[EXOFFI FREELANCE] More Than Beautiful (Chapter 2)

More than beautiful.jpg

MORE THAN BEAUTIFUL

.

.

By Author Rhee

.

.

Main Cast: Byun Baekhyun (EXO) & Oh Yuri (OC/YOU) || Add Cast : Xi Luhan (Ex.EXO), Lee Ji Hyun (T-ara) & many more ||Romance, Marriage-Life || Multichapter || PG-18

Summary : “Kau lebih cantik dari bunga di musim semi, lebih cantik dari pelangi setelah hujan dan lebih cantik dari langit di sore hari.”

Disclaimer : Semua Cast milik Tuhan. Ide cerita murni milik Author, jika terjadi kesamaan karakter atau ide itu murni ketidak sengajaan. Cerita ini adalah fiksi semata, tidak ada maksud untuk menjatuhkan satu karakter… SO… ENJOY READING.. ^^

.

.

=  Chapter 2 =

Nenek Bo Yoon duduk di teras villa yang mengarah ke pemandangan ladang bunga yang sangat segar di pagi hari, setelah pertengkaran terakhir yang membuatnya mengambil keputusan yang sama sekali bukan keinginannya – Nenek Bo Yoon memilih untuk meninggalkan kediamannya.

Sebenarnya dirinya juga tidak mengerti mengapa keputusan itu bisa begitu saja keluar dari mulutnya, tapi jika di pikir ulang maka keputusan ini yang sangat tepat. Nenek Bo Yoon sangat tau jika Ji Hyun tidak akan ingin hidup susah.

Tapi di sisi lain, rasa sayang Nenek Bo Yoon kepada Baekhyun membuatnya merasa ingin menyerah dan menarik kembali keputusannya. Senyum getir yang Baekhyun tunjukkan terakhir kali saat pertengkaran itu membuat hatinya berdenyut sakit. Itu pertama kalinya bagi Nenek Bo Yoon melihat Baekhyun seperti itu.

~

“Jadi… Nenek membuangku?”

~

Begitu menyakitkan bagi Nenek Bo Yoon mengingat suara lirih Baekhyun. Bahkan jika dirinya bisa memutar kembali waktu itu, mungkin dia akan memeluk Baekhyun dan meminta maaf karena sungguh dia tidak berniat untuk membuang Baekhyun – cucu kesayangannya.

“Ny. Kwon.” ,sapa seorang pria dengan setelan jas hitam serta kemeja biru yang berdiri di ambang pintu teras.

Nenek Bo Yoon menolehkan kepala dan mendapati pengacara kepercayaannya yang bekerja padanya sejak 18 tahun yang lalu, Kim Nam Soo – sang pengacara – membungkukkan badannya di depan atasannya. “Maaf mengganggu waktumu.” ,ujarnya.

Nenek Bo Yoon hanya mengangguk sembari tersenyum kecut. Ini pertama kalinya dalam hidup Nam Soo selama bekerja, melihat Nenek Bo Yoon termenung dengan wajah sedih yang tidak pernah luntur selama 3 hari ini. Nenek Bo Yoon bisa di bilang adalah wanita tua yang memiliki selera humor yang cukup tinggi dan juga layaknya seorang wanita dia sangat berisik.

Nam Soo mendekati Nenek Bo Yoon yang memandang kosong ke depan, “Aku sudah mendapatkan hal yang kau minta kemarin.”

Nenek Bo Yoon mendongakkan kepalanya melihat pengacara Kim, “Alamat Oh Min Yo?”

Pengacara Kim tersenyum seraya mengangguk, “Aku bahkan sudah mengkonfirmasinya langsung, Nyonya. Mereka tinggal di Seoul, tepatnya di Dongjak-gu.” ,tambahnya.

“Baguslah. Aku merasa sangat bersalah jika di akhir hidupku, aku tidak menemui mereka. Min Yo bukan hanya asisten atau partner kerja bagi Myung Jae, tapi juga sahabatnya.” ,gumam Nenek Bo Yoon.

“Tapi…” ,ada sedikit keraguan dari pengacara Kim ketika akan menyampaikan hal selanjutnya. “Oh Min Yo… sudah meninggal lima tahun yang lalu, Nyonya.”

Nenek Bo Yoon terkejut bukan main saat mendengarnya, “Dia menderita diabetes dan menjalani perawatan selama setahun penuh di rumah sakit, tapi karena kekurangan dana maka tuan Oh hanya menjalani rawat jalan sampai akhirnya meninggal.” ,lanjut pengacara Kim.

Air wajah Nenek Bo Yoon semakin menunjukkan kesedihan, “Aku terlambat rupanya.” ,gumamnya dengan lirih. “Mungkin karena itu cucuku selalu melawanku. Benar… Itu karmaku.”

“Itu tidak benar Nyonya Kwon.” ,sanggah pengacara Kim.

“Lalu ini apa namanya jika bukan karma, Nam So-ya? Baekhyun-ku – cucu kesayanganku – lebih memilih wanita murahan itu di banding mendengarkan aku. Disaat usiaku yang sudah tua dan umurku yang tidak lama lagi, akhirnya aku akan kehilangan cucuku.” ,Nenek Bo Yoon menghela nafasnya.

“Min Yo hidup dengan susah dan aku tidak tau itu, padahal ayahnya sudah setia menemani suamiku untuk membangun perusahaan dan bahkan Min Yo juga membantu mendiang anakku untuk mengembangkan perusahaan sehingga hidupku dan cucu-cucuku sangatlah enak – bergelimang dengan harta. Tapi dirinya… dia sampai sesusah itu hanya untuk mengobati penyakitnya.”

Nenek Bo Yoon memejamkan matanya, “Aku sudah terlalu tua untuk menangis, bahkan air mataku tidak bisa keluar lagi.” ,Nenek Bo Yoon terdiam beberapa saat sedangkan pengacara Kim hanya menatap Nenek Bo Yoon dengan perasaan iba.

“Lalu…bagaimana dengan istri dan anak Min Yo?” ,tanya Nenek Bo Yoon selanjutnya.

