[EXOFFI FREELANCE] The Sound of The Rain (Chapter 2)

picsart_01-07-06-33-21.png

Title    : The Sound of The Rain – Chapter 2

Author    : Whitecreamy

Main cast    : Lee Shin Young/Rose (OC), Byun Baekhyun, Oh Sehun

Support cast    : EXO members and others

Genre    : Angst, Sad, Romance, Family, Action

Length    : Multichapter

Disclaimer    : I only own the story

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

♥♥♥

CHAPTER 2

That person was the one who made me smile

That person was the one who made me cry

(Lee Seung Chul – That Person)

Pintu kamar Shin young terbuka. Menampakkan ji hyun yang sekarang berdiri di ambang pintu. Ia telah tampil cantik dan rapi. dia memasuki kamar shin young, lalu menatap si pemilik kamar dengan tatapan yang mengintimidasi. Shin young sedang menyisir rambut, dari kaca rias nya ia bisa melihat bagaimana ji hyun telah bersiap meluncurkan serangan nya.

“Semalam kau pulang sangat larut. Kemana saja kau? Clubbing atau kerja lembur bersama bos mu yang tampan itu?” benar dugaan Shin Young. Mana mungkin gadis itu mau repot repot mengunjungi kamarnya kalau tidak untuk mengganggu nya. Shin young meletakkan sisirnya, lantas ia memutar tubuh dan mulai berjalan ke tempat Ji Hyun berdiri. Shin Young tersenyum.

“Ya, aku memang pulang larut semalam. Itu karena aku melewatkan bus yang seharusnya aku naiki. Terima kasih sudah mempedulikan ku, Ji Hyun-ah.”

Jawaban Shin Young yang begitu santai membuat Ji Hyun kesal. Niat hati ingin menyindir Shin Young tapi malah yang disindir tampak tenang – tenang saja.

“Aku sedang tidak mempedulikanmu. Jangan terlalu percaya diri, anak pungut!”

Anak pungut? Wow! ini kosa kata baru yang dipakai Ji Hyun untuk menghina Shin Young sepertinya. Sebelumnya Ji Hyun tidak pernah mengatai Shin Young seperti  itu. Namun Shin Young tetap bersikap tenang. Karena terpancing sedikit saja, si gadis manja yang juga arogan itu akan dengan mudah menginjak – injak harga diri Shin Young.

“Kalau kau memang tidak sedang mempedulikan ku, seharusnya kau tidak perlu bertanya mengapa semalam aku pulang terlambat.”Ji hyun akan membalas lagi, tapi syukurlah ibu datang.

“Ji Hyun, Shin Young…makanan sudah siap. Ayo turun, ayah sudah menunggu kalian.”Shin Young mengangguk sambil tersenyum ke arah ibu nya, sedangkan Ji Hyun terlihat sebal karena sepertinya ibu telah menggagalkan rencananya mengacau Shin Young pagi ini.

Shin Young lantas keluar dari kamar lebih dulu, mengacuhkan Ji Hyun yang masih berdiri disana. Ugh, gadis itu masih kesal. Sejak dulu ia memang tidak pernah berhasil mengintimidasi Shin Young. Dengan kesal, akhirnya Ji hyun menyusul jejak Shin Young. Kini keluarga Lee telah berkumpul di ruang makan. Beberapa hidangan telah tersaji di meja makan.

Shin Young segera mengambil tempat duduk. Begitu pula Ji Hyun yang datang tak lama setelahnya. Gadis itu tampak cemberut. Jelas masih ada kekesalan disana. Tuan Lee menyeruput kopi sambil membaca surat kabar harian nya.

“Ayah…”ucap Shin Young menginterupsi kegiatan tuan Lee. Laki-laki paruh baya itu langsung meletakkan surat kabarnya, kemudian menatap Shin Young.

“Ada apa, Young-ah?”

“Ehm, hari ini aku mengambil cuti, ayah. Jadi aku ingin minta ijin ayah untuk pergi ke Ilsan.”jawab Shin Young.

“Tentu saja ayah mengijinkanmu.”

“Seharusnya kau memberitahu ibu sejak kemarin, jadi ibu bisa menemani mu pergi ke Ilsan. Hari ini ibu sudah terlanjur membuat janji dengan teman ibu.”ucap nyonya Lee mengungkapkan penyesalannya.

“Tidak apa-apa ibu, lagi pula aku kan sudah terbiasa pergi sendirian.”

