[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 25)

draft.jpg

Tittle: DRAFT
by Tyar
Chapter | School life, Friendship, Romance | T
Cast
Sehun – Irene – Kai – Seulgi – With SM Artists.
Disclaimer
2016 © TYAR
Don’t claim my fiction!!

Visit my village – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

List: [Prolog | Chapter 1 – Chapter 24]

-25-

Ini akan menjadi weekend spesial. Setidaknya bagi Seulgi, bukan bagi Kai. Pada awalnya memang begitu, tapi sesuatu terjadi. Dan kali ini untuk pertama kalinya Kai membuat Seulgi menunggu lama sekali.

Tepat setengah jam sebelum jarum jam menunjukkan ke angka 4, Seulgi sudah siap di depan cermin dengan balutan casual yang membuatnya tampak manis. Rambutnya digerai begitu saja, dengan sebuah jepitan hitam panjang yang menahan anak-anak rambut di bagian kanan dahinya. Seulgi tersenyum. Mungkin dia bisa menyebutnya, kencan pertama? Benar, ini kencan pertama. Dan tidak salah lagi, Seulgi pastilah menyukai Kai –setidaknya itulah pikiran Kai, bukan pikiran Seulgi.

Satu tahun sudah Kai menyimpan perasaannya dan menyimpan penuh perhatian pada Seulgi di dalam dirinya. Seulgi tau itu –selalu tau. Selama itu, dia tidak pernah menyadari sesuatu bahwa Kai sedang menunggu. Dan Seulgi tidak pernah tau bahwa menunggu itu melelahkan.

Seperti saat ini. Tiga bus sudah lewat di hadapannya, dan Seulgi masih termangu di bangku halte sembari sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Tepat setengah jam semenjak dia menunggu, tapi pria itu tak juga menampakkan batang hidungnya sama sekali. Namun Seulgi sabar menunggu. Waktu bahkan belum berlalu satu jam, dia belum boleh beranjak kemanapun. Kai pasti datang, pikirnya.

Menit demi menit berlalu begitu lambat. Satu jam, dua jam, sekali lagi Seulgi melirik jam tangannya, nyaris tiga jam dia menunggu di sana. Seulgi bahkan sudah mulai mati rasa karena dia sama sekali tak beranjak dari tempat duduknya. Malam telah menyelimuti langit, aktivitas di sekitar halte itu masih ramai dengan lalu lalang. Gadis itu menghela nafas. Mulai menyadari bahwa menunggu itu melelahkan. Dia merasa payah, mengingat Kai sedang menunggu perasaannya selama berbulan-bulan. Bukankah itu sesuatu penantian semu? Menanti sesuatu yang tidak pasti keberadaannya, tapi Kai masih tak mau menyerah. Sementara dirinya hanya menunggu kedatangan sebuah sosok, berlalu tiga jam namun dia sudah ingin menyerah, rasanya Seulgi ingin segera menggerakan kaki untuk beranjak dan meninggalkan tempat itu.

Tapi dia masih ingin menunggu, entah kenapa. Tubuhnya sudah mulai lelah, tapi hatinya masih enggan untuk beranjak.

Pukul 8 malam. Tepat 4 jam sudah semenjak dia menunggu. Seulgi nyaris saja bangkit dari tempat itu hingga seseorang berlari ke arahnya.

Gadis itu mengangkat kepala, menoleh dan menemukan Kai tengah terangah-engah di dekatnya. Namun pria itu tampak sangat lega, kemudian duduk di sampingnya. Seulgi lantas tersenyum.

“Awalnya kupikir kau tidak akan menunggu, jadi tadinya aku pun tidak akan datang. Tapi perasaanku benar-benar terganggu. Dan ternyata kau –“

“Masih menunggu.”

Kai tersenyum, hatinya sungguh tersanjung. Empat jam dia membiarkan seorang gadis duduk di bangku halte sendirian. Tapi gadis itu masih dapat menampakkan seulas senyum padanya. Lelaki itu menghembuskan nafas lega.

“Aku benar-benar minta maaf, Seulgi. Siang tadi ibuku masuk rumah sakit karena dia terpeleset dan jatuh di tangga kantor. Itu sangat membuatku khawatir jadi sejak tadi aku terus berada di rumah sakit, kemudian berusaha secepat mungkin untuk datang kemari.”

Kini raut wajah Seulgi turun, tampak sedikit menyesal dengan apa yang baru saja di dengarnya, “Apakah Ibumu baik-baik saja?”

Kai mengangguk mantap, “Ibuku mengalami cedera di punggung dan kakinya, tapi selebihnya dia sudah baik-baik saja.”

Sunbae tidak kemari pakai bus, ‘kan?” Seulgi memastikan.

Lelaki itu menggeleng dan tertawa. “Tidak mungkin. Sejak dari rumah ke rumah sakitpun aku sudah memakai mobil. Begitupun juga saat kesini, supirku memakirkannya di salah satu kafe,” tangan Kai menunjuk ke arah darimana dia berlari tadi. “Dan kau? Kenapa menungguku?”

Sunbae, aku lapar.” Alih-alih menjawab pertanyaan Kai, Seulgi lantas berdiri dan tersenyum lebar. Sungguh, dia sangat lapar.

Kai lalu segera berdiri, “Oh? Kau mau makan apa? Di sekitar sini banyak tempat makan, bukan?”