“Nyonya Jung Young Hee dan kedua anak tuan Oh yaitu Oh Yuri dan Oh Sehun masih tinggal di Dongjak-gu, Nyonya. Nyonya Young Hee membuka cafe kecil di daerah sana sedangkan anaknya – Oh Yuri berumur 20 tahun sedang berkuliah di Dongguk University fakultas teknologi informasi jurusan multimedia tapi lebih konsentrasi pada bidang fotografi dan Oh Sehun berumur 18 tahun merupakan murid tingkat akhir sekolah menengah Hannyoung High School.” ,papar pengacara Kim.

Nenek Bo Yoon bangkit dari duduknya, “Kalau begitu ayo kita kembali ke Seoul. Aku harus melunasi hutangku sebelum kematianku.” ,ujar Nenek Bo Yoon.

“Nyonya Kwon~” ,protes pengacara Kim yang hanya di tanggapi dengan kekehan dari Nenek Bo Yoon.

–o0o–

Baekhyun berdiri di depan pagar pendek yang mengelilingi rumah dengan bentuk bangunan minimalis, manatap rumah yang baginya adalah rumah ternyaman untuk hatinya tinggal.

Sudah empat hari setelah keputusan Neneknya telah di jatuhkan dan itu artinya sudah hari ke empat pula Baekhyun menghindar untuk bertemu atau sekedar membalas dan mengangkat telpon dari Ji Hyun. Bukan… bukan karena Baekhyun akan menyerah kepada keinginan Neneknya, tapi Baekhyun perlu waktu untuk berpikir tentang hal ini semua – tentang meninggalkan semua kekayaannya dan pergi bersama Ji Hyun dan hidup bahagia.

“Baekhyun?” ,panggil seseorang dari belakang tubuhnya.

Pikiran Baekhyun terinterupsi dengan kehadiran sosok wanita yang selalu menjadi candu hatinya, “Ji Hyun-ah…” ,gumam Baekhyun seraya tersenyum.

Ji Hyun menghampiri Baekhyun, “Ya!! Kemana saja kau?! Aku menelponmu, mengirimimu pesan tapi kau tidak pernah menjawabnya!”

Baekhyun terdiam, rasa bersalahnya seketika menghampiri hatinya. Seharusnya permasalahan dirinya dengan Neneknya tidak harus berdampak dengan Ji Hyun-nya. Menghindari Ji Hyun tidak ada gunanya bukan?

Ji Hyun menatap Baekhyun dengan pandangan menuntut, “Kau berselingkuh di belakangku?!” ,tuduhnya.

“Apa yang kau bicarakan?” ,Baekhyun menangkup wajah Ji Hyun. “Mana mungkin aku selingkuh darimu, Ji Hyun-ah.”

“Lalu kenapa kau tidak membalas pesanku atau menghubungiku?!”

“Aku sibuk dengan pekerjaanku akhir-akhir ini.” ,ujar Baekhyun seraya membelai lembut rambut Ji Hyun.

Ji Hyun hanya diam dan menatap Baekhyun tidak percaya, Baekhyun tersenyum lalu menarik wanitanya kepelukannya. “Maafkan aku.” ,ujar Baekhyun yang hanya di tanggapi dengan diamnya Ji Hyun.

.

Baekhyun dan Ji Hyun duduk di atas sofa rumah Ji Hyun, dengan Baekhyun yang memeluk Ji Hyun dan membelai rambutnya. Sesekali mencium pucuk kepala Ji Hyun dan mengesap sebanyak mungkin aroma dari rambut Ji Hyun.

“Kau mengganti shampoomu?” ,tanya Baekhyun kepada Ji Hyun yang sedang fokus menonton tv.

Ji Hyun hanya mengangguk dan tetap fokus ke acaranya. Baekhyun kembali menghirup aroma dari rambut panjang Ji Hyun, “Aku suka.” ,pujinya.

“Apa pedulimu? Lagi pula kau lebih suka pekerjaanmu kan?” ,ujar Ji Hyun dengan sinis.

Baekhyun menghela nafasnya, menghadapi Ji Hyun yang sedang merajuk harus dengan sangat sabar karena entah sampai kapan dia akan terus-menerus merajuk. Baekhyun memilih untuk diam, lebih tepatnya berpikir. Mungkin Baekhyun memang harus mengatakan kepada Ji Hyun tentang keputusan Neneknya dan mengajak Ji Hyun hidup bersamanya. Hubungan mereka sudah berjalan selama dua tahun, bagi Baekhyun itu sudah cukup untuk melanjutkan hubungan mereka lebih lanjut. Pertanyaan selanjutnya yang berada di benak Baekhyun adalah ‘Apakah Ji Hyun ingin hidup dengannya?’

“Kau kenapa?” ,tanya Ji Hyun yang melihat Baekhyun menatap kosong ke depan.

“Tidak apa.” ,jawab Baekhyun lembut sembari tersenyum.

Ji Hyun duduk tegap dan memberi jarak kepada Baekhyun, “Wajahmu itu tidak menunjukkan jawabanmu, Baekhyun.” Baekhyun melepas senyumnya. “Dan aku yakin jika kemarin kau tidak menghubungiku bukan karena kau sibuk dengan pekerjaanmu, kan?”

Baekhyun memejamkan matanya dan mengangguk pelan, mengakui kebohongannya. Ji Hyun kembali menatap ke depan dengan kedua tangannya yang di lipat di depan dadanya. “Nenekmu lagi?”  Baekhyun hanya diam yang mengartikan bahwa tebakan Ji Hyun adalah sebuah kebenaran. “Kali ini tentang apa lagi?” ,seketika suara Ji Hyun berubah menjadi datar bercampur dingin

Ji Hyun sangat tidak menyukai sikap Neneknya yang selalu memojokkannya dan selalu menyuruh Baekhyun untuk meninggalkannya, bahkan bisa di bilang bahwa Ji Hyun membenci keluarga Baekhyun.

Baekhyun mendekati Ji Hyun dan memeluknya dari samping, dagunya ia topangkan pada pundak Ji Hyun. Melihat Ji Hyun dari posisi menyamping adalah favorit Baekhyun, hidungnya yang mancung, bulu matanya yang lentik dan bibir tipisnya yang selalu menjadi narkoba pribadi bagi Baekhyun.

