[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy (Chapter 6)

333.jpg

Superplayboy

6# [The True]

Dinopeach

Kim Jongin. Lilian Kang. Oh Sehun. Kim Hyein.

Romance

Teen

Chaptered

Selamat menikmati, dan hargai karya penulis ya.

Fanfic ini juga pernah dipost di sini bersama dengan fanfic-fanfic saya yang lain ☺

.

.

.

.

.

.

Jongin mendengus kecil setelah menatap jam analog di tangan kirinya. Sudah sepuluh menit ia berdiri menyandar pada pintu mobil menunggu adiknya keluar dari rumah.

Let’s go!” seruan kecil yang diyakini Jongin suara Hyein membangunkan lamunanya pada kejadian kemarin saat di taman hiburan. Setelah kejadian itu, pikiran Jongin selalu melayang memikirkan reaksi Lilian selanjutnya.

“Kau sering melamun,” Hyein menjentikkan jari di depan wajah Jongin yang mengerjap lucu. Lelaki itu hanya berdecak−alih-alih malu ketahuan melamun− sambil memutar tubuh membuka pintu mobil dengan kasar.

Untung saja tidak lepas, Hyein merutuk pintu mobil  itu dalam hati dengan mimik wajah ngeri. Tanpa menunggu perintah, gadis itu sudah melangkah naik dan duduk manis di samping kursi kemudi yang didiami Jongin.

Jongin menyalakan mesin dengan tenang lalu membelah jalanan kota dengan kecepatan sedikit tinggi, mengingat sudah berapa menit ia terhenti saat menunggu Hyein tadi.

Sepanjang perjalanan Hyein dan Jongin sama sekali tak ingin membuka mulut. Jongin yang sibuk berkonsentrasi pada jalanan sedangkan pikirannya melalang buana memikirkan hal yang sama sejak tadi, Lilian. Sedangkan Hyein, gadis itu tau atmosfir di dalam mobil tidak cukup baik untuk memulai percakapan. Terpaksa Hyein harus menyimpan rasa senangnya sendirian. Bagaimana tidak senang? Toh dengan anehnya pihak sekolah tiba-tiba mengadakan pesta awal musim panas.  Apalagi setelahnya jadwal liburan panjang menanti.

“Turun.” Jongin berucap ringan sambil membuka pintu mobil dan keluar. Melunturkan senyuman gila Hyein yang terus terbayang akan godaan liburan panjang yang akan datang.

Hyein turun dengan cepat. Merapikan roknya yang sedikit lusuh akibat duduk di mobil lumayan lama mengingat jarak rumah mereka dan letak sekolah bisa dibilang jauh. Atasan putih berlengan panjang serta rok hitam limabelas senti di atas lutut sudah membuat adik semata wayang Jongin−walau Jongin sendiri tak pernah menganggapnya sedarah− itu terlihat manis.

Jongin sendiri tak mau kalah. Lelaki berkulit tan itu terlihat menawan dengan kemeja navy dipadu dengan celana hitam kain. Hyein harus akui kalau Jongin terlihat seperti pengusaha muda yang terkenal di kalangan anak-anak perempuan putri kolongmerat. Hyein  memuji dalam hati, tak berniat mengucapkannya, takut Jongin pingsan karena terlalu berat menahan beban kepalanya yang membesar.

“Jongin-ah” sapaan Sehun mengalihkan tatapan Jongin yang mengitari seluruh ruangan. Mencari satu titik pujanya.

Jongin berdehem, “Hai, Sehun” Jongin berucap ringan, matanya mengintai penampilan Sehun dari ujung sepatu sampai helai ramput paling atas yang dirapikan sedemikian rupa. “Nampak seperti tuan muda yang baru saja kecolongan mobil sport-nya”

Pujian Jongin−atau yang Sehun dengar seperti ejekkan− disertai seringai tipis di bibir mengundang kekehan kecil  Hyein yang awet berdiri di sampingnya, gadis itu mengapit lengan Jongin seakan pasangannya malam ini.

