[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You [Re : Turn On] (Chapter 5)

photogrid_1480225269408

The One Person Is You [Re : Turn On]

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 5

Author                       : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating                        : T

Length                       : Chapter

~Happy Reading~

*Author POV*

“Hosh…hosh…hosh…” nafas Hyojin tersengal, tapi ia tetap mempercepat larinya tanpa peduli sudah berapa banyak pejalan kaki lain yang ia tabrak. Pupil matanya melebar begitu melihat kantor polisi di samping toko roti langganannya. Gadis itu memelankan langkahnya, masih sambil mengatur nafas, Hyojin memasuki toko roti yang sedang ada diskon setengah harga tersebut.

R-r-red velvet satu dan strawberry cheese cake dua!” ucapnya dengan satu tarikan nafas pada penjaga counter yang sudah serangan jantung ringan mendadak. Setelah menyakinkan diri sendiri bahwa gadis yang tersenyum lebar bukanlah perampok dan semacamnya, maka barulah ia membalas senyuman Hyojin lantas menyiapkan pesanannya.

“Kupon diskon… kupon diskon…” lirih Hyojin, merogoh tas pemberian Sehun minggu lalu sebagai hadiah ulang tahun untuk mengambil kupon yang dia ambil paksa dari Jong In.

“Ah, kupon ini masih berlaku kan?” ia berikan kupon diskon miliknya kepada penjaga counter yang sudah kembali dengan kue pesanannya.

Penjaga tersebut mengambilnya, lantas memeriksa kertas kecil berwarna merah itu dengan seksama, “Benar, tenggatnya memang hari ini. Anda hampir saja terlambat karena hari ini toko hendak ditutup lebih cepat dari biasanya.”

“Haaah~ syukurlah.” Ujar Hyojin dengan senyuman yang semakin lebar. Dan senyuman itu memudar ketika ponselnya berbunyi. “Ya, halo? Siapa ini?”

“Kami dari kepolisian, apakah benar ini Lee Hyojin selaku wali dari Lee Jinhyo?”

“I-iya.” Hyojin menelan ludah susah payah, firasat buruk muncul begitu suara pria disebrang sana mengatakan bahwa dia dari kepolisian. Apalagi tiba-tiba ada hal yang menyangkut Jinhyo, adiknya.

“Bisa anda ke kantor *** sekarang?, adik anda terlibat perkelahian-”

Sebelum perkataan orang ditelepon selesai, Hyojin sudah tidak sanggup mengangkat tangannya kedekat telinga lagi. Hampir saja, ponselnya ikut terjatuh jika saja gadis tersebut tak segera menarik kembali kesadarannya.

“Lee Jinhyo sialan!” geramnya sambil meremas benda persegi di tangannya kuat-kuat.

“Semuanya jadi sepuluh ribu won termasuk diskon.”

“I-iya.” Hyojin mengeluarkan uang dari dompet usangnya sejumlah harga yang harus dia bayar untuk kue pesanannya. “Permisi, kalau kantor polisi *** itu dimana?”

“Nona, kantor polisi *** kan ada disebelah toko ini. Anda bahkan melewatinya saat kemari tadi.”

“Hahahaha!, sepertinya gadis ini terlalu bodoh untuk menyadarinya.”

Tidak, itu bukan suara hati Hyojin yang punya kebiasaan menghakiminya, melainkan pria tak dikenal yang antri dibelakang gadis itu.

“Maaf tapi, siapa yang kau sebut bodoh?”

Pria itu kini berada disamping Hyojin, “Kau, gadis bar-bar yang bicara informal padaku.”

Hyojin mendengus tak percaya akan apa yang ia dengar, gadis itu kesal, hendak membalas tapi tak punya waktu untuk meladeni pria asing itu. Hyojin harus segera pergi ke kantor polisi tadi, dia harus membereskan masalah Jinhyo baru menghajar pria disampingnya. Itu pun jika mereka bertemu lagi.

“Ugh sialan kau Lee Jinhyo!” geram gadis itu sekali lagi seraya melenggang pergi meninggalkan toko roti. Tapi langkahnya sempat terhenti karena tarikan tangan dari pria tadi, pria berlesung pipi yang sudah menarik perhatian pelanggan wanita lainnya.

