[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 6)

IMG_7057(1).JPEG

 

Tittle/judul fanfic                 : Reason Why I Life

Author                                     : Park Rin

Length                                     : Chaptered

Genre                                      : Romance, Family, Angst

Rating                                     : PG-13

Main Cast&Additional Cast   : Baekhyun

Park Sung Rin (OC)

Mingyu Seventeen

All EXO’s Members

Ect.

Summary                                 : “Maafkan aku karena tidak bisa melepaskanmu.” Ujar Baekhyun pelan.

Disclaimer                               : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98. Baca juga di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/

Author’s note  : Halo! Ini FF pertama author, semoga kalian suka dengan FF ini. Selamat membaca.

“Maafkan aku karena aku memintamu untuk tidak pergi kemana-mana.”

“Kenapa minta maaf? Ini memang sudah tugasku sebagai pacarmu.” Ia menatapku begitu lembut, akankah aku bisa mengakhiri semua ini?

Oppa, bukankah sebaiknya kita akhiri saja semuanya disini?” Aku menundukan kepalaku, dapat aku rasakan genangan air di mataku.

Author’s POV

Oppa, bukankah sebaiknya kita akhiri saja semuanya disini?” Rin menundukan kepalanya, air matanya sudah tergenang.

“Sepertinya Chanyeol telah memberitahukanmu banyak hal.” Baekhyun tersenyum nanar, dia dapat merasakan dadanya sesak. Semalam ia mengikuti Rin setelah ia selesai bekerja. Niat awal Baekhyun adalah menjelaskan segala yang terjadi, namun tak disangka ia melihat Rin masuk untuk bertemu Chanyeol di Reason café dan samar Baekhyun dapat mendengar Chanyeol menyuruh Rin untuk putus dengannya, lalu menjelaskan semua hal yang ingin Baekhyun jelaskan kepada Rin.

“Mengapa oppa tak pernah bicara denganku tentang hal ini? Jika aku tahu seperti ini jadinya aku…”

“Kau kenapa? Kau akan menolakku atau akan menjauh dariku?” Baekhyun mulai kesal. Rin makin menundukan kepalanya dalam. Kata-kata Baekhyun tak sepenuhnya salah. “Rin-a, tatap aku… kumohon, satu kali ini saja percayakan semuanya padaku.” Baekhyun mengangkat dagu Rin, kemudian mengusap air mata yang terus mengalir.

Rin makin terisak, disatu sisi ia ingin mempercayai Baekhyun, namun di satu sisi dirinya tak mungkin sanggup bila akhirnya ia dan Baekhyun sama-sama berakhir menyedihkan. Baekhyun memeluk Rin sambil mengusap kepalanya halus. Baekhyun tahu, Rin sedang begitu bimbang saat ini.

“Percayakan semuanya padaku, Rin.” Baekhyun berbisik pelan, namun Rin masih terus saja menangis.

“Tapi, aku takut oppa.” Bisik Rin ditengah pelukkannya dengan Baekhyun.

“Tak ada yang perlu ditakutkan, Rin. Aku yakin semuanya baik-baik saja.” Baekhyun mengusap kepala Rin halus. Ia memejamkan matanya, berusaha untuk memberi tahu bahwa dirinya begitu mencintai Rin.

Dua puluh menit dengan posisi seperti itu, Baekhyun dapat merasakan isakan Rin berubah menjadi deru nafas halus, Rin tertidur. Baekhyun tersenyum, ia kemudian membenarkan posisi tubuh Rin menjadi terlentang.

“Maafkan aku karena tidak bisa melepaskanmu.” Ujar Baekhyun pelan. Ia mengusap rambut Rin pelan, kemudian menarik selimut hingga dada Rin. Tak lupa ia mengecup pelan dahi kekasihnya itu dengan lembut.

Baekhyun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Rin. Langkahnya tertuju pada dapur rumah Rin, tujuannya adalah memasakkan sarapan untuk mereka berdua. Baekhyun tak ingin melihat Rin kesakitan seperti semalam, meskipun sekarang Baekhyun harus kembali bergulat dengan panci dan penggorengan.

Empat puluh lima menit adalah waktu yang dibutuhkan Baekhyun untuk menyelesaikan dua mangkuk bubur, telur gulung, dan kimchi jjigae. Baekhyun tesenyum bangga dengan hasil dari pergulatannya dengan panci dan penggorengan, jangan lupakan pisau yang juga berhasil menggores tangannya sedikit.

