[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 4)

philosophyoflove.jpg

Tittle: Philosophy of Love
by Tyar

Chapter | Romance | T

Cast: Oh Sehun – Bae Irene. Etc

Disclaimer
2016 © TYAR
Don’t claim my fiction!!

Inspired by
Perahu Kertas
AADC2

Visit my village – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

[1 / 2 / 3]

-4-

“Tidak mudah untukku mengungkap masa lalu.” –Sefryana Khairil, Sweet Nothings.

Jam tangan yang melingkar di pergelangan Sehun sudah menunjukkan pukul 4 sore. Waktu begitu tak terasa, cepat berlalu jika dilewati bersama Irene. Semua berjalan nyaris sempurna. Namun semua kebersamaan itu membuat Sehun lupa dengan si Jeni. Motor kesayangan seniornya itu tiba-tiba melambat, mengeluarkan suara yang lebih berisik dan aneh. Sadar dengan apa yang terjadi, Sehun merutuk panik.

“Gawat! Si Jeni ngadat!” Serunya tepat ketika motor yang sedang mereka naiki mati tiba-tiba.

“Eh? Ada apa, Sehun? Si Jeni ngadat? Siapa Jeni?” Irene segera turun dari motor yang tiba-tiba berhenti dan bertanya dengan panik.

Lelaki itu mencoba menginjak starter di bawah motor beberapa kali, mencari peruntungan siapa tau Jeni bersedia diajak berdamai.

“Ini. Motor ini namanya Jeni. Motor Bang Xiumin, senior saya.” Jawab Sehun dengan terbata-bata.

Kemudian dia menyerah, Jeni tak mau berdamai dengannya. Sehun melipat kedua tangannya di dada sambil menghembuskan nafas kasar lalu menoleh ke arah Irene, “Yaah. Mogok, Rene.”

Irene diam menatap Sehun beberapa detik, lalu tertawa pelan. “Yah. Kamu, sih. Pakai acara pinjam motor orang segala. Padahal pakai mobil saya juga ‘kan, bisa.” Cibir Irene, mulai sarkastis.

“Saya kira Jeni bakalan betah sama cowok ganteng.” Guraunya sembari pura-pura memasang wajah menyesal.

“Cih. Pede banget.” Irene melipat tangan di dada sambil tersenyum meledek.

“Kenyataan, kok. Buktinya kamu masih betah ‘kan, sekarang?” sebelah alisnya terangkat menggoda. Membuat Irene tertawa sembari menggeleng kepala pelan.

“Bengkel, yuk.” Ajaknya. Sehun meraih stang motor dan mulai berjalan mendorongnya. Irene menyusul, mensejajarkan langkah.

“Kamu yakin ada bengkel di sekitar sini?”

“Enggak juga. Yaa, siapa tau aja.” Jawab Sehun santai.

Irene merengut, “Kalau ternyata enggak ada, gimana?”

“Jalan sampai kantor juga, gakpapa. Saya betah kok lama-lama.” Sehun menoleh, memberi senyum jahil pada gadis di sampingnya. Membuat Irene hanya bisa tertawa sarkastis.
Sehun sedikit serius dengan kalimatnya beberapa detik yang lalu. Dia sama sekali tidak keberatan jika harus berjalan menenteng motor bersama Irene di sampingnya sampai kantor, memakan waktu dengan lebih lama lagi. Namun melihat Irene, bagaimana dia tega membiarkan gadisnya berjalan sejauh itu?

Beberapa belas menit mereka berjalan dalam diam. Diam dalam gelisah. Mereka kehabisan percakapan. Sementara Sehun mencemaskan Irene, gadis itu malah mulai menikmati waktu yang bergulir dengan lengang. Berjalan berdua dengan Sehun, membuatnya kembali sedikit terbawa perasaan. Dia mencegah ingatannya berputar pada masa-masa kencan dulu. Berjalan berdua akan menjadi hal yang paling menyenangkan. Karena waktu itu Sehun begitu konyol, cerewet, jahil dan nakal. Sering sekali membuat dirinya malu karena tingkah Sehun yang tidak jelas saat mereka berdua tengah berjalan bersama. Irene menghembuskan nafas dengan samar, menyadari bahwa otaknya sama sekali tak sanggup mencegah luapan kenangan itu.

“Ada bengkel, Rene.” Sahut Sehun membuyarkan lamunan Irene. Lelaki itu segera mengajaknya mendekati bengkel. Memberi Irene kursi lalu berbicara dengan sang montir.

Gadis itu diam memperhatikan punggung Sehun yang tegap. Lagi-lagi, ingatan yang telah lalu kembali meluap. Mengingat dulu punggung lebar itu pernah menjadi tempat bersandarnya. Pernah didekapnya dengan penuh kasih. Dadanya tiba-tiba memanas, kehangatan punggung Sehun masih dapat diingatnya. Meski itu sudah bertahun-tahun silam lamanya.

“Irene?” sebuah suara berat berhasil membangunkan lamunannya. Irene segera menoleh ke arah sumber suara. Tau-tau saja Sehun sudah membawakan sebatang es krim dan duduk di sampingnya. Itu cukup membuat dirinya merasa malu, kaerna sudah melamun sebegitu jauh.

“Te-terima kasih.” Gumamnya sambil meraih es krim pemberian Sehun.

“Melamun apa, sih? Asik banget kayaknya.” Sahut Sehun setelah menggigit ujung es krim miliknya.

Irene tersenyum simpul. “Kepo.”

Lawan bicaranya kemudian tertawa pelan, “kalau saya gak boleh tau, berarti tadi kamu lamunin saya.”

“Udah deeh.” Keluh Irene gemas. Keduanya lalu tertawa. Tepat ketika itu ponsel Sehun berdering. Dia pun segera meraih benda itu dari saku dan mengangkat panggilan.