Seulgi meraih tangan Kai kemudian menariknya untuk berjalan bersama. Beberapa detik Kai tampak salah tingkah dan gugup. Sampai Seulgi melepaskan tangannya, lelaki itu masih tersipu dan gemetaran.

Keduanya berjalan bersama, melewati kafe-kafe atau toko-toko kecil. Kemudian berjalan di antara pedagang-pedangang jajanan kaki lima. Seulgi mengajak sunbaenya itu berhenti, untuk sekadar mencomot setusuk odeng kemudian menggigitnya.

“Hmm. Enak.”

Kai menatap ekspresi Seulgi yang jenaka, kedua matanya menyipit dan nyaris menghilang. Pipinya menyembul kala mengunyah salah satu jajanan pinggiran itu. Lantas Kai pun mengambil setusuk tteokbokki. Dia tau rasa tteokbokki itu seperti apa. Tapi entah kenapa, kali ini rasanya 2x lipat lebih enak dari biasanya.

“Sebenarnya aku tidak tau kau akan datang, sunbae.” Masih menikmati makanannya, Seulgi mulai membuka percakapan yang sempat dijeda.

“Tapi? Kenapa kau masih menunggu?”

Seulgi mengedikkan bahu. “Aku hanya berat untuk beranjak. Padahal aku tau kalau aku sudah pegal menunggu.”

Kai tertawa kecil, “maaf soal itu. Sungguh. Aku akan menganggantinya dengan mentraktirmu. Jadi ambilah apa saja yang kau mau sepuasnya.”

Gadis itu ikut tertawa, kali ini mengambil setusuk tteokbokki seperti Kai. “Tenang saja, aku tidak banyak makan, kok.”

Setelah membayar, keduanya beralih ke jajanan yang lain. Kai begitu semangat mengambil 2 tusuk tornado potato lalu memberikannya satu untuk Seulgi sebelum dia membayar.

“Untung saja yang aku traktir itu kau, coba kalau Irene? Bisa habis isi dompetku hanya dalam satu malam.”

Seulgi tertawa. “Aku yakin kau tidak akan pernah melakukan itu.”

“Tentu saja. Jika ada yang harus mentraktirnya, itu pasti Sehun. Bukan aku.”

“Mereka seperti sepasang kekasih.”

Kali ini Kai mengambil satu cup berisikan bertusuk-tusuk gurita dan cumi-cumi kering. Dan membiarkan Seulgi mengambil setusuk di dalamnya.

“Semua orang mengatakan itu, aku bosan. Sehun benar-benar bodoh. Jelas-jelas dia menyukai Irene, tapi terus saja mengelak. Mungkin isi otaknya sudah terlalu penuh dengan rumus dan semua teori yang dia dapat dari sekolah.”

Sekali lagi, Seulgi tertawa mendengar itu. Itu berarti perasaan Irene sunbae terbalas. Pikirnya.

“Benarkah? Sehun sunbae menyukai Irene sunbae?”

Kai mengedikkan bahu, “Entahlah. Itu persepsiku saja.”

“Aku tidak tau, tapi aku setuju denganmu.”

“Benar, ‘kan?”

Seulgi mengambil lagi satu tusuk cumi-cumi dari cup di genggaman Kai kemudian mengangguk, “Matanya selalu tampak berbeda jika sedang bersama Irene sunbae. Bukankah kebanyakan orang selalu membicarakan mata orang-orang yang sedang jatuh cinta?”

“Kau benar.”

Keduanya kini berakhir di salah satu bangku kafe yang terletak di halamannya. Seulgi duduk menunggu Kai yang sedang memesan 2 cup minuman dingin, sembari memperhatikan lalu-lalang yang masih mengisi keramaian malam weekend. Meski dia harus menunggu sampai 4 jam lamanya. Tapi malam ini cukup menyenangkan bagi Seulgi. Untuk pertama kalinya, mereka berjalan berdua dengan nyaman dan santai, mengobrol banyak hal yang membuat keduanya saling bertukar tawa dan senyum. Semuanya indah –setidaknya untuk malam ini saja.

Kai kembali dengan senyuman yang masih merekah, kemudian menyerahkan minuman milik Seulgi dan duduk di hadapannya.

“Kau tau? Ini benar-benar hari yang aneh untukku.”

Wae?

“Karena dalam hari yang sama aku hampir menangis ketakutan tapi juga merasa sangat bahagia. Terima kasih sudah menerima ajakanku, Kang Seulgi. Dan sekali lagi, maaf membuatmu menunggu lama.”

Seulgi tersenyum, “Jangan meminta maaf lagi, sunbae. Selama menunggu aku akhirnya menyadari sesuatu.”

“Menyadari sesuatu?” Kai tidak bohong, kini hatinya mulai berharap-harap cemas. Berpikir bahwa mungkinkah Seulgi –?

Gadis itu tersenyum tipis, “Menyadari bahwa menunggu itu sangat melelehkan. Maksudku, aku tidak bisa membayangkan  betapa melelahkannya kau menungguku, sunbae. Karena itu aku jadi merasa bersalah.”

Kai diam sejenak, mencoba mencerna kata demi kata yang baru Seulgi katakan. Dan dia tak menemukan satupun kata yang sudah sangat dia harapkan selama ini. Namun disisi lain, dia pun merasa bersalah karena sudah membuat Seulgi menyadari bahwa dirinya selama ini sudah menunggu. Lantas dia tersenyum.

