bernama Lee Taeyong itu menekankan kata kami dalam perkataannya, hatiku mencelos. Apakah kesalahanku terlalu fatal sehingga telah timbul kata kami yang berarti Taeyong dan Irene, bukannya Sehun dan Irene?

“Boleh aku bicara sebentar dengan Irene?” tanyaku pelan, dan lucunya aku meminta izin dari pria ini. Ayolah, aku masih menjabat sebagai kekasihnya Irene ‘kan? Justru aku yang harusnya marah karena lelaki ini terkesan menjauhkan Irene dari kekasihnya, dan kekasih Irene itu Oh Sehun bukan Lee Taeyong!

“Tidak, kau harus berbicara denganku terlebih dahulu,” ucapannya membuatku terdiam, apakah untuk mengakhiri hubungan saja Irene tidak mampu lagi berbicara langsung padaku?

Kutatap Irene dengan pandangan sendu, gadis itu nampak membeku disana. Dia hanya diam meremas roknya dan mungkin berusaha menahan tangis. Bolehkah aku merengkuh tubuh mungilnya sekarang?

 

Ayolah Oh Sehun, kau itu benar-benar naif. 

“Irene masuklah ke dalam mobil, aku akan berbicara sebentar dengan kekasihmu,” perkataan pria itu lagi-lagi membuatku semakin terpuruk, kejadian tadi siang terlalu sulit untuk aku tepis dari pikiranku.

Aku lebih memilih jabatan bodohku daripada kekasihku. Lucu.

Irene menurut, dia segera masuk ke dalam mobil berwarna hitam metalik itu dengan langkah perlahan. Aku menatap punggungnya penuh rasa bersalah. Sementara Irene hanya berjalan tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, tebakku ia sudah terlalu muak melihatku. Ya, dia pasti benar-benar-

BUG!

-muak.

Aku meringis, pria ini sudah mencuri start. Dan sekarang tubuhku tersungkur ke tanah di tambah pipiku yang terasa sakit. Tidak, tidak lebih sakit dari luka yang aku torehkan di hati Irene. Ini belum seberapa dibanding lebarnya luka tak berdarah yang ku sarangkan pada Irene.

“Kau itu tolol!” suara yang tekesan mengejek itu sampai ke telingaku dan aku membenarkannya dengan sepenuh hati. Enggan untuk sekedar berdebat karena ku tau semua yang diucapkan Taeyong adalah suatu fakta yang tak bisa lagi ku bantah.

“Dia sudah menceritakan seluruhnya padaku, dan disitu aku berasumsi kau itu pria yang tolol, bahkah super tolol,” tambah pria itu lagi, kali ini ekspresi wajahnya terlihat sangat muak melihat wajahku. Netranya jelas memicing dan menatapku tak suka.

Aku bangkit berdiri, membersihkan pakaianku dari debu yang menempel. Lalu menghela nafas pelan.

“Iya, aku memang tolol,” sahutku tanpa minat, lantas ku tatap bersalah Taeyong yang kini hanya mendecih kasar di depanku.

“YA!” Taeyong berteriak, ia menarik kerah bajuku begitu saja, menantangku lagi. Dan lagi-lagi pula, aku jadi bahan tontonan di taman ini. Ayolah, sudah berapa kali aku mendadak jadi pusat perhatian disini, huh? Mulai dari saat aku membawa Irene kemari, make-up Irene yang luntur, aksi melarikan diri dari adik lelaki Irene, semua tentang Irene yang membuatku semakin merasa bersalah. Bahkan sekarang beberapa penghuni taman nampak berbisik ke arah kami berdua.

“Oh Sehun, bajingan kau!”

BUG!

Lagi, aku tersungkur ke tanah tanpa niat melawan.

Taeyong lantas terduduk di depanku, ia menarik kerahku lagi, namun kali ini pandangan matanya berubah-menurutku.

