[EXOFFI FREELANCE] In Our Lovely Destiny (Chapter 1)

PicsArt_01-28-12.29.02.jpg

In Our Lovely Destiny

.

By : Author Rhee

.

Byun Baekhyun & Han Yu Raa || Romance, School-Life || Multichapter || PG-17

Summary : “Ketika takdir mempermainkanku, kau hair dan membuatku kembali percaya…”

Disclaimer : Cerita ini murni adalah ide saya yang sudah tersimpan dalam laptop selama 1 tahun 😀 (kekeke). Cerita ini adalah fiksi semata, jadi jangan pada baper.

.

.

[ Pendahuluan ]

Seorang wanita berlutut di depan makam yang telah di hiasi bunga anggrek kepala burung berwarna ungu terang yang sangat indah – bunga yang jarang sekali menghiasi sebuah makam. Mungkin karena nama yang tertera di atas nisan makam itu – KIM NAN CHO – adalah arti untuk anggrek.

Angin berdesir sangat kencang, menghempas poni sang wanita, memperlihatkan keningnya yang sangat kecil. Wajah yang sangat sahdu di dalam doanya untuk si pemilik makam. Sesekali wajahnya menyunggingkan senyum di kedua sudut bibirnya, tetap dengan mata yang terpejam.

Cukup lama dia menautkan jemarinya, entah berdoa atau hanya sekedar berbicara dengan makam itu didalam hatinya. Desir angin menambah kesejukan untuk hatinya, pertengahan oktober – dimana masih musim gugur.

Selesai dengan doanya, sang wanita berdiri dari makam itu, tetap intens menatap makam yang terlihat sedikit usang dan sesekali tersenyum. Dia memalingkan pandangannya menuju langit yang seketika – entah kenapa – menjadi kelabu. Awan gelap mulai menyelimuti dan angin bertiup lebih kencang lagi, atau mungkin hanya perasaannya saja? Entahlah~

Sampai matanya tertuju pada sekumpulan orang yang mengitari sebuah makam – tepat di belakangnya – dengan tanahnya yang masih basah, berpakaian serba hitam menunjukkan kedukaan. Matanya berkedip beberapa kali, ‘Aku pernah berada disana, sama seperti mereka…’ kata yang terbaca dari tatapan matanya kearah sekumpulan orang itu.

Dan air pun mulai menetes dari langit, setetes demi setetes dan akhirnya mengguyur  deras, payung – payung hitam mulai bergantungan diatas kepala kerumunan itu. Dan dia – dengan baju yang sudah basah – tetap berada disana tidak menghiraukan hujan yang semakin deras.

Satu jam, dan akhirnya satu per satu orang disana pergi meninggalkan makam yang telah di taburi bunga dan beberapa karangan kecil. Wanita setengah baya yang memeluk papan nama makam itu, akhirnya melepas pelukannya, dengan cengkraman lembut di pundaknya dari pria yang setia menungguinya sedari tadi – menuntunnya dan menjauh dari makam – dengan nafas yang masih menderu dan bahunya yang naik turun tak beraturan dengan isakan tangisnya terlihat jelas walau dari kejauhan.

Sekarang sepi… hanya tinggal seorang pria disana… berdiri… tanpa berkata… seperti menanti – entah apa – tanpa menghiraukan tetesan air hujan yang mengaliri rambut dan turun kewajahnya. Menutupi air matanya sehingga tidak terlihat tangisnya, isakannya pun tidak diindahkannya, tapi mata dan hidungnya yang memerah tidak dapat membohongi bahwa dia tidak menangis.

Seperti setia menemani si pria yang masih tertunduk – sang wanita – juga masih berdiri menghadap dan tak beralih sedikitpun. Apa sebenarnya yang membuatnya begitu peduli? Bahkan mengenalnya pun tidak? Lalu… kenapa?

Sampai akhirnya, si pria mulai teranjak dari dirinya, seperti sadar bahwa yang ditunggunya tidak mungkin datang. Dia mengalihkan pandangannya, untuk mengawali langkahnya meninggalkan makam itu, dan secara tak sengaja matanya bertemu dengan sosok sang wanita dengan jaket kulit hitam yang sedari tadi tidak disadari kehadirannya – bahkan oleh malaikat pencabut nyawa pun.

Sang wanita – entah memandang kemana – tapi tidak cukup menangkap pandangan mata yang sekarang menatapnya itu. Sampai sepersekian detik, dan akhirnya mata mereka bertemu. Dan entah kenapa – matanya – akhirnya mengeluarkan butiran bening, yang mengalir sama dengan derasnya hujan yang menghantam wajahnya.

Tidak terisak, tapi cukup mendalam. Dan sang pria akhirnya menutup pertemuan mata mereka dengan berbalik badan dan berjalan menjauh. Masih setia – bahkan ketika badan tegap itu menjauh – sang wanita tetap menatapnya sampai hilang dipersimpangan.