“Ada apa lagi TUAN?” kini Hyojin menyindirnya dengan berbicara menggunakan bahasa formal, seperti yang diinginkan pria tersebut.

Pria itu terus tersenyum sambil menatap mata Hyojin secara intens, tanpa mengatakan apapun pria tersebut menyodorkan dompet hitam usang yang covernya sudah robek disana-sini. Mata Hyojin melotot, salah satu kebiasaannya saat tengah terkejut atau terpikirkan ide brilian untuk tugasnya. Dan hal tersebut terjadi saat pria tak dia kenal itu menyerahkan kepada Hyojin sebuah dompet lama milik ayahnya yang telah Hyojin gunakan sejak dia berpisah dari keluarganya.

“Kenapa itu bisa ada padamu -ah!, maksudku pada anda?”

Tentu saja Hyojin kesal, tapi dia tak mau berburuk sangka dahulu dengan berteriak penuh amarah bahwa pria asing itu baru saja mencuri barang miliknya, lalu mendapat hidayah bahwa apa yang dia lakukan adalah dosa lantas mengembalikannya pada Hyojin. Tidak, itu sama sekali mustahil… setidaknya untuk situasi kali ini.

“Kau meninggalkannya dimeja kasir.” Ujar pria itu santai setelah Hyojin merampas dompet itu dari tangannya, “Jika barang itu sangat berharga, harusnya kau jangan sampai lalai menjaganya.” Pria itu lebih mendekat pada Hyojin yang masih memasang wajah masam terhadapnya.

“Jika terus begitu, kau bisa kehilangan.”

Tanpa sadar Hyojin mendorong bahu pria tersebut, tidak begitu keras hingga membuatnya jatuh, hanya memberinya ruang agar bisa bernafas lega. Karena saat pria itu berbicara dengan jarak yang sangat dekat dengannya, Hyojin mencium bau alkohol bercampur rokok yang kuat, membuat pernafasannya terganggu untuk beberapa saat.

“Te-terima kasih.” Ucapnya tulus, pandangannya beralih pada pelanggan lain yang terus menatapnya dengan banyak artian yang tak mau Hyojin terjemahkan. “Dan, maaf.”

Kemudian Hyojin melanjutkan langkahnya, untuk pergi darisana dan segera menuju kantor polisi disebelah. Serta tak mau berurusan lagi dengan pria tadi. Firasat Hyojin semakin memburuk setelah bertemu dengan pria berlesung pipi itu, apalagi saat dia meneriakkan namanya begitu tangan Hyojin menyentuh gagang pintu kantor polisi, seperti tak mau melepaskan Hyojin yang ceroboh karena mengkhawatirkan adiknya begitu saja.

“Kim Myungsoo!, namaku Kim-Myung-Soo!”

Hyojin berdecak tanpa menoleh sedikitpun.

“Dasar bedebah sialan!”

***

“Eoh? Oh Sehun?!”

Senyuman orang-orang yang berada di studio merekah begitu anggota lama mereka muncul setelah lama tak pernah berkunjung. Begitu pun dengan Sehun, pria yang sejak SMP sudah menjadi anggota dari kelompok penari street dancer itu segera berbaur dengan kawan lamanya seraya melepas rindu setelah pensiun dini dari kelompok karena fokus pada kuliahnya.

“Wah! Lihat siapa yang datang!” seorang gadis berambut pendek dengan tinggi semampai memeluk Sehun tanpa peringatan. Beberapa gadis lain nampak iri, tapi tak berani membuat keributan dengannya.

“Oho, Jjang Mira!” Sehun melepas pelukan gadis itu karena tak pernah nyaman dengan skinship seorang gadis selain Hyojin. Tapi Sehun tak protes, ia maklum karena gadis itu merupakan junior yang hanya memeluknya karena kebiasaan, bukan mempunyai perasaan padanya maupun memanfaatkan Sehun seperti gadis kebanyakan.

Seperti kisah-kisahnya yang dulu… yang telah berlalu…

“Dasar bodoh! baru datang sudah melamun!” sentak Mira sambil memukul belakang kepala Sehun. “Kami semua merindukanmu! Bukannya mau melihat dirimu melamun seperti bocah kerasukan!”

Sehun tidak membalas, hanya terkekeh seperti sedang dicuci otak. Padahal biasanya ia tak pernah membiarkan orang lain memukul kepalanya begitu saja, bahkan Jong In. Yah, kecuali Hyojin.

