[EXOFFI FREELANCE] Love In Time (Chapter 1)

LIT.jpg

Title        : Love In Time [Chapter 1]

Author        : Ariana Kim

Main Cast    : Kim Ara

 Kim Jongin

 Oh Sehun

 Park Hana

Genre        : Family, Romance, Angst, School Life

Rating        : PG

Length        : Chaptered

Summary    : Hal yang paling mengesalkan bagi Jongin adalah menjadi saudara kembar Ara. Bagaimana bisa mereka yang tidak mirip satu sama lain bisa menjadi saudara kembar?Berawal dari harapan aneh yang Jongin buat, hidup mereka menjadi semakin rumit saja.

Disclaimer    : FF ini murni hasil pemikiranku. Ide cerita berasal dari kehidupan seseorang yang aku kenal dengan penyesuaian pada semua isi cerita. Apabila ada kesamaan tokoh dan jalan cerita mungkin itu hanya ketidaksengajaan. Don’t bash and don’t copast. Hargai kerja keras penulis ☺ FF ini pernah dipost di blog pribadi aku ffsekaiexo88 ☺

HAPPY READING ☺

***

“Aku tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentangku. Entah itu baik atau buruk, yang terpenting aku hidup untuk diriku sendiri..”  – Kim Ara.

“Aku membenci hidupku. Benar-benar membencinya.. Aku berharap menjadi orang lain jika aku dilahirkan kembali.”  – Kim Jongin.

Chapter 1

Untuk kesekian kalinya Ara menghembuskan nafas berat. Sudah hampir lima menit ia  berdiri di depan gerbang sekolahnya. Ini adalah hari pertama di kelas dua dan ia sangat tidak menyukainya. Setelah libur panjang, pasti kebanyakan temannya akan menceritakan tentang liburan mereka yang menyenangkan bersama dengan keluarga mereka yang pastinya membuat Ara harus menahan diri untuk tidak beranjak dari tempat itu. Bukan karena ia suka menguping. Tidak. Ara bukan orang yang seperti itu. Ia hanya-seorang-gadis-yang-sangat-tidak-menyukai-sesuatu-yang-berbau-kebahagiaan!! Entah kenapa ia membencinya.

Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Ara. Ia mengumpat pelan sambil matanya mengikuti mobil hitam yang melaju memasuki area sekolahnya. Menghembuskan nafas lagi, sepertinya hidupnya yang membosankan akan kembali lagi. Ia buru-buru berjalan setelah melihat arloji yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya.

Masih sama seperti sebelumnya, sekolah ini tak ada yang berubah satupun. Koridor masih terus ramai dengan siswa-siswa yang bergerombol di kanan – kirinya. Ara memasang earphone pada kedua telinganya sambil terus berjalan di sepanjang koridor. Ia berjalan dengan langkah tegas, sambil terus memasang wajahnya yang seakan tak menaruh minat pada lingkungan sekitarnya. Jika saja neneknya tidak termakan omongan orang itu, ia pasti tidak akan bersekolah disini. Baginya, home schooling lebih nyaman, tenang dan berjalan sesuai rencana.

Ara masuk ke sebuah ruang kelas setelah melihat namanya tertulis di dalam daftar yang tertempel di pintu kelas. Ia memilih tempat duduk nomor dua dari belakang, cukup untuk membuatnya tidak menjadi pusat perhatian. Disebelahnya telah duduk seorang gadis berambut cokelat panjang. Ia memandangi Ara dengan matanya yang membulat mengetahui ada seseorang yang memilih duduk disampingnya. Ara hanya mengabaikannya dan mendudukkan dirinya disamping gadis itu.

“Hai..” sapa gadis itu ramah yang membuat Ara menolehkan kepalanya. Ia hanya mengangguk dengan kikuk dan mengeluarkan ponselnya.

Gadis itu sepertinya tidak puas dengan sikap Ara yang acuh padanya. Lantas ia menyodorkan tangannya sambil berkata, “Aku Park Hana. Senang bertemu denganmu.”

Lagi-lagi Ara menoleh, dalam hati ia menyesal karena memilih duduk di samping gadis yang sepertinya akan terus-terusan mengganggunya sepanjang tahun kedepan. Semoga saja tidak.

“Owh ya. Aku juga.” Ucapnya dengan kikuk. Ia tidak terbiasa berkomunikasi dengan orang lain selain keluarganya. Terlebih lagi, ia hanya terkurung di dalam rumahnya yang super besar itu bersama dengan lelaki super menyebalkan sepanjang liburan berlangsung.