Tertegun.

Tak bersuara.

Seperti mati rasa disekujur tubuhnya. Bahkan tak terasa lagi hujan yang menetes membasahi tubuhnya itu.

Setelah beberapa waktu, dan akhirnya otaknya mulai mengaktifkan kembali pergerakannya. Dia berjalan, melewati beberapa baris makam, dan sampai pada makam yang sedari tadi menjadi objek pandangnya yang haru.

‘SONG HA KYUNG’ – namanya terpampang jelas dengan tinta hitam yang sedikit meliuk. ‘1999’  menjadi ejaan dibibir mungil sang wanita. “Kau seumuran denganku, seumuran dengan Nan Cho.” ,gumamnya.

Menatap keatas, membiarkan air menetes memasuki matanya. “Bahkan langit ikut menangisi kepergianmu.”

“Bahkan jika ada kesempatan, aku rela menyerahkan tempatku.” ,gumamnya. Dan wajahnya berubah ketika dia sadar dengan ucapannya yang entah kenapa dia ucapkan. Namun tetap terdengar tulus.

01 – [Han Yu Raa] ~ Ketika aku bertemu kau…lagi

Aku lebih memilih berada di tempat kerjaku di banding harus berada di sekolah, dengan guru secerewet Guru Ahn – wali kelasku – yang selalu menceramahiku karena nilai dan absensi.

Dan disinilah aku, berdiri di belakang meja kasir tempatku bekerja paruh waktu, menerima pesanan dari para pelanggan. Tersenyum dengan ramah dan bahasa yang lembut – yang sebenarnya bukan diriku.

Tapi…

Aku menyukai kepura-puraan ini, membuatku normal – setidaknya itu yang kurasakan – yeah… normal.

Aku melihat ke arlojiku, pukul 12.30 waktu korea. Saatnya jam makan siang di sekolah, dan aku masih setia melayani daripada mengurusi waktu makan siangku. Kembali dengan tersenyum, menyapa, menanyakan pesanan, menerima uang, memberikan pesanannya dan berterima kasih.

Jika tidak salah hitung, ini sudah ke delapan kali dalam bulan ini aku bolos sekolah. Dan sudah dua surat teguran datang, dan satu waktu wali kelasku – Guru Ahn – datang menemuiku.

Guru Ahn… setiap menyebut namanya bahkan di dalam hati, aku hanya menemukan auranya yang terdengar seperti umpatan, ‘aku tidak menyukai pemberontak sepertimu.’ dan aku hanya menghela nafas saat memikirkannya atau bertemu dengannya.

Aku jadi teringat dengannya, kemarin dia datang menemuiku di café ini, berdiri di depan pintu dengan tatapan membunuhnya. Aku hanya bisa membatu di depan meja kasir dan mengabaikan pelanggan yang sibuk menyebut berbagai pesanannya. Masih diposisi yang sama, Guru Ahn hanya menghela nafasnya yang sangat terlihat marah dan emosi.

Setelah beberapa waktu saling memaku di temapt masing-masing, saat itu akhirnya kami duduk di sebuah kursi di pojok sebelah barat daya. Segelas cappuccino moca tersuguh di hadapan Guru Ahn – yang duduk menyandar di bangku minimalis dan tangannya tak lupa terlipat di dadanya – hal biasa yang dilakukannya saat marah atau… menahan marah mungkin ~

Aku duduk tegap, diam, tak berani bergerak atau sekedar untuk bernafas. Aku tidak memandang matanya, karena sangat menyeramkan, apalagi ketika dia menggigit kecil bibir bawahnya dan seperti ada umpatan kecil di bibirnya. Suasana itu membawaku kembali ke jaman Jonseon ketika rakyat biasa berbuat salah kepada sang raja, dan berakhir dengan penggalan di kepala.

“Tidak bisa kupercaya.” ,gumamnya membuang wajahnya. Akhirnya… si badan hello kitty tapi bersifat singa – membuka mulutnya.

“Hei Han Yu Raa! Apa kau memiliki kelainan alat indra? Atau otakmu bermasalah?” ,kini suara benar-benar terdengar menahan emosinya.

“Bagaimana bisa kau… mengabaikan surat teguran dan kembali bolos di hari berikutnya?”

“Apa kau itu gila? Atau kurang asupan udara diotakmu itu?!” ,sedikit berdecih di akhir kalimatnya.

“…” ,diam – apa yang bisa ku lakukan selain diam? Aku memang salah tapi enggan membuka mulut meminta maaf.

“Sekian banyak muridku, sekian lama aku menjadi wali kelas…” ,matanya memelotot, giginya bergeretak didalam mulutnya. “…hanya KAU!” ,dia menunjukku dengan pembungkus gula persegi panjang yang entah kenapa begitu cepat diraihnya. “hanya kau… yang berbuat hal sekejam ini denganku.”

