[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 13)

Poster Secret Wife4.jpg

Tittle    : SECRET WIFE

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note    : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 13 (Regret)

Oppa. Bagaimana jika kita mengunjungi Jihyun eonni. Aku belum pernah kesana sejak aku kembali kesini”, pinta Junghae. Dia kini kembali menyuapkan salad ke mulutnya. Ya, dia tengah sarapan dengan keluarga Baekhyun, setelah semalam dia memutuskan untuk menginap di rumah itu.

It’s okay”, jawab Baekhyun singkat. Dia juga tengah sibuk mengunyah roti tawar yang dibalut selai nanas.

Eomma ikut”, bibi Junghae ikut menyela pembicaraan mereka.

Appa juga ikut. Rasanya juga sudah lama kita belum kesana”, bahkan paman Junghae yang dari tadi diam kini juga ikut bicara.

“Baiklah, kita semua akan kesana. Cepat habiskan makanan kalian”, kata bibinya.

Ne”, jawab mereka serempak.

‘Jihyun eonni, bagaimana kabarmu? Aku baik-baik saja. Aku sangat merindukanmu eonni. Mianhaeyo, aku baru bisa mengunjungimu hari ini. Kau tahu, aku sudah menikah sekarang. Dan aku tak pernah menyangka akan menikah semuda ini. Meskipun pernikahanku rahasia dan itupun tak disengaja, tapi aku bahagia. Dia sangat baik, dan juga tampan. Aku berharap, saat kami mengungkapkannya mereka tak akan kecewa. Semoga saja’, Junghae berdo’a dalam diam. Seperti yang dilakukan Baekhyun, bibinya dan juga pamannya.

Ya, mereka datang ke tempat pemakaman adik Baekhyun sesuai rencana setelah sarapan. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Mengucapkan apa yang ingin mereka katakan pada Jihyun dalam diam.

Junghae kembali membuka matanya. Dilihatnya Baekhyun dan kedua orang tuanya yang juga masih terdiam. Junghae hanya terdian saat melihat foto gadis kecil yang berada disamping abu milik Jihyun. Gadis di foto itu tengah tersenyum manis.

“Kau sudah selesai”, tanya Baekhyun.

Junghae mengangguk, lalu menoleh ke arah Baekhyun. Senyum manis tercetak di wajahnya. Mereka memutuskan pulang setelahnya. Tak pernah disangka, mereka bertemu dengan Chanyeol dan juga Sehun yang juga terlihat tengah meninggalkan salah satu ruang di tempat penyimpanan abu tersebut.

“Park Chanyeol”, panggil Baekhyun. Dia mengenali sosok sahabatnya yang berjalan didepannya.

Merasa namanya dipanggil sang pemilik suara menoleh. Dia tersenyum saat mengenali pemilik suara yang memanggilnya tadi. “Baekhyun-ah”, dia berjalan mendekati Baekhyun. Wajahnya seolah berkata sedang apa kau disini.

Baekhyun yang tahu arti raut wajah sahabatnya, menjawab, “Kami mengunjungi adikku. Apa kau baru saja mengunjungi ayahmu?”, Baekhyun balik bertanya.

“Ah”, Chanyeol mengangguk paham. “Ya, kami baru saja mengunjungi appa”, lanjutnya. Dia juga tersenyum kearah Junghae yang berdiri tepat disamping Baekhyun. Chanyeol juga menyapa kedua orang tua sahabatnya itu. “Annyeong haseyo ahjumma, ahjussi. Lama tak bertemu”, Chanyeol berkata sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.

Ne. Itu karena kau sekarang jarang datang ke rumah”, jawab ibunya Baekhyun.

Sementara mereka sibuk bercakap-cakap, Junghae terus mengarahkan pandangannya ke arah Sehun, yang sedari tadi diam di belakang Chanyeol. Mereka saling menatap, seolah mereka berbicara lewat tatapan itu. Junghae yang tak mengerti arti tatapan Sehun merasa jengah, karena memang mereka cukup lama saling menatap.

Waeyo? Kau masih marah padaku?”, tanya Junghae.

Aniyo. Kenapa aku harus marah padamu!”, kata Sehun, namun pandangannya kearah lain.

Junghae membuang nafas pasrahnya. Dia tahu jika namja itu masih marah padanya. Terbukti dengan cara bicara Sehun yang tak seperti biasanya. Junghae merasa ini tidak boleh berlarut-larut. Dia harus menyelesaikannya. Dia berjalan mendekati Baekhyun. Membisikkan sesuatu yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala. “Chanyeol oppa, bolehkan aku pinjam Sehun oppa sebentar?”, junghae kini beralih menatap Chanyeol.

Secara bersamaan Chanyeol dan Sehun menoleh. Chanyeol yang mengerti menganggukan kepalanya, “Ne, bukankah kalian memang perlu bicara”.

Hyung”, Sehun sempat protes, namun Chanyeol hanya menanggapinya dengan senyum.

“Ikut aku”, Junghae menarik tangan Sehun meninggalkan mereka mencari tempat yang lebih privat untuk menyelesaikan masalahnya, bahkan sebelum Sehun benar-benar menyetujuinya. Mereka terus berjalan menyusuri tangga. Dan berhenti di bawah pohon yang tampak sepi. Junghae melepaskan genggamannya. Dia beralih menatap Sehun tajam. Namun Sehun justru tak menatapnya, dia menghadap kearah lain seolah menghindari tatapan tajam Junghae.

Oppa”, Junghae berkata dengan terus memandang Sehun.

“Emmh”, Sehun hanya bergumam sebagai jawaban.

“Jadi kau benar-benar marah padaku”, Junghae membuang nafas pasrahnya. “Apa kau tahu, aku hampir gila beberapa hari ini karena kau tak menjawab telfonku apalagi membalas pesanku. Dan aku sangat yakin kau bahkan tak membaca pesanku”.