“Tidak semua orang merindukannya!” keluh seseorang yang duduk dipojok ruangan, memainkan ponsel sambil menunduk, wajahnya pun tidak kelihatan karena tudung kepala yang ia pakai. Tapi dari nada bicaranya yang dingin dan angkuh, Sehun sudah bisa menebak siapa orang itu.

“Yak! Lee Young-ah!. Jaga bicaramu dihadapan senior!”

Tudung kepala itu tersingkap dan nampaklah sosok seorang gadis berwajah bulat dengan mata yang sama bulatnya, tengah memicingkan mata sambil menyeringai pada Sehun dan gerombolan anggota kelompok lainnya.

“Siapa?. Maksudmu pria bermuka datar itu?. Maaf, tapi dia bukan anggota kelompok ini lagi, jadi dia bukan seniorku lagi.” Setelah itu, gadis yang dipanggil Lee Young tersebut pergi meninggalkan ruang latihan yang kini ramai karena banyak yang menyambut kedatangan Sehun dengan suka cita.

“Dia masih saja seperti itu.” Komentar Sehun setelah berbagai kekesalan Lee Young tersampaikan untuknya.

“Maklumi dia.” Kata Mira seraya menyandarkan lengannya pada Sehun, “Dia sampai sekarang masih tidak terima kau campakan begitu saja.”

“Yak! jangan buat penggemar Sehun yang lain salah sangka, dari awal kan Lee Young yang terlalu antusias mendekati Sehun. Padahal jelas-jelas pria ini sudah jatuh hati pada gadis lain!”

“Benar, Sehun tidak pernah melakukan apapun untuknya. Dia saja yang merasa Sehun menyukainya padahal tidak!”

“Kan sudah kubilang pada kalian!, jangan pernah berharap pada pangeran Sehun.”

“Tapi Lee Young itu sudah keterlaluan kan?. Padahal Sehun sunbae tidak melakukan kesalahan apapun padanya.”

“Benar! Dia saja yang terlalu berharap!”

Mendengar temannya malah dijadikan bahan pembicaraan, Mira segera menghentikannya dengan meminta mereka kembali latihan diruangan masing-masing. Tapi sebelum tugasnya selesai, Mira harus dikejutkan dengan gebrakan pintu yang keras, belum lagi sosok Lee Young dengan aura muram disekelilingnya membuat ruangan tempat Sehun berada menjadi sunyi untuk sesaat.

“Aku… dengar semuanya…”

Gumaman gadis itu tak bisa ditangkap oleh semua pihak, bahkan Mira yang berdiri tak jauh darinya.

“Apa? Apa? Kau bilang apa tadi?”
“Brengsek! AKU DENGAR SEMUANYA!. Kalian yang disana!” tunjuknya pada sekelompok gadis dengan kostum imutnya, “Masih tidak mau latihan? Butuh berapa lama untuk bersolek huh?!”

“Dan kalian bocah ingusan.” Ia beralih pada sekelompok anak laki-laki yang merupakan juniornya, “Jika tidak pergi keruangan kalian dalam tiga detik akan kubunuh-”

“Omong-omong Sehun…” mengabaikan amarah kawannya, Mira malah mengajak Sehun mengobrol lagi. “…ada urusan apa kau kemari?. Bukankah kau sedang sibuk-sibuknya?”

Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Yah, selain berkunjung untuk melepas penat… aku mau minta bantuan padamu.”

Mira terkesiap, “Aku? Bagaimana bisa aku menolong tuan pangeran tampan ini?” candanya.

“Kakakmu kan-”

“Kakak tiri.” Koreksi Mira.

“Iya, iya, kakak TIRIMU kan seorang jaksa di Seoul, aku ingin meminta bantuan padanya untuk mencari tahu mengenai seseorang yang bekerja dibidang yang sama dengan kakak tirimu.”

Mira melipat kedua tangan di depan dada, sedikit heran karena Oh Sehun yang dingin dan super cuek bisa tiba-tiba meminta bantuan padanya, apalagi untuk mencari tahu tentang seseorang.