“…”

Dia menghempas kertas itu seraya menghela nafas kesal, “Dan sekarang – seperti biasa – kau hanya diam” ,kembali menatapku. “Yang benar saja.”

Baiklah, suasana menjadi lebih menyeramkan dengan wajahnya yang seperti ingin melumatku hidup-hidup. “Aku… memiliki sesuatu yang ingin ku beli.” ,seriously? Hanya hal bodoh itu yang terfikir olehku… lalu apa selanjutnya? Han Yu Raa – kau bodoh!

“Sesuatu?” ,dia melepas tawa kesal. “Kau ingin membeli sesuatu? Dengan meninggalkan kelas, dan kau ingin membeli sesuatu?”

Aku hanya mengangguk. Bodoh!

“Haha” ,tawanya getir. “Sesuatu. Kenapa nasibku bisa seperti ini?” ,gumamnya entah untuk siapa. “Ya! Han Yu Raa… bahkan jika kau membeli berlian seisi bumi ini Ayahmu tidak akan jatuh miskin atau kehabisan sahamnya.” ,mencoba menstabilkan suaranya yang menderu. “Jangan bilang kau ingin membeli sesuatu itu dengan keringatmu sendiri.”

Kembali, aku mengangguk.

~ Really Han Yu Raa? Sekali kau berbohong, kau akan terus berbohong.

“Baiklah.” ,kini suaranya sedikit lebih tenang. “Apa itu?”

“Ya?”

“Apa itu sesuatu yang kau ingin beli dengan keringatmu?”

~ Berfikir Han Yu Raa…

“Hmmm…” ,aku memutar-mutar pandanganku. Mencari sesuatu yang bagus untuk jawabanku. “Bunga anggrek kepala burung.”

~ Kau harus memotong kepalamu setelah ini Han Yu Raa! Sekian banyak benda? Kenapa anggrek kepala burung yang kau sebut…!

“Anggrek kepala burung?” ,kembali mata Guru Ahn melebar. Baiklah, kali ini Guru Ahn tidak berlebihan saat mengekspresikan marahnya dengan jawaban gila yang keluar dari mulutku. “YAK! HAN YU RAA!”

Aku bergidik tegang, melihat kanan dan kiri, mendapati beberapa pengunjung yang menatap kami serta teman satu café ini yang juga terlihat terkejut karena jeritan Guru Ahn.

“Kau ini sedang mempermainkanku atau apa eoh?! Kau membodohiku dengan mengatakan ingin membeli sesuatu dengan keringatmu! Dan benda itu anggrek kepala burung! Aku bahkan nyaris di penggal kepala sekolah karena dirimu! Ayahmu yang seorang donator tidak bisa membuat dirimu di keluarkan begitu saja! Jika siswa lain mereka bahkan tidak akan sempat mengucapkan selamat tinggal dengan bangkunya! Dan KAU! Demi anggrek kepala burung, bolos sekolah selama 7 hari dalam satu bulan?!”

~ Sangat panjang dan memekakan telinga omelannya…

“Harusnya kau tidak menyia-nyiakan kesempatan ini! Kau memiliki masa depan baik tapi memilih menyiakannya demi ANGGREK KEPALA BURUNG!”

Guru Ahn memukul meja di akhir kalimatnya.

Hal wajar… hal bodoh itu sangat wajar membuatnya marah.

~ Beranikan dirimu untuk meminta maaf, Han Yu Raa! Hanya empat huruf “M-A-A-F’

“Ma…~”

“Lupakanlah.” ,seketika dia menjadi tenang lagi, memotong keinginanku meminta maaf. “Lagipula ini minggu terakhirku harus mengurusimu.”

eoh?” ,aku termanggu dengan ucapannya.

“Ya…~ aku di terima di sekolah baru. Sekolah elit standar internasional yang sangat terkenal di Korea.” ,terdengar suaranya sangat bangga.

~ Guru berkepribadian ganda.

“Jadi hari ini… aku terakhir mengingatkanmu agar kembali kesekolah besok. Aku berharap, kelak yang menjadi wali kelasmu tidak akan menderita karenamu, tidak akan terkena serangan jantung ataupun susah mendapatkan jodohnya.”

Jika hanya ingin mengucapkan perpisahan, kenapa harus berteriak dan mengintrogasi. Aku hanya menghela nafas, setidaknya aku tidak perlu mendengar suaranya lagi.

Guru Ahn mengakhiri pertemuan kami dengan memberikan banyak nasehatnya dan mengeluarkan kembali surat teguran dari dalam tasnya – untukku, lalu berlalu meninggalkanku.

