[KYUNGSOO BIRTHDAY PROJECT] Bukan Kenyataan – thearch-hbs

timeline_20170126_063739

[KYUNGSOO BIRTHDAY PROJECT] Bukan Kenyataan – thearch-hbs
Kyungsoo, OC || Romance || G

Kubuka mataku seiring silaunya matahari pagi yang masuk melalui jendela. Belum sadar sepenuhnya, jantung ini sudah berdebar-debar dengan kerasnya. Sepasang mata memandangku dengan dihias senyum manis nan menawan. Pandangannya lurus kearah mataku. Seolah bibirnya ingin mengucapkan selamat pagi.
Poster yang aku tempel di dinding samping tempat tidur selalu membuatku gila karena seolah-olah dia menyambutku bangun.
“Selamat pagi Kyungsoo”
Tiba tiba bunyi notifikasi dari handphoneku berdering. “12 januari, Selamat ya, kamu diundang buat dateng ke perayaan ulang tahun Do Kyungsoo, besok jam 10, Jangan lupa bawa kado ya.”
Ini serius? Dalam hati aku terheran heran tak percaya. Aku coba baca lagi pelan pelan untuk memastikannya.
Gila. Aku tertawa sekencang kencangnya tak bisa menahan rasa bahagia ini. Eh tunggu, besok? Bawa kado? Adminnya udah mabuk kali, kenapa baru dikasih tahu sekarang?
Handphoneku kembali berdering. Satu notifikasi. “Maaf ya baru kasih tau sekarang, line lagi trouble nih. NB: yang cewek dandan yang cakep, yang cowok boleh cakep asal jangan ngelebihin cakepnya Kyungsoo, hehe.”
Akhirnya, kuputuskan seharian ini, dari terang sampai malam tiba kembali, mencari kado yang terbaik untuknya, sambil merelakan uang tabunganku yang cukup menggiurkan.
Malam ini berbeda rasanya, mataku sulit terpejam, bukan karena terbayang akan perayaan besok, tapi karena perutku keroncongan, sedari tadi belum terisi apapun.
Alarm handphoneku berbunyi. Sudah pagi lagi ternyata. Perasaan bahagia sekaligus gugup langsung menelusur seluruh tubuhku. Namun rasanya ada yang aneh, badanku terasa berat dan pandanganku terasa berputar.
Lagi, handphoneku berbunyi, notifikasi baru masuk. “Jangan lupa ya hari ini jam 10. Sampai jumpa disana.”
Aku lihat sekali lagi kearah layar handphone dan berhasil membulatkan kedua mataku.
“Kenapa sudah jam 9? Perasaan aku masang alarmnya jam 7.”
Tanpa pikir panjang aku berlari kearah kamar mandi dan berdandan ala kadarnya.
Ditengah kelaparan dan rasa pusing yang menyelimutiku, kupacu sepeda motor ku sekencang kencangnya. “Aku sebentar lagi datang sayang”
Motorku terhenti setelah terlihat kerumunan orang yang berjejer hendak memasuki sebuah restoran. “Semuanya pada bawa kado gede gede. Punyaku kayaknya paling imut. Hahaha, nggak apa-apa lah, yang penting maknanya bukan ukurannya.”
Kuberanikan melangkah menuju kerumunan ditengah rasa minder karena kadoku yang terlihat paling kecil.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya semua orang dipersilahkan untuk masuk. Mungkin karena terlalu lama mengantri, kepalaku terasa semakin pusing dan membuatku hanya bisa berjalan pelan diantara mereka yang berlari berebut meja paling depan dekat panggung. Aku masih terus berusaha berjalan walaupun sudah tertinggal jauh karena letak tempat makan yang cukup jauh dari pintu masuk.
Tiba tiba, bruukk..
Ada seseorang yang menabrakku hingga terjatuh, bahkan kadoku terjatuh kedalam genangan air bercampur tanah bekas hujan. Kulihat seseorang mengambil kadoku dan menjulurkan tangannya untuk menolongku. Setelah kembali berdiri, dia menyerahkan kado itu dan langsung pergi. Aku tak sempat melihat orang itu karena masih sibuk membersihkan pakaian dan kadoku. Kesal sekali rasanya. Namun aku tak bisa berteriak karena kepalaku semakin bertambah pusing.
