[EXOFFI FREELANCE] Andromeda (Chapter 1)

PicsArt_01-28-07.53.22.jpg

ANDROMEDA

Cast :

  • Song Hana
  • Oh Sehun
  • Kim Jongin

Author : AL

Genre : Horror, Supernatural, Romance

Lenght : Chapter

Rating : PG-17

Disclaimer : Semua alur dalam cerita ini adalah fiksi belaka. Ini murni hasil imajinasi penulis. Dilarang mengutip atau pun menyalin tulisan ini. Hargai karya penulis. Tulisan ini juga dimuat dalam wattpad pribadi penulis dengan judul yang sama.

**

Chapter 1

Author POV

Tenggelamnya matahari pertanda waktu yang lain akan tiba. Waktu yang menandakan terbukanya pintu lain yang tak kasat mata, dingin, dan juga menakutkan. Di mana hanya sebagian orang yang mau mengakuinya.

Saat ini, pintu itu benar-benar terbuka lebar.

Hati-hati…

Jangan pergi…

Ini waktu yang rawan…

Orang-orang terdahulu biasanya mengucapkan itu pada cucu dan anaknya,  tapi seiring berjalannya waktu, apakah masih ada yang mengingat kata-kata itu?

Kebanyakan dari mereka tidak memedulikan anggapan itu, tanpa mengetahui seberapa kuat makna yang terkandung dalam ungkapan itu.

Pintu dunia itu…

Benar-benar ada…

“Bibi masih tidak mempercayai ucapanku?” ucap seorang gadis berambut panjang sebahu yang saat ini berbicara dengan ponsel miliknya. Tangannya ia mainkan untuk menyalurkan emosi yang menjalar ditubuhnya. “Rumah itu penuh dengan aura negatif! Bibi harus benar-benar melakukan ritual pengusiran, atau kalau bibi tidak ingin melakukannya sebaiknya bibi tinggalkan rumah itu secepatnya.”

“Kau pikir kau siapa menyuruhku pindah rumah begitu saja. Aku membeli rumah itu dengan hasil usaha kerasku selama ini. Jika aku pergi, maka aku dan anak-anakku akan tinggal di mana? Kau pikir mudah untuk mencari tempat tinggal di Seoul!”

Gadis itu kini menghembuskan nafas panjang begitu mendengar penjelasan dari ujung sana. “Kalau begitu lakukanlah ritual pengusiran bibi,” ucapnya yang tanpa sadar meninggikan suaranya beberapa oktaf. “Kau benar-benar harus mempercayaiku.”

Terdengar suara decakan lidah dari seberang sana. “Pada akhirnya kau hanya ingin aku melakukan ritual dan kemudian kau akan meminta bayaranmu bukan? Aku benar-benar telah membuang banyak waktu menerima panggilan ini.”

Tuut… tut.. tut..

Sambungan diputuskan secara sepihak.

Untuk kedua kalinya gadis itu menghembus nafas panjang. Ia kemudian memejamkan matanya dan membukanya secara perlahan. Lalu selanjutnya ia mulai mengatur nafasnya. “Kenapa semua orang selalu tidak mempercayaiku. Padahal aku hanya ingin membantu saja. Aku tidak bilang aku akan meminta bayaran,” ucap gadis itu sambil terus berjalan mondar-mandir diatas teras rumahnya. Sedetik kemudian ia menghentikan langkahnya dan dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Ah, biarkan saja. Aku tidak mau memikirkannya lagi. Bibi itu bahkan tidak mempercayai ucapanku, kenapa aku harus menghawatirkannya. Tapi..,”

Nenek di rumah itu sepertinya benar-benar tidak menyukai keluarga bibi.

**

“Benar-benar bodoh dasar perempuan tidak waras. Di zaman modern seperti ini siapa yang masih mempercayai hal-hal seperti itu. Dia hanya ingin mencari uang dengan cara yang mudah. Padahal suaranya masih terdengar sangat muda. Aku tahu mencari pekerjaan saat ini sangat sulit, tapi haruskah ia melakukan cara seperti itu.” Kalimat itu diucapkan dengan aksen busan begitu wanita paruh baya itu menutup panggilannya.

“Apa yang terjadi, bu?” ucap laki-laki berkulit gelap itu sambil mengambil air mineral dari dalam kulkas begitu ia mendengar suara yang tidak biasa terlontar dari mulut ibunya. Sudah lama ia tidak mendengar aksen kental busan milik ibunya. “Kenapa ibu marah-marah?”