Satu jam pertemuan laluku dengan Guru Ahn menjadi bayanganku kembali – mungkin karena aku yang tetap meninggalkan kelas hari ini. Selesai dengan beberapa pelanggan, aku mengusap keningku yang bahkan tidak berkeringat, menggembungkan pipi untuk membuang nafas penat.

Aku melirik kearah tas ranselku tergeletak.

~ Bahkan jika kubuka surat itu – cetakan – tulisan – kalimat – bahkan tanda bacanya tidak akan pernah berubah, jadi untuk apa aku membukanya?

Bertolak belakang dengan kata hatiku, aku mendekati tasku dan mengeluarkan surat yang masih terbukus rapi dengan amplop putih bercapkan lambang sekolahku. Sepersekian detik aku hanya menatapnya, tanpa minat untuk membukanya.

Tapi…

Lagi dan lagi – entah kenapa selalu seperti ini – aku membuka surat itu, berlawanan dengan kata hatiku.

Perlahan membuka lembarannya, memeriksa sedikit demi sedikit ejaan yang selalu sama. ‘SURAT TEGURAN’ menjadi hiasan awal disurat itu.

~ Benar… ini bukan jackpot! Lalu kenapa kau malah minat untuk membacanya?

Dan mataku masih setia menatap baris demi baris surat itu. Sedikit menghela nafas, bukan karena surat itu tapi karena respon tubuhku yang selalu berlawanan dengan hatiku. Mungkin karena otak kiriku yang lebih aktif dari otak kanan, aku bahkan tidak pernah mengikuti perasanan atau apalah itu yang selalu membisik.

“Kau berminat membaca surat teguran ketigamu?”

Siapa itu? Suara yang tidak asing, membuat tertegunanku pada kertas sial itu menghilang dan beralih menangkap sosok bersuara itu.

Pengacara Cha.

“Isinya tidak akan berubah.”

Dingin – dikala musim gugur – suaranya terdengar dingin melebihi musim salju yang jatuh di akhir desember.

“Hanya penasaran… apa ada yang berubah.” ,balasku.

“Seperti apa?”

“Hanya beberapa kalimat seperti ‘kau di keluarkan’ mungkin.”

“Sekarang kau menjadi lebih kecewa karena tidak tertulis disana bukan?”

“…”

“Aku tunggu kau dimeja, bawakan Ice Americcano Blanded jangan lupa.”

~ Wanita itu, bahkan jika tidak mengurusiku pasti dia akan tetap mendapatkan uang yang banyak.

Aku berjalan mendekati meja yang di tempati pengacara Cha, menaruh Ice Americcano Blanded di atas mejanya dan menarik kursi dan duduk dihadapannya.

Cantik.

Dia sangat terlihat cantik dan elegan disaat bersamaan. Setelan rok berwarna putih dipadu dengan kemeja biru langit yang tertutup balzernya membuatnya begitu cantik, serta jangan lupa kaki jenjangnya yang dilapisi high heels sekitar 5 centi yang berwarna senada. Sungguh… siapapun di dunia ini ingin memiliki penampilan seperti dirinya.

Dia meletakkan ponselnya yang sedari tadi dia mainkan, “Kenapa kau tidak sekolah?” ,tanyanya dengan nada dan wajah yang beradu datar.

~ Aku sendiri bingung kenapa aku memilih untuk berada disini dibanding berada disekolah dengan teman-temanku.

“Malas.” ,jawabku singkat.

“Apa ada masalah disekolah?”

“Tidak.”

“Lalu kau tanpa alasan membolos sekolah?”

Aku memutar mataku malas, bisaku tebak – ini akan menjadi percakapan panjang – seperti yang sudah-sudah.

“Kepala sekolahmu menelpon Ayahmu… dan memintanya datang hari ini, kau tau?”

“…”

“Walau setelah dia datang, kepala sekolah hanya akan membungkukkan badannya dan meminta maaf karena tidak bisa mengurusmu – Ayahmu tetap khawatir.”

~ Khawatir?

Aku menyeringai getir dan sinis.

“Dia menelponku, membuatku duduk berjam-jam untuk mendengar semua keluhan kepala sekolah yang disampaikan kepadanya dan memintaku untuk menemuimu. Itu artinya dia khawatir, bukan?”

“Lebih terdengar seperti tidak peduli, bagiku.”

“Ayahmu sibuk, kau tahu?”

Sibuk adalah kata pengganti untuk tidak peduli, hanya bahasa yang lebih indah di dengar saja. “Pria itu… menyuruhmu datang seperti ini – menemuiku – yang padahal tidak akan membuat perubahan sedikitpun. Sebenarnya apa yang dipikirkannya? Hanya membuang-buang waktu.”

“Pria itu – AYAHMU. Mungkin lebih baik didengar dari pada pria itu.” ,dia mengambil minumannya dan sedikit menyeruputnya. “Jika kau mengerti dengan prinsip buang-buang waktu, seharusnya kau berhenti membuatku datang seperti ini – menemuimu dan berdebat.”