“Dia gadis yang mendapatkan banyak luka di masa lalunya, Irene adalah gadis yang penuh luka sejak dulu, dan sekarang pria yang dia cintai sepenuh hati dengan seenaknya mencampakkannya demi sebuah jabatan yang disebut ketua OSIS, apa kau tau bagaimana perasaan Irene sekarang?” ujar Taeyong tersulut emosi, namun tidak ada bentakan ditiap perkataannya. Aku hanya diam, terpaku. Irene, mempunyai banyak luka dulunya?

“Irene itu siswi yang paling sering di-bully sewaktu kami SMP. Kau bisa bayangkan bagaimana Irene yang kau lihat sekarang dulunya memakai kacamata tebal dan rambutnya dikuncir dua,” aku terperangah, jadi dulu Irene itu adalah nerd? Kenapa dia tidak pernah menceritakannya padaku?

“Dia mengubah penampilannya semenjak SMA, dia selalu menggoda pria lalu membuang pria itu begitu saja karena baginya pria adalah mainan. Irene juga cerita bagaimana kau selalu memarahinya dan menyuruhnya bertobat Oh sehun-ssi, bagaimana kau selalu naik pitam karena ulahnya, dan bagaimana kau selalu ada di saat dia membutuhkanmu meski kau berakhir melanggar peraturan. Kepedulianmu padanya perlahan mengikis beku hatinya, itu kata Irene padaku!” hatiku seakan diremas-remas saat ini, rasanya mencekik saat mendengar semua itu dari mulut Taeyong. Aku sudah menyakiti Irene terlalu dalam.

“Aku adalah salah satu orang yang ikut andil dalam pem-bully-annya, ya, aku manusia terbrengsek karena sudah mem-bully Irene habis-habisan dulu. Tapi Irene juga bodoh, dia malah jatuh cinta pada tukang bully sepertiku, aku cinta pertama Irene,” hatiku jelas tertohok, mencelos dan terasa di hancurkan begitu saja. Taeyong ternyata cinta pertama Irene.

“Tapi bodohnya, aku sama sepertimu. Aku tau Irene menyukaiku, dan aku malah semakin mem-bully-nya. Aku menyakiti Irene.”

“Aku pulang ke Korea untuk meminta maaf padanya, meminta Irene agar kami mengulang kisah kami dari awal dan aku berniat menjadikan Irene sebagai tunanganku karena aku sendiri menyukai Irene,” Taeyong melepas cekalannya di kerah baju Sehun, lantas ia mundur selangkah, lalu duduk begitu saja di atas rumput.

“Tapi ternyata dia sudah punya kau Sehun-ssi, dia dengan bangga bercerita kalau hatinya sudah menjadi milik orang lain. Aku tahu sulit bagi seorang Bae Irene untuk jatuh cinta, kupikir Irene akan masih tetap sama seperti dulu, tapi nyatanya dia jatuh cinta padamu,” aku tetap diam, mendengarkan kata demi kata yang dituturkan oleh Taeyong.

“Aku menginginkan Irene,” 

BUG!

Kali ini, tanganku yang mengepal dan menghajar Taeyong hingga ia tersungkur, tertidur di atas tanah.

“Jangan main-main, Irene itu milikku!” teriakku, dan Taeyong malah tertawa kecil. Lantas ia berdiri dari posisinya.

“Kau emosi sekali rupanya,” kekehnya dan itu membuatku semakin ingin menghajar Taeyong.

“Kau-“

“Aku mengurungkan niatku untuk merebutnya darimu.”

Seketika, tanganku yang sudah mengepal dan hampir merusak pipinya berhenti. Aku menurunkan tanganku, lalu menatap Taeyong bingung.

“Aku menyerah, karena aku sadar ketamakanku hanya akan menambah luka Irene. Jadi, selagi aku membiarkanmu memiliki Irene, maka kau harus menjaga gadis itu dengan baik, atau kau akan menyesal seumur hidupmu!” Taeyong tersenyum tipis, seraya menepuk pundakku saat mengatakan ancaman itu. Aku diam ditempat.