Baekhyun meraih dagu lancip Ji Hyun dan menariknya agar menghadapnya, setelahnya dengan lembut Baekhyun menempelkan bibirnya pada bibir Ji Hyun. “Mari kita menikah.” ,ucap Baekhyun setelah melepaskan bibir Ji Hyun.

Perkataan Baekhyun berhasil membuat Ji Hyun membulatkan matanya terkejut, “Nenekmu sudah merestui kita?” ,tanya Ji Hyun dengan semangat.

Rasanya jantung Baekhyun seperti di remas kuat oleh tangan yang tak kasat mata kala mendengar pertanyaan kekasihnya itu, begitu ceria suara yang keluar dari bibir sang wanitanya. Baekhyun menatap sendu wajah yang baginya adalah wajah dari titisan bidadari, sungguh Baekhyun tidak tega menghapus senyum cantik dari wajah Ji Hyun. Entah apa yang harus Baekhyun katakan, semua kata tidak bisa di suarakannya.

Dan Ji Hyun sepertinya mengerti dengan sikap Baekhyun sekarang, “Ada apa sebenarnya?” ,tanya Ji Hyun. Baekhyun masih menatapnya tanpa berkata, “Byun Baekhyun!” ,sentak Ji Hyun.

Seketika senyum Ji Hyun hilang dari bibirnya, “Jelaskan. Aku tidak suka kau hanya diam.” ,ucapnya kembali dengan nada dingin.

Baekhyun menghela nafasnya yang terasa berat, biar bagaimanapun ia harus memberi tahu Ji Hyunnya. “Aku sudah mengambil keputusan untuk menikah denganmu dan pindah ke Jepang.”

“Jepang?!” ,Ji Hyun meninggikan suaranya. “Bagaimana bisa kau pindah ke Jepang sementara perusahaanmu berada disini?!”

Ji Hyun menatap Baekhyun, menuntut penjelasan dari Baekhyun. Tentu Baekhyun bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti hal itu, hanya saja semua kata yang ingin di sampaikannya masih tersangkut di pangkal tenggorokannya. Ini karena Baekhyun tau jika Ji Hyun mungkin akan sangat marah jika ia bilang bahwa neneknya mengusirnya dan kakaknya yang akan menempati ahli waris tunggal.

Tapi itu jelas bukan karena Ji Hyun adalah wanita matrealistis, itu karena Baekhyun yang selalu memanjakan Ji Hyun dengan hidup nyaman dan tidak perlu merasakan susah lagi. Setidaknya itu yang Baekhyun pikirkan.

“Byun Baekhyun!”

Segala pikiran Baekhyun teralih saat panggilan dingin dari Ji Hyun bergema di telinganya, Baekhyun menatap Ji Hyun dalam. “Nenek mengusirku.” ,ujarnya dengan lirih.

Ji Hyun mendesih dalam tawanya, sedikit meremehkan. “Pada akhirnya kau kalah?” ,tanyanya dengan nada mengejek. Baekhyun hanya terdiam dalam duduknya, “Sepertinya kau memang tidak sungguh-sungguh dengan hubungan kita.”

“Aku sangat serius de–”

“Kalau kau serius dengan hubungan ini! Kenapa kau hanya menerima keputusan Nenekmu yang mengusirmu dan mengajakku menikah dan pergi?!!” ,bentak Ji Hyun memotong perkataan Baekhyun.

Baekhyun hanya mendesah pelan, sungguh Baekhyun bukanlah tipe orang yang sabar untuk menghadapi teriakan amarah seseorang. Hanya saja ini adalah Ji Hyun-nya.

“Lalu aku harus bagaimana?” ,tanya Baekhyun. “Aku harus menerima keinginan Nenek untuk meninggalkanmu?”

“Itulah dirimu, Byun Baekhyun! Kau hanya bisa hidup dalam bayangan kuasa Nenek dan Kakakmu!” ,Ji Hyun beranjak dari sofa. “Dengarkan aku baik-baik. Aku hanya akan mengatakan ini sekali, Aku tidak akan mau menikah denganmu jika pada akhirnya hidupku akan susah!”

Ji Hyun pergi setelah menyelesaikan katanya, Baekhyun meraih tangan Ji Hyun – melarangnya untuk pergi, tapi Ji Hyun dengan cepat menghentakkan tangan Baekhyun dengan kasar. “Pulanglah!” ,suara dingin Ji Hyun terasa sampai menuju bagian terdalam hati Baekhyun – sedikit menyakitkan.

“Ji Hyun-ah…” ,Baekhyun berjalan mendekati Ji Hyun, karena sungguh.. jika ini berakhir dengan Ji Hyun yang marah padanya maka bisa di pastikan semua otak Baekhyun tidak akan bekerja karena selalu bayangan Ji Hyun terus menerus yang berputar di kepalanya.

Ji Hyun menjauh kala Baekhyun semakin mendekatinya, membuat Baekhyun terdiam dengan sikap Ji Hyun yang tak pernah seperti ini sebelumnya. “Jangan menemuiku jika kau masih dengan keputusan konyolmu dan menyerah pada Nenekmu!”

Ji Hyun melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar tidurnya, dengan Baekhyun yang mengejarnya seraya memanggil namanya. Ji Hyun membanting pintu kamarnya tepat di hadapan Baekhyun dan berhasil membuat Baekhyun menyerah untuk sekedar meminta maaf. Kini bukan hanya hati dan otaknya yang merasa sakit, marahnya Ji Hyun bahkan bisa melumpuhkan seluruh badan Baekhyun.

Neneknya dan Ji Hyun adalah dua wanita yang sangat amat Baekhyun sayangi bahkan lebih dari dirinya, dan berada di antara semua keegoisan diri masing-masing sungguh sebenarnya Baekhyun tidak sanggup menghadapinya. Baekhyun terlalu menjatuhkan harapan bahwa hidup lebih mudah untuknya, yang ternyata sangat jauh dari harapannya.

–o0o–

“Jangan menemuiku jika kau masih dengan keputusan konyolmu dan menyerah pada Nenekmu!”

Perkataan terakhir Ji Hyun semalam terngiang sangat jelas di telinganya dan terus-menerus berputar di otaknya. Baekhyun seolah menemui semua kebuntuan dari semua permasalahan ini dan otaknya seperti sudah tidak dapat bekerja lagi.