“Sehun! Setengah jam lagi jam 5. Kamu masih dimana? Awas kalau kamu lupa!” sebuah seruan dengan mulus menyambut telinga Sehun.

“Eh-hehe. Si Jeni kayaknya ngambek deh saya bawa cewek cantik.” Jawabnya asal. Membuat Irene yang berada di sampingnya segera mengerutkan kening lalu terkekeh tanpa suara.

“Maksud kamu mogok? Ah, kamu tuh ya! Pokonya gak mau tau, jam 5 udah disini.”

“Iya, bang, iya. Aduh cerewet banget, sih.” Tepat setelah jawaban itu, si pemilik Jeni langsung menutup panggilan tanpa pamit.

Dengan santai, Sehun memasukkan ponsel ke tempat semula. Lalu menggigit es krimnya kembali. Gadis di sampingnya menatap Sehun beberapa detik sambil tertawa pelan dan ikut menikmati es krim miliknya.

Pandangan pria itu kini turun, melirik kaki Irene yang berbalut flatshoes marun seperti waktu mereka bertemu sebelumnya. Dia ingat, pena yang selalu Irene genggam pun berwarna marun. Begitu juga dengan semua cover novelnya yang selalu kentara akan warna marun. Kini wajahnya terangkat, memandangi Irene yang tengah asik dengan es krimnya.

“Sejak kapan kamu suka marun?”

Irene segera menoleh, “Eh? Sejak kapan kamu tau saya suka warna marun?”

“Apakah sepatu, pena, dan semua cover novel kamu masih belum cukup untuk menjelaskan semuanya?”

Gadis itu menatap Sehun lagi sejenak, kemudian terkekeh pelan sambil kembali menatap lurus dan menggigit es krimnya yang tinggal separuh.

“Bukannya dulu kamu suka warna putih? Sampai semua barang warnanya putih. Udah kayak bidadari nyasar aja. Sekarang tiba-tiba jadi lebih kelam, suka warna marun. Merah gelap.” Kelakar Sehun.

Irene menatap separuh es krim di tangannya, kemudian memutar-mutar sticknya dengan pelan. “Putih itu murni. Cerah, dan netral. Kemudian jadi ternodai gara-gara 7 tahun lalu sepucuk kertas putih mematahkan hati saya.” Gadis itu memberi jeda, menarik nafas kembali untuk melanjutkan. Sehun yang ada di sampingnya diam membeku. Sebuah sentilan linu terasa menyentak-nyentak isi dadanya.

“Semenjak itu, pandangan saya mengenai warna putih jadi berubah. Setiap liat warna putih, saya akan ingat semua yang kamu tulis.” Irene menoleh ke arah Sehun yang kini semakin terpaku. Gadis itu malah tersenyum, memberi isyarat bahwa dia bukan sedang mempermasalahkan hal itu sekarang ini.

Tangan lembutnya naik, meraih ujung bibir Sehun yang ternodai es krim. Dia baru saja mengusapnya pelan, sampai tangan Sehun ikut naik. Menyentuh tangan yang kini masih berada di posisinya, lalu menggenggamnya perlahan.

“Maaf.” Bisik pria itu.

Seluruh dunia terasa seakan membeku. Kini keduanya sama-sama tenggelam. Sesuatu seperti kembali berlayar dalam hati Irene, namun kemudian ia kembali menahannya. Semua orang bisa memaafkan, tapi tidak bisa melupakan.

Tiba-tiba saja sebuah suara mesin menderu kencang mengudara menyelamatkan Sehun dan Irene yang nyaris tenggelam lebih jauh lagi. Keduanya segera membetulkan posisi dan menoleh ke arah sumber suara. Terlihat sang montir kini tersenyum ke arah mereka.

“Beres.”

XxxX

Flashback; on

Masa awal perkuliahanku cukup membosankan. Satu-satunya alasan adalah karena ini bukan jurusan yang aku inginkan. Aku cuma ingin kuliah sastra, tapi tak satupun bisa menyetejui itu. Tak satupun mengizinkanku bermimpi dalam sastra dan menulis. Kecuali Sehun, kekasihku. Laki-laki bodoh yang dua bulan ini tiba-tiba menghilang begitu saja.

Dan disinilah aku, di depan pagar rumah Sehun yang tinggi menjulang. Setelah sibuk berbaur menjadi mahasiswi Akuntansi, aku akhirnya bisa pergi ke tempat jauh ini. Aku menoleh ke balik sela-sela pagar, mencari seseorang. Rumahnya tampak sangat sepi, tak seperti biasanya.

“Pak Shim! Pak Shiiim!” teriakku memanggil penjaga rumah Sehun yang sudah lama kukenal.

Tak berapa lama kemudian pria paruh baya itu muncul, berlari kecil dari dalam mendekati pagar. Alih-alih membukakan pagar untukku, dia malah bertanya dengan eskpresi tidak nyaman.

“Nona Irene? A-ada apa?”

“Kok tanya ada apa, sih? Sehun mana? Ada?”

Pria itu tampak berpikir, “ng.. Keluarga mas Sehun sedang tidak bisa diganggu, non.”

Aku mengerutkan kening, “Apa maksudnya? Kenapa dia tidak menghubungiku, sih? Nomornya juga tiba-tiba gak aktif. Ada apa, sih, pak?” aku mendesak.

Pak Shim tampak lebih bingung, ia menggaruk belakang kepalanya. “Aduh. Bagaimana, ya. Pokoknya jangan dulu kesini, deh, non. Ini sudah pesan dari –”

“Tidak apa-apa, pak. Biar saya saja.” Tiba-tiba lelaki yang kucari-cari itu keluar, menghampiri kami dengan wajah kusut –seperti biasa.