”Aku sering melihatmu saat kelas satu. Kau yang mendapatkan peringkat pertama semester kemarin, ‘kan? Ugh, sepertinya ini tahun keberuntunganku bisa duduk sebangku dengan murid terpandai.” Kata gadis yang bernama Hana itu panjang lebar. Ara hanya tersenyum tipis lalu kembali fokus pada ponselnya.

Ada satu pesan masuk. Cepat-cepat Ara membukanya.

From : Jong Jelek

Yak!! Kenapa kau tidak membangunkanku? Awas saja jika aku bertemu denganmu nanti!!

Ara menghela nafas setelah membacanya. Ia mematikan ponselnya dan tak berniat membalas pesan itu sama sekali. Lelaki itu terus saja mengganggunya dan ia tidak menyukainya. Kenapa pula ia harus disalahkan untuk semua hal yang berkaitan dengan dirinya? Guru sudah memasuki kelas dan Ara dengan cepat memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.

***

Waktu berlalu dengan lambat dan terasa membosankan bagi Ara. Ia menguap beberapa kali, tak berniat mendengarkan guru yang sedang menjelaskan materi yang entahlah apa itu namanya. Ia menoleh ke samping, pada Hana yang sibuk mendengarkan pelajaran. Sepertinya gadis itu semangat sekali, berbanding terbalik dengan Ara.

Tak beberapa lama pelajaran yang membosankan itu berakhir dan guru pun keluar dari kelas. Semua siswa langsung bersorak karena telah terbebas dari pelajaran yang sangat membosankan. Ara langsung mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan mulai tenggelam ke dalamnya. Ia tak menyadari ada yang menghampirinya.

“Kau Kim Ara, ‘kan?”

Ara langsung menoleh begitu mendengar namanya disebut. Didepannya berdiri tiga orang gadis yang seusia dengannya. Ara pernah melihat mereka sebelumnya, tentu saja karena mereka satu kelas sekarang. Sayangnya Ara tidak tertarik untuk berkenalan dengan mereka. Lihat ‘kan apa yang terjadi pada Hana. Ara bukanlah gadis yang suka bersosialisasi. Ia lebih memilih tidak terlihat agar bisa menyelesaikan sekolahnya dengan tenang setelah itu ia bisa pergi ke Kanada, tempat yang paling ia impikan.

“Ugh, ternyata kau sombong juga.” Gadis itu kembali berkata saat Ara hanya mengabaikannya. Merasa kesal, gadis itu lantas menggebrak meja dengan sedikit keras membuat seisi kelas langsung tertuju pada mereka.

“Aku tidak tahu apakah kau memang pintar atau kau menyuap semua guru dengan uang yang kau punya. Aku tidak peduli itu. Tapi yang terpenting, aku tidak suka kau mengambil posisiku!!” Gadis itu berkata dengan cepat, tajam dan pandangannya menusuk tepat pada kedua mata Ara.

“Heol~ apa yang dia lakukan?”

Seisi kelas langsung berbisik-bisik menyaksikan mereka. Bahkan ada yang mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian yang terbilang langka dan sepertinya akan terjadi perang setelah ini. Namun apa yang mereka harapkan tidak terjadi. Ara masih saja diam menatap gadis itu dengan ekspresinya yang datar, sama sekali tidak terganggu dengan apa yang gadis itu lakukan padanya.

“Yak!! Aku bicara padamu, bodoh!!”

Gadis itu hampir saja melayangkan tangannya untuk memukul Ara namun dengan cepat Ara menahannya, membuat seisi kelas langsung menahan napas mereka. Masih memegangi tangan gadis itu, Ara bangkit berdiri dan menatap gadis itu yang tingginya sepuluh senti lebih pendek darinya.

“Aku tidak tahu kenapa kau melakukan ini padaku.” Ara mulai membuka suaranya. Gadis itu mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Ara namun sangat sulit rasanya. “Jika ini karena aku berada di peringkat pertama, tindakanmu ini salah besar. Aku tidak merasa merebut posisimu apalagi memberi uang pada guru-guru itu. Aku tidak mau mengorbankan banyak hal karena aku bisa melakukan apapun dengan otakku. Kau harusnya berkaca, kenapa peringkatmu bisa turun. Mungkin karena kau terlalu banyak mencampuri urusan orang lain dan sok tahu!!”

DAMN!!

Gadis itu hanya diam. Tak bisa berkutik.

