Demigod: Bukan Awal yang Keren | truwita

demigod-turwitastline-jalilfunny

[EXO] Sehun and [OC] Alessa, Abel
Genres
Fantasy-Adventure, Comedy, Romance | Length Series  | Rating PG-13
Basic to Percy Jackson’s Series | Cp  jalilfunny@HSG
Related: The Real Destiny | Satisfaction | 00-Demigods | Is She?

Disclamer: This story is mine, pure my imagination. inspired by Rick Riordan’s series: PJO.  if there’s same of plot, character, etc… it’s pure accidentally. Don’t plagiarize or copy without my permission.

abaikan gaya bahasa dan penulisan yang jauh dari kata sempurna,
just read and enjoy it!

Namaku Alessa. Umurku 15 tahun. Selama ini aku tinggal bersama seorang ayah diktator penggila kerja. Aku tak punya ibu. Aku juga tak bisa mengatakan bahwa aku lahir dari batu—itu hanya lelucon Hana—temanku satu-satunya—karena sifat keras yang melekat pada watakku. Pokoknya jangan pernah tanyakan tentang ibu.

Sejak kecil, hidupku tak pernah mudah. Aku sering kali ditinggal di rumah sendirian selama ayahku pergi bekerja. Aku pernah membakar rumah peristirahatan ayah di daerah Busan, meledakkan 3 kamar hotel di Namdaemun, menggambar bebek di atas lukisan milik kakek, memangkas tanaman hias milik nenek, mencekik kucing kesayangan milik tante Ahra, dan masih banyak lagi. Aku tak tahu bagian mana yang mereka anggap salah. Aku hanya tak bisa duduk berdiam diri tanpa melakukan hal apapun.

Saat aku membakar rumah peristirahatan di Busan, aku menemukan seekor nyamuk hinggap pada tirai di ruang televisi—menurut sumber yang pernah kubaca, nyamuk demam berdarah beroprasi pada siang hari.  Aku takut saat itu. Kebetulan sebuah siaran di televisi memerlihatkan cara pencegahan perkembangan nyamuk itu. salah satunya dilakukan pengasapan. Kau bisa bayangkan apa yang saat itu kupikirkan bukan? Tentu saja membuat asap. Bagaimana caranya sebuah asap muncul, jika tidak pernah ada api?

Saat aku meledakkan 3 kamar hotel, aku menemukan asap yang mengepul dari salah satu stop kontak. Belajar dari pengalaman sebelumnya setelah muncul asap akan jadi kebakaran, aku menyiram stop kontak dengan selang air yang terhubung dari kamar mandi. Tapi yang terjadi setelahnya malah sebuah ledakan.

Saat aku menggambar di atas lukisan milik kakek, karena kupikir lukisan itu sama sekali tak indah, hanya menunjukkan goresan-goresan absrtak yang tak kupahami. Jadi, aku menggambar seekor bebek dewasa berikut anak-anaknya dengan crayon, tapi aku malah di ceramahi dan dikirim pada ayahku yang saat itu tengah bekerja di Jepang. Hal yang sama juga terjadi saat aku berniat membantu nenek merawat tanaman, dan mengurus kucing kesayangan tante Ahra. Oke, untuk bagian mengrus kucing, kuakui aku salah karena mencekiknya, bukan. Aku hanya menyentuh lehernya. Tapi itu semua kulakukan karena kucing itu terus-terusan menjilat tanganku, dan itu menjijikan. Sudah kuperingatkan untuk berhenti, tapi kucing sialan itu malah semakin gencar saja. Makanya aku menyentuh lehernya sedikit keras agar kucing itu mau berhenti. Tapi tante Ahra malah memfitnahku mencekiknya.

Pernah sekali waktu, ayah menitipkanku di penitipan anak. Semua anak-anak di sana bersikap pura-pura manis. Padahal sebenarnya mereka semua menyebalkan. Mereka mengajakku bermain putri-putrian, tapi aku malah dijadikan pembantu yang harus membawakan ini dan itu. Suatu ketika aku disuruh menabur konfeti saat mereka pura-pura bermain fashion show. Aku menemukan sekotak paku payung yang jauh lebih bersinar dari pada konfeti saat terkena sinar lampu. Jadi aku pikir mereka akan senang. Selanjutnya, silahkan kira-kira saja apa yang terjadi.