“Jangan merasa bersalah. Itu tidak melelahkan, kok. Aku menunggu karena aku memang ingin menunggu.”

“Jangan lakukan itu lagi.”

“Eh? Ke-kenapa?”

Seulgi menyesal melakukan ini, tapi memang sejak awal dia menerima ajakan Kai adalah untuk mengatakan hal ini. Katakan Seulgi mungkin akan menyakiti hati Kai tanpa sengaja. Namun hanya ini rencana yang dia punya.

“A-aku menyukaimu, sunbae. Tapi –“

Kai menahan nafas demi mendengar kalimat singkat yang begitu lancar keluar dari bibir Seulgi itu. Jantungnya bekerja lebih ekstra sekarang, dan meskipun semilir angin baru saja membelainya, namun keringat mulai membasahi belakang lehernya.

“Tapi?”

“Tapi aku tidak bisa memulai sesuatu denganmu, maaf.”

Hening beberapa saat. Kai masih belum sadar dengan maksud dari perkataan Seulgi. Dia diam, menatap gadis di hadapannya dengan mata bulatnya yang memancarkan sebuah pertanyaan.

“Maksudku, kau bisa berhenti menunggu untuk saat ini. Aku menyukaimu, entah karena apa. Tapi aku tidak bisa memulai sebuah hubungan yang kau harapkan, sunbae. Tidak saat ini, tidak nanti. Karena itu aku ingin kau berhenti menunggu sesuatu yang aku sendiri tidak bisa memastikannya. Seperti yang pernah kau katakan padaku, kita tidak tau apa yang akan terjadi 5 tahun kedepan. Jadi –“

“Tidak masalah.” Cukup. Kai tidak mau mendengar kalimat selanjutnya, apapun itu. Dia tersenyum meski terpaksa. Namun itulah keputusan Seulgi, dia harus mengharagainya. Lagipula, baginya itu adalah sebuah kepastian yang sudah dinantinya. Benar, ‘kan? Akhirnya Seulgi memberi jawaban. Perasaannya terbalas. Sudah jelas. Namun hanya sebatas itu, tidak lebih. Bukankah dia seharusnya senang?

“Terima kasih, Seulgi-ah. Sungguh, aku senang mendengarnya. Tapi, apakah aku akan tetap menunggu atau tidak, biarkan aku saja yang memutuskan.”

Kali ini air muka Seulgi turun, tak lagi tersenyum atau apapun. Dia hanya merasa bersalah, sudah membiarkan laki-laki sebaik Kai menanti sesuatu yang tidak bisa dia pastikan.

XxxX

Sepotong permen karet manis yang sejak tadi dikunyahnya, menemani Irene yang tengah asik mengerjakan PR sekolah. Sampai matanya tak sengaja melirik kalender kecil yang berdiri tepat di hadapan bukunya. Irene tiba-tiba termangu.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, telah berlalu tanpa terasa. UTS baru saja selesai seminggu lalu. Dan kehidupan sekolah Irene semakin menipis, aktivitasnya masih sama. Berat tapi juga ringan karena selalu ada Sehun yang membantu.

Sehun.

Hanya ada 3 bulan saja waktu yang tersisa baginya untuk bisa berada di sisi Sehun. Di saat Kai dan Sehun sibuk menyiapkan segala keperluan untuk mendaftar kuliah, Irene tampak tidak melakukan apa-apa. Lebih tepatnya, membiarkan Ayahnya yang mengurus semuanya.

Sebuah brosur yang sejak beberapa hari lalu Ayahnya berikan, masih tergeletak di atas meja belajar. Tepat berada di dekatnya, dia pun meraih lipatan kertas itu dan menatapnya dengan sendu. Dia akan ada di sana sebentar lagi. Salah satu Universitas dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis terbaik di Amerika sana. Universitas yang tidak akan jauh dari tempat pamannya tinggal. Irene masih ingat sekali ketika beberapa hari lalu, pamannya menelepon dan mengajaknya berbicara dalam bahasa Inggris, pria yang 3 tahun lebih tua dari Ayahnya itu begitu semangat dan antusias menanti kedatangan Irene. Sementara dirinya, kini nyaris menyerah untuk berhenti berharap sesuatu akan terjadi dan membuatnya tetap di Korea.

Irene berpikir keras, mana yang lebih penting? Mengungkapkan perasaannya pada Sehun sebelum pergi? Atau memberi tau Sehun bahwa dia akan melanjutkan pendidikan di Amerika? Atau keduanya?

Tidak ada ide yang bagus untuk itu. Keduanya sama-sama sulit untuk diungkapkan. Membayangkannya saja Irene tidak sanggup. Dia selalu tidak bisa menemukan momen yang tepat untuk membicarakan salah satu di antara keduanya. Atau sekadar ingin memberi tau bahwa mereka akan berpisah di hari kelulusan, Irene tidak tau bagaimana caranya.

Merengek pada Ayah bukanlah hal yang akan berguna. Percuma saja. Tekad Ayahnya sudah bulat bahwa Irene harus belajar di Amerika, dan mempraktekkannya langsung bersama sang paman. Demi menjadikan Irene sebagai wanita mapan di masa depan, juga demi menjauhkannya dari anak laki-laki tanpa asal-usul bernama Oh Sehun, Ayah tidak akan pernah mau mengabulkan permohonan Irene untuk tetap tinggal.