Perlahan Ara melepaskan tangan gadis itu dan ia melangkah keluar dari kelas. Sial. Ini hari pertama yang benar-benar tidak ia harapkan. Menjadi peringkat pertama memang menyusahkan. Bagaimana bisa ia menjalani kehidupan sekolahnya dengan tenang setelah kejadian barusan? Ia pasti akan dicap yang macam-macam oleh teman-temannya dan mereka akan membicarakan semua keburukan Ara. Tidak!! Itu seperti mimpi buruk!

Karena berjalan terlalu cepat, ia tidak sengaja menabrak seseorang saat berbelok. Dengan cepat Ara menghindar dan hendak berlalu saat ia merasakan ada tangan yang menahan bahunya.

“Aku mencarimu sejak tadi.” Orang itu berkata. Sebuah suara yang berat, tegas dan mengintimidasi. Ara menoleh, matanya langsung bertatapan pada pemilik wajah tegas dan menyebalkan.

Kim Jongin.

“Wae?” Kedua alis Ara saling bertaut, menunggu lelaki itu menjawab pertanyaannya.

“Kau tidak membaca pesanku tadi? Ah, kau benar-benar menyebalkan.” Jongin mulai kesal.

Ara menghembuskan nafasnya. Saudaranya ini benar-benar tidak bisa membaca situasi. “Aku sudah membacanya. Lalu apa yang harus aku lakukan? Sudahlah, Jong. Aku sedang tidak mood saat ini. Kita bicarakan nanti di rumah.” katanya lalu dengan cepat melangkah menjauh, meninggalkan Jongin yang menatapnya dengan kesal. Bagi Jongin ini bukanlah hal biasa lagi. Ara memang sangat aneh dan menyebalkan.

***

“Kau sudah melihatnya?”

Beberapa siswa yang duduk bergerombol di tepi lapangan basket saling berbisik-bisik. Salah seorang dari mereka mengeluarkan ponselnya dan beberapa yang lainnya mulai mendekatkan diri mereka dengan mata yang tertuju pada ponsel itu. Sambil melihat-entah-apa-yang-mereka-lihat, mereka tertawa-tawa. Sepertinya hal benar-benar lucu. Tiga orang siswa berjalan mendekat. Melihat teman-temannya tertawa seperti itu membuat ketiganya penasaran dan langsung mendekati mereka.

“Hei, apa yang kalian lihat? Sepertinya lucu sekali.”

Salah seorang dari ketiga orang itu membuka suaranya. Dia adalah lelaki berusia sekitar tujuh belas tahun dengan tubuh yang menjulang tinggi dan kulitnya yang seputih susu. Oh, dan jangan lupakan wajahnya yang sangat mempesona itu. Setiap gadis pasti akan langsung terpesona padanya.

“Oh, kalian harus melihat ini.”

“Memangnya apa?” Lelaki kedua, Jongin, mulai penasaran.

“Lihatlah. Tadi ada kejadian seru di kelasku dan untungnya aku sempat merekamnya.”

Jongin segera merebut ponsel itu dan langsung melihatnya. Dalam video rekaman itu ia melihat beberapa murid perempuan yang berkerumun di salah satu meja, seperti sedang berbicara pada gadis yang duduk di bangku itu. Jongin memicingkan matanya. Tidak salah lagi, itu adalah Ara, saudaranya. Dan gadis yang tangannya dicengkeram dengan erat oleh Ara, ia mengenalnya.

Sehun, lelaki berkulit putih susu tadi merebut ponsel itu dari tangan Jongin dan langsung melihatnya bersama dengan Yian. Mereka tertawa melihat hal yang sangat lucu bagi mereka. Ini adalah hal yang langka yang tidak terjadi setiap tahunnya dan pastinya kedua gadis itu masih berpotensi untuk mengulangi hal sama.

“Kau bilang ini terjadi di kelasmu?” tanya Yian, memberikan kembali ponsel itu pada pemiliknya.

“Iya. Aku tahu pasti bagaimana perasaan Jihyun setelah posisinya selama ini  direbut begitu saja oleh gadis itu. Tapi yang membuatku terkejut adalah, gadis itu masih tetap tenang dalam situasi seperti itu bahkan berhasil membalikkan keadaan. Dia benar-benar mengerikan.” Komentar lelaki itu, Park Chanyeol.

“Siapa gadis itu? Aku seperti tidak asing dengannya.” Tanya Sehun dengan wajah penasaran.

“Namanya Kim Ara. Dia tidak terlalu menonjol namun entah kenapa berhasil menduduki peringkat pertama di sekolah ini. Bukankah ini hal yang aneh?” Chanyeol masih saja memberikan pendapatnya mengenai Ara. Ia masih terus saja mengoceh membuat Jongin kesal.

