[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 2B)

kkm5.jpg

[Oh Sehun, Oc and One of member EXO]

[ Romance, Hurt/comfort, Family, Drama]

[ PG.17]

[Chaptered]

[Storyline by Nano]

[Inspired from song “Kupu-kupu malam” by Noah]

[Desclaimer : Fanfic ini asli milik dan berasal dari Nano. Bila ada kesamaan alur, tokoh, tempat, dan lainnya, itu murni kebetulan. Hargai karya setiap orang, jangan pernah berniat memplagiat karya orang karena hal itu memalukan.]

[Sorry for typo and happy reading…]

.

.

.

-Nothing perfect in this world. We’re just try to be perfect-

.

.

.

.

.

“Pelukanmu bahkan lebih hangat dari ibuku.”

Perkataan laki-laki itu membuat kakak  Sehun terhenyak sekaligus iba. Tak disangka teman Sehun ini begitu menderita, padahal dilihat dari penampilannya, laki-laki ini begitu ceria dan semangat. Karena itulah, kakak Sehun membalas pelukannya seraya mengusap rambut laki-laki itu, kebiasaan yang dirinya lakukan ketika adiknya_Sehun_ berkecil hati.

“Ibumu yang melahirkanmu, berjuang agar kau tetap hidup, tentulah tidak sebanding dengan noona. Jangan berkata seperti itu, seburuk apapun sikap ibumu, ia tetap ibumu.”

Laki-laki itu tidak menjawab, mungkin ia merenungi ucapan gadis itu. Tak lama kemudian ia melepas pelukannya.

“Kau tidak mengerti, tidak tahu tentangku, jadi jangan menasehatiku.”

Kakak Sehun terkejut dengan nada dingin yang kasar oleh laki-laki itu. Ia tidak bermaksud seperti itu, ia hanya ingin menghiburnya namun disalah artikan olehnya. Merasa tidak enak, kakak Sehun memutuskan untuk segera keluar dari mobil ini. Demi neptunus, suasananya terasa mencekam, ia tidak tahan.

“Terima kasih atas tumpangannya, dan maaf telah merepotkan.”

Gadis itu beringsut turun dari mobil setelah pintu terbuka. Ia tentunya masih punya sopan santun, jadi ia menunggu teman Sehun ini benar-benar pergi sebelum ia masuk ke rumah.

Laki-laki itu masih menatap kosong ke depan dengan cengkraman pada kemudi, namun ia tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada kakak Sehun.

“Maaf, karena telah membentakmu. Ah, aku aneh ya?” Ujar laki-laki itu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis itu tersenyum memaklumi, namanya juga anak muda, emosinya belum stabil.

“Tidak apa. Hati-hati ya…”

Tidak menyangka dibalas seperti itu, teman Sehun itu mengangguk dan membalas senyum meski setengah sadar. Ia kemudian memacu mobilnya menjauhi keberadaan kakak Sehun.

Ah, ada-ada saja teman Sehun itu. Gadis itu kemudian membalikkan badannya dan berjalan masuk ke rumah.

*****

“Ke mana saja kau?”

Gadis itu terpaku di depan pintu masuk. Ia terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan secara tiba-tiba oleh bibinya. Lampu yang sebelumnya mati kini menyala, menerangi setiap objek. Dan gadis itu dapat melihat bibi, paman, Sena, dan juga Sehun yang berdiri di kursi tamu. Mereka seperti menunggu kedatangannya. Gadis itu merasa bersalah.

“Pengunjung hari ini banyak. Kyungsoo saja tadi segera menutup kedai karena dia mempunyai urusan, padahal ada beberapa pengunjung yang masih ingin ke kedai.”

Bibinya mengernyit tidak suka, tidak percaya dengan perkataan gadis itu. “Kau pikir aku percaya? Bukankah kau-”

“Sudahlah sayang. Dia sudah menjelaskannya bukan?” Paman memotong perkataan istrinya itu. Ia tersenyum menenangkan pada istrinya. Sementara Sang istri hanya menghela napas.

“Lain kali beritahu kami agar tidak khawatir, ya?”

Gadis itu mengangguk pelan.