“Dengar, Jjang Mira-ssi!” Sehun merangkul Mira dan membawanya agak menjauh dari kerumunan agar bisa bicara lebih rinci. “Aku bicara seperti ini karena aku percaya padamu. Kau satu-satunya gadis blak-blakan yang tidak mungkin bergosip dengan mudah.”

“Ya itu aku!” ujar Mira bangga.

Sehun tersenyum sekilas, “Aku mencari info tentang orang ini karena dia mencuri sesuatu dariku dan aku begitu penasaran tentangnya setelah menghilang tanpa kabar selama beberapa tahun. Sebelumnya dia bekerja di Seoul dan aku yakin kakak tirimu tahu sesuatu tentangnya. Makanya aku datang pada orang hebat sepertimu.”

Mira mengibaskan tangannya beberapa kali, “Ohoho… kau terlalu memuji.”

Bagus, dia terpancing!

Senyum Sehun semakin merekah begitu Mira tampak lebih mudah untuk diajak bekerja sama tanpa takut rahasianya bocor.

“Kalau begitu, akan aku bantu kau menemukan info tentangnya. Siapa orang itu? bagaimana wujudnya dan siapa namanya?”

“Seorang wanita. Namanya… Park Yoora.”

***

Hyojin terdiam setelah memasuki kantor polisi yang dimaksud. Ia melirik kesana kemari karena tidak tahu harus menemui siapa untuk membereskan kekacauan yang ditimbulkan oleh Jinhyo. Beruntung ada petugas yang menyadari keberadaannya lantas memanggil Hyojin seraya bertanya apakah dia adalah wali dari Lee Jinhyo.

“Benar, saya Lee Hyojin kakak dari Lee Jinhyo.” Jawab Hyojin pada petugas yang sibuk mengetik sesuatu pada komputernya, tanpa ia bisa melihat keberadaan adiknya dimana pun. “Me-memangnya, adik saya terlibat perkelahian yang bagaimana?”

Polisi itu tak mengacuhkannya, hanya bergumam ‘sebentar’ dan masih sibuk dengan apapun itu yang tidak Hyojin ketahui.

“D-d-dan siapa yang berkelahi dengan dia?”

“Hyojin-ah!”

Mata Hyojin kembali membulat dengan sempurna. Dihadapannya, kini sang adik, Jinhyo berdiri dengan tangan diborgol, bersama Kang Rae Mi, teman sekaligus bibinya. Gadis itu tampak berantakan dengan rambut kusut dan wajah yang sedikit memar. Tak jauh dari Rae Mi ada seorang pria paruh baya bersetelan jas rapi, dan Hyojin mengenali pria itu sebagai anak buah Lee Dae Ryeong.

“A-apa-apaan ini?”

“Adikmu, Lee Jinhyo, dilaporkan atas penyerangan terhadap nona Kang Rae Mi. saksinya adalah tuan man in black dibelakang sana.” Petugas polisi tadi menjelaskan, tak lupa menyebutkan anak buah Lee Dae Ryeong yang kini sedang menelpon seseorang dengan ponselnya.

Menyadari hal itu, dengan kecurigaan dan waspada mendalam pada presdir Lee dan anteknya, Hyojin segera merampas ponsel itu tanpa peduli kecaman polisi yang bertugas mengurusi masalah adiknya, lantas melihat siapa orang yang dihubungi pria tersebut. Dan benar saja, nama ‘Tuan Lee’ terpampang di layar ponsel anak buah Lee Dae Ryeong, dan panggilannya masih tersambung sehingga Hyojin bisa mendengar perkataan pria yang paling dia benci itu melalui ponsel.

“Halo? Halo?! Jangan main-main kau!. Pastikan anak ingusan itu membusuk dipenjara! Akan aku bayar berapapun agar Jinhyo sialan itu mendapat hukuman mati sekalian karena sudah menyakiti anakku!. Halo? Halo?!”

“Jangan khawatir tuan Lee Dae Ryeong yang terhormat. Kau tidak perlu sampai mengeluarkan banyak uang untuk menghancurkan kehidupan keluargaku, sekali lagi.”

Suara pria pemilik perusahan besar di Korea Selatan itu tak terdengar lagi. Tapi sambungan telepon masih belum diputuskan. Sepertinya tuan Lee terkejut karena bukan suara anak buah yang bicara dengannya, melainkan seorang gadis yang sangat membencinya.