“Jika memang seperti itu, mengapa kau tak mengatakan iya. Dan mengapa kau bilang tidak?”, nada bicara Sehun sedikit meninggi. Dia baru menatap Junghae setelahnya.

“Aku akan mengatakan iya, jika memang aku masih sendiri. Ini berbeda, aku sudah menikah sekarang”, Junghae juga menjawab dengan nada yang tak kalah tinggi. Oops, apa yang baru dia katakan. Dia secara langsung mengatakan jika dirinya sudah menikah.

Mwo?”, raut wajah Sehun benar-benar terkejut sekarang.

Aniya, aniya. Gojima”, Junghae mengutuk dirinya yang tak bisa menjaga mulutnya. Justru kini dia yang tak berani menatap Sehun.

Look at me. Apa yang baru kau katakan, kau sudah menikah. Dengan siapa, katakan?”, Ada raut marah di wajah tampan Sehun.

Junghae menarik nafas panjang sebelum menjawab. “Aniyo, itu hanya alasanku. Tapi aku benar-benar tak bisa menerimamu, oppa. Dan memangnya kau percaya jika aku sudah menikah?”. Kenapa justru Junghae yang balik bertanya.

Sehun menggeleng. “Kau baru beberapa bulan disini. Aku bahkan tak yakin kau memiliki teman namja”, Sehun terlihat sedang berfikir. “Dan kukira kau hanya mengenal Chanyeol hyung disini”, Sehun menganggukan kepala setelah mengatakannya. “Iya, hanya dia. Itupun Kim ahjumma yang mengenalkannya”.

Junghae bisa bernafas lega mendengarnya. Setidaknya namja dihadapannya tidak akan curiga. Namun rasa bersalah juga datang secara bersamaan. Bersalah karena tak bisa mengatakan yang sebenarnya. ‘Maafkan aku Sehun oppa’, dia hanya mengatakannya dalam hati. “Kau sudah tahukan. Bukankah sudah ku bilang aku akan membantumu”, hanya itu yang bisa junghae katakan.

“Apa kau punya ide?”, tanya Sehun.

Junghae mengangguk. Dia kemudian membisikan sesuatu ke telinga Sehun. Entah apa itu, Sehun terlihat mengerutkan alis terkadang ditengah bisikan itu. Cukup lama, dan akhirnya Sehun menggangguk di akhir bisikan Junghae. Senyum manis juga tergambar diwajah tampannya. “Ide bagus”, dia mengacak pelan rambut Junghae. “Terima kasih Junghae”, lanjutnya kemudian.

***

“Door”, Sehun menepuk pundak Jungra yang sedang duduk dibangku taman.

Jungra terlihat kaget, bahkan buku yang dibacanya sampai terjatuh. “Sehun. Aish, tidak bisakah kau tak mengagetkanku”, kata Jungra dengan nada yang lumayan tinggi. Sepertinya dia marah.

“Kau sedang membaca apa?”, tanya Sehun. Dia mengambil buku Jungra yang terjatuh. “Ini buku apa?”, Sehun membolak balik halaman buku tersebut. Dia bertanya karena secara sekilas membaca, dia tak paham dengan isinya.

Jungra mengambil paksa buku tersebut. “Ini naskah film”, jawabnya enteng. Dia memasukan buku tersebut ke dalam tasnya.

“Naskah film?”, tanya Sehun memastikan, yang dijawab anggukan oleh Jungra sebagai persetujuan. “Apa kau mendapat peran?”, Sehun terlihat bingung saat mengatakannya.

“Bukan. Kau tahukan aku tak akan pernah mau menjadi aktris, penyanyi atau apalah itu. Itu adalah naskah film baru yang akan diproduksi oleh perusahaan eomma. Dan aku yang akan jadi penanggung jawabnya. Karena itu aku membacanya untuk memastikan apa itu akan menarik atau tidak”, jelas Jungra. Dia bahkan terlihat senang menceritakannya.

“Jadi, kau yang akan mewarisi CJ Entertainment?”, tanya Sehun lagi yang telah paham dengan penjelasan Jungra.

Jungra mengangguk, “Jongin tak akan pernah mau. Dia sudah sibuk dengan hotel barunya. Dan Jongdae oppa, kau pasti sudah tahu. Dan yah, tinggal aku. Mau tak mau aku harus mau”.

Sehun hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan, sampai kau mengajakku kemari?”, Jungra teringat dengan maksud kedatangannya ke tempat itu. Setelah mendapat telfon dari temannya, dia berangkat ke taman itu.

“Apa hubunganmu dengan Kang Minhyuk baik-baik saja?”. Bukannya menjawab, Sehun malah balik bertanya.

“Iya, kami baik-baik saja. Kenapa memangnya?”, Jungra juga mengangguk saat mengatakannya.

“Kau harus mengakhiri hubunganmu dengannya. Dia buka namja yang baik, Ra-ya. Dia itu playboy. Kau mengenal Choi Jinri kan, aku tak sengaja bertemu denganya tadi, dia menangis sendiri di restoran. Dia bilang jika dia baru putus dengan Kang Minhyuk. Dua hari yang lalu aku juga bertemu dengan Lee Hyemi di bar. Dia juga menangis setelah putus dari Kang Minhyuk”.

Jungra hanya menatap tak percaya pada Sehun. Apa yang sebenarnya temannya ini bicarakan. “Apa hanya itu yang kau lakukan. Memata-matai hubungan orang lain”, ada raut kecewa di wajah Jungra.

“Tentu tidak, Ra-ya. Aku senang jika hubunganmu baik-baik saja. Hanya saja, aku harus memberitahukan hal ini. Aku tak ingin kau kecewa nanti. Karena itu percayalah padaku. Dia bukan namja yang baik”, Sehun masih tetap kekeh dengan pendapatnya.

“Aku tahu, kau tak pernah memiliki hubungan yang baik dengannya. Tapi apa harus seperti ini? Aku lebih mengenal siapa Minhyuk, Sehun. Jadi berhentilah mencapuri hubunganku”, ada nada kecewa disana. Tapi setidaknya Jungra masih dapat menahan emosinya.

