[EXOFFI FREELANCE] Sunflower (Chapter 10)

32120916

 

Judul                     : Sunflower Chapter 10

Author                  : Himawari

Length                  : Chapter

Genre                   : Sad Romance

Rating                   : PG-17

Main Cast            : Xi Luhan, Lee Dae Ah

Oh Sehun

Disclaimer           : Ini fanfiction murni dari pemikiran saya sendiri terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.

 

‘GREP’

“Mianhae, Sehun-ah”

Namja itu merasakan sepasang tangan melingkar di perutnya, “Mianhae Sehun-ah, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Kumohon kau untuk tidak membenci Luhan.”mohon gadis itu di balik punggung Sehun. Namja itu lalu melepaskan kedua tangan yang melingkar di perutnya tadi dan memutar tubuhnya menghadap wajah cantik di depannya. Tangan Sehun menangkup wajah Dae Ah yang membuat gadis itu mengangkat kepalanya menatap manik mata Sehun. “Aku tidak ingin persahabatan kalian hancur karena aku. Aku tidak mau kau membencinya.” Ucap gadis itu pada Sehun. “Aku mengerti perasaanmu. Kita tidak bisa menentukan siapa yang ingin kita sukai, perasaan itu datang dengan sendirinya tanpa bisa dikendalikan oleh manusia. Tapi bagaimanapun aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan cintamu walaupun harus bersaing dengan sahabatku sendiri.” Ucap Sehun yang langsung memeluk Dae Ah. Sedangkan gadis itu sendiri tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang, ia hanya bisa menerima pelukan namja itu tanpa membalasnya, merasakan tubuh tegap Sehun yang mendekapnya membuat ia merasa nyaman.

***

Pagi itu seperti biasa, Sehun dan Luhan terlihat sedang menyantap sarapannya berdua, sesekali mereka saling menyuapi satu sama lain sungguh tidak ada perubahan seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Dae Ah yang melihat mereka dari kejauhanpun menghela nafas lega, Sehun benar-benar menepati janjinya untuk tidak membenci Luhan namja itu tabah sekali, bisa berhadapan dengan orang yang disukai oleh gadis yang dicintainya, bahkan terlihat sangat akrab. Bagaimana bisa Dae Ah menolak Sehun begitu saja, padahal ia juga tau kalau Luhan bahkan tidak memberi sedikitpun tanda bahwa lelaki itu mempunyai perasaan lebih padanya. Kebaikan dan perhatian Luhan padanya selama ini hanya karena sikap baik Luhan kepada sesama teman.

“Dae Ah-ya kau tidak sarapan?”  Tanya Luhan yang melihat temannya melewati meja makan begitu saja. “Aku sudah sarapan di kamar tadi. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa.” Pamitnya kepada kedua orang itu. Ia memang sengaja berbohong kepada mereka, bagaimana mungkin ia bisa satu tempat bersama dua orang tersebut setelah kejadian kemarin, mungkin itu mudah bagi Sehun, tapi beda individu beda juga kepribadiannya, Dae Ah tidak pandai berakting untuk menyembunyikan perasaan canggungnya. “Dia tidak berangkat bersamamu? Apa kalian sedang bertengkar?” Tanya Luhan kepada Sehun setelah gadis itu pergi. “Tidak.” Jawab Sehun singkat tanpa menghentikan aktivitasnya. “Tapi, tidak biasanya dia seperti itu. Kalian pasti menyembunyikan sesuatu dariku ya?” Sehun menatap sahabatnya dengan tajam. “Kau sungguh tidak percaya kepadaku?” Ucap namja itu yang langsung membuat Luhan kecewa karena dugaannya salah. “ Sepertinya aku sudah terlambat. Aku harus segera pergi. Bye Luhan.” Pamit Sehun lalu beranjak dari tempat duduknya menyisakan Luhan yang masih menatapnya dengan curiga.