“Akan aku pastikan keluargaku tak ada hubungan denganmu lagi, sebagai gantinya, jangan pernah kau sentuh atau cari informasi mengenai Jinhyo maupun orangtuaku lagi. Jika tidak…”

“Jika tidak? apa kau punya sesuatu untuk mengancamku?”

Suara sombong Lee Dae Ryeong membuat Hyojin muak dan semakin kesal. Tapi ia tak mau membuang emosinya dengan mudah hanya karena pria tua yang mengaku sebagai kakeknya itu.

“Tentu saja ada. Apalagi kelemahan Lee Dae Ryeong selain anak kandungnya dan sang istri tercinta yang baru saja ia temui?”

“K-kau…”

Hyojin puas karena bisa mendengar nada kekesalan dari pria tua itu. Mungkin belum menang sepenuhnya, tapi setidaknya dia bisa membalas ucapan kejam kakek yang sudah memisahkan dirinya dari keluarganya saat Hyojin masih butuh kasih sayang dari orangtuanya.

“Hyojin-ah!”

Rae Mi hanya bisa memandang temannya, berharap hubungan Hyojin dan ayahnya tak semakin buruk. Dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Dia memang sangat menyayangi Hyojin sebagai teman wanita pertamanya yang sangat tulus, tapi di sisi lain ia juga kesal dengan perlakuan Jinhyo yang sudah keterlaluan mengenai kakeknya, ayah dari Rae Mi sendiri.

“Lepaskan Jinhyo, dan akan kubiarkan kau bersantai di hari tuamu dengan keluarga barumu itu. Mengerti?”

Sebuah pertanyaan tanpa Hyojin minta jawabannya. Gadis itu mematikan sambungan setelah puas melampiaskan amarahnya kepada Lee Dae Ryeong. Ia kembalikan ponsel milik anak buah tuan Lee dengan tak sopan, lantas menghampiri petugas yang sudah berdiri dan bersiap menghentikannya kalau-kalau gadis itu mau membuat ulah seperti adiknya yang terus membuat ulah meskipun sudah berada di kantor polisi.

“Pak, tolong buat surat damai tentang perkelahian ini dan saya akan langsung menandatanganinya.” Tegas Hyojin, “Juga tolong lepaskan borgol dari tangan adik saya. Dia bukan criminal yang harus diperlakukan seperti ini.”

“Tidak semudah itu, tentu saja!. Kau tidak memikirkan korban?, dan kurasa kalian saling mengenal, apa kau setega itu pada temanmu?”

Hyojin memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit, “Pak, bukankah ini hanya perkelahian biasa?. Dan saya yakin teman saya akan melepaskan Jinhyo tanpa perlu melaporkannya. Disini Lee Dae Ryeong lah yang bermasalah!”

Petugas itu menggebrak meja beberapa kali dengan tangan kirinya untuk meminta Hyojin tenang.

“Sebaiknya kau tanyakan pada temanmu itu, apakah dia akan menuntut adikmu atau tidak. Kuberi lima belas menit untuk diskusi.” Polisi tersebut beranjak dari meja kerjanya menuju dapur kantor untuk membuat kopi sebagai pengusir penat, “Dasar… permasalahan anak jaman sekarang rumit sekali sih.”

“Hyojin-ah… aku-”

“Lihatlah lihat!, bagaimana Lee Hyojin akan memilih temannya yang sama-sama anggota keluarga manusia keji Lee Dae Ryeong itu.” Potong Jinhyo sebelum Rae Mi mengatakan sesuatu yang lebih jelas.

“Jinhyo, apa kau bodoh?” tanya Hyojin tanpa memandang adiknya, tatapannya lurus kedepan dengan kedua tangan terkepal kuat.

“Hah! Dan sekarang KAKAKKU mengatai adiknya bodoh, lucu sekali hidup ini!”

“Jika kau ingin membalas dendam pada Lee Dae Ryeong bukan begini caranya.”

“LEE HYOJIN!” Rae Mi membentak gadis itu, berusaha menyadarkannya bahwa balas dendam bukanlah hal yang baik, tidak akan memuaskan siapapun itu. apalagi dia juga harus mencemaskan ayahnya yang menjadi target kebencian dua bersaudara tersebut.