XxxX

“Yang sampai paling terakhir, traktir es krim!” Dari luar pintu kelas, Irene berseru pada kedua sahabatnya yang baru saja keluar dari kelas mereka. Bel terakhir baru saja menggema beberapa menit lalu. Lantas Irene menjulurkan lidah kemudian berlari menuju perpustakaan, tidak akan pernah membiarkan dirinya mentraktir es krim.

Kai tersenyum menantang, lalu menyusul Irene sekencang yang dia bisa. Sementara Sehun sudah mengerjap dan menghela nafas sebal. “Kumohon, tidak lagi.”

Selalu saja, di antara Irene atau Kai pasti akan berlomba hanya demi seporsi es krim di kedai dekat halte. Dan Sehun tidak pernah menang. Laki-laki sekalem dirinya, enggan berlari-lari hanya untuk suatu hal yang konyol. Itu terlalu kekanakkan. Sehun tidak berlari kecuali hanya untuk olahraga. Tangannya merogoh dompet lalu menghembuskan nafas, memastikan uang miliknya akan cukup.

Sesampainya Sehun di meja tempat ketiganya biasa belajar bersama, Kai dan Irene sudah tertawa penuh kemenangan sambil mengeluarkan buku cetak dan beberapa catatan lainnya. Lantas Sehun duduk dengan tenang.

“Kalian benar-benar tidak punya rasa kasihan, ya. Tidak ada bosan-bosannya melakukan itu dan mengurasi isi dompetku yang pas-pasan.”

Irene terkikik pelan, “Sudah kubilang berapa kali, makanya lari, Sehun, lari!”

Kai mengangguk setuju, “Nilai olahragamu selalu sempurna, Sehun. Apa susahnya lari, sih?”

“Jadi sebenarnya kalian ingin ditraktir atau ingin melihatku berlari mengejar kalian, oh?

“Keduanya.” Kai dan Irene tertawa lepas bersama. Tidak merasa kasihan sama sekali pada sahabatnya itu.

“Sssttt!”

Tawa mereka segera terbungkam oleh teguran Nyonya penjaga perpustakaan yang paling jutek.

XxxX

Irene menelusuri rak buku yang berdiri tepat di ujung perpustakaan, mencari sesuatu yang mungkin saja dapat membantunya menemukan beberapa teori yang tengah dicarinya. Sampai dia menemukannya, buku itu berada di bagian atas, tepat diujung batas kemampuan tangannya meraih. Irene sudah berjinjit, berusaha meraihnya. Padahal tinggal sedikit lagi, namun mungkin dia memang butuh bantuan petugas perpustakaan untuk mengambilkannya dengan sebuah tangga kecil.

Irene sedikit melompat untuk usaha terakhirnya, namun butiran-butiran debu yang tersentuh olehnya berterbangan tepat ke atas matanya. Gadis itu mendesis, mengaduh karena merasakan sesuatu mengganjal di dalam matanya. Dia terus mengedipkan mata, bahkan menguceknya berusaha untuk mengeluarkan sesuatu itu. Namun tidak berhasil.

“Irene, wae?” sebuah suara tau-tau saja sudah berada di dekatnya. Suara Sehun, dia hafal sekali.

“Mataku kelilipan.” Keluh Irene pelan.

Lantas tanpa menunggu apapun, kedua tangan Sehun segera menangkup wajah Irene, mengangkatnya agar dia bisa meniup mata gadis itu. “Buka matamu,”

Irene mencoba membuka matanya meski berat karena menahan sesuatu yang mengganjal matanya. Lelaki itu langsung meniup mata Irene, sekali dua kali, terus meniupnya sampai Irene merasa matanya terasa bebas dan lebih baik.

“Bagaimana?”

Irene mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian kali ini benar-benar membuka matanya dengan lebar. Baru saja dia akan menjawab pertanyaan Sehun bahwa sesuatu yang mengganjal itu sudah tak terasa lagi olehnya, pergerakan Irene tiba-tiba saja terhenti. Matanya kini dengan jelas menangkap wajah Sehun yang begitu dekat dengannya. Kedua tangan besar Sehun masih setia mendekap kedua sisi wajahnya. Bak sihir mematikan, bening mata Sehun berhasil membuatnya membeku untuk yang kesekian kali.

Dan sekali lagi Sehun kehilangan kesadaran. Lelaki itu diam dalam posisinya, menyelami keindahan mata Irene dengan tenang, seolah tak ada siapapun di dunia ini selain mereka berdua. Pria itu merasakan deru nafas Irene yang berat mengelus lembut permukaan wajahnya, dan itu tidak cukup untuk mengembalikan kesadaran Sehun seperti semula.

Irene menelan ludah, dia susah payah mencoba menahan nafas, tetap malah semakin berat berhembus. Dia tidak mampu beranjak, mengingat mungkin itu akan menjadi momen terakhir yang akan dialaminya bersama Sehun. Beberapa bulan lagi, Irene bahkan tidak akan bisa lagi menatap mata teduh itu. Beberapa bulan lagi, Irene tak akan pernah bisa merasakan lagi betapa hangatnya tangan Sehun, betapa nyamannya dia berada di dekat Sehun.

