[EXOFFI FREELANCE] Our Elegy

PicsArt_01-26-09.08.55.jpg

[Do Kyungsoo (EXO), Kim/Do Soohyun (Oc), Do Hyuna (Oc) ]

[Romance, Family]

[PG]

[Oneshot]

[Storyline by Nano]

[Desclaimer : Fanfic ini asli milik dan berasal dari Nano. Bila ada kesamaan alur, tokoh, tempat, dan lainnya, itu murni kebetulan. Hargai karya setiap orang, jangan pernah berniat memplagiat karya orang karena hal itu memalukan.]

[Sorry for typo and happy reading…]

.

.

.

.

.

Namaku Kim Soohyun.

Aku biasa dipanggil Soohyun.

Orang bilang aku mempunyai wajah yang cantik. Kakakku juga berkata aku dapat memikat banyak lelaki yang menatapku. Dulu aku tidak mengerti, namun setelah umurku 18 tahun aku mengerti.

Keluargaku cukup berada, kualitas otakku pun tidak bisa diremehkan.

Salah satu temanku pernah berkata padaku bahwa ia iri dengan kehidupanku yang sempurna. Aku hanya tersenyum tipis. Ia tidak tahu saja bahwa di balik kesempurnaan hidupku aku menderita penyakit tumor otak.

Berbagai rumah sakit aku kunjungi, berbagai obat masuk dalam tubuhku namun penyakit ini tetap tinggal tidak mau pergi.

Tidak ada yang tahu tentang penyakit ini kecuali keluargaku. Termasuk lelaki yang menjadi suamiku, ia tidak tahu tentang hal itu. Aku melarang keluargaku untuk tidak memberitahunya tentang penyakit ini. Aku tidak ingin ia menjauhiku dan meninggalkanku. Aku takut ia jijik dengan aku yang berpenyakit tumor.

Kyungsoo. Namanya Kyungsoo.

Lelaki yang begitu kucintai.

Lelaki yang menjadi ayah dari anakku.

Ia juga mencintaiku, karena itu ia berkerja keras siang malam agar mendapatkan kehidupan yang layak untukku, untuk anakku, dan juga untuknya.

Beruntungnya diriku karena ia selalu sibuk mengharuskan berangkat pagi dan pulang larut malam sehingga ia tidak mengetahui penyakitku sering kambuh. Aku biasanya menghubungi kakakku untuk membantuku.

Tapi di hari minggu itu, aku tidak dapat menahan rasa sakit yang menyiksa. Kyungsoo yang memutuskan untuk berlibur, terkejut dengan luruhnya tubuhku. Sebelum kesadaranku menghilang, aku mendengar Kyungsoo dan anakku berteriak memanggilku.

Kupikir aku masih hidup ketika aku dapat melihat Kyungsoo yang menangis. Aku meraih pipinya namun ia tidak tersentuh.

Aku memanggilnya namun ia tidak mendengar.

Aku menangis namun ia menghiraukanku, tidak mengusap air mata seperti yang biasa ia lakukan jika aku menangis.

Aku melihat Hyuna, anakku, yang menatap bingung pada Kyungsoo. Hyuna menarik ujung baju Kyungsoo dan berkata polos, “Ayah, jangan menangis. Ibu sedang sakit, kata paman jangan berisik jika ibu tidur.”

Kyungsoo langsung mendekap erat Hyuna dan semakin menangis tersedu.

Semenjak hari itu, Kyungsoo menjadi orang yang menyeramkan. Emosinya mudah meledak, tangannya lebih menyakitkan dari mulutnya, ia juga mengabaikan Hyuna. Itu membuatku marah.

Aku baik-baik saja diabaikan olehnya. Aku baik-baik saja tidak lagi diperhatikan olehnya, tapi ia tidak seharusnya melakukan semua itu pada Hyuna. Tidak seharusnya menyakiti hati sucinya.

Kabar baik datang padaku. Hyuna dapat merasakan sentuhan dan keberadaanku. Hyuna berkata ia senang melihatku dan ia bertanya mengapa baru sekarang aku kembali? Padahal ia sangat merindukanku dan sangat ingin bertemu. Ia juga berkata, ia takut aku tidak kembali lagi.

Aku hanya tersenyum lalu mengucapkan sesuatu untuk disampaikan pada Kyungsoo. Hyuna mengangguk semangat kemudian melakukan apa yang kusuruh.

“Ayah-Ayah! Lihat apa yang kugambar! Bagus bukan? Ibu bilang ayah tidak perlu sedih lagi, ibu akan selalu bersama kita!”