Menjijikkan, Oh Sehun memutar bola matanya malas. Benar kata Jongin, Sehun nampak tampan dengan kemeja putih dan celana abu-abu gelap. Walau sebenarnya dalam hati Jongin tak mau mengakuinya. Naluri manusia, tak akan mau kalah.

Oh ho” Sehun melipat tangannya di depan dada, “Apa aku baru saja melihat kisah cinta hubungan sedarah?” Sehun menggerling pada Jongin dan Hyein bergantian. Kakak-beradik itu paham sindiran Sehun yang terlihat jelas untuk mereka. Jongin hanya mendengus pelan saat Hyein menjulurkan lidah pada sehun dan mempererat apitan lengannya pada Jongin.

“Memangnya masalah untukmu− Oh!” hyein melepas ikatannya pada Jongin demi menunjuk seorang gadis yang baru saja keluar dari pintu utama aula. “Lilian Kang” Hyein dengan lantang menyeru namanya. Merasa terpanggil, Lilian sempat menoleh pada Hyein. Memandang kosong Hyein sebentar lalu melirik pada dua orang di samping Hyein. Lilian menunduk lalu bergegas pergi.

“Tunggu!” Jongin menyusulnya, mengabaikan Sehun dan Hyein yang memandangnya bingung.

“Ada apa?”

“Entah.” Hyein dengan cepat menarik Sehun menyusul Jongin dan Lilian yang berarah menuju samping taman terdekat. Hyein menghentikan langkah di samping batang besar pohon Oak yang menaut jarak beberapa kaki dari Lilian dan Jongin yang berdiri saling berhadapan.

“Kenapa kita di sini−” Sehun terpaska mengakhiri kalimatnya saat Hyein tiba-tiba membungkam mulutnya. Dan yang Sehun lakukan hanyalah terdiam dan membiarkan Hyein melakukan hal apa yang ia suka sampai tiba-tiba gadis itu memekik pelan. Sehun yang sedari tadi tak tertarik dengan apa yang dilakukan Hyein, kini memilih untuk ikut melongokkan kepala saat melihat Hyein membuka matanya lebar-lebar.

Omo!” Sehun ikut melebarkan mata saat mendapati Jongin menarik tengkuk Lilian dan menyatukan permukaan bibir mereka.

Jongin terlihat menahan Lilian saat gadis itu mencoba melepaskan diri.

Darah Hyein berdesir teringat sesuatu, Jongin menyukai Lilian?

Ah, bagaimana ini?” entah tiba-tiba di pikiran Hyein terlintas perjanjian taruhannya dengan sehun. Melalang buana tak tentu arah membuatnya gelisah hingga tak sengaja menggenggam sebelah tangan Sehun erat. Sehun kembali diam setelah beberapa waktu dibuat terkejut.

Lelaki pucat itu diam-diam mengangkat satu ujung bibirnya, “Kenapa?” dengan sok peduli, Oh Sehun memutar tubuh Hyein dan mengangkat tangannya yang digenggam oleh Hyein tinggi-tinggi. Dengan mimik penasaran yang sangat alami, Oh Sehun mendekatkan diri. Hyein merasa didekati anak anjing yang baru saja kerasukan.

“Apa yang kau lakukan?” ucapan Hyein bergetar, tubuhnya digerakan mundur menjauhi langkah kecil Sehun yang mengikis jarak. Tangan Hyein meraba batang pohon di belakangnya, bertanda sebentar lagi tak akan ada jalan mundur “O-Oh Sehun−”

Hyein hampir lupa cara bernafas ketika tubuhnya jatuh menimpa rerumputan saat hak sepatunya melangkah ke tempat yang salah. Bukan jatuh yang Hyein jadikan masalah, ingatkan kalau Sehun ada di atasnya sekarang. Kedua tangan Sehun menahan badan di samping kedua bahu Hyein. Matanya melebar, lebih lebar daripada saat mendapati Jongin mencium Lilian.

“H-Hyein, kurasa hak sepatumu patah”

Jongin menghentikan langkah ketika tangannya berhasil meraih pergelangan Lilian. Namun yang Jongin kecewakan, Lilian menepisnya, lalu dengan cepat menghadap Jongin sambil menunduk. Entah apa yang Lilian pikirkan, yang jelas sejak perjalanan pulang dari taman hiburan Lilian terus saja mendiaminya.