Apakah Irene akan menerimaku kembali? Apakah Irene mau memaafkanku?

“Aku akan menyuruhnya kesini, kau bisa bicara dengannya,” aku menarik lengan pria itu, sementara Taeyong yang sudut bibirnya sudah berdarah karena ulahku hanya tersenyum kecil.

“Terimakasih, sudah menyadarkanku,” dia hanya terkekeh pelan lalu melangkahkan kakinya menuju mobil tanpa membalas ucapanku lagi. Dia hanya menepuk punggungku untuk kedua kalinya.

Dan setelah tubuh tegap Taeyong menghilang dibalik pintu mobil yang tertutup beberapa detik lalu, sosok Irene dengan tubuh ringkihnya keluar dari mobil lalu berjalan ragu-ragu ke arahku.

Aku berusaha mati-matian menahan debaran jantungku yang lebih cepat dari biasanya.

“Kau ingin bicara sesuatu denganku?” aku menatap Irene ragu, sementara Irene kini menunduk takut-takut. Oh ayolah Oh Sehun, kemana dirimu yang percaya diri?

“Maaf,” sontak saja gadis yang sudah merebut hatiku itu menaikkan kepalanya yang sedari tadi ia tundukkan.

“Maaf karena aku belum bisa menjadi seorang kekasih yang baik, maaf karena aku tidak memikirkan perasaanmu, maaf, maaf, maaf, Irene-ah,” aku tertunduk dan sekarang bisa aku dengar suara tangis Irene. Ntah kenapa, aku semakin mencelos karena kini Irene menangis karenaku.

“Hiks.. seharusnya hiks.. aku yang minta maaf hiks.. aku menanyakan pertanyaan gila padamu hiks.. dan aku selalu bersikap childish hiks.. seharusnya aku memaklumi kesibukanmu hiks…aku..aku..Sehun..aku-”

Grep!

Kutarik tubuh Irene ke dalam rengkuhanku, gadis itu semakin terisak dan sekarang aku juga ikut terisak. Astaga, Irene adalah satu-satunya orang yang berhasil membuatku menangis seperti ini.

“Mulai hari ini aku akan selalu meluangkan waktuku untukmu, maaf karena aku selalu menyakitimu, Irene-ah,” aku mengeratkan pelukanku pada tubuh Irene dan Irene kini membalas pelukanku sama eratnya.

“Terimakasih Sehun-ah, terima kasih telah mau menjadi kekasihku,” aku tersenyum tipis disela-sela tangisku, seharusnya aku yang berbicara seperti itu tapi Irene sudah curi start begitu saja.

“Aku baru tahu kau itu cengeng,” canda Irene kemudian yang sukses membuatku tertawa sambil menangis, aku melepas pelukanku lalu mengacak-acak surai coklatnya.

“Iya, aku memang cengeng. Dan itu semua karena mu,” Irene hanya tersenyum saat aku menyeka air mata di pipinya.

“Sehun-ah, kita sudah baikan ‘kan?” aku hanya tertawa saat melihat wajahnya yang manis itu, aku lantas mengangguk pelan.

“Kalau begitu, cium aku,” aku membelalakan mataku tak percaya, apa baru saja dia minta dicium? Ah, ada-ada saja kekasihku ini.

“Ada syaratnya,” Irene mengerucutkan bibirnya sebal, ahh.. kenapa aku yang merona?

“Apa?” tanya Irene kesal, aku semakin merona melihat wajahnya yang imut itu.

“Jadilah gadisku untuk selama-lamanya,” ucapku pelan seraya tersenyum manis, lantas tanganku bergerak menangkup leher jenjang Irene.