“Ra-ya, dengarkan aku. Aku tak bermaksud mencampuri hubunganmu, sungguh. Aku bahkan senang jika kau memang memiliki hubungan serius dengan seorang namja. Tapi bukan dengannya. Dia itu…”, belum sempat Sehun meneruskan kalimatnya, Jungra sudah menyelanya.

“Cukup Sehun. Berhentilah bicara omong kosong. Dan berhentilah menjelek-jelekkannya. Ku pikir kau temanku. Tapi apa ini yang dikatakan teman”, Jungra berdiri dan bermaksud meninggalkan Sehun. Namun langkahnya terhenti, saat Sehun menarik lengannya.

“Apa kau tahu kenapa aku tak pernah memiliki hubungan baik dengan Minhyuk?”, Sehun bermaksud bertanya, namun Jungra hanya diam. Dia bahkan tak menoleh kearah Sehun. “Karena aku mengenal siapa Kang Minhyuk. Kami berteman baik sewaktu di sekolah dasar. Suatu hari, dia menyukai seorang gadis. Tapi gadis itu lebih menyukaiku daripadanya. Dia begitu marah mendengarnya. Entah apa yang dia lakukannya saat itu, hingga gadis itu berlih menjauhiku. Bahkan sampai sekarang dia masih menjauhiku. Dan aku baru tahu setelah gadis itu benar-benar pergi. Dia memfitnahku, dia bilang jika aku yang membuat adik perempuannya tiada. Aku bahkan tak mengenal siapa adiknya, jadi bagaimana mungkin aku yang menyebabkan adiknya tiada”, jelas Sehun.

Jungra terdiam mendengarnya. Bingung antara percaya dan tidak. Dia cukup mengenal siapa Oh Sehun. Temannya itu tak pernah berbicara bohong padanya. Tapi, dia juga mengenal siapa kekasihnya, dia sudah menjalin hubungan dengannya selama lebih dari dua tahun. Dan selama dia mengenalnya, kekasihnya itu selalu baik padanya. Setidaknya, dia tak pernah memergokinya jalan dengan seorang yeoja. Tapi memang dia sering diperingatkan tentang itu oleh teman-temannya. Dia kemudian berbalik, menatap lekat wajah temannya itu. “Apa aku harus percaya? Kau tak sedang mengarang ceritakan?”, kenapa justru kalimat itu yang keluar dari bibir manis Jungra. Dia terlihat tak percaya dengan perkataan Sehun.

“Kau meragukannya?”, Sehun kini tersenyum mengejek. Dia membuang nafas kasarnya dan melepaskan genggamannya. Bagaimana bisa temannya yang satu ini tak percaya padanya. Dia yakin dia tak pernah berbohong pada gadis yang kini tengah menatapnya. “Untuk apa aku mengarang cerita, Ra-ya. Kau sudah lama mengenalku. Dan apa selama kita berteman, aku pernah berbohong padamu?”.

Jungra terdiam. Dia tahu jika temannya yang satu itu memang tak pernah berbohong padanya. Hanya saja, dia tak bisa terima karena kekasihnya dijelek-jelekan oleh namja itu.

Sehun meraih kedua tangan Jungra yang masim terdiam. “Untuk kali ini saja, percayalah padaku Ra-ya. Dia bukan namja yang baik. Kau harus mengakhirinya sebelum kau menyesal”, Sehun masih berusaha membujuk, berharap gadis itu akan berubah pikiran.

“Cukup”, Jungra melepaskan tangan Sehun yang menggenggam tangannya. “Ini urusanku. Aku akan putus atau tidak dengannya itu terserah padaku. Berhentilah, selama aku masih menganggapmu temanku”. Jungra berbalik. Dia harus pergi sebelum dia benar-benar marah pada namja itu.

“Aku melihatnya ke hotel bersama seorang yeoja, saat aku akan menjemput Chanyeol hyung disana, semalam”.

Kalimat yang Sehun ucapkan membuat Jungra berhenti. Hanya berhenti, dia tak bermaksud menoleh.

“Bukan hanya aku, tapi sebagian besar temanku juga mengatakan hal sama. Dia sering ke hotel dan berganti teman kencan. Dia bahkan pernah menyewa pelacur di salah satu bar ternama di kota ini. Dia….”, belum sempat Sehun melanjutkan, sebuah tamparan mendarat mulus di pipinya.

“Ku bilang cukup. Aku tidak ingin dengar apapun lagi”, Jungra terlihat benar-benar marah kali ini. Setitik air mata meluncur mulus melewati pipinya. Dia benar-benar tak menyangka, temannya akan berbuat sejauh itu. Dia kecewa, sungguh. Seharusnya temannya mendukung hubungannya, tapi apa yang dilakukannya sekarang. Kenapa dia justru ingin hubungan yang dimilikinya berakhir?

“Aku kecewa padamu Sehun”, Jungra terlihat susah mengatur nafasnya. “Mulai sekarang, jangan pernah menemuiku lagi. Jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Kita hanya orang asing sekarang. Anggap kau tak pernah mengenalku”, setelah mengatakan itu Jungra pergi begitu saja, tanpa memperdulikan reaksi Sehun yan masih mematung di tempatnya. Sehun berniat baik memberitahukannya. Namun niat baiknya itu justru membuatnya harus kehilangan teman yang disayanginya. Bukan sayang lagi, tapi lebih tepatnya cinta.

Jongin masuk ke kamar Jungra yang pintunya sedikit terbuka. Dia melihat adiknya tengah termenung dengan menggenggam selembar foto sepertinya. Dia berjalan mendekatinya. Gadis itu tak sadar jika kini Jongin sudah duduk disebelahnya. Jongin melihat sekilas benda yang di genggan adiknya. Itu adalah foto adiknya dan temannya yang tengah tersenyum manis. Sepertinya adiknya tengah memikirkan namja yang ada di foto itu. Dan dia tahu jika adiknya terlihat begitu menyesal.

