[EXOFFI FREELANCE] Breakin’ Away (Chapter 1)

picsart_01-29-10-08-48

BREAKIN’ AWAY

Title        : Breakin’ Away

Author        : Kyokyo

Length        : Multichapter

Genre        : Romance, teenager

Rating        : PG – 15

Main cast    :

Kim Jong In / Kai Kim

Kang Ji Eun (OC)

Additional Cast :

Kang Haneul

Park Chan Yeol

Summary     : “Apa yang kutunggu dan apa yang kuharapkan. Bodoh. Iya aku.

Disclaimer    : Ide cerita murni milik author. Jika ada kesamaan tema, tokoh, dan tempat, hal itu murni ketidaksengajaan. Happy reading ^_^

CHAPTER ONE

THAT COLD EYES

Matahari mulai terbenam ketika seorang gadis berambut coklat sebahu menarik kopernya keluar dari Gimpo Airport. Sisa – sisa hujan masih terasa di luar sana. Gadis itu menarik napas panjang dan kemudian menghembuskannya. Perjalanan udara dari Tokyo ke Seoul tidak terlalu memakan waktu, sehingga dia tidak merasakan kelelahan. Seharusnya memang begitu, tapi entahlah bahkan masih di depan bandara pun, gadis itu sudah terlihat lelah.

    “Kang Ji Eun!”

    Seseorang memanggil namanya. Dia membalikkan badan. Kang Ha Neul, kakak gadis itu terlihat sumringah menyambutnya. Seperti dia sangat menantikan kedatangan adiknya itu. Ji Eun tersenyum lebar yang pastinya segala rasa lelahnya berkurang saat melihat kedatangan kakaknya. Tetapi kemudian senyumnya berubah menjadi kecewa. Dan rasa lelah yang ia kira pergi nyatanya tak pernah beranjak sedikitpun dari dirinya. Bukan Kang Ha Neul kakaknya yang menjemputnya, melainkan hanya udara kosong. Tentu saja itu hanya halusinasinya saja yang kian parah. Karena nyatanya, tidak ada yang menunggunya. Tidak ada yang menyambutnya. Tidak ada yang menginginkannya.

    Gadis itu tersenyum miris sambil bergumam, “Apa yang kutunggu dan apa yang kuharapkan. Bodoh. Iya aku.”

***

Sebuah taksi berhenti di sebuah rumah tingkat dua di area perumahan yang cukup sepi. Sang sopir membantu Kang Ji Eun menurunkan kopernya. Ji Eun memandang rumah itu cukup lama. Entah kenapa nyalinya cukup ciut. Dan rasa lelah semakin membebaninya. “Aku ingin kembali ke Tokyo saja.” gumamnya.

Dengan ragu dia menekan kode rumah tersebut. Sebenarnya dia juga tidak yakin apakah kodenya masih sama atau tidak. Makhlum hampir 3 tahun lebih dia tak pernah pulang. Dan detik berikutnya, pagar rumah itu terbuka. Dia melewati halaman rumah itu yang diisi dengan bunga – bungaan. Well, ibu dan ayahnya menyukai bunga.

“Aku pulang.” katanya saat menginjakkan kaki di ruang tamu.

Di tempat itu, ibunya, ayahnya, dan kakaknya berdiri menyambutnya dengan raut muka yang datar. Hanya ayahnya yang mencoba tersenyum. Ji Eun tersenyum. Well, inilah keluarganya. Apapun itu, merekalah keluarganya. Gadis itu berkali – kali mengingatkan dirinya sendiri.

***

Kai Kim berdiri di balkon apartemennya. Dia menatap langit dan merasakan angin sejuk musim semi menerpa rambutnya. Dia menyenandungkan lagu favoritnya yakni Richard Marx – Right Here Waiting For You sejenak. Lalu kemudian dia mendecak kesal beberapa kali.

    “Apa yang kau lakukan di sini?”

    Kai hampir terjatuh saat suara berat itu mengagetkannya. Dia menatap cowok tinggi yang bernama Park Chan Yeol yang sedang tertawa jahil dengan gigi sempurnanya.

    “Sialan. Kau seperti hantu.” umpatnya kesal.