“Sehun!” Aku tersenyum melihatnya. Lelaki itu berjalan gontai, dengan kaus hitam pendek dan celana rumahan yang pendek. Juga rambut gondrong yang berantakan. Wajahnya tampak sangat kusut, dan dia sama sekali tidak membalas senyumku sampai kami saling berhadapan di antara tingginya pagar. Aku pun merengut.

“Kenapa?” tanyaku mulai cemas.

“Pak Shim benar. Pergilah, jangan kemari.”

“Iya, tapi kenapa?”

“Aku gak bisa cerita sekarang, Irene.”

Aku semakin merengut, kesal dengan sikap Sehun yang seperti ini.

“Kamu tiba-tiba menghilang 2 bulan. Kamu mau ninggalin aku? Kamu udah bosen –”

“Irene.” Sahutnya memotong kalimatku. “Kumohon. Jangan sekarang. Aku capek.”

“Setidaknya aktifkan handphone-mu. Hubungi aku. Ceritakan sesuatu sedikit saja.”

Sehun diam memandangiku dengan tatapan nanar. Membuatku mulai terluka. Sikapnya yang seperti ini benar-benar menyayat hatiku. Ini sudah 2 bulan, apakah aku salah jika ingin menemuinya seperti ini?

“Pulanglah. Aku akan mengirim pesan.” Ucapnya kemudian. Dia lalu mundur selangkah dan berbalik hendak meninggalkanku. Aku masih diam, menunggu dia kembali menoleh kebelakang demi menyesali perkataannya. Namun saat dia benar-benar berhenti dan menoleh, yang dikatakannya hanyalah, “Maafkan aku.”

Entah kenapa itu seperti perpisahan bagiku. Meskipun dia bilang akan mengirim pesan. Lantas apa boleh buat? Aku pergi, meninggalkan tempat itu. Jauh-jauh menjangkau rumah Sehun, tapi ini yang kudapatkan. Jangankan bisa memeluknya dan melampiaskan rindu. Dia berniat membukakan pagar untukku pun tidak.

Sehun, kamu menyebalkan.

Malam-malam, setelah aku selesai mandi. Aku hanya menghabiskan waktu dengan melamun di depan jendela kamar. Memandangi langit yang pekat, tanpa berharap apa-apa selain pesan Sehun segera tiba. Aku harus memahami keadaannya, meskipun aku sama sekali tidak tau apa yang sedang terjadi di hidupnya saat ini. Sehun mungkin sedang sangat susah. Butuh sendiri, atau apapun itu. Tapi bersikap seolah-olah dia tidak mempunyai aku, itu keterlaluan. Dia tau betul, bahwa aku bisa membantu apapun. Setidaknya, menjadi pundaknya untuk bersandar. Aku bisa memeluknya supaya Sehun merasa lebih baik.

Pintu kamarku tiba-tiba dibuka, Ibu masuk dengan santai sembari membawa sepucuk surat di tangannya. Aku mengerutkan dahi, “apa itu?”

“Ada di kotak surat rumah kita. Disini tertulis, untuk; my beloved Irene.” Cibir Ibu lalu tersenyum jahil. Aku tersenyum seketika. Itu dari Sehun. Lantas merebut surat itu dari tangan Ibu dan memandangnya dengan tidak sabaran. Tanpa kupedulikan, Ibu sudah meninggalkan kamarku dan menutup pintu.

Aku tidak tau, dan tidak mau mencari tau apa alasan Sehun tiba-tiba mengirim surat picisan seperti ini. Dan bukannya mengirim pesan lewat ponsel, atau bahkan meneleponku. Sebuah amplop putih kini kugenggam dengan perasaan campur aduk. Saat itu aku berharap dia menuliskan sesuatu yang akan membuatku tenang, atau bercerita tentang apa yang terjadi akhir-akhir ini. Semua terasa manis hanya dengan membayangkannya saja.

Lantas aku membukanya, mengeluarkan 2 carik kertas putih. Satu kertas pertama terdapat sebuah lukisan wajahku yang terukir dengan pensil. Lukisan tangan Sehun. Melihatnya membuatku semakin berbinar. Indah sekali. Selanjutnya aku membuka kertas yang satunya, dan mulai membaca tulisan tangan Sehun yang berantakan dengan pulpen hitam.

Namun beberapa detik selanjutnya, isi surat itu berhasil meruntuhkan seluruh harapan, membantingku dengan amat keras, dan menghancurkanku berkeping-keping.

“Perempuanku, Irene, aku mencintaimu.

Aku salah karena sudah mengacuhkanmu 2 bulan ini. Aku salah karena sudah membuatmu khawatir. Aku juga salah karena tidak mempercayaimu untuk membantuku menanggung luka ini. Rene, banyak hal yang terjadi yang tidak bisa aku katakan begitu saja padamu. Ada banyak luka yang muncul di sekitarku. Ada banyak duri yang mencuat mulai menusukku sampai ke tulang-tulang. Ada banyak air mata yang tumpah ruah tak terbendung di hadapanku. Aku tidak tau harus kemana, selain tidak beranjak selangkah pun. Aku tidak tau harus melakukan apa selain menghanyutkan diri akan takdir pahit yang mengalir. Semua orang punya lukanya masing-masing, begitu juga dengan kamu, rene. Aku tidak mau menarik tanganmu untuk sama-sama terjun ke dalam jurang. Jadi, aku sangat minta maaf. Kita selesai sampai disini. Kamu dengan mimpimu, dan aku dengan mimpiku. Kamu bangun, dan aku hanya akan terus bermimpi. Jangan coba mencariku lagi, rene. Atau kamu akan semakin terluka. Jangan ingat-ingat aku lagi. Kubur aku dalam-dalam. Buang namaku jauh-jauh. Dan bakar habis semua kenangan yang pernah kita punya. Jangan khawatir, aku juga akan melakukan hal yang sama. Jadi kita adil, kan? Terima kasih, Irene.”