“Apanya yang aneh. Dia pasti belajar mati-matian agar bisa meraih posisi itu. Berpikirlah sedikit lebih masuk akal.” Kata Jongin yang secara tidak langsung membela Ara. Ia memang tidak menyukai Ara, tapi bagaimanapun, ia lebih tidak suka jika saudaranya itu dijelekkan-jelakkan oleh orang lain.

“Hei, ada kabar yang beredar jika keluarga Ara itu sangat kaya. Dia pasti menggunakan uang agar bisa mendapatkan posisi itu. Bukankah banyak yang seperti itu?” Baekhyun mulai mengeluarkan pendapatnya. Ia sudah banyak mendengar jika yang berkuasa pasti akan dengan mudah mendapatkan apapun yang mereka inginkan.

“Sudahlah. Lebih baik kita mulai saja latihannya sebelum Choi Songsaenim datang.” Yian mencoba melerai. Tidak akan ada habisnya jika mereka membahas masalah ini terus menerus. Lagipula mereka tidak terlihat dalam masalah itu dan sebaiknya jangan melibat diri. Itu adalah urusan gadis-gadis yang kurang kerjaan yang suka mencari sensasi.

***

Setelah membersihkan dirinya dan berganti pakaian, Jongin langsung mencari Ara di kamarnya. Ia dengan cepat menemukan gadis itu tengah tiduran di ranjangnya sambil membaca novel. Ara heran melihat Jongin yang tidak biasanya masuk ke dalam kamarnya dan melihatnya berjalan mendekatinya.

“Kudengar kau membuat masalah di kelas tadi siang.” Jongin membuka suara, membuat Ara menutup novelnya dan mengubah posisinya menjadi duduk.

“Aku tidak melakukan apapun. Hanya membela diri.” Jawabnya pasti.

Jongin menatap gadis itu tajam. Ia masih tidak mengerti dengan pemikiran saudaranya itu. “Bukankah sudah kukatakan jika kau tidak ingin semua orang mengetahui hubungan kita, lebih baik jaga sikapmu di sekolah.” Suaranya mulai naik beberapa oktaf.

“Bukannya kau yang tidak ingin semua orang tahu jika aku adalah saudara kembarmu? Lagipula aku memang tidak ingin bersekolah disana. Jika kau tidak merengek pada nenek, ia pasti tidak akan memasukkanku ke sekolah yang sama denganmu. Kau pikir mudah bagiku untuk bisa beradaptasi disana?”

Ara mulai kehabisan kesabarannya. Ia sudah hampir melupakan kejadian itu dan kenapa Jongin malah membahasnya lagi. Jongin benar-benar menyebalkan. Lagipula kenapa ia harus mencampuri urusan Ara?

“Itu karena kau adalah orang yang egois. Kepribadianmu yang introvert itulah yang membuatmu tidak memiliki satupun teman di sekolah. Cobalah untuk membuka dirimu dan biarkan dirimu merasakan kehidupan layaknya remaja normal. Aku kasihan melihatmu yang terus-terusan berjalan seorang diri di koridor.”

Ucapan Jongin barusan jelas membuat Ara langsung terdiam. Apa Jongin tidak tahu jika yang dikatakannya itu sukses menyinggung perasaan Ara? Jongin tidak tahu apa-apa tentangnya. Ia hanya tidak menyukai fakta bahwa Ara adalah saudara kembarnya dan harus tinggal dengannya bertiga bersama Nenek mereka. Memangnya siapa yang mau hidup seperti itu? Ara juga membenci dirinya. Sangat membenci dirinya. Jongin hanya tidak tahu dan tidak mau tahu. Ia hanya ingin tidak terlibat masalah dengan Ara agar hidupnya bisa tenang. Karena sejak dulu, semua hal berkaitan dengan Ara pasti akan mengacaukan hidup Jongin. Termasuk mendiang Ibunya yang lebih menyayangi Ara dibanding dirinya walau mereka saudara kembar.

“Aku tidak butuh ceramahmu. Keluarlah jika tidak ada yang ingin kau katakan.” Kata Ara dingin. Ia melangkah menuju pintu dan membukanya, mempersilahkan Jongin untuk keluar.

“Oh ya, lupakan kejadian tadi siang. Dan jangan ganggu Jihyun lagi.” Ucap Jongin sebelum dirinya keluar dari kamar Ara.