“Kalau begitu, ayah akan mengantar mu ke stasiun dulu sebelum berangkat ke kantor.”

“Ayah!”tiba-tiba Ji Hyun berseru disertai dengan ekspresi cemberut.

“Kenapa? Kau ingin mengantar Shin Young ke stasiun juga?”

“Cih, tidak mau. Aku hanya ingin mengingatkan ayah kalau ayah harus mengantar ku ke kampus pagi ini.” Gadis itu menatap tajam ke arah Shin Young, sementara Shin Young tampak tidak mempedulikan Ji Hyun. Ia sudah menduga sebelumnya kalau gadis itu pasti akan mengahalangi ayah nya mengantar Shin Young ke stasiun.

“Kenapa tidak ikut saja? Bukan kah jarak stasiun dengan kampus mu itu cukup dekat.”ibu ikut menanggapi.

“Aku bisa terlambat kalau ikut mengantar Shin Young ke stasiun.”mendengar jawaban putrinya, ibu justru tertawa. Padahal jawaban itu sama sekali tidak lucu, justru sangat normal.

“Sejak kapan putri ibu takut terlambat datang ke kampus. Bukan kah kau sering terlambat bahkan juga pernah membolos? Sampai-sampai ibu harus bertemu dengan dosen mu yang super galak itu?”

Hahaha !!Mati kau Lee Ji Hyun!!! kali ini bukan Shin Young yang membalas ucapan mu, tapi justru ibu mu sendiri. Ingin sekali Shin Young tertawa, tapi gadis itu masih tahu sopan santun. Alhasil, cukup tertawa di dalam hati saja. Sementara itu, Ji Hyun tampak benar-benar terbakar emosi. Sama sekali tidak menyangka bahwa ibu nya akan membongkar aib nya selama ini.

“Jadi kau sering membolos kuliah, Ji Hyun-ah?”tanya tuan Lee dengan tenang tapi sangat mengintimidasi. Gadis itu tertunduk. Malu dan takut. Selama ini ia aman dari murka ayah, karena ibu selalu membantu nya berbohong. Tapi kali ini tidak lagi, sepertinya ibu sudah lelah berbohong.

“Ayah tidak perlu mengantar ku ke stasiun. Aku bisa berangkat sendiri. Lagi pula ada beberapa tempat yang akan ku kunjungi dulu sebelum benar-benar berangkat ke Ilsan.”ucap Shin Young mengalihkan sekaligus menjadi akhir dari perbincangan pagi itu. Membuat ji hyun sementara aman karena ayah langsung menghentikan perdebatan.

♥♥♥

Seorang laki-laki tengah memilih beberapa rangkaian bunga, saat tiba-tiba matanya menangkap siluet seorang perempuan yang ia kenal. Laki-laki itu lantas mendekati si perempuan yang juga tampak sedang memilih beberapa bunga mawar.

“Lee Shin Young…?”

Mendengar namanya di sebut, perempuan tersebut membalikkan badannya. Ia cukup terkejut begitu mendapati seorang laki-laki tinggi dan tampan berdiri di hadapannya. Shin Young sangat mengenal pria tersebut. Dialah Oh Sehun.

Pertemuan keduanya kemudian berlanjut di sebuah café yang tidak begitu jauh dari toko bunga. Mereka memilih tempat duduk yang berada di sudut dekat jendela. Dua gelas buble tea tersaji di hadapan mereka. Minuman favorit Sehun juga Shin Young.

“Jadi, kau tidak melanjutkan pendidikan di bangku universitas dan memilih bekerja di toko buku?”tanya Sehun seraya menyesap buble tea nya. Setelah saling menanyakan kabar dan bertukar nomor ponsel, mereka melanjutkan obrolan ke hal – hal lain, seperti kesibukan mereka saat ini.

“Hem, begitulah. Menghasil kan uang sendiri terasa lebih menyenangkan.”

“Sayang sekali,padahal aku berharap kau melanjutkan studi di bidang musik. Kau sangat berbakat dalam hal itu.”

“Kau adalah orang kesekian yang menyayangkan keputusan ku.”

“Kau tidak menyesal kan?” Sehun menatap gadis di hadapannya ini. Mencoba mencari penyesalan di mata indah nya. Dan sayang nya Sehun tidak mendapatkannya. Ia tiba-tiba menjadi grogi sendiri saat menatap Shin Young.