Malam itu aku menangis tanpa suara. Aku menangis tanpa mau berhenti. Dan semenjak itu, aku tidak mau mencintai siapapun lagi, selain diri sendiri.

Flashback; off

 XxxX

Sehun tidak pernah merasa sesemangat ini ketika mengerjakan illustrasi untuk sebuah buku. Meskipun pekerjaannya kali ini cukup banyak. Membuat satu illustrasi per-bab. Semua ini karena Sehun melakukannya untuk buku Irene. Untuk kisah mengagumkan ciptaan Irene. Benar saja, dia mulai jatuh cinta pada calon novel baru itu. Fiksi fantasi terbaru yang ia dan semua penggemar Irene tunggu-tunggu. Maka dari itu Sehun menggambar dengan semaksimal mungkin.

Sudah hampir 2 minggu lebih tim redaksi tidak bertemu dengan Irene karena kesibukan masing-masing. Dan siang inilah akhirnya mereka akan berkumpul. Memperlihatkan hasil kerja Sehun pada Irene, kemudian menyelesaikan proses desain sampul dan proof reading.

Ketika Irene datang, berjalan menghampiri meja bundar yang sudah terisi. Sehun merasakan jantungnya berdentum lebih kencang. Ia seperti jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis itu.

“Ini 3 illustrasi inti yang Irene dan Baekhyun minta. Dan ini sisanya.” Ucap Sehun sembari menyuguhkan lembaran-lembaran kertas pekerjaannya.

Beberapa saat kemudian orang-orang di meja itu memasang mata berbinar, kagum dengan hasil tangan Sehun.

“Sehun, saya gak pernah liat gambaranmu sehidup ini.” Puji Wendy yang duduk disamping Irene.

“Ya. Saya bukan penikmat lukisan yang serba tau, tapi saya rasa gambar-gambar ini sangat menawan dan hidup.” Timpal Suho.

Irene terpaku. Semua illustrasi-illustrasi itu nyaris selaras dengan khayalannya selama menulis naskah buku itu. Dari wujud sosok Juwan sang tokoh utama, sampai illustrasi lokasi Clan Orange. Meski semua illustrasi itu hitam putih hasil ukiran pensil, namun tetap sangat mewakili setiap komponen penting dalam cerita. Itu pekerjaan yang memuaskan bagi Irene.

Ketika yang lainnya sibuk memperhatikan satu-persatu gambar itu, Irene mendekatkan kursinya pada Sehun sambil menatapnya berbinar. Membuat Sehun merasa gugup dan menahan dirinya untuk tidak bertingkah asal.

Gadis itu tersenyum, “Itu menakjubkan, Sehun.”

“O-oh, ya?”

“Kamu memang illutrator terbaik.”

Sehun ikut tersenyum sebagai balasan, “Itu berkat kamu, gambar-gambar saya jadi lebih bernyawa dari biasanya.”

“Terima kasih.” Gumam Irene pelan.

“Tidak, saya yang seharusnya berterima kasih.”

XxxX

Irene menarik nafas dalam-dalam di depan cermin. Menatap wajahnya yang baru saja selesai dirias tipis. Sudah lebih dari sepurnama ini Irene jarang bertemu dengan Sehun. Terakhir, adalah dua pekan lalu ketika launching book seri pertamanya yang berjudul The Clan: Orange. Setelah berkutat dengan illustrasi-illustrasi menakjubkan hasil tangan Sehun, dan proses-proses finishing buku lainnya. Akhirnya bukunya yang kesekian itu terbit. Sehun banyak membantu hari itu, bahkan pria itu dengan setia duduk di salah satu kursi pengunjung. Menemani Irene sampai semuanya selesai. Dan mengajaknya makan siang, seperti biasa.

Sesuatu yang telah membuatnya merasa berat hati akhir-akhir ini adalah hatinya. Sekeras apapun Irene mencoba, perasaan itu malah semakin naik ke permukaan. Garis wajah Sehun yang semakin tegas itu selalu melintas dalam benaknya. Semua kenangan yang telah ia bakar beberapa tahun silam, nyatanya masih terngiang-ngiang dalam memorinya. Semakin hari Sehun semakin menawan di matanya. Namun dia tidak pernah bisa lupa dengan luka yang pernah Sehun torehkan. Hanya itu satu-satunya yang mampu menampar dirinya agar sadar diri. Dan menjauhkan semua perasaan itu supaya tak kembali.

“Jadi, Irene. Apakah cinta memang benar-benar harus berdefinisi? Saya percaya dengan segala filosofi mengenai cinta. Tapi definisi? Kamu serius?”

Irene masih sangat ingat komentar terakhir yang Sehun lontarkan ketika pria itu mengaku sudah menyelesaikan novel Filosofi Cinta beberapa pekan lalu. Bagi Sehun, dan bagi kebanyakan manusia di dunia ini percaya bahwa cinta tidak punya definisi. Bahwa cinta tidak butuh apa-apa. Irene percaya itu, dulu. Tidak sekarang.

Tapi lagi, ketika pertanyaan yang sama itu kembali tertuju untuknya, Irene tidak tau harus jawab apa. Definisi cinta? Seperti sebuah perasaan yang membuat orang buta dan menyatukan 2 orang dalam sebuah ikatan hati, mungkin? Irene menggeleng cepat. Baiklah, jika cinta memang tidak harus berdefinisi. Dia akan mencoba kembali mempercayai itu. Tapi mengenai cinta tidak butuh apa-apa? Yang benar saja. Cinta membutuhkan semua hal penting. Cinta tidak akan sempurna jika tidak membutuhkan apa-apa –menurut Irene.

Beberapa jam yang lalu, novel terbarunya dinyatakan kembali meraih predikat Best Seller. Hanya dalam jangka waktu 3 minggu. Irene bersyukur. Filosofi Cinta bahkan baru bisa mendapat julukan Best Seller di bulan kedua setelah terbit. Lihat, orang-orang lebih tertarik dengan fantasi. Bukan cinta.