***

Sehun memasuki ruang kerjanya, di sana indranya menemukan sesosok gadis yang membelakanginya sedang berdiri di balik jendela menatap keluar menikmati indahnya ciptaan Tuhan di luar sana tanpa menyadari kehadiran namja jangkung itu. ‘Ia pasti sedang melamun.’ Pikir namja bermarga Oh tersebut. Kaki panjang Sehun dengan mantap mendekati sosok yang mencuri perhatiannya tadi, namja itu menggeleng pelan bahkan dengan jarak sedekat ini ia tidak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Sehun pun meletakkan kedua tangannya di antara tubuh gadis itu menumpu pada kusen jendela. Ia mendekatkan kepalanya ke telinga gadis itu. “Sedang melamunkan aku ya? Atau Luhan?” suara itu sontak mengejutkan Dae Ah, membuat gadis itu menoleh dan mendapati pemuda tampan sedang berdiri di belakangnya. Gadis itu memutar tubunya bermaksud menghadapi namja itu agar mendapatkan posisi yang enak saat berbicara. Tapi, yang ada malah ia mendapati wajahnya berada sangat dekat dengan namja tersebut bahkan hidung mereka hampir bersentuhan. Refleks gadis itu menundukkan wajahnya menghindari tatapan namja tersebut. “Kau belum menjawab pertanyaanku Dae Ah ya. Apa yang kau pikirkan tadi sehingga membuatmu tidak menyadari kehadiranku huh?” Tanya Sehun kembali mengikis jarak mereka berdua yang membuat Dae Ah semakin merapatkan tubuhnya ke jendela. Gadis tersebut terus saja menundukkan kepalanya menyembunyikan rasa gugupnya saat ini, sampai sebuah jari mengangkat dagunya untuk membuatnya melihat lawan bicaranya. “A.a. Aku punya hak untuk tidak menjawab pertanyaanmu. Oh Sehun.” Jawab gadis itu dengan nada gugup yang terdengar jelas oleh gendang telinga Sehun dan membuat namja tersebut tersenyum menang berhasil menggoda gadis itu.

***

Luhan mendengus kesal melihat sahabatnya pergi meninggalkannya begitu saja. Iapun segera menyelesaikan acara sarapannya seorang diri. Baru saja ia akan beranjak dari tempat itu, fokusnya teralihkan oleh suara dari handphone Sehun yang terstinggal di meja. “Dia meninggalkan ponselnya lagi.” gumam Luhan. Iapun segera mengambil benda tersebut melihat sekilas siapa yang mengirimi pesan lalu ia memasukkan kekantongnya untuk di berikan kepada sang pemilik.

Luhan melihat pintu ruangan kantor Sehun terbuka, tanpa basa-basi ia segera memasuki ruangan tersebut guna mengembalikan ponsel yang ada di genggamannya sekarang. Setelah sampai di ambang pintu, namja itu membulatkan mulutnya terkejut ketika retinanya menangkap bayangan dua sejoli sedang berdiri di samping jendela. Entah apa yang mereka lakukan, tapi Luhan berfikir bahwa sahabatnya tersebut akan mencium gadis yang berada di depannya itu. “Aishh. Bisa-bisanya mereka melakukan itu di sini.” Dengus Luhan. Tak mau mengganggu momen romantis kedua temannya tersebut ia segera meletakkan ponsel milik Sehun di atas nakas dekat pintu dan segera pergi dari tempat itu. “Tapi kenapa aku merasa tidak nyaman? Seharusnyakan aku bahagia. Tidak mungkin aku cemburu.” Ucap Luhan sendiri setelah berada agak jauh dari kantor dokter hewan.

