[EXOFFI FREELANCE] As Always As Us –Lucky?

cgnews-sticky-saturday-rain-sunday-before-cooler-sunny-week-20160819.jpg

As Always As Us –Lucky?

Author : jjehxi

Length : Ficlet (series)

Genre : Romance, fluff

Rating : PG

Main cast & additional cast : Oh Sehun, Im Seyoo, etc.

Summary : “Aku harap aku masih prioritasmu.”

Disclaimer : Cerita ini murni milik saya, tidak ada unsur kesengajaan apabila ada beberapa adegan yang sama. Dilarang keras untuk mengcopy-paste. Don’t be plagiator! Sorry for typo(s) and happpy reading^^

Previous:

(1) As Always As Us –by Shoes  (2) As Always As Us -by LINE

(3) As Always As Us –Photoshoot (4) As Always As Us -Fact

(5) As Always As Us –If (80% flashback) (6) As Always As Us –Fail Couple

(7)As Always As Us –Surprise

-Lucky?

    Ini sabtu sore yang artinya terhitung beberapa jam lagi sudah dipastikan cafe yang tengah ia kunjungi ini akan ramai pengunjung mengingat cafe ini hanya buka pada sabtu sore sampai minggu pukul 12 malam. Weekend Cafe orang-orang sering menyebutnya. Dan sekarang, bukan tanpa alasan dia mau mengunjungi tempat seperti ini lagi, mengingat kejadian kemarin sedikit banyak membuatnya kembali merenung dan tanpa sadar mengepalkan tangan mungilnya.

    “Badmood? I think you’ll better than yesterday. Yeah, I hope you still remember about ‘something’ that I got. Punishment, you call it.” Itu adalah serentetan kalimat yang membuatnya hampir menjerit kaget, yang tentu saja ditambah ice coffee yang tiba-tiba berada digenggaman kedua tangan mungilnya.

    “Aku hanya menggigit lenganmu, itu pun karena kau tiba-tiba memeluk leherku. Be normal, please.” Dan nyatanya, disini dialah yang merasa tak normal setelah kalimat itu keluar dari bibir tipisnya. Tak ayal pikiran itu pun seketika membuatnya mengalihkan pandangannya, setidaknya memperhatikan pelayan yang sedang membersihkan meja itu lebih baik dibanding menatap pemuda yang duduk didepannya sekarang.

    “Aku merasa tak nyaman dengan keadaan kita sekarang. Dan aku pikir sabtu depan adalah waktu yang baik untuk kita akhiri semua ini. Let’s dinner together, just for our last. Invite your parents and Sehun, just for your information President Xi will come too.

    Hening. Entah mengapa, otak jenius Seyoo tak dapat mencerna dengan baik maksud perkataan pemuda di depannya sekarang. Seharusnya ia senang, ya ia senang sebenarnya. Namun, yang tak ia mengerti adalah mengapa harus secepat ini? Dan mengapa Sehun harus ikut hadir? Apa pemuda ini ingin melimpahkan semua kesalahan padanya?

    “Aku sudah merencanakan ini cukup lama. Aku pikir Sehun perlu sebuah bukti, dan aku tak masalah jika ia akan datang begitu pun Ketua Xi. Ah, dan aku sudah menjelaskan semuanya pada mama dan baba, kau tak perlu khawatir akan disalahkan. Ketua Xi, kakekku sudah meyakinkan mereka, dia bertanggung jawab atas kita.”

    Dan sebelum jawaban lain terlontar, pemuda itu melangkah keluar cafe –meninggalkan Seyoo. Ketahuilah, diluar sana gemericik hujan mulai turun namun pemuda bermantel biru dongker itu tampak acuh dan melangkah percaya diri, hingga akhirnya masuk kedalam Black Sport kesayangannya. Dia memang si playboy yang keras kepala, pikirnya. Menyadari keadaannya yang lagi-lagi ditinggal membuatnya tanpa sadar tertawa getir dan dengan langkah tergesa melangkah keluar, menembus hujan yang mulai deras bahkan angin pun ikut serta. Anggaplah ia tak waras karena dengan gigih berlari menembus badai hujan bersama Black Wedgess kesayangannya.