Hyojin  sendiri tak memperdulikan teriakan Rae Mi, gadis itu menghampiri adiknya, mencengkram kerah bajunya lantas memberikan tatapan menusuk tanpa Jinhyo tahu apa maksudnya.

“Kita akan balas dendam, tapi bukan begini anak bodoh!”

Jinhyo yang tak tahan balas mencengkram kaos yang kakaknya kenakan, tanpa mengacuhkan borgol yang menghiasi tangannya serta sulitnya menggerakan tangan dengan belenggu dari benda tersebut.

“Lalu dengan apa?, menjilat keluarga temanmu itu dan menusuk diam-diam dari belakang, huh?!”

“Dan apa menyerang anak keparat itu, dia akan sengsara?. Yang ada kau masuk penjara lalu ayah dan ibu terkena serangan jantung!”

Jinhyo terdiam, meski tak mau mengakuinya, namun apa yang Hyojin katakan ada benarnya. Sekarang pria itu agak menyesal karena sudah bertindak tanpa berpikir matang.

“Maka dari itu, apa yang harus aku lakukan?. Aku tidak mau ayah dan ibu sampai kembali  terluka oleh kelakuan kejam presdir sialan itu!” tangis Jinhyo pecah, “Apalagi kau malah berteman dengan anaknya.”

“Lee Jinhyo!, hentikan omong kosongmu itu!” kali ini Rae Mi yang membentaknya.

“Jinhyo-ya, berteman atau tidak dengan anak Lee Dae Ryeong, tak ada urusannya dengan dendam kita. Kang Rae Mi, dan ibunya, mereka cuma bisa dijadikan ancaman. Membalas Lee Dae Ryeong tidak semudah menyakiti keluarganya, dia justru akan membalas dengan kekuasaan yang pria gila itu miliki. Kita harus merencanakan semuanya dengan matang-”

“Lee Hyojin cukup!”

“Nah, anak-anak muda…” polisi yang tadi sudah bergabung kembali dengan pertengkaran mereka sembari membawa segelas kopi yang uapnya masih mengepul, “…aku sudah bicarakan dengan atasanku selagi kalian banyak bicara dan melakukan drama yang sia-sia. Keputusannya adalah Lee Jinhyo bisa bebas jika wali-nya mau membayar uang jaminan…”

Hyojin sedikit bernafas lega mendengarnya, meski dia tak yakin bisakah ia membayar uang jaminan yang petugas itu maksud.

“…serta menulis surat permohonan maaf pada nona Kang Rae Mi.”

Jinhyo mendelik tak terima, harga dirinya sangat tinggi dan ia tak mau meminta maaf meskipun melalui surat yang tak tulus sekalipun.

“Aku tak mau melakukannya!” tolak Jinhyo.

“Yah, terserah. Kau bisa bermalam atau bahkan tinggal di penjara kalau itu maumu.” Jawab polisi itu seraya menyeruput kopinya.

Jinhyo melirik kakaknya, meminta bantuan pada gadis itu. Karena apapun yang terjadi dia tak sudi menulis permintaan maaf apapun.

*Hyojin POV*

“Ah ya ampun pak, bukankah surat itu cuma akan jadi kertas sampah yang akan dibuang atau dijual kembali sebagai barang rongsokan?. Saya akan membayar uang jaminan itu, tapi soal surat permohonan maaf… euh, sepertinya anak ini terlalu sibuk untuk melakukannya.”

Aku harus tetap tersenyum sopan seperti ini sampai polisi tanpa seragam itu mau mendengarkan usulanku. Ha-ha-ha, dasar Jinhyo sialan! Aku harus mengeluarkan uang untuk membebaskannya, tersenyum palsu untuk menyelamatkan harga dirinya, dan merahasiakan soal masalahnya ini dari ayah serta ibu. Tapi tetap saja anak menyebalkan itu masih membenciku dan menganggap bahwa aku ini musuhnya!. Wah, lucu juga kehidupan ini!.

“Tidak ada tawar menawar nona. Lakukan keduanya atau tidak sama sekali dan siapkan diri untuk tinggal di penjara.”

“Aku tetap tidak mau.”