“Rin-a, bangunlah. Ayo makan dahulu.” Baekhyun mengusap kepala Rin, sambil membisikan kata itu ditelinga wanita itu.

Mata Rin perlahan tebuka, senyuman manis Baekhyun adalah hal pertama yang ia lihat setelah bangun dari tidurnya.

“Astaga oppa, aku harus sekolah.” Rin beranjak cepat dari tempat tidurnya setelah menyadari matahari sudah sangat tinggi, namun belum sempat berdiri perut Rin terasa nyeri kembali.

“Diamlah Rin, tidak usah sekolah hari ini, kau masih sakit. Aku akan menelepon gurumu.” Baekhyun menjawabnya cepat membuat Rin teridam.

Baekhyun kemudia mengambil ponsel Rin dan mencari nomor wali kelasnya. Baekhyun segera menyamar sebagai Mingyu kemudian meminta izin pada guru itu. Setelah selesai meminta izin, Baekhyun kemudian membantu Rin untuk bangun, dan menggandengnya menuju meja makan.

“Maafkan aku, karena aku hanya bisa memasakkan hal ini untukmu.” Kata Baekhyun setelah mencapai meja makan.

Ring menggeleng, “Tidak usah minta maaf, ini lebih dari cukup untukku.”

Baekhyun tersenyum cerah, kemudian mempersilahkan Rin untuk makan. Baekhyun begitu bahagia melihat rin menyantap buburnya suap demi suap.

“Mengapa melihatkku seperti itu?” Kata Rin heran.

Baekhyun kemudian tersenyum cerah. “Aku bahagia melihatmu makan dengan begitu baik.”

Rin hanya tersenyum, kemudian melanjutkan acara makannya. Baekhyun kemudian mulai menyendok makanannya, namun…

“Aw!” Teriak Baekhyun saat tangannya yang teriris tak sengaja tersenggol sendok disebelahnya.

“Kenapa? Astaga, kau terluka, oppa.” Rin kaget mendengar teriakan Baekhyun, bertambah kaget saat jari Baekhyun mengeluarkan darah.

“Aku tidak apa-apa.” Baekhyun tersenyum sambil meringis, berusaha menutupi rasa sakit dijarinya.

“Tunggu sebentar, aku akan segera mengobatinya.” Rin beranjak dari duduknya, berjalan menuju kotak P3K yang ia simpan di lemari.

Rin menuangkan alkohol ke kapas, kemudian mengusap pelan tangan Baekhyun yang berdarah. Baekhyun hanya meringis saat kapas berisi alkohol itu membuat tangannya perih. Rin tersenyum geli melihat Baekhyun yang meringis.

“Mengapa tersenyum?” Baekhyun yang menyadari Rin tersenyum geli buru-buru merubah ekspresi wajahnya.

“Kau begitu lucu, oppa.” Kata Rin sambil menaruh kassa betadine ke tangan Baekhyun kemudian membungkusnya dengan kasa bersih lalu merekatkannya dengan plester. “Nah, sudah selesai.” Rin tersenyum kemudian merapikan kembali alat-alat yang ia gunakan tadi.

“Terima kasih.” Baekhyun menatap Rin tulus.

Mata mereka bertemu, kemudian perlahan kedua insan itu mendekat, mata mereka terpejam. Tak lama bibir mereka bertemu, mereka berciuman sebentar. Setelah itu mereka saling menatap. Baekhyun mengelus kepala Rin pelan, ia menatapnya dengan hangat.

“Maafkan aku telah menyakitimu. Terima kasih kau selalu mengobatiku, ku harap kita bisa selalu seperti ini selamanya. Ingatlah Rin sebesar apapun masalah yang kita hadapi aku tak akan pernah melepaskanmu. Aku sangat mencintaimu.” Baekhyun memeluk Rin. Rin terdiam, hatinya mulai luluh dengan semua kata yang digunakan Baekhyun untuk meyakinkannya.

“Aku juga mencintaimu.” Rin mengatakannya tulus, ia memutuskan untuk mempercayai Baekhyun sekarang.