Lupakan tentang masa kecilku yang begitu suram—sebenarnya masa remajaku sekarang juga tak kalah suram. Aku terpaksa mengarungi satu sekolah ke sekolah lainnya. Mendengar ceramah dari ayah yang tak ada habisnya. Tapi sungguh, untuk yang terakhir, saat aku dikeluarkan dari sekolah, itu bukan kesalahanku. Tak ada gunanya kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tentang seekor banteng dengan baju baja yang menyerangku secara tiba-tiba. Mereka tidak akan percaya hal itu, yang ada aku hanya akan dianggap gila.

Tentu saja ayahku marah besar. Dia bahkan membanting ponselku. Aku benar-benar muak dengan hidupku, dengan keluargaku, dengan semuanya! Kakek, nenek, tante Ahra, semuanya takut padaku dan menyuruh ayah untuk mengimku ke pusat rehabilitasi. Aku bersyukur ayahku tidak mendengarkan mereka. Tapi akhir-akhir ini aku menemukan sebuah brosur asrama rehabilitasi untuk anak bermasalah di ruang kerjanya. Mungkin pacarnya yang sekarang berhasil membujuknya. Ayah pernah mengatakan mereka akan menikah dalam waktu dekat. Mungkin ia tak ingin aku merusak kebahagiaannya dan menjadi beban berkepanjangan. Jadi dia mulai memikirkan untuk segera menyingkirkanku. Sebelum itu terjadi, aku memutuskan untuk pergi dari rumah.

Aku pikir, dengan pergi meninggalkan rumah semuanya selesai. Hidupku akan baik-baik saja. Aku tak perlu mendengar ocehan ayahku yang diktator. Tak perlu pergi ke sekolah dan bertemu segerombolan orang menyebalkan dan guru filsafat yang gemar menghukum siswa mengantuk di kelasnya yang sangat membosankan. Akan tetapi, memang pada dasarnya hidupku tak pernah semudah dan sesederhana yang aku harapkan.

Belum selesai urusanku dengan kacung-kacung yang dikirimkan ayah untuk menyeretku pulang, seekor reptil raksasa dengan setengah lusin kepala muncul, mengacaukan semuanya. Di tengah kekacauan dan kebingungan, seorang lelaki tiba-tiba berteriak dan meledakkan saluran-saluran air, membuat gelombang pasang yang menghantam dan membinasakan reptil itu dalam sekali hentakan.

Semuanya basah kuyup dengan kerusakan parah yang terjadi di beberapa titik. Tanah yang kupijak juga retak. Anehnya, lelaki tadi terlihat baik-baik saja, sama sekali tidak basah. Dia masih berdiri tegak di atas kedua kaki. Padahal sebuah gempa berskala tinggi baru saja terjadi, dan aku jelas-jelas melihat dengan mata kepalaku bahwa air yang muncul dari segala penjuru perpusat padanya. Seolah dia adalah magnet yang menarik semua air-air itu.

Sayangnya, dari pada penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi dan siapa lelaki itu, fokusku tertuju pada sebilah pedang sepanjang setengah meter dengan ukiran kuno yang melayang di udara. Pedang itu berpijar sebelum akhirnya meredup dan jatuh ke tanah.

“Bukankah…” Aku merasa pernah melihat pedang yang serupa. Tapi aku lupa di mana. Apakah di salah satu buku yang pernah kubaca? “—itu pedang Kusanagi?”

Lelaki itu hanya menatapku tanpa mengatakan apapun. Aku mendekat dan menyentuh pedang itu. Mengamati dengan seksama. Ada sebuah getaran menakjubkan saat aku menyentuh benda itu.“—iya kan?” Aku menoleh untuk menuntut jawaban si lelaki. Tapi yang kudapat hanya ekspresi terkejut dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Lalu ia mendekat dengan langkah kaku seperti robot.

“Ss-soojung…” lelaki itu berkata lemah dengan suara bergetar.

Bunyi Sirine terdengar memekakan telinga. Entah sejak kapan banyak sekali mobil polisi, ambulan, dan beberapa mobil dari stasiun televisi yang berdatangan. Para reporter mulai bicara omong kosong dan meliput keadaan sekitar. Tim evakuasi mulai bergerak, polisi juga sudah memasang police line di beberapa tempat.