“Jangan ganggu ayah, Hyuna. Ayah sedang berkerja, nanti saja.”

Kyungsoo hanya menoleh sekilas pada Hyuna yang menunduk sedih.

Apa yang dipikirkan Kyungsoo sebenarnya?

Apakah tumpukan kertas itu lebih penting dari anaknya sendiri?

Aku kecewa padanya.

Hyuna menoleh ke arahku, aku tersenyum.

Baiklah, mungkin Hyuna tidak penting untuknya, jadi… tidak apa bukan jika Hyuna ikut bersamaku?

Aku mengajaknya keluar dan pergi ke kamarnya, tepatnya ke kamar mandi.

Hyuna mengunci pintu menuruti perintahku. Aku kemudian menggendongnya dan bermain bersamanya.

Ia tertawa senang begitu pula denganku.

Tawa gelinya masih tersisa ketika aku meletakkannya di bath tub. Hyuna berdiri dengan air yang mencapai lehernya.

Kami masih tertawa senang lalu aku menyuruhnya memanggil Kyungsoo.

Tidak ada jawaban. Kyungsoo tidak menjawab. Mungkin suara Hyuna kurang keras.

Kurendam kepala Hyuna sebentar lalu menariknya kembali agar ia mengambil napas. Ia tertawa senang.

Kulakukan sekali lagi namun kali ini lebih lama. Tangan mungilnya bergerak cepat dan menimbulkan air terciprat meluber ke lantai. Setelah cukup, baru aku menariknya kembali.

Napasnya terengah, matanya memerah, bibirnya membiru. Aku tersenyum. Sedikit lagi Hyuna akan ikut bersamaku.

Ia memanggil Kyungsoo tanpa kusuruh. Berkali-kali dan sangat keras. Ia terlihat panik.

Mengapa ia panik? Bukankah tadi ia tertawa saat pertama kali kurendam?

Dahiku mengerut melihat air yang jatuh di pipinya. Aku menghapusnya seraya tersenyum. Ia diam. Lantas kurendam lagi kepalanya sebentar lalu mengeluarkannya kembali.

“Ayah! Tolong aku!”

Blup.

“Ibu memaksaku mandi!!”

Blup.

“Ayah!”

Blup.

“Aku tidak nakal!”

Blup.

“Ibuuuu~”

Blup.

“Hiks… A-ayah…”

Aku mendengar pintu itu digedor keras. Siapa yang melakukan itu? Berisik. Mengganggu saja.

“Hyuna? Buka pintunya sayang! Ini ayah.”

Oh, Kyungsoo ternyata. Mau apa dia? Tch, tidak penting.

Kuteruskan kembali aktivitas yang sempat tertunda.

“Ayah!”

Blup.

“Hyuna! Buka pintunya sayang! Jangan main air!”

Berisik.

Hyuna menangis tersedu dengan napas tersenggal. Sebentar lagi. Sebentar lagi kau akan ikut bersama ibu, sayang.

Aku menyuruh Hyuna mengikuti apa yang kuucapkan. Hyuna menurut dan membuatku tersenyum lebar.

“Ayah… kata ibu-uuh aku harus ikut bersamanya. A-ayah tih-dak ak-ak-khan rep-ot meng-nguhruskuh.”

Pintarnya anakku. Aku memeluknya erat, senang dengan sifat penurutnya. Hyuna membalas pelukkanku.

“Hyuna jangan berkata seperti itu, sayang. Jangan membuat ayah khawatir. Buka pintunya atau ayah akan mendobraknya!”

Omong kosong.

Aku membisikkan kalimat terakhir di telinga Hyuna.

“Ih-bu Bhi-langh ha-yah ti-dak meny-nyhukai-kuh.”

Blup.

Kepakkan air mengiringi jeritan kecil anakku. Melodi yang indah.

Gedoran pintu semakin keras, aku menghiraukannya.

Tepat ketika pintu terhempas kasar, Hyuna telah bersamaku.

Aku tersenyum pada Hyuna yang juga tersenyum. Cahaya putih bersinar di ambang pintu kamar mandi. Cahaya itu seperti memberi sugesti agar aku berjalan ke arahnya.

Aku berjalan bersama Hyuna menuju cahaya itu dengan menggenggam tangan mungil anakku. Meninggalkan Kyungsoo menatap pucat jasad Hyuna yang mengambang di bak mandi.

.

.

.

.

.

FIN

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s