Rooftop Romance (Chapter 19) – Shaekiran

Rooftop Romance 2nd Cover.jpg

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol, Sehun (EXO)

 

Other Cast

Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Frienship? AU?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | [NOW] Chapter 19 |

“I was a dreamer before you went and let me down.”

 

 

 

-Chapter 19-

 

 

“Son Wendy, let’s not fall in love.”

 

“Mari tetap seperti itu dan tidak akan ada yang terluka.”

 

 

 

Author’s POV

 

“Kajja hyung, cepat bunuh saja aku,” dan betapa kagetnya Donghae saat dengan mudahnya Chanyeol menyerah, bahkan kini bocah yang akan segera dibunuhnya itu memanggilnya hyung seakan mereka akrab padahal nyatanya mereka tidak pernah bertemu sekalipun.

“Tunggu apalagi? Cepat tarik pelatuknya hyung.”, kata Chanyeol lagi dengan mantap. Donghae lantas menghela nafasnya kasar. Toh lelaki di depannya itu sudah setuju untuk mati. 

“Baiklah, kalau begitu. Selama tinggal bocah, semoga kau tenang di neraka sana.”

Dorr!!!

Spontan, Chanyeol menutup matanya. Setitik rasa takut menepi di kulitnya tanpa bisa ia cegah. Lelaki itu sudah bersiap mati, namun raganya seakan enggan meninggalkan bumi terlalu cepat.

“Dasar, kau itu takut mati bocah!” suara Donghae lantas membuat Chanyeol membuka matanya perlahan, menatap lelaki asing yang agaknya tengah menertawainya. Dilirik Chanyeol dinding belakangnya yang sudah berbekas terbakar, hasil panas peluru yang baru saja bergesekan disana.

“Bagaimana? Menyesal karena aku melewatkan peluru itu dari pelipismu?” ucap Donghae ringan sambil menarik pelatuknya lagi, bersiap melakukan aksi penembakan kedua. “Bagaimana Chanyeol-ssi? Yang tadi hanya permulaan dan kali ini adalah yang serius. Jadi kau mau mati atau tidak? Karena peluru ini akan mengikuti katamu,” kekeh Donghae sambil tersenyum miring, sementara Chanyeol hanya bisa menghela nafasnya tertahan. Ia tau Donghae sedang berucap serius dan itu membuatnya semakin takut.

“Pilih mati atau hidup?” ulang Donghae dengan sudut bibir terangkat naik, menertawai Chanyeol yang kini terlihat gusar.

 

“Eh?”, spontan Wendy seketika membuat fokus Chanyeol hilang, sebersit kejadian beberapa jam lalu masih terbesit di pikirannya.

“Son Wendy, let’s not fall in love.”

Ucapan terakhir itu terngiang di telinganya, lagi dan lagi. Lantas ditatapnya Wendy lekat, sambil tersenyum samar.

“Mari tidak saling berbagi rasa Wendy-ah. Mari tetap berada dalam posisi kita masing-masing. Kau menyewaku dan aku disewa olehmu. Mari tetap seperti itu dan tidak akan ada yang terluka.”

Wendy jelas tertohok dengan kalimat Chanyeol barusan. Gadis itu mencelos begitu saja. Padahal tadi ia terlambung tinggi dengan kehadiran Chanyeol yang ntah bagaimana caranya sudah ada di dalam kamarnya. Lelaki itu masih hidup, Chanyeol memeluk Wendy, Chanyeol merengkuhnya sayang, dan tiba-tiba lelaki itu mengucapkan semacam kalimat perpisahan? Hei, siapa yang tak kaget?

“A-apa mak-sud mu sunbae?” Wendy tergagap. Air matanya sudah mulai menggenang lagi di permukaan, namun malah tawa Chanyeol yang terdengar memenuhi tiap sudut kamar Wendy yang luas. Ya, laki-laki itu tertawa, sambil mengacak-acak rambut Wendy yang memang sudah kusut karena Wendy tak mau merawatnya beberapa hari belakangan ini.

“Aku bercanda Wendy, bercanda,” ucap Chanyeol di sela tawanya, dan seketika itu pula Wendy merasa hatinya tercampur-aduk, antara kesal dan bahagia dengan jawaban Chanyeol.

Ya!”

Wendy memukul ringan bahu Chanyeol. Namun Chanyeol masih tertawa.

Ya!”

Ulang Wendy masih setia memukuli Chanyeol hingga kini tangis gadis itu pecah. Ia terisak, lantas dipeluknya erat badan kekar pacar pura-puranya itu.

“Kau jahat sunbae, jahat,” lirih Wendy, dan dengan cepat Chanyeol membalas pelukan gadis itu. Ia meletakkan tangan kanannya di kepala Wendy, lalu mengelusnya sayang.

“Kau jahat,” Wendy berucap lagi, namun hanya sebuah senyum tipis yang Chanyeol torehkan di bibir sebagai jawaban, senyum yang mungkin tak akan pernah dilihat Wendy karena kini si gadis tenggelam dalam dada Chanyeol.

“Maafkan aku Wen-ah. Aku tidak akan bercanda seperti ini lagi,” bisik Chanyeol akhirnya, sambil mencium puncak kepala Wendy.

“Astaga, kau bau sekali Wen.”

Hanya sebuah kalimat sederhana, namun dalam hitungan detik bisa membuat Wendy melepaskan pelukan dan menjauh semeter dari Chanyeol. Gadis Son itu menyentuh kepalanya yang baru saja dikecup lelaki yang diam-diam sudah menorehkan namanya tanpa ijin di relung hatinya, lantas menatap kedua bola mata pujaan hatinya malu.

“Ma-maaf,” ucapnya sambil mengutuk diri sendiri karena selain mogok makan selama beberapa hari, ia juga mogok merawat diri –termasuk mandi mungkin.

Gwenchana. Kau mandi sana, kalau boleh jujur kau itu sangat bau,” kekeh Chanyeol dan semakin malulah Wendy. Jadi dengan cepat gadis itu berdiri, kemudian melesat pergi ke kamar mandi pribadi di kamarnya.