“Sekalian saja onni tidak pulang, itu lebih baik daripada membuat seluruh isi rumah cemas!” Ujar Sena ketus sebelum ia melangkahkan kakinya pergi ke kamarnya.

“Sena!” Sena tidak menghiraukan panggilan ayahnya, ia malah menghentak-hentak kakinya tanda ia kesal. “Aish, anak itu.” Sang paman kemudian mengalihkan perhatiannya pada gadis itu yang masih berdiam diri dekat pintu.

“Pergilah mandi lalu istirahat, mengerti?”

“Ya, paman.”

Mendengar itu membuat paman tersenyum. Ia kemudian mengajak istrinya kembali ke kamarnya setelah pamit dengan gadis itu. Sepeninggal itu, tinggallah Sehun dan gadis itu yang saling berdiam. Berbagai rasa berkecamuk di hati Sehun mengenai kakaknya itu, namun kini kakaknya telah berada di hadapannya dalam kondisi baik-baik saja. Ia ingin marah, tapi untuk apa? Toh kakaknya sudah pulang.

“Sehun…” Suara lembut gadis itu merambat ke telinga Sehun. Tapi ia enggan menjawab, malas dan juga kesal pada kakaknya. Ia hanya membalikkan badannya, melangkah ke kamarnya, menjauhi Sang kakak.

Sementara itu, gadis itu menghela napas mendapat perlakuan dingin dari adiknya. Mungkin Sehun masih kesal dengan dirinya, pikir gadis itu. Ia kemudian bergegas mandi lalu tidur.

*****

Gadis itu menatap adiknya yang tidur memunggunginya. Ia baru saja usai mandi dan masuk ke kamar, berharap Sehun belum tidur dan mendengar penjelasannya. Ia menghela napasnya, lelah dengan jalan hidupnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

“Sehun…”

Tidak ada jawaban. Hanya dengkuran halus Sehun yang terdengar.

“Maaf. Seharusnya noona menghubungimu. Tadi benar-benar sibuk, dan juga ponsel noona baterainya habis.” Ujar gadis itu penuh penyesalan. Ia sadar dirinya salah karena tidak memberi kabar pada siapapun.

“Sehun…” Panggil gadis itu yang duduk di sisi ranjang. Ia lagi-lagi menghela napasnya. “Noona tahu kau belum tidur, Hun. Noona, noona, sungguh menyesal…”

Namun lagi-lagi Sehun tidak menjawab.

Gadis itu menunduk menyembunyikan air matanya yang mengalir. Sebisa mungkin ia mengatur suaranya agar Sehun tidak mengetahui bahwa dirinya sedang menangis.

Geurae… Kau mungkin sudah tidur. Selamat malam, Sehun.” Ujarnya dengan bibir bergetar, lalu segera beranjak tidur. Lampu tidur segera ia matikan, tubuhnya berbaring dan matanya terpejam.

Sehun membuka matanya perlahan, menatap kosong dalam kegelapan. Ia memang belum tidur, sengaja mengabaikan kakaknya karena tidak menghubunginya. Ia lelah mencari kakaknya ke mana-mana, tapi tetap tidak menemukannya. Kakaknya bekerja part time di banyak tempat, jadi ia tidak tahu di mana malam itu Sang kakak bekerja, jadwalnya tidak teratur. Ditambah lagi kakaknya tidak bisa dihubungi, menyebabkan dirinya cemas setengah mati. Tidak biasanya tengah malam kakaknya belum juga pulang.

Bukan hanya itu, Sehun juga kesal karena sepertinya kakaknya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Ia tadi melihat kakaknya diantar oleh mobil mewah. Ia mengenali mobil tersebut sebagai mobil keluaran terbaru karena teman-temannya suka mengoleksi mobil-mobil seperti itu. Dengan siapakah kakaknya itu? Apakah kakaknya diam-diam sudah mempunyai kekasih? Tidak. Sehun menggeleng. Tidak percaya dengan asumsi dirinya sendiri. Kakaknya telah berjanji untuk bercerita apapun, dan ia tidak mungkin menghianatinya. Jikalau kakaknya itu memang benar menyembunyikan sesuatu, suatu saat kakaknya pasti akan bercerita, untuk sekarang, ia menganggap kakaknya itu tidak siap bercerita padanya.