***

Sehun menjauhkan wajahnya dari Dae Ah setelah puas menggoda gadis itu. Akhirnya Dae Ah bisa bernafas lega sekarang. “ Seharusnya kau tidak melakukan itu, bagaimana kalau ada yang lihat dan berfikir macam-macam tentang kita.” Gumam Dae Ah kesal pada Sehun. Sedangkan namja itu hanya menghiraukan perkataan gadis yang bersamanya kali ini. “Eoh? Kenapa ponselku ada di sini? Jangan-jangan?” gumam Sehun melihat ponselnya yang tiba-tiba berada di atas nakas. Dae Ah menatap tajam namja yang baru saja berucap tadi. “Apa ada yang ke sini barusan? Siapa?” Tanya Dae Ah pada Sehun. Sedangkan namja itu hanya diam tidak tau harus menjawab apa, karena ia memang tidak tau siapa yang meletakkan ponselnya di sini. Ia mengingat-ingat kapan terakhir kali menggunakan ponsel itu, dan ia ingat saat itu ia sedang mengirim pesan kepada paman Jack saat sedang sarapan bersama Luhan dan setelah itu ia tidak menyentuh ponselnya lagi. ‘Apa mungkin Luhan?’ pikir Sehun. “Yang aku tau terakhir kali kau bersama Luhan mungkin dia yang mengembalikkan ponselmu.” Gumam Dae Ah yang tiba-tiba membuka suara mengalihkan pikiran Sehun. Namja itu melihat temannya yang sedang berkutat dengan laptop di mejanya, mengetik sesuatu entah apa itu dengan raut wajah yang sedikit kesal. Ia tau mungkin gadis itu sedang marah padanya  sekarang. “Mianhae. Aku tidak sengaja melakukan itu di depan Luhan, lagi pula kita tidak melakukan apapun kan?” ujar Sehun menatap penuh penyesalan pada gadis itu. “Walaupun begitu dia bisa salah paham dan menyangka kita berciuman. Dan karena itu ia pergi begitu saja dan  meninggalkan  ponselmu di atas nakas tanpa berbicara padamu.” Ujar Dae Ah dengan nada kesal. “Jangan marah lagi ya, kumohon.” Ucap Sehun yang tidak mendapat respon dari gadis yang ia ajak bicara. Sehun menghela nafas kesal karena diabaikan oleh Dae Ah ia memperhatikan gadis itu sedang fokus dengan laptopnya, terkadang a mendapati gadis itu tersenyum sendiri. Sehunpun mendekati gadis itu dan bertanya apa yang sedang ia lakukan. “Kau sedang apa sih?” Tanya namja itu penasaran. Dae Ah memandang Sehun sebentar sebelum menjawab pertanyaan namja tersebut. “Aku sedang chatting dengan temanku.” Jawab Dae Ah. “Eoh bukankah dia Tao, mantan kekasihmu? Ternyata kau masih berhubungan dengannya.” Ucap Sehun menginterupsi kegiatan Dae Ah. “Darimana kau tau dia adalah mantan kekasihku?” Tanya Dae Ah. “ Semua teman sekolah kita dulu mengetahuinya. Lagipula kenapa kau masih berhubungan dengannya? Kau tidak takut di buang ibunya lagi?” Ujar Sehun membuat Dae Ah menundukkan kepalanya. Sehun mengambil kursi di sampingnya dan meletakkannya di samping gadis itu, seolah ia masih ingin berbicara panjang bersama gadis itu. “Tidak mungkin hanya karena wanita tua itu bisa menghancurkan persahabatan kita.” Ucap Dae Ah sebal mengingat ulah ibunya Tao yang merendahkannya. “ Oh ya, Sehun-ah. Sebenarnya bulan depan hari ulang tahunnya Shao. Menurutmu hadiah apa yang cocok unuknya?” Tanya Dae Ah sambil menunjukkan foto seorang anak kecil kepada Sehun. “Siapa dia, bukan adikmu kan? Apa keponakanmu?” Tanya balik Sehun. “Bukan, dia anak yang ku adopsi. Menurutmu dia mirip Luhan kan?” Sehun mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari gadis ini. ‘Untuk apa ia mengadopsinya?’ pikir Sehun. “Kau mengadopsinya karena mirip dengan Luhan?” Dae Ah menggelengkan kepalanya. “ Bukan hanya itu, aku merasa Shao dan aku di ikat oleh takdir. Perasaanku mengatakan dia yang akan menghubungkanku dengan takdirku. Entah apa itu, tapi inilah yang aku rasakan tentang anak itu.” Ucap gadis itu sambil menatap Lurus foto seorang anak di layar laptopnya. “Kalau begitu berikan dia hadiah sesuatu yang ia suka.” Saran Sehun. “Aku berfikiran sama sepertimu, karena itu aku menyuruh Tao mencari tau apa yang anak itu suka.” Jawab Dae Ah yang membuat Sehun menganguk mengerti. “ Sehun-ah apa kita tidak ada kerjaan?” Tanya Dae Ah yang merasa  sedari tadi tidak ada yang mereka lakukan. “Tentu saja ada, ayo ikut aku.”

