[KAI BIRTHDAY PROJECT] CLBK – junepearl64

timeline_20170126_063305

[KAI BIRTHDAY PROJECT] CLBK – junepearl64
Kai & OC/Romance/G

CLBK

Surabaya, Januari 2017

Bandara Djuanda tak pernah sepi pengunjung, baik penumpang maupun penjemput. Seorang lelaki tinggi melangkah santai mengenakan sneakers putih dan celana selutut karena ia tahu Surabaya cukup panas, maka ia tak ingin ribet dengan penampilannya. Langkahnya terhenti untuk melepas headsetnya. Ia menghela napas,
“Ah…akhirnya kembali lagi kesini,” katanya lirih dengan tersenyum.
“Ma?” kata lelaki tersebut sesampainya di rumah.
“SURPRISE! Selamat ulang tahun Kai sayang. Semoga panjang umur,” sambut Mama dan kakaknya dari balik pintu. Ia adalah Kai, genap 25 tahun usianya. Ia lahir di Surabaya hingga umurnya 15 tahun dan 10 tahun selanjutnya ikut Papanya ke London. Nama aslinya Kenny Airlangga Indira, namun disingkat menjadi KAI untuk membedakan dengan nama Kenny yang lain.
“Makasih Ma, kak,” kata Kai memeluk Mama dan kakaknya.

Sudah 10 tahun Kai tak pernah ke Surabaya, terakhir kali ke Indonesia, ia mampir ke Bali dan Jakarta saja. Namun akhirnya Kai disini, di kamar kecilnya yang sering ia gunakan untuk menghabiskan waktu dan main PS dengan teman dekatnya.
Kai segera mengganti pakainnya, ia membuka lemarinya dan mendapati sebuah kotak terbungkus kertas kado dengan rapi di bagian bawah. Kai membungkuk, mengamati lebih dekat dan sebuah sweater abu-abu berinisial K terlihat didalamnya.
“10 tahun. Bagaimana kabarmu sekarang?”

***

Februari, 2017
K’s Café

“KAI!”
“Willy!”
“Kapan balik dari London?”
“Bulan kemarin. Kamu ganti cat rambut lagi?”
“Haha. Iya Kai.”
Ditengah perakapannya dengan Willy, Kai mengamati seseorang yang barusan datang dan ia tersenyum nyengir.

“Hi, mata kucing, apa kabar?” sapa Kai dan seketika itu juga ia mendapat tatapan tajam dari lawan bicaranya.
“Ma-ta ku-cing?”
“Matamu besar dan bulat seperti kucing. Sama sekali tidak berubah,” kata Kai tersenyum jahil dan melengos pergi.
“Kai, kau masih saja sama, menyebalkan,” jawab Saras jengkel.

Acara reuni SMP terus berlanjut hingga ke sesi truth or dare dan Kai menjadi target Kevin, pemilik K’s Café sekaligus teman dekatnya semasa SMP.
“Aku senang kau yang menjadi korbanku, Kai dan kau tidak bisa memilih dare, jadi kau harus jujur saat ini. Kai, apakah kau pernah menyukai seseorang di kelas kita saat kita SMP? Atau kau menyukai Saras, karena kau sering menjahilinya sewaktu kita SMP?” tanya Kevin tajam. Saras yang mendengar itu seketika tersedak dari minumannya dan Kai hanya bisa mengigit bibirnya, berpikir.
“Aku? Suka dengan seseorang sewaktu SMP? Hmm..tentu aku pernah suka, tapi hanya suka biasa bukan rasa yang mendalam. Karena perasaan suka yang mendalam namun tidak terjawab sangatlah sakit. Dan tentang Saras, aku suka menjahilinya karena dia lucu, apalagi matanya itu,” jawab Kai mengedipkan matanya, membuat Saras ingin muntah seketika itu juga. Saras tak percaya bahwa sifat jahil Kai tidak pernah hilang walaupun usianya sudah seperempat abad!

***

“Kevin.”
“Hi, Kai! Kenapa balik?”
“Kau lihat jaketku?”
“Ah! Saras tadi membawanya. Kutitipkan dia karena kupikir rumahmu disini dan Saras dekat.”
“Oh, begitu. Kau punya nomornya?”
“Aku sudah memberikan kontakmu ke dia, tapi ini kalau kau minta.”
“Okelah kalau begitu, aku balik dulu. Bye, Kev.”
“Kai.”
“Hmm?”
“Kau masih menyimpannya kan?”
“Hmm. .ya. Aman di rumahku.”
“Apa kau juga masih menyimpan perasaanmu?”
“…” Kai tidak menjawab, ia hanya tersenyum kecil dan segera mempersilahkan dirinya pergi.