Kepalanya menoleh ke belakang, tepatnya memandang kakaknya di seberang ranjang yang tidur meringkuk seperti janin. Kakaknya tidak memakai selimutnya. Padahal udara malam ini sungguh dingin, dan juga, kakaknya itu mandi tengah malam, membuat Sehun khawatir kakaknya akan sakit.

Sehun mengehela napas berat, beranjak pelan mendekati kakaknya. Meski gelap, ia tetap bisa melihat wajah kakaknya itu, dan ia benar-benar merasa bersalah. Seberkas air mata mengering di pipi kakaknya. Seperti usai menangis.

“Maaf, noona. Maaf karena membuatmu menangis.” Bisik Sehun pelan di telinga Sang kakak. ia kemudian menarik selimut hingga sebatas leher kakaknya.

Tungkainya kembali mendekati ranjang miliknya, bokongnya mendarat di pinggir ranjang, sementara pandangannya berapa pada kakaknya. Selalu saja ada masalah, kapan tuhan memberi kebahagiaan untuk kakaknya?

*****

Kala itu Sehun, Sena, bibi, paman, dan juga kakaknya sedang makan malam. Sekilas semua yang berada di sana terlihat bahagia, namun sebenarnya tidak. Terutama gadis itu, kakak Sehun. Dia hanya berbicara seadanya enggan masuk dalam konversasi menyenangkan, ia takut jika bibi akan memarahinya.

Sehun menyadari hal itu, ia menatap tajam kakaknya dalam diam, tersenyum sekilas ketika paman ataupun Sena bertanya padanya.  Kejadian malam itu telah berlalu, dan Sehun masih kecewa dengan kakaknya itu, maka selama itu ia bersikap dingin.

“Paman, bibi, aku ingin mengatakan sesuatu,”

Semua pandangan menoleh pada kakak Sehun, tak pelak hal itu membuat Sehun terkejut. Entah mengapa Sehun merasakan firasat buruk, tidak biasanya kakaknya bersikap seperti ini.

“Ada apa?” Tanya paman ramah disertai senyuman. Sehun melihat kakaknya dalam keraguan, bibir bawahnya ia gigit, kebiasaan kakaknya yang tidak juga berubah.

“Aku… Aku ingin bekerja di Seoul. Kyungsoo menawarkannya padaku, ia berkata di sana aku akan mendapat gaji yang lebih besar. Jadi, bagaimana menurut kalian?”

Keheningan menyelimuti atmosfer ruang makan, semuanya terdiam mencerna perkataan kakak Sehun. Terutama Sehun, ia berspekulasi mengenai penyebab kakaknya mengatakan hal itu. Apakah mungkin kakaknya ingin pergi jauh? Meninggalkannya sendirian di sini? Atau mungkin lelah dengan segala cibiran tetangga? Ya, cibiran tetangga. Semenjak kakaknya diantar pulang oleh mobil mewah, para tetangga bergosip buruk mengenai kakaknya.

“Kau tahu? Keponakan Joohyun diantar mobil mewah tengah malam.”

“Yang perempuan atau yang laki-laki?”

“Perempuanlah! Jika laki-laki aku tidak akan memberitahumu!”

“Loh? Memangnya mengapa?”

“Kau ini tidak mengerti, ya? Perempuan jika diantar oleh lelaki, omong-omong, menggunakan mobil mewah di tengah malam, itu artinya apa, huh?”

“Woah… aku tidak menyangka.”

“Ya, aku juga tidak menyangka gadis cantik dan sebaik dirinya berperilaku seperti itu.”

Kurang lebih seperti gosip para tetangga.

“Mengapa tiba-tiba?” Tanya paman sembari mengernyit, gerat tua di dahinya semakin bertambah saat ia melakukan hal itu.

Kakak Sehun menggeleng pelan seraya tersenyum hangat, “Tidak apa. Hanya saja, Kyungsoo membuka foodcourt di sana, kedainya bekembang pesat. Dan ia ingin aku menjadi karyawan tetap.”