***

“Hey, kau mau pergi kemana? Kenapa tampan  sekali.” Gumam Sehun melihat temannya berdandan rapi layaknya remaja yang akan pergi berkencan. “Berkencan.” Jawab Luhan singkat lalu menyambar kunci mobil yang tergeletak di nakas lalu meninggalkan Sehun yang berdiri mematung dengan handuk yang terkalung di lehernya.

“Luhan-ah, kebetulan sekali. Kau mau pergikan? Bisa kau mengantarku ke swalayan?” Pinta Dae Ah yang berpapasan dengan namja itu. Luhan tidak mungkin menolak permintaan dari temannya inikan? Luhan pun membukakan pintu mobilnya untuk Dae Ah dan di susul Luhan yang memasuki mobil itu. Tapi tak di sangka ada seseorang yang melihat momen tersebut dan tersenyum miris. “ Jadi kau berkencan dengannya?” gumam Sehun pelan dan tak terasa meremas handuk yang ada di genggamannya sekarang, melihat kedua orang itu pergi membuat hati namja tersebut seolah tersayat. Tapi, di sisi lain hatinya merasa bahagia melihat kedua orang yang di cintainya bersama.

“Dae Ah-ya, tapi aku nanti tidak bisa mengantarmu pulang. Kau bisa kan pulang sendiri?” ucap Luhan pada gadis yang duduk di sampingnya ini. “Tentu saja, kau kan akan pergi. Aku tidak mungkin memaksamu untuk menjemputku. Tenang aku bisa pulang sendiri kok.” Ujar gadis itu. “ Tidak bisa, aku akan  menyuruh Sehun untuk menjemputmu nanti.” Ucap Luhan sambil menoleh kearah Dae Ah. “Memangnya kau akan pergi kemana? Kenapa rapi sekali.” Luhan terlihat sedang berpikir sebentar sebelum menjawab pertanyaan Dae Ah. “Aku mau kencan. Memangnya kau dan Sehun saja yang bisa berkencan aku juga bisa.”

DEG!! Sekali lagi gadis itu tersakit oleh Luhan, wajahnya yang tadi cerah sekarang berubah menjadi kelam, ia menundukkan wajahnya agar namja itu tidak mengetahui bahwa ia sedang terluka kali ini, yak arena namja itu lagi.

Dengan lemah Dae Ah melangkanhkan kakinya menapaki jalanan paving yang sedikit demi sedikit mulai basah karena rintikan air dari langit sore itu. Sungguh ia terlihat sangat menyedihkan sekarang, setelah mobil Luhan pergi ia pun menangis sekencang-kencangnya menumpahkan segala kesedihannya saat itu. Kaki gadis itupun terhenti di sebuah toko bunga, mata teduhnya memandang kea rah bunga matahari yang tengahnya berbentuk hati. Tanpa di sadari tubuhnya bergerak mendekati bunga dalam pot itu. Ia tersenyum miring memandang bunga cantik itu, “Kau begitu menyedihkan tapi kenapa kau terlihat bahagia?” satu kalimat itu terlontar tanpa sadar oleh lisan Dae Ah.

“Iya, sama seperti dirimu Lee Dae Ah.” Raga gadis itu tersadar kembali oleh suara yang tidak asing di telinganya. Bahkan tanpa menolehpun ia hafal betul pemilik suara itu. ‘Huh’ hela gadis itu. “Kenapa kau tau aku di sini?” Tanya gadis itu pada namja jangkung di belakangnya. “Tidak sulit untuk menemukanmu. Bukankah ada benang merah yang saling mengikat di kelingking kita.” Ucap namja itu sambil mengacungkan jari kelingkingnya. “Omong kosong apa itu.” Dae Ah kembali meletakkan pot itu ke asalnya dan keluar dari toko bunga tersebut. Sedangkan namja itu malah mengambil lagi barang tersebut dan membelinya.