Wanita yang dipanggil ibu itu kini mengangkat ujung bibirnya mendengar pertanyaan anak sulungnya itu. “Bukan apa-apa,” ucapnya berusaha mengelak. “Kau kembali saja ke kamarmu. Belajarlah dengan baik, aku akan membuatkanmu camilan.”

Anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya perlahan. “Aku hanya ingin mengambil ini saja,” ucapnya sambil memamerkan satu botol air mineral yang diambil sebelumnya. “Aku akan kembali belajar. Ibu tidak perlu membuatkanku camilan, lebih baik istirahat saja. Ini sudah malam.”

Melihat anak laki-lakinya sudah mulai tumbuh dewasa membuatnya tersenyum lebar. Tapi, tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya ucapan yang dilontarkan gadis muda yang meneleponnya barusan. Ia segera menggelengkan kepalanya pelan untuk menepis pikiran itu. “Ah, Jongin apa kau melihat adikmu? Ini sudah waktunya untuk tidur,” ucapnya mencoba mengalihkan perhatiannya. “Oh, ya belakangan ini adikmu sepertinya agak pendiam. Apa dia menceritakan masalahnya padamu?”

Jongin mengangkat sebelah alisnya. “Sebelum kemari aku melihat Jonghan berlari ke kamar ibu. Mungkin ia sudah tertidur sekarang,” ucapnya yang kemudian mulai melangkah ke belakang untuk menaiki tangga menuju kamarnya. Namun, sedetik kemudian ia menghentikan langkahnya. Ia teringat akan sesuatu. “Ibu, jika dibilang Jonghan agak pendiam akhir-akhir ini sepertinya aku tidak sependapat. Bagiku dia belakang ini malah terlihat banyak bicara. Bukannya tadi sore dia baru bercerita tentang tokoh kartun favoritnya?”

“Bercerita pada siapa?”

“Tentu saja dengan ibu. Apa ibu lupa? Suaranya bahkan terdengar hingga kamarku.”

Tapi hari ini, Jonghan bahkan tidak bicara apa pun padaku.

**

Seperti biasa, sebelum Jongin memulai kegiatan yang akhir-akhir ini selalu dilakukannya, ia terlebih dahulu menyumbat telinganya dengan headset. Sebenarnya tidak ada alasan khusus mengapa ia melakukan hal ini, hanya saja belajar hingga larut malam seperti ini membuatnya mudah sekali mengantuk. Selain itu pendengarannya juga sangat tajam,  ia tidak ingin kegiatan belajarnya terganggu oleh suara bisikan serangga sekalipun. Besok akan ada ulangan yang paling menentukan bagi perjalanan hidupnya, ia ingin membuktikan pada seseorang kalau dirinya juga bisa menjadi laki-laki yang dapat diandalkan dalam hal matematika. Ia tidak boleh gagal kali ini. Oleh sebab itu ia harus berusaha keras.

“Jika a sama dengan x dan volume bangunan diabaikan, maka berapa selisih perbandingan antara garis sudut c dan d,” ucap Jongin membaca soal pertama dari buku miliknya. Keningnya kali ini mengerut,  ia kemudian bergumam sendiri cukup lama sambil membuat coretan pada kertas di bukunya. “Sebenarnya apa hubungan volume yang diabaikan dengan sudut bangunan? Apa ini hanya pengecoh saja?”

Jongin menghembuskan nafas panjang. Ia kemudian menggelengkan kepalanya pelan. “Sepertinya soal matematika dulu tidak serumit ini,” ucapnya sambil mengingat masa sekolah dasarnya, di mana Jongin selalu maju ke depan dan menuliskan hasil yang ia dapatkan dipapan tulis pada kelas matematika. “Dunia telah berubah dengan cepat.”

Tes.. tes.. tes..

Tetesan darah menodai soal matematika yang sedang dikerjakan Jongin. Begitu pemilik buku menyadarinya, ia buru-buru mengambil tisu yang hanya berjarak beberapa meter dari jangkauan tangannya yang kemudian menutupi lubang hidungnya cepat. Sedetik kemudian ia terkekeh pelan. “Ah, ternyata aku sudah bekerja keras,” ucapnya lalu setelah itu ia tersenyum yang menyiratkan kebanggaan pada dirinya sendiri. “Ku pikir aku tidak akan pernah mengalami hal ini. Terakhir kali aku mimisan,  ketika aku terjatuh di lapangan basket. Bukan karena belajar keras seperti ini. Wah, hebat sekali.”