Ara menutup pintu dengan keras hingga menghasilkan bunyi dentuman yang mengisyaratkan siapa saja bahwa dirinya sedang marah. Apa ia tidak salah dengar? Jongin bilang untuk melupakan kejadian tadi siang? Tidak perlu disuruh saja Ara memang sudah mau melupakannya. Ia bukan orang yang mau terlibat dengan masalah apapun itu. Dan lagi, apa yang Jongin katakan setelahnya? Jangan mengganggu Jihyun? Oh, ayolah. Bukannya terbalik? Jihyun yang lebih dulu mengganggunya. Tapi, kenapa Jongin mengetahui nama gadis sialan itu?

Sudahlah.

Ara tidak mau memikirkan banyak hal lagi. Ia sudah cukup pusing dengan semua hal yang mengganggu hidupnya selama ini dan ia tidak mau ada hal lain yang menambah bebannya. Yang perlu ia lakukan besok adalah tetap tenang, diam dan jangan tersulut emosi. Oh, yang terakhir itu Ara tidak bisa menjaminnya. Ia tipe orang yang pemarah dan pastinya hal itu sangat sulit. Lebih baik ia minta pada Nenek untuk pindah sekolah saja. Sepertinya itu ide yang bagus.

***

Keesokan harinya Ara tidak menemukan Jongin di rumah. Mungkin lelaki menyebalkan itu sudah berangkat duluan. Nenek tidak berkomentar apa-apa saat Ara terus-terusan memasang wajah masamnya selama acara sarapan berlangsung. Itu sudah menjadi kebiasaannya dari dulu sejak kedua anak kembar itu tinggal di rumahnya. Sifat mereka berdua yang keras itulah yang menyebabkan Nenek tidak mau ikut campur dalam urusan mereka. Selagi mereka masih dalam garis yang wajar, ia hanya akan diam dan terus mengawasi.

Bukan hal yang mudah membesarkan kedua anak itu. Jongin dan Ara memiliki sifat yang keras kepala dan egois. Mereka berdua tentu saja mewarisi sifat kedua orang tuanya. Jika saja kedua orang tua mereka tidak egois, mungkin kedua anak itu masih bisa merasakan keluarga yang utuh. Kadang Nenek kasihan melihat mereka yang harus hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua mereka. Itulah mengapa Nenek akan selalu memberikan apa yang mereka minta asalkan mereka bisa hidup bahagia. Mungkin itu hal yang salah. Tapi apa yang bisa dilakukan seorang tua yang bahkan untuk mengurusi dirinya sendiri saja susah?

Setelah menyelesaikan sarapannya, Ara langsung mengambil tasnya dan tanpa repot-repot berpamitan ia keluar begitu saja. Di depan sudah ada sopir pribadi yang siap mengantarnya ke sekolah. Nenek tidak pernah mengijinkan Ara keluar dari rumah tanpa didampingi sopir pribadi. Entah apa alasannya tapi justru hal itu semakin membuat Ara merasa tidak betah jika berada di luar terlalu lama. ia sudah terbiasa hidup nyaman dalam pengawasan Neneknya dan tidak berniat untuk melangkahkan kakinya keluar lebih jauh. Ia tidak mau keluar dari zona nyamannya.

Perjalanan dari rumahnya menuju ke sekolah membutuhkan waktu sekitar lima belas menit, itupun jika tidak nyaman. Untungnya sopir pribadi Ara cukup mahir dengan melewati jalan-jalan yang bebas macet. Ara jadi tidak perlu duduk terlalu lama di dalam. Setelah sampai, ia keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sopir itu sepertinya sudah paham betul dengan sifat Ara, ia dengan cepat mengemudikan mobilnya menjauh dari area sekolah.

Tinggallah Ara seorang diri berdiri di depan gerbang sekolahnya. Selalu seperti ini. Sejak dulu, entah kenapa merasa ragu untuk melangkahkan kakinya memasuki area sekolahnya. Seperti ada semacam ketakutan tersendiri. Tapi Ara sendiri tidak tahu pasti apa alasannya. Hanya saja, hati kecilnya mengatakan ia tidak suka berada di tempat seperti itu.

“Hai, Ara.”

Suara seseorang langsung mengagetkan Ara. Ia berbalik dan menemukan Hana berdiri di belakangnya dengan senyum cerah yang menghiasi wajahnya yang cukup cantik. Ara cukup terkejut mengingat ia tidak memiliki satupun teman di sekolah yang luas ini. Ia hanya tidak ingin berteman dengan siapapun.

“Oh, hai juga.” Jawabnya kikuk. Ara tidak terbiasa dengan hal seperti ini.