“Oh iya sunbae, aku tidak akan lama. Jadi kau tunggu saja di situ, arraseo?” pesan Wendy, dan Chanyeol hanya mengangguk kecil sembari menatap pintu kamar mandi yang menutup. Lantas, tak lama setelah Chanyeol mendengar bunyi shower hidup, ia langsung berdiri dan mulai mendekati meja belajar Wendy. Tangannya dengan cepat menyambar sebuah bolpoin dan kertas yang tercecer di atas meja, lalu ia mulai menulis sebuah pesan.

“Maaf Wen, tapi aku memang orang jahat,” Chanyeol membatin, lantas setelah selesai dengan pesannya si pemuda Park segera merajut langkah ke pintu kamar Wendy. Ia membuka kunci pintu, dan dalam hitungan detik pintu coklat itu terbuka olehnya.

Tatapan yang sulit diartikan milik Jinwoo menyambut netra Chanyeol pertama kali saat pintu itu terbuka. Chanyeol tersenyum tipis, sementara Jinwoo hanya bisa menghela nafasnya kasar- agaknya ia cukup frustasi.

“Tenang saja, besok Wendy akan kembali seperti biasa hyung,” lagi, Chanyeol berucap sambil menebar senyum ringan seakan di pundaknya tak ada beban sama sekali. Ditutup Chanyeol pintu kamar Wendy, lantas ia menuntun langkahnya sendiri menuruni tangga menuju ruang tengah, diikuti Jinwoo yang mengekor di belakangnya.

“Aku sudah melakukan tugasku, jadi tolong kau juga tepati janjimu,”

Netra Son Michael yang sedari tadi asyik dengan koran kini berpindah pandang pada Chanyeol yang baru saja tiba di hadapannya. Chaebol itu melepas kacamata bacanya, kemudian tersenyum setuju.

“Baiklah, aku akan menepati janji. Jadi kau bocah, tolong selesaikan secepat mungkin sebelum aku berubah pikiran,” hanya anggukan singkat yang diberikan Chanyeol sebagai jawaban. Lelaki itu membungkuk 90 derajat ke arah Michael, menelan semua harga diri yang ia junjung tinggi selama ini.

“Kalau begitu aku permisi Tuan Son,” pamitnya dan dengan cepat tungkai Chanyeol melangkah tanpa menunggu persetujuan si tuan rumah. Toh, Michael tak peduli dan kembali berkutat dengan korannya.

Appa, bukan begini caranya!”

Chanyeol masih bisa mendengar teriakan Jinwoo ke arah Michael, teriakan frustasi kalau Chanyeol bisa menyimpulkan. Namun Chanyeol berusaha tuli, dengan perlahan ia terus merajut langkah menuju pintu keluar.

“Memangnya apa yang kau tau? Diamlah, appa sudah menyiapkan yang terbaik untuk adikmu!”

Teriakan Michael tak kalah keras. Pertengkaran antar ayah-anak itu tak terelakkan. Chanyeol masih dengan langkah masa bodohnya. Kini ia sudah di luar halaman rumah megah milik Keluarga Son dan di depannya sudah bertengger motor sport merah miliknya. Lantas, batinnya tak tahan untuk sekedar tak terkekeh.

“Yah, mungkin ini yang terbaik,” hati kecil Chanyeol berdecih sebelum bunyi gas motor yang kemudian melaju menembus kelamnya malam kota Seoul itu memenuhi arena komplek perumahan.

 

Chanyeol tiba di rumahnya. Tentu saja ia langsung dimarahi ibu-nya habis-habisan setelah selangkah membuka pintu karena dikira kabur dari rumah. Baekhyun juga hampir menampar adiknya itu karena sudah membuat seisi rumah khawatir, namun tampang pesakitan Chanyeol menghentikan gerakan tangannya yang sudah melambung di udara.

“Kenapa kau? Apa yang terjadi sebenarnya, eoh?!” tanya Baekhyun, sementara ibunya mulai sibuk menelfon ayah Chanyeol yang sedang dinas malam, mengabari kalau saja anak lelaki itu sudah pulang ke rumah setelah hilang ntah kemana dan tak pulang ke rumah semalaman.

Chanyeol hanya diam, enggan menjawab meski Baekhyun terus saja memborbardirnya dengan segudang pertanyaan. Ntah itu kemana dia pergi, dengan siapa, atau darimana luka lebam di sekujur tubuhnya Chanyeol dapatkan. Namun lagi-lagi Chanyeol hanya diam, menyembunyikan semuanya rapat-rapat dengan sebuah senyum tipis, seakan berucap ‘aku baik-baik saja, jangan khawatir.’

“Ayahmu marah, katanya ia akan membantingmu sesampainya ia di rumah,” jelas ibunya pada Chanyeol setelah selesai menelfon. Chanyeol tak gentar, toh memang ayahnya selalu membanting Chanyeol kalau ketahuan pulang dengan wajah lebam sehabis berkelahi. Baginya, itu sudah seperti rutinitas ayah anak. Lagipula, membantingnya mungkin menjadi alasan yang tepat agar Chanyeol bisa bertemu ayahnya yang selalu sibuk kerja itu.

“Kau kenapa?” tanya ibu akhirnya-sama seperti Baekhyun- namun lagi-lagi hanya diamnya Chanyeol yang muncul sebagai jawaban.

“Aku hanya ke rumah teman dan lupa mengabari eomma, “ jawabnya berbohong setelah puluhan kali ibunya mengintrogasi, dan si ibu tentu saja tau kalau putra tiri yang sudah seperti anaknya sendiri itu berbohong.

“Lukamu?” tanyanya, dan Chanyeol lagi-lagi mulai membingkai kebohongan. “Aku jatuh, saat main petak umpet dan kejar-kejaran dengan temanku. Yah, katanya dia rindu permainan kami semasa kecil, aku bertemu seorang teman lama,” ucapnya yang sebenarnya mudah sekali ditebak sebagai kebohongan. Namun ibunya maklum, mungkin ada yang tidak bisa diceritakan Chanyeol, pikirnya.

Jadi, setelah Chanyeol diceramahi habis-habisan dan sang ibu -yang dibantu Baekhyun- selesai membalut lukanya dengan P3K, Chanyeol naik ke kamar dan langsung merebahkan diri di kasur. Ia benar-benar lelah sekarang.

Tak lama, suara derit pintu terbuka terdengar. Baekhyun masuk ke kamar yang menjadi kamar mereka berdua itu, lantas ditatapnya punggung Chanyeol yang membelakanginya.