“Kalau begitu pulanglah, besok aku akan kembali ke sekolah.” ,ujarku tanpa ingin melanjutkan perdebatan bodoh ini seraya bangkit dari kursiku.

“Aku jamin, bahkan kurang dari 2 minggu kau akan kembali membolos dan mendapat surat teguran lagi.”

Emosi – aku menjadi lebih emosi. Apa susahnya hanya meninggalkanku, bukankah semua orang mudah melakukannya?

Aku menajamkan mataku menatapnya yang masih setia terduduk dan dengan wajah angkuhnya itu tetap menyeruput minumannya. “Maka dari itu..! Seharusnya kepala sekolah sedikit memaki pria yang kau sebut ayahku itu karena kelakuan tidak sopanku! Atau setidaknya hukum aku karena membolos! Bukankah biasanya itu yang dilakukan kepala sekolah?!”

“…” ,dia diam, tapi tatapannya bukan karena keterkejutannya karena aku membentak dan menekan disetiap kalimat – tapi… lebih seperti mengatakan ‘keluarkan saja semua’.

“Oh iya, aku lupa.” ,aku terkekeh tapi hanya lebih menunjukkan emosiku. “Aku… adalah putri si pria yang kau sebut Ayahku itu – putri dari donatur disekolah itu. Bodohnya aku.” ,gumamku pelan diakhir kalimat.

Aku mengedarkan mataku, tetap dengan seringaian sinis di kedua sudut bibirku. Wajahku memanas, darah ku mengalir cepat sesuai dengan tempo detakan jantungku yang juga berpicu kencang, sedikit sakit.

“Bahkan mereka mengatakan semut di sekolah itupun tidak akan berani mendekatiku.” ,gumamku diakhir kata panjangku.

Wajah pengacara Cha menjadi lebih serius menatapku dengan intens, sedikit mendongakkan kepalanya karena aku masih setia berdiri. “Jadi karena itu kau bolos?”

“…”

“Karena kau ingin dihukum ketika melakukan kesalahan?”

“…”

“Kau ingin Ayahmu juga meminta maaf kepada sekolah karena kelakuanmu?”

“Pengacara Cha… Akhiri saja ini. Aku tidak ingin membahas ini lagi.”,ujarku yang berlalu meninggalkannya.

“Aku mengerti…”

“…” ,langkahku terhenti. Suaranya berubah menjadi lebih parau dan lembut. Sedikit memerat jantungku yang berdecit sakit, tapi aku tidak membalikkan badanku dan tetap ingin mendengar apa yang dia maksud dengan ‘mengerti’.

“…bahkan ketika semua manusia didunia ini ingin memiliki kekuasaan seperti yang kau terima – kau malah memilih untuk dimarahi dan dihukum.”

Aku membalikkan badanku.

~ Aku tidak bisa mengatakan tidak, bahkan jika hatiku mau. Tapi sepertinya itu yang menjadi alasanku sesungguhnya.

“Duduklah kembali, Yu Raa~aa. Aku belum selesai bicara denganmu.” ,senyuman cantiknya tersuguh diwajahnya dengan begitu manis.

Kembali berlawanan dengan hatiku yang menyuruh untuk meninggalkannya, aku malah kembali duduk dihadapannya. Bodoh! Kenapa aku bisa sebodoh ini… dia hanya mencari alasanku yang tidak mungkin kuungkapkan jika aku tidak emosi.

“Aku tau hubunganmu dengan Ayahmu tidak sebaik hubungan anak dan Ayah biasanya.” ,ujarnya yang kini sangat lembut. “Aku juga mengerti… bahwa kau merasa tidak nyaman dengan keadaanmu sekarang.”

“…”

“Aku mengerti… bahwa kau ingin kembali seperti dulu – dimarahi dan dihukum karena kelakuanmu.”

~ Ya… Kau benar – semuanya yang kau katakan benar. Jadi tolong cepat katakan yang ingin kau katakan, jangan terus mengulang hal yang baru saja aku juga ketahui. Ku mohon.

“Tapi sepertinya kau tidak akan mendapatkan hal yang bertentangan dengan hal yang seperti itu.”

Aku sangat jelas tau itu, bahkan sekarang aku juga khawatir dengan wali kelas yang akan menggantikan Guru Ahn. Sejujurnya aku juga merasa tidak nyaman ketika Guru Ahn bilang kalau dia berhenti – walaupun telingaku setidaknya tidak perlu mendengar ceramahannya – tapi hal itu yang kusuka darinya juga. Dia satu-satunya yang berani membentak, memarahi dan menghukumku untuk menulis surat permintaan maaf. Satu-satunya…

“Kau memilih tinggal sendiri, menjauhkan dirimu sendiri dari orang-orang yang mencoba peduli padamu. Aku bisa memaklumi itu, Yu Raa~aa.”