“Tanpa kau minta pun, aku akan melakukan hal itu untukmu, Sehun-ah,”

Aku menarik wajah Irene lalu mencium bibirnya lembut, bibir plum –nya yang selalu membuatku candu. Ah, kapan terakhir kali aku merasakan manisnya bibir gadis ini? Aku merindukan sentuhan Irene.

Ciuman kami berlangsung cukup lama dan aku yakin seseorang di dalam mobil itu pasti tengah menatap kami jengah. Terima kasih, Lee Taeyong. Terimakasih karena mengalah untukku.

“Berbahagialah Irene, maaf karena aku pernah merusak kebahagiaanmu,”

 

^^

 

Author’s side

Wendy membersihkan tubuhnya yang lengket dan kotor di toilet sekolah. Gadis-gadis yang ia sebut sialan tadi sudah pulang ke rumah masing-masing ketika seorang pria asing yang lagi-lagi menyelamatkannya dari para gadis maniak pacarnya.

Dalam hati Wendy begitu penasaran, siapa gerangan pria yang sudah dua kali menyelamatkannya itu. Namun pikirnya segera beralih menjadi gerutuan kesal karena rambutnya masih lengket dan bau.

 

^^

 

Sekarang keadaan Wendy sudah jauh lebih baik karena dia sudah menyuci rambutnya sepuluh kali dengan sebotol sampo yang masih baru dia beli. Setelah memakai pakaian yang layak dia bergegas menuju rumah Chanyeol.

Tanpa permisi dia duduk di sofa tepat di sebelah Chanyeol.

“Astaga! Kau mengagetkanku,” Chanyeol melempar stik PS-nya ke lantai ketika wajah masam Wendy ditangkap oleh sudut matanya.

“Ish, siapa juga yang berniat mengagetkanmu, hm?” tanya Wendy seraya meletakkan kepalanya di pundak Chanyeol, tapi entah kenapa Chanyeol tiba-tiba mendekatkan indra penciumannya ke rambut gadis itu.

“Rambutmu bau telur busuk,” cibir Chanyeol kemudian, Wendy yang mendengar hal itu lantas menarik tubuhnya menjauh dari Chanyeol.

“Baunya belum hilang?” Wendy kembali menciumi rambutnya yang sudah susah payah ia cuci.

“Memangnya ada apa?” tanya Chanyeol seraya memusatkan pandangannya ke wajah Wendy tanpa peduli dengan kalimat ‘Game Over’ yang tercetak di depan layar monitornya.

“Fansmu kumat,” Chanyeol hanya terkekeh mendengar jawaban Wendy.

“Kenapa kau tertawa? Aku berbicara yang sebenarnya kok, kau tidak lihat luka sobek ini?” Wendy menunjuk ujung bibirnya yang sedikit sobek.

Wendy bukanlah tipe gadis yang suka menutup-nutupi sesuatu dari kekasihnya. Dia tidak pernah mau tertindas, dan itu membuatnya berbeda dengan gadis kebanyakan dalam novel atau drama. Dan sifat itu juga yang membuat Chanyeol semakin menyukai Wendy.

“Mereka menamparmu?” panik Chanyeol seketika. Wendy lantas memutar bola matanya jengah.

“Kau ini labil sekali, sih. Tadi kau menertawaiku, sekarang kau pa—”

“Siapa yang melakukannya?” Wendy menatap Chanyeol yang tiba-tiba memegang pundaknya itu aneh, kemudian segera menjawab, “Seulgi dan kawan-kawan.”

Chanyeol mengatupkan rahangnya marah. Jika disiram dengan air parit atau dilempari dengan telur Chanyeol masih bisa diam tapi kali ini Wendy ditampar oleh para gadis gila itu. Mereka menyentuh Wendy, dan itu tidak bisa diterima akal sehat Chanyeol.