“Chan-ah, kau sebenarnya kenapa, eoh? Coba ceritakan pada hyung-mu ini,” pinta Baekhyun yang beberapa detik lalu sudah duduk di tepi ranjang Chanyeol, namun tak ada jawaban. Hanya dengkuran halus milik Chanyeol yang terdengar satu sekon kemudian, tanda bahwa lelaki Park itu sudah terlelap hanya dalam hitungan detik.

Heol, dia sudah tidur?” kekeh Baekhyun setengah percaya, karena biasanya Chanyeol baru tidur paling awal saat sudah tengah malam. Namun sekarang masih jam 10 dan Chanyeol sudah terbang ke alam mimpi. Satu yang pemuda Byun itu bisa simpulkan, Chanyeol benar-benar lelah ntah karena apa, dan dia harus mencari tau kenapa adiknya pulang dengan keadaan mengenaskan seperti ini, mencari tau apa yang menjadi sebab Chanyeol tak mau bercerita padanya.

—-

 

Pagi hari, meja makan panjang milik keluarga Son masih berisi tiga orang-Michael, istrinya dan juga Jinwoo- sementara Wendy belum kelihatan batang hidungnya. Gemerincing aluminium sendok dan garpu yang bergesekan memenuhi ruangan itu, terkesan dingin dan tak bersahabat karena tidak ada satu orangpun yang memulai konservasi.

Tak berselang lama, hanya semenit setelah Michael selesai dengan sarapannya, seorang gadis berseragam blazer biru tua dan rok selutut motif kotak-kotak dengan warna senada turun dari tangga dengan langkah tergesa-gesa. Itu Wendy, yang tengah berlari kecil menuju meja makan sambil menenteng tas ranselnya.

Ya! Moon Taeil! Kenapa kau masih menggunakan jas hitam jelekmu itu , eoh? Kita harus berangkat ke sekolah bodoh. Kau itu masih murid baru tapi absent-mu sudah banyak sekali!” Ucap Wendy di sela-sela ia meletakkan tas ranselnya di bangku sebelah kanannya sementara ia sendiri duduk di sebelah Jinwoo.

Satu ruang makan terperangah, termasuk Taeil yang sedari tadi berdiri mematung di belakang Michael sebagai bodyguard. Lirikan tajam Michael agaknya cukup membuat Taeil mengerti sehingga dengan langkah cepat ia segera berlari sekencang mungkin ke kamarnya untuk berganti pakaian. Wendy sendiri kini sibuk mengambil roti dan mengoles selai kacang.

“Taeil! Jangan lupa bawa bukumu. Roster hari ini Matematika dan Sejarah, oh, baju olahragamu jangan lupa. Jam pertama itu kelasnya Lee-ssaem si guru olaharga killer!” teriak Wendy lagi cukup kencang, masa bodoh meski kini para bodyguard-nya menahan tawa karena Taeil yang lari pontang-panting sementara Wendy yang berteriak hiperaktif.

“Kau mau kemana?” tanya Michael akhirnya sambil memandang lekat putrinya yang asyik mengunyah roti tawar. Michael boleh takjub hari ini. Tak ada lagi Wendy berawajah pucat dan rambut awut-awutan plus mata bengkak memerah. Kini dihadapannya ada Wendy dengan penampilan rapi dan wajah cerah yang jauh dari kata mata bengkak, malah gadis itu tengah tersenyum dengan rambut dikuncir kuda, ceria seperti Wendy yang seharusnya.

“Sekolah, memangnya kemana lagi?” jawab Wendy masih ketus, namun ntah kenapa perasaan bahagia mendesir hangat di hati kecil Michael melihat putrinya yang kemarin mengurung diri kini sudah memiliki sedikit gairah hidup.

Tak berselang lama. Taeil muncul dengan pakaian seragam dan tas ransel di punggung. Melihatnya Wendy segera beranjak dari duduk, lantas tangannya segera mengambil sebuah roti tawar yang sudah ia racik dengan selai kacang.

“Aku pergi,” pamit Wendy singkat, kemudian segera menghampiri Taeil yang sibuk dengan dasinya.

Kajja, kau makan di mobil saja Moon Taeil, kita sudah terlambat,” ucap si gadis sambil menyeret Taeil yang masih dengan mata membola kaget keluar rumah, bahkan dasinya belum terpasang dengan sempurna.

Aish, cepatlah. Aku tidak mau dihukum berguling-guling di lapangan lagi oleh guru killer itu!” teriak Wendy lagi pada Taeil, masih sambil menyeret lelaki yang mulutnya sudah disumpal roti tawar selai kacang buatan si gadis.

 

Wendy wajib berterimakasih karena kemampuan mengemudi Taeil yang sudah seperti pembalap professional sehingga kini ia dan Taeil bisa sampai di sekolah tepat waktu. Tak lama setelah Taeil memarkir mobil Audi hitam milik Wendy, bel sekolah terdengar mengaung di segala penjuru, jadi dengan cepat mereka berdua keluar dan segera berlari menuju arena sekolah.

“Kau ganti baju, sekarang jam olahraga,” titah Wendy sambil menujuk ruang ganti laki-laki, sementara ia sendiri berlari menuju ruang ganti perempuan. Taeil tentu saja hanya bisa mengangguk pasrah, meski kini batinnya masih bertanya-tanya apa gerangan yang membuat Wendy yang sudah seperti mayat hidup kemarin kini sudah bertingkah ceria bahkan bisa dibilang hiperaktif, ditambah lagi gadis itu suka sekali berteriak.

Namun Taeil menepis Wendy sejenak dari pikirannya, sekarang ia harus mengganti baju dengan pakaian olahraga seperti semestinya.

Iris hitam Taeil disambut pemandangan shirtless teman-teman sekelasnya, ada juga siswa senior dari kelas lain yang juga akan memiliki jam olahraga di mata pelajaran pertama. Taeil masa bodoh. Dengan cepat ia segera menuju sudur ruang ganti kemudian mengeluarkan baju olahraganya dari dalam ransel.

“Kau sekolah hari ini?”

Taeil menoleh ketika mendapati seseorang yang agaknya bicara padanya. Itu Sehun, yang hanya menggunakan celana olahraga sementara kaos seragam olahraganya masih ia tenteng di tangan, hingga menunjukkan enam lipatan sempurna di perut seorang Oh Sehun.