***

-FLASHBACK-
Surabaya, Januari 2007.

“Kev, oper bolanya kesini.”
“Argghhh, gak masuk!
“Kau baik-baik saja Kev?”
“Jadinya kado Saras mau kamu apain, Kev?”
“Ambil saja, kalau kalian mau. Aku pulang dulu.”
*bam!*
“APA SEMUDAHNYA ITU MEMBUANG KADO DARI ORANG LAIN? APA KAU TAK BISA MENGHARGAI PEMBERIAN ORANG?”
“Kai, tenanglah,” kata Willy mencoba menenangkan suasana. Kai terlihat geram dan Kevin masih berdiam diri.
“Kau suka dengannya kan? Kau suka dengannya tapi kau menutupinya dengan menjahilinya setiap hari, benar kan?” tanya Kevin dan bukan menjawab pertanyaan Kai.
“Haha, lucu. Ini bukan masalah suka ataupun tidak, ini masalah bagaimana kau bisa menghargai pemberian dan usaha orang lain kepadamu,” kata Kai mengambil kado di tangan Cahyo dan segera pergi.

– end flashback-

***

Ketukan pintu berulang kali terasa begitu menjengkelkan di telinga Kai, memaksanya untuk bangun dan segera menyapa orang di depan pintu kamarnya, Mama dan…SARAS!
Kai menatap Mamanya dan Saras secara bergantian selama 5 detik dan menatap dirinya sendiri yang begitu berantakan setelah bangun tidur. Matanya terbelalak, bagaimana bisa ia berpenampilan kusut seperti ini di depan orang lain! Kai menutup pintu kamarnya dan berteriak dari dalam,
“Tunggu 5 menit, eh 10 menit. Sebentarrrr.” Tingkah lakunya membuat Mama dan Saras tersenyum.

Kai berlari kecil menuju teras samping dekat dapur. Melewati Mamanya, ia menyapa Saras.
“Hi.”
“Hi, sudah sikat gigi?”
“Oh iya aku lupa! Aku sikat gigi dulu sebentar.”
“Ndak usah, ndak papa. Aku kesini cuma mau ngasih jaketmu dan ini, selamat ulang tahun Kai,” kata Saras tersenyum. Kai mengambil kado Saras, selembar cerita berjudul “Si Kabayan”.
“Woah, kau masih menyimpannya? Kau pasti rindu padaku sampai kau menyimpannya.”
“Haha, aku hanya bercanda,” tambah Kai ketika melihat Saras terdiam.
“Itu benar. Semasa kita latihan dulu, sikapmu begitu lucu jadi aku menyimpannya. Karena setiap kali aku membacanya, aku pasti tertawa,” jawab Saras yang sekarang membuat Kai mematung.
“Bagaimana dengan kadoku Kai?” tambah Saras.
“Kado?”
“Kevin menceritakan semuanya. Ia minta maaf padaku atas sikapnya 10 tahun yang lalu dan ia bilang kalau kau yang menyimpan kadonya.”
“Ahh~ Akan kuambilkan kadonya.”
“Ndak usahh, bukan itu yang aku cari, tapi.. Kai, apa benar kau suka padaku 10 tahun yang lalu?” Dan untuk sesaat Kai mematung lagi.
“Lihat wajahmu, lucu sekali. Ah, lupakan saja pertanyaanku. Lagipula itu sudah 10 tahun yang lalu dan segalanya pasti sudah berubah. Baiklah aku pulang dulu, jaga dirim…” *cup*
Saras menatap Kai bingung ketika mendapati Kai mencium keningnya dan seketika mendekapnya hangat.
“Maafkan aku baru bisa bilang sekarang. Kevin benar aku menjahilimu karena aku suka kamu, Ras. Dan tidak ada yang berubah, aku masih menyukaimu,” jelas Kai. Saras tersenyum mendengarnya.
“Kau menerimaku kan?”
“Mari kita mulai dari awal,” kata Saras tersenyum membuat Kai memeluknya lebih erat.
“Kai, sudah. Gak enak dilihat tante dari dapur.”
“Ya baguslah, jadi Mama bisa tahu anaknya sudah dapat calon istri.” Saras menatap Kai takjub dan keduanya tertawa bersama.

❤ END ❤

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s