“Tunggu apalagi? Kesempatan tidak datang dua kali, bukan?” bibi Sehun tersenyum manis. Sehun mendumal dalam hati, mengumpat akal bulus bibinya. Bibi dengan senang hati mengusir kakaknya itu.

“Tapi-”

Yeobo, biarkan dia mandiri. Ia sudah dewasa, di Seoul banyak pengalaman yang dapat ia ambil.” Ujar bibinya lagi dengan nada menggoda, membuai suaminya agar setuju dengannya.

Paman menghela napas, menyerah dengan tekad bulat Sang istri, “Mungkin kau benar.” Pamannya tersenyum memandang kakak Sehun “Kau harus bisa menjaga diri di sana, mengerti? Harus mawas diri karena kau sendirian, tak apa seperti itu?”

Kakak Sehun mengangguk, “Eung. Aku baik-baik saja. Dan juga Kyungsoo telah mencari apartemen murah, jadi aku bisa menghemat.”

Pamannya terkejut mendengar itu, “Secepat itu?”

“Ya. Dan rencananya esok aku akan berangkat.”

“Apa?” Koor Sehun, Sena, Bibi dan juga paman. Mereka mendapat banyak kejutan hari ini.

“Maaf baru mengatakannya sekarang…” kakak Sehun berkata lirih menyesal, kepalanya menunduk dalam-dalam enggan menatap keluarganya itu.

Krieet!!

Kursi Sehun berdecit kasar, menimbulkan suara yang mengerikan. Apalagi Sang empu rahangnya mengeras, jelas sekali menahan emosi.

“Aku sudah selesai makan. Selamat malam.” Ujar Sehun sebelum ia membungkuk dan pergi ke kamarnya. Kakak Sehun menatap nanar kepergian adiknya.

“Sepertinya oppa kesal.” Sena berujar santai. Bibir manisnya tersenyum penuh kemenangan, lalu ia mengikuti apa yang Sehun lakukan. “Aku juga sudah selesai. Selamat malam.”

Sena berjalan santai keluar dari ruang makan, namun berhenti melangkah sebelum benar-benar keluar. “Oh ya. Satu hal yang ingin kusampaikan padamu onni.” Sena sengaja menjeda kalimatnya, “kuharap kau tidak melupakan jasa keluarga ini, bukan?”

“Sena!!” Paman yang notabene-nya adalah ayah Sena membentak memperingati. Ayahnya kecewa atas sikap tidak sopannya.

Wae? Memangnya aku salah? Dia hanya menumpang-”

“Jaga ucapanmu Sena!!” Sekali lagi ayahnya membentak, tapi kali ini lebih kasar. Sena tidak percaya dengan ayahnya. Bagaimana mungkin ayahnya memarahinya? Sena tidak terima. Ia marah, kesal, dan juga takut. Bibirnya bergetar, begitu pula dengan dwimaniknya.

“Aku benci ayah.” Setelah mengucapkan itu, Sena lekas berlari ke kamarnya.

“Sena! Sena! Sena!” Panggilan ayahnya ia hiraukan. Terpaksa ayahnya menyusul Sena, karena kalau tidak akan terjadi sesuatu yang buruk, Sena terkadang melakukan hal berbahaya.

“Lihatlah perbuatanmu. Kuharap kau lekas pergi, dasar pembawa sial!”

Bibi menyusul paman setelah mengucapkan kata kasar pada kakak Sehun.

“Maaf…” lirih kakak Sehun entah pada siapa. Kakak Sehun menghela napas, memikirkan kemungkinan perkataan bibinya. Sepertinya ia harus bersiap-siap sekarang.

Pintu terbuka menampilkan isi kamar, termasuk Sehun yang duduk menyandar pada headboard kasur. Di tangannya terdapat buku tebal dengan beberapa lembar halaman terbuka, dwimaniknya terfokus pada buku. Ya, Sehun sedang belajar.

Kakak Sehun, subjek yang membuka pintu, berjalan pelan memasuki kamar, berusaha untuk tidak menimbulkan suara yang dapat memecah konsentrasi adiknya. Ia baru saja membereskan peralatan makan malam, semuanya telah bersih dan rapi seperti semula.