Ya, benar saja. Jungra memang tengah melamun mengingat kejadian tiga tahun lalu yang membuatnya harus kehilangan teman baiknya karena keegoisannya. Jika saja dia mau mendengarkan perkataan temannya itu, dia pasti tak akan menyesal seberat ini. Dia membuang pasrah nafasnya. Dia menoleh, betapa kagetnya dia saat seseorang sudah duduk di sampingnya. “Yak, kau mengagetkanku Jongin”. Dia memukul pelan lengan Jongin. “Sejak kapan kau disini”, tanyanya.

“Ku begitu asyik termangu, sampai kau tak sadar jika aku sudah disini sejak tadi”, jelas Jongin. “Kau menyesalinya?”, lanjutnya.

Mwo?”, Jungra terlihat tak paham dengan ucapan Jongin.

Jongin menunjuk foto tersebut dengan tatapannya. Dan itu membuat Jungra mengangguk paham sekaligus menjawab pertanyaannya. “Sangat. Seharusnya aku mendengarkannya waktu itu”, Jungra terlihat pasrah saat mengatakannya.

“Sudahlah! Semuanya sudah berlalu. Kau hanya perlu belajar dari kesalahanmu. Dan kau bisa memperbaikinya sekarang”, Jongin menenangkan adiknya dengan mengusap pelan punggung adiknya.

“Aku malu, Jongin. Apa dia akan menerimaku kembali sebagai temannya?”, jungra sedikit meremas foto yang digenggamnya.

“Tentu, dia pasti akan menerimamu kembali Ra-ya. Percayalah padaku”, Jongin begitu yakin saat mengatakannya. “Ingin kuberi tahu satu rahasia?”, tanyanya lagi.

“Rahasia! Apa itu?”, Jungra sedikit penasaran dengan perkataan Jongin.

“Sebenarnya, Sehun sudah menyukaimu sejak lama. Ah, bukan hanya suka, lebih tepatnya cinta. Dia mencintaimu Ra-ya. Bukan cinta antar teman, tapi cinta antar seorang namja dan yeoja. Dia mencintaimu sebagai seorang yeoja”, jelas Jongin.

Jngra terlihat kaget. Apa yang dikatakan saudara kembarnya benar? Jika iya, lalu kenapa dia menyatakan perasaannya pada adiknya? “Kau jangan bercanda Jongin. Jika memang dia mencintaiku, lalu kenapa dia menyatakan perasaannya pada Junghae?”, Jungra bertanya untuk mengusir rasa penasarannya.

“Kau tak tahu?”, Jongin kini balik bertanya, yang dijawab dengan gelengan oleh Jungra. “Jika aku jadi dia, tentu aku juga akan melakukan hal yang sama”.

“Maksudmu?”.

“Coba kau pikir. Sehun dalam masa frustasi saat itu. Dia memilih pergi menyusul ayahnya ke Amerika. Dan Junghae adalah gadis pertama yang dia kenal disana. Junghae menawarkan persahabatan padanya, mendengar semua keluh kesahnya. Secara tidak langsung Junghae lah yang sudah menghilangkan rasa frustasinya. Dia hanya salah mengartikan perasaannya, karena dia merasa nyaman berada disamping Junghae. Dia berfikir dia mulai menyukainya karena rasa nyaman tersebut. Karena itu dia menyatakan perasaannya pada Junghae”, jelas Jongin.

Jungra hanya termangu mendengar perkataan Jongin. Bimbang, dengan apa yang dikatakannya.  Apa itu benar? Fikirnya.

“Pikirkan itu baik-baik, Ra-ya! Aku pergi dulu”, Jongin menepuk pelan punggung adiknya sebelum meninggalkannya.

***

Eonni, kau jadi pendiam akhir-akhir ini. Apa kau punya masalah?”, tanya Junghae. Dia kini ikut duduk di kursi taman belakang rumahnya.

Jungra yang mendengar perkataan Junghae menoleh sebentar. Dia kembali sibuk dengan bukunya. “Aku baik-baik saja. Jika memang aku lebih pendiam, aku hanya banyak pekerjaan akhir-akhir ini”, jawabnya kemudian.

“Benarkah! Sepertinya bukan karena pekerjaan?”, Junghae kembali berucap.

Bagaimana mungkin adiknya tahu? Memang benar yang dikatakan Junghae, dia memang sedang memikirkan perkataan Jongin tempo hari. Dan Jongin juga benar, Junghae begitu peka dengan keadaan sekitarnya. Siapapun yang dekat dengannya pasti akan merasa nyaman dengannya. Dan mugkin, memang itu yang dirasakan Sehun. Dia membuang pasrah nafasnya saat mengingatnya. Dia jauh berbeda dengan adiknya. Karena itu dia memilh diam dan kembali sibuk dengan bukunya.

“Kau sedang memikirkan Sehun oppa?”, Junghae kembali bersuara.

Jungra seketika mebulatkan matanya dan menatap lekat adiknya. Adiknya benar-benar pandai menebak pikirannya. Adiknya kini tersenyum melihat reaksinya.

“Benarkan!”, lagi-lagi Junghae yang bersuara.

Jungra hanya mengangkat bahunya. Dan kembali membaca bukunya.

“Ikutlah denganku”, Junghae menarik pelan lengan Jungra.

“Kemana?”, Jungra yang pasrah dengan ajakan Junghae akhirnya bersuara. Dia juga ikut berdiri saat adiknya menariknya untuk berdiri.

“Resort Ski. Bukankah kau suka bermain ski!”, jawab Junghae.

“Darimana kau tahu?”.

“Sehun oppa”. Junghae mendorong pelan tubuh kakaknya, mengajaknya masuk ke rumah. “Ganti bajumu eonni. Aku tunggu di depan”.

Jungra berjalan pelan memasuki rumah. Dia mengikuti saran adiknya. Setidaknya bermain ski akan membantu menenangkan fikirannya.