“Kenapa tidak masuk? Udaranya sangat dingin pagi ini.” Kata Hana sambil merapatkan coat panjangnya dan mulai berjalan. Ara melihatnya dengan tatapannya yang penuh selidik. “Hei, kenapa diam saja? Kau tidak mau masuk?” sambungnya saat Ara masih saja terdiam di tempatnya.

“Oh, iya.”

Akhirnya Ara pun mengikuti Hana dengan berjalan di belakangnya. Sepanjang jalan bisa Ara rasakan beberapa pasang mata yang tertuju padanya. Mungkin ini karena efek kejadian kemarin. Tapi, bukankah Ara berniat untuk melupakannya dan mengabaikan semuanya? Entah kenapa rasanya tetap tidak enak.

“Sepertinya semua orang memperhatikanmu.” Hana memperlambat langkahnya agar ia bisa sejajar dengan Ara. Ia berbicara setengah berbisik agar tidak ada orang lain yang mendengarnya selain Ara.

“Biarkan saja. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka lihat.” Ucap Ara cepat. Lantas ia mempercepat langkahnya mendahului Hana masuk ke dalam kelas.

Bahkan di dalam kelaspun, semua mata masih saja tertuju padanya. Mereka menatap Ara penuh dengan rasa penasaran. Ara mencoba mengabaikannya. Ia membuka tasnya dan mengambil asal salah satu buku. Lalu ia pun mulai berkutat dengan beberapa soal yang ada di dalamnya, mencoba menenggelamkan dirinya dari keadaan yang menghimpitnya.

***

“Ara, kau tidak mau ke kantin?” Hana bertanya pada Ara saat gadis itu masih saja berkutat dengan bukunya. Bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu dan Ara seolah tidak mendengarnya.

Mengalihkan tatapannya dari buku, Ara menoleh pada Hana dan menggeleng pelan. “Aku tidak lapar.” Jawabnya singkat dan kembali memfokuskan dirinya pada bukunya.

Hana hanya menghembuskan nafas perlahan. Ia sudah mencoba beberapa kali untuk akrab dengan Ara tapi rasanya begitu sulit. Gadis itu seperti memasang pagar yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Hana jadi tidak mengerti, kenapa ada gadis seperti itu? Bagi Hana Ara adalah gadis sempurna yang pernah ia temui. Ara itu cantik, pintar dan anak orang kaya. Apakah memang semua orang yang sempurna seperti itu tidak mau berteman dengannya? Atau memang dia tidak layak untuk dijadikan teman? Entahlah, Hana tidak mau ambil pusing. Maka ia segera menuju kantin sebelum kehabisan makanan kesukaannya.

“Yeol, aku mencarimu kemana-mana. Ternyata kau ada disini.”

Beberapa anak lelaki masuk ke dalam kelas Ara. Mereka masuk begitu saja dan langsung menuju ke meja paling belakang di sudut ruangan, tempat Chanyeol duduk. Ara tidak mempedulikannya. Itu bukan urusannya.

“Maaf. Aku masih harus menyelesaikan tugas ini sebelum Park Songsaenim menghukumku lagi.” Jawab Chanyeol masih sibuk menuliskan sesuatu pada selembar kertas.

“Kau terlambat lagi?” Tebak Sehun, sambil melihat hasil tulisan Chanyeol yang berbunyi “Saya tidak akan berangkat sekolah terlambat lagi.”

“Begitulah.” Jawabnya tak merasa malu. Di sisin lain, Ara tersenyum miring mendengarnya. Bagaimana bisa ada siswa yang sudah terlambat bahkan di hari kedua? Benar-benar tidak bisa dipercaya.

“Hei, hei, apa itu dia?” Yian, mengalihkan perhatiannya pada Ara yang duduk tak jauh dari Chanyeol. Memang hanya Chanyeol dan Ara sajalah yang tersisa di kelas itu, ditambah beberapa teman Chanyeol yang super berisik.

“Oh, itu dia. Kau bisa mengenalinya rupanya.” Kata Chanyeol setengah berbisik. Ia masih terus saja menulis.

“Bukankah dia cukup cantik?” Baekhyun mulai menyahut. Ia menatap Ara dari belakang yang jelas saja hanya bisa melihat punggung dan rambut hitamnya yang panjang.

“Apa dia tidak punya teman?” Sehun mulai penasaran. Rasa-rasanya ia pernah melihat Ara yang selalu berjalan seorang diri.