Tanpa gadis itu sadari, kedua tangannya bergerak mendekap tubuh lelaki itu dan melepaskan kepalanya dari genggaman Sehun demi merasakan kehangatan dadanya sekali lagi. Butuh beberapa detik sampai Sehun menyadari bahwa detik ini Irene tangah memeluknya. Dan entah kenapa, dia membalasnya begitu saja. Di balik rak itu, tak ada siapapun kecuali Sehun dan Irene yang saling mendekap tanpa alasan. Sore itu, sistem perekam dalam memori Irene bekerja keras untuk menyimpan setiap inci ingatan mengenai Sehun, tangannya, serta pelukannya yang takkan dia rasakan lagi. Besok-besok, keduanya akan bersikap sama seperti biasa seakan sore itu tidak pernah terjadi apa-apa.

XxxX

Waktu tidak akan pernah sudi menunggu. Dia akan terus bergulir, detik demi detik hari demi hari dan minggu demi minggu, Irene membiarkan hari-hari melewatinya begitu saja tanpa bisa dia gunakan untuk sekadar jujur akan sesuatu. Dia tau Seulgi dan Kai sudah selangkah lebih maju ketimbang dirinya meskipun mereka tidak berakhir bersama. Gadis-gadis junior itu pun bahkan nyaris membawa Sehun ke kencan pertama jika saja Sehun tidak sedang dalam fokus tingkat tinggi untuk menghadapi ujian.

Semua berlalu sama. Dan Irene masih bersembunyi di dalam dirinya sendiri.

“Kali ini yang sampai paling terakhir, traktir seporsi tteokbokki!” Tepat ketika Sehun dan Kai sudah berada di tempat Irene berdiri, gadis itu berseru semangat dan mengambil ancang-ancang untuk berlari. Hari itu, ada senyum getir yang terpancar dari bibir Irene tanpa disadari siapapun. Hari itu, akan menjadi hari terakhir mereka untuk belajar bersama sebelum ujian akhir benar-benar dilaksanakan pada hari Senin dua hari lagi. Dan Irene hanya berharap hari ini Sehun akan berlari mengejarnya.

“Siapa takut!” Kai membalas.

Ya! Kumohon –“ Sehun baru saja akan protes habis-habisan. Sampai Irene tersenyum ke arahnya penuh arti. Kai sudah mulai berlari menuju perpustakaan, namun gadis itu masih berdiri di tempatnya.

“Kejar aku, Sehun-ah.” Gumam gadis itu kemudian mundur beberapa langkah lantas berlari menyusul Kai.

Sehun terpaku di tempatnya. Meskipun ini akan menjadi yang terakhir, tapi siapa yang tau Irene atau Kai akan mengulanginya lagi di tempat lain demi mendapat makan gratis? Sehun menghela nafas pasrah. Baiklah, dia akan berlari.

Maka keinginan Irene itu tercapai sudah, Sehun berlari mengejar mereka di koridor menuju perpustakaan. Sesekali Kai dan gadis itu menoleh kebelakang dan mendapati Sehun sudah satu langkah di dekat mereka, membuat mereka tertawa. Irene sedikit demi sedikit memperlambat kecepatannya, membiarkan dia menjadi pentraktir selanjutnya.

Aku harap aku bisa berlari bersamamu, mengejar masa depan.

XxxX

Hari-hari ujian berlalu begitu cepat. Sehun dan Kai beberapa kali menanyakan soal Universitas tujuan Irene. Kai bahkan beberapa kali membicarakan Suneung atau ujian masuk ke perguruan tinggi, berbicara seolah ketiganya masih akan bersama pada hari yang di nanti itu.

Namun jawaban Irene selalu tidak lebih dari, “Saat wisuda nanti kalian akan tau.”

Ya, Irene akan mengatakannya nanti. Sanggup atau tidak, dia tau dialah yang akan mengakhiri semuanya dengan kejam.

Beberapa hari sebelum hari wisuda, Kai mengunjungi perpustakaan untuk yang terakhir kalinya. Lelaki itu membuntuti Seulgi yang sibuk mengisi jadwalnya sebagai petugas perpustakaan. Dari rak ke rak, Kai terus memperhatikan gadis itu dengan tenang.

Sampai gadis itu mengalah dan menoleh menatap Kai. Lelaki itu terkejut.

“Aku tau sejak tadi kau disana, sunbae.”

Kai hanya memberi cengirannya sambil mengusap leher belakang. Kakinya melangkah dan mendekat.

“Dengar Seulgi, aku tau aku terdengar sedikit memaksa. Tapi, aku –“

Sembari meletakkan beberapa buku di tempatnya semula, Seulgi tersenyum tipis. “Maaf, sunbae. Tapi aku harus fokus, begitupun juga denganmu. Pikirkan dulu ujian masuk Universitasnya.”

Kai bergeser, memunggungi rak besar itu dan bersandar di sana. “Tapi kita tidak tau apa yang akan terjadi dua sampai lima tahun kedepan.”

“Justru karena kita tidak tau apa yang akan terjadi. Masih terlalu cepat bagiku untuk memulai sesuatu.”

Lelaki itu menghembuskan nafas, “Jadi kita berpisah disini? Maksudku, aku tau mungkin aku akan tetap mengunjungimu selama kau masih disini. Tapi, aku tidak yakin.”