“Tak ada waktu lagi!” nyaris saja aku mengayun pedang yang kugenggam sebagai gerak refleks. Saat seseorang bicara di dekatku secara tiba-tiba.

“YA!” seorang perempuan berperawakan tinggi kurus berteriak di hadapanku. Membelalakan kedua matanya yang berwarna hijau cerah.

“Jangan mengagetkanku!” aku balas membentak, menurunkan pedang yang sebelumnya terhunus ke depan.

“Oke, kita harus pergi. Sekarang!” perempuan itu menarik lenganku yang bebas. Aku mengamatinya dari ujung kaki, hingga ujung kepala. Dia mengenakan pakaian berumbai-umbai, rambut panjangnya dikepang berwarna putih dengan gradasi warna cokelat muda di ujungnya. Ada yang lebih aneh dari semua tampilannya, bagian kupingnya! Kupingnya lancip dan memanjang.

Aku berhenti berjalan. Menaruh banyak curiga sambil menyipitkan mata. “Siapa kau?”

“Aduh, biar kujelaskan nanti.” Dia terlihat sangat terburu-buru. Aku tidak ingin mengikutinya. Dia bisa saja alien yang hendak menculik manusia yang akan dijadikan budak di luar angkasa. Aku menoleh pada lelaki si magnet air yang ikut serta diseret alien itu, membuat kode-kode untuk menyerang dan melepaskan diri. Tapi sepertinya lelaki itu sama sekali tidak mengerti. Dia hanya menatapku lekat-lekat tanpa bicara—apa dia dungu?

“Namaku Amabel Rubery Xaviera. Kalian bisa memanggilku Abel.” Ujarnya—memperkenalkan diri tanpa diminta—ketika kami berhenti di sebuah tempat lapang yang luput dari hiruk-piruk orang-orang.

Tiba-tiba Hana melintas di pikiranku. Ya Tuhan, kenapa aku bisa melupakannya?!

“Kau tak bisa pergi kesana lagi.” Abel—perempuan berkuping lancip itu—mencekal lenganku. Sorot matanya menegas. Tapi dia bukanlah siapa-siapa yang berhak mengaturku.

Aku balas menatapnya tajam. “Lepas! Aku harus kembali dan menemukan temanku!”

“Manusia-manusia itu akan menemukannya.” Dia bicara dengan optimisme yang tinggi. “Kalian harus segera pergi dari sini, kalian harus segera bersembunyi.”

“Apa maksudmu?”

“Keberadaan kalian sudah tercium oleh para monster yang lapar. Demigod selalu jadi santapan lezat bagi mereka.”

“Monster? Demigod? Makanan?” sedikitpun tak ada yang kupahami arah pembicaraannya.

“Kau tidak tahu?” dia malah balik bertanya, terlihat bingung sekilas. “Kau dan dia, kalian adalah Demigod!” serunya bersemangat.

Ayolah. Omong kosong  apa ini?

Abel bersiul nyaring. Dari atas muncul… seekor burung? Ah bagaimana aku harus menyebutnya. Makhluk itu berkepala rajawali dengan sayap lebar membentang dan paruh melengkung terlihat mematikan, sedangkan bagian perut sampai ekornya tampak seperti seekor singa jantan dengan tubuh kekar dan kuku kaki yang menkilat tajam.

“Namanya Elmo,” lagi-lagi Abel memperkenalkan tanpa diminta. “Dia seekor gryphon, temanku.” Aku akan percaya padanya. Dia tidak terlihat normal untuk bisa berteman dengan manusia lainnya. “Dia akan mengantar kalian ke tempat yang aman.”

“Tunggu dulu, kenapa aku harus—”

“Jung Soojung!” lelaki yang sedari tadi diam sambil menatapku berseru, lantas menarik tubuhku dalam dekapannya. Erat sekali, sampai kupikir akan mati saat itu juga. “Syukurlah, aku tahu mereka semua hanya bicara omong kosong. Kau masih hidup!”

Dia terus saja meracau. Mengatakan banyak hal yang tak bisa dipahami otakku. Susah payah aku melepaskan diri dan mendorong tubuh tingginya hingga terjerembab ke tanah. “Kau gila?!”

“Jung Soojung,” lagi-lagi dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, seolah aku baru saja meremukkan hatinya. Kenapa seperti aku yang jahat di sini? Abel juga menatapku aneh. bukankah sebenarnya yang jadi korban adalah aku?

