[KYUNGSOO BIRTHDAY PROJECT] 60 Second – Alcherrykim

timeline_20170125_072513

[KYUNGSOO BIRTHDAY PROJECT] – 60 Second – Alcherrykim
Do Kyungsoo X Kim So Hyun || Angst, Romance-hurt, Crime || G (General) || 992 (word)
Cover by LhyFinda Art

Discl :: Fanfiction ini murni dari pemikiran author, apabila ada kesamaan nama, tokoh dan jalan cerita, itu bukanlah kesengajaan.

***

Happy reading^^

***

Pendar dari nyala proyektor termuai dalam lensa hitam. Keremangan tampak dingin mencengkam. Bahkan cahaya yang keluar dari benda itu sedikit meredup termakan waktu. Usianya nyaris menginjak sepuluh tahun, wajar saja jika kualitasnya tak sebagus buatan pabrik modern. Benda itu, hanya seonggok benda usang yang menyimpan ribuan kenangan tanpa bisa diurai.

Ia duduk menghadapnya, mendaratkan tubuh pun pada sofa berdebu yang sisi-sisinya mulai melapuk. Permukaan sofa yang dingin dan sedikit gatal tak mampu menorehkan perasaan risih ataupun jijik. Ia tetap duduk di sana, menompangkan kedua sikut pada pahanya yang keras. Dan telapak tangan saling bertaut.

Sejenak, saat sesuatu tengah memulai, ia merasakan getaran rindu di dalam benak, mengoyak sanubarinya dan mendorong kejahatan iblis ke permukaan. Menyuruhnya mengumpat pada Tuhan, dan menciptakan dosa besar lainnya.

Tapi ia urungkan mengumpat, kala suara merdu mulai merambat di udara. Memperdengarkan lantunan bait-bait syair lagu special. Lagu yang sering diperdengarkan saat usia bertambah, sebagai suatu perayaan yang khas. Dengan topi, kue manis, dan tak lupa lilin cantik.

Tepukan tangan kecil membuat poni gadis itu bergoyang ke samping. Begitu semangat sampai senyumannya melengkung manis. Dan ketika lagu itu berakhir, tepukan tangan darinya membuat Kyungsoo semakin bergetar hebat.

“Oppa….”

“Eum?”

“Happy birthday….”

“Gomawo….”

“Make a wish, dan tiup lilinnya.” gadis itu berucap. Kyungsoo menyempatkan tersenyum hangat sebelum mengangguk. Enggan ia menutup mata, takut jika matanya mengatup, gadis itu akan lenyap dari pandangan. Tapi keinginan untuk memohon sungguh kuat.

Kyungsoo memejamkan matanya, melafalkan do’a dengan khusyuk. Memanjatkan sebuah permintaan dan berharap Tuhan berkenan mengabulkannya. Beberapa detik berlalu, mata kembali terbuka. Beruntung senyum itu masih menemaninya. Dan kemudian nafas Kyungsoo memadamkan nyala lilin tersebut, seakan ikut memadamkan nyala api di perapian.

Kyungsoo kembali duduk seperti semula, memandang So Hyun dengan hati-hati, seakan takut jika gadisnya akan terluka karena sorot matanya.

“Oppa, apa permintaanmu? Bolehkah aku tahu?”

“Permintaanku?”

“Eum.”

Kyungsoo semakin memperdalam tatapannya, ada desiran aneh di sana. Melihat So Hyun sebahagia ini sudah cukup untuknya. Lalu permintaan yang seperti apa lagi yang ia inginkan?

“Aku ingin kita selalu bersama-sama di sepanjang tahun, berbahagia saat kita merayakan ulang tahunku, juga ulang tahunmu.”

So Hyun tersenyum lebar. Kemudian terdiam dengan sendirinya. Menyamarkan rona merah jambu menjadi kekelaman yang sukar didefisinikan. So Hyun, melihat manik hazel hitam Kyungsoo, lalu menelan salivanya paksa.

“Oppa, kau mau tahu hadiahku?”

Kyungsoo menggeleng kuat, seakan tahu apa yang akan diucapkan So Hyun itu menyakitkan dari lewat sorot matanya. Sebabnya ia menolak. Ia bukan hanya tahu, tapi ia sudah hafal betul.

“Oppa…”

“Diamlah!” Kyungsoo sesak, teriakan itu bagaikan awal persakitannya.

“Oppa kau tahu hadiahku? Hadiahku video 60 detik ini.”