Seulgi berhenti dari aktivitasnya, kemudian melangkah mendekat dan bersandar di samping Kai.

Sunbae,” bisik gadis itu seraya menatap Kai dengan senyum tipisnya. “Aku tidak tau apakah di masa yang akan datang kau dan aku akan kembali saling mengenal. Tapi jika hanya 4 atau 5 tahun lagi kau menemukanku, aku harap perasaanmu masih sama.”

“Aku tidak akan menunggu sampai 5 tahun. Setiap saat aku akan menemuimu untuk meyakinkanmu kalau aku masih di tempat yang sama.”

Seulgi tersenyum lagi, “terima kasih. Tapi aku harap kau tidak melakukan itu.”

Tepat beberapa detik setelah itu, Kai mendekatkan wajahnya lantas mengecup lembut bibir Seulgi yang manis. Beberapa detik berlalu begitu cepat. Kai tidak sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya, keduanya kini saling menatap, membeku di tempat masing-masing. Bola mata gadis itu membulat, tubuhnya memberi respon terlambat. Kejadian itu terjadi setengah menit lalu tapi tubuhnya masih gemetaran.

Sore itu, Kai tidak akan pernah lupa dengan apa yang dilakukannya, juga apa yang sudah di janjikannya.

XxxX

Selama upacara wisuda berlangsung, Irene terus saja tidak dapat berhenti melamunkan banyak hal. Termasuk mengenai ponselnya yang harus disita sang Ayah untuk 4 tahun kedepan. Itu kejam, dan sangat menyedihkan.

“Aku punya ponsel baru untukmu,” sebelum Irene turun dari mobil di parkiran sekolah, Ayahnya menyerahkan sebuah kardus berisi iPhone terbaru padanya. Irene tersenyum lebar. Itu hebat, pikir Irene pada awalnya.

“Berikan ponsel lamamu, “ gadis itu hendak membuka tutup belakang ponsel lama miliknya untuk mengambil kartu SIM di dalamnya, namun tangan Ayah bergerak lebih cepat, merebutnya dari tangan Irene. “kau tidak membutuhkan nomor lamamu. Ponsel barumu akan siap kau gunakan jika sudah kau pasang nomor Amerika. Setelah itu, maka kau harus menghubungiku saat di sana.”

Irene mengedipkan mata demi membuang ingatan beberapa dua jam yang lalu itu.

Setelah upacara wisuda selesai, berbagai kelompok berkerumun, berkumpul dan saling mengucapkan kata selamat, membicarakan rencana masa depan, pesan-pesan manis antar sahabat dan lainnya.

Setelah asyik dengan teman-teman mereka, Irene segera menghampiri Sehun dan menarik tangannya untuk menghampiri Krystal yang tengah memegang sebuah polaroid, “Ya! Kali ini kau harus melakukannya dengan benar, Krystal.”

Krystal tersenyum senang, melihat Sehun dan Irene sudah berdiri berdampingan. Irene tau dia sedang dalam keadaan emosional, namun sesuatu mendorongnya begitu keras untuk tersenyum selebar dan secerah mungkin.

“1…2.. Ck,” Krystal menurunkan polaroidnya, “Ya! Oh Sehun kau benar-benar tidak bisa tersenyum sekali saja untuk ini?”

Irene menoleh dan mendapati wajah Sehun yang kaku. Lelaki itu mungkin akan tersenyum jika Kai yang mengambil foto mereka di tempat sepi. Masa bodoh, maka Irene segera menarik kedua pipi Sehun tanpa ampun agar lelaki itu tampak seolah-olah sedang tersenyum.

Krystal tertawa melihatnya, namun itu kesempatan bagus sehingga dia tak ragu untuk mengabadikan momen itu.

Ya! Bisakah kau membiarkan ini berjalan natural saja, oh?!” Protes Sehun sebal sembari mengusap kedua pipinya. Irene hanya tersenyum lebar.

Krystal menghampiri keduanya dengan 2 lembar foto yang baru saja keluar dari polaroid miliknya. “Percayalah, foto ini akan sangat cocok untuk kenang-kenangan.”

Setelah gambarnya muncul, gadis itu memberikan foto itu pada keduanya masing-masing satu dengan gambar yang sama.

Irene tampak sangat senang dan menyukainya, dia tersenyum lebar dan memekik puas. Sementara Sehun hanya menghembuskan nafas memandang foto itu. Terserah saja, yang penting Irene puas dan senang dengan itu.

Namun kebahagiaan yang terpancar di wajah gadis itu seketika luntur ketika salah satu guru menghampiri mereka dan menyampaikan pada Irene bahwa kedua pengawalnya sudah menunggu di luar aula.

Sehun menatap Irene penasaran, “Ada apa?”

“Aku harus pergi,” suara Irene tercekat seketika. Setelah memandang Sehun beberapa saat, dia lantas menarik tangan Sehun untuk melangkah menuju pintu aula.

Sehun kini dilanda kebingungan, dan itu semakin menjadi kala keduanya menemukan 2 pria berjas rapi tengah berdiri menunggu di dekat pintu, dan Irene berbicara serius pada mereka, “beri aku waktu. Aku harus bicara dengannya.”