“Baek…” ,panggil Chanyeol dengan sedikit berbisik. Baekhyun masih terdiam di kursinya, raganya berada di ruangan tapi tidak dengan jiwanya. “Baekhyun.” ,panggil Chanyeol kembali dengan suara yang lebih kuat.

“Ya?”

Baekhyun menegapkan badannya di kursinya, mencoba kembali memperhatikan Chanyeol yang sejak tadi memang sedang menjelaskan tentang pameran galeri yang saat ini menjadi tanggung jawab mereka.

“Kau tidak mendengarkan aku?” ,tanya Chanyeol sedikit kesal.

Baekhyun mengusap wajahnya gusar, “Maaf, Chan… tapi aku benar-benar kacau saat ini.”

Chnyeol menatap iba kepada Baekhyun, bahkan egonya yang luar biasa itu sudah hilang entah kemana sejak permasalahan yang tidak berakhir ini. “Aku tau ini berat bagimu. Tapi jika pameran ini gagal maka kekacauan hanya akan bertambah, Baek. Pameran ini merupakan jalan untuk menarik perhatian investor, ingat?”

Baekhyun mengangguk setuju, biar bagaimanapun dia masih punya tanggung jawab dalam perusahaan ini. Sebesar apapun masalahnya kali ini, dia tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya apalagi yang dikatakan oleh Chanyeol adalah benar adanya. Jika pameran kali ini adalah usaha untuk menarik perhatian investor untuk pembangunan gedung galeri mereka yang baru.

Chanyeol bangkit dari kursinya, dia menepuk pelan pundak Baekhyun. “Rapikan dirimu, kita akan pergi kesana untuk menyalami orang-orang kaya itu.” ,candanya. Baekhyun tersenyum terpaksa dengan candaan yang Chanyeol keluarkan, dan setelahnya Chanyeol meninggalkan Baekhyun di ruangan mereka.

.

Sudah satu jam Baekhyun berada dalam gedung galeri yang cukup ramai, pameran kali ini berjalan sesuai dengan rencana mereka. Banyak sekali investor yang memberikan pujian atas kinerja Baekhyun, walau ini adalah tanggung jawab pertamanya tapi pameran kali ini benar-benar berhasil. Dari segi penjualan tiket bahkan sampai dekorasi dan tema dari pameran ini membuat para investor tertarik.

“Tuan Byun, adikmu ini sangat berbakat dalam bidang ini.” ,puji salah satu investor yang sekarang sedang berdiri di antara kakak beradik Byun.

“Benar. Apa kau yakin ini adalah pameran pertamamu? Ini benar-benar sangat luar biasa.” ,ujar salah satu investor lain.

“Jangan berlebihan, tuan Hudson. Pameran ini tidak akan pernah bisa mengalahkan pameranmu yang sangat hebat.” ,ucap Dae Chul yang berada di samping Baekhyun.

Investor asal Amerika – Tuan Hudson – tertawa mendengar pujian dari rekan bisnisnya. “Tapi sepertinya sebentar lagi aku akan tersaingi oleh adikmu, Tuan Byun.” ,Tuan Hudson menepuk bahu Baekhyun. “Walau masih sangat muda tapi dia sangat berbakat.”

Baekhyun membungkukkan badannya seraya terseyum, “Terima kasih atas pujiannya, Tuan Hudson.”

Mereka kembali tertawa, setelah percakapan singkat itu akhirnya Baekhyun pamit untuk kembali menghampiri beberapa tamu yang mereka undang dalam pameran ini.

Baekhyun menghampiri salah satu pengusaha yang sedang berbincang dengan Chanyeol, menebar senyum palsu dan berbincang dengan ramah. Sejujurnya Baekhyun sudah merasa tidak nyaman dengan kepura-puraan yang terjadi selama satu jam ini, tapi ia kembali di ingatkan tentang tanggung jawabnya dan bagaimanapun juga hasil dari keputusan para investor adalah poin utama baginya. Setelah cukup lama berbincang, Baekhyun meminta untuk undur diri dengan beralasan harus menyapa tamu yang lain.

Ia berjalan sampai di balik lorong yang lumayan sepi, menyandarkan badannya dan mengusap wajahnya. Sungguh, lelah yang di rasakan Baekhyun sangat mendominasinya karena memang Baekhyun kurang beristirahat selama beberapa hari ini atau lebih tepatnya setelah permasalahan ini bermula.

Sibuk ternyata tidak mengurangi sedikitpun beban pikirannya, atau malah semakin memperburuk baginya. Bahkan semua pujian yang sedari tadi di lontarkan oleh orang-orang tidak membuat Baekhyun kembali bersemangat. Baekhyun merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya, dia mencari kontak Ji Hyun di ponselnya dan menekan layar untuk menghubunginya. Nada sambung berbunyi berkali-kali, Baekhyun berharap bahwa Ji Hyun setidaknya mengangkat telponnya karena saat ini Baekhyun ingin sekali mendengar suara Ji Hyun.

Tapi kembali ia harus menelan kekecewaan yang sama, Ji Hyun masih enggan menerima telponnya. Baekhyun menjatuhkan tangannya di kedua di sisi badannya, ia hanya bisa menatap kosong layar handphonenya. Rasanya ingin sekali Baekhyun segera pergi ke rumah Ji Hyun dan meminta maaf kepada Ji Hyun seraya memeluknya.

Baekhyun tau jika ini tidak bisa di biarkan berlanjut, entah itu Neneknya atau Ji Hyun – ia harus segera memperbaiki keadaan ini. Tapi semua jalan keluar hanyalah terdapat di dua pilihan yang sangat tak ingin Baekhyun pilih. Ia memejamkan matanya dengan kepala yang bersandar di tembok, membuang nafasnya yang terasa sangat berat beberapa hari ini.

Perlahan ia membuka matanya setelah merasa kembali cukup tenang, Baekhyun tidak boleh terlalu lama bersembunyi karena acara belum berakhir sekarang. Baekhyun kembali berjalan menuju ke ruang tengah yang masih ramai, langkahnya terhenti ketika mendapati salah satu foto dengan pemandangan gunung Fuji yang sangat indah. Beberapa orang berdiri di hadapan foto itu sembari memuji foto yang diabadikan dengan hampatan air biru dan bunga sakura di musim semi serta gunung fuji yang menjadi objek utamanya.