Apa aku masih harus menyelamatkan harga dirinya?, sudah jam berapa ini?, ayah dan ibu bisa khawatir jika kami tak segera pulang untuk makan malam. Lagipula, aku sudah membeli kue untuk mereka. Seharusnya kami bisa merayakan ulang tahunku yang tertunda karena tak punya cukup uang untuk membeli kue. Bukannya tersendat di kantor polisi seperti ini. Terima kasih untuk Lee Jinhyo, berikan tepuk tangan di kepalanya.

“Ba-bagaimana kalau aku saja yang menulisnya?”

“Jadi kau juga mau menggantikannya bermalam di penjara?”

Bunuh aku! Bunuuuuh!. Ah sialan, kenapa pak polisi ini dingin sekali sih? Kenapa untuk selembar kertas dengan tulisan yang jelas tak tulus itu menjadi soal?. Kenapa tak memberikan keringanan untuk hal sekecil itu?. Kenapa juga dengan bodohnya si Jinhyo membuat masalah dengan Rae Mi?.

Kenapa aku tak bisa menikmati strawberry cheese cake-ku? Kenapaaaaaaa?.

“Baik akan saya bayar plus surat permohonan maaf dari Lee Jinhyo!”

“Noona!”

Tanpa bisa menahan kekesalan lagi aku memukul kepala anak dungu ini dengan keras. “Tulis saja bodoh!, kau mau membayar uang jaminannya? Punya uang? Tidak kan?!” setelah itu dia diam. Bagus, sekarang aku ini bos-mu. Awas kalau macam-macam lagi!.

“Kalau boleh tahu, berapa uang jaminan yang harus saya bayar?”

“Tentu kau boleh tahu.”

Masih dingin saja sih!.

“Semuanya satu juta won. Termasuk murah karena adikmu masih dibawah umur.”

Sa-sa… satu juta won dia bilang?.

***

Noona lapar!”

Apakah membunuh bisa membuatku masuk penjara? Tentu saja!. Apalagi jika orang-orang mengetahui niat busukku untuk memotong-motong tubuh Jinhyo menjadi tujuh lalu kukubur di tujuh tempat berbeda. Bisa-bisa aku masuk berita paling heboh soal psikopat baru di jaman modern.

Noona!. Aku mau makan hanwoo! Daging!”

Hanwoo? Daging?. Baiklah, biar aku gorok lehermu dulu supaya aku bisa lebih leluasa memotong dagingmu untuk dimakan bersama ayah dan ibu, setuju?”

“Aku tidak tahu kalau selama ini kakakku telah menjadi orang cacat mental.”

“DIAM DASAR SIAL!”

Kupercepat langkahku, bis terakhir sudah lewat dan kami harus pergi ke stasiun bawah tanah untuk naik kereta, uang tabungan untuk kuliahku hilang untuk membebaskan anak sialan ini dan sekarang dia minta ditraktir makan, masih belum puas untuk mencekikku?!. Rae Mi juga sudah pulang duluan, sepertinya marah dengan perkataanku pada Jinhyo tadi. Ah, besok aku harus menjelaskan padanya atau tetap mempertahankan kemarahan kami?. Jujur, aku pun kesal dengannya yang selalu membela Lee Dae Ryeong. Padahal dia tahu seberapa kejam ayahnya itu terhadapku. Tapi, aku juga tak mau persahabatan kami hancur hanya karena pria tua tak tahu diri itu.

“Arrghh kenapa jadi rumit begini!” keluhku sambil mengacak rambut.

“Daripada kau gila seperti itu, lebih baik belikan aku makanan!. Ramyeon juga boleh kok.” Jinhyo menarik bungkusan berisi kue milikku, “Ini juga makanan kan?”

“Jangan!” pekikku, “Ini spesial. Tak akan kubiarkan kau memakannya sendirian!”

“Karena itu belikan aku makanan!. Aku kan sudah menulis surat permohonan maaf dan memanggilmu noona!”

Kupukuli tubuhnya berkali-kali agar dia sadar bahwa bocah ini sudah bicara menggunakan banmal lagi terhadapku. Lebih baik kujewer telinganya tanpa ampun selagi aku menyesali amblasnya uang kuliahku demi menyelamatkan anak tak tahu diri ini!.

Hah!, banyak sekali sih masalahku?. Soal Lee Dae Ryeong, Kang Rae Mi dan persahabatanku, lalu bocah menyebalkan ini… belum lagi soal…

“Park Chanyeol?”

“Woah!, siapa dia? pacar noona?”