“…”

“Tapi…” ,dia menghela nafasnya terlihat ingin meringankan beban dipundaknya. “ketika kau menyiakan masa depanmu, bertingkah kekanakan seperti ini – apa aku juga harus memakluminya?”

~ Pertanyaanku sekarang adalah… kenapa kau peduli?

“Aku bahkan meyakinkan Tuan Han agar membiarkanmu tinggal sendiri demi kenyamananmu, bahkan ketika kau bilang kau tidak ingin penjaga atau seseorang untuk menemanimu. Atau ketika Ny. Jang mendekatkan diri untukmu dan kau menolaknya, aku tetap membelamu.”

~ Benar… tapi kenapa pengacara Cha?

“Aku hanya tidak ingin, semua yang ku biarkan sedikit demi sedikit menjadikanmu seperti ini. Menganggap dirimu dan masa depanmu tidak berarti. Jadi kumohon… setidaknya untuk yang satu ini… kau harus memikirkannya.”

“…”

“Bersekolahlah dengan baik dan masuk ke Universitas. Kau sangat pandai dan terampil, kenapa menyiakannya?”

“Lalu kau sendiri?” ,aku mulai bersuara. “Kenapa peduli?”

“Karena itu dirimu.” ,tidak butuh waktu lama dia menjawabnya, dan dengan suara yang begitu ringan. “Kalau itu bukan dirimu, maka aku tidak akan peduli. Karena dirimu sekarang dengan diriku dulu tidak jauh berbeda.”

~ tidak jauh berbeda?

~ diriku dan dirinya?

Aku mengingatnya, Pengacara Cha merupakan yatim piatu yang hidup di panti asuhan saat muda. Karena Kakekku – yang merupakan donatur di panti asuhannya – Pengacara Cha bisa berkuliah dan sekarang mengabdi kepada Ayahku.

“Aku hanya tidak ingin diistimewakan. Hanya biarkan aku menjadi diriku dengan kesalahanku yang harus aku juga menanggungnya. Hanya itu… yang kuinginkan. Dan aku akan kembali bersekolah bahkan ke universitas seperti katamu tadi.” ,ujarku.

Dia kembali tersenyum, memutar gelas Ice Americcanonya yang entah sejak kapan sudah mencair. “Ketika pertama kali aku bertemu denganmu, aku tidak terlalu menyukaimu.” ,katanya dengan suara yang begitu lirih.

Aku tertegun.

“Kau membanting pintu saat melihatku, karena aku yang memberitahumu bahwa kau adalah anak dari Tuan Han – pengusaha terkaya di Korea – setelah seminggu Ibumu meninggal. Tapi tugasku adalah membawamu menjadi keluarga Han dan aku tidak mengerti bagaimana caranya lagi.” ,dia menghela nafas.

“Tapi memang benar…” ,lanjutnya. “Bagaimana kau bisa menerimanya, bahkan setelah Ibumu meninggal dan akhirnya dengan mudahnya Ayahmu ingin menjadikanmu keluarga Han?”

Dia tertawa, pandangannya tetap tertuju pada gelasnya.

“Kau sangat keras kepala bahkan saat pertama kali kita bertemu, aku hampir saja menyerah saat itu – saat kau mengatakan bahwa orang sepertiku adalah orang yang bisa menghancurkanmu dalam sedetik – dengan sangat mudah. Dan kupikir itu benar…”

~ Ya… hari itu… saat semua dimulai… bahkan aku tidak begitu mengingatnya.

“…saat aku berdiri hanya tertegun melihat bantingan pintumu, kupikir itu adalah saat terakhir aku mendapatkannya darimu.” ,dia tersenyum, aku juga. Bukan karena lucu, tapi mengingat itu seakan aku tau betapa kekanakannya diriku dulu.

“Nan Cho – berdiri di belakangku – mendengarkan semua umpatan yang kau ucapkan kepadaku.”

~ Kim Nan Cho…

Dia menyebutnya… menyebut nama orang yang paling ku sayang di dunia ini… Kim Nan Cho…

“Dia bilang… ‘Yu Raa bukan gadis manis jika yang diharapkan Tuan Han seperti itu. Dia gadis yang bahkan lebih kuat pendiriannya dari pada tembok besar China. Dia tidak menangis ketika kakinya patah, ketika temannya memukulinya atau bahkan saat Ibunya dimakamkan.’ Dan dia benar… sangat benar.”

“Dia memberiku saran… ‘Jika kau ingin memenangkan hati Yu Raa, maka kau harus menjadi lebih dingin darinya. Berdebat dengannya – membuat telinganya panas karena suaramu. Jika dia tidak bisa meluapkan isi hatinya, hanya buat dia sedikit emosi maka kau akan mendapatkannya – alasan yang akan merobohkan tembok besar pendiriannya.’ Dan sekali lagi… dia benar.”