Baekhyun tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar tulus walau ia sendiri tidak sadar bahwa ia tersenyum. Melihat gunung Fuji membuat pikirannya melayang pada 11 tahun yang lalu, kepada seorang gadis kecil yang berumur 5 tahun di bawahnya yang sangat menyukai semua tentang gunung Fuji. Gadis yang menurut Baekhyun sangat menyebalkan karena gadis itu bukanlah seperti seorang anak perempuan pada umumnya. Gadis pengganggu yang selalu menangis jika Baekhyun tidak mau bermain dengannya, gadis yang selalu memaksa Baekhyun memakan es krim vanilla yang sangat Baekhyun tidak sukai, gadis kecil yang selalu ada saat Baekhyun membuka matanya dan kembali menutup matanya.

“Wah… gunung Fuji. Indahnya.”

Senyum Baekhyun terhenti saat mendapati seorang wanita dengan kemeja biru muda berdiri tak jauh darinya, mata Baekhyun membulat – terkejut ketika mendapati sosok gadis yang baru saja di pikirkannya beberapa saat yang lalu. Gadis itu tersenyum lebar dengan mata yang masih setia menatap foto gunung Fuji itu.

“Yuri.” ,gumam Baekhyun.

–o0o–

Hari mungkin adalah hari bersejarah bagi Yuri, bagaimana tidak? Hari ini adalah hari kencannya dengan pria tampan yang menjadi incarannya selama berbulan-bulan dan juga merupakan hari kemenangan dari adiknya yang menyebalkan.

Yuri dengan pakaian rapi duduk di salah satu meja di cafenya, menunggu Luhan untuk menjemputnya. Sesekali ia menatap dengan pandangan mengejek kepada Sehun yang sedari tadi menyumpahi Yuri, rasanya Yuri ingin sekali tertawa puas karena kali ini ia berhasil mengalahkan adiknya.

“Kerja yang benar, adikku.” ,ejek Yuri kepada Sehun yang sedang membersihkan salah satu meja.

Sehun menatapnya tajam dan berdecih sebal, “Awas kau!”

Yuri tertawa dengan girang, ia melipat kakinya dan melipat tangannya di depan dadanya. “Disana masih kotor.” ,ejeknya kembali.

“Ya! Noona. Bisakah kau pergi saja sekarang?! Menyebalkan!” ,umpat Sehun.

Yuri mengangkat wajahnya, menunjukkan sikap arogannya. “Aku kan masih menunggu teman kencanku untuk menjemputku.” ,balasnya.

Sehun tertawa sarkatis mendengar ucapan mengejek dengan wajah sombong kakaknya, rasanya ingin sekali Sehun melempar sisa kopi ini ke wajah Yuri sekarang. Atau membuat pilihan dengan kakaknya yang nanti malam akan Sehun buang ke hutan dan membiarkannya agar di makan oleh beruang.

Sehun akhirnya menyerah, dia kembali membersihkan meja café. Sementara Yuri masih terkikik geli di mejanya melihat Sehun yang kalah telak darinya saat ini, biasanya Sehunlah yang selalu menang darinya. Sehun selalu berhasil mengejeknya dan selalu berhasil mendapatkan bahan ejekkan yang sangat Yuri benci. Dan akhirnya waktu untuk membalas dendam dating juga padanya, membuat Yuri berkali-kali merasa senang tidak karuan.

“Aku tidak sabar ingin berkencan dengan Luhan.” ,mulai Yuri kembali. Sehun yang mendengarnya hanya terus mengelap mejanya dengan kasar. “Sehun-ah… hentikan. Kau bisa membelah meja itu.” ,ujar Yuri dengan kekehan.

“Biarkan. Daripada aku harus membelah tubuhmu.” ,balas Sehun dengan sarkatis.

Ibu Yuri dan Sehun – Young Hee – hanya tersenyum melihat pertengkaran kedua anaknya itu. “Yuri-ya, jangan menggoda adikmu terus.”

“Siapa yang menggodanya?” ,Yuri kembali tertawa melihat wajah Sehun yang mengerucutkan bibirnya dan bergumam tidak jelas. “Oh Sehun. Pada akhirnya kau kalah denganku, bukan? Aku akan segera berkencan dan kau…” ,Yuri menunjuk Sehun. “Kau bahkan tidak berani mendekati wanita yang kau sukai sejak kelas 1.”

“Kau sombong sekali!” ,gumam Sehun. “Ya Noona! Jangan berbangga diri. Luhan Hyung hanya mengajakmu melihat pameran, kencan macam apa itu eoh? Bagaimana hal itu bisa disebut kencan?”

“Benarkah? Tapi… setidaknya dia mengajakku pergi. Ber-du-a.” ,Yuri menekan di akhir kata. “Itu lebih baik juga di banding dengan kau yang hanya memperhatikan Hye Jin di dalam kelas. Kau bahkan tidak berani menegurnya.”

Kini Sehun merasa sangat kesal dengan ucapan Noonanya itu, ia melempar selembar lap yang di pakainya untuk membersihkan meja sedari tadi, tapi dengan mudah Yuri menghindar dan kembali tertawa.

“Kalian berdua. Hentikanlah!” ,interupsi dari Ibu mereka berhasil membuat mereka menghentikan pertengkaran konyol mereka.

Beberapa saat kemudian, pintu café kembali terbuka dan menampilkan sosok pria yang di tunggu oleh Yuri sejak setengah jam yang lalu. Yuri bangkit dari duduknya seraya tersenyum kepada Luhan yang langsung mendapat balasan dari Luhan. Luhan masuk kedalam café dan menyapa Ibu Yuri. “Annyeong Nyonya Jung.”

“Annyeong Luhan-ssi.” ,balas Ibu Yuri dengan tersenyum.

Luhan melihat kearah Yuri yang sudah siap dengan kemeja biru muda dengan celana jins. “Aku ingin meminta izin untuk mengajak Yuri keluar malam ini.” ,ujar Luhan di depan Ibu Yuri.

Ibu Yuri tersenyum dan mengangguk, “Yuri juga sudah bilang akan pergi bersama denganmu. Kalau begitu hati-hati di jalan dan jangan pulang terlalu larut.”