Aku tidak sedang berhalusinasi kan?. Pria yang berdiri didekat pohon dekat trotoar itu Park Chanyeol kan?. Hanya karena dia mengganti warna rambut merahnya dengan coklat belum tentu aku bisa lupa soal wajah tampan -ah sial! Pikirkan apa aku ini!.

“Kudengar kau ada masalah… euh… kantor polisinya dekat sini… jadi…”

“Omong kosong! Dia pasti sudah mati cemas menunggu noona!”

Apa harus kutendang kepala anak ini biar sadar situasi eoh?!.

“Tidak kok… aku…”

“Sudahlah, hyung. Tak usah malu-malu, noona-ku juga suka padamu. Aku lihat fotomu banyak sekali di lemari milik noona.”

Bocah sialan! Jadi dia memeriksa barang-barangku?!. Sebaiknya kuhajar dia sebelum-

“Oke! oke! aku mengaku!. Aku cemas makanya aku menunggu disini!”

“Ah, drama menjijikan.” Entah kenapa ledekan Jinhyo sama sekali tak berpengaruh padaku. Yang aku ingat hanya kata-kata terakhir pria ini… a-apa tadi?

‘Aku cemas makanya aku menunggu disini!’

 

‘Aku cemas makanya aku menunggu disini!’

 

‘Aku cemas!’

 

‘Aku menunggu’

 

‘Aku mencemaskanmu!’

Ha-halusinasi kan?. Cu-cuma delusiku kan?.

“Karena itu, kau baik-baik saja Lee Hyojin?”

~TBC~

Maafkeun semuanya karena saya baru bisa update sekarang karena beberapa minggu ini sibuk ini itu dan ide lagi seret. Niatnya sih pengen hiatus lagi tapi kasihan pembaca yang udah nungguin season 2 yang gagal dan lanjutan re : turn on ini. Jadilah saya kebut buat chapter 5 ini dan gak sempet ngecek dulu sebelum kirim.

Nah untuk info (bukan spoiler) kali ini saya mau fokus ke konflik keluarga Hyojin, mulai dari adiknya sampe nanti sama ortunya. Jadi buat yang nunggu scene romance ChanHyo, mohon bersabar~ini ujian~ kekeke. Tapi nanti pemain lainnya juga bakal kedapetan scene romance kok jadi tunggulah wahai pembaca.

Terus, udah ada yang bisa nebak siapa pria asing yang gangguin Hyojin?. Yang sempet baca season2 mungkin udah nebak yah. Tapi tokoh tambahannya bukan cuma jiyeon-myungsoo loh, author udah nambahin tokoh lagi yang masih rahasia entah itu cewek atau cowok kekeke.  Keep penasaran dan tunggu kelanjutannya yeth!

Okelah kalau begitu, RCL Juseyooooo~~

Iklan

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You [Re : Turn On] (Chapter 5)

  1. Gemes gua sama hubugnnya Chanjin 😭.
    Sekali2 si chan dikasi pelajarn gitu kek.
    Cuek bener sama hyojin ri kemarnkemarn.
    Fhaiting thor 💪 next next next .jgn hiatus lagi y 😚😘😙

  2. Aku tunggu lho chapter selanjut nya.. Oke lah aku jga udh gereget sma kakek lee .. Jdi antusias klw mau fokus sma permasalah keluarga nya.. Kheum chanyeol udh ganti rambut makin ganteng? Terus ngecemasin noona hyo ? 🙂

    apa yixing kan ada lesung pipi nya. !

  3. Akhirnyaa update juga :v
    Kenapa scene chanjin’nya dikit?
    Padahal yang paling ditunggu lohh 😥
    Next next next chapternya banyakin scene chanjin ya kakk.. kalo’ bisa ya yang ada romantis”nya kkkk 🙂

    Pliss fast update dong kak :'(oke
    Ditunggu next chapternya

  4. aigoo, akhir x d.next juga 🙂 eoh, hyojin eonni i miss u, author lee memang nappeun krna membuat ku merindukan saudara kembar ku hyojin eonni… But, jgn lupa d.next ya, krna cerita x tambah bgs+ seru… Dan klo bsa d.panjangin lagi cerita x… Hwaiting author lee

    2017-02-01 22:36 GMT+08.00, EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s