“Entahlah. Aku tidak tahu. Baru tahun ini aku sekelas dengannya.” Jawab Chanyeol enteng. Ia tidak terlalu peduli pada gadis yang bahkan ia tidak kenal.

Tanpa diduga, Baekhyun berjalan mendekati Ara dan duduk di kursi yang di depannya. Hal itu tentu saja membuat Chanyeol, Sehun dan Yian merasa terkejut. Teman mereka yang satu ini memang cukup gila.

“Namamu Kim Ara, ya?” Baekhyun bertanya pada Ara, membuat gadis itu menatap Baekhyun.

“Apa aku mengenalmu?” Balas Ara dengan kening sedikit berkerut. Ia merasa tidak mengenal siapapun di sini dan seperti lelaki ini baru saja mengganggunya.

“Oh, aku Baekhyun. Byun Baekhyun. Siswa kelas 2-E.” Baekhyun dengan percaya diri mengulurkan tangannya bermaksud untuk berkenalan dengan Ara.

Namun Ara hanya diam, tidak ingin membalas uluran tangan Baekhyun. Hal itu disaksikan secara langsung oleh teman-teman Baekhyun yang ikut tegang menyaksikannya.

“Kau sudah tahu namaku, ‘kan? Jika tidak ada hal penting yang ingin kau katakan, tolong jangan ganggu aku.” Ucap Ara tegas, membuat Baekhyun melongo. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa ada gadis yang begitu kasar pada lelaki yang ingin berkenalan dengannya? Benar-benar aneh.

Akhirnya Baekhyun dengan wajah yang memerah menahan malu kembali ke tempat duduk Chanyeol. Ia langsung meringkuk di sudut kelas sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Chanyeol dan yang lainnya bahkan sampai geleng-geleng melihat semua itu.

“Heol~, dia gadis yang tidak bisa diprediksi.” Komentar Chanyeol sambil menepuk bahu Baekhyun, menenangkan sahabatnya.

“Aku seperti pernah melihat tatapan matanya. Sama seperti seseorang yang kita kenal.” Yian mulai mengeluarkan pendapatnya. Ia tadi sempat melihat Ara menoleh padanya dengan tatapan tajamnya.

“Seperti Jongin saat sedang marah maksudmu?” celetuk Sehun yang membuat Yian mengangguk setuju. Sehun juga tadi sempat melihatnya sekilas, dan hal itu meyakinkan dirinya bahwa ia tidak ingin berurusan apapun dengan gadis itu. Selamanya.

“Heol~ bagaimana bisa aku menghabiskan hidupku selama setahun kedepan dengan gadis itu di kelas yang sama? Kurasa aku harus meminta Ibuku untuk memindahkanku ke sekolah lain.” Chanyeol mulai meratapi nasibnya. Ia bahkan melupakan tugasnya yang belum selesai itu.

“Kau harus sabar, kawan.” Ucap Sehun, memberikan semangat pada Chanyeol. Tanpa mereka sadari, semua yang mereka katakan itu bisa dengan jelas didengar oleh Ara.

***

Jam sekolah sudah selesai beberapa saat yang lalu. Sekolah juga mulai sepi karena kebanyakan siswa langsung pulang mengingat udara yang semakin dingin. Ara masih berdiri menunggu sopir pribadinya menjemputnya. Sudah berulang kali ia menghubunginya namun tidak diangkat sekalipun. Ara mulai kesal. Ia kedinginan dan sekolah sudah sangat sepi.

Ara melihat arlojinya sekali lagi, sudah satu jam lebih ia berdiri disana seorang diri. Ia mulai berpikir untuk langsung meminta Neneknya mengganti sopir itu dengan sopir baru yang lebih bertanggung jawab pada pekerjaannya. Sepertinya ia harus pulang naik bus jika tidak ingin mati kedinginan disini.

Maka Ara mulai berjalan, melangkah di jalan setapak menuju gerbang sekolah yang cukup jauh letaknya. Sekolahnya ini sangat luas dan Ara menyesal tidak memiliki seorangpun untuk ia mintai tolong sekarang. Jongin tidak kelihatan seharian ini dan Ara yakin lelaki itu sukses menghindarinya setelah kejadian semalam. Jongin memang pendendam. Bagaimana ada lelaki yang memiliki sifat seperti itu? Ugh, bikin kesal saja.