“Hm, aku sekolah. Memangnya kenapa?” tanya Taeil sambil membuka kancing kemejanya, dan Sehun hanya mengendikan bahu.

“Cuma bertanya saja. Oh, memangnya kemana kau sehingga absent beberapa hari ini tanpa keterangan?” lagi, Sehun bertanya dengan sedikit rasa penasaran, niatnya ingin mencari tau apa Wendy juga sekolah hari ini-mungkin.

“Kau tidak perlu tau, dan kalau kau basa-basi denganku cuma karena ingin mencari tau apa non, ah maksudku apa Seungwan sekolah atau tidak, jawabannya ia sekolah. Apa itu cukup?” balas Taeil dan senyum sempurna merekah di bibir Sehun. Hari ini Wendy sekolah, dan itu sedikit memberikan kelegaan dihatinya.

Berbeda dengan Sehun, seorang yang diam-diam menguping pembiacaraan kedua manusia itu dari balik loker hanya bisa menghela nafasnya kasar, antara senang atau tidak karena ia bisa meilhat Wendy lagi hari ini.

—-

 

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

Sehun, yang sedari tadi menitikberatkan pandangan matanya ke arah gadis di sebelahnya segera salah tingkah karena baru saja ketahuan memandang lekat Wendy sedari tadi. Ia tergagap pula, bingung ingin menjawab apa pada teman sebangkunya itu.

Ani, bukan apa-apa,” jawab Sehun dan Wendy hanya mengangguk tanpa curiga. Lantas Sehun kembali memfokuskan pandangannya ke arah Wendy yang sudah asyik memandang lurus ke depan- memperhatikan beberapa teman sekelasnya yang tengah asyik bermain bola voli secara mandiri karena dengan ajaib guru olahraga killer mereka, Lee Min Ho-ssaem tidak bisa hadir hari ini karena diduga mengalami patah hati akut. Menurut rumor, guru galak itu tengah bersedih dicampur galau karena baru saja putus dengan pacarnya. Bahkan katanya guru itu tak sanggup untuk sekedar bangkit dari tempat tidur karena hatinya begitu rapuh.

“Hun-ah,”

Lama setelah mereka berdua hanya terdiam di bawah pohon rindang beberapa meter dari pinggir lapangan, Wendy mulai berkonservasi.

“Apa kau tau bagaimana rasanya sakit hingga kau mau mati saja saat itu juga?” tanya Wendy dengan mata nampak menerawang jauh. Sehun yang ditanya pun hanya diam dalam kebingungan, sementara Wendy mulai melanjutkan kalimatnya.

“Aku tau rasanya sakit itu, dan aku tidak mau merasakannya.”

“Aku tidak ingin sakit hati lagi.”

 

Bel tanda selesainya pelajaran olahraga berbunyi, jadi dengan cepat semua murid kelas X A yang berolahraga mandiri di lapangan segera berlari menuju ruang ganti. Takut kalau-kalau Cho-ssaem wali kelas mereka yang akan mengajar Matematika setelah ini akan mengamuk karena mereka terlambat masuk kelas.

“Selamat pagi,” sapaan singkat Cho-ssaem berikan saat langkah kakinya sudah memasuki kelas X A, lalu dengan cepat guru itu memulai materinya.

Waktu bergulir sangat lambat bagi Wendy sekarang. Ia nampak duduk gelisah di bangkunya sendiri. Tangannya nampak memegang sebuah kertas putih, sementara Sehun yang duduk di samping gadis itu bingung sendiri dengan tingkah Wendy.

“Kau kenapa?” tanya Sehun pelan, namun hanya gelengan kecil yang Wendy berikan sebagai jawaban.

Melihat itu, Sehun kembali terfokus menuju papan tulis putih yang kini sudah berisi coretan sudut alpha 60 derajat di depan sana, namun Wendy agaknya terlalu malas untuk berkutat dengan trigonometri dan lebih memilih membaca kertas yang sedari tadi ia pegang.

 

“Besok datanglah ke sekolah seperti biasa, aku akan menunggumu di kantin di jam istirahat pertama. Aku merindukan seorang gadis kelewat ceria yang tingkahnya kurang waras, bukan gadis pendiam yang mengurung dirinya di kamar dan tidak mau makan berhari-hari.”
-PCY

 

Bukan hanya karena rindu Wendy yang memuncak karena kemarin malam setelah mandi ia tidak bisa menemukan sosok Chanyeol lagi di kamarnya, hanya saja ada terlalu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada sunbae-nya itu. Wendy ingin tau bagaimana Chanyeol bisa masuk ke kamarnya, apa yang dilakukan bodyguard appa-nya, alasan wajahnya babak belur, juga kenapa ia pergi tanpa pamit kemarin malam. Juga, Wendy ingin mengakui satu hal pada Chanyeol.

“Baiklah, saya rasa cukup pembelajaran untuk hari ini. Kalian tolong hafalkan rumus trigonometri dan sudut-sudut istimewa, minggu depan saya akan mengadakan test kecil untuk kalian,”

Mungkin hanya Wendy yang bersorak sementara teman sekelasnya yang lain serentak menggerutu. Bukan, bukan karena ia suka minggu depan ada test untuk materi trigonomteri, hanya saja sedetik yang lalu bel panjang tanda istirahat sudah berbunyi nyaring.

“Seungwan, kau mau ke kan-“

Ya! Son Seungwan!”

Sehun hanya bisa mencedakkan lidah di tempat karena kini Wendy sudah melesat dengan kecepatan sebelas duabelas dengan kecepatan cahaya tanpa menghiraukan panggilan Sehun. Dalam hitungan detik, gadis itu sudah menghilang dari dalam kelas.

—-

 

“Park Chanyeol!” teriakan Kim-ssaem agaknya membuat Chanyeol yang sedari tadi melamun segera sadar, lantas ia berdiri dan langsung membungkukkan badannya. Kini, seisi kelasnya menatapnya dengan pandangan bingung. Ini pertama kalinya Chanyeol melamun di kelas, biasanya jika memang ia sedang tidak mood belajar Chanyeol sudah cabut ke atap sekolah, tapi kali ini lelaki tinggi itu hadir di dalam kelas namun pikirannya melayang ntah kemana.