Dan hari ini, Irene, Sehun, Suho, Wendy, dan Baekhyun akan merayakan itu di restoran baru Ibu Sehun, sesuai janjinya.

Itulah yang membuatnya gugup sore ini. Bertemu kembali dengan Ibu Sehun bukanlah perkara mudah.

XxxX

“Bae Irene, apa maksudnya ini?”

Belum sempat Irene menjalankan mobil untuk meninggalkan rumah yang baru saja dikunjunginya, gadis di sampingnya segera menodong tak sabaran.

Irene menoleh kemudian menggigit bibir. Alih-alih menjawab, dia segera menginjak gas mobil dan meninggalkan kawasan rumah sahabat karibnya itu. Sebelum menuju restoran tujuannya, dia sudah berjanji akan mengantar ke tempat yang sahabatnya tuju. Namun sepertinya alasan Irene dipaksa untuk menemuinya adalah ini. Perempuan di sampingnya kini masih memberinya tatapan interogasi dengan sebuah buku terangkat di tangan.

“Apa, sih, gi?” balas Irene pura-pura tak mengerti.

Sahabatnya itu menghembuskan nafas sebal. Tangannya yang baru saja mengangkat sebuah novel kini turun dengan pasrah.

“Proses novelmu ini berapa bulan, sih, rene? Kok gak pernah cerita?”

Irene hanya menoleh beberapa detik, “Aku cerita, kok. Waktu itu aku bilang, kan? Aku akan menerbitkan trilogi fantasi di Cosmic.”

Seulgi menggeram gemas, “Bukan ituu. Irene, dengar. Kamu tau aku gak terlalu tertarik dengan cerita fantasi. Tapi bukan berarti aku gak akan membeli atau membaca novelmu.”

“Teruus?” Irene masih enggan untuk memahami arah pembicaraan Seulgi.

“Waktu pertama kali aku lihat illustrasi novelmu, aku gak pernah terbayang kalau orang yang membuatnya adalah Oh Sehun. Aku cuma penasaran makanya aku baca siapa illustratornya. Irene, sudah berapa kali kamu bertemu dengan Sehun dan aku gak tau sama sekali? Yang benar saja.” Umpat Seulgi semakin gemas. Dia berdecak, “Kenapa gak pernah cerita, sih?”

Irene mengerjap, “Apa pentingnya, sih, gi?”

“Penting banget, Irene. Ini Oh Sehun, rene. Oh Sehun. Aku tau betul pasti terjadi sesuatu di antara kalian saat bertemu lagi setelah 7 tahun.”

Kali ini Irene yang menghela nafas berat. Lalu menggigit bibir sebelum memberi jawaban, “Aku merasa tidak harus menceritakannya pada siapapun, gi.”

“Termasuk aku?”

“Maaf. Kamu tau itu gak mudah. Bertemu dengan Sehun bukanlah kesengajaan. Aku gak pernah tau kalau dia bekerja di penerbit buku.”

“Aku maafkan. Tapi, aku heran aja selama berbulan-bulan ini kamu sama sekali gak menyinggung soal Sehun. Sekedar berkata ‘Seulgi aku bertemu dengan Sehun.’ pun enggak. Jadi wajar kan, kalau aku heboh.”

Irene menghembuskan nafas lagi, “Dan hari ini aku bersama timkre-ku akan makan bersama di restoran baru Ibunya Sehun. Bisa bayangkan, betapa gugupnya aku sekarang?”

“Aku yakin pasti telah terjadi sesuatu di antara kalian.”

“Hm. Kami pernah berdebat dan bertengkar di hari pertama kami bertemu.”

Seulgi tak menjawab, terus menatap Irene dan siap mendengarkan cerita selanjutnya.

“Sehun sepertinya masih ingin memperbaiki semuanya. Dia ingin kembali memasuki kehidupanku.”

“Dan kamu sendiri?”

Hening beberapa saat. Irene menggigit bibir lagi, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi dengan pelan. “Aku gak tau.”

“Pasti ada alasan serius kenapa Sehun meninggalkan kamu waktu itu. Aku yakin, hari ini kamu pasti akan tau semuanya.” Seulgi menghela nafas, “Sehun itu laki-laki yang baik. Kamu tau sejak pertama kalian saling mengenal, aku gak pernah melarang kamu dekat-dekat dengan Sehun. Aku gak pernah melihat kamu berubah menjadi menyebalkan setelah punya pacar. Malah Sehun bisa jadi teman yang baik juga untuk kita. Dengar, Irene. Aku gak akan menghalangimu. Kamu berhak memilih, kembali atau gak sama sekali.”

“Aku gak tau, gi. Aku gak tau harus berbuat apa.” Mobil Irene berhenti, sampai di tempat tujuan Seulgi.

“Jujur sama diri sendiri, rene. Mata kamu gak bisa berbohong.” Seulgi mengelus pundak Irene lembut, memberinya senyum menghibur. “Aku pergi, ya. Semoga hari ini berjalan lancar.” Tanpa menunggu jawaban, Seulgi segera turun dari mobil Irene. Meninggalkannya yang masih membisu memikirkan kata-kata yang Seulgi ucapkan padanya.

XxxX

Irene menjadi orang yang paling terlambat datang. Alamat yang Sehun kirim untuknya, juga untuk anggota timkre lainnya bukanlah alamat yang sulit. Namun juga bukan alamat yang begitu dekat. Tapi satu-satunya alasan yang membuat Irene telat karena dia mulai mencium bau-bau masa lalu yang akan segera mencuat. Dan dia tidak tau apakah dirinya siap atau tidak dengan itu.