“Tentu, Nyonya Jung.” ,Luhan membungkukkan badannya seraya pamit.

.

Perjalanan selama setengah jam itu begitu terasa cepat bagi Yuri dan akhirnya mereka sampai di depan gedung galeri terbesar di Seoul. Sangat ramai orang yang mengunjungi galeri ini karena ini memang merupakan pameran fotografi yang ramai di perbincangkan.

“Ramai sekali.” ,ujar Yuri.

Luhan mengangguk, “Kau benar.”. Luhan menarik tangan Yuri yang berada di sampingnya, “Jangan lepaskan, kita tidak boleh terpisah.” ,ucap Luhan dangan lembut.

Yuri menatap genggaman tangan Luhan yang sangat lembut dan kembali menatap wajah Luhan yang tersenyum lembut kepadanya. Yuri benar-benar seperti merasa terbawa ke nirwana saat mendapat perlakuan itu dari Luhan, rasanya hatinya akan meledak karena terlalu senang. Luhan menarik Yuri setelah antrian maju, rasanya tubuh Yuri tidak bernyawa kali ini, terasa sangat ringan. Bahkan Yuri tidak berani membuka mulutnya karena merasa ada sesuatu yang akan keluar jika ia membuka mulutnya. Sesuatu yang menggelitik perutnya dan memaksa ingin keluar, membuatnya sedikit tidak nyaman.

Setelah antrian cukup panjang itu, kini mereka sudah masuk kedalam galeri yang sangat luas dan mewah itu. Rasa kagum Yuri tidak henti-hentinya saat melihat dekorasi dari galeri itu, “Wah… Ini terlihat sangat bagus dan mahal.”

Luhan terkekeh melihat wajah berbinar Yuri, “Aku setuju.”

Yuri tertawa kepada Luhan dan kemudian kembali melangkah dengan tidak melepas pangutan tangan mereka. Seperti sebuah mimpi di malam hari, Yuri berharap ini tidak pernah berakhir.

Mereka berjalan menuju satu per satu foto yang tertata rapi di setiap sisi dinding gedung itu, membuat mereka memuji foto-foto indah tersebut. Atau itu hanya Yuri yang selalu memuji foto-foto itu, membuat Luhan selalu tersenyum di sampingnya kala Yuri mengeluarkan kata-kata pujian dari bibirnya. Sungguh, semua wajah berbinar Yuri menghipnotis Luhan. Bagi Luhan itu adalah hal yang sangat di nantikan olehnya, melihat Yuri kagum dan tersenyum lebar.

Usahanya untuk membeli tiket mahal itu adalah sebuah tindakan yang tepat, walau ia sebelumnya tidak merasa yakin bahwa Yuri akan menerima ajakannya. Tapi semua usahanya terbayar saat melihat wajah Yuri saat ini. Sebenarnya dia sedikit menyesal dengan berbohong tentang tiket itu kepada Yuri, tapi Luhan juga takut jika Yuri akan menolak jika tau tiket itu ia beli sendiri. Tanpa di sadari oleh Yuri, Luhan semakin menggenggam kuat tangan Yuri. Seolah tidak mengizinkan Yuri menjauh darinya atau sekedar sedikit terpisah darinya.

“Aku mau ke toilet.” ,ujar Yuri melepas genggaman tangan Luhan. “Tunggu sebentar ya.” ,Yuri segera melangkah dengan senyum yang masih tertera di wajahnya.

Belum sempat Luhan mengatakan bahwa akan menemaninya, Yuri sudah berjalan lebih dulu dan menghilang dengan cepat di antara kerumunan orang. Luhan menatap tangannya yang sekarang terasa kosong setelah Yuri melepasnya, ada pesaraan tidak rela saat itu.

.

Yuri berhasil dengan kebohongannya untuk pergi ke toilet, dia menghentikan langkahnya ketika di rasa bahwa keberadaan Luhan sudah cukup jauh darinya. Rasa gugup yang sedari tadi menjalar di hati Yuri ternyata cukup membuatnya merasa tidak nyaman, terutama ketika Yuri menyadari bahwa Luhan menggenggam tangannya begitu erat.

Mungkin terdengar begitu kampungan, tapi ini memang pertama kali bagi Yuri. Yuri memukul-mukul kecil dada kirinya, mencoba mentralkan detakan jantungnya yang berdetak begitu cepat sembari berkali-kali bernarik dan membuang nafasnya secara teratur.

Yuri membuka matanya yang terpejam beberapa detik, ia mengedarkan pandangannya ketika menjumpai lorong yang ternyata tidak terlalu ramai – hanya tiga empat orang yang melintas disana. Ia memperhatikan foto yang tertata di barisan dinding, “Indahnya.” ,gumam Yuri pelan. Yuri kembali tersenyum, sejujurnya Yuri sangat berterima kasih kepada Luhan yang telah mau mengajaknya kesini karena Yuri sangat menyukai bidang fotografi seperti ini.

Fotografi selalu mengingatkan Yuri tentang sosok pria yang tidak begitu Yuri ingat tapi jujur Yuri sangat merindukannya. Bagaimana bisa merindukan pria yang tidak pernah diingat?

Entahlah – yang pasti Yuri sangat merindukannya walau ia tidak pernah mengingatnya lagi. Kehangatan yang di berikan padanya dulu – bahkan lebih hangat dari genggaman tangan Luhan. Kadang Yuri sedikit kesal ketika otaknya tidak bisa mengingat pria itu, padahal Yuri sangat yakin bahwa pria itu adalah salah satu pria dari masa kecilnya yang sangat Yuri sayangi. Atau itu hanya perasaannya saja. Tidak ada yang tau, bahkan Yuri sekalipun.

Pandangan mata Yuri berakhir dengan sosok pria yang berada di ujung lorong, memejamkan mata dengan menyandarkan kepala di tembok – membuatnya sedikit mendongak. Yuri hanya menatap si pria dari kejauhan, yang ada di pikiran Yuri saat ini adalah betapa tampannya pria itu walau keadaannya seperti orang yang habis gagal dalam ujian SAT. Setelan jas itu sangat pas di pakainya, kulit wajahnya juga sangat cerah, jika di lihat dari penampilannya Yuri sangat yakin bahwa pria itu adalah pria kantoran.