“Maaf ssaem,” kata Chanyeol dan itu semakin membuat seisi kelas menganga. Bagaimana tidak, Chanyeol yang terkenal tidak terlalu menghormati guru dan tanpa segan cabut karena ia tau murid berprestasi sepertinya tidak mungkin di drop out atau dikenakan sanksi berat kini membungkuk 90 derajat hanya karena ketahuan melamun.

Heol, sebenarnya apa yang terjadi padamu, eoh? Kau tidak fokus sejak jam pertama, dan sekarang kau nampak seperti orang linglung yang hilang arah,” guru berumur awal 40 tahunan itu datang menghampiri Chanyeol dengan rotan bambu di tangan kiri, lantas ia menepuk bahu Chanyeol yang masih menunduk perlahan.

Gwenchana Park Chanyeol-ssi?” tanya guru itu, dan Chanyeol hanya bisa mengangguk kikuk sambil kembali duduk di bangkunya.

“Park Chanyeol, kau pergilah ke UKS. Saya rasa luka lebam di sekujur badanmu itu membuatmu susah fokus. Kau perlu beristirahat,” saran guru itu, namun Chanyeol hanya menggeleng perlahan.

“Tidak ssaem, saya baik-baik saja,” elaknya namu Kim-ssaem masih keras kepala.

Hanjang!” panggilnya pada ketua kelas, dan seorang gadis yang duduk di bangku dua segera berdiri. “Ne ssaem!” jawabnya.

“Kau pergilah antar Chanyeol ke UKS, seret dia dan suruh dia istirahat sampai pulang sekolah,” titahnya dan dengan cepat gadis tadi mengangguk. Dengan segera ia berbalik kemudian menghampiri Chanyeol.

Kajja, Chanyeol-ah, kita harus ke UKS. Kau terlihat benar-benar mengenaskan sekarang,” katanya, namun Chanyeol masih saja keras kepala.

Gwenchana Rene-ah, aku baik-baik saja,” jawabnya dan Irene hanya bisa mendesah kasar, lantas menatap guru Kimia yang tengah mengajar di dalam kelasnya itu.

“Park Chanyeol!”

Teriakan kedua dari Kim-ssaem akhirnya membuat Chanyeol mau tak mau mengalah. Dengan setengah hati ia lantas berdiri dari duduknya, kemudian dengan dibantu Irene Chanyeol berjalan perlahan menuju ke luar kelas.

 

Netra Wendy nampak mencari-cari sosok Chanyeol di segala penjuru kantin. Lima menit lagi jam istirahat akan berakhir, namun gadis itu masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan Chanyeol dimanapun. Ia bingung sendiri. Sebenarnya kemana Chanyeol itu menghilang?

“Jangan menghalangi jalan bodoh,”

Sebuah suara familiar membuat Wendy segera membalikkan badan, lantas kelamnya iris seorang lelaki menyambut pandang matanya.

“Ah, maaf.” Kata Wendy segera sambil menyingkir dari jalan karena sedari tadi ternyata ia berdiri di depan pintu kantin.

Cih, bahkan sekarang kau berpura-pura tak mengenalku,” lelaki tadi berucap, membuat Wendy kini hanya bisa diam sambil memutar matanya malas.

“Aku tidak berpura-pura Lee Taeyong, aku hanya meminta maaf. Memangnya salah?” tanya Wendy sambil memangku tangannya, menatap langsung ke iris Taeyong yang menatapnya sendu.

“Aku menunggu kau memanggilku Yong-ah seperti dulu.”

“Lupakan, aku hanya sedang banyak pikiran. Minnggir, aku mau lewat,” ketus Taeyong kemudian dan mau tak mau Wendy semakin menyingkir dari jalan. Padahal sudah banyak ruang yang bisa Taeyong lewati, namun ntah kenapa Wendy reflek menyingkir semakin jauh. Netranya pun hanya bisa memandang punggung Taeyong yang semakin menjauh selama beberapa detik, kemudian kembali mengedarkan pandangan ke segala penjuru kantin dengan teliti.

“Apa kau lihat bagaimana keadaan Chanyeol oppa tadi?”

“Aish, kenapa dia babak belur begitu? Wajah oppa kan jadi lecet,”

“Eh, tapi meski luka-luka seperti itu, Oppa keren deh. Dia tambah seksi kelihatannya, kesan bad boy-nya dapat, kyaaa, keren banget deh.” 

“Emang kalau udah cakep mau diapain juga tetap cakep girls.” 

“Kalian, kalian tau dimana Chanyeol sunbae?” ntah keberanian darimana, kini Wendy sudah menghadang jalan 4 orang siswi yang bergerombol keluar kantin. Wendy tau, mereka adalah komplotan yang pernah hampir mem-bully-nya diam-diam karena pacaran dengan Chanyeol, namun spontan menghentikan langkah mereka begitu saja tanpa rasa takut sedikitpun.

Ya, kau bilang kau ini pacarnya Oppa? Tau Oppa dimana saja kau tidak tau, cih,” salah seorang dari mereka berucap sarkas, namun Wendy tak peduli. Ia hanya menatap mereka berempat dengan pandangan super datar.

“Ah, jadi kalian yang katanya fans setia Chanyeol juga tidak tau sunbae ada dimana, cih, fans apanya kalau itu saja tidak tau,”

YA! Tentu saja kami tau. Chan oppa ada di UKS!”

Wendy menaikkan sedikit sudut bibirnya ketika umpannya berhasil, salah seorang dari keempat gadis itu ternyata cepat sekali emosi dan segera menjawab. Jadi, tanpa menunggu babibu lagi Wendy segera berlari menuju UKS tanpa perduli meski kini ke-4 siswi tadi meneriakinya atau bel tanda istirahat berakhir kini berdering dengan nyaring.

Brakk.

Wendy tidak peduli meski kini ia baru saja menimbulkan bunyi gaduh yang cukup keras karena membanting pintu UKS begitu saja, baginya yang terpenting sekarang adalah mengetahui kondisi Chanyeol hingga lelaki itu bisa masuk ke UKS.