Junghae tersenyum senang melihatnya. Dia segera berlari ke kamarnya. Berganti pakaian, dan mengirim pesan untuk Sehun. Dia menunggu di teras seperti perkataannya.

Jungra melangkahkan kakinya mencari keberadaan adiknya. Dengan balutan suwiter turtelneck serta mantel selututnya, juga celana panjang dan sepatu kets yang menghiasi kaki jenjangnya, dia tampak begitu anggun. Dia tersenyum tipis pada Junghae yang menunggunya di teras rumah. “Kajja”, ajaknya, yang dijawab anggukan oleh Junghae.

Jungra memilih duduk dibangku kemudi, karena memang dia tahu jika adiknya itu belum hafal jalanan kota itu. Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Jungra yang memang memilih diam dan lebih fokus mengendarai mobilnya. Junghae, dia terlihat tersenyum sendiri saat melihat layar ponselnya. Ada rasa sedikit penasaran dibenaknya, tentang apa yang membuat adiknya tersenyum sendiri. Hanya saja dia terlalu malas untuk mengeluarkan suara dan berakhir memilih diam.

Tak disangka merka telah sampai ditempat tersebut. Setelah memarkirkan mobilnya merka menuju tempat peminjaman peralatan ski. Junghae memandang kesemua arah. Sepertinya dia tengah mencari seseorang. Jungra yang merasa aneh dengan tingkah adiknya segera bertanya.

“Apa kau menunggu seseorang? Dari tadi kau melihat kesekeliling seperti mencari sesuatu”.

Aniyo”, Junghae menggeleng. Sebenarnya dia memang menunggu seseorang, hanya saja orang tersebut belum juga menunjukkan batang hidungnya.

Mereka berjalan pelan menuju tempat bermain ski. Setelah memakai perlengkapan mereka mulai menyusuri area tersebut. Jungra terlihat begitu pandai memainkannya. Berbeda dengan Junghae yang memang sebenarnya dia tak terlalu pandai. Dia hanya berjalan pelan mengikuti kakaknya dari belakang.

Jungra berjalan semakin cepat, meninggalkan Junghae yang dengan susah payah berusaha mengejarnya. Jungra sangat menikmatinya, salah satu hal yang memang dia suka adalah bermain ski saat musim dingin. Dia bahkan melupakan adiknya yang jauh tertinggal dibelakangnya. Dia berhenti saat melihat siluit tubuh seseorang yang dia kenal. Dia terus mengamatinya dari belakang. Dia memberanikan diri mendekatinya setelah mengenali siapa pemilih tubuh kekar itu.

“Chanyeol oppa”, sapa Jungra.

Namja itu menoleh kearahnya. “Ra-ya”, jawab namja itu yang mengenalinya. Namja itu bahkan tersenyum kearahnya. “Kau juga disini! Apa kau sendiri?”, tanya namja itu yang melihatnya berjalan sendiri. Sebenarnya banyak orang dibelakangnya, hanya saja namja itu tak mengenal siapapun kecuali Jungra.

“Tidak, aku bersama…”, Jungra belum sempat melanjutkan kalimatnya. Dia terdiam mendebgar suara namja lain yang mendekat kearah mereka.

Hyung”, kata namja itu. Dia terdiam menatap ke arah Jungra. Begitu juga Jungra, dia juga terdiam. Untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap. Hingga suara Chanyeol yang membuat mereka membuang muka.

“Sepertinya aku mengganggu”, Chanyeol berniat pergi meninggalkan mereka berdua.

Tapi sepertinya tak berhasil. Karena detik kemudian namja yang bernama Sehun itu sudah berjalan sejajar dengannya. Chanyeol hanya tersenyum melihatnya. Dia kembali berbalik ke arah Jungra yang juga berjalan dibelakangnya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku Ra-ya. Apa kau datang sendiri?”, Chanyeol kembali berucap.

“Tidak, aku bersama Junghae”, Jungra kemudian menoleh ke belakang, bermaksud memberitahukan keberadaan adiknya. Namun dia tak mendapati sang adik dibelakangnya. “Kemana dia. Tadi dia dibelakangku”, Jungra terlihat panik. Dia mengedarkan pandangan kesekelilingnya, namun nihil adiknya tetap tak kelihatan.

“Kenapa kau meninggalkannya, Ra-ya. Kau tahu, Junghae tak bisa bermain ski”, Sehun terlihat marah.

“Aku tak tahu. Ku pikir dia bisa karena dialah yang mengajakku kemari”, jelas Jungra.

Sehun segera berlari mencari keberadaan Junghae. Yang diikuti oleh Jungra serta Chanyeol. Mereka terus memanggil nama Junghae sepanjang perjalannya. “Junghae-ya’, mereka saling bergantian meneriaki nama Junghae.

Sementara itu Junghae sedang berusaha berdiri setelah jatuh saat berjalan dengan alat ski. Dia mencoba berdiri dan berjalan kembali. Namun tetap saja dia merasa takut. Dia hanya bisa bernafas pasrah. “Kemana perginya Jungra eonni?”, dia mengutuk dirinya sendiri karena sudah mengajak kakaknya ke tempat itu. Seharusnya dia bilang dulu, kalau dia tak bisa bermain ski sebelum kakaknya melangkah pergi. Dia tetap berdiri mematung ditempatnya. Dia hanya bisa berharap kakaknya akan datang kembali untuk mencarinya.

Dari arah belakang datang seseorang dengan kecepatan tinggi, hingga menabrak bahunya. Perlahan-lahan sepatu ski-nya mulai bergerak. Semakin lama semakin cepat, karena memang area itu yang semakin menurun. Junghae yang tak bisa menghentikan laju sepatunya hanya bisa berteriak. Dia sangat takut, sungguh. Apa dia akan mati, pikiran itu yang sempat terlintas dipikirannya. Karena memang keadaannnya sekarang. “Tolong aku”, dia berteriak dengan kencang berharap ada orang yang bisa menghentikan laju sepatunya. Dia bahkan menutup mata saking takutnya.