    “Aku dari tadi berdiri di sampingmu. Mendengar suara falsmu bernyanyi. Dan kau masih tidak menyadari kehadiranku. Well, tingkat ketidakpekaanmu benar – benar diluar akal.”

    “Berisik.” sahut Kai acuh.

    “Ini hari pertamamu pulang. Apa yang kau lakukan di sini? Membosankan.” ejek Chanyeol.

    “Aku sedang menikmati keheningan sebelum kau ganggu.” sahut Kai.

    “Wah, kau sangat melankolis sekali.” Chanyeol tertawa mengejek. “Ayolah kita rayakan kepulanganmu dengan perayaan yang pantas.” ajaknya sambil menarik lengan Kai, meskipun cowok bermata sayu itu sebenarnya enggan.

***

Kang Ji Eun menatap langit – langit kamarnya sambil berdecak sebal beberapa kali. Beberapa kali dia merutukki dirinya sendiri, kenapa dia mau menuruti paksaan kakaknya saat menyuruhnya pulang ke Korea. Walau bagaimanapun, tiga tahun yang ia habiskan di negeri sakura itu membuatnya terbiasa. Terbiasa jauh dari keluarga. Dan sekarang dia merasakan ketidaknyamanannya sendiri saat berada dekat dengan keluarganya. Di saat – saat seperti ini, dia benar – benar ingin clubbing. Minum sepuasnya dan menari sepuasnya sampai bebannya hilang. Ah, saat ini dia sudah merindukan teman satu asramanya saat di SMA. Ada Hyeri, Satsuki, Chibai dan Kento. Hyeri adalah satu – satunya teman koreanya di Jepang sedangkan ketiga temannya yang lain asli orang Jepang. Biasanya mereka berlima akan menyelinap keluar asrama saat jam tidur untuk pergi clubbing.

Dan sekarang, tidak ada lagi teman – temannya. Sedangkan dia sangat bergantung dengan teman – temannya itu. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu temannya yang bernama Satsuki. Dia menunggu beberapa saat, tapi tidak ada jawaban. Gadis itu menghela  napas sambil bergumam, “Bodoh. Satsu-chan pasti sekarang bersama Kento. Ini kan hari minggu.” Dia kembali menghubungi temannya yang lain, kali ini adalah Hyeri. Beberapa kali terdengar nada tunggu, sampai suara Hyeri terdengar heboh.

“Kang Ji Eun!! Aku sudah merindukanmu!!”

“Aku juga merindukanmu. Aku juga rindu yang lain. Aku benar – benar hampa.” Ji Eun membalas dengan heboh.

“Padahal biasanya kita berlima selalu bersama – sama.” Suara Hyeri terdengar rendah. “Kau sudah di Seoul. Chibai – kun sudah berangkat ke Nagoya. Hanya tinggal aku, Satsu- chan, dan Kento – kun.”

“Padahal aku dan kau berjanji kalau kita akan kuliah di Tokyo University. Tapi kali ini hanya kau yang bisa merealisasikannya.” Ji Eun menghela napas. Wajahnya terlihat sangat kecewa. “Ah, rasanya sesak.  Aku jadi ingin clubbing. Mulai sekarang sepertinya aku juga akan clubbing sendiri.”

“Apa yang kau katakan? Besok kan kuliahmu sudah dimulai. Carilah teman sebanyak – banyaknya, okay?” pinta Hyeri.

“Entahlah.” sahut gadis itu pesimis. Dia melirik samping kanannya, dan di ambang pintu berdirilah Kang Ha Neul. “Hyeri, aku tutup dulu ya. Nanti kutelpon lagi.” Katanya cepat lalu mengakhiri telponnya.

“Oppa…” Ji Eun bingung melihat kakaknya tiba – tiba di kamarnya tanpa mengetuk pintu.