Kali ini Jongin tertawa kecil. Namun, beberapa menit kemudian, ia mulai menyadari sesuatu. Tawanya kini berganti dengan kerutan di kening yang sangat jelas kentara. Satu hal yang seharusnya ia pastikan terlebih dahulu sebelum ia mulai berspekualisasi.

Apakah hanya dengan mengerjakan satu soal matematika bisa mengakibatkan mimisan seperti ini? Bahkan aku baru saja memulainya.

Perlahan Jongin mulai mengulurkan tangannya untuk melihat tisu yang sebelumnya dipakai untuk menutup lubang hidungnya.

Tidak ada..

Bukankah jika ini darah miliknya maka akan ada bekas darah dari hidungnya di tisu ini meskipun hanya setitik? Konyol sekali.

Lalu, jika ini bukan darahku? Lalu ini berasal dari mana?

Dengan perasaan campur aduk Jongin kini memejamkan matanya. Tangannya bergetar menahan semua pemikiran dugaan akan asal muasal dari darah yang menodai bukunya itu. Bulu kuduknya berdiri, ia sama sekali tidak berani untuk pindah dari tempat ia berada saat ini. Bahkan saat ini untuk membuka matanya saja sangat sulit. Ia sangat takut akan segala kemungkinan yang dipikirkannya. Ia juga sama sekali tidak ingin menoleh ke atas untuk memastikan dari mana  tetesan ini berasal. Ia tidak memiliki keberanian itu.

“Ah, kenapa seperti ini,” gumam Jongin lirih. “Aku benci hal seperti ini. Apa yang harus kulakukan?”

Hihihii..

Jongin langsung berdiri dari tempatnya begitu ia mendengar suara cekikan seorang wanita. Ia kemudian mulai mengatur nafasnya.

Berani sekali ada orang yang menertawakanku. Tapi, kenapa harus dengan tawa yang menyeramkan seperti ini. Ku mohon, seseorang tolong hentikan tawa ini.

**

Wanita separuh baya itu kini tengah mengelus pucuk kening anak bungsunya dengan penuh kasih sayang. Garis wajahnya saat ini terlihat jelas, menggambarkan ada sebercik kekhawatiran yang terlintas tentang kondisi anaknya. Sebuah pemikiran terlintas dalam benaknya.

Sebenarnya, apa yang terjadi?

“Ibu, aku sangat menyukai nenek,” suara itu memecahkan pemikiran wanita itu. Anaknya kini terbangun, mengambil posisi yang nyaman sambil meletakan tangannya diperut. “Dia sangat kesepian dan sepertinya dia juga sangat menyukaiku.”

Ibu akhirnya tersenyum. Ia tetap mempertahankan posisinya dan membelai kening anaknya itu bahkan lebih lembut dari sebelumnya. “Nenek tentu saja sangat menyayangi cucunya. Kau kan sangat manis,” ucapnya masih dengan senyuman tipisnya. “Apa kau ingin berkunjung ke rumah nenek, Jonghan? Liburan akhir pekan nanti kita bisa mengunjungi rumah nenek kalau kau mau.”

Jonghan menggelengkan kepalanya pelan.

“Kau tidak mau berkunjung, kenapa? Bukankah sebelumnya kau bilang kau sangat menyukai nenek?” alis ibu kini bertaut sambil menanyakan pertanyaannya itu. “Nenek pasti akan senang jika Jonghan datang berkunjung.”

Lagi-lagi Jonghan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak perlu mengunjungi nenek ibu,” ucapnya sambil menatap mata ibunya dalam. “Nenek ada bersama kita. Untuk apa kita berkunjung, dia kan tinggal bersama kita.”

Mata ibu kini membulat sempurna. Tangannya bergetar. “Apa maksudmu Jonghan?” tanyanya hati-hati. “Nenek siapa yang kau maksud?”

Jonghan diam melihat perubahan ekspresi yang diperlihatkan ibunya padanya. Sedetik kemudian pandangannya teralihkah ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya. “Ah, nenek kau sudah selesai melihat kakakku. Dia benar-benar tampan kan nek,” ucapnya yang masih mempertahankan senyumannya itu. Ia kemudian langsung memegang tangan ibunya cepat. “Lihat bu, nenek datang. Dia ingin mengajakku tidur bersama.”