Sunbae, aku-“

Wendy terbelalak seketika, matanya melotot kaget, sementara Chanyeol hanya memandang gadis itu santai. Wendy hanya diam di tempat, bibirnya seakan kelu, namun kakinya melangkah begitu saja ke dalam ruang bernuansa putih itu tanpa tahu malu.

Chanyeol melepaskan tangannya dari permukaan pipi gadis yang ia sentuh-dari permukaan pipi tirus Irene. Lantas ditegakkannya badannya yang sudah membungkuk, kemudian menjauhkan diri beberapa senti dari Irene karena jarak mereka yang tadi benar-benar dekat, hanya berjarak 2 senti.

“Ada apa Son Wendy?” tanya Chanyeol datar, dan Wendy hanya terus berjalan dalam diam. Lantas gadis itu berhenti beberapa langkah dari ranjang UKS tempat Chanyeol duduk sekarang, sementara Irene kini merapikan pakaiannya dan memasukkan anak rambutnya ke belakang telinga.

“Chanyeol, aku ke kelas dulu, sepertinya Kim-ssaem sudah masuk. Cepat sembuh Chan,” pamit gadis cantik itu kemudian segera berlalu dari hadapan Chanyeol yang dibalas lelaki itu dengan senyum super manis yang seketika membuat Wendy tertohok. Irene sempat tersenyum tipis ke arah Wendy sebelum akhirnya gadis bermarga Bae itu benar-benar keluar dari ruang UKS karena suara pintu tertutup terdengar beberapa detik setelahnya, namun yang dilakukan Wendy hanya diam sambil memasang wajah datarnya.

Sudah beberapa menit mereka lewati dalam diam, belum ada satupun yang memulai konservasi baik itu Chanyeol atau Wendy yang kini berdiri tertunduk beberapa langkah di depan Chanyeol.

“Wen, ada apa?” tanya Chanyeol akhirnya, dan hanya suara gagap Wendy yang muncul 2 detik kemudian.

“Ka-kalian se-dang apa ta-di sunsunbae?”

“Kami?” ulang Chanyeol, dan anggukan ringan Wendy berikan sebagai jawaban.

“Aku mau mencium Irene, tapi kau tiba-tiba saja datang Son Wendy,” akui Chanyeol dan seketika Wendy bagai dijatuhkan dari atap gedung pencakar langit yang memenuhi Seoul.

Sunsunbae apa?” tanya Wendy lagi, berharap ia tengah mengalami cidera gendang telinga sehingga ia salah dengar, namun kalimat Chanyeol selanjutnya membuatnya semakin mencelos.

“Son Wendy, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa menjadi pacar pura-puramu lagi, maaf,” ucap Chanyeol dengan nada merasa bersalah, namun tanpa bisa dicegah sebuah bulir bening jatuh begitu saja dari sudut mata Wendy.

Wae? Kenapa? Kenapa sunbae tidak bisa lagi?” tanyanya, dan Chanyeol hanya tersenyum tipis.

“Aku memutuskan mencari uang untuk biaya pengobatan Kyungsoo dengan cara lain, dan aku juga tidak mau menyiksa diriku sendiri Son Wendy. Aku tidak bisa berpura-pura menyukai seorang gadis seperti yang selama ini kulakukan padamu, aku tidak bisa.”

Wendy hanya bisa tersenyum pahit, lantas ia berucap meski kini bibirnya bergetar hebat.

“Ah, jadi begitu?” katanya getir, dan hanya kata maaf yang keluar dari bibir Chanyeol. Lelaki itu, Park Chanyeol berdiri dari duduknya di atas ranjang UKS, kemudian menghampiri Wendy yang berdiri mematung.

“Maafkan aku,” ucapnya sambil menghapus air mata Wendy, namun gadis bermarga Son itu menepis jemari Chanyeol yang hendak menyentuh kulitnya.

“Hanya karena itu?” tanya Wendy, dan Chanyeol hanya bisa tersenyum tipis.

Ani, aku menyukai seorang gadis. Suka dalam arti sungguh-sungguh Wen, dan aku tidak bisa menahan perasaanku lagi dan berpura-pura mengacuhkannya,” pengakuan Chanyeol sungguh membuat Wendy habis kamus. Setelah semua perhatian dan perlakuan romantis Chanyeol selama ini, ternyata hanya dia yang jatuh hati? Faktanya Chanyeol hanya tengah berakting demi uang, seperti itu?

“Apa Irene sunbae?” tanya Wendy, dan anggukan Chanyeol agaknya segera membuat Wendy mengerti.

“Wen, maaf,” kata Chanyeol lagi, namun Wendy masih saja diam. Ia terlalu enggan untuk sekedar bicara sekarang ini. Ingin ia menolak, tapi tubuhnya terlalu naif hingga kini Chanyeol bisa dengan mudah menarik tubuh mungil Wendy ke dalam rengkuhannya.

“Maaf Wen, tapi kupikir lebih baik kau menuruti ayahmu dan menerima pertunanganmu dengan Sehun, bukannya Sehun itu temanmu, eoh? Kalian pasti bisa saling mengerti dan menurutku Sehun itu anak yang baik. Hei, dia juga tampan Wen, dia tinggi dan-“

“Maaf sunbae karena selama ini merepotkanmu,” Wendy melepas pelukan Chanyeol seketika, tubuhnya ia jauhkan 2 langkah dari hadapan Chanyeol, lalu ia tersenyum.

“Ah, ani, kau tidak merepotkan,” kata Chanyeol kikuk dan Wendy hanya bisa menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.

“Oh iya Wen, kemarin kau bilang ada yang mau kau bicarakan ‘kan?” tanya Chanyeol kemudian sambil maju selangkah, namun Wendy malah melakukan hal sebaliknya, mundur selangkah.

“Aku menyukaimu!”

“Ah, aku hanya ingin bilang selamat pada sunbae,”

“Selamat?” tanya Chanyeol bingung, dan Wendy hanya lanjut tersenyum.

“Selamat karena kau sudah membuat seorang gadis melambung tinggi dan merasa dicintai meski hanya sebentar dan sebenarnya kau hanya berpura-pura. Selamat karena kau sukses membuatku merasakan rasa sakit itu lagi sunbae. Selamat karena menghancurkan harapanku selama ini.”

“Selamat karena kau menemukan gadis yang benar-benar kau sukai, semoga kau langgeng bersama Irene sunbae.”