“Apa aku terlihat sangat menyedihkan hanya karena aku memilih bekerja?”

“Tidak. Sama sekali tidak. Kau masih terlihat seperti Shin Young yang ku kenal. Pendiam dan misterius.”Shin Young tertawa kecil menanggapi pernyataan Sehun. Ia lalu menyesap buble tea nya lagi, menyisakan sepertiga gelas.

“Lalu, bagaimana kau sendiri?”kini giliran Shin Young bertanya.

“Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja.”jawab Sehun sambil mengangkat kedua bahunya.

“Dilihat dari pancaran wajah mu sepertinya kau sudah berhasil menjadi dokter bedah seperti yang kau impikan.”Shin Young memicingkan matanya,”Apa aku benar?”

“Yap. Kau selalu benar Lee Shin Young.”Sehun mengerlingkan mata nya ke arah Shin Young yang langsung di sambut tawa oleh gadis itu. Dasar Sehun ! Dari dulu tidak berubah. Dia masih suka menggoda Shin Young dengan kerlingan mata yang lebih cocok dia berikan pada para fans nya. Melihat Shin Young tertawa memberikan kehangatan tersendiri di hati Sehun. Pria itu selalu menyukai cara Shin Young tertawa, apalagi Shin Young tertawa seperti itu hanya di depannya saja. Sehun sangat bangga menjadi satu-satunya pria yang mampu mendekati Shin Young. Ya ,walau pun hanya sekedar dekat. Tidak untuk menjadi kekasih gadis itu.

“Oh ya,Hun-ie…bagaimana dengan kabar Sena. Aku juga sudah lama tidak berkomunikasi dengannya.”Sehun tidak langsung menjawab pertanyaan Shin Young. Pria berkulit putih pucat itu terpana dengan cara memanggil Shin Young. Hun-ie. Ugh…sudah sejak lama ia rindu dipanggil dengan sebutan itu. Shin Young memang lebih muda dua tahun dari Sehun, tapi gadis itu lebih suka memanggil nya dengan Hun-ie. Tidak memanggil oppa seperti yang seharusnya. Sehun pun tidak mempermasalahkan hal itu, dia justru merasa sangat spesial saat dipanggil Shin Young dengan sebutan itu.

“Hun-ie, are you okay?”Shin Young melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Sehun. Membuat laki – laki itu  kemudian tersadar.

“Apa yang kau tanyakan barusan?”tanya Sehun kemudian.

“Aish, kau melamun ya?”Sehun tersenyum malu.

“Bagaimana dengan kabar Sena,hm?”

“Sena, ya? Ehm,dia sangat baik. Bahkan sekarang dia sedang di Brooklyn untuk show perdana nya di panggung.”

“Wow, itu hebat sekali !! tolong sampaikan salam ku kepadanya.”Sehun mengangguk lalu menyesap buble tea nya hingga tidak tersisa.

“Sepertinya, aku harus segera kembali ke rumah sakit. Pasien ku pasti sudah menunggu bunga ini.”ucap Sehun sambil melirik rangkaian bunga di sebelahnya.

“Aku juga harus segera pergi ke stasiun.”

“Stasiun? Kau akan pergi ke suatu tempat?”

“Hem. Aku akan pergi ke Ilsan.”

“Mau ku antar ke stasiun?”

“Tidak. Terima kasih. Bukan kah kau harus segera kembali ke rumah sakit?”Kalau saja Sehun tidak berjanji kepada pasiennya untuk membelikan bunga, pasti Sehun dengan senang hati mengantar Shin Young ke stasiun. Mereka berdua kemudian keluar dari café bersama.

“Young,”panggil Sehun dan gadis itu langsung menoleh ke arah Sehun,”Akhir-akhir ini sering terjadi tindak kriminalitas di malam hari. Jadi, jangan pulang terlalu malam. Kau mengerti?”

“Hem, aku mengerti. Terima kasih sudah mengingatkanku.”

Dan mereka pun benar-benar berpisah. Shin Young berjalan ke arah halte bus yang memiliki rute ke stasiun. Sementara Sehun masih berdiri di tempatnya. Memandangi punggung Shin Young yang lama-kelamaan menjauh.