“Jangan salah paham! Aku sudah mengetuk pintu berkali – kali tadi dan kau tidak menyadarinya.” jawab haneul mengakhiri prasangka buruk adiknya itu. Haneul menyerahkan dokumen – dokumen tentang Universitas Tae Il pada Ji Eun. Gadis itu hanya melihat sekilas lalu kembali memperhatikan kakaknya. “Universitas ini memang tidak lebih baik dari Tokyo University. Tapi kampus ini juga tidak bisa kau remehkan. Aku mengerti bagaimana kehidupan bebasmu di Tokyo, tetapi mulai sekarang kau harus menjaga sikap. Jangan berulah karena mulai sekarang banyak mata yang mengawasimu.”

Ji Eun tidak menjawab apapun dan memilih diam sejenak, sampai Haneul hampir  pergi dari kamar gadis itu. “Apa kau sedang mengancamku oppa?”

Haneul berhenti. Dia menatap Ji Eun sambil tersenyum tipis. “Mana ada kakak yang mengancam adiknya?” tanyanya retoris. “Tapi itu juga bisa berarti ancaman kalau kau berulah.”

Ji Eun menghela napas. Malam itu dia menangis dalam diam.

***

UNIVERSITAS TAE IL, FAKULTAS KEDOKTERAN

Kai Kim berjalan dengan percaya diri memasuki auditorium fakultas kedokteran universitas Tae Il. Dengan wajah dingin yang rupawan, Kai berjalan layaknya model yang tengah berjalan di atas catwalk. Hampir semua mahasiswa perempuan terpanah melihatnya. Dan beberapa mahasiswa laki – laki menatapnya iri karena mampu menarik perhatian para gadis.

    “Kai! Tunggu!”

Park Chanyeol mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Kai. Penampilan pria tinggi itu agak kusut karena mengejar Kai. Tapi walaupun begitu, dia tetap tampan. Bahkan kali ini, beberapa mahasiswa semakin heboh karena mereka berdua terlihat seperti dua pangeran yang sempurna tanpa celah.

“Kenapa kau pergi tanpa membangunkanku?” tanya Chanyeol sinis.

“Aku tidak mau terlambat di hari pertamaku. You slept like a corpse.” ejek Kai dengan cueknya.

“Shit!” umpat Chanyeol. “Kau ahlinya berkata kejam.”

    Mereka berdua dan mahasiswa dari jurusan kedokteran lainnya digiring masuk ke ruang auditorium untuk upacara pembukaan dan berbagai rentetan formalitas kegiatan lainnya. Dan kegiatan terakhir, yaitu bimbingan umum. Mereka semua sudah masuk ke dalam kelas masing – masing sesuai dengan program kuliah yang dipilih.

    Kai dan Chanyeol tidak seberapa mendengarkan penjelasan dosen berkaca mata itu. Bahkan Chanyeol lebih memilih bermain ponsel. Lalu tiba – tiba dosen itu menanyai acak mahasiswa. Dan kali ini dia bertanya pada Kai tentang alasannya kenapa ingin menjadi dokter.

    “Namaku Kai Kim.” Begitu mendengar suara Kai, para mahasiswa tiba – tiba terpukau dengan suaranya. “Aku ingin menjadi dokter karena dokter itu pekerjaan mulia. Ayahku juga dokter.” Jawabnya singkat yang diakhiri dengan tepuk tangan para mahasiswa.

    Chanyeol tertawa pelan. “Jawabanmu terlalu pasaran untuk mendapat tepuk tangan semeriah ini.” Kai hanya menanggapinya dengan seringai.

    Selanjutnya dosen itu beralih pada seorang gadis yang duduk di samping jendela besar. Dosen itu bertanya dua kali namun gadis itu tetap diam. Mau tidak mau Kai dan Chanyeol mengalihkan perhatiannya pada gadis berambut sebahu itu. Gadis itu sepertinya melamun, karena dia hanya menatap rerumputan di luar.

    “Aku ingin clubbing.” gumamnya pelan. Tapi cukup terdengar untuk seluruh ruangan yang sunyi itu.

    Kai dan Chanyeol bahkan sampai melongo karena terkejut dengan jawaban gadis itu. Tak lama kemudian terdengar suara tawa dari kelas itu.

    Gadis itu tersadar dari lamunannya dan sepertinya belum sepenuhnya menyadari apa yang terjadi.