Salah satu dari mereka mengangkat pergelangan dan menatap jam yang melingkarinya, “Kau punya 10 menit, Nona.”

Irene menghela nafas kemudian menghadap Sehun dengan tatapan serius. “Dengar, Sehun-ah. Aku tidak tau harus memulai darimana, tapi,” gadis itu menelan ludah. Frustasi karena dia nyaris saja gila untuk berusaha susah payah agar dapat mengatakan semuanya hanya dalam waktu 10 menit.

“Aku…” Irene semakin tak kuasa ketika memandangi wajah teduh Sehun yang menunggu. “Terima kasih banyak untuk semuanya. Untuk segala hal yang telah kau berikan padaku selama ini, untuk semua yang telah kita lewati bersama. Terima kasih banyak karena sudah menjadi sahabat terbaik. Kau tidak akan bisa membayangkan betapa bahagianya aku bisa mengenalmu dan Kai,” mata Irene berkaca-kaca, namun dengan susah payah dia menahannya untuk tidak meluncur begitu saja dari pelupuk matanya.

Tetapi Sehun yang ada di hadapannya malah memberi senyum yang tipis, juga tulus. Membuat Irene semakin tidak kuasa. “Jangan tersenyum, Sehun-ah.

Dahi lelaki itu mengkerut. “K-kenapa?”

“Aku sedang mengucapkan kata perpisahan, Sehun.”

“A-apa? Apa maksudmu?”

Irene menghela nafas. “Aku tidak banyak waktu. Tapi sungguh, aku sangat-sangat minta maaf. Aku –“ sekali lagi, dia menelan ludah. Tenggorokannya amat berat mengeluarkan semuanya. “Aku akan kuliah di Amerika.”

Hening beberapa saat. Sehun termangu, berusaha mencerna sebaris kalimat yang baru saja dia dengar. Namun kemudian ekspresi tenangnya berubah menjadi dingin dan tegang.

“Dan aku harus pergi sekarang juga. Aku tau aku sangat-sangat jahat karena tidak pernah bisa mengatakannya padamu dan Kai. Tapi aku benar-benar tidak sanggup, Sehun-ah. Ini bukan keinginanku. Ini sudah menjadi keputusan Ayah sejak tahun lalu.” Nafas Irene tercekat lagi, menatap wajah Sehun yang tampak semakin dingin dan semakin dingin. Lantas Irene bergumam dengan suara yang bergetar, “Sungguh, maafkan aku.”

Sehun menelan ludah, “Kau akan menghubungiku setelah sampai di sana, ‘kan?”

Irene menggigit bibir kemudian menggeleng, “Ayah akan mengembalikan ponsel lamaku jika aku bisa berhasil lulus dari Universitas dengan hasil terbaik.”

“Kau harusnya mengatakan ini sejak awal, Bae Irene.” Gumam Sehun gusar. Dengan gerakan cepat, dia menarik tubuh Irene ke dalam dekapannya. Entah itu pelukan perpisahan atau pelukan ketidak-relaan.

Irene menyadari waktunya tidak banyak, setelah menikmati dekapan erat Sehun, dia melepaskan diri dan kembali menatap lelaki itu. “Ada satu lagi yang harus aku katakan,”

“Nona, Tuan Bae sudah memanggil,” salah satu pengawal yang menunggu di belakang Irene menyahut sembari mengangkat ponsel yang menunjukkan nama Tuan Bae tengah memanggil. “Kita tidak bisa terlambat barang satu menit saja.”

Irene mendengus, menelan ludahnya untuk kesekian kali. Andai dia bisa, andai dia bisa melakukan seuatu selain menerima kenyataan bahwa perpisahaan ini memang harus terjadi.

“Irene, a-aku –“ Sehun hendak mengatakan sesuatu yang berada di luar bayangannya, sesuatu yang selama ini telah salah dia tafsirkan.

Namun Irene segera berjinjit dan mengecup pipi Sehun dengan singkat. Membungkam segala pergerakan tubuh Sehun, membuatnya membeku dan tak dapat melakukan apa-apa. Selain menatap Irene yang melambaikan tangannya dengan ragu lalu melangkah mundur dan berjalan bersama kedua pengawalnya. Meninggalkan dirinya yang tak sanggup beranjak.

“Aku tidak percaya, dia benar-benar jahat.” Tiba-tiba Kai keluar dari pintu aula yang selama acara wisuda terus terbuka, dia berdiri di dekat Sehun sambil menatap Irene tak rela.

Satu tahun berlalu tanpa terasa bagi Sehun. Pertemuan itu, pertemanan, semua hari yang telah berlalu bersama, dan segala kekacauan yang pernah terjadi, telah merubah Sehun sampai ke akar-akar. Keberadaan Irene begitu berharga. Satu-satunya yang berhasil membuat senyum Sehun kembali, satu-satunya yang telah membawa warna ke dalam hidupnya yang abu. Sehun menyesal, andai saja dia tidak pernah bertemu dengan Irene. Mungkin dia tidak akan kembali merasakan betapa menyiksanya kehilangan. Dan hari ini, di tengah koridor yang senyap, sekali lagi dalam hidupnya Sehun menatap kepergian. Semua berubah saat Irene hadir, dan semua juga berubah saat Irene pergi.