“Jangan bilang kau ingin melabrak mereka besok? Sudah, tidak usah. Lebih baik kau fokus mengobati cideramu itu dulu,” Wendy melirik singkat ke arah kaki Chanyeol yang tidak lagi diperban karena tadi pagi Chanyeol memang pergi check-up ke rumah sakit untuk membuka perban dan gips-nya.

“Kakimu sudah sembuh?” Chanyeol hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Wendy, lantas dia mengambil stik PS-nya di lantai lalu melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti, mengulang game-nya dari awal lagi.

“Oh, bagus kalau begitu,” Chanyeol tidak menanggapi perkataan Wendy dan itu cukup membuat Wendy melirik pria itu jengkel.

“Kenapa kau tiba-tiba dingin padaku, huh? Aku salah bicara, ya?” tanya Wendy penasaran, sungguh Chanyeol seperti remaja labil saat ini. Wendy jadi khawatir kalau Chanyeol punya kelainan dan kekasihnya itu sedang datang bulan. Namun Wendy menepis hal diluar logika itu, nilai biologinya selalu di atas 95 dan itu membuatnya sadar betul kalau Chanyeol tidak mungkin mengalami peluruhan darah dalam rahim.

“Park Chanyeol, kau kenapa , eoh?”

Chanyeol masih diam.

Ya! Park Chanyeol, jangan mengabaikanku, ish!” Wendy menarik-narik lengan Chanyeol dan tiba-tiba pria itu melempar stik PS-nya dengan kasar ke lantai lalu menatap Wendy dengan tatapan jengah.

“Kau punya kekasih baru ‘kan?” Wendy mungkin saja kayang tiba-tiba di hadapan Chanyeol sekarang juga! Apa katanya tadi? Kekasih baru? Oh, tolong ingatkan Chanyeol kalau Wendy hanya tau belajar dan bukannya melirik pria.

“Apa sih yang kau bicarakan? Kau aneh, aneh sekali malah,” Wendy menekuk wajahnya, pura-pura ngambek. Entah apa yang terjadi pada Chanyeol sekarang. Wendy benar-benar gagal paham.

“Jadi siapa yang menyelamatkanmu dari Seulgi cs?”

Tenggorokan Wendy terasa tercekat, dia bingung mau menjawab apa. Dan lagipula buat apa Chanyeol semarah itu hanya karena seseorang yang menyelamatkan gadisnya? Bukannya seharusnya ia berterima kasih?

“Seulgi tidak akan berhenti sampai seseorang yang cukup disegani di sekolah menghentikannya,” tambah Chanyeol sambil melirik Wendy sinis.

Jadi pria itu disegani di sekolah?” batin Wendy bertanya, masih belum menjawab pertanyaan beruntun Chanyeol.

“Dan aku yakin seratus persen orang yang menyelamatkanmu itu ber-gender pria,” kali ini Wendy mengepal kedua tangannya, kenapa sekarang Chanyeol curiga padanya? Memangnya dosa apa Wendy kalau ada seorang pria yang menyelamatkannya saat kekasihnya sendiri sibuk bermain PS karena berjalan saja susah?

“Memangnya kenapa? Toh, dia yang menolongku dan aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Dia cuma kebetulan lewat disana Chanyeol,” sanggah Wendy kemudian, tak terima karena sedari tadi ia dipojokkan oleh Chanyeol dengan kesalahan yang jelas-jelas tidak ia lakukan.

“Dia kebetulan lewat atau memang sengaja lewat? Aku tahu betul kalau kondisi sekolah pasti sudah sangat sepi jam segitu, dan bagaimana bisa seorang pria yang cukup disegani lewat disana dengan kebetulan? Atau jangan-jangan—”

“Jaga mulutmu ya, Park Chanyeol! Kau pikir aku ini gadis murahan, hah? Apa kau tidak pernah berpikir sulitnya jadi aku? Fans-fans sialanmu itu tiap hari menghinaku dan menggangguku, dan sekarang kau menuduhku berselingkuh hanya karena aku ditolong oleh seorang pria yang bahkan tidak pernah aku lihat wajahnya? Dasar brengsek!” Wendy tersulut emosi, niatnya datang kesini untuk bermanja-manja dengan Chanyeol malah jadi seperti ini.