***

    Kang Ji Eun bersumpah bahwa kehidupan kuliahnya akan jauh dari ekspektasinya. Yang pertama karena dia kembali tinggal di Seoul. Yang kedua dia tidak memiliki teman. Dan yang ketiga kakaknya tidak main – main soal ucapannya tadi malam. Banyak orang yang akan mengawasinya. Itu benar karena kali ini orang itu ada di sini.

    Dosen pengantar kedokteran yang berambut panjang dan berkaca mata itu baru saja menyapanya. Butuh waktu beberapa menit untuk mengingat siapa wanita ini. Dia adalah Kim Hyuna, teman kakaknya. Ji Eun tidak tahu seberapa dekat dosen ini dengan kakaknya sekarang. Tapi saat dosen ini mengatakan sesuatu yang membuat bulu kuduk Ji Eun berdiri, dia mulai berpikir negative tentang kakaknya.

    “Jangan berulah ya, Kang Ji Eun sayang!”

    Dan dia semakin merinding saat tahu kalau orang ini yang akan menjadi dosennya. Ji Eun merutukki kebodohannya. Seharusnya dia mengambil kuliah orang lain saja. Hal itu terus berlanjut saat kelas di mulai. Gadis itu merasa semakin terbebani. Kali ini dia benar – benar ingin clubbing. Persetan pergi sendirian. Kali ini dia harus terbiasa pergi sendirian.

    Tiba – tiba dia mendengar tawa sumbang. Gadis itu melihat banyak mahasiswa tertawa menatap dirinya. Bahkan dua cowok tinggi yang tadi pagi menjadi perhatian itupun menatapnya aneh. Ji Eun menatap penuh tanya. Dia menatap gadis berkuncir kuda yang duduk di sebelahnya. Tapi gadis itu justru menatapnya aneh.

    “Kau ingin clubbing?” Pertanyaan menantang itu datang dari arah depan. Kim Hyuna melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil menatap Ji Eun dengan mata elang yang siap membunuhnya. Reflek gadis itu menutup mulutnya sendiri. Mulutnya selalu keceplosan mengatakan unek – uneknya.

    “Bukan.” kata Ji Eun cepat. “Anda pasti salah dengar.”

    “Telingaku baik – baik saja, mahasiswa baru.” tegas wanita itu.

    Gadis berkuncir kuda itu berbisik dengan cepat. “Dosen itu bertanya kenapa kau ingin menjadi dokter.”

    “Ah, begitu. Anda tadi bertanya kenapa aku ingin menjadi dokter.” kata Ji Eun. Dosen itu terlihat menunggu jawabannya. Dan Ji Eun pun merasa semua orang ingin mendengarnya juga, mungkin untuk menertawainya lagi. “Kenapa aku ingin menjadi dokter…” Dia berpikir sejenak. Dengan situasi setegang ini bagaimana dia bisa berpikir alasan yang masuk akal. Ayolah, dia tidak mungkin mengatakan alasannya yang sebenarnya.

    “Kau bodoh Kang Ji Eun.” rutuknya dalam hati.

    “Maaf, aku belum menemukan alasanku kenapa aku ingin menjadi dokter. Aku baru saja memulai untuk mencarinya.” kata Ji Eun pada akhirnya.

    “Ah, begitukah? Sebenarnya alasan itu penting supaya itu menjadi motivasi kalian untuk serius belajar. Tapi baiklah.” Dosen itu kembali mengalihkan perhatiannya pada Ji Eun. “Jika kau sudah menemukan jawabannya, pastikan untuk memberitahuku, Kang Ji Eun.” Katanya penuh penekanan saat mengucapkan nama gadis itu.

    “Ne.”

    Ji Eun menarik napas panjang. Pada akhirnya, berita dia melamun pasti akan segera sampai pada telinga kakaknya. Gadis itu, mendecak kesal mengingat dia yang menjadi bahan tertawaan seluruh kelas. Dia mengalihkan pandangannya pada dua cowok tinggi itu. Dan tanpa sengaja, matanya bertatapan dengan cowok bermata sayu, yang juga menatapnya dingin.

    Kang Ji Eun terasa membeku di musim semi.

TBC

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Breakin’ Away (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s