Hari ini benar-benar hari yang tidak terduga. Sehun tidak menyangka akan bertemu Shin Young. Memandangi gadis itu dan berbicara dengannya membuat Sehun kembali merasakan debaran jantung yang bertalu-talu dan rasa bahagia yang selalu menyeruak tanpa henti. Sekali lagi, ia jatuh cinta pada Lee Shin Young.  Tak peduli ia telah ditolak berapa kali oleh gadis itu, Oh Sehun selalu akan jatuh cinta pada Lee Shin Young.

♥♥♥

Bola besar berwarna jingga itu telah siap pulang ke peraduannya saat Shin Young sampai di sebuah bukit yang merupakan kompleks pemakaman. Ya, setiap bulan Shin Young selalu datang ke tempat ini. Sebuah tempat yang menyiratkan kesedihan,tapi Shin Young menyukai nya. Karena disinilah ia bisa dekat dengan ibu nya.

Shin Young melangkahkan kaki nya menaiki bukit kecil itu. Di tangan kirinya terdapat bunga mawar merah dan hijau. Dia berhenti sejenak, memandangi area pemakaman yang tidak begitu luas itu. Mata nya menangkap sosok laki-laki yang berdiri di dekat sebuah nisan. Dia tersenyum. Senang, karena untuk pertama kali nya ia tidak sendiri saat mengunjungi ibu nya.

Shin Young pun meneruskan langkahnya. Hingga akhirnya Ia berheti di sebuah nisan. Ia kemudian meletakkan bunga mawar yang dia bawa di atas nisan.

“Ibu,ini aku. Shin Young. Maaf, karena aku baru sempat mengunjungi ibu sekarang.”

Selain merindukan oppa, Shin Young juga sangat merindukan ibu. Ia merindukan segala hal tentang ibu nya. Terutama tangan ajaib ibu. Shin young masih ingat bagaimana sentuhan tangan ibu mampu membuat nya sembuh dari demam. Tangan ibu memang seperti tangan malaikat. Penuh kelembutan dan kehangatan. Namun, kini ia tidak bisa merasakannya lagi, karena ibu telah damai bersama Tuhan. Semoga.

Saat kelulusan SMA, Shin Young pulang ke Ilsan. Pada waktu itulah, ia mengetahui bahwa ibu nya telah meninggal karena penyakit yang dideritanya, sedangkan kakak pergi ke Seoul untuk mencari nya. Hati Shin Young remuk saat itu juga. Ia telah kehilangan semua nya. Yang tersisa hanyalah rumah nya yang dulu asri tapi kini telah nampak tua dan tidak terawat.

Shin Young mengusap air mata yang selalu meleleh tiap kali ia mengunjungi ibu dan terkenang masa-masa itu. Masa bahagia juga masa yang sulit. Ketika ibu mulai sakit, dan oppa yang mengambil peran mancari nafkah untuk ibu dan Shin Young. Meskipun terasa sulit, tapi sungguh Shin Young ingin kembali ke masa itu. Setidak nya, ia bersama ibu dan oppa. Sesulit apapun itu, ia yakin akan bisa menghadapinya. Karena ada ibu dan oppa di sisi nya.

“Ibu…aku dan oppa, pasti bertemu lagi kan? Aku sangat merindukan nya,ibu.”lirih Shin Young diikuti air mata yang kembali berderai. Shin Young kemudian duduk di sisi nisan ibu, menghadap ke arah matahari tenggelam.

Matahari telah benar-benar tenggelam dan menyisakan semburat jingga di langit. Shin Young melihat ke arah laki-laki tadi yang rupanya juga tengah duduk menatap langit senja. Angin berhembus pelan menerpa wajah Shin Young juga menerbangkan rambut panjang Shin Young. Desiran angin yang begitu lembut seolah mengatakan pada Shin Young bahwa semua akan baik-baik saja. Dalam hati nya, dia terus memupuk harapan bahwa suatu hari ia dan oppa akan bertemu lagi. Shin Young melihat ke arah pria itu sekali lagi.

“Apa dia juga merasakan hal yang sama seperti ku?”

♥♥♥

Sebuah bus berhenti tepat di sebuah halte, saat itulah Shin Young turun. Tapi dia tidak turun di halte dekat rumah nya. Ia justru turun di halte yang merupakan halte terdekat dengan lokasi saat ia bertabrakan dengan pria kemarin malam. Ya, Shin Young berniat mengembalikan USB milik pria itu. Saat dia melewati jalan itu lagi, keadaan nya sama seperti malam itu. Sepi tanpa satu pun orang atau kendaraan lewat. Shin Young sempat takut, tapi demi USB ini ia memupuskan rasa takut nya.