“J-Jongin-ah,” Lilian berucap serak. Matanya menatap ujung stileto hitamnya.

Kim Jongin hanya terdiam, menunggu apa yang akan selanjutnya dikatakan Lilian.

“Boleh aku bertanya?” ucapan Lilian memotong niatan Jongin untuk mengakhiri kediaman keduanya. Jongin hanya diam, dan Lilian anggap itu sebagai tanda persetujuan.

Tangan Lilian menggulung ujung dress putih yang terpasang cantik di lekukannya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, memperlihatkan pada Jongin kalau gadis itu gelisah.

“Kau ini kenapa−”

“Kenapa kau tidak bilang kalau selama ini kau menyukai adikmu sendiri?” kalimat super cepat keluar dari mulut Lilian. Gadis itu memejam mata tak kuasa manatap reaksi Jongin. Sudah cukup gadis itu meluapkan gelisah yang selama ini dipendamnya dalam tanya.

Jongin terdiam membisu. Pertanyaan yang sangat mudah untuk Jongin jawab, namun yang patut Jongin bingungkan, Lilian tahu?

“Kenapa kau bisa tahu?” Jongin maju selangkah. Seberani mungkin mengangkat dagu Lilian agar wajah cantik itu menghapad padanya. Perlahan Lilian membuka mata. Sadar akan mata elang Jongin menelisik irisnya, Lilian kembali berfikir kacau.

Lilian akui, penuh keberanian cukup besar untuk memastikan pada Jongin tentang apa yang ia lihat di taman hiburan. Kini, ia harus kembali mengumpulkan keberanian untuk mengucap kebenaran saat Jongin bertanya kenapa ia bisa tahu. Lilian merasa seperti penguntit sekarang, padahal ‘kan gadis itu hanya kebetulan melihatnya.

“Kau belum menjawabku, Kim Jongin,”

Jongin membisu tak mampu menyahuti seperti sebelumnya.

“Apa kau menyukai adikmu sendi−”

Lilian tercekat dalam akhir kalimatnya saat Jongin memutus jarak dan menyatukan daging lembut keduanya. Gadis itu hampir lupa cara berdiri kalau bukan Jongin duluan yang menahan pinggangnya.

Lilian melepas kaitannya dengan paksa saat mendengar suara berisik dedaunan di dekat mereka. Jongin sama terkejutnya layaknya Lilian, lelaki itu dengan cekatan menarik Lilian yang berdiri canggung.

“Ada orang selain kita.”

“Naik,” sekian kalinya Sehun memerintah pada Hyein yang mengelus lutut di belakang tubuh tegapnya yang jongkok menawarkan gendongan di punggung. Dan Hyein hanya diam.

“Naik atau aku akan menggendongmu!” Sehun dengan tak sabar akhirnya bangkit berdiri menghadap Hyein. Hyein terlihat meneguk ludahnya susah payah saat melihat kilatan kecil di mata Sehun.

Baru pertama kalinya gadis itu melihat Oh Sehun marah. Marah dalam arti yang sebenarnya.

Sehun sendiri hanya terdiam setelah menatap mata Hyein membulat, gadis itu ketakutan? Sehun akhirnya memilih kembali berjongkok memunggungi Hyein, dengan berharap  kali ini gadis itu mau menurutinya. Ayolah, Sehun masih punya kepedulian pada gadis yang terkilir kakinya, apalagi itu juga salahnya.

Sehun ingin sekali menampar wajahnya sendiri saat dirinya menyadari perasaan menyesal karena mengganggu Hyein dan membuat gadis itu terkilir sekaligus mematahkan hak sepatunya.

“Na−naiklah” nada Sehun kembali normal. Tiga detik setelah ucapannnya, Sehun tak merasakan pergerakan apapun. Tak ada suara pun yang sehun bisa artikan Hyein masih bandel untuk menurutinya.