“Yak! Siapa kau?!”

“Kau… tidak mengenalku?”

“Tentu saja!” tanganku gatal sekali, gemas melihat ekspresi tersiksa lelaki itu. “Aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya. Kita tidak pernah saling mengenal!”

“—dan biar kuberi tahu, namaku Alessa Cho. Bukan Jung Soojung. Kau salah orang, tuan!”

“Tidak!” dia menyangkal. “Tidak mungkin aku salah mengenali kekasihku sendiri.”

Uh, apa lagi sekarang? Apa aku sedang diliput acara televisi?

“Aku, Oh Sehun. Kau marah padaku?”

***

Suasana belum juga memberiku pencerahan. Semuanya tampak kusut, dan otak cantikku tak seencer yang diharapkan. Lelaki yang tadi menyebut namanya sebagai Oh Sehun, terus saja mencercaku dan menuduhku sebagai kekasihnya yang hilang, Jung Soojung. Kupikir dia terlihat sangat menyedihkan dan banyak berharap tentang kebenaran bahwa aku adalah kekasihnya. Ayolah, aku tidak sejahat itu untuk menabur garam di atas luka. Tapi kebenaran harus ditegakan. Anggap saja masalah ini hanya sebesar ujung kuku dari apa yang akan kuhadapi ke depannya.

Ketika Sehun bersikeras mengklaim siapa diriku, suara geraman terdengar dari dalam reruntuhan bangunan. Seseorang—ah seekor? Entahlah. Itu tidak penting untuk didebatkan saat ini—muncul. Makhluk itu berdiri, perlahan tubuh manusianya bertransformasi menjadi seekor hewan buas dengan gigi panjang tajam dan kuku-kuku yang mencuat. Dua buah tanduk tumbuh mendadak di kepalanya. Dari belakang juga tumbuh ekor—ekor dengan kulit keras seperti kalajengking yang ujungnya meruncing dan beracun.

“Oh tidak.” Abel mendesah, “itu manticore!”

Baru saja sebuah tanda tanya muncul di kepalaku—tentang apa itu manticore? Apakah dia hobi bermain ice skating?—aku sudah menemukan jawabannya.

Manticore itu menghibaskan tangannya. Kuku-kuku tajam yang mencuat di ujung-ujung jarinya terlepas dan mengarah ke tempat kami berdiri. Merasa terancam, Elmo—si gryphon—memekik dan mengibaskan sayapnya. Membelokkan arah potongan kuku itu hingga menancap pada sisa dinding bangunan yang masih kokoh. Aku bergedik. Membayangkan jika kuku-kuku itu tak berhasil diatasi dan mengoyak tubuhku. Uh.

Aku lega terlalu dini. Manticore itu punya cadangan kuku lebih banyak dari yang kukira. Dia kembali mengibaskan tangannya. Kali ini dia mengibaskan kedua tangannya sekaligus. “Tiarap!” Abel menarik lenganku dan menekan kepalaku ke tanah. Mulutnya berkomat-kamit, merapal sesuatu seperti mantra. Segera saja akar-akar bermunculan dari dalam tanah mengikat kedua kaki dan tangan si manticore. Membuat tubuh makhluk itu jatuh terjerembab dengan sangat keras.

“Bagus!” Abel bangkit, memasang kuda-kuda dengan busur dan anak panah yang sudah terpasang. Dan… shoot! Anak panahnya berhasil menancap pada pantat si manticore. Tapi seperti itu bukanlah berita bagus.

“Aish!” Abel menghentakkan kaki. Manticore itu terlihat sangat-sangat geram. Wajahnya memerah, mungkin ada kepulan asap yang muncul dari kedua lubang hidung besarnya jika dilihat dengan seksama. “RARRW!”

“LARI!”

Abel sialan. Aku masih dalam posisi tiarap saat dia memberi aba-aba. Aku terlambat menghindar. nyaris saja jadi sasaran kuku tajam milik maticore itu, jika saja Sehun tidak dengan sigap memelukku dan menangkis kuku raksasa itu dengan pedang kusanagi yang entah sejak kapan berpindah dari genggamanku. “Cepat!”