Setelah beberapa saat pria itu kembali menegapkan kepalanya dan berjalan menjauh dari lorong itu. Entah bisikan dari mana – tapi Yuri – tanpa disadarinya mengikuti pria itu dari belakang. Bahkan otaknya belum sepenuhnya menyadari sikapnya, yang pasti melihat punggung pria itu menjauh membuat hati Yuri merasa kosong kembali.

Pria berjas itu berhenti di antara kerumunan yang tidak terlalu ramai, ada sekitar 10 sampai 12 orang yang berdiri di hadapan tembok putih itu. Apa yang merubah sikap pria itu juga Yuri tidak begitu melihat karena memang posisi Yuri yang cukup jauh di belakang si pria, yang Yuri lihat adalah sudut bibir si pria tertarik dengan sempurna – ia tersenyum.

Yuri memutuskan untuk berjalan mendekati si pria, berjarak 1,5 meter dari posisi si pria berdiri, Yuri dapat melihat foto sebuah pemandangan gunung fuji dengan air berwarna biru dan bunga sakura. Rasanya mata Yuri dimanjakan oleh sesuatu yang sangat amat indah, cita-citanya untuk pergi ke Jepang sekedar hanya memoto pemandangan gunung Fuji kembali menyeruak di pikirannya.

Cita-cita konyol yang Yuri sendiri tidak mengerti kenapa ia menginginkannya. Tapi ketika melihat gunung fuji membuat Yuri berpikir bahwa cita-cita konyol itu harus tercapai. Yuri tersenyum menatap foto itu, “Wah… gunung Fuji. Indahnya.” ,ujarnya tanpa sadar.

Tidak sedikitpun Yuri memalingkan pandangannya dari foto itu, Yuri seperti terhipnotis dengan foto itu. Terus menerus tersenyum dengan angan-angannya pergi ke Jepang, dan setelah beberapa saat akhirnya Yuri kembali kepada realita. Satu yang sempat Yuri lupakan, yaitu Luhan yang mungkin sedang menunggunya. Yuri mengernyitkan keningnya seketika, bagaimana bisa ia melupakan Luhan?

Yuri segera beranjak dari tempatnya berdiri dan berlari kecil untuk kembali menemukan Luhan di tempatnya terakhir meninggalkan Luhan. Umpatan demi umpatan Yuri gumamkan atas sikap bodohnya, mungkin sekarang ini Luhan sedang khawatir karena Yuri tak kunjung kembali, pikirnya.

Ia tidak dapat menemukan Luhan di tempat sebelumnya, dia segera meraih ponselnya yang berada di dalam tas selempangnya. Ia sedikit merasa tidak enak ketika mendapati ada 5 panggilan tak terjawab dari Luhan. Yuri menekan layar touch screennya untuk menghubungi Luhan, nada sambung berbunyi beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari Luhan. Mungkinkah Luhan marah?

Yuri kembali mencoba menghubungi Luhan, “Kau bodoh sekali, Oh Yuri!!” ,umpatnya.

Dengan ponselnya yang masih setia di tempelkan pada telinganya, Yuri kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Luhan. Tapi bukan Luhan yang di dapati oleh Yuri, melainkan sosok pria berjas yang sempat Yuri ikuti tadi. Pria itu menatap Yuri dari jarak yang tidak terlalu jauh, Yuri menerawang jauh ke dalam pikirannya. Apa yang pria itu lakukan? Mengapa pria itu melihat Yuri seperti itu? Apa pria itu tau jika Yuri mengikutinya tadi? Dan beberapa pertanyaan aneh lain yang berputar di otak Yuri.

Pria itu bergumam pelan di kejauhan, membuat Yuri bergidik ngeri kepada pria yang tidak melepaskan tatapannya pada Yuri. Apa pria itu berniat jahat padanya? Tapi ini sangat ramai, tidak mungkin bukan?

Yuri kembali berjalan tanpa ingin bersitatap lebih lama dengan pria berjas itu lagi, mengambil langkah besar-besar untuk mempercepat langkahnya. Ia sedikit melirik ke belakang dan mendapati pria itu tetap mengikutinya. Rasanya kali ini jantung Yuri akan berhenti karena terlalu merasa takut yang tidak berasalan itu.

Mungkin terdengar berlebihan, walau Yuri merupakan gadis tomboy tapi Yuri juga layaknya gadis-gadis lain yang takut dengan penjahat versi drama yang di bayangkannya. Bukankah itu konyol?

Langkah Yuri tidak di indahkannya lagi, dia beberapa kali menabrak orang dan mendapat cacian yang tidak begitu ia hiraukan. Menghindar adalah usaha yang sedang Yuri jalani saat ini, sampai tanpa sengaja di tengah jalannya Yuri menabrak sosok pria yang Yuri cari sejak tadi. Luhan. Rasanya seperti bertemu dengan dewa penolong. Yuri bisa bernafas lega.

Luhan menghela nafasnya lega ketika mendapati Yuri, “Yuri-ssi, kau kemana saja? Aku mencarimu kemana-mana sedari tadi.” ,nada khawatir dari Luhan menyeruak di telinga Yuri. Sungguh membuat Yuri semakin merasa tidak enak hati pada pria tampan di depannya.

“Maafkan aku.” ,ujar Yuri pelan seraya menundukkan kepalanya.

Luhan tersenyum melihat Yuri yang terlihat menyesal, sungguh menggemaskan melihat wajah tertunduk Yuri. “Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir jika kau tersesat. Disini cukup ramai.” ,Luhan mengelus pucuk kepala Yuri. “Ayo.” ,seru Luhan meraih tangan Yuri. “Kita kesana.”

Yuri menahan langkah Luhan dengan menariknya, lalu ia menggelengkan kepalanya. “Kita pulang saja.” ,bisik Yuri.

Luhan menautkan kedua alisnya, sedikit bingung dengan sikap Yuri yang diawal tadi begitu bersemangat dan tiba-tiba mengajaknya pulang. “Pulang? Kenapa? Apa kau merasa tidak enak badan?”