Sedan hitamnya sampai di sebuah halaman parkir yang tak terlalu luas. Irene turun, kemudian menatap gedung rumah makan sederhana yang asri dan terlihat nyaman. Tempat itu tidak penuh sesak, namun tampak agak ramai. Rambutnya tergerai bebas di pundak. Dengan sweater turtleneck coklat dan jeans serta flatshoes marun favoritnya membuat Irene tampak manis.

Ketika kedua kakinya baru melangkah beberapa detik, Sehun muncul dari pintu masuk. Menyambut dirinya dengan senyum termanis.

“Selamat datang, Penulis Irene.” Ujarnya lembut. Irene terkekeh sambil mendekat.

“Harus, ya? Menyambut seperti itu?”

Sehun ikut terkekeh, kemudian menuntun Irene menuju meja yang sudah mereka tempati. Suho, Baekhyun, dan Wendy menyambut Irene dengan hangat dan antusias. Gadis itu pun duduk di salah satu kursi yang kosong. Tepat disamping Sehun.

Baekhyun sang editor, selalu cerewet seperti biasa. Dia memuji dirinya sendiri juga memuji Irene atas hasil novel yang memuaskan dirinya.

“Berkat illustrasi-illustrasi Sehun, novel The Clan ini jadi semakin hangat diperbincangkan.” sahut Suho memuji. Yang dipuji hanya tertawa kecil, merasa tersanjung mendapat pujian.

“Ayo, Irene. Pesan makanan.” Seru Wendy yang juga duduk di sampingnya.

Irene banyak tersenyum dan tertawa sore ini. Pertemuan itu ternyata tak terlalu membuatnya gugup. Suasana yang begitu hangat dan menyenangkan, juga permbicaraan tentang kepenulisan yang asik, membuat Irene hampir lupa dengan apa yang telah membuatnya gugup sebelum datang ke tempat itu. Irene sudah sering berkumpul santai seperti ini bersama tim kreatif-tim kreatifnya yang sebelumnya. Namun Baekhyun adalah editornya yang paling cerewet juga nyinyir. Dialah penghidup suasana. Saking asiknya, sampai Irene tak pernah menyadari sekalipun bahwa sejak tadi Sehun terus meliriknya, memandanginya yang beberapa kali tertawa lepas.

“Sehun, kamu mau kemana?” sahut Baekhyun ketika melihat lelaki itu tiba-tiba berdiri dan hendak meninggalkan meja.

“Oh. Sebentar. Kalian lanjutkan saja.” Sehun pun segera melangkah menjauh.

Tak berapa lama kemudian, lelaki itu kembali dengan membawa seseorang. Seseorang yang membuat Irene seketika membeku menatapnya.

“Perkenalkan, ini Ibu saya. Ibu, mereka ini tim redaksiku di Cosmic.”

Orang-orang menyambut wanita paruh baya itu dengan hangat dan sopan, memberinya salam dan memperkenalkan nama mereka masing-masing. Sampai giliran Irene yang sejak tadi hanya diam terpaku. Gadis itu berdiri perlahan, kini keduanya saling bertatapan. Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu mendekat. Alih-alih membalas salam tangan Irene, Ibu Sehun meraih gadis itu ke dalam pelukannya. Membuat suasana tiba-tiba menjadi sepi. Orang-orang di meja mereka menatap pemandangan itu dengan tatapan tanya. Sehun yang masih berdiri pun hanya memasang ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Apa kabar, Irene?” sapanya haru.

“Baik. Ka-kabar saya baik.” Balas Irene kaku. Tangannya dengan ragu naik perlahan, membalas pelukan Ibu Sehun. Kini dia bisa merasakan kecepatan degup jantungnya sendiri. Ujung matanya nyaris basah, entah kenapa. Haru dan tersentuh. Irene seperti terlempar kembali ke momen masa lalu. Dimana Ibu Sehun selalu memperlakukan dirinya seperti anaknya sendiri. Pantaskah ia mengaku bahwa dia merindukan masa-masa itu?

Beberapa menit kemudian, Irene dan Ibu Sehun sudah duduk berdua memisahkan diri. Saling berhadapan dengan 2 cangkir teh di atas meja mereka.

“Senang bisa bertemu lagi denganmu.” Wanita paruh baya itu memulai percakapan.

Irene mencoba untuk tersenyum, meski kaku.

“Benar apa kata Sehun, kamu lebih tinggi sekarang. Makin cantik.”

“T-terima kasih. Tante juga semakin cantik. Terlihat awet muda, sama seperti dulu saat terakhir kita bertemu.”

Ibu Sehun tersenyum. Matanya tampak berkaca-kaca. Menahan haru. “Saya ingin sekali minta maaf.”

“Maaf?” tanpa bertanya pun Irene sebenarnya sudah tau permintaan maaf apa itu.

“Maaf. Waktu itu saya tidak berhasil membuat Sehun untuk tetap bersama kamu. Harusnya dia tidak meninggalkan kamu waktu itu.” Suaranya bergetar, memori-memori pahit di masa lalu kembali mengambang ke permukaan. Menyesaki benaknya.

Irene diam, menatap Ibu Sehun dengan gusar. Dia ingin tau, tapi menahan itu. Dia menahan diri sekeras mungkin untuk tidak bertanya. Namun wanita di hadapannya terlihat begitu sesak. Seperti tak tahan ingin menumpahkan sesuatu.

“Saya tau kamu bahkan menolak Sehun untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi. Anakku menceritakan semuanya. Sehun tau, kamu bisa memaafkannya. Tapi tak bisa benar-benar melupakan. Mata kamu juga berkata seperti itu. Masa lalu membuat kamu terluka. Tapi kamu harus tau, apa yang terjadi pada keluarga kami waktu itu.” Wanita itu menggenggam cangkir miliknya semakin erat, kemudian menghela nafas.