Sehun berdecak, “Gadis ini benar-benar!” bangkit membawa beban di tangan, Sehun mengangkat Hyein dalam gendongan. Membiarkan pemberontakan tak berakhir sampai mereka sampai pada parkiran, berhenti pada mobil hitam berkilau yang Hyein artikan itu milik Sehun.

“Turunkan aku!” Hyein memukul dada Sehun brutal. Bukannya mengikuti ucapan hyein, Sehun malah membuka pintu depan mobil dan melempar Hyein ke dalamnya, menutup pintu mobil lalu berjalan memutar menuju pintu depan di lain sisi.

“Lelaki kasar!” Hyein menghentak kaki lalu berniat membuka pintu mobil sebelum Sehun menahan pergelangannya lalu menyampirkan selimut kecil yang terongok di kursi belakang pada bahu Hyein. Gadis itu melongo hebat.

“Kau kedinginan.” Sehun memutar tubuh menengok kembali pada kursi belakang, mengambil sebuah benda yang Hyein sama sekali tak Hyein perdulikan.

Sehun tiba-tiba dengan mudah keluar mobil dari pintu di sampingnya yang sengaja tidak ditutupnya, kembali memutari mobil lalu membuka pintu bagian Hyein. Berjongkok di sana.

“A−apa yang kau lakukan?” Hyein dengan hati-hati mengucap pertanyaan saat matanya mendapati Sehun yang memasang wajah dingin. Apa lelaki itu marah?

“Kaki,” singkat dengan nada dingin, Sehun berucap−lebih terdengar seperti perintah di telinga Hyein. “Apa yang kau lakukan−”

“Mana kakimu.” lebih dingin, Sehun menghentak sepasang sepatu di tangan menuju pavingblock di tanah. Apa Hyein baru saja berfikir sepatu kets abu-abu yang baru dilempar Sehun itu miliknya?

“Bagaimana aku bisa memberi kakiku−”

“Kim Hyein!” hentakan lolos dari bibir Sehun membuat Hyein dengan cepat memutar tubuh menghadap Sehun, memberikan kakinya pada Sehun yang berjongkok di bawah.

Hyein awalnya mengalihkan pandangan saat Sehun perlahan melepas sepatu heel-nya, gadis itu akhirnya memilih untuk menatap kepiawaian Sehun dalam mengurus kakinya. Memasang sepatu, mengikat simpul talinya. Hyein tersenyum dalam diam sebelum pekikan kecil keluar tiba-tiba dari mulutnya. “Akh!”

“Kau terkilir.” Sehun sudah selesai dengan urusannya dengan kaki Hyein, kini lelaki pucat itu beralih menatap gadis cantik yang duduk lebih tinggi darinya. Tatapannya yang dingin sudah lenyap berganti tatapan hangat yang meluluhkan.

“Apa aku baru saja mengalami apa yang dialami Cinderela dalam film?” Hyein mengucap gamplang memecah canggung. Gadis itu mengusap tangannya sendiri yang tertaut kedinginan.

“Apa kau masih menyebutku lelaki kasar?” Sehun berucap meniru nada bicara Hyein sebelumnya, lelaki perawakan tinggi itu tersenyum miring pada Hyein yang meremas tangannya sendiri. Gadis itu gugup.

“Tidak, kau−” Hyein tercekat saat Sehun melakukan hal yang sama seperti yang sebelumnya Jongin lakukan pada Lilian. Sehun merengguh kedua bahu Hyein, merasa bagian tubuh itu  tegang. Tangan Hyein beralih mengepal kuat, menahan agar diam saat Sehun melancarkan gerakan lembut pada bibirnya.

Kuku jari Hyein memutih karena terlalu mengepalkan tangan. Sehun tersenyum geli dalam kelembutannya saat merasa bibir Hyein bergerak-gerak menahan untuk membalas sentuhannya.

Gerakan sedikit kasar Sehun buat untuk mengakhiri pertautan mereka. Hyein terengah menyentuh dadanya, degupan tak dapat dihentikan di sana. Sehun sendiri masih meletakkan tangannya pada bahu Hyein. Lelaki putih susu itu tersenyum miring.