Yuri menggelengkan kepalanya, ia sedikit mendekati wajahnya dengan wajah Luhan. “Ada orang yang mengikutiku sejak tadi. Kurasa bukan orang baik.” ,Yuri melirik ke belakang Luhan dan masih mendapati pria berjas itu setia berdiri dengan kening yang berkerut.

Sejujurnya Yuri juga tidak begitu yakin bahwa pria itu adalah orang jahat, karena tampilan pria itu yang begitu sempurna. Rambut coklat dengan mata sipit yang indah, serta jangan lupakan betapa sempurnanya bentuk wajah si pria.

Luhan mengikuti arah tatap mata Yuri dan melihat sosok yang mungkin adalah orang yang di maksud dengan Yuri. “Maksudmu… orang itu?” ,tanya Luhan meyakinkan. Yuri mengangguk dan kembali bersembunyi di balik badan Luhan.

Luhan menatap menyelidik kepada si pria yang memang tidak sedikitpun memalingkan pandangannya dari mereka, bahkan kali ini mata Luhan bertemu dengan mata si pria itu dan dengan berani menatap tajam mata Luhan. “Kalau begitu ayo kita temui dia dan tanyakan.” ,ujar Luhan.

“Hah?” ,Yuri terkejut dengan ucapan Luhan yang menurutnya gila. “Tapi dia—“

“Tenang saja, kan ada aku.” ,Luhan menarik kembali tangan Yuri dan melangkah mendekati si pria.

Kini mereka sudah berdiri tepat di depan si pria berjas itu, Yuri sedikit melirik kearah pria yang menatap dirinya dan Luhan bergantian. Sejuta pertanyaan terus berputar di kepalanya, membuatnya semakin merasa takut kala memikirkan jawaban terburuknya.

“Permisi.” ,sapa Luhan kepada si pria. “Kalau ku lihat sedari tadi, kau memperhatikan kami. Apa kau memerlukan sesuatu?” ,tanya Luhan dengan lantang.

Pria itu tertawa mengejek, “Benarkah?” ,gumamnya dengan nada mengejek. “Itu kau… atau gadis di belakangmu?”

Yuri sedikit tersentak di belakang punggung Luhan ketika si pria berjas itu menyinggungnya, kecurigaannya semakin menjadi kala itu. Luhan menyadari ketegangan Yuri yang meremas kuat bajunya di belakang. “Itu aku atau pacarku, apa penting? Kau membuat kami tidak nyaman.” ,ucap Luhan.

Pria itu mendesis, “Wah… Kau sudah cukup dewasa rupanya, Oh Yuri.” ,pria itu tertawa. “Dia pacarmu? Cukup mengecewakan.” ,ejeknya.

Baik Yuri maupun Luhan cukup di buat terkejut kala mendengar si pria itu menyebut nama Yuri dengan lengkap. Bagaimana pria itu mengenalnya?

Yuri memberanikan diri untuk berdiri di samping Luhan, menatap pria itu dengan bingung. “Bagaimana… kau tau namaku?”

Si pria melipat kedua tangannya di dadanya, “Ternyata kau masih semenyebalkan dulu, Oh Yuri.” ,si pria menghela nafas ketika masih menangkap tatapan bingung Yuri. “Ini aku! Byun Baekhyun. Ingat?!” ,ujarnya kesal.

Yuri masih menatap Baekhyun dengan mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba mengingat nama yang memang menurutnya tidak begitu asing tapi Yuri juga tidak begitu mengingatnya.

“Byun Baekhyun…”

.

.

-TBC-

Assalammualaikum…

Hayoooo… yang baca wajib jawab salam lho… *kekekek

Rhee mau ngucapin terima kasih nih sama readers yang udah ngedukung FF ini, seneng lho Rhee baca komentar kalian.

Gimana menurut kalian chapter ini?Agak gak nyambung ya…?? Rhee juga ngerasa gitu.Insya Allah di chapter berikutnya Rhee perbaiki.

Oh iya, kemaren ada yang nanya disini nama Yuri siapa? Nama Yuri itu Oh Yuri, sebelumnya memang Rhee mau bikin yang namanya Kim Yuri terus adiknya Kim Jong In. Tapi kurang ngena gitu. Maklum Rhee masih labil jadi suka ganti-ganti karakter kalo nulis… Hahaha.

Oke deh, sekian dulu ya dari Rhee. See You Next Chapter… *kiss

Iklan

14 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] More Than Beautiful (Chapter 2)

  1. waalaikumsalam..
    kenapa yaa baca ff ini nyaman bgt enjoy gitu ga keburu buru pkoknya pas lah.
    dari awal sampai mau tbc greget aja nungguin moment mereka (baek yuri) ketemu dan akhirnya ga nyangka dan fakta baru kalo mereka itu temen kecil tapi ko kenapa yg inget bgt cuman baekhyun yah . terus apa nantinya nenek nya baek bakal nikahin mereka berdua terus nanti baek jd benci ke yuri aduhhh pkoknya ga bisa ditebak deh ditunggu aja next chapter.

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] More Than Beautiful (Chapter 2) – Site Title

  3. Waalaikumsalam
    Baru nemu ff ini, castnya baekhyun dan genrenya marriage life emang favorit kkkk komennya langsung ke chap 2 gpp kan hehehe
    Ijin baca
    Fighting

  4. Akhirnya sifat jihyun yang sebenarnya keluar juga kalo dia itu cuna manfaatin baekhyun. Benar-benar tak terduga kalo baekhyun kenal sama yuri dan mereka itu teman dari kecil dan kenapa yuri nggak ingat sama baekhyun ?
    Aku nggak sabar nunggu momen baekhyun-yuri.
    Fighting kakak

  5. Waalaikumsalam~ Ahh akhirnya update juga. Maaf ya di part 1 kemarin gak sempet komen jadi baru komen di sini. Suka banget sama ceritanya. Ternyata Jihyun menunjukan sifat aslinya wkwkk Gak sabar deh nunggu baekhyun sadar kalo jihyun bukan orang yang baik. Dan Yuri sama Baek temen kecil? wah, kayaknya bakal seru nih. Aku kira Luhan gak suka sama Yuri tapi ternyata dia juga suka wkwk Penasaran kelanjutan kisah mereka nih. Ditunggu next chapternya ya, Fighting!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s