Sehun berlari dengan satu tangan menyeretku. Dia tidak terlihat sebingung sebelumnya. langkahnya pasti. Aku merasa seperti idiot seorang diri. Sepuluh meter di depan, Abel sudah duduk di atas punggung Elmo. Dia melambai-lambai dan berteriak agar kami berlari lebih cepat lagi.

Kakiku rasanya mau copot saja. Menarik napaspun sulit. Aku tidak terbiasa dengan pacuan adrenalin yang berlebihan dalam waktu dekat seperti yang terjadi sekarang. Langkahku melambat, Sehun menyadari hal itu. Ia berkali-kali menangkis kuku-kuku manticore yang setiap saatnya semakin banyak berdatangan dengan tempo yang cepat. Disela-sela aksinya, Sehun tersenyum, sorot matanya membaritahuku bahwa semua akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi, dia tak akan melepaskan genggaman tangannya. Hey, kenapa juga dia harus berusaha begitu keras?

Elmo sudah mengepakkan sayap dan terbang satu meter di atas tanah saat aku dan Sehun sampai di tempat. Manticore itu masih mengejar kami dengan kibasan-kibasan kukunya. Kupikir, tidakkah ada hal yang lebih keren dari kibasan itu?

Harusnya aku tidak pernah berpikir tentang hal yang lebih keren. Karena di detik selanjutnya, manticore itu berhenti, mengihup udara banyak-banyak, lalu meludahkan cairan hijau gelap dan berasap—yang sebenarnya tidak lebih keren dari kibasan kuku. Lempengan logam, kaca, dan kayu dari reruntuhan bangunan yang terkena cairan hijau itu meleleh. Beruntung aku sempat menghindarinya dan naik ke punggung Elmo tepat waktu. Makhluk itu mendengus, menatapku dengan mata kuningnya. Dia pasti merasa sangat kesal. Tak ada satupun serangannya yang berhasil mengenai salah satu dari kami. Dia mulai menghirup udara, langkah awal sebelum meludah cairan beracun dari mulutnya. dari apa yang kupelajari, butuh sekitar 5 detik sampai serangan kedua, jadi aku berseru semangat sambil mengulurkan tangan, merasa selangkah lebih cepat dari monster itu. “Sehun, sekarang!”

Dia melompat, meraih tanganku. Naasnya, meski perhitunganku benar, aku melakukan satu kesalahan karena tidak mempertimbangkan keputusan yang mungkin manticore itu ambil—mengibaskan kedua tangannya selagi dia menghirup udara.

Elmo panik. Ia mengepakkan sayap dan terbang lebih tinggi lagi dan lagi. Mengabaikan Sehun yang belum sepenuhnya naik ke atas punggungnya. Tubuh kami terjungkal ke kanan dan ke kiri. Sulit sekali bertahan di atas punggung Elmo yang berbadan setengah aves dan setengah mamalia itu. Abel berusaha sebaik mungkin untuk menenangkannya. Tapi nihil, Elmo malah semakin menjadi. “Kakinya!” Seruku pada Abel saat melihat salah satu kuku manticore itu berhasil menancap di kaki Elmo. “Kau punya semacam obat merah?” dengan konyolnya aku bertanya.

“Apa?”

“Lupa—UWOH!” secara tiba-tiba Elmo menukik, menghindari sebuah gedung pencakar langit di depan. Aku bersyukur punya kedua tangan cekatan untuk mencekik leher Abel dan berhasil bertahan di atas punggung Elmo. Namun punggungku terasa dingin disapa udara. Sepertinya ada yang kurang…

“Sehun!” Aku berseru heboh. “Dia terjatuh!”

“Benar!” Abel menyetujui, menoleh ke belakang, lalu ke bawah tempat di mana kekacauan berasal. “Ke bawah!” tambahnya, “Dia jatuh ke bawah!”

Lalu aku berhasrat ingin mendorong perempuan berkuping lancip itu agar menyusul Sehun ke bawah, atau mencopot kepalanya dan menggantinya dengan buah melon. Kenapa bisa ada makhluk seperti dia? Tentu saja jatuh itu ke bawah!

***

Hellowww! Tata is back!
ini proyek mitologiku yang tertunda sebenarnya.
yes! Ini terinspirasi dari serial PJO karya om Rick. Lama banget pengen nulis ini setelah namatin ke-10 serinya, tapi manusia sok sibuk ini selalu punya banyak alesan :’’’
Semoga ke depannya bakalan lancar, aamiin.
langsung saja kritik dan saranmu guys!