Sehun bangkit menyandarkan tangan kirinya pada atap mobil sebagai penyangga tubuh, menatap Hyein yang termenung oleh sikapnya “Aku masih kasar?”

Hyein masih diam menikmati tatapan Sehun padanya, tiba-tiba Hyein berfikir kalau lelaki di depannya ini nampak sangat tampan, dengan seringai nakal itu tentunya. Berkali-kali lipat dibanding kakaknya sendiri.

Hyein menggeleng kuat-kuat.

“Tidak, kau lembut. Sangat lembut”

Tunggu! Ini sudah pernah terjadi sebelumnya?

Lilian menggenggam erat dinginnya pagar besi pembatas di tepi jembatan, matanya menerawang ke ujung sungai dengan pikiran kacau. Jongin berdiri di sampingnya, punggungnya ia sandarkan pada pagar, tangannya dilipat di depan dada. Angin malam yang dingin berhembus melewati keduanya yang terdiam tanpa suara.

Lilian masih berkutat dengan pikirannya sendiri saat Jongin menengokkan kepala ke arahnya. Lelaki itu masih enggan berucap ketika tahu reaksi Lilian hanya diam saat mulutnya terbuka mengucap kalimat.

Jongin kembali menghadap ke depan, lalu menunduk mendesah ringan.

Serumit inikah.

“Jongin-ah..”

Tak menyangka, Lilian memilih untuk mengawali pembicaran. Gadis itu tak merubah sedikit posisinya, malah menerawang aliran air sungai di bawah jembatan. Jongin menoleh menanggapi.

“Tentang adikmu..” Lilian memutar tubuh, ikut bersandar pada pagar seperti yang Jongin lakukan. Jongin sama sekali tak melepas pandangannya, masih terpaut pada Lilian yang mulai memainkan ujung gaunnya yang sedikit berterbangan terhembus angin.

“..aku benar-benar tidak tahu,” Lilian menunduk, hanya bisa menebak ekspresi Jongin.

Jongin mengubah posisinya untuk berdiri tegak, telinganya ia pasang lebar-lebar dengan ucapan Lilian.

Selang beberapa detik, Lilian mengarahkan tubuhnya menghadap Jongin. Menatap lelaki itu tepat di matanya. “Aku sudah salah paham, maafkan aku.”

Jongin tersenyum samar setelah Lilian mengucap. Buka untuk pertama kalinya ia mendengar hal seperti ini ketika orang lain melihat kejadian yang menyangkut Hyein. Selalu saja seperti ini, Sehun contohnya. Namun kali ini Lilian tak ambil pusing seperti yang Sehun lakukan.

Jongin menggerakan tubuhnya maju selangkah, memapas jarak antara dirinya dan Lilian. Tangannya meraih bahu kecil Lilian, melingkar di sana. Sesekali mengelus.

Lilian sendiri hanya mengikuti yang Jongin lakukan, entah mengapa tubuhnya sendiri terhipnotis. Tangannya yang menggantung kini melingkar manis pada pinggang Jongin. Kepalanya sudah sejak awal tenggelam pada bahu besar Jongin, menghirup parfum khas Jongin yang akhir-akhir ini selalu mengganggunya.

“Terima kasih,” Jongin bergumam pelan, namun masih sangat jelas terdengar oleh Lilian. Gadis itu mendongkak menatap Jongin dengan alis bertaut. Mengucap kalimat ‘untuk apa?’ lewat tatapnya.

Tanpa jawaban, Jongin hanya mengangkat kedua ujung bibirnya membentuk senyuman. Alis Lilian berkerut tanda belum puas dengan senyum Jongin. Membiarkan, Jongin menarik kepala Lilian untuk kembali menyandar pada bahunya.

Jongin pantas berterimakasih, sifatnya berubah karena Lilian. Tak ada berkencan dengan banyak gadis seperti yang dulu ia lakukan, fokusnya hanya Lilian. Lilian mengubahnya, sangat drastis. Mungkin saja setelah ini Lilian dapat mengubah kulit tan miliknya menjadi pucat seperti Sehun.