Ibu diam seribu bahasa mendengar penuturan anaknya itu. Ia menggigit ujung bibirnya pelan dan kemudian langsung memeluk anaknya erat-erat. “Jangan bicara macam-macam Jonghan, kau  sepertinya sedang mengigau. Kau hanya boleh tidur bersama ibu,” ucapnya sambil tetap mempertahankan posisinya tanpa memedulikan keadaan pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka tanpa sebab seperti ini. “Tidak ada apa-apa. Ini semua baik-baik saja. Kembalilah ti,”

Ibu kali ini menahan nafas. Sebuah sentuhan dirasanya pada ujung pangkal kakinya yang bebas. Sentuhan yang sangat dingin dan juga sangat berbekas.

Apa ini?

Dengan keberanian yang ia kumpulkan sekuat tenaga, ia mulai menoleh mencoba memastikan kondisi kakinya saat ini.

Helai-helai rambut putih yang kusut tiba-tiba mengikat betis ibu.

Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?

**

Hana memainkan gelang ditangannya dengan perasaan campur aduk. Banyak beban pikiran yang saat ini bersarang dikepalanya. Ia lagi-lagi hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Matanya dikelilingi lingkaran hitam. Semalam ia harus bergadang karena hantu perawan sialan yang terus menerus mengganggunya untuk permintaan konyol yang sama sekali tidak akan pernah bisa dikabulkan oleh seorang Hana.

“Sepertinya fungsi dari gelang ini sudah mulai memudar,” ucapnya sambil memperhatikan gelang miliknya dengan tatapan prihatin. Sudah seminggu belakangan ini dirinya kembali melihat apa yang seharusnya tidak dilihatnya. Pemandangan yang sangat ia benci sejak ia berusia 10 tahun pada akhirnya kembali ia miliki. Sejak asistennya mengundurkan diri, penglihatannya kembali ke titik semula dan fungsi gelang ini sekarang jadi tidak terlihat. “Setelah aku kehilangan seorang perantara, kemudian aku juga akan kehilangan dirimu, gelang manisku. Lengkap sudah dunia mengerikanku ini.”

“Kau hanya harus mencari asisten baru, Song Hana.”

Hana berdiri dari posisinya begitu mendengar suara yang mengejutkannya itu barusan. Ia menoleh ke belakang dan langsung menghembuskan nafas panjang mengetahui siapa yang baru saja berbicara padanya. “Kenapa kau selalu mengagetkan ku seperti ini,” ucapnya sambil berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari wajah yang ada di hadapannya saat ini. “Kenapa kau selalu muncul riba-tiba seperti itu.”

“Aku kan hantu.”

“Karena kau hantu makanya jangan muncul tiba-tiba seperti itu di hadapanku. Aku bisa jantungan karena melihat wajahmu itu.”

“Ku pikir kau sudah terbiasa melihatku. Apa kau masih takut?”

“Siapa yang akan terbiasa melihat,” ucapannya kini terhenti begitu ia tidak sengaja memandang wajah lawan bicaranya itu. “Ah, jika aku terbiasa aku tidak akan memakai gelang ini. Tapi ini percuma saja, bahkan sekarang aku bisa melihatmu kembali.”

Ya, melihat kembali wajah hantu yang cukup mengerikan yang pernah dilihat Hana dalam hidupnya. Kepala yang setengah hancur dengan sebelah matanya yang menghilang adalah penampilan hantu yang saat ini bersamanya. Tapi setidaknya, meskipun penampilannya mengerikan, dia bukanlah hantu yang jahat.

“Maafkan aku karena memiliki penampilan seperti ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa mengenai ini.”

“Kau kan hantu, jelas saja penampilanmu seperti ini.”

“Ya, karena aku ini hantu, aku juga bisa mengetahui siapa yang akan cocok menjadi pengganti asistenmu selanjutnya.”

“Apa maksudmu?”

Manusia pemilik jiwa suci, tidak pernah ter nodai dengan amarah api dan hatinya sejuk mengalir seperti air dalam gelas dewa. Wajahnya berseri dan memikat hati dewa. Itu bukankah ciri-ciri yang harus terpenuhi jika ingin menjadi asistenmu kan? Kau selalu mengatakannya berulang kali.”

“Lalu?”

“Aku menemukannya.”