Sementara Chanyeol? Dia hanya bisa diam, hanya menatap lurus ke netra Wendy yang sekarang berkilat marah.

Wendy nampak mengatur nafasnya, kemudian berucap lagi.

“Jadi kalau hanya karena ditolong oleh seorang pria, kau menuduhku berselingkuh. Bagaimana denganmu yang setiap hari dikelilingi wanita? Aku harus menyebutmu apa? Player?” Wendy segera meninggalkan rumah Chanyeol setelah mengeluarkan semua uneg-unegnya. Dia menghentak kakinya kesal sembari keluar dari rumah besar Chanyeol.

Dia bahkan bersungut kesal karena Chanyeol bahkan tidak mengejarnya.

“Kenapa, sih pria tolol itu?!”

 

^^

 

Pagi yang sempurna menyambut pasangan yang baru berbaikan beberapa jam itu. Mentari yang cerah seakan menyimbolkan hubungan mereka yang kembali semakin cerah setelah kemarin diterpa badai dan gerimis. Mereka bahkan menjadi pusat perhatian di koridor sekolah sekarang karena mereka nampak bercanda ria sambil bergandengan satu sama lain.

 

“Heol, bukankah semalam mereka bertengkar hebat di gerbang?”

“Astaga, kenapa aku iri melihat mereka?”

 “Ini aku yang gila atau memang Irene semakin cantik saja?”  

“Kenapa Sehun terlihat begitu tampan hari ini?”

 

Sehun dan Irene hanya saling melempar senyum mendengar kalimat-kalimat yang lebih didominasi oleh pujian itu. Mereka tidak tuli, dan mereka hanya bisa berbahagia karena kini hubungan aneh mereka mulai bisa diterima oleh siswa-siswi SMA Hannyoung.

Namun setelah masuk ke kelas, hawa tak sedap seketika menghampiri mereka.

Ya! Park Chanyeol, pentas seni dua hari lagi dan kalian membatalkan penampilan kalian? Kau mau kita menerima murka dari seluruh penghuni sekolah?” terlihat Jimin tengah marah besar kepada Chanyeol yang tengah duduk santai di kursinya.

“Kenapa tidak kau saja yang tampil? Suaramu ‘kan bagus?” Jimin menggertakkan rahangnya kesal saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Chanyeol.

“Chanyeol, kau membatalkannya?” Sehun mendekati sumber permasalahan disusul oleh Irene dibelakangnya.

“Aku membatalkannya karena apa memangnya?” tanya Chanyeol sinis kepada Sehun, dia bangkit dari kursinya lalu tiba-tiba menarik tangan Irene yang berdiri di samping Sehun.

“Ikut denganku sebentar,” Sehun hendak marah namun Irene memperingatkannya.

Chanyeol menarik tangan Irene menuju taman belakang sekolah.

“Apa yang mau kau bicarakan Chanyeol-ah?” tanya Irene to the point.

“Hmm, apa Wendy dekat dengan pria lain selama aku tidak sekolah?” pertanyaan Chanyeol membuat Irene segera mencebikkan bibirnya.

“Apa mulutmu perlu aku beri detergen supaya tidak mengucapkan kata-kata seperti itu, hah? Enak saja kau menuduh Wendy sembarangan,” sembur Irene seraya menjitak dahi Chanyeol.

Ya, aku bertanya baik-baik padamu. Kenapa kau mala— Srakk!” Chanyeol menarik tangan Irene agar ikut dengannya bersembunyi di balik semak-semak.

Irene hanya menggerutu kesal saat Chanyeol dengan seenaknya menyuruhnya berjongkok dibalik semak-semak yang sangat Irene benci itu.