Tungkainya menuntun ke arah almari, Ia membuka almari pakaiannya, hendak memindahkan semua barang-barangnya ke koper. Semua itu dilakukannya tanpa hasrat, terpaksa, jika saja kondisinya tidak seperti ini. Ia harus pindah dari rumah ini sebelum Sehun terkena masalah.

Kakak Sehun menatap adiknya. Sangat disayangkan jika Sehun terjembap masalah padahal beberapa bulan lagi ia akan segera lulus. Kakak Sehun takut jika Sehun terganggu konsentrasi saat Ujian Negara nanti, ia cemas jika saja Sehun tidak lulus akibat masalahnya.

Keheningan menyelimuti kamar itu. Kakak beradik itu hanyut dalam pikiran masing-masing, namun yang dipikirkan sebenarnya menyangkut keduanya. Sehun, memikirkan kakaknya. Sementara kakaknya memikirkan Sehun, adiknya.

“Jangan menatapku seperti itu. Itu mengangguku.” Sehun berujar santai tanpa menengok pada kakaknya. Dwimaniknya masih terfokus pada buku tebal. Ia lupa jika Sehun mempunyai tatapan yang tajam dan juga awas terhadap sekitar. Perkataan Sehun membuatnya mengerjap, ia ketahuan telah menatapnya lama, dan membuat Sehun terganggu. Sungguh bodoh!

“Maaf.”

Hanya itu yang keluar dari mulut kakak Sehun. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya, mengemas barang-barang. Sehun berhenti membaca bukunya, ia melihat kakaknya kewalahan mengambil koper yang terletak di bagian paling atas almari. Reflek, Sehun segera menutup bukunya dan melangkah mendekati kakaknya.

Tanpa berkata, ia mengangkat koper itu lalu meletakkannya di lantai, membantu kakaknya mengemasi barang-barang. Pakaian yang telah di susun di atas ranjang segera ia pindahkan ke dalam koper kakaknya. Sementara itu, kakak Sehun tersenyum kecil atas perlakuan Sehun. Ia pun bergabung dengan Sehun memindahkan barang-barangnya setelah berdiam cukup lama.

Noona…” Panggil Sehun tanpa menatap wajah Sang kakak, tanganya masih bergerak memindahkan pakaiannya. Melihat dan mendengar itu, kakak Sehun hanya berdeham.

“Aku ingin bertanya padamu.”

“Mengenai mengapa kakak pindah?” Tebak kakak Sehun. Sehun menggeleng.

“Bukan. Aku penasaran, siapa yang mengantarmu waktu itu noona? Apakah kekasihmu?”

Kakak sehun terdiam, pergerakannya terhenti, ia terpekur atas pertanyaan Sehun. Sulit sebenarnya menjawab pertanyan itu, karena ia tidak ingin Sehun tahu jawaban itu. Tapi bagaimanapun, ia telah berjanji bercerita pada adiknya itu.

Eoh. Dia kekasih noona.” Ya, sekarang lelaki itu memang kekasihnya.

Giliran Sehun yang terdiam, tapi tidak lama. Ia segera melanjutkan pekerjaannya. “Ah… begitu? Siapa namanya?” Lagi-lagi Sehun bertanya dengan jawaban yang sulit kakaknya jawab.

Noona tidak bisa memberitahumu. Maaf.”

Sehun menyeringai, tidak percaya jika kakaknya tidak memberitahunya. “Jadi selama ini noona mempunyai kekasih? Jika aku tidak bertanya sekarang, apakah aku tidak akan pernah tahu?”

Sehun menatap kakaknya. Retinanya menatap tajam menembus serta menyelam ke dalam pandangan kakaknya. Kakak Sehun sedikit tergagap.

Noona ti-tidak bermaksud seperti itu, Sehun. Hanya saja, hanya saja-”

“Ya, aku mengerti. Lupakan itu.” Sehun memotong perkataan kakaknya. “Kakak akan mengunjungiku, kan? Noona tidak akan meninggalkanku begitu saja, kan?” Lanjut Sehun penuh harap. Tatapannya segera berubah menjadi tatapan memohon. Hal itu menyebabkan kakak Sehun tersenyum hangat.