Shin Young telah sampai di depan gang sempit yang diapit dua bangunan besar di kanan dan kiri nya. Ia berdiri disana. Haruskah ia meneruskan langkah nya? Rasa ragu menghinggapi Shin Young. Apalagi saat melihat  gang sempit yang hanya ada satu lampu penerangan di tengah gang itu. Ia jadi teringat beberapa film horror ataupun misteri yang juga terkadang menampilkan adegan mengerikan di tempat-tempat seperti ini. Seperti pemerkosaan ataupun pembunuhan. Shin young bergidik ngeri. Bagaimana kalau hal itu terjadi padanya? Ah, tiba-tiba ia teringat nasihat Sehun tadi siang. Ya, seharusnya Shin Young menuruti apa kata Sehun. Ia seharusnya tidak pulang terlalu larut seperti ini. Pikiran seperti itu membuat Shin Young semakin gamang. Tapi bagaimana dengan USB nya? Bagaimana jika isinya sangat penting dan si pemilik sedang membutuhkannya. Pikiran terakhir lebih mendominasi, sehingga membuat Shin Young membuang kegamangan nya. Ia pun melangkahkan kaki nya memasuki gang itu.

Pelan tapi pasti, Shin young terus berjalan. Beberapa kali kaki nya terjebak di kubangan air, juga menabrak tong sampah. Shin Young mengeratkan jaket yang ia kenakan. Langkah nya berhenti saat ia mendengar suara-suara dari arah belakang. Shin Young tak berani melihat ke arah belakangnya. Suara itu kian terdengar jelas. Dan sepertinya itu suara sekumpulan laki-laki.

“Hei, siapa disitu?!!” teriak seseorang dari belakang. Shin Young memejamkan matanya. Tangannya mulai menggigil ketakutan.

Shin Young mendengar suara langkah kaki yang juga semakin mendekat. Shin Young tak punya pilihan lain, maka ia memutuskan untuk lari. Terus dan terus berlari. Berharap bahwa ia akan menemukan jalan keluar. Naas, harapan kosong lah yang Shin Young dapatkan. Tak ada jalan keluar, yang ada hanya jalan buntu.

Dengan terengah-engah Shin Young menatap sekeliling nya. Tak ada jalan lagi, yang ada hanya sebuah tempat yang cukup luas, tampaknya seperti sebuah lapangan. Ada beberapa drum tergeletak di sembarang tempat. Sebuah lampu besar di ujung lapangan menjadi satu-satunya penerang.

“Wow, ternyata dia perempuan !”

“Sepertinya kita sedang sangat beruntung.”

“Hei, nona manis ! kemarilah lalu kita  bersenang-senang!”

Tawa yang cukup keras terdengar dari para pria itu. Membuat Shin Young semakin takut saja. Sekarang ia benar-benar menyesali keputusannya.  Apa yang harus ia lakukan sekarang. Tidak mungkin ia menghadapi para pria itu. Shin Young tidak memiliki ilmu bela diri. Apa Shin Young harus menyerah saja? Membiarkan para pria itu mengambil harga diri nya? Tidak ! itu tidak boleh terjadi. Sangat mengerikan bukan jika ada berita seorang perempuan diperkosa, dibunuh lalu mayat nya dibuang di sungai? Ia tidak ingin menjadi headline news besok pagi. Ayah dan ibu akan menangis sedih sedangkan Ji Hyun akan tersenyum bahagia.

Bodoh! Shin Young bodoh! Tidak seharusnya ia berpikiran pendek seperti ini bukan? Setidaknya Ia harus bertemu oppa,  sebelum ia mati bukan? Jadi ia tidak boleh berakhir disini. Dengan sisa keberaniannya, Shin Young memutar tubuh nya menghadap tiga pria itu.

“Dia cantik sekali. Benar-benar malam yang penuh keberuntungan.”

“Kemarilah sayang. Kita bersenang-senang,ok? Di sini atau dimanapun yang kau inginkan…” Mereka bertiga kembali tertawa terbahak-bahak.

Ugh, menjijikan sekali. Tapi Shin Young tetap harus berani. Shin young memajukan kaki nya. Satu langkah. Dua langkah. Shin Young bisa melihat raut wajah senang ketiga pria itu. Shin young berhenti di langkah ketiga.

“Kenapa berhenti cantik, ayo lebih dekat lagi. Dan aku akan memelukmu.”