“Kau ini kenapa, sih?” tanya Irene seraya menjambak rambut Chanyeol.

Argh.. diam dan lihat kesana!” balas Chanyeol kesal seraya memutar kepala Irene ke arah Wendy yang sedang berdiri berhadapan dengan seorang pria berkulit putih.

“Itu Wendy ‘kan? Dia bersama… Mark?” Irene menatap pemandangan itu tak percaya, buat apa Wendy dan Mark berbicara sampai ke pojokan seperti itu? Oh, kalau kalian tanya kenapa Irene mengenal Mark, itu karena dulu abs milik pria itu pernah menggoda batin Irene.

Wendy nampak tersenyum ke arah pria yang Chanyeol ketahui bernama Mark Tuan itu dari Irene. Lalu pria bernama Mark yang cukup tampan itu tiba-tiba menggenggam tangan Wendy dengan senang, membuat Irene seketika mencium bau terbakar dari sebelahnya.

Kesabaran Chanyeol sudah diambang batas! Ternyata dugaannya kemarin malam benar!

Ya, Park Chanyeol kau mau kemana? Nanti mereka melihatmu!” ucap Irene dengan suara berbisik ketika Chanyeol berdiri dan mulai melangkahkan kakinya.

“Melakukan sesuatu yang semestinya ku lakukan,” jawabnya singkat dan itu membuat Irene semakin tidak tenang.

Ya! Park Chanyeol!”

Irene memanggil Chanyeol lagi, namun pria bermarga Park itu nampaknya tidak terlalu peduli dan tetap meneruskan langkahnya.

“Son Wendy, aku-“

BUG!

YA! APA YANG KAU LAKUKAN PARK CHANYEOL!”

 

 

To Be Continued

Author’s Note

Ada yang merindukan ini? Wkwkw, just fyi, ini adalah chapter kedua sebelum end. So, siap membaca chapter final Stuck On You minggu depan? We have done the last chapter, and will post it on time in the next week :’)

 

 

 

 

 

42 tanggapan untuk “Stuck On You! (Chapter 09) – Shaekiran & Shiraayuki”

  1. Waaaa ada mark tuan jga XD
    yaampun hdup mereka dikelilingi cowok” kece XD
    apa hbungannya mark sma wendy? Knpa pgang”an tngan sgala?
    Chanyeol uda tau bgt yaa kelakuan fans”nya sampe sedetail itu, ckck knpa g dberi peringatan ajasih mreka -,-
    nexxxtttt

  2. ahh trnyta MT.. kirain nct mark.. hahaha kan adek” itu mah.. wahhh temany konflik kecemburuan ini mah..tapi yg atu udh baikan.. yg atu au ahh angkat tangan.. hahahahhh

  3. Wendy Wendy Wendy, haduh bagaimana ini dengan chanayeol. apa ini efek momen pas sma, chanyeol megang kepalanya seulgi makanya kamu jadi begini wendy~ DAN LAGI KENAPA MEREKA HARUS KONFLIK LAGI?! MARK TUAN BALIK KE GOT7 SANA!

  4. ah ini apaa? aku menunggu dari abad berapa kakak authornim?? :v rasanya nemu ini kayak nemu cogan deh,, :v hunrene baikkan kok malah wenyeol yang marahan? duh² romantis banget dehh hunrene itu. jadi pengen liat real*oops* hehe 😀 kelanjutannya ditunggu sekali loh kak! fighting ^^

    1. Cogan eaaa :3 gantian dong, ya :))
      Sama, aku juga pengen liat hunrene jadi real :”)
      Thankyouu ❤

  5. Yaampun ini baru up to date dan ini first aku baca tepat waktu hehe. Langsung ga sabar aja final chapter nya, gilak ini aku nunggu dari liburan dan baru sekarang keluarnya huu gapapa deh.
    keren thor, keren buanget malahan.
    luv 💕

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s