Senyum Chanyeol terukir lebar setelah kalimat itu meluncur dari bibir Wendy, ia menepuk kepala Wendy ringan, kemudian mengacak-acak rambut gadis itu.

“Terimakasih Wen-ah, dan oh, rambutmu sudah wangi ternyata,” kekeh Chanyeol dan lagi hanya senyum pahit yang Wendy torehkan di bibir.

“Sama-sama sunbae,”

 

 

-To Be Continued-

Shaekiran’s Note

Ada yang masih menunggu ff ini update? Bhaks, eki tau ini udah berapa abad gada kabar, hiks, masih ada yg nunggu kah?

Iklan

57 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 19) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Special Chapter – When it Rains) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 34) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 32) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 31) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 29) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 28) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 27) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 26) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  11. Mesti ini rencananya si bapak gendeng tingkay dewa yang nyebelinnya seluas alam semesta yang pingin aku bantai pake powernya avatar trs tak lindes pake truk. Demi apa aku pingin kebantai chanyeol juga….mau mau aja gitu lho, di php sakit mas sakit……

  12. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 25) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 24) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  14. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 23) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  15. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 22) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  16. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 21) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  17. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 20) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  18. Sepertinya chanyeol pura pura suka ama irene biar bisa ngelupain si wendy *sotoybangetyague
    chanyeol jangan nyerah donk ama wendy
    Note:Ntar kalo ngga ama wendy lagi chanyeol ma gue ya eki hehehehe

    • Hoho, apa perlu ganti judul jadi AADC ‘Ada apa dengan chanyeol? ‘/dibalang/😂
      Duh, keknya sulit chingu, rencananya kalo gak jadi sama Wendy, chanyeol udah eki booking jadi pendamping hidup eki ini/dibalang /open your eyes eki! /😂
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. ❤

  19. Kenapa harus tbc?
    Berapa lama ku harus menunggumu?
    .
    .
    Kenapa makin bikin greget sih ki ini ff? Duh bete kan jadi jatuh cinta beneran sama wenyeol 😅😅😅

    Apa sih ku tak jelas sekali

    • Karena tbc juga ingin eksis dan dinotis/plakk/
      Wkwk, diusahain cepet kok up next chapnya chingu, biar chingu jangan kelamaan nunggu/plakk /😂
      Waduh greget katanya, terhura eki.😂
      Duduh, jadi wenyeol shipper ini chingu/plakk/😂
      Ditunggu taw next chapnya, thanks for reading. Cintaku padamuh, 😍

  20. oh my God..kelakuan appa wendy bener” ya.. buat hubungan chan-wen sampe gitu.. jadi chan masuk lewat jendela kek maling, trus keluar lewat pintu.. bagusssss
    denger ya appa wendy… cerianya wendy cuma sebentar kalo kek gitu, abis ini balik murung lg, kan sakit hati lg wendyny.. piye tho??!!!
    aaahhhhhhh…
    suka deh pas wendy-taeil moment pagi hari sebelum berangkat sekolah… kocak lho itu, pengen tau muka taeil kek gimana pas pontang panting lari”an..kkkkkk
    nextttt…

    • Son michael aka bapaknya wendy :kenapa aku yang selalu salah di matamu wahai readers? 😂
      Hehe, denger tuh, katanya wendt juga ceria bentar mr.son.😂
      Hayoo, gimana itu muka taeilnya.😂
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. Cintaku padamu.😍

  21. ya ampun chanie, aku aja yang baca ikut merasakan apa yang wendy rasakan, serasa di cubit2 hatiku initerlalu menjiwai mungkin bacanya.apalagi wendy

    • Chingu terlalu menjiwai ini, 😂
      Rasanya sakit lo yeol, kayak diremas dicubit gitu hati lemah ini/plakk/😂
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. Cintakuh padamuh. 😍

  22. KAK EKII /tereakpaketoamasjid 😀 AKHIRNYA SETELAH SEKIAN LAMA,NIH EPEP UPDATE JUGA. HUAAAA GW MEWEK KAK BACANYA,EPEP INI TERLALU HURT/?.

    SEBERAT APAPUN RINTANGANYA, SABAR YA WEN,SABAR YA YEOL. SESABAR AKU NUNGGU EPEP INI UPDATE 😀
    KAK EKI HWAITING !! AKU TETEP NUNGGU EPEP KAK EKI UPDATE MESKI HARUS NUNGGU BERBULAN BULAN.

    Tambahan : aku juga tetep setia nunggu ff surrounded!,the falling leaves,stuck on you,update 😀

    • KETAUN INI EPEP UPDATE SEKALI SEABAD/PLAKK/😂
      JAN MEWEK, EKI GAK PERNAH NIAT NAMBAHIN GENRE HURT ATAU ANGST.😂
      DOAIN CEPET YA NEXT CHAPNYA.😂
      Hoho, kamu hafak listnya.😂 doain itu juga cepet up ya, eh, betewe soy update next chap hari ini/plakk /😂
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. Cintakuh padamuh.😍😍

  23. Hih…..Baper pengen mewek aja deh, kasian banget si wendy,ya allah,betapa remuknya hati abang ceye,betapa remuknya hati wendy,Appanya wendy jahat banget si…….aku ga kuat kalau son wendy dan park chanyeol terpisahkan kya gini, Eotteokhae…….aku sllu nunguin ff in kok walaupun udah berabad-abad ga dipost,sekali liat langsung histeris,plus bapenya….eki ini bisa banget deh bikin para pembaca baper……Hiiihihihihu
    sedih deh,kasian si taeyong hatinya ga punya arah,kesini aja ngarahinya taeyong ssi(palk/dibunuh Oppa Dyo Nih Aku) Hah kapan ya…ayahnya wendy ngerestuin hubungan wendy sama ceye??????