~ Dia jauh lebih mengenal diriku dibanding dengan diriku sendiri.

“Kau mengikuti sarannya dengan baik.” ,ujarku singkat.

“Iya…” ,suaranya serak.

Aku mengedarkan pandanganku ke matanya, matanya memerah.

“Bahkan semua yang dibicarakannya tentangmu adalah kebenaran yang siapapun di dunia ini tidak pernah tahu bukan?”

“…” ~ Kenapa kau menangis?

“Terlebih ketika ku tau, bahwa tembok besarmu itu adalah Kim Nan Cho itu sendiri.”

Mataku memanas, seketika deruan air mengalir di mataku memaksa ingin keluar walau masih bisa ku tahan.

“Sama sepertiku dulu… ada seseorang seperti Nan Cho yang menjadi tembok untukmu – aku juga pernah memiliki hal yang seperti itu, kau tau?”

Aku memandang matanya, kupikir – tidak jauh berbeda – yang dimaksudnya hanya sebatas kesepian. Tapi… lebih dari itu hal yang dibilang ‘tidak jauh berbeda’ olehnya itu adalah kesamaan hati kami. Terlalu melabuhkan hati kami kepada seseorang, dan setelah kepergian orang itu… hati kami menjadi terombang-ambing.

~ Air mata sialan! Kenapa kalian tidak bisa diam dan tetap disana saja.

Aku mengedarkan pandanganku, mataku semakin memburam karena air mata bodoh ini yang terus memaksa keluar.

“Namanya Jung Won – Kim Jung Won – Dia tinggi, manis, berhidung mancung, sempurna sekali.” ,air matanya menderu membasahi pipinya. “Kami bertemu saat di sekolah menengah atas, aku mendapat beasiswa dari Kakekmu di Jo Eun School. Kami satu kelas – dan dia duduk di belakang ku.”

Menghela nafasnya sejenak, masih ada air mata yang mengalir.

“Entah bagaimana—”

“Hentikan.” ,Aku memutuskan kata-katanya. “Jika hanya menyakitkan untuk si pendengar dan si pembicara, maka hentikan. Jangan memaksakan dirimu.”

~ Aku tau – sangat tau – bahwa jika kau bercerita, maka bukan hanya aku yang akan sakit… tapi itu juga kau. Karena seperti katamu ‘kita tidak jauh berbeda’.

Dia tersenyum, menghapus air matanya, menstabilkan suaranya kembali. Begitupun aku.

“Kalau begitu…” ,mulainya kembali. “Tinggallah bersamaku Yu Raa~aa.”

Aku mengangkat kepalaku, ‘apa dia bercanda?’ tanyaku dalam hati.

“Aku akan menjadi wali hukummu setidaknya sampai kau bisa masuk ke Universitas. Kau bisa mendapatkan hal yang kau inginkan – dimarahi dan dihukum – sesuai keinginanmu.”

“…” ~ Bagaimana caranya?

“Kau pindahlah kesekolah Jo Eun School, dan belajar disana sampai lulus.”

“Kau melupakan sesuatu tentang Yoona?” ,tanyaku.

“Tidak akan ada yang tau tentang hubungan persaudaraan kalian. Bahkan bagian administrasi pun tidak akan tau bahwa kalian satu Ayah, karena aku yang akan tercantum sebagai walimu.”

Sepersekian detik, aku lupa bahwa Ayahku jelmaan dewa yang bisa mengatur alur kehidupan.

“Ayahmu juga sudah setuju dengan hal itu.” ,tambahnya.

“…”

“Yu Raa~aa.. . aku melakukan ini untumu, kau harus mengerti bahwa—”

“Baiklah.” ,putusku. Aku berdiri dan beranjak meninggalkan pengacara Cha yang beberapa detik mematung.

“Apa? Baiklah?” ,tanyanya dengan nada terkejut yang sedikit berlebihan.

“Ya.”

“Benarkah? Kau sedang tidak mempermainkanku kan? Biasanya aku harus berdebat panjang untuk menerima kata ‘Baiklah’ darimu.”

Aku memicingkan mataku menatapnya, entah kenapa – wanita bodoh ini bisa sekali waktu menunjukkan kesedihannya dan keluguannya di waktu yang singkat. Sedikit lucu, tapi banyak menyebalkannya.

“Hanya agar kau cepat pergi dari sini.” ,gumamku yang masih jelas terdengar olehnya.

“Iiissh…” ,seringaiannya terlihat manis. “Jadi kapan kau akan pindah ke apartemen ku?”

“…”

“Kau bilang ‘baiklah’, itu juga harus termasuk dengan pindah ke apartemenku, kau tau?”