“Maaf, tapi aku kemari bukan untuk mendapatkan pelukan mu.”ucap Shin Young dengan sedikit bergetar.

“Wow, kau cukup berani rupanya!”

“Aku kemari hanya ingin mengembalikan sesuatu. Aku melihat nya masuk ke gang ini kemarin malam.” ketiga pria itu melihat satu sama lain.

“Apa itu sebuah USB?” seseorang muncul dari arah kanan Shin Young. Seorang laki-laki yang menggunakan jaket kulit mendekati Shin Young. Dia kah orang yang menabrak Shin Young kemarin. Tapi, sepertinya laki-laki kemarin memilki tubuh sedikit lebih kecil dari orang ini.

“Ya,sebuah USB.”

“Berikan USB nya padaku.” pria itu mengulurkan tangannya, Shin Young pun mengambil USB dari dalam tas nya. Dengan tangan bergetar ia mengulurkan USB pada pria itu.

“Kau tidak melihat isi nya kan?”

“Tidak.”

“Bagus. Sekarang, pergilah dari sini dan jangan pernah sekali – kali kau menginjakkan kaki mu ditempat ini.”

Shin young mengangguk. Ia benar-benar berjanji tidak akan pernah kembali ke tempat ini. Cukup sekali ini saja. Tepat saat Shin Young bersiap pergi, suara deru motor terdengar. Motor itu berhenti di dekat Shin Young berdiri. Semua orang mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang baru saja turun dari motor sport itu.

“Pacar baru mu, Kai?” tanya pria itu sambil melepaskan helm nya.

“Bukan. Hanya tamu tak diundang.”jawab pria yang ternyata bernama Kai itu sambil melirik Shin Young. Memberi isyarat agar ia cepat meninggalkan tempat ini.

“Kalau begitu siapa perempuan ini? Sepertinya aku melihatnya kemarin malam.” Pria itu kini berdiri tepat dihadapan Shin Young.

Meskipun gelap, tapi Shin Young bisa melihat wajah pria ini. Dengan saksama Shin Young menatapnya. Mata. Hidung. Bibir. Serta garis rahang. Semuanya mengingatkan nya pada satu sosok yang teramat ia rindukan. Seseorang yang sudah ia nanti kehadirannya selama ini. Seseorang yang selalu hadir di setiap mimpinya kini nyata hadir di depannya. Shin young  tak bisa menahan lagi perasaan itu. Ia mendekat dan langsung memeluk laki-laki itu. Setetes air mata menuruni pipi nya.

“Oppa…”

♥♥♥

“Ibu, oppa pasti kembali kan?” Shin Young kecil bertanya pada ibu yang sedari tadi memeluknya.

“Tentu saja oppa mu akan kembali.”

“Aku takut kalau oppa tidak kembali.”

“Kau tidak perlu takut sayang. Tim SAR akan melakukan yang terbaik untuk menemukan oppa.”

Shin Young menatap hutan di hadapannya. Hujan sedari tadi turun dengan  lebat. Sementara itu, sudah berjam-jam  tim SAR terus mencari keberadaan oppa nya yang dilaporkan hilang saat mengikuti kegiatan jelajah alam yang diadakan oleh sekolah. Shin young tak berhenti berdoa. Ia meminta Tuhan untuk segera mengembalikan oppa. Lalu di tengah hujan yang terus mengguyur seorang tim SAR muncul dari arah hutan, menggendong seorang anak laki laki yang langsung di bawa ke tenda.

Shin Young tahu itu kakak nya. Ia melepas kan pelukan ibu. Gadis cilik itu berlari masuk ke tenda. Oppa dibaringkan di atas matras dan sedang mendapatkan pertolongan dari tim medis. Kakak nya pingsan karena terlalu lama kehujanan di dalam hutan dan dalam kedaan perut kosong. Shin Young lega sekali saat melihat kakak nya. Meski kembali dalam keadaan pingsan, tapi setidak nya kakak kembali kan? Dia tidak hilang ataupun pergi meninggalkan Shin Young selamanya.

“Terima kasih karena oppa telah kembali.” Bisik Shin Young kecil ditelinga oppa.

Kejadian di masa kecil itulah yang membuat Shin Young tidak pernah berhenti berharap. Oppa pasti kembali. Pasti.

To Be Continue

Iklan

11 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The Sound of The Rain (Chapter 2)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s