“Eh?” ucap Hana dengan matanya yang membulat. Rasa terkejutnya bahkan kali ini lebih besar dari rasa takutnya untuk memandang wajah hantu yang baru saja berucap barusan. “Kau tidak bohongkan? Bagaimana mungkin kau bisa menemukan manusia seperti itu? Aku bahkan sudah mencari satu minggu lebih tapi tidak pernah menemukannya.”

“Aku kan hantu.”

Hana terkekeh pelan. “Ya, kau benar. Aku melupakan fakta itu,” ucapnya sambil mengibaskan sebelah tangannya.

Lihat, dia datang!”

Hah? Apa maksudmu?” pertanyaan Hana terhenti begitu hantu yang diajaknya bicara langsung menghilang dan berubah menjadi kedatangan seorang laki-laki bertubuh tinggi yang mulai mendekat ke arah Hana. Pandangannya tajam dan dadanya bidang, ia juga memakai setelan jas lengkap.

Apa dia yang dimaksud hantu tadi?

Laki-laki di hadapan Hana kini mulai tersenyum kecil. “Apa benar kau pemilik bangunan ini, hem, nona Hana?” tanya laki-laki itu sambil mengambil selembar kertas dari dompetnya dan dijulurkannya pada Hana. Itu kartu namanya. “Aku Oh Sehun, direktur dari perusahaan Ilhoon Company. Kau tahu kan, perusahaan yang menangani bisnis rumah tangga sederhana.”

Hana mengedipkan matanya berulang-ulang mencoba mempercayai apa yang ada di hadapannya saat ini. “Ya, benar aku Hana, pemilik bangunan ini,” ucapnya sambil mengambil kartu nama yang diarahkan padanya. “Jadi apa maksud kedatangan seorang direktur ke tempat ini? Ada keperluan apa?”

Sehun terkekeh pelan. “Sepertinya kau tidak suka berbasa basi ya. Ehm, begini aku ingin menawarkan beberapa penawaran jika kau menjual bangunan milikmu pada Ilhoon. Ya, kami sedang ingin membuka perluasan bangunan dan..”

Selama Sehun menjelaskan maksud kedatangannya, pikiran Hana saat ini tidak fokus.

Apa aku harus mempercayai ucapan hantu itu ya? Tapi jika diperhatikan kembali laki-laki ini memang masih memiliki jiwa yang suci. Wah, hebat sekali dia bisa bertahan dengan jiwa sucinya itu, dia benar-benar sangat murni.

Jadi, bagaimana nona Hana? Apa kau menerima tawaranku? Atau kau ingin meminta lebih dari yang aku tawarkan?” ucap Sehun sambil menaikkan sebelah alisnya. “Kalau kau punya waktu luang aku ha,”

Kring.. Kring.. Kring..

Bunyi ponsel Hana menghentikan ucapan Sehun yang tengah serius itu. “Ah, maaf sepertinya aku harus mengangkat teleponku terlebih dahulu,” ucap Hana memperlihatkan senyumannya sambil merogoh ponsel di saku jaketnya. “Tunggu sebentar ya.”

Begitu ponsel milik Hana sudah didekatkan ditelinganya, sebuah suara yang bergetar mulai menyapanya. “Halo?”

Ya, halo. Ini Hana, ada yang bisa ku bantu?”

Ah, jadi namamu Hana. Nak, maaf kalau sebelumnya aku sempat tidak mempercayaimu. Aku akhirnya baru mengerti sekarang. Aku mohon, tolonglah aku.”

**TBC**

Haaiii

Al kembali lagi niih dengan cerita baru yang ngga kalah seru dari sebelumnya *Semoga ajah yaa* hehee.

Kali ini, genre cerita yang ada di cerita ini agak beda dari yang pernah Al buat sebelumnya. Mau mencoba menantang diri sendiri dengan buat cerita tema kayak gini *eea.

Jadi, maaf yaa kalo banyak kekurangan di sana sini. Jangan lupa saran dan masukannyaa.

Iklan

7 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Andromeda (Chapter 1)

  1. serunih ceritanya. trus nnt apa hubungan hana sm jongin? and apa maksudnya asisten tuh??
    makin penasaran sm kelanjutannya nih thor. cpt update ya, lm jg gpp sih yg penting update heheh 😁

  2. Di chapter ini kesan misteri nya banyak muncul dan karakter utamanya baru sebentar ketemu dan tbc. Ditunggu terus kak ceritanya.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s