“Tentu saja. Jangan khawatir, oke?”

Sehun sedikit menghela napas lega. Ia tadi sungguh takut jika kakaknya akan meninggalkannya begitu saja.

Noona juga akan datang di hari kelulusanku, kan?” tanya Sehun sekali lagi memastikan kebenaran perkataan kakaknya.

“Tentu saja. Sebaiknya Sehun pastikan dulu lulus, baru berkata seperti itu. Kau ini percaya diri sekali akan lulus.”

“Hey!! Noona meragukanku? Lihat saja nanti, aku akan berada di podium menerima salah satu juara umum!! Aku akan memakai toga, menerima piagam, dikalungkan medali dan juga semua gadis akan mengerubungiku!” Jawab Sehun dengan narsis.

“Begitu? Geurae, noona akan berusaha sebisa mungkin untuk datang nanti. Noona akan berlutut, memohon, ataupun mengemis-ngemis jika noona tidak mendapat ijin dari Kyungsoo.” Balas kakak Sehun.

“Apa-apaan noona… Kakak tidak perlu melakukan itu karena Kyungsoo hyung kan baik. Mana mungkin hyung tidak mengijinkan?”

Kakak Sehun mengulum senyum.

“Ah, benar juga? Noona tidak perlu repot-repot ya? Hm, noona jadi tidak bisa mengarang alasan jika noona tidak bisa datang dong?”

Perkataan kakak Sehun membuat Sehun sedikit terkejut.

Noona! Niat sekali tidak datang ke acara kelulusanku, ya?” Dwimanik Sehun menajam.

“Bercanda. Hey, ayolah Sehun. Noona tidak ingin melewatkan kebahagianmu saat lulus nanti.”

“Tapi aku tidak akan bahagia jika noona tidak datang.” Lirih Sehun.

Kakak Sehun tersenyum, ia menyentuh kepala adiknya, lalu mengusapnya pelan.

“Jangan khawatir. Noona akan datang, mengerti?”

Sehun menatap kakaknya ragu. Tapi hanya sekejap, karena ia sadar kakaknya sudah berjanji, dan janji harus ditepati. Ia akhirnya mengangguk. Sehun dan kakaknya tersenyum bahagia. Ya, setidaknya untuk saat ini, Sehun melihat kebahagiaan dari kakaknya itu.

“Oh ya. Hun-ah, berjanjilah pada noona…”

Sehun mengernyit menatap kakaknya. “Tentang apa?” Jawab Sehun.

Kakak Sehun menarik napasnya pelan, seperti apa yang akan di ucapkannya akan menguras tenaga. “Sebenarnya noona ingin mengatakan ini dari dulu.” Bibir kakak Sehun tersenyum pahit. Dan baru kali ini Sehun melihat itu. “Berjanjilah pada noona untuk tidak membenci Sena dan bibi. Seburuk apapun mereka, mereka tetap keluargamu. Kau harus bisa, ya?”

Sebenarnya Sehun sangat menolak permintaan kakaknya itu. Ayolah, jika saja bibi dan Sena tidak berlaku buruk, Sehun pun tidak akan membenci mereka. Namun, karena melihat senyum pasi yang tidak pernah ditunjukkan kakaknya itu, Sehun rela melakukan itu agar senyum hangatnya kembali. Sehun mengangguk.

“Tentu saja. Apa sih yang tidak untukmu, noona…”

Kakak Sehun memukul pelan lengan Sehun. Senyum hangat kembali menghiasi wajah kakaknya. Ya, apapun akan dilakukan Sehun untuk kakaknya.

.

.

.

.

.