    “Seharusnya sabtu itu tidak ada. Seharusnya hari-hari itu tak berlalu dalam satu minggu hingga membuatku bingung.”

    “Bahkan sudah dua sabtu telah aku lalui dengan perasaan kacau. Lalu bagaimana dengan sabtu depan? Kenapa sabtu?”

    “Tuhan, aku ragu mengenai keberuntunganku di hari sabtu.”

    BUGH!

    Lututnya berdarah. Ia jatuh, ia terluka, ia kedinginan, dan menangis? Untuk menangis, entahlah ia pun tak tau. Mungkin air hujan sudah menutupi tangisku, pikirnya. Dan mungkin ia harus mengumpat untuk sekarang, karena ya lihatlah sekarang air hujan itu sudah tak terasa meski kenyataannya ia tak berteduh. Lalu bagaimana mungkin?

    Dan itu adalah dia.

    “Peganglah payungku, aku akan mengobatimu, dan mengantarmu pulang.”

    Awalnya, Seyoo merasa pangerannya telah datang. Namun itu semua terhapus dengan kenyataan, Oh Sehun yang hanya datang tak lebih untuk menolong dirinya yang malang. Tak ada satu kata pun yang terlontar dari bibir mungil pemuda itu, bahkan saat pemuda itu tiba-tiba menggendongnya ala bridal style  –pengecualian untuk kalimat berita pertama tadi. Hingga akhirnya, ia menyerah dan menjatuhkan payung yang sedari tadi ia pegang. Dan berhasil, pemuda itu menoleh, pemuda itu tak hanya fokus pada jalannya saja, pemuda itu mengindahkan kehadirannya yang notabenenya berada didekapannya.

    Namun itu hanya beberapa saat sebelum akhirnya pemuda itu kembali fokus pada jalanan sana, dan itu membuatnya menautkan kedua tangannya erat –melingkar dengan indah di leher jenjang pemuda itu. Hingga akhirnya pemuda itu hendak membuka sedikit mulutnya.

    “Kita sampai. Aku akan menurunkanmu.”

    Dan sungguh, bukan itu yang ia inginkan. Bukan pijakan tanah yang mulai ia rasakan yang ia inginkan. Tentu saja bukan langkah pemuda itu yang semakin menjauh yang ia inginkan. Untuk terakhir kalinya, ia harap ia bisa menghentikan pemuda itu.

    “Kami akan mengakhiri hubungan kami minggu depan. Karena itu, datanglah ke restaurant milik keluargaku sabtu depan pukul 8 malam. Semuanya akan benar-benar selesai.”

    Dan berhasil, dia berbalik.

    “Apa kau melakukannya demi aku? Jika ya, kumohon berhenti.”

    “Tidak, Hun. Kami sudah merencanakan ini cukup lama. Hubungan diantara kita sama sekali tidak aku ikut sertakan kedalamnya. Karena itu, kumohon datanglah.”

    “Tapi sabtu depan, aku akan kembali ke London. Aku tidak bisa.”

    “Kau bisa, jika kau mau.”

    “Kukatakan aku tidak bisa.”

    Dan dia memunggunginya lagi.

    “Aku harap aku masih prioritasmu.”

    Untuk terakhir kalinya dia berjuang, dan mungkin ia benar-benar gagal di sabtu malamnya. Ia pun berbalik badan dan hendak masuk melewati pagar rumahnya. Dan kehadiran gadis surai hitam dihadapannya sekarang membuatnya gagal menyembunyikan matanya yang membelalak kaget.

    “Hai Seyoo! Jeon Sena disini, tentu akan membantumu.” –itu Sena dengan senyum lebarnya.

—END—

Please leave comment(s)^^   

Otte? Kurang ngefeel? Hm, mian ne huhu T.T

Btw, mungkin ini efek cuaca kali ya, seminggu ini bener” deh kesehatanku keganggu terus. Panasdingin awards huhu T.T

So, harap maklum ya klo agak ngaret updatenya :v

Iklan

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] As Always As Us –Lucky?

  1. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] As Always As Us –‘Cuz (The Real Final Chapter) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: [EXOFFI FREELANCE] As Always As Us –Catch (Ficlet) | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s