Lelaki tampan itu sudah merasakan derasnya air mata di pipinya. Hidungnya perih, dan senyuman masih tersisa tadi lenyap sudah. Hatinya sesak dan ia menutup wajahnya. Menuangkan liquid itu semakin deras. Sampai ingus dan air mata bercampur menjadi satu dalam kepiluan.

“Maaf, maaf karena pergi terlalu cepat, maaf karena membuat oppa kecewa, dan… jangan terus menyalahkan diri oppa, aku pergi karena keinginanku sendiri… eum.”

Tapi Kyungsoo tak mendengar, ia sibuk menata perasaannya yang kacau.

“Jangan menangis! Kau sudah berjanji padaku disetiap tahun kelahiranmu, kau tak boleh menangis oppa.”

So Hyun kembali bersuara. Juga seakan telah mengetahui Kyungsoo akan menangisinya. Dalam suasana yang semakin mendekat dengan detik terakhir. So Hyun melinangkan air mata dalam senyum sendu.

“Oppa, jaga kesehatanmu, berbahagialah tanpaku, carilah penggantiku dan….”

Kyungsoo semakin menenggelamkann diri dalam derai air mata, ia tak kuat menatap wajah itu. Baginya menyakitkan saja tak cukup untuk menyebutkan perasaan Kyungsoo. Sakit, dan teramat sakit. Bahkan mengingat fakta bahwa gadis itu telah tiada saja teramat sakit.

“Oppa… saranghae.”

Runtuh bak dijatuhi bom nuklir, porak poranda. Bahkan kepingannya juga ikut melukai. Kyungsoo tahu kedatangannya ke sini hanya akan membuka lukanya lagi. Tapi ia sudah berjanji. Pada dirinya sendiri, juga pada pada So Hyun. Meski gadis itu secara akalnya menolak, tapi Kyungsoo masih tetap datang.

Ini bukan tahun pertama atau tahun kedua, tapi nyaris lima tahun lamanya. Setiap usianya bertambah Kyungsoo akan datang ke tempat tak terjamah ini. Menyatu bersama kenangan dan debu-debu halus. Memutar kembali video berdurasi singkat itu dengan cake kecil di meja. Berdo’a, meniup lilin, tersenyum, dan menangis….

Kyungsoo melakukannya selama lima tahun. Hari yang seharusnya menjadi pusat kebahagiaan, justru menjadi luka baru untuknya. Saling tumpang tindih. Luka menganga tak dihiraukannya, ia justru menambalnya dengan luka baru. Selalu, dan tak pernah terobati….

Kyungsoo menarik wajahnya dari telapak tangan, memandang kosong ke depan. Tak ada sosok itu lagi. Semua menghilang, lenyap dan tak tersisa. Video telah terhenti. Dan pesta perayaan telah berakhir.

Dalam keheningan, Kyungsoo kembali memejamkan mata, mengusap air matanya paksa sembari mengingat bagaimana ia menghantar gadisnya pada kematian. Kekejaman, kekerasan, dan bahkan dengan teganya ia melayangkan pukulan keras pada gadis lemah itu.

“Mian… karena aku, kau harus pergi lebih dulu So Hyun-ah, tak seharusnya aku membunuhmu karena kecemburuanku. Maaf… maafkan aku Hyun, sungguh maafkan aku….”

Ceklek…
Kyungsoo mendongak begitu bunyi pintu terbuka terdengar. Ia melihat lelaki tampan dengan setelan seragam gagah di ambang pintu. Menatapnya.

“Waktumu sudah habis, mari kembali, dan….”

Kyungsoo mengangguk pelan mendengar kalimat menggantung itu, ia sudah mengerti tanpa harus dilanjutkan sekalipun. Sejenak, Kyungsoo menatap kue kecil di atas meja tadi.

“Selamat bertemu lagi Hyun-ah, bukan di sini lagi… tapi di surga-Nya, tunggu aku….”

Ia berdiri dengan sempoyongan, siap melaksanakan puncak hukuman. Memang seharusnya nyawa dibayar dengan nyawa, tapi setidaknya ia bersyukur, di hari ulang tahunnya ia masih diberi satu kesempatan terakhir untuk berkunjung ke rumahnya. Rumah yang menyimpan ribuan kenangan bersama kekasih tercinta. Dan menyaksikan 60 detik senyuman indah itu.

“60 seconds is all I need for this story, thanks for everything So Hyun-ah,” batin Kyungsoo seraya beranjak dari tempat itu.
– Fin –

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s