Tubikontinyu

Iklan

8 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 2B)

  1. Ahh sebenarnya saya mau nanya panjang lebar tapi kayaknya sdh terwakili oleh komentar sebelum sebelum saya~wkwkwk jadi singkatnya next capter sumuanya pertanyaan akan terjawab atu per-atu meskipun ada niat pengen bget nanya!! Tapi pasti dijawabnya sama kayak balasan komentar sebelumnya yg ku baca! Jadi~ next capt cepat cepat di kirim yaa thor~ saranghae ❤ hehehe aku udah kebelet(?) penasaran! Okay ditunggu ya min~

    • Pft…. kalo mau nanya, nanya aja. Saya bakal jawab semampunya. Ahahaha, seperti itu lah.
      Doain aja supaya cepet apdet. Laptop saya lagi sakit, dan dia lagi dirawat. Data cerita ini ada di sana, jadinya gak bisa kirim.
      Nado saranghae 😘 ah, ya, panggil saya kakak atau nano aja. Jangan thor, kesannya nama saya THOR lagi.

  2. kk apa bener noonanya sehun itu pergi ke seoul gara” kyungsoo buka cabang disana..?? meragukan bgt sih, apalagi klo nengok judulnya..
    trs knpa sih bibi + sena itu benci bgt sm noona sehun..?? ada masalah apa sih sbnernya, serius kk penasaran.. trs sehun + noonanya itu sodara kandung bukan sih..? aku kok ngerasa bukan yaa kk..?? klo emang bukan, sehun taukah itu..??
    ceritanya menarik kk…tp knpa hrs pake kata” (kakak sehun) knpa ga dikasih nama aja kk..?? bacanya jadi agak ribet gtu..

    • Bener gak ya???? Wkwkwk…*ditabok
      Eh, emangnya kenapa sama judulnya? :v
      Pft, tenang aja, semua pertanyaan kamu bakal ke jawab satu persatu satu kok. SO stay tune ya…
      Untuk nama kakaknya sehun itu bakal ke ungkap di chap lima, kayaknya.
      Bwuahaha ribetkah bacanya? Tapi aku sukanya kayak gitu*authorjahat
      Btw terima kasih ya

  3. Sebenarnya rahasia apa sih yang disimpan kakak nya sehun dan kenapa harus pindah ke seoul aku nggak percaya dengan alasan kakaknya sehun pasti ada maksud lain. Bukannya temannya sehun itu bukan pacar kakak nya sehun tapi kenapa diakui pacar. Hmm, makin penasaran sama kelanjutannya kak.

    • Rahasia apa ya? Hayo tebak…*digampar
      Temen sehun yang nganterin itu sekarang jadi pacarnya kakak sehun. Selama sehun sama kakaknya lagi perang dingin, si temennya sehun itu ngambil kesempatan deketin kakaknya sehun dan akhirnya jadian deh*kode keras, spoiler
      Terima kasih udah sempat datang ke mari^^

  4. Menurut aku jalan ceritanya cukup bagus, dan konflik yg mau di munculin juga cukup menarik. Tapi sebaiknya, moment” yg gk trlalu penting gk usah di munculin dan bisa diganti sama narasi atau monolog yang tentu aja bisa mempercepat cerita menuju konflik yang sebenernya. Dan biasanya klo “tbc” itu dimunculin waktu si tokoh utama mengalami suatu kejadian (perubahan fisik, maupun emosi).
    Btw, itu sekedar saran sih, so keep writing and good luck!^^
    Hope u can see me^^

    • Hai nulelfouds^^
      Sebelumnya terima kasih ya karena sudah sempat membaca bahkan mengomentari. ah ya, kamu pasti kurang sreg dengan percakapan tetangga itu ya? Kamu ngerasa kayak ada jarak kan pas adegan itu?
      Sebenernya saya pas waktu sebelum ngirim mau ngerombak adegan itu juga cuma saya lupa *nyengir watados
      Maaf ya atas ketidanyamanannya. Saya usahakan untuk next chap akan lebih hati hati. Dan lagi, ini tuh saya belum edit juga, jadi masih ada beberapa kata yang masih berantakkan*pft/ gak nanya
      Tapi kalo bukan adegan itu yang kamu maksud, saya rasa semua adegan yang saya buat adalah bagian yang terpenting. Ini udah singkat loh…
      Dan mengenai tbc, menurut saya terserah sama authornya mau dipotong di adegan manapun.
      Terima kasih atas sarannya^^
      Saya usahakan untuk kedepannya akan lebih baik *bow
      Sekali lagi, terima kasih.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s