“Keluarga kami diambang kehancuran ketika itu. Saya dan ayah Sehun terus berselisih paham dan bertengkar hebat selama berbulan-bulan. Mempermasalahkan banyak hal. Ayah Sehun yang setiap hari naik darah karena melihat perusahaannya nyaris gulung tikar, membuat keadaan semakin runyam. Kakak Sehun tak bisa berbuat apa-apa selain ikut berdebat, berusaha melerai namun berujung pertengakaran.” Jeda beberapa saat. Suaranya mulai bergetar.

“Sehun sendiri terus saja disudutkan ayahnya karena dia memilih untuk tidak kuliah tahun itu. Saya tau cita-cita Sehun sebagai pelukis. Saya tau Sehun ingin kuliah seni. Tapi tak satupun memberinya izin, termasuk saya. Sebulan kemudian, semua semakin kacau. Akhirnya kami resmi bercerai. Hak asuh berakhir dengan tidak adil, menurut saya. Si sulung dan Sehun tetap tinggal bersama ayahnya. Sementara saya hanya pergi membawa adik perempuan Sehun satu-satunya.”

Irene menahan nafas mendengar cerita yang sama sekali tak pernah terbayangkan olehnya. Dia menatap Ibu Sehun semakin dalam, ujung mata wanita itu mulai basah.

“Kami berpisah dan tak pernah bertemu. Sampai 3 tahun kemudian, setelah mengalami jatuh bangun, akhirnya perusahaan ayah Sehun benar-benar bangkrut. Meskipun anak pertama kami sudah turun tangan mencoba memberi bantuan untuk mengatasi masalah perusahaan, namun tetap saja itu tak cukup untuk mempertahankannya. Dan saat itulah mereka mendatangiku, dalam keadaan Ayah Sehun yang mengalami stroek berat.” Setetes air mata pun jatuh. Ibu Sehun tak kuasa menahan ingatan perih di masa itu. Masa yang teramat berat baginya.

“Mereka meminta saya untuk kembali ke rumah. Tetapi mereka tidak pernah berniat untuk menjadi benalu dalam kehidupan saya yang sederhana. Faktanya, saya masih menyayangi ayah mereka. Itulah sebabnya ketika itu saya menangis dan bersedia untuk kembali. Merawatnya semampu yang saya bisa. Tapi masa sulit tentu tidak berhenti sampai di sana. Kakak Sehun masih sulit mendapat pekerjaan, sementara penghasilanku begitu pas-pasan. Setelah akhirnya putra sulung kami berhasil mendapat pekerjaan yang layak dan cukup membiayai kebutuhan keluarga. Ketika itulah Sehun berniat menghentikan kuliahnya demi fokus melukis. Kakaknya begitu marah waktu itu. Mengancam akan membuangnya jika itu benar-benar terjadi. Saya tidak bisa melakukan apa-apa, kondisi saat itu tidak tepat untuk menyetujui niat Sehun. Maka saya yang berhasil membujuknya agar tetap menyelesaikan kuliah dengan baik. Demi masa depan keluarga yang lebih baik.”

Irene meraih tangan wanita di hadapannya, dia sudah sangat kepayahan untuk menahan matanya agar tak meruntuhkan bendungan air mata. Irene menelan ludah, hilang konsentrasi untuk berpikir. Kini sedikit demi sedikit penyesalan mulai menyelimuti seisi dadanya. Membuatnya merasa sesak.

“Sebelum Sehun benar-benar memutuskan hubungan kalian, saya mencoba mencegahnya. Saya pikir, cuma kamu satu-satunya orang yang bisa membuatnya lebih tenang dan nyaman. Namun dia berkata bahwa dia tidak mau menyusahkanmu. Dia tidak mau kamu ikut terluka, dia tidak mau menjadi beban. Dia ingin membiarkanmu bebas dan tidak melihatnya terluka. Sehun rela dianggap berengsek agar kamu tidak harus mengasihani dirinya. Dia tega menyakitimu karna dia tidak bisa lagi terus memperhatikanmu. Saya berusaha membujuknya untuk tidak melakukan itu. Saya sudah terlanjur menyayangi kamu seperti anak sendiri. Namun Sehun akhirnya benar-benar meninggalkan kamu. Membuat kamu terluka. Dan ketika kami kembali bersama, saya mencoba memberi usul agar Sehun kembali mencarimu, menjelaskan semuanya dan kembali memulai dari awal. Dia hanya setuju dengan usulan itu, namun tidak  pernah benar-benar melakukannya.”

Kali ini air mata wanita itu mengering, tangannya membalas genggaman Irene lebih erat, kemudian memberi senyum nanar.

“Sampai saat ini Ayah Sehun masih belum bisa kembali normal. Tapi kehidupan kami sudah membaik. Termasuk restoran ini, berkat hasil jerih payah anak pertama saya, kami bisa mendirikan tempat ini.”

“Irene, saya tidak akan memaksa kamu. Saya cuma ingin kamu mendengar semua yang tidak sanggup Sehun jelaskan padamu. Kembali atau tidak kembali, itu pilihan kamu. Hati kamu yang paling tau mana jalan yang tepat untuk kamu tempuh. Tapi satu hal Irene, Sehun masih mencintai kamu. Sangat.”

Irene semakin merasa sesak dengan kalimat terakhir yang ia dengar. Alih-alih menemukan sebuah jalan, dia malah semakin tersesat. Hanya jalan buntu yang ia bayangkan di benaknya saat ini. Wanita di hadapannya melonggarkan genggaman, kemudian melepasnya perlahan. Wanita itu meraih cangkir, meneguknya untuk sekedar menyegarkan tenggorokan yang mengering. Kemudian kembali menatap Irene dengan lembut. Sementara gadis itu malah menunduk, memandangi isi cangkirnya dengan tatapan kosong.