Chanyeol seperti mendengar orang minta toleong. Dia mengedarkan pandangan kesekeliling mencari pemilik suara. Dia bisa melihat pemilik suara itu. Dia segera berlari mengejarnya. Dia sempat kewalahan karena memang laju gadis itu sangat cepat. Untuk beberapa menit mereka hanya bisa saling mengejar. Sampai Chanyeol menambah kecepatannya, hingga ia bisa mensejajarkan posisinya. Dengan sigap dia menarik tangan gadis itu dan membuat tubuhnya serta tubuh gadis itu berguling diatas salju. Tubuh mereka berhenti berguling dengan posisi dimana gadis itu tergeletak manis disampingnya.

Chanyeol segera bangkit untuk memastikan keadaan gadis tersebut. Gadis itu masih menutup matanya. “Junghae-ya, kau baik-baik saja?”, Chanyeol berusaha membantu Junghae duduk. Junghae masih tetap menutup matanya. Tubuhnya bahkan kini gemetar. “Junghae-ya, kau baik-baik sajakan?”, Chanyeol kembali bertanya. Ada raut cemas diwajah tampannya.

Dari arah belakang datanglah Sehun dan Jungra. Mereka juga berusaha mengejar Junghae setelah mendengarkan teriakan Junghae.

“Junghae-ya, jawab aku. Kau baik-baik saja?”, Chanyeol kini mengguncangkan tubuh Junghae.

Junghae bereaksi setelahnya. Dia memeluk erat pinggang Chanyeol. Sangat erat, bahakan Chanyeol bisa merasakan jika tubuh gadis itu gemetar, nafasnya juga tak beraturan. “Aku takut, aku takut. Aku takut”, hanya dua kata itu yang terus muncul dari bibir gadis itu. Chanyeol bernafas lega mendengarnya. Setidaknya gadis itu baik-baik saja.

“Tenanglah! Kau aman sekarang”, Chanyeol membalas pelukan gadisnya. Dia bahkan mengusap pelan punggung gadis itu.

“Hah”, Jungra yang berdiri dibelakang mereka membuang lega nafasnya. Adiknya baik-baik saja sekarang. “Kenapa kau tak bilang jika kau tak bisa bermain ski? Jika kau bilang dari awal, aku pasti akan mengajarimu terlebih dulu”, ada nada marah diucapan Jungra, namun wajahnya menunjukan jika dia juga cemas. Dia kemudian ikut duduk disamping mereka.

Junghae sebenarnya tak sadar dengan apa yang dilakukannya. Dia hanya mengikuti nalurinya karena merasa takut. Bahkan dia tak tahu sebenarnya siapa yang tengah ia peluk. Dia lelepaskan pelukannya mendengar ucapan Jungra. Dia sempat termangu melihat namja yang tadi dipeluknya. Ada rasa sedikit malu menghinggapinya. Dia disaksikan kakak perempuannya yang tengah dudukdisampingnya juga Sehun yang masih berdiri di belakang namja itu.

Junghae terisak kemudian, “Aku pikir….hiks…hiks.. aku…hiks..hiks…akan mati… hiks hiks”, Junghae menutup wajahnya. Antara malu dan takut.

Jungra menepuk pelan punggung adiknya untuk menenangkannya. “Tenanglah! Kau baik-baik saja sekarang”.

Eonni”, Junghae kini beralih memeluk kakaknya. Dia masih terisak.

Jungra hanya bisa mengusap pelan rambut adiknya. Dia merasa bersalah sudah meninggalkannya.

Mereka memutuskan makan bersama setelah kejadian tadi. Junghae masih terlihat murung. Dia hanya menyuap malas makananannya. Sebenarnya rasa takutnya sudah hilang, dan rasa malulah yang mendominasi perasaannya. Untung saja yang menolongnya adalah Chanyeol, jika orang lain mungkin dia sudah pasti tak akan berani menunjukkan wajahnya.

“Kau baik-baik saja?”, tanya Chanyeol yang sedari tadi mengawasi gerak-geriknya.

“Hah”, Junghae sempat terkaget. Lalu dia menggangguk sebagai jawaban. Dia kembali menundukkan wajahnya.

“Kau benar-benar baik sajakan?”, kakaknya kini ikut bersuara.

Junghae juga kembali mengangguk sebagai jawaban. “Maafkan aku, seharusnya kita bersenang-senang”, dia juga kembali menundukan kepalanya.

Sehun terlihat menggeser kursinya mendekati Junghae. Dia menepuk pelan punggung Junghae. “Jangan khawatir, kita bisa pergi ke taman hiburan Jamshil setelah ini”, Sehun mencoba menenangkan Junghae.

Junghae menoleh ke arah Sehun. Sehun terlihat menggangguk saat Junghae menatapnya.

“Ide yang bagus”, kata Jungra dia kembali memasukan makanan kemulutnya. “Kau juga akan ikutkan oppa”, lanjut Jungra, namun pertanyaan itu dia tunjukan untuk Chanyeol.

“Kenapa tidak. Jarang-jarang aku punya waktu luang”, Chanyeol terlihat senang saat mengatakannya.

“Mereka setujukan. Jadi cepat habiskan makananmu”, Sehun kembali berucap untuk Junghae. Yang hanya dijawab anggukan olehnya.

Mereka semua kini sudah berdiri di area taman hiburan Jamshil. Entah kebetulan atau tidak mereka berdiri sejajar. Dari yang paling kanan Park Chanyel, Junghae, Jungra lalu Sehun.

“Permainan pertama apa yang akan kita naiki?”, Sehun memulai pembicaran. Dia juga menoleh ke arah mereka.

“Bagaimana kalau itu”, Junghae menunjuk salah satu wahan.

No, no. Itu tidak seru. Bagaimana kalau itu”, Sehun menunjuk ke arah lain.

Ne. Sepertinya seru”, Junghae mengangguk antusias.