Rin dan Baekhyun tidak mengetahui bahwa sekarang mereka sedang diawasi oleh seorang laki-laki. Laki-laki itu menatap tidak suka kepada kedua pasangan yang tengah berpelukan itu. Ia melangkahkan kakinya gusar menuju pintu keluar, kemudian keluar dari apartemen itu dengan membanting pintunya keras.

BRAK

Suara pintunya membuat acara berpelukan Baekhyun dengan Rin terhenti saat pintu depan mereka ditutup tiba-tiba. Rin dan Baekhyun segera bergegas untuk mengetahui siapa orang yang membanting pintu itu. Saat mereka keluar dari apartemen, siulet lelaki itu bertubuh tinggi menjauh, Rin tahu benar itu Mingyu.

Rin berlali cepat diikuti dengan Baekhyun. Rin yang memulai larinya lebih awal dari Baekhyun dapat meraih lengan Mingyu.

Oppa! Mengapa tiba-tiba pergi?” Tanya Rin setelah ia berhasil mengatur nafasnya yang menderu setelah mengejar Mingyu. Mingyu menatap Rin dingin, seolah ia mengatakan bahwa Rin melakukan kesalahan yang sangat besar. “Bukankah kau harus mendengarkan penjelasanku dahulu sebelum tiba-tiba pergi?”

Baekhyun menyusul Rin dengan deru nafas tak teratur khas orang setelah berlari. Baekhyun tahu apa yang terjadi dengan Mingyu hingga ia bisa semarah ini.

Saat Baekhyun ingin mengatakan sesuatu, “Oppa, sebaiknya kau tunggu di apartemen saja. Aku akan bicara dengan Mingyu oppa dahulu.” Rin menyuruh Baekhyun masuk. Baekhyun ingin menolak namun ia dipelototi oleh Rin, hingga akhirnya Baekhyun pasrah.

Setelah Baekhyun menghilang dibalik lorong apartemen, Rin menarik Mingyu menuju taman kecil yang terdapat di apartemen mereka. Rin menyuruh Mingyu yang duduk disebuah bangku panjang di sana.

“Rin-a, aku tahu kau menyukai Baekhyun, tapi tak bisakah kau mengikuti kata-kataku sekali ini saja?” Mingyu membuka pembicaraan itu segera setelah mereka duduk di kursi panjang itu. Mata Mingyu memancarkan kilat kemarahan.

Oppa, maafkan aku karena tidak bisa menjauhi Baekhyun oppa.” Kata Rin sambil menunduk.

“Rin-a, sebesar itukah kau mencintai Baekhyun hingga tidak bisa melepaskannya meskipun kau sudah disakitinya?” Mingyu menatap Rin frustasi.

“Aku sudah berusaha menahan diriku oppa, aku bahkan mengumpulkan segala alasan agar aku bisa menemukan alasan yang kuat untuk menjauhninya. Alasan itu memang awalnya membuatku menyadari bahwa aku tidak bisa bersamanya, tapi semakin aku memikirkan perasaan itu semakin aku merasa bahwa kehidupanku disini.” Rin mengangkat kepalanya, Menatap Mingyu pasti.

“Tak bisakah kau jadikan diriku alasan untuk menjauhinya?” Tanya Mingyu menatap mata Rin tajam. Rin yang ditatap seperti itu hanya menundukan kepalanya. “Rin-a, aku benar-benar memiliki perasaan yang tidak baik dengan hubungan kalian.”

Oppa, kumohon abaikanlah perasaanmu saja dahulu.” Rin menatap Mingyu sedih.

“Tapi Rin, aku sudah kehilangan kepercayaanku padanya. Baekhyun menyakitimu bahkan saat kalian belum seminggu pacaran.” Mingyu menatap Rin iba, tatapan itu seolah menyiratkan betapa besarnya kasih sayangnya pada Rin.

“Aku tahu hal itu, oppa. Tapi, Baekhyun telah membantuku untuk melewati masa sulitku. Baekhyun membantuku saat aku sangat rapuh, ia bisa menguatkanku. Aku tahu Baekhyun benar-benar mencintaiku.” Rin teringat saat masanya ia sangat bergantung kepada Mingyu, saat Mingyu menjauhinya karena kesibukannya.