“Setelah selesai pindah sekolah, maka aku akan pindah ke apartemenmu. Sekarang pulanglah, aku sibuk.”

Aku kembali meninggalkannya.

Dia tersenyum, sangat riang – berlebihan. “Jangan lupa kau besok harus sekolah, kau dengar!” ,teriakannya yang tak ku indahkan.

Dia pun berlalu meninggalkan café itu, senyumnya semakin melebar. Dia sangat senang bisa menang dariku, dari keegoisanku, yang entah kenapa bisa reda karena dirinya.

Aku menatapnya – menghela nafas – dan sedikit tertawa mengejek ke arahnya yang tentu saja tidak disadarinya.

.

.

.

Kini aku berada di stasiun kereta bawah tanah, setelah selesai bekerja di pukul 7 malam, aku memilih melangkahkan kakiku kesini.

Aku pun tidak tau, sekian banyak tempat – kenapa stasiun yang selalu menjadi tempatku untuk merenung?

~ Ramai…

Beberapa hal mengganjal pikiranku, lebih tepatnya kehadiran dan pembicaraanku dengan pengacara Cha tadi yang menjadi pikiranku.

Kim Nan Cho – pembicaraan tentangnya yang menjadi pikiran untukku saat ini.

Mencoba menahan pertanyaan seputar kenapa Tuhan bisa mengambilnya dariku? Atau membiarkanku sekedar mengenalnya?

Kenapa bukan aku yang diposisinya Nan Cho, sedangkan Nan Cho yang terduduk disini mengingatku?

Atau kenapa Tuhan selalu bermain dengan takdir diriku? Dan kenapa keadaan tidak berubah, hanya berputar disekitar pria bernama Kim Nan Cho itu?

Bahkan setelah 2 tahun kepergiannya, Kim Nan Cho – pria brengsek – yang sangat aku cintai, meninggalkanku, tetap melekat hebat didalam kehidupanku – diriku – bahkan raga dan jiwa.

~ Entah apa rencana Tuhan.

Aku kembali kepada diriku setelah melambung jauh kedalam pikiranku, mulai mengedarkan pandangan ke kanan untuk melihat ramainya orang-orang yang sedang berdiri menunggu datangnya kereta.

Lalu berbalik kearah berlawan, kembali mengedarkan pandangan. Tidak ada yang kucari… hanya menarik diriku agar tidak terlalu berlarut tenggelam jauh di pikiran bodoh tentang Kim Nan Cho.

Sampai pandangan mataku tertuju kearah timur, pria yang sangat tidak asing – berjarak sekitar 17 meter dariku – duduk di bangku panjang sepertiku.

~ Pria di pemakaman.

Aku tersenyum, membalikkan badanku menghadapnya yang duduk dengan kepala tertunduk tanpa mengindahkan orang-orang yang berlalu lalang di depannya.

Aku mulai menikmati pemandanganku, memposisikan kaki kananku didepan dadaku sedangkan kaki kananku tetap menyentuh lantai. Siku tanganku yang bertumpang kepada lutut kananku, dan daguku yang bertopang pada tangan kananku.

Tatapannya begitu sedih, bahkan didalam ketertundukannya. Betapa menyayatnya…

Dan selama sejam aku tetap pada posisiku, bahkan ketika 3 kereta sudah lewat yang tetap takku indahkan kehadirannya hanya untuk sekedar melihatnya lebih lama lagi.

~ Bahkan ketika aku merasa ketidakadilan dalam hidup… Tuhan menunjukkan sebuah cahaya untuk mengalihkannya.

~ Bolehkah aku terus mengikuti cahaya itu?

~ Atau hanya melepaskannya?

-TBC-

Hai,,, Hai,,,

Kali ini aku nyoba buat post FF lawas yang pernah ku tulis kira-kira setahun yang lalu tapi belum pernah ku post karena idenya hilang begitu aja. Dan kali ini aku bermaksud buat ngelanjutin FF ini karena akhirnya ide lama itu muncul kembali… *HAHAHA

Gimana menurut kalian?

Bagus gak?

Kalo bagus, aku terus lanjut post FF ini..

Boleh kok kalo mau ngasih-ngasih saran juga, malah author syeneng syekali. Jujur,, author perlu masukan-masukan dari para readers.

Jadi kira-kira seminggu Author post dua ff dengan dua judul berbeda. Semoga kuat yaaaa… karena nulis itu butuh mood jadi author beerusaha buat mood author bagus terus.

Oh iya satu lagi, karena bias author itu Baekhyun, jadi mungkin banyak ff author yang main castnya adalah Baekhyun. Tapi nanti author coba buat ff yang main castnya member EXO yang lain, setelah selesai dua ff author ini dlu yaaa. ~hehehe…

Iklan

3 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] In Our Lovely Destiny (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s