“Saya tidak tau harus berkata apa.” Balas Irene dengan parau. Tiba-tiba sebuah sentuhan hangat meraih kedua pipinya, mengangkat wajahnya untuk memberi Irene tatapan yang hangat. Wanita itu tersenyum.

“Tidak apa-apa. Saya lega bisa membuat kamu mengetahui semuanya, setelah sekian tahun ini. Saya senang kamu mampu bangkit, menjadi penulis hebat sesuai cita-cita kamu. Menjadi wanita yang dewasa dan sangat cantik. Saya tidak minta apa-apa, saya cuma senang akhirnya bisa bertemu denganmu lagi, dan menceritakan semua ini.”

Irene hanya mengangguk pelan. Tepat setelah kedua tangan Ibu Sehun terlepas. Anaknya itu datang mendekati meja mereka. Berdiri sambil memasukkan kedua tangan kedalam saku. Keduanya menoleh.

“Teman-teman sudah pamit duluan. Mereka titip salam untuk kalian berdua.”

Ibu dan Irene sama-sama mengangguk bersamaan, kemudian wanita paruh baya itu meraih lengan Irene sambil menatap Sehun dengan senyum mengembang, “Saya akan pastikan, Sehun tidak akan menyakiti kamu lagi.”

“E-eh?” sahut Sehun malu. Dia melirik Irene, memastikan reaksi apa yang akan keluar darinya. Namun gadis itu tak meliriknya sama sekali, tatapannya kosong. Irene kemudian mendekatkan cangkir kemulutnya, menyesapi isinya dengan perlahan.

“Irene. Terima kasih. Lain kali, datang lagi kemari. Saya tinggal, ya.” Wanita itu pun segera berdiri dan meninggalkan meja.

Suasana jadi terasa lebih canggung saat ini. Sehun diam, tak berniat untuk duduk. Matanya terus tertuju ke arah Irene yang masih menatap kosong isi cangkir. Jemarinya mulai mengetuk-ngetuk cangkir dengan gelisah. Sehun tau Irene kini tau semuanya. Alasan yang tak pernah berhasil dia jelaskan pada Irene. Alasan yang mungkin… Membuat Irene bisa kembali?

“Irene,”

“S-saya akan pulang sekarang.” Irene segera memutus kalimat Sehun, bangkit dari kursinya dan membalas tatapan Sehun dengan ragu. Irene belum mau membahasnya lebih panjang. Penjelasan yang ia dengar beberapa menit lalu sudah sangat cukup untuk saat ini.

Sehun mengangguk pelan, kemudian mendahului Irene untuk mengantarnya sampai ke halaman parkir restoran. Namun gadis itu mencegatnya tepat ketika mereka sudah melewati pintu masuk. Sehun menoleh, menatap Irene dengan tanya.

Irene mengalihkan pandangan, kemudian berdehem pelan. “Maaf. Karena sudah berprasangka buruk selama 7 tahun ini.”

Sehun terpaku mendengar kalimat yang terucap dari bibir tipis Irene barusan.

“Jangan minta maaf,”

“S-saya pulang sekarang. Terima kasih.” Irene tak menghiraukan jawaban Sehun, tangannya semakin gelisah menggenggam tali tas yang tersemat di lengannya. Matanya merunduk, menghindari wajah Sehun. Kemudian segera berlalu meninggalkannya, sebelum lelaki itu menyelesaikan semua kalimatnya.

Namun tangan besar itu menahan pergelangan Irene. Membuat langkah kakinya terhenti. Gadis itu diam, tak berbalik sedikitpun. Menunggu apa yang akan Sehun lakukan selanjutnya.

“Kamu tidak salah apa-apa. Jangan minta maaf. Saya yang seharusnya meminta maaf.”

Gadis yang membelakanginya itu membalikkan tubuh dengan cepat sambil melepaskan cengkraman Sehun perlahan, “Saya bukan malaikat, Sehun. Wajar kalau saya merasa bersalah.”

Tanpa menunggu balasan, Irene kembali berbalik. Melangkah cepat menuju mobilnya.

XxxX

Hari sudah semakin larut dan gelap. Jalanan mulai lengang. Hanya barisan lampu jalan yang remang yang Irene lihat sejauh mata memandang. Kakinya kemudian menginjak rem. Menghentikan mobilnya di pinggir persimpangan jalan. Konsentrasinya berantakan. Semua buyar. Tangannya menggenggam kemudi dengan erat. Menahan sesal yang meluap-luap dalam dadanya. Semua kalimat Ibu Sehun terus terngiang sejak tadi. Memenuhi seluruh kepalanya.

Dia ingin membiarkanmu bebas dan tidak melihatnya terluka.

Sehun rela dianggap berengsek agar kamu tidak harus mengasihani dirinya.

Dia tega menyakitimu karena dia tidak bisa lagi terus memperhatikanmu.

Sehun masih mencintai kamu. Sangat.

Irene menggigit bibir. Tatapannya kosong. Tangannya semakin kebas menggenggam setir. Hatinya lagi-lagi terasa buntu. Semua air mata yang sejak tadi terbendung kini tumpah ruah membasahi pipinya. Di dalam mobilnya yang remang, Irene menangis tanpa suara.

| to be continued |

Tyar’s note: adakah pembaca philosophy of love di wp ini yang masih menunggu? Wqwq. Aku beneran minta maaf karna selalu lupa dan menunda-nunda untuk kirim ff ini kesini. Padahal sebenernya di Wattpad ff ini udah hampir tamat, 1 sampai 2 chapter menuju tamat huhuhu daku merasa berdosa wkwk. Entah reader disini masih ada yang tertarik atau enggak, tapi tyar tetep bakal terus kirim ff ini sampai tamat, biar gak jadi FF spam yang terbengkalai di library-nya EXOFFI~

Iklan

5 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 4)

  1. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 6) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 5) | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s