Dan semenjak hari itu, senyum Sehun tidak pernah tampak lagi.

| to be continued |

Catatan (gak) penting:

HAAAAAAIIIII TYAR KEMBALIII. HUAHAHAHAHAHAHAHH. Aduh ini sebenernya ane merasa berdosa dan jahad. Soalnya ane udah sering ngilang mulu, udah gitu habis hiatus, terus kembali dengan satu chapter menyedihkan dan detik-detik menuju tamat. WWKWKWKWKWKWK. /dibuang umat/

Aku harap gak ada yang salah paham dan menuduh aku sudah tidak berhasrat lagi pada DRAFT. Enggak, ko enggak. Duh ini FF pertama tjuy. Spesial. Sejak awal emang ceritanya harus begini. Di dalem kerangka ceritanya juga memang begini. Yah, emang udah jalannya sehun harus dipisahkan dari irene demi membangun masa depan dengan tyar T__T /plak/

Aku gak ngebales komenan-komenan reader di chapter sebelumnya maaf ya. Tapi aku udah baca semua ko. Untuk yang kesekian kalinya makasih banget yang masih setia ngikutin FF TIDAK BERFAEDAH ini sungguh sungguh makasih. T__T

Sepertinya tempat ini beneran bisa dijadikan kesempatan buat promosi deh /plak/. Silahkan cek en ricek tyar’s new FF disini > EL DORADO. Also, visit MY VILLAGE dan berkenalan di MY HOUSE. Find me on WATTPAD juga sekalian. /lengkap sudah/ wkwkwkwkwkwkwkkk.

Iklan

30 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 25)

  1. SEHUUUNN SERIUS SUMPAH (gak tau bingung si sehun gak bisa dijelasin pake kata kata). Ayo bangkai ralat bang-kai kuat bang kuat (kuat apaan?), ff-nya buat bafer 😆

  2. Kok ngerasa seulgi aku banget ya thor? Wkwkwk. Mau dong dicium kai😗 sedih kalo HunRene akan berpisah😢 bapaknya Irene JAAD kesel banget bapak macam apa maksa anaknya pdhl anaknya ga ikhlas😤 thor jgn tamat kek aku bener2 menikmati banget baca draft kalo emg mau tamat moga HunRene dan KaiSeul tak terpisahkan yaa pokoknya harus happy ending biar semua bahagia😄😉 ditunggu next chapter thor👌

  3. Astagaaa aku ketinggalan fanfiction favorit sepanjang masa ini updateeee!!! 😭
    Kalo yg ini, udah tinggal dikit juga yaa?
    Semoga endingny bahagia yaaa 🙏🏻
    Semangaatt, ditunggu selalu lanjutannyaa 😁

  4. huaaaaaaaa ini beneran mewek asli, author ya ampunnnn, gue gak berenti nangis ini, gimanaaaaa

    asli baperrr, ngena banget apalagi pas kata2 perpisahan irene, terus pas sehunnya meluk irene, bagian irene pengen Sehun kejar dia bikin mewek juga….
    tau ah ceritanya muter terus di otak bikin nyesekk

  5. Huaaaaaa nyesek sendiri bacanya T_T
    Masih baper nih tyar
    Cerita ini udan mendekati ending ya?;(
    Buat cerita lain tentang sehun irene dong kalo bisa sih di wattpad biar gampangan bacanya><
    Ngomong ngomong aku juga udah ngefollow kamu di wattpad
    Ditunggu pake banget kelanjutannya^^

    • iya nih mau ending huhu :((
      Aku punya ff hunrene yang lain ko, di wattpad juga ada kan hihi tapi itu juga mau tamat sih /plak/ :v
      makasiyaa selamat menunggu~~

  6. Next chapter eon, penasaran apakah 4-5 tahun lagi HunRene Dan SeulKai akan bertemu dan bersatu (berharap happy ending)
    Oenni semangat kuliahnya, hwaiting.

  7. gue kesel deh, tdi gue komen pnjang kali lebar dan wktu gue post, error, sinya burukk
    huh. gue berterima kasih lu update POL dan draft. mskipun keduanya tntang perpisahan -.-‘
    tapi bnran gue bersyukur hihi
    dan chapter ini gue rasa terburu2, tapi itu mnurut pribadi gue sih.
    gue hrap lu npati jnji untuk sgera namatin daft dan Pol. fighting!!!

  8. Plis ayahnya iren nyebelin dah -___-
    Gak tau harus ngomong apa lagi -__-
    Tetep semangat buat kakak penulis 💪💪💪💪💪💪💪

  9. SERIUS DAH. AL BOLEH BERKATA KASAR GA??? RASANYA PENGEN MASUK KE DUNIA MEREKA DAN NAMPOL BAPAKNYA IRENE 😂😂😂 DRAFT IS ONE OF MY FAVORITE FANFICTION, HAHA. I HOPE THE BEST FOR THE ENDING YA, KAK TYAR. FOR BOTH OF THEM, HUNRENE & KAISEUL😉

    #MAAFKAN
    #CAPSLOCK
    #JEBOL
    #HAHAHAHAHA

  10. Huaaaaaaaaaa
    Irene jadi pisah sama sehun ..
    Semoga pas irene pulang dr amerika bisa ketemu sehun kembali tanpa ada halangan dr appa irene .
    Makin daeebaakk thor cerita nya , semangat lanjut cerita nya thor 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s