“Sial sekali hari ini. Udah kesiangan, nggak sempet sarapan, ini malah kadoku rusak.” Aku menghela nafas sambil menyerahkan kado kepada panitia yang sudah siap di depan pintu tempat makan. Nampak beberapa orang panitia justru menertawakan dan meremehkan kado yang kuberikan.
Di tempat duduk, aku tidak memperhatikan apa yang MC bicarakan. Bahkan makanan yang tersedia di meja hanya separuh yang aku makan. Rasanya ingin sekali berbaring mengistirahatkan kepala dan tangan yang mulai terasa sakit karena terjatuh tadi.
Tiba-tiba ada yang memanggil namaku. “Sekali lagi panggilan untuk…”. Langsung aku mengangkat tanganku tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Oh, ternyata ada, silahkan naik ke panggung.”
Dengan perasaan bingung aku berjalan kearah panggung. Terlihat beberapa orang di sekitarku berbisik bisik dengan orang di sebelahnya. Sempat aku dengar beberapa dari mereka berkata, “Ih, kenapa bukan aku yang kepilih?” Dan ada yang berkata “Ah, beruntung banget sih dia”. Membuatku semakin bingung dan bertanya tanya, “Ini ada apaan sih”.
Sesampainya diatas panggung, mereka semua bertepuk tangan kepadaku. “Selamat ya, kamu terpilih menjadi orang yang akan makan siang berdua bersama Do Kyungsoo” Kata salah satu MC yang membuatku terasa ingin pingsan. Aku hanya bisa menutup mulutku tanpa bisa berkata apa apa.
Belum selesai menyeka air mataku yang keluar, kedua orang MC menggandengku kearah sebuah ruangan di tengah taman di area belakang restoran. Ketika sudah berada didepan pintu, mereka meninggalkanku sendirian. Tiba tiba pintu terbuka dan sungguh diluar imajinasi liar yang pernah aku bayangkan. Seorang laki laki berpakaian rapi membawa seikat bunga mawar. Dia menggandengku memasuki ruangan itu. Kelopak mawar bertaburan di lantai dan banyak lilin tersebar di pojok pojok ruangan. Lampu gantung antik yang menggantung diruang tengah menyala terang, namun tak terlalu silau. Sebuah meja tertutup kain putih dengan lilin ditengah berada di bawah lampu itu. Dia menarik kursi dan mempersilahkanku untuk duduk. Bunga yang tadi ada di genggamannya diberikan ke tanganku. Aku tak bisa berkata kata sama sekali. Hanya satu kata yang terbersit dipikiranku. Romantis.
Pandanganku tak bisa lepas dari matanya. Dia mengambil sesuatu dari balik kursiny. Sesuatu yang tak asing lagi untuk mataku. Sebuah kotak kecil, lusuh, kotor karena tanah, bahkan kertas pembungkusnya sudah robek.
“Do Kyungsoo?” Tanyaku bingung.
“Maaf aku sudah menabrakmu tadi sampai kamu terjatuh dan sampai kado darimu rusak.” Suaranya terdengar lembut membalas kebingunganku.
“Jadi yang menabrakku tadi..” Wah, tabrak aku lagi sayang, teriakku dalam hati.
Tiba tiba dia berdiri, mengambil sebuah kotak kecil dikantong bajunya. Sepertinya aku pernah melihat ini di drama. Seketika langsung dia buka kotak itu dan sebuah kalung terindah yang pernah kulihat dikeluarkan. Langkahnya bergerak kebelakangku. Menyibakkan rambut panjangku kesamping, bersiap mengalungkan kalung itu keleherku.
Rasanya aku seperti ingin mengeluarkan air mataku lagi. Tanganku gemetar menahan rambutku. Lidahku seperti mati rasa. Pandanganku kabur. Kepalaku pusing. Badanku lemas. Tiba tiba semuanya gelap.
Kubuka mataku seiring silaunya matahari pagi yang masuk melalui jendela. Belum sadar sepenuhnya, namun ingatanku mulai kembali muncul. Sepertinya aku pingsan dan ini adalah kamarku. Tiba tiba jantung ini berdebar-debar dengan kerasnya. Sepasang mata memandangku dengan dihias senyum manis dari seseorang yang aku idolakan. Pandangannya lurus kearah mataku. Seolah bibirnya ingin mengucapkan selamat pagi.
“Tunggu dulu. Inikan poster.”
Aku mengecek layar handphoneku.
12 januari
“Jadi aku bukan pingsan, tapi..mimpi?”

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s