Segelas orange Juice yang biasanya dapat mengembalikan mood gadis itu malah sekarang dipenuhi oleh buih yang menutupi permukaan minuman itu karena perputaran sedotan yang dibuat oleh pemiliknya. ‘Tap’ Sebuah bunga yang sebelumnya menarik hatinya tiba-tiba berada di atas meja ia tempati sekarang, siapa lagi pelakunya kalau bukan Oh Sehun. “Kau lagi?” gumam gadis itu. “Kalau dipikir-pikir bukankah kita ini senasib?” ucapan Sehun tersebut membuat Dae Ah menoleh padanya. “Cinta bertepuk sebelah tangankan?” tebak gadis itu lalu tertawa miring. “Kau pintar sekali. Bagaimana bisa Luhan tidak menyukaimu.” Ujar Sehun membuat Dae Ah kembali tertunduk. “ Aku sudah menunggunya selama bertahun-tahun tapi ini yang kudapatkan. Kenapa dunia ini begitu kejam.” Gadis itu kembali meneteskan air mata.”Hey, sudahlah bukankah kau juga begitu kejam padaku.” Gumam namja itu mengelus surai Dae Ah untuk memberikannya kenyamanan. “Mianhae, andai aku bisa Sehun aku pasti memilihmu.” Sehun mendekati gadis itu dan memeluknya. “Sttt. Tidak usah meminta maaf padaku, perasaan bukanlah sesuatu yang bisa kendalikan.” Gumam namja itu menenangkan  Dae Ah, ia sungguh merasa tesakiti juga melihat yeoja yang disukainya menangisi namja lain.

***

1 minggu kemudian

Sepasang netra teduh itu memandang lurus ke cakrawala, menikmati birunya laut lepas dengan gulungan ombak yang membentur tebing-tebing nan kokoh itu. Ia rasakan surainya menari-nari tertiup angin sejuk sore itu. Matahari sudah hampir tenggelam, tapi seseorang yang ditunggunya belum juga muncul. Bukannya datang terlambat, tapi namja hanya saja namja itu masih berada di atas mobilnya memandangi gadis itu, entah apa yang ia pikirkan tapi kedua indra penglihatannya tak beranjak sedikitpun dari sosok dressputih tersebut. Ia sudah tau bahwa gadis itu menyukainya dari sahabatnya Sehun dan karena ketidak pekaannyalah yang membuat sahabatnya itu menjauhinya akhir-akhir ini. Namja itu menghela nafas sebentar sebelum melangkah keluar dari mobil mendekati gadis itu.

‘Kurasa dia tidak akan datang’ piker gadis itu sambil memandangi pot yang tertanam bunga matahari  berbentuk hati tersebut. Ia membalikkan badannya ingin mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaannya pada Luhan. “Mau kemana?” Suara itu, benar suara itu. Suara yang selalu ia rindukan setiap malamnya, suara yang sangat ingin ia dengar menyebut namanya. Suara yang ia nantikan untuk mengucapkan cinta padanya, sekarang pemilik suara itu sudah berada di hadapannya, bukankah ini saatnya gadis itu mengutarakan perasaannya yang terpendam selama bertahun-tahun.

“Kau sudah datang. Kukira kau tidak bisa datang.” Gumam gadis itu masih dengan kepala tertunduk tidak berani menatap bola mata namja di hadapannya ini. “Cantik sekali? Untukku ya?” ucap namja itu dan tanpa permisi mengambil pot tersebut dari tangan Dae Ah. Namja itu melangkah kedepan dan duduk rerumputan di atas tebing menikmati momen-momen saat sang surya akan kembali keperaduannya. Gadis itupun mengikutiya dan duduk di samping Luhan. “Kenapa menyimpan perasaanmu begitu lama? Kau membuat aku menjadi pria yang jahat.” Deg. Kata-kata Luhan tadi mengejutkan gadis itu. “Kau sudah tau rupanya.” Gumam gadis itu tanpa memandang lawan bicaranya. Luhan bangkit dari tempat duduknya mendekati unjung tebing dan melempar bunga tersebut ke laut. Gadis itu sontak mendekatinya, menelusuri benda yang di buang oleh namja tersebut. Terlihat bunga itu sudah mengapung di atas birunya air laut itu sedangkan potnya sudah pecah berkeping-keping terkena hantaman ombak,ya seperti hatinya sekarang. “Kenapa kau melakukannya Luhan? Kau tau bunga itu adalah hatiku sekarang kau sudah menghancurkannya. Kenapa kau kejam sekali. Kenapa aku bisa menyukai pria kejam sepertimu huh?” bentak gadis itu pertamakalinya kepada Luhan. “Berhentilah menjadi bunga matahari Dae Ah. Cobalah untuk mencintai Sehun. Aku tidak pantas untukmu, Sehunlah yang bisa melindungimu, bukan aku. Maafkan aku.”

TBC

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s