“Kumohon Mingyu-ya, berikan aku kesempatan.” Suara Baekhyun mengagetkan Rin dan Mingyu. Baekhyun memang tidak mengindahkan kata-kata Rin yang menyuruhnya kembali ke apartemen. Baekhyun lebih memilih untuk mengikuti dan menguping pembicaraan Rin dan Mingyu.

Mingyu memaligkan wajahnya, tak ingin melihat laki-laki yang telah menyakiti adik angkatnya itu. Rin menatap Mingyu memohon, Rin mengerti mengapa Mingyu marah. Baekhyun yang ada disitu hanya menatap Rin dan Mingyu, kepalanya berputar mencari cara agar Mingyu bisa mempercayainya lagi.

Oppa!” Rin kemudian memanggil Mingyu pelan. Ia menggengam tangan Mingyu, namun Mingyu menepisnya membuat Rin mengigit bawah bibirnya.

Melihat hal itu, baekhyun makin memutar otaknya cepat. Ia harus benar-benar menemukan cara agar Mingyu bisa mamaafkannya dan memberikannya kesempatan atau semuanya akan menjadi berantakan lagi.

“Kumohon Mingyu, sekali ini saja berikan hyung kesempatan.” Baekhyun menatuhkan lutunya ketanah. Ia memohon sambil berlutut dihadapan kursi yang tengah duduki oleh Rin dan Mingyu. Membuat Rin mebulatkan matanya dan Baekhyun juga berhasil membuat Mingyu meliriknya sebentar.

Oppa, bangulah! Kau tidak harus melakukan ini. Cepat bangun! Bagaimana jika ada orang yang melihat?” Rin panik, ia segera bangun dari tempat duduknya dan memegang lengan Baekhyun untuk menyuruhnya berdiri, namun Baekhyun menepisnya.

Mingyu yang tadinya melirik kembali memalingkan matanya, membuat Baekhyun sedih. Rin yang melihat itu semakin gencar untuk menarik Baekhyun supaya ia mau bangun.

Hyung, kau serius meminta kesempatan dariku?” Mingyu kini menatap Baekhyun. Baekhyun yang sudah mengerti dengan alur pembicaraan mereka hanya mengangguk mantap. “Apakah hyung yakin?” Mingyu berusaha meyakinkan keputusan Baekhyun, Baekhyun tetap menangguk.

Bug

Sebuah tinjuan keras mendarat di pipi kiri Baekhyun. Rin yang melihat itu semua segera menghampiri Baekhyun. Ia dapat melihat darah mulai keluar dari sudut bibir Baekhyun.

Ya! Oppa, apa yang kau lakukan?” Rin meneriaki Mingyu marah.

“Itu karena Hyung sudah menyakiti adikku.” Mingyu menatap Baekhyun marah, ia tidak peduli saat ini Rin sedang menatapnya tajam.

“Rin menjauhlah.” Bisik Baekhyun di telinga Rin. Rin menggeleng, ia tidak tahu apa yang terjadi, namun ia tahu pasti Mingyu sedang marah besar. “Menjauhlah, sekarang!” Baekhyun membentak Rin, kemudian mendorongnya menjauh.

Bug

Satu lagi tinjuan keras di pipi kanan Baekhyun. Rin mulai menangis, ia tidak mengerti mengapa Baekhyun tetap diam saat menerima semua pukulan Mingyu.

TBC

Note’s: Maafkan author yang tiba-tiba merubah sudut pandang ya L. Author sangat berharap kalian masih suka dengan cerita author meskipun ada perubahan sudut pandang. Author punya beberapa alasan yang tidak bisa di jelaskan sehingga mengganti sudut pandangnya. Terima kasih sudah membaca! XOXO

Iklan

6 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 6)

  1. Babak belur deh wajah baek ku uhuhu
    Nyari gegara si kau baek jd gini kan…
    Semoga berjalan mulus stlh ini, ga ada gangguan sana sini
    Semangat baekrin

  2. tak masalah dengan sudt pandang asal bahasa untuk mendeskripsikan sesuatu tetap diperjelas agar pembaca tetap bisa mengerti apa yg author bayangkan. semangat untuk next chapternya

    • Halo!!! Terima kasih sudah membaca ya 😚😚😚😚
      Author usahakan ya sayang 😘😘
      Terima kasih untuk semangatnya 😊😊
      Ditunggu chapter selanjutnya ya 😙😙😙😙

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s