Kajja”, Sehun segera menarik lengan Jungra yang kebetulan disampingnya. Mereka berjalan mendahului Junghae dan Chanyeol yang masih terdiam. Junghae segera mengikutinya. Tapi tidak dengan Chanyeol. Dia masih mematung ditempatnya. Seharusnya dia tidak ikut ke tempat itu. Banyak kenangan antara dirinya dan mantan kekasihnya di tempat itu.

Junghae yang menyadari jika Chanyeol tak mengikutinya, dia memilih berbalik dan menghampirinya. “Oppa, kenapa?”, tanya Junghae.

Chanyeol tersentak kaget, “Ye~”, dia menggeleng. “Aniya”.

“Kau tak pergi”, Junghae kembali bertanya.

Chanyeol hanya menatap Junghae bingung.

Kajja”, Junghae menarik lengan Chanyeol, karena dia tak juga merespon pertanyaannya. Chanyeol hanya pasrah mengikuti kemanapun gadis itu membawanya.

Mereka semua menaiki permainan yang tadi ditunjuk Sehun. Mereka terihat senang. Bahkan tak jarang mereka bersorak dengan lantang. Tapi dengan Park Chanyeol. Dia terlihat murung. Mungkin karena kenangan dengan mantan kekasihnya.

Seperti sekarang, dia sedang menaiki wahana kincir angin. Dia bahkan duduk berdua dengan Junghae. Tapi entah mengapa dia hanya terdiam. Dia teringat jika wahana inilah yang paling disukai gadisnya dulu.

Junghae juga hanya terdiam menatap lekat wajah Chanyeol. Ada yang aneh dengan suaminya kali ini. Dia tediam sepanjang permainan tadi. Meski kini hanya mereka berdua, Chanyeol bahkan tak memandangnya. Dia lebih memeilih memandang ke arah lain dari kaca teampatnya sekarang. Junghae membuang pasrah nafasnya. Jika namja itu memilih diam, maka dia yang harus membuatnya bicara. Dia menarik salah satu tangan Chanyeol, menggenggam dengan erat.

Oppa, gwenchana?”.

Suara Junghae menyadarkannya dari lamunan. Dia menatap ke arah Junghae. Dia juga mengenggam tangan Junghae. Senyum tipis tercetak di wajahnya. Dia mengangguk setelahnya.

Junghae tahu, itu hanya senyum yang dipaksakan. Dia kembali memandang lekat wajah Chanyeol. “Jinjayo? Tapi wajahmu menunjukkan hal lain. Apa ada masalah?”, Junghae kembali berucap.

Chanyeol hanya menggeleng sebagai jawaban.

Junghae kembali membuang nafasnya. Kini dia beralih memeluk namja itu. Menyandarkan kepalanya di dada bidang namja itu. Chanyeol sempat termangu, tapi pada akhirnya dia membalas pelukan gadisnya.

“Kau tahu oppa, kau adalah orang ternyaman kedua saat dipeluk setelah momy”.

Jinjja!”, senyum tipis tercetak diwajah tampannya.

Junghae melepaskan pelukannya dan mengangguk. “Emh. Saat aku memeluk eomma, itu memang nyaman, tapi tak senyaman pelukan momy….”, ada jeda sedikit diperkataan Junghae, “Dan pelukanmu”, lanjutnya.

Chanyeol kembali tersenyum. Senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. “Apa maksudmu? Apa kau sedang menggombal sekarang”.

Jinjjayo! Aku berkata yang sebenarnya. Kau tahu betapa gugupnya aku saat fashion show kemarin. Jika saja kau tak datang dan memelukku saat itu, aku tak yakin akan berjalan lancar acara itu”.

Chanyeol kembali tersenyum. Dia mengacak pelan rambut Junghae. Junghae juga ikut tersenyum. Entah perasaan aneh apa yang kini melanda Chanyeol. Dia seperti tersihir melihat senyum tulus Junghae. Perasaan tenang menghampirinya tiba-tiba. Dia bersyukur dalam hati, karena sudah mengenal gadis itu. Gadis yang sudah berstatus resmi menjadi istrinya.

“Karena itulah. Jika oppa punya masalah, oppa bisa menceritakannya padaku. Aku akan dengan senang hati mendengarkannya”, Junghae kembali berucap.

Ada rasa sedikit bersalah saat menatap gadis itu. Gadis itu terlihat tulus mengatakanya. Tapi justru apa yang dilakukannya sekarang, dia malah memikirkan gadis lain yang sudah berstatus sebagai mantan kekasihnya. Chanyeol menarik lengah Junghae, dan membawanya kepelukannya. Mengusap lembut rambutnya, menyalurkan semua perasaan yang menimpanya.

Gomawo Junghae-ya. Jeongmal gomawo”, hanya kata itu yang diucapkan Chanyeol.

Junghae mengangguk dalam pelukan namjanya.

Mianhae”.

Mianhae?”, Junghae mengulangi perkataan Chanyeol. “Untuk apa?”, Junghae melepaskan pelukan Chanyeol. Dia tak paham dengan perkataan namja itu.

“Aku belum bisa memberitahukan hubungan kita. Aku benar-benar seperti pengecut. Aku…”.

Chu. Seketika itu Chanyeol terdiam.

Junghae kembali menjauhkan wajahnya. “Gwenchana oppa. Ada saat dimana kita diharuskan berbohong demi kebaikan. Seperti hubungan kita, aku yakin akan ada waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Karena itulah kau tak perlu terburu-buru”.

Chanyeol terdiam sesaat. Memang benar yang dikatakan Junghae. Dia kemudian mengangguk. Dia kembali mensusap pelan rambut Junghae dan mencium sekilas keningnya.

“Kita harus turun. Semoga saja tidak ada yang melihat”.

to be continue……..

Hai, hai. Saya kembali lagi dengan chapter 13.

Tetap saja aku tak bisa bikin panjang. Hanya segini ya…. Maaf….