Hyein sedang menatap Sehun saat lelaki pucat itu sibuk berkonsentrasi dengan jalanan lenggang di depan. Tatapan Hyein lekat menelusuri wajah Sehun dari hidung mancungnya dan berhenti tepat di bibis tipis yang baru saja ia rasakan malam ini.

Hyein tersentak dalam hati, darahnya berdesir aneh saat mengingat kejadian di mana dirinya mabuk dan kelepasan mencium seseorang yang dikiranya Jongin.

Rasa bubble tea, Jongin merasa tidak meminumya.

Luka di bibir, sama sekali tak nampak bekas di bibir Jongin.

Tekstur lembut yang berbeda, ketiganya tidak ada pada Jongin.

Tapi ada pada kecupan yang Sehun berikan, Hyein masih bisa merasakan sisa-sisa manis bubble tea rasa coklat di bibirnya setelah Sehun menciumnya barusan.

Ah, jangan lupakan sepatu abu-abunya yang tiba-tiba bisa ada di mobil Sehun!

“Sehun..” ucapan Hyein menggantung, otaknya berfikir dua kali untuk memastikan hal mengganjal pada otaknya. Lelaki itu nampak tak berpaling dari fokusnya, tapi sempat berdehem singkat, menyahuti panggilan Hyein.

Tidak lekas melanjutkan, Hyein menunduk sekilas, “Boleh aku bertanya?” akhirnya lidahnya bergerak.

Alih-alih menjawab, Sehun berucap singkat, “Sudah sampai” setelahnya mematikan mesin mobil.

Hyein menatap pemandangan luar lewat jendela mobil di sampinya, rumah ber-cat abu-abu terpampang jelas, bisa Hyein yakini itu rumah Sehun.

Enggan untuk melangkah keluar dari mobil, Sehun memutar posisi duduknya mengarah pada Hyein.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

Hyein mengerjap singkat, lalu menggeleng, “Tidak”

Sehun hendak menyahut, namun kembali diam saat dengan cepat Hyein membuka pintu mobilnya dan keluar. “Ah, rumahmu besar”

Sehun mengikuti Hyein turun dari mobil, memutari mobil lalu berdiri di samping Hyein, ”Tak perlu memuji seperti itu,” Sehun berdehem, tangannya meraih genggaman Hyein “Ayo masuk-”

Ucapan Sehun terhenti saat tiba-tiba matanya memandang seorang pria yang sangat dikenalnya muncul dari dalam rumahnya. Tongkat kayunya digunakan sebagai penopang tubuh rentanya, ia ketukkan pada lantai marmer.

Wajahnya yang penuh kerutan, tersenyum miring pada Sehun yang tak henti mengumpat dalam hati. Hyein mengerjap tak paham situasi.

Pria itu melangkah dan berhenti tepat di depan Sehun, menepuk pundak Sehun sebelum berucap.

“Kau sudah pulang rupanya, nak.

.

.

.

.

.

TBC

.

Yay! Akhirnya update juga! Chapternya udah mendekati akhir lohh.

Tinggalkan komentar yaa, sebagai apresiasi kalian serta penilaian tersendiri bagi penulis. Komen kalian sangat berharga loh, beneran ._.v

Kalo ada kesalahan entah typo(s) atau lainnya, mohon koreksinya semuaaa.

Sekian, terima kasih.

-Dinopeach-

Iklan

10 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy (Chapter 6)

  1. Sumpah! Chapter ini seru bgt
    Penasaran sm lanjutannya thor.
    Kayaknya couple HyeSe kisah cintanya bakalan ada gnjalan sm si ayah berkerut bertongkat
    Smangat thor .^^😉

  2. love love love,,,, senang liat sehun dan hyein mereka cocok bersama,,, hahaha aku ketawa masa baca part kai “mungkin sja lilian dapat mengubah kulit tan miliknya mnjadi pucat seperti sehun” ak jdi penasaran klu stu ari nnti kulitnya kai berubah jdi putih mungkin dia yg pling sexy yah dlm EXO hahaha,,, sehun anak orang berada yah? tp sehun sepertinya mmbenci ayahnya?kak mcm biasa jgn lma2 yah postnya 🙂 ^.^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s