Iklan

7 pemikiran pada “Demigod: Bukan Awal yang Keren | truwita

  1. Ping balik: Entry: About Me | Coffee Hee

  2. Ping balik: I STAN EXO | Coffee Hee

  3. Ping balik: Entry : About Me | Ann's Planet

  4. Selalu suka dengan cerita mitologi yunani! Ahhhh pencinta novel PJO juga ya?? senangnya!! aku senang kamu bikin FF ini sungguh! okeh Sehun demigod? akan sekeren apa pemuda satu itu ya? Dia ketururan dewa atau dewi? Jangan bilang dia keturunan Hades. Tapi kalo dipikir-pikir kegelapan cocok untuknya wkwkwk Satu hal yang selalu om rick bilang bahwa menjauhlah dari para manticore karena akhirnya akan menjadi buruk. Untung saja tidak ada makhluk berkepala banteng buruk rupa karena aku benar-benar membenci makhluk itu. Okeh, lupakan. Penasaran bakalan kayak apa ya petualangan mereka selanjutnya? Terus gimana nasib sehun yang jatoh? wahhh, ditunggu banget kelanjutannyaaaaaa~~~~

  5. Halo kak…? Panggilnya gimana nih?
    Sebelumnya maafkan saya yang cuma komen di series ini padahal yang sebelumnya udah dibaca semua😁*watados
    Dan juga maaf mungkin akan sedikit rusuh.

    OH MY GOD! THIS IS DEMIGOD!! AKHIRNYA ADA JUGA YANG SAMAAN SAMA DIRIKUH YANG MENYUKAI MAS PERCY!*walaupun sebenernya lebih suka sama luke
    PUJI SYUKUR MARI KITA PANJATKAN ATAS KEHADIRAN FANFIC INI YANG MULAI MENGINVASI OTAK KECILKU, DI MANA IMAGINASINYA YANG SEMPIT KINI SEDIKIT TERBUKA DAN MULAI MEMBAYANGKAN DEDEK SEHUN JADI MAS PERCY.

    eh tapi itu, allesa, kamu…… psikopat ya? Jail banget sih tangannya??? GAK BISA BAYANGIN PAPA GENDUT JADI BAPAKNYA KRISTAL!!! BWAHAHAHAHAHAH LAWAK BANGET!!!!! TAPI MASIH LAWAKAN ALLESA WKWKWKWKWK….

    aku kira si abel cowok, ternyata cewek. Cewek jadi jadian HAHAHAHAHA*dipanah abel

    Sedikit kasihan ama sehun. Dulu yang dingin si sehun, eh sekarang si kristal dalam wujud allesa yang dingin. AND WHAT THE HELL!!! SI SEHUN JATOH MALAH DI LIATIN DOANG! JANGAN SAMPE SI SEHUN MATI KAYAK KRISTAL DI MASA LALU!!! NDAK MAUUUUU!!!!!!!*digetok

    Tapi… entah kenapa aku kok sedikit bosen ya sama monsternya? Masa bentuknya kayak hydra melulu? Bentuk apalah gitu kak yang lebih serem, bau, dan menegangkan. Kan seru kalo ada luka luka gima a gitu…*dibacok allesa karena telalu cerewet
    Udah segini aja.
    Keep writing and fighting kakak!!

    • Halo nano, panggil aja tata, hehe
      Maapin gak yaa, maapin gak yaa…
      MAS PERCY EMANG DEH. MANAGE VISUALNYA SEHUN MUEHEHE
      Aku lebih prepare sama si jones Leo sih karena sesama joms, jadi merasa kita punya nasib yg serupa. /gak
      Alessa punya gen abnormal dari papihnya, bukan hanya sekedar psikopat. /digorokAl/
      Aduh gak usah dibayangin, bikin rusak otak :((
      Sehun dari awal gak dingin kok. Coba diinget2. Dia kek gitu karena lg dirasukin aja wkwk

      Hoho iya sih, aku bikin monster yg sama di 3 part buat nyambungin ceritanya dulu, tapi di part ini cuma fleshback sedikit, dan monster kali ini dan untuk series depan bakal bahas ttg manticore kok /sopiler/
      Makasih yaa udah baca dan komen, stay tune yaa! 😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s