Ara menghentikan langkahnya saat melihat mobil yang terparkir tak jauh darinya. Ia memicingkan matanya, mengamati mobil itu lebih jauh. Sepertinya ia pernah melihat mobil itu, dan tidak asing. Ara mencoba mengingatnya. Tapi, sial! Ia tidak ingat apapun. Daripada pusing memikirkannya, Ara kembali berjalan dan mengabaikan mobil itu. Namun saat dirinya hanya berjarak beberapa meter dari mobil itu, pengemudi mobil itu keluar dan langsung membuat Ara terpaku. Ia adalah seorang pria paruh baya dengan jas hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Pria itu melihat Ara, yang masih terdiam di tempatnya.

Tubuh Ara seakan kaku. Ia mencoba untuk bergerak namun terasa berat. Matanya masih terus manatap pria itu sambil otaknya terus mencoba mengingat pria itu. Dia pernah melihatnya, merasa tidak asing dengannya namun tidak ingat satupun tentang pria itu. Seperti kau tahu jika hewan itu kucing namun kau tidak ingat jika namanya kucing. Kau paham maksudku, ‘kan? Perasaan saat kau mengenal sesuatu namun kau tidak ingat sama sekali tentang hal itu. Hatimu berguncang saat melihatnya namun otakmu tak mampu bekerja dengan baik.

“Ara..”

Lelaki itu menyebut nama Ara dan berjalan mendekatinya.

Namun Ara masih terdiam. Mendadak tubuhnya menggigil, jantungnya berdetak dengan keras dan air mata memaksa keluar dari rongga matanya. Ara tidak mengerti kenapa ia bisa seperti ini. Ia tidak ingat apapun. Bahkan jika ia mengobrak-abrik seluruh isi otaknya, memori akan orang itu seakan sudah terhapus lama darinya atau mungkin dirinya yang memaksa menghapusnya. Ia tidak tahu!

Maka sekuat tenaga Ara memaksa kesadarannya untuk kembali. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya yang terasa berat. Ia harus pergi dari sana sebelum keadaanya mulai memburuk. Ia harus pergi dari sana. Dengan usaha yang sungguh-sungguh, Ara menggerakkan kakinya. Ia berlari di tengah udara yang dingin. Berlari entah kemana, yang terpenting ia ingin pergi jauh dari hadapan pria itu.

Sekitar lima menit ia berlari dan tak melihat siapapun di belakangnya, ia memutuskan untuk berhenti. Jantungnya masih terus saja berdetak keras mungkin karena efek berlari tadi, namun tubuhnya masih terus menggigil. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tidak tahu pasti ia ada dimana.

Tiba-tiba Ara merasa kepalanya sangat pusing. Ia mencoba mengingatnya lagi. Hal-hal seperti ini, terasa tidak asing baginya. Hal-hal yang membuatnya menjadi seperti ini. Ia seperti pernah mengalami semua ini, berada dalam situasi seperti ini untuk waktu yang lama tapi Ara tidak tidak tahu pasti. Ia merasakannya tapi tidak bisa mengingatnya. Hal itu benar-benar menyiksanya.

Di sisi lain, Jongin tengah berlatih basket bersama teman-temannya di lapangan indoor sekolah. Itu adalah kegiatan rutin sepulang sekolah karena klub basket mereka akan bertanding musim panas nanti. Walau masih lama, namun pelatih ingin mereka tetap terus mengasah kemampuan mereka agar tidak kalah saat pertandingan nanti.

Jongin terlihat sangat mahir bermain basket. Berulang kali ia berhasil merebut bola dan memasukkannya ke dalam ring semudah membalikkan telapak tangan. Jongin dengan mudah membaca pergerakan lawannya dan membalikkan kondisi. Namun Jongin tidak menyadari jika Sehun tepat berdiri dibelakangnya. Ia langsung merebut bola yang tengah dioper oleh Jongin dan bersiap melemparnya pada Baekhyun. Namun tanpa sengaja Sehun tersenggol oleh pemain lain hingga ia tidak bisa memfokuskan pandangannya dan melempar bola itu asal. Hal itu berlangsung dengan cepat, bola mengenai kepala Jongin dan lelaki itu langsung pingsan seketika diikuti oleh Ara yang jatuh setelah mencoba menahan kepalanya yang terasa berputar-puar.

TBC~

Hello semuanya~~ Aku mau ngucapin makasih sama admin yang udah bersedia ngepost FF aku ini.. Makasih juga buat semuanya yang udah nyempetin waktunya buat baca Ffku.. Maaf ya kalo posternya jelek dan jalan ceritanya gak jelas gini. Bagi yang udah baca, tolong tinggalkan jejak kalian ya.. karena kritik dan saran kalian benar-benar aku butuhkan ☺

Ariana Kim~

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s