Semoga tetap suka dengan ff ini.

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian…..

Terima kasih untuk semuanya……..

Iklan

48 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 13)

  1. Aaaahhhh so sweet nyesel iihh baca kalimat to be continue hahahaha, masih kurang moment junghae chanyeolnya moga next chap makin banyak biar makin senyum” gaje 😂😂😂

  2. Yang chapter kemarin” tuh, yang sudah tahu kalau Junghae sudah menikah itu adalah Menejer joen kan ? Kenapa dia tak kasih tau orang” yah ? Takutnya mereka ngumumin hubungan mereka pas waktu nda tepat .

  3. Semoga aja sehun sama jungra liat adegan mereka berdua , biar langsung diumumin dah tuh hubungannya
    Kapan diumuminnya gak sabar aku 😁
    Gemes banget sama mereka berdua
    Lanjut ya fighting 😄

    • iya, semoga saja…
      biar cepet ketahuan……..
      ditunggu saja, pasti diumumin kok…..

      mereka memang ngegemesin…

      thanks ya… 🙂

    • waduh!!! repot donk kalau nggak end…..
      tapi untuk ff ini aku nggak bikin series,……
      karena aku sudah punya ff baru….. hahaha…

      thanks ya….. 🙂

  4. kapan chanyeol memberitahu hubungannya dengan junghae thor?? next chapter selanjutnya thor jangan lama lama updatenya hehhe 😀 Fighting thor

    • ditunggu saja, nanti bang CY pasti bilang…..

      aku nggak janji bakalan update cepat…..
      tapi akan aku usahakan…

      thanks ya….. 🙂

  5. Sempet bingung sama alur cerita nya , tau nya flasback awal masalah jungra sama sehun …
    Wahh chanhae couple makin soo sweettt ajj nih , chanyeol oppa kapan mau ngumumin hubungan nyaaa ???? Udah gak sabar menanti chapter selanjut nya

    • iya, maaf ya…..
      sebenarnya ada flashbacknya, cuma saya lupa nulis……. pas sadar, sudah saya e-mailkan ceritanya….. maklumlah, namanya juga manusia, pasti ada lupanya…..
      dibaca ulang-ulang pasti ngerti……

      ChanHae couple memang sweet…..
      Bang CY, moga saja ada waktu yang tepat buatmu….
      ditunggu saja pokoknya…..

      thanks ya…. 🙂

  6. Sehun sihh plin plan , Jungra jadi gak percaya dehh . .
    Makin sweer ihh ChanHae couple . . Semoga aja mereka cepet bilang biar gak bohong terus ama orang-orang . .
    Fav scene : Yg pas guling-guling di tempat ski . Kalo bisa diliat, kayanya sweet dehh ;D

    • iya nich, bang Sehun mang radak plin plan….. mbak Jungra nya jadi nggak percaya….

      mereka memang sweet #lirik ChanHae..
      do’akan saja mereka cepet sadar, biar nggak kebanyakan bohong…. hahaha…..

      pastinya seru kalau bisa dilihat, sayangnya enggak #Fav scene…..

      thanks ya… 🙂

    • iya, mungkin memang tambah seru….

      iya, ada alur mundur, saya lupa ngasih flashback….. pas sadar ternyata sudah saya e-mailkan ceritanya……..
      ya sudah, dibaca bolak-balik pasti ngerti….

      thanks ya… 🙂

  7. woahhh daebak… ini yg ditunggu” moment yg kek gini.. ahhh makasih author-nim…
    seneng deh bacanya.. sehun jungra jg moga bisa baikan yaaa.. msalah nya jg cpet kelar deh.. biar bisa nyatu gitu..hahahah
    sweettttt deh pokokny
    next…

    • iya, sama-sama…
      iya, semoga banga Sehun cepet baikan…. dan masalahnya cepet kelar…… apalagi kalau jadian, tambah seru ya mungkin…..

      ditunggu saja pokoknya…

      thanks ya… 🙂

  8. makin hari makin seru juga makin sweetttt,,, 🙂 chan dgn junghae snggt sweett,, mudah2han hubungan sehun sama jungra menjadi hehehehe,,, kak jgn lma2 yah post yh udah enggak sbar nie nunggu,,

    • aku juga sedang usahan cepat…..
      tapi, aku juga nggak janji…..
      do’akan saja, kesibukan nggak datang tiba-tiba…..

      thanks ya…. 🙂

  9. ini dia yg ku tunggu2. akhirnya ada momen chan-hae.
    junghae keceplosan tuh…
    klo mereka berharap “Semoga saja tidak ada yang
    melihat”. tp, klo aku yg berharap “Semoga saja ada yang melihat”. hahaha….
    kupikir ini semakin dekat dgn terungkapnya rahasia mrk. klo terungkap mungkin akan segera end.
    aq gk rela bgt klo ff ini end. ㅠㅠ

    tetap semangat eonni nulisnya.
    fighting!!!
    always wait.

    • iya, dia keceplosan…..
      untung saja bang Sehun percaya gitu aja……

      “Semoga saja tidak ada yang melihat”, itukan harapan mbak Junghae…..
      kalau aku juga berharap hubungan mereka segera terungkap,….
      tapi memang jika terungkap akan end……. hahaha….

      ditunggu saja pokoknya……
      thanks bingit ya… 🙂

  10. akhirnya update juga yang q tunggu”
    wahhh makin romantis aja chanhae nya,,ku harap hunra cepet” baikan yaa!!!
    chanhae buruan go public!!!!
    thor bisa lebih panjang lg g’, tbc muncul saat aku asik baca:(:(:(
    dtunggu lanjutannya fighting!!!
    sharakarunia05@gmail.com

    • iya, semoga saja mereka masih tetap romantis #lirik ChanHae….
      untuk HunRa, kayaknya dah mulai baikan, syukur-syukur kalau mereka jadian……

      aku nggak janji bisa lebih panjang…..
      tapi akan aku usahakan…….

      thanks ya… 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s