    • Jan mewek chingu :”
      Appa-nya wendy: kenapa selalu aku yang salah?/plakk/😂
      Lain kali diusahain fast update kok, biar chingu baper lagi/ga/plakk/😂
      Kalo taeyong nah eki juga mau diarahin/plakk/😂
      Kapan hayo?😂
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. Cintkuh padamuh.😍

  24. Sumpaaaah ekii ini ff berapa abad tak kau rawat?
    Oh my Chan u’re sooooo kind. Kind? He he he
    Chan.. Gausah boongin perasaan sendiri napa sih?
    Sabar ya, kembaranku sayaaang, wendy gapapa kan?
    Nan gwenchana~

    • udah berapat taun yak gak eki belai ini ff? eki aja lupa sakin lamanya chingu/plakk/ XD
      chan baik katanya, padahal yg lain ngehujat chan lo disini, bangsat katanya/plak/XD
      Hayo chan, jan boongin perasaan katanya, hehehe/plakk. XD
      Wendy gpp, dia cewek setrong katanya/plakk/XD
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. cintakuh padamuh ❤

  25. Bhaks bhaks bhaks!!!!!! Aku merindukan cerita ini!!!
    Ya amsyonggggg mas bulan ane di jailin ama si wendy. Eh wendy! Jangan kasar ya sama mamas bulankuh, ane gibeng baru tau rasa loh! *ditabok chanyeol

    Apaan banget sih chanyeol pake jaim jaim sok rahasia rahasiaan. Percuma kamu ngelakuin itu karena ane udah tau kalo ente cinta modar ama wendy!! Huh, sebel.
    Ini semua biangnya dari bapaknya si wendy!! Tegaan banget sih jadi bapak!mana rasa sayangmuh pada anak hah!! Emosi yeh emosi!!

    Eh, btw ki, itu ada typos. Harusnya konversasi, bukan konservasi. Dua dua nya beda makna loh… kalo konservasi itu artinya pelestarian alam*mentang-mentang anak ips
    nah kalo konversasi baru percakapan. Bukannya mau sok ceramah, tapi aku cuma pengen ngebenerin. Maaf kalo cerewet.

    Eh, tapi aku kok nyesek ya baca yang akhir? MAS BULAN, AKU SEDIH 😦 PELUK AKU DONG, AKU BUTUH DITENANGIN, AKU LAGI NANGIS LOH GARA GARA CINTA MIRISNYA WENYEOL…. HUAAAAAA PELUK AKU MAS BULAAAAAAAN!!!!!!!*digampar eki

    Maaf (2) ki udah rusuh disini. Keep writing and fighting!!!^^

    • ane juga rindu ini cerita update new chap kok chingu/gananyakki/ plakk/ XD
      hayoloh chan, pacar bodyguard ente dah nge wanti-wanti itu, wkwkw/plak/XD
      bapaknya egen yg salah ini mah/plakk/ XD
      Dalam hati michael, “kenapa selalu aku yg salah di matamu wahai readers?”/plakkk/XD
      Chanyeol cintanya modar, kok aku ngekek 😀
      Waduh maap ya chingu, tiponya bangsat/plakk/XD
      Emang kemaren eki ngetiknya sambil ngantuk ini, bhaks, baru selesai jam 1 malam gitu deh, jadi matanya mungkin rada burem gitu udah, kobam ane/plakk/XD
      ciehh nakz ips, apalah daya eki yg anak ipa dan nilai bahasanya gak pernah bagus/plakk/XD
      baca yg mana hayooo?
      TAEIL, PELUK ATUH ITU PACARNYA, DIA BAPERAN AMA WENYEOL/PLAKK/XD
      gpp kok rusuh, bhukakka 😀
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. Cintakuh padamuh ❤

    • Cie yang rindu juga*uhuk
      nah kan, perhatiin apa kata penulisnya, yeol. Makanya, dijaga tuh si wendy biar gak melampiaskan ama babang bulan!!
      Dan buat bapak michel atau apalah, reader juga gak bakal nyalahin kamu kalo gak jahat*pasang muka sok bener
      Oh…. ternyata begitu alasan di balik typo. Aduh, jangan merendah seperti itu lah. Aku juga nilai bahasanya pas pas-an, ya cuma karena aku belajar geografi yang isinya kebanyakan nemu kata konservasi, jadi tau kalo itu artinya salah.

      Taeil : ini juga udah dipeluk, ki. Ni anak kalo gak diturutin berubah ganas dan menggila, serem pokoknya..
      Nano : oh jadi gitu ya… oke piks aku ngambek! Aku udah belain kamu, tapi kamunya gitu! Ya udah mendingan aku sama ten aja!(lari ke pelukan ten)
      Taeil : alhamdulillah(elus dada)
      Nano : (balik lagi) kok kamu gak ngejar sih?
      Taeil : loh, bukannya kamu mau sama ten?
      Nano : ih!!!!! TAEil kamvret! Dasar gak peka! *lari sambil nangis kejer
      Taeil: njir, ngambek beneran. Ya udah ki, ngejer si nano dulu ya? Bisa berabe ntar, cuma bentar kok, pasti balik lagi buat syuting (?) ff ini.
      *abaikan drama tai kucing ini

      Iya sama sama, ditunggu fast apdetnya 😁

    • dengerin tuh yeol, wkwkw 😀
      Kamu jahat papa, jahat/alaymodeon/plakk/XD
      Iya bener, nilai eki rendah beut di bahasa, wkwkw, ane semalam kantuk berat, cuman nanggung, makanya ini di post besoknya gak langsung tengah malem itu soalnya mata eki udah gak kuat. 😀
      anak geografi, ampunlah, pantas pande kata konservasi, emang mirip sih itu kata dua, makanya mungkin ane seliweran kemaren XD
      KOK AKU NGEKEK BACA DRAMA INI? WAE? TAEIL, AWAS CABUT KAMU, TAK POTONG GAJI KALO ENTE TELAT SYUTING/PLAKK/PAAN DAH/XD

  26. Dan dibalik senyum itu ada luka hati yang menyayat…
    Chanyeol aktingmu bagus bgt naaak….👍👍
    Wendi yg sabar yaaa…
    Karna aku juga akan bersabar menantikan updatenya 😂😂

    • oalah, chan aktingnya bagus maksudnya apa nih chingu? XD
      Ada hati yg terluka, eaaaaaa/digampar/ XD
      iya wen, kamu kudu sabar , wkwkw 😀
      Ditunggu yaw next chapnya chingu, doain bisa fast update/plakk/ XD
      thanks for reading, cintakuh padamuh ❤

    • jangkan chingu, eki aja sedih pas ngetik ini/plakk/ ga nanyak ki/ XD
      Diusahain secepatnya yaww ._.
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. Cintakuh padamuh ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s